Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

Morfologi Kota Bandung Pada Abad XX: Perspektif Historis Miftahul Falah
Metahumaniora Vol 8, No 3 (2018): METAHUMANIORA, DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i3.20712

Abstract

AbstrakKota Bandung merupakan salah satu kota penting sejak masa penjajahan Belanda. Berawal dari sebuah kampung, Bandung kemudian berkembang seiring dengan kedudukannya sebagai pusat pemerintahan. Penelitian terhadap perkembangan Bandung sudah banyak dilakukan. Namun, aspek morfologis dari pertumbuhan Kota Bandung belum dikaji secara mendalam. Bagaimana pertumbuhan Kota Bandung pada Abad XX ditinjau dari aspek morfologi kota yang mencakup masalah kependudukan dan luas wilayah, areal terbangun, dan simbol kota? Untuk menjawab pertanyaan itu, dilakukan penelitian historis dengan menerapkan metode sejarah yang meliputi empat tahap, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, secara morfologis terdapat hubungan yang erat antara pertambahan penduduk dan perluasan wilayah kota; kedua, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perluasan wilayah, areal terbangun menjadi semakin meluas; ketiga, simbol-simbol kota yang mencakup tugu atau monumen, nama jalan, gerbang kota, dan bangunan menunjukkan ciri/karakter Kota Bandung sesuai dengan jiwa zaman (zeitgeist)-nya.Kata kunci: kota Bandung, penduduk, areal terbangun, ruang terbuka, simbol kotaAbstractBandung is one of the important cities since the Dutch colonial period. Starting from a village, Bandung then developed along with its position as a center of government. Research on the development of Bandung city has been done, but the morphological aspects of the growth of Bandung city have not been studied in depth yet. How is the growth of Bandung city in 20th century in terms of morphological aspects of the city that includes demographic land area, city planning problems, built up area, and the symbol of the city? The method used in this reasearch is historical method that deals with four steps, namely heuristic, criticism, interpretation, and historiography. The results show that, first, morphologically there is a close relationship between population growth and the expansion of urban areas; second, along with population growth and the expansion of urban areas, the built up area becomes even more widespread; third, urban symbolism that includes pillar or monument, street name, city gates, and buildings show traits or characters of Bandung in accordance with zeitgeist.Keywords: city of Bandung, demography, built up Area, open space, urban symbolism
Co-Authors Abdurahman, Imam Ade Kurniawati Aditya Putra Maulana Agung Kurnia Solihin Agusmanon Yuniadi Agusmanon Yuniadi Alfath Sidik Ali Ibrahim Andriani, Juwita Anggia Suci Pratiwi April Laksana Ardiansah Abdillah, Rifan Ari Wedhasmara Arislan, Andika Dwiki Asep Setiawan Asti Tri Lestari, Asti Tri Budimansyah Budimansyah Dade Mahzuni Diah Prastyani Dian Palupi Rini Dioso, Regidor III Donda, Donda Faiza Renaldi Fajri Rakhmat Umbara Fauziah, Hilma Fiza Febrian, Kaka Azi Fadhilah Ferdiana, Riska Fiftinova Fitri Nurlina Florensia, Yesinta Ginting, Manan Halima Akter Hani Handayani, Hani Haq, Dhiqi Abdul Hariyanto HARIYANTO HARIYANTO Helmi Fauzan Zamaludin Herdiani, Ida Heri Budiawan Hikmawan, Oksya Hutajulu, Poltak Evencus Ichwanul Muslim Karo Karo Ida Rosidawati Imaniar, Melsa Sagita Imbron, Imbron Indra Gunawan Indra Setiawan Kaka Azi Fadhilah Febrian Karo karo, Justaman Arifin Ken Ditha Tania Kunto Sofianto Kunto Sofianto Kunto Sofianto Kurnia Solihin, Agung Kurniawati, Ade Lilis Lismayanti Lilis Lismayanti Marbun, New Vita Mey Dessty Martanti, Nurmala Nurani Mastura Diana Marieska Meylani Utari Mirnandaulia, Meutia Mochamad Febry Herdian Muhammad Bryan Putra H Muhammad Dizkri Amrullah Muhammad Rafli Efendi Muhammad Rifa’I Muhammad Saefulloh Muhammad Taufiq Muksin, Asep Mumuh Muhsin Zakaria Mutawally, Anwar Firdaus Nandang Firman Nurgiansyah Neni Nuraeni Nina Herlina Nina Herlina Lubis Nina Herlina Lubis Novi Yusliani Nugraha, Budy Nur Fadhilah Nurani, Ai Yasri Nurdianti, Dewi Nuryadin, Yadin Nyai Kartika Pangripta, Genta Pardede, Erwin Pasundani, Nita Perani Rosyani Primanita, Anggina Putri Nur Sabrina Putri, Amelia Rizki Rachmiadji, Irwan Rahmat Permana, Rahmat Ramdan, Mardiana Mochamad Restiana, Nia Rina Adyawardhina Rosnawanty, Rosy Sabrina, Putri Nur Said, Faridah Mohd. Sansuwito, Tukimin Sari, Nina Pamela Saryomo Sasyari, Usman Setiani, Ayu Sevtiyuni, Putri Eka Shadam, Muhammad Shajeda Akhter Simanjuntak, Andreas Rumata Siregar, Emil Salim Parhimpunan Sitepu, Evi Christiani Sulidar Fitri Taofik Muhammad Taopfik Muhammad Tarigan, Enda Rasilta Br. Tengku Rachmi Hidayani, Tengku Rachmi Tumpa Gharami Umam, Syahrul Widyo Nugrahanto Winda Kurnia Sari Yanti, Tasya Dwi Yastuti, Meylani Indri Yulita, Feni Yunianto YUNITA Yuyun Solihatin Zainal Muttaqin Zakaria, Hadi Zalianti, Nova Zamaludin, Helmi Fauzan