Claim Missing Document
Check
Articles

Kontekstualisasi Surat Al-Humazah Sebagai Upaya Pencegahan Pembullyan Di Masyarakat Modern: Studi Tafsir Tematik Jamal, Khairunnas; Syafiuddin, Fauzan Azima; Cantika, Anisa
Jurnal Media Ilmu Volume 3 No. 2 Desember 2024
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/jmi.v3i2.6091

Abstract

Penelitian ini mengkaji relevansi Surah Al-Humazah dengan era kontemporer yang penuh disrupsi, khususnya dalam konteks pembullyan. Surah ini mengutuk perilaku negatif seperti fitnah, cemoohan, dan pencemaran nama baik, yang berdampak fisik, psikologis, dan emosional bagi korban. Dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif berbasis penelitian perpustakaan, penelitian ini menyoroti bahwa Surah Al-Humazah memberikan peringatan tegas terhadap perilaku buruk dan konsekuensinya di akhirat. Di era digital, pesan ini tetap relevan dalam mendorong etika interaksi manusia, mengingat penyebaran manipulasi informasi dan perilaku merugikan di media sosial. Penafsiran Surah ini menegaskan pentingnya keadilan, integritas, dan moral spiritual sebagai landasan dalam kehidupan. Upaya preventif membutuhkan kerjasama berbagai pihak, termasuk keluarga, institusi pendidikan, dan komunitas. Pemahaman mendalam terhadap Surah Al-Humazah berpotensi menciptakan masyarakat harmonis dan adil di tengah perubahan sosial yang dinamis.
Pengaruh Workshop Keluarga Islam Terhadap Kemampuan Mahasiswa dalam Menemukan Ide Penelitian Dalam Bidang Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah Irsan, Irsan; Subhan, Suhuf; Jamal, Khairunnas
Al-Usariyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 2 No 2 (2024): AL-USARIYAH: JURNAL HUKUM KELUARGA ISLAM
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/al-usariyah.v2i2.695

Abstract

Bagi banyak mahasiswa pada program studi hukum keluarga Islam menemukan ide penelitian yang berkaitan dengan tema perkawinan atau hukum keluarga Islam adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Workshop Kiat-kiat Menemukan Ide Penelitian berpengaruh terhadap kemampuan mahasiswa pada Program Studi Hukum Keluarga Islam STDIIS Jember dalam menemukan ide penelitian tentang perkawinan atau hukum keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa STDI Imam Syafi'i Jember yang terlibat dalam seminar. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 125 orang yang diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling, karena setiap anggota populasi diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden. Penelitian ini dilakukan berdasarkan pengukuran skala likert, dan skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat atau persepsi suatu kelompok respon individu terhadap fenomena sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Workshop Kiat-kiat Menemukan Ide Penelitian memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan mahasiswa program studi Hukum Keluarga Islam STDIIS Jember dalam menemukan ide penelitian. Pengaruh tersebut adalah sebesar 35,98%. Kata kunci: Workshop, Ide Penelitian; Hukum Keluarga Islam.
Peran Negara Dalam Pengelolaan Ekonomi Menurut Al Qur’an Nurhayati, Nurhayati; Jamal, Khairunnas
AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Ekonomi & Bisnis Vol. 5 No. 2 (2025): AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Ekonomi & Bisnis
Publisher : Perhimpunan Sarjana Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37481/jmeb.v5i2.1235

Abstract

This paper discusses the role of the state in managing the economy from the perspective of the Koran. In the Qur'an, there are clear guidelines regarding the state's responsibility to manage economic resources fairly and sustainably. The state has a strategic position in various aspects of the economy, such as community empowerment, regulating market and transaction mechanisms, managing natural resources, protecting vulnerable groups, and realizing equitable economic development. The Qur'an emphasizes the importance of the principle of social justice, where the state must ensure equal distribution of wealth through redistribution policies. The state also has the responsibility to manage natural resources wisely without over-exploitation, as well as guaranteeing the economic rights of vulnerable groups. In addition, the Qur'an reminds us that economic development must not only focus on aspects of material growth, but must also improve the welfare of the entire community. Overall, this paper emphasizes the significant role of the state in managing the economy based on the moral and ethical principles taught in the Koran, in order to achieve justice and shared prosperity.
KEARIFAN LOKAL DALAM SISTEM WARIS MAYORET DI INDONESIA Kalsum, Umi; Jamal, Khairunnas; Jera, Almi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 2 (2025): Volume 8 No. 2 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i2.46422

Abstract

Penelitian ini mengkaji sistem waris mayoret sebagai salah satu bentuk kearifan lokal dalam masyarakat adat Indonesia yang masih bertahan di tengah pluralisme hukum nasional. Sistem waris mayoret memberikan hak waris utama kepada anak sulung—biasanya laki-laki—dengan dasar tanggung jawab sosial dan pelestarian nilai keluarga. Meskipun sistem ini memiliki akar dari tradisi Eropa seperti di Inggris, Jerman, Perancis dan Spanyol. Praktik serupa juga ditemukan pada suku-suku di Indonesia seperti Batak, Bali, Bugis, dan dalam komunitas bangsawan tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis-sosiologis untuk mengeksplorasi ontologi, epistemologi, dan aksiologi waris mayoret dalam konteks lokal, serta tantangannya ketika dihadapkan pada hukum waris nasional (Islam, Perdata) dan prinsip kesetaraan gender. Temuan menunjukkan bahwa meskipun sistem ini dianggap adil menurut nilai komunitas, ia sering menimbulkan konflik hukum ketika berhadapan dengan aturan pewarisan formal negara. Dengan demikian, diperlukan upaya harmonisasi antara nilai adat dan sistem hukum nasional untuk menjaga keadilan serta keberlanjutan nilai budaya masyarakat lokal.
PELAKSANAAN UANG JEMPUTAN DALAM ADAT PERKAWINAN ORANG MINANG PARIAMAN DI KOTA DUMAI PERSPEKTIF PSIKOLOGIS DAN SOSIOLOGIS Pasla, Jimmi; Rajab, Khairunnas; Tohirin, Tohirin; Jamal, Khairunnas; Jera, Almi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 2 (2025): Volume 8 No. 2 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i2.46913

Abstract

Fokus penelitian ini adalah bagaimana pertukaran uang Japuik, juga dikenal sebagai uang jemputan, digunakan dalam pernikahan masyarakat pariaman di Kota Dumai dan bagaimana status sosialnya berpengaruh jika dilihat dari perspektif psikologis dan sosiologis. Untuk menentukan besar nominalnya uang jemputan ditentukan berdasarkan kesepakatan yang dibuat oleh kedua belah pihak sampai mereka menyetujui jumlah yang akan diberikan kepada pihak laki-laki. Dengan cara musyawarah dapat mengubah tradisi ini. Dengan berkembangnya zaman, tradisi ini tidak lagi seperti sebelumnya, yang mewajibkan bagi  perempuan menyerahkan uang kepada keluarga laki-laki berdasarkan status sosial dan gelar mereka. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Metode observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam digunakan untuk mengumpulkan data. Metode pengumpulan data meliputi survei langsung di lokasi penelitian (Kelurahan Jayamukti dan Kelurahan Tanjung Palas) dan beberapa sumber literatur. Teori pertukaran sosial Levi-Strauss digunakan untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Uang Jemputan di Kelurahan Jayamukuti dan Kelurahan Tanjung Palas di Kota Dumai disesuaikan dengan kebutuhan dan persetujuan keluarga saat proses pertukaran dilakukan, tidak selalu mengikuti standar konvensional. Sebagai contoh, di Pariaman ada sistem selo yang diperuntukkan bagi ninik mamak, tetapi di Kota Dumai hal tersebut belum bisa dterapkan, sebab kedua telah pihak telah setuju untuk tidak memberatkan pihak perempuan. Uang jemputan dianggap penting untuk pelestarian adat oleh sebagian masyarakat, tetapi ada juga yang menolak karena tidak etis. Bagi orang minang pariaman di Kota Dumai, uang jemputan dilihat berdasarkan status sosial si pria; jika tinggi status sosialnya pria tersebut, maka juga tinggi uang jemputan yang akan diterimanya.
Hermeneutika Humanistik Al Qur’an: Stoikisme dalam Tafsir Empatik dan Kontekstual Fatimah, Fatimah; Insi, Sajidan; Jamal, Khairunnas; Hakim, Lukmanul; S, Mochammad Novendri
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5383

Abstract

Penelitian ini mengkaji relevansi konsep qada dan qadar serta ajaran kesabaran dalam Al-Qur'an sebagai respons terhadap tantangan psikologis kontemporer, melalui lensa hermeneutika humanistik. Pendekatan ini menekankan pemahaman kontekstual dan subjektivitas teks keagamaan. Dengan menganalisis ayat-ayat dalam Al-Qur'an, studi ini berargumen bahwa Al-Qur'an menawarkan kerangka kerja komprehensif bagi individu untuk mengelola stres dan meningkatkan ketahanan mental. Analisis menyoroti keselarasan konsep dikotomi kendali pada filsafat stoikisme dalam Islam dalam al-Qur’an (QS al-Ra’d: 11), di mana manusia didorong berikhtiar atas hal yang terkendali, sembari bertawakal pada hasil di luar kendali. Ajaran kesabaran dalam Al-Qur'an (QS al-Baqarah: 155-156) digali sebagai strategi mengelola emosi negatif, sejalan dengan prinsip Stoik "hidup bebas dari emosi negatif". Hasil penelitian menunjukkan tafsir Qur’ani yang humanistik dan kontekstual memperkaya pemahaman ayat suci dan menawarkan solusi praktis spiritual bagi individu menghadapi tekanan hidup. Studi ini menegaskan Al-Qur'an, melalui interpretasi empatik, dapat menjadi panduan relevan membangun ketahanan batin dan mencapai kesejahteraan psikologis.
Nikah Misyar dalam Perspektif Fikih Klasik dan Kontemporer: Kajian Normatif Atas Keabsahan dan Implikasinya Kholiq, Abdul; Rajab, Khairunnas; Jamal, Khairunnas; Jera, Almi; Tohirin, Tohirin
HUKUMAH: Jurnal Hukum Islam Vol 8, No 1 (2025): HUKUMAH
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hukumah.v8i1.1101

Abstract

Nikah misyar merupakan bentuk pernikahan yang memenuhi rukun dan syarat syar‘i, namun di dalamnya terdapat kesepakatan bahwa pihak istri melepaskan sebagian haknya, seperti nafkah atau tempat tinggal. Meskipun istilah ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam literatur fikih klasik, konsep serupa dapat dilacak dalam pembahasan para ulama mengenai akad nikah yang disertai syarat tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan mazhab fikih klasik mengenai keabsahan nikah misyar, mengkaji pendapat ulama dan lembaga fatwa kontemporer, serta menilai implikasinya terhadap maqashid al-shariah dan hukum keluarga modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan normatif-yuridis, memanfaatkan bahan hukum primer berupa sumber-sumber fikih klasik, fatwa kontemporer, serta bahan hukum sekunder dari artikel jurnal ilmiah dan penelitian terdahulu yang terverifikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa keempat mazhab fikih besar mengakui keabsahan nikah misyar apabila terpenuhi rukun dan syarat formil, meskipun terdapat perbedaan dalam menilai implikasinya terhadap hak-hak istri. Ulama dan lembaga fatwa kontemporer membolehkan praktik ini dengan syarat ketat, tetapi mengingatkan risiko sosial dan moral yang mungkin timbul. Dari perspektif maqashid al-shariah, nikah misyar dapat menjaga kehormatan dan mencegah zina, namun berpotensi mengabaikan tujuan pernikahan yang lebih luas seperti kestabilan rumah tangga dan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Oleh karena itu, meskipun sah secara syar‘i, penerapan nikah misyar memerlukan regulasi yang memastikan perlindungan hak-hak dan kemaslahatan sesuai prinsip syariat.
Kajian Fenomenologi atas Al-‘Afwu dalam Tafsir Kontemporer dan Relevansinya Dengan Trust Issue Hamidah, Nurul; Jamal, Khairunnas; Khotimah, Khotimah; Syaifullah, Ahmad
Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. 1 (2025): Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan (AJAIP)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/ajaip.2025.vol22(1).21913

Abstract

This article discusses a Phenomenological Study of Al-‘Afwu in Contemporary Qur’anic Exegesis and its Relevance to Trust Issues. This research is motivated by the phenomenon that modern-era society is starting to forget the true meaning and nature of forgiveness. That's why the problem of forgiveness (Al-‘Afwu) is underestimated, so it is very easy to forgive someone but still hold a grudge against that person, resulting in many people being hit by a crisis of trust (Trust Issues). The Trust Issues here is not human belief in God, but rather the belief that arises as a result of interacting with other humans. This research focuses on discussing the relationship between Al- ‘Afwu and the Trust Issues phenomenon. This type of research is library research using a qualitative descriptive approach, namely reading and analyzing study objects related to research. The study object in question comes from primary data and secondary data. The primary source for this research is contemporary Qur’anic Exegesis books while the secondary sources come from books, journals, articles and other written sources related to the research. The research results show that without Al-‘Afwu, Trust Issue sufferers will have difficulty trusting other people again, making it difficult for themselves because humans cannot be separated from other humans. There are many ways and methods for healing Trust Issues, but if the sufferer has not forgiven themselves and the people who have hurt them, it will be in vain. That is why Allah Swt. commands his servants to have a totally forgiving nature (Al-‘Afwu), namely forgiving others and erasing mistakes that have been made by the person who hurt them without any intention of revenge so that the ties of friendship are maintained and remain harmonious.
Etika Bisnis dalam Al-Qur’an Kajian Tafsir Atas Ayat-Ayat Tentang Keadilan dan Kejujuran dalam Perdagangan Ritonga, Miftahul Janna; Jamal, Khairunnas
Jurnal Masharif al-Syariah: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jms.v10i1.25102

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi prinsip etika bisnis dalam Al-Qur’an, dengan penekanan khusus pada konsep keadilan (‘adl) dan kejujuran (shiddiq) dalam praktik perdagangan. Kedua nilai tersebut dianggap sebagai pondasi fundamental dalam menciptakan sistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan menurut perspektif Islam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tafsir maudhu’i (tematik), dengan menghimpun serta menganalisis ayat-ayat yang relevan dari berbagai surah Al-Qur’an. Selain itu, penelitian ini juga merujuk pada penafsiran dari berbagai kitab tafsir klasik dan kontemporer, seperti Tafsir Al-Qurtubi, Tafsir Ibn Kathir, dan Tafsir Al-Misbah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menegaskan pentingnya menjaga keadilan dalam transaksi ekonomi, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Hud (11:85-86) yang melarang segala bentuk pengurangan timbangan dan takaran. Sementara itu, prinsip kejujuran ditegaskan dalam QS. Al-Mutaffifin (83:1-3) yang mengecam praktik kecurangan dalam perdagangan. Kedua prinsip ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga integritas individu tetapi juga untuk membangun kepercayaan dan stabilitas ekonomi yang berkelanjutan.
Konsep Bughat dalam Al-Qur’an dan Bentuk-Bentuknya dalam Sejarah Pemerintahan Islam (Kajian Tafsir Maudhu’i) Elviani, Elviani; Munir, Akmal Abdul; Jamal, Khairunnas
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji Konsep bughat (بغاة) dalam Al-Qur'an merujuk pada kelompok yang melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan yang sah dalam masyarakat Muslim. Dalam konteks, bughat diartikan sebagai pihak yang keluar dari ketaatan terhadap pemerintahan yang adil, baik itu dalam bentuk pemberontakan fisik maupun ideologis. Istilah ini terdapat dalam Surat Al-Hujurat : 9 di mana Allah memerintahkan umat Islam untuk berdamai jika terjadi perselisihan antara dua kelompok, dengan ketentuan bahwa salah satu kelompok mungkin merupakan bughat, yang berbuat zalim terhadap kelompok lainnya. Ayat ini memberikan dasar untuk pengertian dan penanganan kelompok pemberontak dalam Islam. Secara teologis, bughat tidak hanya mencakup tindakan kekerasan, tetapi juga berhubungan dengan pelanggaran terhadap norma sosial dan agama yang disepakati oleh umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep Bughat dalam Al-Qur’an serta bentuk bughat dalam pemerintahan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan Maudhu’i dan pengumpulan datanya diperoleh melalui kajian Library Research baik data primer maupun data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para ulama dalam menjelaskan objek dari ayat Bughat yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian yakni QS. Al-Hujurat  9, Al-A’raf  33, As-Syura 42, dan term bughat  berasal dari al-baghiya yang secara bahasa berarti melanggar batas, berbuat sewenang-wenang, kejam atau menindas, melampau, aniaya. Dalam sejarah pemerintahan Islam, konsep bughat telah mencatatkan peristiwa penting yang melibatkan pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. Salah satu peristiwa yang terkenal adalah Perang Jamal dan Perang Siffin pada masa awal kekhalifahan Islam. Kedua peristiwa dianggap sebagai contoh nyata pemberontakan yang berkaitan dengan bughat, di mana kedua pihak terlibat dalam konflik yang mengarah pada perpecahan umat.