Claim Missing Document
Check
Articles

Identitas Individual Dalam Sidik Jari: Studi Tafsir Ilmi Qs.Al-Qiyamah3–4 dan relevansinya dengan ilmu forensik Abdul Munzir; Khairunnas Jamal; Mochammad Novendri S
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sidik jari merupakan salah satu metode identifikasi biologis yang paling akurat dan banyak digunakandalamilmuforensikmodern.Polasidikjarimemilikikarakteristikunikpadasetiap individu serta bersifat permanen sepanjang hidup manusia. Menariknya, konsep mengenai ujungjarimanusiatelahdisinggungdalamAl-Qur’an,khususnyadalamQS.Al-Qiyāmahayat 3–4 yang menyatakan bahwa Allah mampu menyusun kembali “ujung-ujung jari” manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ayat tersebut melalui pendekatan tafsir ilmi serta mengkorelasikannya dengan temuan ilmiah dalam bidang ilmu forensik mengenai sidik jari sebagai identitas individual. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) terhadap literatur tafsir klasik dan kontemporer serta referensi ilmiah dalam bidang forensik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebutan “banānah” dalam ayat tersebut memiliki relevansi dengan konsep ilmiah mengenai keunikan pola sidik jari manusia yang tidak pernah sama antara satu individu dengan individu lainnya. Hal ini menunjukkan adanya keselarasan antara teks wahyu dan penemuan ilmiah modern, sekaligus memperkaya kajian tafsir ilmi dalam memahami fenomena biologis manusia.
Asal-Usul Kehidupan Dari Air: Analisis Tafsir Atas Qs. Al-Anbiyā’ [21]:30 Dalam Perspektif Biologi Modern Abdul Munzir; Khairunnas Jamal; Mochammad Novendri S
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji asal-usul kehidupan dari air melalui analisis tafsir QS. Al-Anbiyā’ [21]:30 dalam perspektif biologi modern. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan Tafsir Ilmi. Hasil penelitian menyimpulkan adanya evolusi pemahaman yang signifikan; mufasir klasik cenderung memaknai al-mā’ sebagai air hujan atau sperma, sementara mufasir kontemporer memperluas maknanya sebagai zat kimia esensial ($H_2O$) yang menjadi fondasi materi organik dan prasyarat mutlak (conditio sine qua non) bagi seluruh eksistensi biologis. Validitas ilmiah narasi Al-Qur'an divalidasi oleh biologi modern melalui fakta bahwa air merupakan pelarut universal dan komponen utama sitoplasma yang menjaga integritas makromolekul seperti protein dan DNA. Lebih lanjut, ditemukan sinkronisasi antara isyarat saintifik Al-Qur'an dengan teori Primordial Soup yang menempatkan air sebagai medium "rahim" bagi organisme pertama. Secara integratif, kajian ini melahirkan kesadaran baru bahwa air bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan substansi suci yang memikul amanah kehidupan, sehingga konservasi ekosistem air merupakan kewajiban teologis sekaligus ekologis sebagai bentuk ibadah dalam menjaga ciptaan Allah SWT.
TRANSFORMASI MAKNA PERNIKAHAN DI ERA MODERN: FENOMENA CHILDFREE ANTARA OTONOMI INDIVIDU DAN NILAI KELUARGA Sri Martini; Ilyas Husti; Khairunnas Jamal
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.11946

Abstract

Fenomena childfree merupakan keputusan sadar pasangan suami–istri untuk tidak memiliki anak sebagai bagian dari pilihan hidup yang direncanakan. Kemunculan fenomena ini menunjukkan adanya transformasi makna pernikahan dalam masyarakat modern yang tidak lagi semata-mata berorientasi pada reproduksi dan pelestarian keturunan, tetapi juga pada aktualisasi diri, kebebasan individu, dan kualitas hubungan pasangan. Artikel ini bertujuan menganalisis fenomena childfree dari perspektif sosial, psikologis, kultural, dan hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui penelaahan berbagai literatur ilmiah, buku, dan hasil penelitian terkini yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keputusan childfree dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pertimbangan ekonomi, pendidikan, karier, kesiapan psikologis, perubahan nilai keluarga, serta kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan global. Dari perspektif sosial dan kultural, fenomena ini mencerminkan pergeseran nilai dari paradigma pronatalis menuju orientasi yang lebih individualistik, meskipun masih menghadapi stigma dan tekanan sosial dalam masyarakat yang menjunjung tinggi pentingnya keturunan. Dari perspektif psikologis, childfree dapat dipahami sebagai bentuk kesadaran diri terhadap kesiapan menjadi orang tua. Sementara itu, dalam perspektif hukum Islam, pilihan untuk menunda atau mencegah kehamilan memiliki relevansi dengan konsep ‘azl yang pada prinsipnya dibolehkan oleh mayoritas ulama. Dengan demikian, childfree merupakan fenomena kompleks yang perlu dipahami secara proporsional dalam konteks perubahan sosial kontemporer.
Nikah Misyar dalam Perspektif Fikih Klasik dan Kontemporer: Kajian Normatif Atas Keabsahan dan Implikasinya Abdul Kholiq; Khairunnas Rajab; Khairunnas Jamal; Almi Jera; Tohirin
HUKUMAH: Jurnal Hukum Islam Vol 2 No 1 (2025): April
Publisher : HUKUMAH: Jurnal Hukum Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nikah misyar merupakan bentuk pernikahan yang memenuhi rukun dan syarat syar‘i, namun di dalamnya terdapat kesepakatan bahwa pihak istri melepaskan sebagian haknya, seperti nafkah atau tempat tinggal. Meskipun istilah ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam literatur fikih klasik, konsep serupa dapat dilacak dalam pembahasan para ulama mengenai akad nikah yang disertai syarat tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan mazhab fikih klasik mengenai keabsahan nikah misyar, mengkaji pendapat ulama dan lembaga fatwa kontemporer, serta menilai implikasinya terhadap maqashid al-shariah dan hukum keluarga modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan normatif-yuridis, memanfaatkan bahan hukum primer berupa sumber-sumber fikih klasik, fatwa kontemporer, serta bahan hukum sekunder dari artikel jurnal ilmiah dan penelitian terdahulu yang terverifikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa keempat mazhab fikih besar mengakui keabsahan nikah misyar apabila terpenuhi rukun dan syarat formil, meskipun terdapat perbedaan dalam menilai implikasinya terhadap hak-hak istri. Ulama dan lembaga fatwa kontemporer membolehkan praktik ini dengan syarat ketat, tetapi mengingatkan risiko sosial dan moral yang mungkin timbul. Dari perspektif maqashid al-shariah, nikah misyar dapat menjaga kehormatan dan mencegah zina, namun berpotensi mengabaikan tujuan pernikahan yang lebih luas seperti kestabilan rumah tangga dan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Oleh karena itu, meskipun sah secara syar‘i, penerapan nikah misyar memerlukan regulasi yang memastikan perlindungan hak-hak dan kemaslahatan sesuai prinsip syariat.
Z-Mart Program Strategy in Increasing Mustahik Economic Independence at BAZNAS Riau Province Silawati; Aslati; Khairunnas Jamal; Mochammad Novendri S
Lan Tabur: JURNAL EKONOMI SYARIAH Vol. 8 No. 1 (2026): September
Publisher : LAN TABUR: Jurnal Ekonomi Syariah The Islamic University of KH. Achmad Muzakki Syah Jember, East Java. Jember Jln. Manggar Gebang Poreng 139A Patrang Jember Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/lt.v8i1.210

Abstract

The productive zakat-based economic empowerment program continues to be developed as an instrument for transforming mustahik from aid recipients to independent business actors. However, the effectiveness of this kind of program is not enough to measure the increase in income alone, but also from the program's ability to build sustainable economic independence. This study aims to analyze the strategy of the Z-Mart Program of BAZNAS Riau Province in increasing the economic independence of mustahik, as well as identifying achievements, obstacles, and patterns of strengthening programs at the micro business level. The research uses a qualitative approach with the type of field research. Data was collected through in-depth interviews, observations, and documentation of mustahik beneficiaries, program managers, and companions in Pekanbaru City and Kampar Regency, then analyzed thematically through the stages of reduction, categorization, and data interpretation. The results of the study show that the Z-Mart strategy is carried out through mustahik selection, productive business capital assistance, stall rebranding, and business management assistance. This program has been proven to increase stock availability, business turnover, and mustahik ability to meet basic household needs. However, the economic independence of mustahik has not been fully formed because it is still hampered by the culture of kasbon, weak financial literacy, limited assistance, and lack of business expansion. These findings confirm that the success of productive zakat is determined not only by the distribution of capital, but also by the intensity of assistance and strengthening micro business governance
The Concept of Bâ’ah in Hadiths of Islamic Family Law and  its Relevance in Marriage Age Ismail Pane; Syamruddin Nasution; Khairunnas Jamal; Amru Hasibuan; Wira Lestari; Fatahillah bin Muhammad Syahrul
Jurnal Ushuluddin Vol. 34 No. 1 (2026): June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/5fzsew31

Abstract

This study aims to examine the concept of al-Bâ’ah in the hadits of Prophet Muhammad (peace be upon him) and to analyze its relevance to the determination of marriage age within contemporary society. The concept of al-Bâ’ah is a term frequently used in hadiths concerning Islamic family law, particularly those related to the recommendation of marriage for individuals who possess the necessary capability. However, the understanding of this concept is not limited merely to biological capability; it also encompasses economic, psychological, social, and spiritual aspects that serve as prerequisites for establishing a family characterized by sakinah (tranquility), mawaddah (affection), and rahmah (compassion). This research employs a library research method with a qualitative approach and thematic hadith analysis. The primary data sources consist of hadiths containing the term al-Bâ’ah along with their commentaries (syarḥ), while the secondary data sources are derived from Islamic jurisprudence (fiqh) literature, Islamic family law references, and regulations concerning the legal age of marriage. Data analysis is conducted through the inventory and collection of relevant hadiths, critical examination of their interpretations, contextual analysis, and the assessment of their relevance to modern social realities. The findings reveal that al-Bâ’ah in the hadith literature carries a comprehensive meaning, encompassing physical capability to fulfill reproductive functions, financial capability to provide family maintenance, and mental and emotional readiness to bear the responsibilities of married life. Therefore, indicators of marital readiness in Islam are not determined solely by biological age but also by an individual’s level of maturity across various dimensions of life. In the contemporary context, the concept of al-Bâ’ah remains highly relevant to policies establishing a minimum legal age for marriage, as such policies aim to ensure the physical, psychological, and social maturity of prospective spouses.
Co-Authors Abdul Kholiq Abdul Kholiq Abdul Munzir Afriadi, Putra Afrizal Nur Agustiar Agustiar Ahmad Rizki Daulay Alaiddin Koto, Alaiddin Ali Akbar Ali Musri Semjan Putra Almi Jera Amru Hasibuan Arif Iman Mauliddin Arif Iman Mauliddin Aslati Aslati Aslati Bulan Dalimunthe, Derhana Cantika, Anisa Derhana Bulan Dalimunthe Derhana Bulan Dalimunthe Dina Istiqomah Dinda, Dinda Dwi ramadhan, Farhan Eli Sabrifha Elviani, Elviani Fatahillah bin Muhammad Syahrul fatimah Fatimah Firyal, Adipa Gusma Afriani Husti, Ilyas Ilyas Husti Insi, Sajidan Irsan Irsan Irsan Irsan Ismail Pane Jera, Almi Johar Arifin Khabibjonovna, Kushieva Nodira Khairunnas Rajab Khairunnas Rajab Khotimah Khotimah Lukmanul Hakim M. Daffa Hanif Mahera, Rofiqo Meili Malia Hayati, Safira Mochammad Nopendri S Mochammad Novendri Mochammad Novendri S Mochammad Novendri S Muhammad Ilyas Muhammad Nurul Fahmi Muhammad Yasir Munawaroh, Unzila Munir, Akmal Abdul Muti'a, Nadratun Mutiara Kasih Nasrul Fatah Nasrul Fatah Nelvawita Nelvawita Nelvawita Nelvawita Nurhayati Nurhayati Nurul Hamidah, Nurul Padmilah, Padmilah Pasla, Jimmi Ramadanti Cania, Awni Ritonga, Miftahul Janna Rosidi, Imron Saifullah Saifullah Saifullah Saifullah Saleh Nur Sawaluddin Sawaluddin, Sawaluddin Silawati Silawati Silawati Sobardi, Ahmad Sri Martini Subhan, Suhuf Syafii Syafiuddin, Fauzan Azima Syaifullah, Ahmad Syamruddin Nasution Tohirin Tohirin Tohirin Umi Kalsum Ummi Tsaqila Wan Nasyaruddin Wan Abdullah Wilaela Wilaela Windi Soraya Ferucca Wira Lestari Yesa Adila Zailani Zailani Zaitun Zaitun