Claim Missing Document
Check
Articles

Frekuensi Pulsus dan Nafas Sapi Peranakan Ongole Pasca Beranak yang Diinfusi Povidone Iodine 1 % Jumaryoto Jumaryoto; Agung Budiyanto; Soedarmanto Indarjulianto
Jurnal Sain Veteriner Vol 38, No 3 (2020): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.58509

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui frekuensi pulsus dan nafas saat recovery uterus sapi potong pasca beranak yang diinfusi Povidon iodine 1%. Penelitian ini menggunakan 10 ekor sapi Peranakan Ongole (PO) yang beranak normal, sehat, umur 4-9 tahun, skor kondisi tubuh 2,5-3,5. Sapi dikelompokkan menjadi 2 yaitu 1). kontrol 2). infusi Povidon iodine 1%. Semua sapi diperiksa secara fisik meliputi kondisi kesehatan umum, penghitungan frekuensi pulsus dan nafas pada hari ke-3 (minggu ke-1), hari ke 38 dan hari ke 68 pasca beranak. Sapi kelompok 2 diberi infusi Povidon iodine 1 % sebanyak 250 ml per-ekor pada hari ke-3. Hasil penelitian menunjukkan semua sapi dalam kondisi sehat dengan frekuensi nafas pada sapi kelompok kontrol hari ke-3, 38 dan 68 berturut-turut adalah 28,80 ± 5,02; 24,00 ± 0,00 dan 25,20 ± 4,38 kali/menit dan pada sapi kelompok perlakuan adalah 27,60 ± 3,29; 22,40 ± 4,34 dan 21,20 ± 5,76 kali/menit. Frekuensi pulsus pada sapi kelompok kontrol hari ke-3, 38 dan 68 berturut-turut adalah 81,60 ± 8,05; 67,20 ± 14,94 dan 62,00 ± 4,90 kali/menit dan kelompok perlakuan adalah 74,40 ± 8,05; 63,20 ± 9,01 dan 72,80 ± 9,86 kali/menit. Uji t-test didapatkan bahwa tidak ada perbedaan yang singifikan (p> 0,05) antara sapi kontrol dan perlakukan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sapi PO sehat 3-68 hari pasca beranak mempunyai frekuensi nafas 21,20 ± 5,76 - 28,80 ± 5,02 kali/menit dan frekuensi pulsus 62,00 ± 4,90 - 81,60 ± 8,05 kali/menit.
Kepincangan Akibat Kuku Abnormal Sapi Perah di Kandang dengan Alas Karet dan Beton Soedarmanto Indarjulianto; Catur Sugiyanto; Ambar Pertiwiningrum; Yanuartono Yanuartono; Alfarisa Nururrozi; Teguh Ari Prabowo; Ahmad Syahrul Fauzi
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.61684

Abstract

Kepincangan pada sapi perah yang dapat diebabkan kuku abnormal dapat mempengaruhi kesehatan dan produksi susu. Penelitian ini bertujuan membandingkan kasus kepincangan akibat kuku abnormal pada sapi perah yang dipelihara di kandang dengan alas karet dan beton. Penelitian ini menggunakan 104 ekor sapi perah dari 23 peternak, yang terdiri dari 72 ekor dipelihara dengan alas kandang karet dan 32 beton. Semua sapi diperiksa kukunya, kemampuan berdiri dan berjalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kasus kuku abnormal sebanyak 26 dari 105 ekor sapi (25%) yang terdiri dari 16/72 ekor (22,2%) pada kandang alas karet dan 10/32 ekor (31,3%) pada kandang alas beton. Kondisi kuku tersebut menyebabkan sebanyak 8 ekor sapi (30,8%) kesulitan berdiri atau kesulitan berjalan dan (69,2%) masih dapat berdiri dan berjalan dengan normal. Sebanyak 6/16 ekor (37,5%) sapi pada kandang alas karet dan 2/10 ekor (20%) sapi pada kandang alas beton menunjukkan kesulitan berdiri dan berjalan. Abnormalitas kuku pada penelitian ini kemungkinan disebabkan kuku tidak dipotong tepat waktu karena peternak kurang berpengalaman. Kesimpulan dari peneltian ini adalah prevalensi problem kuku abnormal adalah 25% yang didapatkan lebih banyak terjadi pada kandang alas beton. Kepincangan akibat kuku abnormal terjadi pada 30,8% sapi perah kuku abnormal dan kejadian didapatkan lebih banyak pada sapi yang dipelihara di kandang dengan alas karet.
Dinamika Folikel Ovulasi Setelah Sinkronisasi Estrus dengan Prostaglandin F2a pada Sapi Perah Prabowo Purwono Putro; R. Wasito; Hastari Wuryastuty; Soedarmanto Indarjulianto
Buletin Peternakan Vol 32, No 3 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (3) Oktober 2008
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v32i3.1257

Abstract

File lengkap ada dalam bentuk PDF dibawah ini
Terapi Ammonium Khlorida-Asam Askorbat untuk Menurunkan Tingkat Keasaman Urin dan Kristalisasi Struvit pada Kucing Urolithiasis (THERAPY AMMONIUM CHLORIDE-ASCORBIC ACID FOR LOWERING URINE ACIDITY AND STRUVITE CRYSTALLIZATION IN FELINE UROLITHIASIS) Alfarisa Nururrozi; Soedarmanto Indarjulianto; Yanuartono Yanuartono; Hary Purnamaningsih; Sitarina Widyarini; Slamet Raharjo; Dhasia Ramandani
Jurnal Veteriner Vol 20 No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.516 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.1.8

Abstract

Struvite/Magnesium ammonium phosphate (MAP) is common causes of feline urolithiasis. Prevent the formation of MAP crystallization can be treated by adjusting the pH urine in acid conditions. Urine with an acid pH will decrease struvite activity product (SAP) by preventing the phosphate deprotonation process which is the main constituent of struvite components. This study aims to determine the potential of a combination of ammonium chloride (NH4Cl) and ascorbic acid to decrease SAP by retain the urine pH under normal conditions. Twelve male cats, 2-5 years old and body weight 3.0 ± 0.8 kg were diagnosed struvite urolithiasis used for this study. Cats have a9clinical history of hematuria, dysuria, polyuria, and stranguria. Diagnosis of urolithiasis performed by clinical examination, USG, x-rays, and urinalysis. Cats that found struvite urolith, treated with 200 mg/kg NH4Cl and 100 mg/kg ascorbic acid orally twice a day. The research objects were observed included urine pH and crystaluria density. The data were analyzed using analisis of varian. The result of this study showed NH4Cl and ascorbic acid treatment can decrease the urine pH at 8 cats (89%) with an average pH 6.3 ± 0.3. Microscopic examination of the urine showed the struvite crystallization more infrequently than before therapy. The study concluded that the combination of NH4Cl and asam askorbat can lower the urine pH and reduce struvite crystal density in the urine.
Infeksi Microsporum canis pada Kucing Penderita Dermatitis (MICROSPORUM CANIS INFECTION IN DERMATITIS CATS) Soedarmanto Indarjulianto; Yanuartono Yanuartono; Sitarina Widyarini; Slamet Raharjo; Hary Purnamaningsih; Alfarisa Nururrozi; Nurman Haribowo; Hizriah Alief Jainudin
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.373 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.207

Abstract

Dermatitis in cats can be caused by Microsporum canis and is zoonotic. This study aims to perform clinical examination, laboratory examination, isolation, and identification of mold M. canis in cats with dermatitis. Skin scrapped from 30 cats that clinically showed lesions of dermatitis i.e. combination of alopecia, erythema, papules, pustules, scaly, and crusty were used in this study. Examination of clinical lesions and screening tests using the Wood’s lamps were performed prior to sampling. Skin scrapes samples were cultured onto Sabouraud’s dextrose agar medium, incubated at 28 ° C and colonies were identified macroscopically then stained using Lactophenol Cotton Blue for microscopic examination. Seventen of the 30 samples (56.7%) were identified as M. canis macroscopically and microscopically. The skin lesions observed in the 17 M. canis infected cats were erythema, alopecia, scaly, and crusty distributed to the ear, body, neck, back and tail of cats, respectively ABSTRAK Dermatitis pada kucing dapat disebabkan oleh Microsporum canis dan bersifat zoonotik. Penelitian ini bertujuan melakukan pemeriksaan klinis, pemeriksaan laboratoris, isolasi, dan identifikasi kapang M. canis pada kucing penderita dermatitis. Kerokan kulit dari 30 ekor kucing yang secara klinis menunjukkan lesi dermatitis berupa kombinasi dari alopesia, eritema, papula, pustula, bersisik, dan berkerak digunakan dalam penelitian ini. Pemeriksaan lesi klinis dan uji screening dengan lampu Wood’s dilakukan sebelum pengambilan sampel. Sampel kerokan kulit dikultur pada media Sabouraud’s dextrose agar, diinkubasi pada suhu 28°C dan diidentifikasi secara makroskopis. Koloni yang tumbuh diperiksa secara mikroskopis menggunakan pewarnaan Lactophenol Cotton Blue. Hasil penelitian menunjukkan 17 dari 30 sampel (56,7%) teridentifikasi M. canis secara makroskopis dan mikroskopis. Lesi kulit yang ditemukan pada 17 kucing positif terinfeksi M. canis menunjukkan adanya eritema, alopesia, bersisik, dan berkerak dengan lokasi penyebaran pada telinga, badan, leher, punggung atau ekor.
KAJIAN FILOGENETIK ULAR SANCA BATIK (Malayopython reticulatus) LOKALITAS JAWA BERDASAR SEKUEN GEN SITOKROM B Slamet Raharjo; Sri Hartati; Soedarmanto Indarjulianto; Rini Widayanti; Alfarisa Nururrozi
Jurnal Veteriner Vol 19 No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.009 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2018.19.2.284

Abstract

Reticulated python (Malayopython reticulatus) Javan locality has different phenotype among West Java, Central Java and East Java locality. This research aim was to study the phylogenetic of reticulated python (M. reticulatus) Java locality based on the partial gene cytochrome b sequences. Fifteen males and females adult healthy reticulated pythons (5 from West Java, 5 from Central Java and 5 from East Java) were used in this study. As much as 1 mL blood samples collected from ventral coccygeal vein, put in Eppendorf with EDTA then sent to Laboratory of Biochemistry, Faculty of Veterinary Medicine, Gadjah Mada University for total Deoxyrybo Nucleic Acid (DNA) extraction and DNA amplification with Polymerase Chain Reaction (PCR) method. DNA sequencing was done in First Base Company Singapore by PT. Genetika Science Jakarta. The gene cytochrome b sequences were phylogenetically analysed using Neighbor joining (MEGA v. 5.0) method. The length of partial gene cytochrome b nucleotides sequence of M. reticulatus from West Java, Central Java and East Java locality was 819 bp. The phylogram using Neighbor joining method showed that Malayopython reticulatus Central Java locality was differentiated from West Java locality, while the East Java locality was undifferentiated from West Java and Central Java locality, namely in the same group. It could be concluded that reticulated python (M. reticulatus) Java locality has partial gene cytochrome b sequences with 819 bp. The phylogenetic of Malayopython reticulatus West Java and several from East Java were located at same branch with M. reticulatus GenBank, while the Central Java and several from East Java were located at different branch. It needs further research with more samples and validity of localities for better result.
Infeksi Aeromonas salmonicida dari Berbagai Wilayah di Indonesia Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) Riza Priyatna; Soedarmanto Indarjulianto; Kurniasih Kurniasih
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.111

Abstract

Aeromonas salmonicida merupakan bakteri penyebab furunculosis pada ikan yang mengakibatkan kerugian ekonomi di dalam budidaya ikan air tawar. Penelitian bertujuan mengetahui gambaran darah ikan Mas (Cyprinus carpio) yang diinfeksi oleh A. salmonicida, juga dilakukan pemeriksaan histopatologi. Sebanyak empat isolat atipikal A. salmonicida telah diisolasi dari ikan di empat daerah di Indonesia yaitu Pontianak, Semarang, Yogyakarta, Jambi dan satu isolat atipikal A. salmonicida subjenis smithia dari ATCC sebagai kontrol. Sebanyak 45 ekor ikan mas berukuran 1215 cm dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok 14 diinfeksi dengan A. salmonicida 0,1ml x 10 4 sel/ml secara intraperitoneal dari empat isolat berbeda. Kelompok ikan 5/kontrol tidak dilakukan infeksi bakteri. Isolat A. salmonicida yang berasal dari Pontianak menunjukkan jumlah leukosit total dan kadar hemoglobin meningkat jelas pada hari ke-7 sesudah infeksi, disertai peningkatan jumlah rata-rata heterofil, limfosit dan monosit pada hari ke-7 sesudah infeksi. Berdasarkan hasil pemeriksaan darah menunjukkan bahwa isolat A. salmonicida dari Pontianak merupakan isolat patogen yang menyebabkan reaksi akut jika dibandingkan dengan isolat dari daerah lain. Isolat A. salmonicida dari Yogyakarta menyebabkan perubahan patologi paling ringan. Isolat dari Jambi dan Pontianak menyebabkan lesi kulit hingga lapisan otot, epicarditis mulai hari ke-3 sesudah infeksi.
Bovine Ephemeral Fever pada ternak sapi potong di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta (Laporan Kasus) Alfarisa Nururrozi; Mulya Fitranda; Soedarmanto Indarjulianto; Yanuartono Yanuartono
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 27, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2017.027.01.09

Abstract

Bovine Ephemeral Fever (BEF) or three days sickness is one of the most common disease in cattle. The disease is caused by rhabdoviridae virus transmitted  through mosquito as a vectors. This paper aims to determine the incidence of BEF cases in Gunungkidul district, Yogyakarta. Diagnoses BEF based on information collected through the anamnesis from owner and the results of clinical examination. 134 (48%) from 277 cows were examined in the   Gunungkidul district period October-November 2016 diagnosed BEF. Clinical signs were found consist of anorexia 111 cases (34%), hyperthermia 99 cases (31%), lameness 42 cases (13%), cow downer 31 cases (10%), nasal discharge 35 cases (11%) and hypersalivation  6 cases (2%). Bovine Ephemeral Fever mayority reported on the second day of the disease progression by 67 cases (42%). The most common therapy  used combinations of antipyretics, antibiotics and vitamins were 45 cases (33%). Based on the information from the farmers, the treatment has given good results and absence of  the absence of post-treatment recurrence
Fitat dan fitase : dampak pada hewan ternak Yanuartono Yanuartono; Alfarisa Nururrozi; Soedarmanto Indarjulianto
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2016.026.03.09

Abstract

In countries with high plant biodiversity such as Indonesia, the availability of food of plant origin is very diverse. The presence of anti-nutrients in plants would potentially cause problems in cattle if not managed properly. phytic acid is one anti nutritional factor  that have a role in disrupting the health and productivity The term phytate refers to the molecule phytic acid, which generally acts as a chelate to Mg, Ca, Na, and K, and in some cases protein and carbohydrates. Seeds of cereals, legumes and oilseed plant which is used as animal feed usually contains a lot of phytic acid which can cause a decline in nutritional value. However, with a variety of processing methods, levels of phytic acid in animal feed can be reduced or even eliminated. In addition to the processing method, the method of adding phytase enzyme may also be done to improve the nutritional value of the animal feed ingredients.Keywords:anti-nutrients.phytic acid. processingmethods.phytase
Review : Kejadian mastitis dan kaitannya dengan vitamin dan Trace Mineral Cu, Zn, Se yanuartono - yanuartono; Alfarisa Nururrozi; Soedarmanto Indarjulianto; Hary Purnamaningsih; Nurman Haribowo
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 28, No 3 (2018): Desember
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2018.028.03.10

Abstract

Mastitis means inflammation of the udder and is a common disease among dairy cows worldwide. It is subdivided into clinical mastitis and subclinical mastitis, both influence milk quality and quantity, and mastitis is therefore of major economic concern for the farmer. The incidence rate of mastitis varies between herds and depends on the exposure to pathogens, environmental and management factors and the immune status of the cow. Mastitis is associated with release of free radicals, increased total oxidant capacity and decreased total antioxidants capacity in milk. Vitamin C, E, , α tocopherol, A, β-karoten and trace mineral (Cu, Zn, and Se) feeding, as an antioxidant, in dairy cows have shown appreciable protective effects by reducing the incidence of mastitis.The purpose of this review is to discuss the role of Vitamins C, E, α tocopherol, A, β-carotene, Cu, Zn, and Se in the incidence of mastitis.
Co-Authors Afif Muhammad Akhrom Afif Muhammad Akrom Afif Muhammad Akrom Agistanya Andimi Agung Budiyanto Agustina Dwi Wijayanti Ahmad Syahrul Fauzi Ahmadi, Maulidina Akrom, Afif Muhammad Albert Jackson Yang Alek Arisona Alfarisa - Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi, Alfarisa Alva Edy Tontowi Ambar Pertiwiningrum Andarini, Zahrah Prawita Andriani Dwi Hapsari Anggi Novita Sari Argamjav, Bayanzul Arisona, Alek Aurora, Clara Inneke Catur Sugiyanto Claude Mona Airin Dalimunthe, Naela Wanda Yusria Daniswari, Priyanka Primananda Datrianto, Dwi S. Dewandaru, Risang Aji Dhasia - Ramandani Dhasia Ramandani Dhasia Ramandani, Dhasia Dionisius M. . Dwi Priyowidodo Enikarmila Asni Erif Maha Nugraha Setyawan Fangidae, Petra Yudha Fatona, Desnita Rizka Fika Yuliza Purba Gerson Yohanes Imanuel Sakan Guntari Titik Mulayni Guntari Titik Mulyani H Wuryastuty, H Haribowo, Nurman Harjono, Habib Prasetyo Hary Purnamaningsih Hary Purnamaningsih Hary Purnamaningsih, Hary Purnamaningsih Hastari Wuryastuti Hastari Wuryastuty Hastari Wuryastuty Hayati, Rusmi Hina, Carlo Yunior Ray Hizriah Alief Jainudin I Sakan, Gerson Yohanes Ida Tjahajati Imron Rosyadi Irkham Widiyono Jeffi Chandra Ajiguna Joko Prastowo Julita Dewitri Merthayasa Jully Handoko Jumaryoto Jumaryoto Kaswardjono, Yanuartono Kurniasih , Kurniasih Kurniasih Kurniasih Kurniasih Kurniasih Laksono Trisnantoro Lily Gunawan Luh Putu Ratna Sundari Margaretha Arnita Wuri Margaretha Arnita Wuri Milla, Yunita Apriana Muhammad Ardiansyah Nurdin Muhammad Ihsan Andi Dagong Mulya Fitranda Nareswari, Anggitya Nor Wijaya, Rendra Novia Nur Aini Nugroho, Fatah Nur Alif Bahmid Nurcahyo, R Wisnu Nurman Haribowo Nurman Haribowo Nurman Haribowo Nurman Haribowo Nurrurozi, Alfarisa NURULIA HIDAYAH Okid Parama Astirin Paryuni, Alsi Dara Pengsakul, Theerakamol Permana, Rief Ghulam Satria Pertiwiningrum , Ambar PP Putro, PP Prabowo , Teguh Ari Prabowo Purwono Putro Prabowo, Teguh Ari Pramono, Agung Budi Priyo Sambodo Priyo, Topas Wicaksono Putu Devi Jayanti Puveanthan Nagappan Govendan R Wasito R. Wasito Ramadhani, Mungky Ema Ratna Nugraheni, Yudhi Refika Melina Putri Renny Fatmyah Utamy Retno Widyastuti, Retno Rian Maulana, Rian Rief Ghulam Satria Permana Rief Ghulam Satria Permana Rini Widayanti Rini Widayanti Risa Ummami Riza Priyatna Rusmi Hayati Rusmihayati, Rusmihayati Santika, Luh Putu Nadya Sarmin Sarmin Setiawan, Dwi Cahyo Budi Simanjuntak, Arya Marganda Sitarina Widyarini Siti Helmyati Sitompul, Yeremia Yobelanno Slamet Rahardjo Slamet Rahardjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Soetiarso, Lilik Sri Hartati Sri Hartati Sriningsih, Agnes Pratamiutami Suandhika, Putu Subaedy Yusuf Sugiyono Sugiyono Sukma Maharani Suparni Setyowati Rahayu Susana, Yuli Susanti, Agatha Ria Suyanto Suyanto Teguh Ari Prabowo Teguh Ari Prabowo Teguh Ari Prabowo Tri Untari Trini Susmiati Wicaksana, Pamungkas Aji Winarsih, Sugi Wisnu Nurcahyo Wuri , Margaretha Arnita Wuri, Margaretha Arnita Yanuartono Yanuartono yanuartono - - yanuartono - yanuartono yanuartono - yanuartono Yanuartono . Yanuartono . Yanuartono Kaswardjono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono, Yanuartono yanuartono, yanuartono - Yunitasari, Maria Yuriadi Yuriadi, Yuriadi Zahrah Prawita Andarini