Claim Missing Document
Check
Articles

Frekuensi Pulsus dan Nafas Sapi Peranakan Ongole Pasca Beranak yang Diinfusi Povidone Iodine 1 % Jumaryoto Jumaryoto; Agung Budiyanto; Soedarmanto Indarjulianto
Jurnal Sain Veteriner Vol 38, No 3 (2020): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.58509

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui frekuensi pulsus dan nafas saat recovery uterus sapi potong pasca beranak yang diinfusi Povidon iodine 1%. Penelitian ini menggunakan 10 ekor sapi Peranakan Ongole (PO) yang beranak normal, sehat, umur 4-9 tahun, skor kondisi tubuh 2,5-3,5. Sapi dikelompokkan menjadi 2 yaitu 1). kontrol 2). infusi Povidon iodine 1%. Semua sapi diperiksa secara fisik meliputi kondisi kesehatan umum, penghitungan frekuensi pulsus dan nafas pada hari ke-3 (minggu ke-1), hari ke 38 dan hari ke 68 pasca beranak. Sapi kelompok 2 diberi infusi Povidon iodine 1 % sebanyak 250 ml per-ekor pada hari ke-3. Hasil penelitian menunjukkan semua sapi dalam kondisi sehat dengan frekuensi nafas pada sapi kelompok kontrol hari ke-3, 38 dan 68 berturut-turut adalah 28,80 ± 5,02; 24,00 ± 0,00 dan 25,20 ± 4,38 kali/menit dan pada sapi kelompok perlakuan adalah 27,60 ± 3,29; 22,40 ± 4,34 dan 21,20 ± 5,76 kali/menit. Frekuensi pulsus pada sapi kelompok kontrol hari ke-3, 38 dan 68 berturut-turut adalah 81,60 ± 8,05; 67,20 ± 14,94 dan 62,00 ± 4,90 kali/menit dan kelompok perlakuan adalah 74,40 ± 8,05; 63,20 ± 9,01 dan 72,80 ± 9,86 kali/menit. Uji t-test didapatkan bahwa tidak ada perbedaan yang singifikan (p> 0,05) antara sapi kontrol dan perlakukan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sapi PO sehat 3-68 hari pasca beranak mempunyai frekuensi nafas 21,20 ± 5,76 - 28,80 ± 5,02 kali/menit dan frekuensi pulsus 62,00 ± 4,90 - 81,60 ± 8,05 kali/menit.
Kepincangan Akibat Kuku Abnormal Sapi Perah di Kandang dengan Alas Karet dan Beton Soedarmanto Indarjulianto; Catur Sugiyanto; Ambar Pertiwiningrum; Yanuartono Yanuartono; Alfarisa Nururrozi; Teguh Ari Prabowo; Ahmad Syahrul Fauzi
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.61684

Abstract

Kepincangan pada sapi perah yang dapat diebabkan kuku abnormal dapat mempengaruhi kesehatan dan produksi susu. Penelitian ini bertujuan membandingkan kasus kepincangan akibat kuku abnormal pada sapi perah yang dipelihara di kandang dengan alas karet dan beton. Penelitian ini menggunakan 104 ekor sapi perah dari 23 peternak, yang terdiri dari 72 ekor dipelihara dengan alas kandang karet dan 32 beton. Semua sapi diperiksa kukunya, kemampuan berdiri dan berjalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kasus kuku abnormal sebanyak 26 dari 105 ekor sapi (25%) yang terdiri dari 16/72 ekor (22,2%) pada kandang alas karet dan 10/32 ekor (31,3%) pada kandang alas beton. Kondisi kuku tersebut menyebabkan sebanyak 8 ekor sapi (30,8%) kesulitan berdiri atau kesulitan berjalan dan (69,2%) masih dapat berdiri dan berjalan dengan normal. Sebanyak 6/16 ekor (37,5%) sapi pada kandang alas karet dan 2/10 ekor (20%) sapi pada kandang alas beton menunjukkan kesulitan berdiri dan berjalan. Abnormalitas kuku pada penelitian ini kemungkinan disebabkan kuku tidak dipotong tepat waktu karena peternak kurang berpengalaman. Kesimpulan dari peneltian ini adalah prevalensi problem kuku abnormal adalah 25% yang didapatkan lebih banyak terjadi pada kandang alas beton. Kepincangan akibat kuku abnormal terjadi pada 30,8% sapi perah kuku abnormal dan kejadian didapatkan lebih banyak pada sapi yang dipelihara di kandang dengan alas karet.
Dinamika Folikel Ovulasi Setelah Sinkronisasi Estrus dengan Prostaglandin F2a pada Sapi Perah Prabowo Purwono Putro; R. Wasito; Hastari Wuryastuty; Soedarmanto Indarjulianto
Buletin Peternakan Vol 32, No 3 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (3) Oktober 2008
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v32i3.1257

Abstract

File lengkap ada dalam bentuk PDF dibawah ini
Infeksi Aeromonas salmonicida dari Berbagai Wilayah di Indonesia Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) Riza Priyatna; Soedarmanto Indarjulianto; Kurniasih Kurniasih
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.111

Abstract

Aeromonas salmonicida merupakan bakteri penyebab furunculosis pada ikan yang mengakibatkan kerugian ekonomi di dalam budidaya ikan air tawar. Penelitian bertujuan mengetahui gambaran darah ikan Mas (Cyprinus carpio) yang diinfeksi oleh A. salmonicida, juga dilakukan pemeriksaan histopatologi. Sebanyak empat isolat atipikal A. salmonicida telah diisolasi dari ikan di empat daerah di Indonesia yaitu Pontianak, Semarang, Yogyakarta, Jambi dan satu isolat atipikal A. salmonicida subjenis smithia dari ATCC sebagai kontrol. Sebanyak 45 ekor ikan mas berukuran 1215 cm dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok 14 diinfeksi dengan A. salmonicida 0,1ml x 10 4 sel/ml secara intraperitoneal dari empat isolat berbeda. Kelompok ikan 5/kontrol tidak dilakukan infeksi bakteri. Isolat A. salmonicida yang berasal dari Pontianak menunjukkan jumlah leukosit total dan kadar hemoglobin meningkat jelas pada hari ke-7 sesudah infeksi, disertai peningkatan jumlah rata-rata heterofil, limfosit dan monosit pada hari ke-7 sesudah infeksi. Berdasarkan hasil pemeriksaan darah menunjukkan bahwa isolat A. salmonicida dari Pontianak merupakan isolat patogen yang menyebabkan reaksi akut jika dibandingkan dengan isolat dari daerah lain. Isolat A. salmonicida dari Yogyakarta menyebabkan perubahan patologi paling ringan. Isolat dari Jambi dan Pontianak menyebabkan lesi kulit hingga lapisan otot, epicarditis mulai hari ke-3 sesudah infeksi.
Bovine Ephemeral Fever pada ternak sapi potong di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta (Laporan Kasus) Alfarisa Nururrozi; Mulya Fitranda; Soedarmanto Indarjulianto; Yanuartono Yanuartono
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 27, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2017.027.01.09

Abstract

Bovine Ephemeral Fever (BEF) or three days sickness is one of the most common disease in cattle. The disease is caused by rhabdoviridae virus transmitted  through mosquito as a vectors. This paper aims to determine the incidence of BEF cases in Gunungkidul district, Yogyakarta. Diagnoses BEF based on information collected through the anamnesis from owner and the results of clinical examination. 134 (48%) from 277 cows were examined in the   Gunungkidul district period October-November 2016 diagnosed BEF. Clinical signs were found consist of anorexia 111 cases (34%), hyperthermia 99 cases (31%), lameness 42 cases (13%), cow downer 31 cases (10%), nasal discharge 35 cases (11%) and hypersalivation  6 cases (2%). Bovine Ephemeral Fever mayority reported on the second day of the disease progression by 67 cases (42%). The most common therapy  used combinations of antipyretics, antibiotics and vitamins were 45 cases (33%). Based on the information from the farmers, the treatment has given good results and absence of  the absence of post-treatment recurrence
Fitat dan fitase : dampak pada hewan ternak Yanuartono Yanuartono; Alfarisa Nururrozi; Soedarmanto Indarjulianto
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2016.026.03.09

Abstract

In countries with high plant biodiversity such as Indonesia, the availability of food of plant origin is very diverse. The presence of anti-nutrients in plants would potentially cause problems in cattle if not managed properly. phytic acid is one anti nutritional factor  that have a role in disrupting the health and productivity The term phytate refers to the molecule phytic acid, which generally acts as a chelate to Mg, Ca, Na, and K, and in some cases protein and carbohydrates. Seeds of cereals, legumes and oilseed plant which is used as animal feed usually contains a lot of phytic acid which can cause a decline in nutritional value. However, with a variety of processing methods, levels of phytic acid in animal feed can be reduced or even eliminated. In addition to the processing method, the method of adding phytase enzyme may also be done to improve the nutritional value of the animal feed ingredients.Keywords:anti-nutrients.phytic acid. processingmethods.phytase
Review : Kejadian mastitis dan kaitannya dengan vitamin dan Trace Mineral Cu, Zn, Se yanuartono - yanuartono; Alfarisa Nururrozi; Soedarmanto Indarjulianto; Hary Purnamaningsih; Nurman Haribowo
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 28, No 3 (2018): Desember
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2018.028.03.10

Abstract

Mastitis means inflammation of the udder and is a common disease among dairy cows worldwide. It is subdivided into clinical mastitis and subclinical mastitis, both influence milk quality and quantity, and mastitis is therefore of major economic concern for the farmer. The incidence rate of mastitis varies between herds and depends on the exposure to pathogens, environmental and management factors and the immune status of the cow. Mastitis is associated with release of free radicals, increased total oxidant capacity and decreased total antioxidants capacity in milk. Vitamin C, E, , α tocopherol, A, β-karoten and trace mineral (Cu, Zn, and Se) feeding, as an antioxidant, in dairy cows have shown appreciable protective effects by reducing the incidence of mastitis.The purpose of this review is to discuss the role of Vitamins C, E, α tocopherol, A, β-carotene, Cu, Zn, and Se in the incidence of mastitis.
Pemberdayaan Istri-Istri Peternak Melalui Pengolahan Susu pada Masa Pandemi Covid-19 Di Desa Tahunan, Kabupaten Pacitan Ambar Pertiwiningrum; Teguh Ari Prabowo; Catur Sugiyanto; Soedarmanto Indarjulianto; Margaretha Arnita Wuri
Journal of Empowerment Community Vol. 3 No. 1 (2021): MARET 2021
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/jec.v3i1.566

Abstract

Dewasa ini telah terjadi pandemi virus Covid_19 atau yang lebih dikenal virus corona. Kejadian tersebut membuat masyarakat berbondong-bondong menggalakan hidup sehat, salah satu yang sering didengungkan adalah menjaga immunitas tubuh dengan mengkonsumsi jamu dan susu. Desa Tahunan, Kabupaten Pacitan memiliki potensi sumber daya pertanian berupa empon-empon dan peternakan sapi perah cukup banyak. Saat ini produksi empon-empon di desa tersebut dijual dalam bentuk mentah (belum diolah). Sementara untuk produk susu sapi perah masih tergantung pada distributor susu. Kendalanya apabila terjadi over suplai dan distributor susu menolak susu tersebut maka akan menjadi kegoncangan bagi pendapatan rumah tangga peternak. Untuk itu diperlukan suatu usaha menjadikan kedua komoditi tersebut memiliki nilai tambah dan tidak tergantung kepada pihak ketiga. Melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Implementasi Pendidikan Bagi Pembangunan Berkelanjutan terjadi kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa tahunan untuk mengembangkan kedua komoditi tersebut menjadi produk unggulan Output kegiatan ini adalah masyarakat ter edukasi melalui pengolahan susu dan empon-empon menjadi minuman kesehatan di masa pandemi covid-19.
Brief Review: The Negative Impact Of Mimosin in L. leucocephala in Ruminant Animals and Processing Methods to Reduce Poisoning Effects on Ruminant Livestock Yanuartono Yanuartono; Soedarmanto Indarjulianto; Alfarisa Nururrozi; Slamet Raharjo; Hary Purnamaningsih
Journal of Livestock Science and Production Vol 3, No 2 (2019): Journal of Livestock Science and Production
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/jalspro.v3i2.2037

Abstract

Leucaena leucocephala, a high-quality ruminant feed, is essential for livestock production in the tropics, despite the presence of mimosine in the leaves. Mimosine, in high concentrations, can severely affect animal health and performance. Mimosine and its metabolites, 3-hydroxy-4-(1H)-piridon (DHP), are toxic to ruminants and caused hair loss, slow growth, and oral ulceration, whereas DHP is goitrogenic because it is analogous to tyrosine so resulting in goiter. Mimosine and its metabolites are the main hindrance blocks for the utilization of L.leucocephala as animal feed. Characteristic signs of L.leucocephala toxicity are alopecia, anorexia, reduced weight gain, and weight loss, excessive salivation, esophageal lesions, enlarged thyroid and low circulating concentrations of thyroid hormones. Therefore, the research workers had tried to develop different methods to eliminate the toxicological effects of mimosine and its metabolites. This paper aims to briefly review the negative effects of mimosine from L. leucocephala and its processing to reduce the toxic effects on ruminants. Keywords: Leucaena leucocephala, mimosine, toxicity, metabolites
Nematodes Resistance on Anthelmintics Group of Benzimidazole in Ruminants Yanuartono Yanuartono; Soedarmanto Indarjulianto; Alfarisa Nururrozi; Hary Purnamaningsih
Journal of Livestock Science and Production Vol 3, No 1 (2019): Journal of Livestock Science and Production
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/jalspro.v3i1.1464

Abstract

One factor that inhibits the increase in ruminant productivity is nematode infection. It’s cause a decrease in feed intake, weight gain, milk production, disease, death, and expensive medical expenses The control of gastrointestinal nematode infections in livestock, over the past decades is primarily based on the preventive or curative use of chemotherapeutics and generally uses broad-spectrum anthelmintic such as benzimidazole, probenzimidazole, imidazothiazole, macrolide and ivermectin. The widespread use of several antelmintic groups now causes an increase in the incidence of gastrointestinal nematodes resistance against anthelmintics. Anthelmintics derived from various types of plants are expected to replace the benzimidazole so that it can reduce the level of resistance of the gastrointestinal nematodes in ruminants. However, for the future there is still a lot of research needed to further improve the ability of natural medicinal drugs to cope with gastrointestinal nematode infections in ruminants. Keywords : benzimidazole, nematode,resistance, ruminants
Co-Authors Afif Muhammad Akhrom Afif Muhammad Akrom Afif Muhammad Akrom Agistanya Andimi Agung Budiyanto Agustina Dwi Wijayanti Agustina Dwi Wijayanti Ahmad Syahrul Fauzi Ahmadi, Maulidina Akrom, Afif Muhammad Albert Jackson Yang Alek Arisona Alfarisa - Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi, Alfarisa Alva Edy Tontowi Ambar Pertiwiningrum Andarini, Zahrah Prawita Andriani Dwi Hapsari Anggi Novita Sari Argamjav, Bayanzul Arisona, Alek Aurora, Clara Inneke Catur Sugiyanto Claude Mona Airin Dalimunthe, Naela Wanda Yusria Daniswari, Priyanka Primananda Darmanta, Rai Jaine Datrianto, Dwi S. Dewandaru, Risang Aji Dhasia - Ramandani Dhasia Ramandani Dhasia Ramandani, Dhasia Dionisius M. . Dwi Priyowidodo Enikarmila Asni Erif Maha Nugraha Setyawan Fangidae, Petra Yudha Fatona, Desnita Rizka Fika Yuliza Purba Gerson Yohanes Imanuel Sakan Gunawan, I Wayan Nico Fajar Guntari Titik Mulayni Guntari Titik Mulyani H Wuryastuty, H Haribowo, Nurman Harjono, Habib Prasetyo Hary Purnamaningsih Hary Purnamaningsih Hary Purnamaningsih, Hary Purnamaningsih Hastari Wuryastuti Hastari Wuryastuty Hastari Wuryastuty Hayati, Rusmi Hina, Carlo Yunior Ray Hizriah Alief Jainudin I Sakan, Gerson Yohanes Ida Tjahajati Imron Rosyadi Irkham Widiyono Jeffi Chandra Ajiguna Joko Prastowo Julita Dewitri Merthayasa Jully Handoko Jumaryoto Jumaryoto Kaswardjono, Yanuartono Kurniasih , Kurniasih Kurniasih Kurniasih Kurniasih Kurniasih Laksono Trisnantoro Lily Gunawan Luh Putu Ratna Sundari Margaretha Arnita Wuri Margaretha Arnita Wuri Milla, Yunita Apriana Muhammad Ardiansyah Nurdin Muhammad Ihsan Andi Dagong Mulya Fitranda Nareswari, Anggitya Nor Wijaya, Rendra Novia Nur Aini Nugroho, Fatah Nur Alif Bahmid Nurcahyo, R Wisnu Nurman Haribowo Nurman Haribowo Nurman Haribowo Nurman Haribowo Nurrurozi, Alfarisa NURULIA HIDAYAH Okid Parama Astirin Paryuni, Alsi Dara Pengsakul, Theerakamol Permana, Rief Ghulam Satria Permana, Rief Ghulam Satriya Pertiwiningrum , Ambar PP Putro, PP Prabowo , Teguh Ari Prabowo Purwono Putro Prabowo, Teguh Ari Pramono, Agung Budi Priyo Sambodo Priyo, Topas Wicaksono Putu Devi Jayanti Puveanthan Nagappan Govendan R Wasito R. Wasito Ramadhani, Mungky Ema Ratna Nugraheni, Yudhi Refika Melina Putri Renny Fatmyah Utamy Retno Widyastuti, Retno Rian Maulana, Rian Rief Ghulam Satria Permana Rief Ghulam Satria Permana Rini Widayanti Rini Widayanti Risa Ummami Riza Priyatna Rose, Zita Xena Xaviera Rusmi Hayati Rusmihayati, Rusmihayati Santika, Luh Putu Nadya Sarmin Sarmin Setiawan, Dwi Cahyo Budi Simanjuntak, Arya Marganda Sitarina Widyarini Siti Helmyati Sitompul, Yeremia Yobelanno Slamet Rahardjo Slamet Rahardjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Soetiarso, Lilik Sri Hartati Sri Hartati Sriningsih, Agnes Pratamiutami Suandhika, Putu Subaedy Yusuf Sugiyono Sugiyono Sukma Maharani Suparni Setyowati Rahayu Susana, Yuli Susanti, Agatha Ria Suyanto Suyanto Teguh Ari Prabowo Teguh Ari Prabowo Teguh Ari Prabowo Tri Untari Trini Susmiati Wicaksana, Pamungkas Aji Winarsih, Sugi Wisnu Nurcahyo Wuri , Margaretha Arnita Wuri, Margaretha Arnita Yanuartono Yanuartono yanuartono - - yanuartono - yanuartono yanuartono - yanuartono Yanuartono . Yanuartono . Yanuartono Kaswardjono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono, Yanuartono yanuartono, yanuartono - Yunitasari, Maria Yuriadi Yuriadi, Yuriadi Zahrah Prawita Andarini