Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Selenium dan Vitamin E pada Ruminansia: ulasan singkat: The Role of Selenium and Vitamin E in Ruminants: A Brief Review Yanuartono; Indarjulianto, Soedarmanto; Paryuni, Alsi Dara
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 27 No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jiiip.v27i1.31614

Abstract

Background: Selenium (Se) is an element commonly found in nature. Selenium is found in the soil and is absorbed by plants at different levels depending on plant species, fertilizer use, and rainfall, while vitamin E is abundant in legume plants and fresh grass. Selenium and vitamin E are essential elements for ruminants and are needed for average growth and help prevent other health problems. The roles of these two elements are closely related because they can protect cells from the detrimental effects of oxidation, even though they have different mechanisms. Deficiency of one or both elements can cause white muscle disease, retained placenta, metritis, decreased immune function, and mastitis. However, research and field studies also show that Se and vitamin E can cause poisoning in ruminants. Reviews : This article will briefly review the impact of Se Vitamin E deficiency and toxicity on ruminants.
Infestasi Ektoparasit pada Pasien Kucing yang Memiliki Masalah Kulit di Klinik Hewan Lilipoet Yogyakarta Gunawan, Lily; Indarjulianto, Soedarmanto; Yanuartono, Yanuartono; Nurcahyo, R Wisnu; Prastowo, Joko
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.75941

Abstract

Ektoparasit merupakan problem yang sering diderita kucing, termasuk di Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infestasi ektoparasit pada kucing dan jenisnya di wilayah Klinik Hewan Lilipoet Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan menggunakan 173 pasien kucing penderita dermatitis. Data yang diambil adalah umur, jenis kelamin dan diagnosis berdasarkan pemeriksaan kulit. Sampel ektoparasit diambil dari kucing dengan metode combing. Ektoparasit diidentifikasi secara mikroskopik dari sampel kulit. Hasil penelitian menunjukkan 120 dari 173 (69,3%) kucing yang diperiksa ditemukan ektoparasit. Spesies ektoparasit tersebut terdiri dari: Otodectes cynotis (30%), Ctenocephalides felis felis (25,8%), Notoedres cati (25%), Lynxacarus radovskyi (15,8%), Felicola subrostratus (2,5%), dan Rhipicephalus sanguineus (0,8%). Sebanyak 16 dari 120 (13,3%) pasien kucing menderita infestasi beberapa ektoparasit. Jumlah ektoparasit yang ditemukan pada kucing umur 1-12 bulan sebanyak 86/120 (71,6%), umur12-24 bulan sebanyak 13/120 (10,8%), dan pada umur lebih dari 24 bulan sebanyak 21/120 (17,5%). Ektoparasit ditemukan pada kucing jantan sebanyak 69/120(57,5%) dan pada betina 51/120 (42,5%). Disimpulkan bahwa prevalensi infestasi ektoparasit pada kucing penderita dermatitis di klinik Lilipoet Yogyakarta adalah 69,3%. Infestasi ektoparasit banyak ditemukan pada kucing berumur dibawah 1 tahun dan lebih sering ditemukan pada kucing jantan daripada betina.
Efektivitas Albendazole terhadap Nematodiasis pada Sapi Perah di Peternakan Sapi Perah Rakyat Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan Arisona, Alek; Prastowo, Joko; Priyowidodo, Dwi; Yanuartono, Yanuartono; Indarjulianto, Soedarmanto
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.79447

Abstract

Nematodiasis adalah penyakit yang disebabkan cacing nematoda yang dapat diderita sapi perah segala usia. Penyakit ini mempunyai gejala klinis antara lain kurus, rambut kusam berdiri dan diare. Albendazole merupakan obat cacing berspektrum luas yang sering digunakan oleh peternak karena mudah didapat. Tujuan penelitian ini adalah menentukan prevalensi, gejala klinis dan efektifitas albendazole terhadap nematodiasis pada sapi perah di peternakan sapi perah rakyat Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan. Penelitian ini menggunakan 50 ekor sapi perah yang tidak bunting. Semua sapi diperiksa secara fisik meliputi kondisi umum sapi dan feses. Sampel feses diambil dan diperiksa adanya telur cacing dengan metode nativ, apung dan Mc Master. Sapi penderita nematodiasis selanjutnya diterapi albendazole dengan dosis 10 mg/kg BB satu kali pemberian secara per oral. Perkembangan hasil terapi diamati dengan cara dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan sampel feses pada hari ke 3, 7 dan 14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi nematodiasis sapi perah sebesar 30%. Sapi penderita nematodiasis menunjukkan feses lembek, adanya telur nematoda pada fesesnya. Telur cacing yang ditemukan adalah kelompok telur Strongyle, Toxocara sp, dan Trichuris sp. Efektivitas albendazole terhadap nematodiasis pada sapi perah masih tinggi yakni >97,87%. Disimpulkan bahwa albendazole mempunyai efektifitas yang tinggi untuk mengobati nematodiasis.
Diagnosis of Feline Panleukopenia Based on Clinical Signs and Polymerase Chain Reaction in Various Ages of Cats Ramadhani, Mungky Ema; Indarjulianto, Soedarmanto; Yanuartono, Yanuartono; Raharjo, Slamet; Purnamaningsih, Hary; Widyarini, Sitarina; Milla, Yunita Apriana
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.79590

Abstract

Feline panleukopenia (FPL) is a viral infectious disease caused by the feline panleukopenia virus (FPV) that affects cats of all ages. Clinical symptoms that appear in each individual cat vary greatly, depending on age, immune status, and the presence or absence of secondary infection. The aim of this research was to diagnose the FPL based on clinical signs and polymerase chain reaction (PCR) in cat with various ages. This study used 15 cats that showed one of clinical symptoms including lethargy, anorexia, fever, diarrhea, and vomiting. All cats were examined physically and by PCR of blood, then analyzed descriptively. The results showed that 10/15 (66.7%) cats were <7 months, 4/15 (26.7%) were 7-12 months, and 1/15 (6.6%) was >1 year old. Identification by PCR showed that 100% of the samples positive, so that all of cats diagnosed FPL. Clinical signs that commonly appeared in this study included anorexia (80%), fever (80%), vomiting (73.3%), lethargy (66.7%), and diarrhea (40%). Young cats <7 months commonly showed anorexia, fever, vomiting, and lethargy, cats aged 7-12 months commonly showed anorexia, fever, vomiting, and diarrhea, cat aged >12 months experienced anorexia and vomiting. Concluded that the predominant clinical symptoms of FPL in young cats were anorexia, fever, vomiting and lethargy, whereas in adult cats anorexia, fever, vomiting, and diarrhea. Clinical symptoms can be used for initial screening of FPL, but the causative diagnosis needs to be determined by polymerase chain reaction.
Dampak Terapi Antibiotika Mastitis Periode Kering pada Sapi Perah Yanuartono, Yanuartono -; Indarjulianto, Soedarmanto -; Paryuni, Alsi Dara
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.84752

Abstract

AbstrakPeriode kering pada sapi perah didefinisikan sebagai masa istirahat non laktasi sebelum melahirkan dengan tujuan utama meningkatkan produksi susu pada periode laktasi berikutnya. Saat ini secara umum antibiotika juga digunakan untuk terapi maupun pencegahan mastitis saat periode kering. Mastitis adalah salah satu penyakit menular yang paling penting pada sapi perah di seluruh dunia, bertanggung jawab atas kerugian ekonomi yang besar dan dampak negatif pada kesejahteraan sapi maupun manusia disebabkan oleh penurunan produksi susu. Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan produksi susu pada laktasi berikutnya adalah periode kering yang berkisar antara 40-60 hari sebelum melahirkan. Guna menghindari kejadian mastitis saat periode kering maka saat ini banyak digunakan antibiotika saat memasuki periode kering atau akhir periode kering. Saat ini, sebagian besar dari antibiotika yang digunakan dalam industri susu diterapkan untuk mengendalikan mastitis pada sapi perah periode kering. Banyak Negara menerapkan system pemberian antibiotika pada semua kwartir saat periode kering. Namun demikian penggunaan antibiotika tersebut meningkatkan kekhawatiran munculnya resistensi antibiotika. Tulisan ini akan mencoba mengulas secara sederhana dampak penggunaan antibiotika saat periode kering pada sapi perah.Kata kunci : mastitis; periode kering; antibiotika; resistensi
Umur dan Jenis Kelamin Kucing Penderita Feline Panleukopenia Indarjulianto, Soedarmanto; Daniswari, Priyanka Primananda; Nugroho, Fatah; Airin, Claude Mona; Yanuartono, Yanuartono; Paryuni, Alsi Dara
VITEK : Bidang Kedokteran Hewan Vol. 15 No. 2 (2025): VITEK-Bidang Kedokteran Hewan
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/d8h5j449

Abstract

Feline Panleukopenia (FP) is an infectious disease caused by a virus that still often attacks cats of all ages and sex. This study aims to study the age and sex of cats suffering from feline panleukopnia. This study used 16 cats of all ages and sex that showed clinical signs of FP. All cats were examined clinically and blood samples were checked for total leukocytes. The results showed that all cats had leukopenia, so they were diagnosed with FP. The cats suffering from FP consisted of 3/16 cats (18.75%) < 7 months old, 9/16 cats (56.25%) 7-12 months old and 4/16 cats (25%) >12 months old. Based on sex, cats consist of 10/16 males (62.5%) and 6/16 females (37.5%). Based on this research, it was concluded that feline panleukopenia is more common in cats aged ≤12 months and male cats.
Pengaruh Pemberian Pakan Formulasi terhadap Pertambahan Panjang Badan Anakan Burung Lovebird (Agapornis fischeri) Umur 15-60 Hari Rose, Zita Xena Xaviera; Yanuartono, Yanuartono; Indarjulianto, Soedarmanto; Widyarini, Sitarina; Permana, Rief Ghulam Satriya
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.93532

Abstract

Lovebirds (LB) are widely kept and bred as pets. The development of health and disease in chicks is the main problem faced by lovebird keepers, mainly because there is no special feed and feeding equipment for LBs. This research aims to study the development of body length increase in lovebird chicks fed formulated feed from the age of 15-60 days using a modified Handfeeding tool. This study used formulated feed and 30 clinically healthy 15-day-old LB calves. A total of 2 feed formulations were made using commercial chicken feed ingredients plus milk and rice. LB chicks were divided into three groups, ten birds each, consisting of group I, the formula I feed; group II, given formula II feed; and group III (control), given commercial bird feed. Lovebirds chicks are reared and fed by hand feeding from 15 to 60 days old and checked for body length development. The results of body length development between groups were analyzed descriptively. The average results of measuring the body length of lovebird chicks fed formula 1 were 5.64 cm at the age of 15 days to 9.58 cm at the age of 60 days, while formula 2 was 5.78 cm at the age of 15 days to 10.83 cm at the age of 60 days, and conventional feed is 5.79 cm at the age of 15 days to 12.45 cm at the age of 60 days. It was concluded that formulated feed provided less additional body for love bird chicks than commercial feed.Lovebird; Formulated bird feed
Pemberian 10% Gel Putih Telur Ayam Ras Efektif sebagai Obat Penyembuh Alternatif Luka Operasi (Spaying) pada Kucing Darmanta, Rai Jaine; Indarjulianto, Sedarmanto; Wijayanti, Agustina Dwi
Jurnal Veteriner Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Sterilisasi pada hewan salah satunya dilakukan dengan prosedur bedah guna mencegah hewan bereproduksi dengan mengangkat organ reproduksi seperti indung telur (ovarium) dan/atau rahim (uterus) dan dikenal sebagai spaying. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas gel putih telur ayam ras dengan konsentrasi 10% dan 20% dalam mempercepat proses penyembuhan luka operasi spaying pada kucing. Metode penelitian menggunakan uji eksperimental dengan  membagi kucing-kucing ke dalam empat kelompok perlakuan.  Ada pun perlakuan yang diberikan adalah: 1) kelompok perlakuan  yang diberikan gel putih telur 10%; 2) kelompok perlakuan yang diberikan gel putih telur 20%; 3) kelompok perlakuan yang diberikan gel pembawa;  dan 4) kelompok kontrol positif yang diberikan antiseptik povidone iodine secara topikal pada sayatan luka operasi spaying.  Kucing percobaan adalah kucing betina sehat dengan riwayat vaksinasi lengkap, berumur di bawah lima tahun dengan bobot badan 2-5 kg.  Sebelum dioperasi spaying kucing dipuasakan selama4-6 jam dan selama operasi bedah berjalan kucing diinfus dengan NaCl.  Obat bius yang digunakan adalah kombinasi Xylazine dan Ketamine dan operasi bedah mengikuti prosedur yang dikembangkan oleh World Small Animal Veterinary Association (WSAVA).  Metode operasi pembedahan spaying yang diterapkan adalah Ventral midline laparotomy. Parameter yang diukur meliputi waktu penyembuhan luka dan sifat fisik gel.  Data panjang luka operasi dihitung rata-ratanya serta dilakukan analisis statistika regresi linier mengaitkan antara waktu pengamatan dengan panjang luka.  Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan SPSS dan didukung menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan bahwa gel putih telur dengan konsentrasi 10% lebih efektif dalam mempercepat penyembuhan luka dibandingkan dengan konsentrasi 20% dan kelompok lain. Gel putih telur 10% juga memiliki karakteristik fisik yang mendukung keterpaduan dan adhesivitas pada permukaan luka. Simpulannya, gel putih telur ayam ras 10% dapat dijadikan alternatif pengobatan luka operasi dengan hasil yang optimal.
Co-Authors Afif Muhammad Akhrom Afif Muhammad Akrom Afif Muhammad Akrom Agistanya Andimi Agung Budiyanto Agustina Dwi Wijayanti Agustina Dwi Wijayanti Ahmad Syahrul Fauzi Ahmadi, Maulidina Akrom, Afif Muhammad Albert Jackson Yang Alek Arisona Alfarisa - Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi Alfarisa Nururrozi, Alfarisa Alva Edy Tontowi Ambar Pertiwiningrum Andarini, Zahrah Prawita Andriani Dwi Hapsari Anggi Novita Sari Argamjav, Bayanzul Arisona, Alek Aurora, Clara Inneke Catur Sugiyanto Claude Mona Airin Dalimunthe, Naela Wanda Yusria Daniswari, Priyanka Primananda Darmanta, Rai Jaine Datrianto, Dwi S. Dewandaru, Risang Aji Dhasia - Ramandani Dhasia Ramandani Dhasia Ramandani, Dhasia Dionisius M. . Dwi Priyowidodo Enikarmila Asni Erif Maha Nugraha Setyawan Fangidae, Petra Yudha Fatona, Desnita Rizka Fika Yuliza Purba Gerson Yohanes Imanuel Sakan Gunawan, I Wayan Nico Fajar Guntari Titik Mulayni Guntari Titik Mulyani H Wuryastuty, H Haribowo, Nurman Harjono, Habib Prasetyo Hary Purnamaningsih Hary Purnamaningsih Hary Purnamaningsih, Hary Purnamaningsih Hastari Wuryastuti Hastari Wuryastuty Hastari Wuryastuty Hayati, Rusmi Hina, Carlo Yunior Ray Hizriah Alief Jainudin I Sakan, Gerson Yohanes Ida Tjahajati Imron Rosyadi Irkham Widiyono Jeffi Chandra Ajiguna Joko Prastowo Julita Dewitri Merthayasa Jully Handoko Jumaryoto Jumaryoto Kaswardjono, Yanuartono Kurniasih , Kurniasih Kurniasih Kurniasih Kurniasih Kurniasih Laksono Trisnantoro Lily Gunawan Luh Putu Ratna Sundari Margaretha Arnita Wuri Margaretha Arnita Wuri Milla, Yunita Apriana Muhammad Ardiansyah Nurdin Muhammad Ihsan Andi Dagong Mulya Fitranda Nareswari, Anggitya Nor Wijaya, Rendra Novia Nur Aini Nugroho, Fatah Nur Alif Bahmid Nurcahyo, R Wisnu Nurman Haribowo Nurman Haribowo Nurman Haribowo Nurman Haribowo Nurrurozi, Alfarisa NURULIA HIDAYAH Okid Parama Astirin Paryuni, Alsi Dara Pengsakul, Theerakamol Permana, Rief Ghulam Satria Permana, Rief Ghulam Satriya Pertiwiningrum , Ambar PP Putro, PP Prabowo , Teguh Ari Prabowo Purwono Putro Prabowo, Teguh Ari Pramono, Agung Budi Priyo Sambodo Priyo, Topas Wicaksono Putu Devi Jayanti Puveanthan Nagappan Govendan R Wasito R. Wasito Ramadhani, Mungky Ema Ratna Nugraheni, Yudhi Refika Melina Putri Renny Fatmyah Utamy Retno Widyastuti, Retno Rian Maulana, Rian Rief Ghulam Satria Permana Rief Ghulam Satria Permana Rini Widayanti Rini Widayanti Risa Ummami Riza Priyatna Rose, Zita Xena Xaviera Rusmi Hayati Rusmihayati, Rusmihayati Santika, Luh Putu Nadya Sarmin Sarmin Setiawan, Dwi Cahyo Budi Simanjuntak, Arya Marganda Sitarina Widyarini Siti Helmyati Sitompul, Yeremia Yobelanno Slamet Rahardjo Slamet Rahardjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Slamet Raharjo Soetiarso, Lilik Sri Hartati Sri Hartati Sriningsih, Agnes Pratamiutami Suandhika, Putu Subaedy Yusuf Sugiyono Sugiyono Sukma Maharani Suparni Setyowati Rahayu Susana, Yuli Susanti, Agatha Ria Suyanto Suyanto Teguh Ari Prabowo Teguh Ari Prabowo Teguh Ari Prabowo Tri Untari Trini Susmiati Wicaksana, Pamungkas Aji Winarsih, Sugi Wisnu Nurcahyo Wuri , Margaretha Arnita Wuri, Margaretha Arnita Yanuartono Yanuartono yanuartono - - yanuartono - yanuartono yanuartono - yanuartono Yanuartono . Yanuartono . Yanuartono Kaswardjono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono Yanuartono, Yanuartono yanuartono, yanuartono - Yunitasari, Maria Yuriadi Yuriadi, Yuriadi Zahrah Prawita Andarini