Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Panggung

Laras dan Rumpaka dalam Garap Karawitan Jaipongan Jugala Ismet Ruchimat; R.M. Soedarsono -; Timbul Haryono; Tati Narawati
PANGGUNG Vol 23 No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i4.155

Abstract

ABSTRACT   This paper analyzes characteristic and musical identity of garap karawitan Jaipongan which is focused on the identity of laras and rumpaka. The identity of karawitan Jaipongan is a genre of today’s Sundanese karawitan which developes without any acculturation influence. Most verbal form of rumpaka on garap karawitan Jaipongan Jugala represents a dialogue or text that requires comprehension of the content. The characteristic of laras and rumpaka which are verbal and musical in garap karawitan Jaipongan show a multidimensional artistic expression. Keywords: characteristic, laras, rumpaka, Jaipongan, and jugala    ABSTRAK Tulisan ini menguraikan ciri-ciri atau identitas musikal garap karawitan Jaipongan Ju- gala yang dititikberatkan pada identitas laras dan rumpaka. Identitas karawitan Jaipongan merupakan suatu genre karawitan Sunda kiwari yang berkembang tanpa pengaruh besar akulturasi. Bentuk verbal rumpaka pada garap karawitan Jaipongan Jugala sebagian besar merepresentasikan suatu pembicaraan atau teks yang menuntut pemahaman isi. Karakter- istik laras dan rumpaka yang bersifat verbal dan musikal dalam garap karawitan Jaipongan menunjukkan ekspresi artistik yang multidimensional. Kata kunci: karakteristik, laras, rumpaka, Jaipongan, dan jugala  
Tari Rampoe Sebagai Cerminan Karakteristik Masyarakat Aceh Rika Restela; Tati Narawati
PANGGUNG Vol 27 No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i2.260

Abstract

ABSTRAKArtikel ini adalah kajian Etnokoreologi yang dipadudengansosiologidan folkloreyang digunakanuntukmenganalisistariRampoeyang merupakan tariankolektif dari lima tarian Aceh, yaitu Seudati, Pho, Laweut, Ratoh Duek dan Saman. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan karakteristik masyarakat Aceh serta keterkaitannyaantara struktur pemerintahan adat dankepemimpinan dalam tari, serta keterkaitan antara pola tatanan masyarakat danesensi syair maupun gerak tari Rampoe. Untuk itudibutuhkan analisis yang tajam terhadap teks dan konteks pada tarinya.Penelitiankualitatifini, membuktikan hasil, bahwa: (1) bentuk kepemimpinan tari diadopsi dari pemerintahan adat, (2) sifat masyarakat Aceh yang tegas, memilikihargadiri yang tinggi, kompak, setia kawan, menjunjung nilai-nilai persaudaraan, dan pantang menyerah, tercermin dalam esensi gerak dan syair pada tari Rampoe.Kata kunci: Tari Rampoe, Etnokoreologi, karakteristik masyarakat AcehABSTRACT This article is a study of ethnochoreology wich combined with sociology and folklore, and used to analyze ‘Rampoe’ dance that consists of five Aceh dances such as namely ‘Suedati, Pho,Laweut, RatohDuek and Saman’. The objective of this study is to reveal the characteristics of the Acehnese and its associations between traditional governance structure (sultan, ulama,ulleebalang), andleadership in the dance (syekh, aneuksyahi, apiet), as well as the relation pattern of social order with the essence of poetry and movements of ‘Rampoe’ dance. So it needs a sharp analysis of the text and the contexts of dance. Theresult of thequalitative research that related to the essence of movement and poetry, are: (1) The form of leadership in the dance adopted from traditional administration:, (2) The nature of Acehnese attitudesarefirm, having high self concept, compact, loyal, uphold the brotherhood values, and never give up.Keywords: ‘Rampoe’ dance, Etnochoreology, Acehnese characteristics. 
Reog Bulkiyo Dance Learning to Increase Student Patriotism Values in Madrasah Tsanawiyah Sunan Ampel Doko Blitar Regency Ayu Ridho Saraswati; Tati Narawati
PANGGUNG Vol 27 No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.274

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Kesundaanyaitucageur, bageur, bener, pinter, singer yang telah luput dari kehidupan siswa. Terkikisnya nilai-nilai budaya lokal menimbulkan permasalahan, yaitu degradasi karakter yang dipengaruhi oleh lemahnya etika dan estetika.Penelitian ini terdiri atas dua tahapan, yaitu mengkaji tari dengan menggunakan Teori Etnokoreologi yang dibantu dengan pendekatan Etnopedagogik dan Folklor, serta implementasi pembelajaran dengan menggunakan Teori Lickona dan Gardner. Hasil kajian tari memperoleh nilai-nilai yang berkenaan dengan nilai cageur, bageur, bener, pinter, tur singer yang kemudian diimplementasikan melalui sebuah pembelajaran tari etnis yaitu Tari Pakujajar dengan menggunakan model pembelajaran sinektik.Penelitian ini menggunakan metode penelitian Action Research dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan proses yang telah dilakukan, terjadi peningkatan yang signifikan yang dibuktikan dengan meningkatnya daya imajinasi serta pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan sikap siswa yang peduli serta saling menghormati baik pada guru maupun antar sesamanya. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan model pembelajaran tari etnis.Kata Kunci :Nilai-nilai Kesundaan, Tari Pakujajar, Implementasi Pembelajaran Tari ABSTRACTThis research aims to inculcate the Kesundaan’s values that is cageur, bageur, bener, pinter,singer that have been disappeased from life of students. The erosion of local cultural values creates problems, as well as character degradation that influenced by the weakness of ethics and aesthetics. This research consist of two steps, that is review the dance by using Etnochooreology Theory with Etnopedagogy approach and Folklore, while the implementation of dance learning using Lickona and Gardner Theory. The results of dance studies obtain the values contained inside it, with pertains to cageur, bageur, bener, pinter, tur singer and these values are implemented through an ethnic dance learning that is Pakujajar Dance by using sinektik learning model. This research uses Action Research method with qualitative approach. Based on the process that have been done, there is a significant increase that is shown by the increasing the imagination power and understanding of studentsto the subject matter, and student’s attitudes who care and mutual respect both of teachers and each other. Thus, this research produces the ethnic dance learning model.Keyword : Kesundaan’s Values, Pakujajar Dance, Implementation of Dance Learning
Ideologi Sosial Dalam Kesenian Tradisional Angklung Sered: Dari Alat Perjuangan Hingga Sebagai Sarana Hiburan Masyarakat Agus Ahmad Wakih; Juju Masunah; Tati Narawati; Cece Rakhmat
PANGGUNG Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i2.2586

Abstract

ABSTRACT For 350 years, Indonesia was under the rule of foreign countries before gaining independence in 1945. This colonization had a significant impact on the social, cultural, economic, and political aspects of Indonesian society. The people expressed their resistance through traditional performing arts, such as angklung sered in Balandongan, Tasikmalaya, West Java. This art form served as a tool of struggle against the colonizers. The objective of this research is to discover the values of social ideology embedded in angklung sered within the community of Balandongan. The research methodology employed semiotic analysis, focusing on the text and context of the angklung sered performances. Text analysis emphasizes the musical instrument used in the performance, while contextual analysis examines the artistic function of angklung sered before and after independence. The research data was obtained through interviews and documentary studies. The findings reveal that angklung sered served as a symbol of resistance before independence, while after independence, the emphasis shifted towards the aesthetics of the performance. Angklung sered also became a social ideology for the community, reflected in its meanings and symbols, serving as the foundation of their beliefs in everyday life. Keywords: Social Ideology, Culture, Traditional Art, Angklung Sered, Traditional Performing Arts ABSTRAK Selama 350 tahun, Indonesia dikuasai oleh negara-negara asing sebelum merdeka pada tahun 1945. Penjajahan ini berdampak besar pada sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia. Masyarakat menunjukkan perlawanan melalui seni pertunjukan tradisional seperti angklung sered di Balandongan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Seni ini dijadikan sebagai alat perjuangan melawan penjajah. Penelitian ini bertujuan menemukan nilai-nilai ideologi sosial masyarakat dalam angklung sered di Balandongan. Metode penelitian menggunakan analisis semiotika, fokus pada teks dan konteks pertunjukan angklung sered. Analisis teks berfokus pada alat musik angklung yang digunakan, sedangkan analisis konteks memeriksa fungsi kesenian ini sebelum dan setelah kemerdekaan. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan angklung sered sebelum kemerdekaan menjadi simbol perjuangan, sementara setelahnya lebih menekankan estetika pertunjukan. Angklung sered juga menjadi ideologi sosial masyarakat, tercermin dalam makna dan simbolnya yang menjadi dasar keyakinan dalam kehidupan sehari-hari. Kata kunci: Ideologi Sosial, Budaya, Kesenian Tradisional, Angklung Sered, Seni Pertunjukan Tradisional
Co-Authors abdul ajis jatnika Ace Iwan Suryawan Ace Iwan Suryawan Ace Iwan Suryawan, Ace Iwan Agus Ahmad Wakih Agus Budiman Agus Budiman Agus Dian Agus Supriatna Ali, Qifthi Amalia ramadhani Annastasya Nur Intandiani Ayo Sunaryo Ayu Ridho Saraswati Ayu Ridho Saraswati, Ayu Ridho Ayu Vinlandari Wahyudi Beben Barnas, Beben Cantika, Anindyajati Cepi Riyana, Cepi Dedi Rosala Dinda Damayanti Sudrajat Dinda Satya Upaja Budi Fallen, Aryuda Fakhleri Fifiet Dwi Tresna Santana Fifiet Dwi Tresna Santana, Fifiet Dwi Tresna Fitri Kurniati Hapidzin, Rivaldi Indra Hardina, Meisi Hayani Wulandari Hayani Wulandari, Hayani heni julia adila Intandiani, Annastasya Nur Ismet Ruchimat Ismet Ruchimat, Ismet Juju Masunah Juju Musunah Juniawan, Devita Kemala Dwina Putri Khori Nurfaida Agniawan Kokom Komalasari Lalan Erlani Mariah, Yoyoh Siti Maryani, Dian Maulana, Marsel Ridky Metha Liantina Eka Putri mira Agianti mira agniati Mubiar Agustin Muqri, Al Musunah, Juju Mutiara Difa Fauziyah Noviyanti Maulani Nugraheni, Trianti Nurfalah, Asep Rizwan Nurjatisari, Trimulyani Nurkhadijah, Annisa Nurulloh Ramdani oriza sathyfa pertama Peppy Irmaniar Rahman Puri, Tia Destiana Putri Lilis Dyani Putri Lilis Dyani Putri, Aisyah Rahma Putri, Febrianti Ersa Qifthi Ali R. M. Soedarsono R.M. Soedarsono - R.M. Soedarsono -, R.M. Soedarsono Rahayu, Sesi Febi Rahmawati, Uci Rakhmat, Cece Ramadhan, Alvin Pratama Ria Sabaria Riana Rosa Prastika Ridwan Simon Ridwan, Ridwan Rika Restela Rika Restela, Rika Rivaldi Indra Hapidzin Riyadi, Lanang Rizqi Maulana Rosi Rosmawati Saian Badaruddin Satya, Royys Bagja Rizky Sembiring, Piter Slamet, Deni Sofyan, Agung Muhamad Srilestari, Widia Sunaryo, Ayo Suwandi, Miranto Taram Abdul Roji Taryana, Tatang Timbul Haryono Timbul Haryono Tresnadi, Soni Tri Karyono Tri Reda Julianti Anugrah Trianti Nugraheni uus karwati Wakih, Agus Ahmad Widi Eka Yulita Widia Srilestari Yudi Sukmayadi Zaenal Alimin