Claim Missing Document
Check
Articles

Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM” Saskia Elvira; Djoko Setiabudi; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.494 KB)

Abstract

JUDUL : Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”NAMA : Saskia ElviraNIM : D2C607046ABSTRAKSIPersaingan radio yang semakin ketat membuat industri media penyiaran perlumencari tahu dan memahami apa yang disukai oleh para pendengar agar tetap dapatmenarik perhatian pendengar. Pemasaran mampu memberikan dampak besar untukkelancaran merebut perhatian pendengar. Dalam menciptakan strategi yang tepatpengelola radio perlu menyajikan hal-hal baru yang seru agar tetap disukai dandidengarkan oleh audience, salah satu caranya adalah dengan memperhatikan danmemahami perilaku pendengar mereka, apa yang mereka sukai dan minati. RadioSSFM adalah radio anak muda yang inspiring, dynamic, dan entertaining. Denganbasic itulah Radio SSFM melakukan visi misinya. Menjadi radio yang menginspirasianak muda, menjadi radio yang dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembanganjaman, serta radio yang syarat akan hiburan.Tujuan dari kampanye PR “Assik Ala SSFM” ini adalah memperkenalkanRadio SSFM sebagai radio anak muda di Semarang dan meningkatkan awarenessanak muda di Semarang terhadap Radio SSFM melalui event roadshow yangdiselenggarakan di 3 Sekolah Menengah Atas dan sederajat di Semarang dengan caramengedukasi target audiens bagaimana berkendara dengan baik dan benar (SafetyRiding). Mengacu pada analisis khalayak yang dituju, target audiens diberikanpengalaman secara langsung untuk berpartisipasi didalam program acara melaluipermainan-permainan dan informasi mengenai Radio SSFM.Persiapan event dimulai dengan riset, konsep acara, penyusunan anggaran,pencarian sponsor, penentuan vendor untuk produksi acara, pembagian kerja untukanggota, dan perijinan tempat.Event dilaksanakan dengan mengambil jam pelajaran sekolah, dengan programdidalamnya berupa edukasi dalam ruangan mengenai safety riding dari pihak AstraHonda Semarang didalam aula sekolah masing-masing, selanjutnya praktek safetyriding dan 3 permainan mengenai safety riding dengan konten berisi informasimengenai Radio SSFM. Tidak lupa juga hiburan berupa pertunjukan music dari siswasekolah itu sendiri dan hadiah-hadiah yang menarik. Para penyiar dari Radio SSFMdiperkenalkan dalam event ini agar dapat secara langsung berinteraksi denganaudiens, mascot radio, informasi program radio, frekuensi radio, dan semua informasimengenai radio SSFM.Kata kunci : Kampanye Humas, Radio SSFM2TITLE : PR Campaign SSFM Radio “Assik Ala SSFM”NAME : Saskia ElviraNIM : D2C607046ABSTRACTRadio industry is getting more competitive, it makes them need to know andneed to understand what the listener want so they can attract the listener attention.Marketing can give a big impact to grab it. In creating the right strategy, RadioManagement needs to serve 'fresh' things. They need to understand listener behaviourtoo. SSFM Radio is youth inspiring, dynamic, and entertaining radio.PR Campaign "Assik ala SSFM" goal is to introducing SSFM Radio as one ofyouth Radio in Semarang and increasing their awareness about SSFM Radio withroadshow event that held on three high school to educating the Safety Riding. Refer totarget audience analysis, they directly given experience to participate in the programthrough games and information about SSFM Radio.Event preparation start from research, concept, budgeting, sponsorship,production, job positioning and place pemit.Event took a school hours with many programs like safety riding education inthe class from Astra Honda Semarang, then safety Riding practice and three gamesabout safety riding include SSFM Radio information and also entertainment fromschool students. many cool marchendise given for student who join the games. MCintroducing the mascot, program radio information, radio frequency and in the middleof the show, the radio announcers introduce by the MC to make a direct interactionwith audienceKey word : Public Relations, Campaign, SSFM Radio3Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”Jurnal Laporan Program DirectorPenyusunNama : Saskia ElviraNIM : D2C607046JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO20134PENDAHULUANSaat ini Radio terbilang sebagai salah satu media yang unggul dalampenyampaian informasi selain itu radio juga menjadi media hiburan bagi pendengarbaik dimana pun dan kapan pun berada. Menurut Asep Syamsul M. Romli dalambukunya Broadcast Jurnalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, dan Scripwritemenjelaskan beberapa karakteristik radio yang menjadi keunggulan dari media laindiantaranya adalah radio sebagai media yang menggunakan suara, melalui musik,efek suara, dan kata-kata, radio dapat membuat pendengar berimajinasi atau disebutjuga dengan “Theatre of Mind” yaitu membuat gambar dibenak pendengar. Radiomerupakan media tercepat lebih cepat dari Koran ataupun TV, hal ini dikarenakanradio tidak membutuhkan proses yang rumit seperti produksi, percetakan, ataupunsiaran TV. Pendengar radio juga dapat merasakan kedekatan secara personal denganpenyiarnya, rasa hangat dan akrab dengan lagu-lagu yang diputarkan dan obrolan atauinformasi yang dikomunikasikan oleh penyiar radio dapat mempengaruhi emosi bagipendengarnya. Radio mempunyai jangkauan yang luas dan media yang murahdibandingkan dengan media cetak atau media televisi, dan yang terakhir media radiobersifat fleksibel, pendengar dapat memperoleh informasi tanpa mengganggu aktivitaslainnya, dengan berkembangnya teknologi radio juga dapat mobile atau dibawakemana saja.Persaingan radio saat ini semakin ketat, sehingga pengelola media siaran harusbenar-benar memahami dan mengenali ekspektasi atau apa yang diinginkan parapendengar. Para pengelola radio harus berusaha melakukan berbagai perbaikan yangterus berkembang baik dari segi teknologi audio ataupun dari intonasi penyiar,persaingan yang semakin ketat akan menimbulkan suatu kompetisi untuk meraihsimpati dari para pendengar, oleh karena itu para pengelola radio mulai melancarkanberbagai cara untuk mendapatkan perhatian dari para pendengarnya terlebih dari sisipemasaran yang akan memberikan dampak bagi kelancaran merebut perhatianpendengar.Untuk menciptakan strategi yang tepat dalam membuat mengelola radio agartetap disukai dan didengarkan oleh audience adalah dengan memperhatikan danmemahami perilaku pendengar mereka. Perilaku pendengar dapat dapat didapatkandari ketertarikan mereka pada isi dalam radio tersebut, contohnya seperti programradio, penyiar radio, feature radio, dan lagu-lagu yang disajikan. Pada umumnyaperilaku pendengar yang memiliki kegemaran mendengarkan radio, akan lebih preferuntuk memilih radio dari kesukaannya pada kategori tersebut, mereka suka padaprogram radio yang ada didalamnya contohnya program cerita misteri, program musikindie, program masalah rumah tangga, dan lainnya.Dilihat dari segmentasi pendengar, kini konsep radio pun sudah beranekaragam. Dibantu oleh teknologi riset, memudahkan bagian program dalam radiotersebut menentukan pengambilan konsep utama apa yang akan dipakai. Beberapakonsep radio diantaranya ada radio keluarga, radio wanita, radio yang menonjolkansuatu genre musik, radio all segmen, radio anak muda, dll.Dalam konsep radio anak muda, di Semarang sendiri terdapat beberapa radiodiantaranya Prambors, trax, RCT, SSfm dan lainnya. Masing-masing dari radiotersebut mempunyai ciri khas yang masih berbeda, mulai dari pemilihan musik,5program acara di dalamnya, gaya berbicara penyiarnya, dan juga konten-konten didalamnya.Dibandingkan dengan radio dengan segmen anak muda lain, SSfm merupakanradio yang menyajikan lebih banyak lagu dibanding percakapan penyiarnya. Lagulaguyang diputar pun merupakan lagu-lagu yang sudah hits atau disebut hits player.Berbeda dengan radio anak muda lain yang disebutkan di atas, mereka memutarkanlagu yang belum hits, menjadi hits atau yang di sebut dengan hits maker.Selain dari perbedaan pemilihan lagu, SSfm memiliki cara yang berbeda darisegi penyampaian pesan melalui announcer. Announcer tidak diberi waktu yang lamauntuk berbicara, dengan batasan waktu satu menit. Sedangkan radio lain memberikanwaktu penyiar untuk lebih banyak berbicara.Apabila dilihat dari segi kultur yang ada di Semarang, SSfm merupakan radioyang localize, hal itu dibuktikan dari adanya aturan announcer dalam penyampaianpesan yang harus lokalitas. Contohnya penggunaan aku-kamu, sisipan bahasa jawadalam talkset, dan adanya program-program serta konten yang diberi nama daribahasa jawa.Strategi-strategi yang dilakukan oleh SSfm sebagai radio anak muda tidakberpaku dengan musik. Diantaranya beberapa program dan informasi yang disajikansesuai dengan hal yang sedang “hype” pada anak muda kota Semarang.Upaya-upaya di atas masih belum bisa membuat SSfm dikenal oleh masyarakatkhususnya anak muda dikarenakan SSfm masih dikenal sebagai “Suara Sakti” yangbersegmentasi usia dewasa dan “Suara Semarang” yang sama sekali tidak adahubungannya dengan radio SSFM, hal ini dibuktikan dari hasil wawancara yangdilakukan pada beberapa anak muda di Semarang secara acak. Di lain sisi juga hampirseluruh dari mereka mengartikan nama “SS” sebagai tempat makan “Spesial Sambal”.(Wawancara tersebut dilakukan pada kurang lebih 30 anak muda di Semarangsebelum pembuatan latar belakang)SSFM adalah sebuah brand yang baru walaupun sebenarnya radio ini sudahlama berdiri. Dulu SSfm bernama “Suara Sakti” dengan konsep konten-konten lagujazz, lalu berubah menjadi radio keluarga, radio untuk profesional muda, dankemudian barulah merubah namanya menjadi SSfm (tanpa singkatan) yangbersegmentasi anak muda, dengan range usia 15 – 34 tahun. Target audienceprimernya adalah usia 15 – 25 tahun, target bias sampai dengan 34 tahun.Target audience yang diutamakan adalah usia SMA, kuliah, dan professionalmuda. Dari sangat luasnya target audience yang dimiliki oleh SSfm, sangat sulit pulauntuk mengelola program sesuai dengan masing-masing karakteristik usia tersebut.Menurut hasil riset pada beberapa anak muda di Semarang dan melihat dariprogram-program off air yang sudah pernah dilakukan oleh SSFM sebelumnya,didapatkanlah kesimpulan bahwa anak muda di Semarang kebanyakan apatis padasesuatu yang tidak dekat dengan lingkungan sekitarnya, mereka tidak banyak pedulipada informasi diluar lingkungan pergaulannya atau diluar lingkup sekolahnya,termasuk pada program offair SSfm. Oleh karena itu di program-program off airSSFM kebanyakan berkerjasama dengan komunitas-komunitas anak muda diSemarang. Untuk acara yang lebih difokuskan untuk anak muda khususnya siswa6siswi SMA atau sederajat diperlukan suatu usaha untuk menyampaikan informasidengan cara lain yaitu mendekatkan diri langsung pada mereka dan mencari tahu apayang mereka sukai. Hal ini perlu dilakukan agar brand Radio SSFM dapat lebihdikenal oleh anak muda. Melalui strategi komunikasi pemasaran yang baik tentunyadapat membantu menginformasikan suatu brand secara jelas dan terarah.Pada hakekatnya, promosi adalah bentuk komunikasi pemasaran. Komunikasipemasaran adalah aktifitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,mempengaruhi atau membujuk dan meningkatkan pasar sasaran atas perusahaan danproduk agar membeli dan loyal terhadap suatu produk yang ditawarkan perusahaantersebut. Kegiatan pemasaran adalah mempromosikan barang dan jasa yangdihasilkan perusahaan. (Fandy Tjiptono; 2019; Pemasaran Strategik; 2001)Kegiatan pemasaran juga dapat dilakukan dengan kegiatan kampanye PR yangdigunakan untuk pementukan image dari brand yang akan dipromosikan. untukkegiatan kampanye PR, tentunya harus dilakukan resech mengenai isu-isu local yangsedang marak dilingkunga target audience. Dalam kegiatan kampanye PR yang akankami lakukan, kami mengambil isu kecelakaan yang diakibatkan lalainya pengendaramotor khususnya pelajar di Semarang.Menurut Kepala Cabang PT Jasa Raharja (Persero) Jateng, Sukonomenjelaskan, data kendaraan yang terlibat kecelakaan selama Januari hingga Maret2012, didominasi oleh sepeda motor. Diikuti mobil pribadi dan truk.. Berdasarkanusia korban paling besar untuk rentang usia 15-29 tahun (39,22%), diikuti usia 30-49tahun (30.65%). Sedangkan jika berdasar profesi, sebagian besar adalah karyawan(28,33%) diikuti pelajar/mahasiswa (23.67%) dan wiraswasta (22,90%).http://hariansemarangbanget.blogspot.com/2012/04/pengendara-motor-dominasikecelakaan.html (8 April 2013, 2:10 AM)Radio SSFM adalah radio anak muda yang inspiring, dynamic, danentertaining. Dengan basic itulah Radio SSFM melakukan visi misinya. Menjadiradio yang menginspirasi anak muda, menjadi radio yang dinamis dan dapat berubahmengikuti perkembangan jaman, serta radio yang syarat akan hiburan.Hiburan yang disajikan oleh radio SSFM merupakan hiburan berbentuk lagu,feature yang dikemas secara kocak yang sangat bergantung pada target audiencenya.Target audience dari SSFM merupakan range usia 13-30 tahun. dengan target primer15-25 tahun. Dari segi SES, SSFM menuju pada SES B-C. SSFM memilikipendengar di Semarang dan sekitarnya, namun dengan adanya teknologi streaming,seluruh masyarakat dapat mendengarkan radio SSFM asal tersambung denganinternet.Pada bulan September 2012 SSfm mendapatkan peringkat ke 2 dalam ratingsegmen radio anak muda oleh ACNielsen. Segmentasi tersebut berada pada range usia18-25 tahun, yang dalam range usia tersebut merupakan usia mahasiswa perkuliahansampai profesional muda.Dari target audience yang dituju oleh SSfm, usia 15 – 18 tahun masih belumterlalu mengena. Dalam artian, usia setara Sekolah Menengah Atas masih belumbanyak yang mengenal ataupun mendengarkan SSfm.7Berdasarkan target primer dari SSFM dengan range usia 15-25 tahun, anakmuda dengan usia tersebut sudah mulai sadar akan pentingnya dunia teknologi danmodernisasi. Mereka mempunyai kecenderungan untuk tidak ingin disebut sebagaiorang yang gaptek atau ketinggalan jaman. Mulai dari gadget yang digunakan dankonsumsi media social. Hampir setiap anak muda di Semarang sudah mempunyaiakun di media social yang umum seperti facebook, twitter, bahkan youtube. Haltersebut dilakukan agar mereka tetap up-to-date dan tidak ketinggalan jaman denganmengetahui informasi-informasi terbaru yang sedang happening.Happening yang mereka sukai biasanya seputar lifestyle seperti musik, beritatentang artis, sepak bola, fashion, film di bioskop, tempat nongkrong, kuliner, acaraacarahiburan, dsb. Selain hal-hal tersebut, rata-rata dari mereka menyukai hal-halyang lucu atau berbau humor, suka besosialisasi, dan suka berkelompok.Dari latar belakang yang kami kemukakan, maka ditemukanlah permasalahandalam SSfm, yaitu masih kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap SSfm yangbaru dengan target audience anak muda. Kurangnya awareness masyarakat tentangSSfm, dibuktikan dengan hasil riset yang ada di gambar 1.3 dan gambar 1.4 dan jugahasil wawancara yang dilakukan dengan hasil masih banyaknya masyarakat yangmengartikan “SS”fm sebagai “Suara Sakti”, “Suara Semarang” atau bahkan “SpesialSambal”Berdasaarkan masalah yang telah dirumuskan, maka terbentuklah beberapatujuan yang harus dicapai, yaitu memperkenalkan SSfm sebagai radio anak muda diSemarang dan meningatkan awareness anak muda di Semarang terhadap radio SSFMISIUntuk mengetahui dimana posisi tingkat awareness anak muda Semarangterhadap SSFM diperlukan riset terlebih dahulu. Secara harfiah, Awareness berartikesadaran. Sedangkan BrandAwareness itu sendiri adalah kemampuan dari seseorangyang merupakan calon pembeli (potential buyer) untuk mengenali (recognize) ataumenyebutkan kembali (recall) suatu merek merupakan bagian dari suatu kategoriproduk ( Aaker, 1991: 61). Menurut riset yang kami peroleh, SSFM masih berada ditahapan “Unaware of a Brand”, melalui sebuah program kegiatan, kami bertujuanuntuk menaikkan SSFM pada tahapan “Brand Recognition”.Kegiatan promosi ditujukan untuk mempersuasi audiens dalam mempelajarisebuah informasi baru, mengubah emosi, atau untuk bertindak sedemikian rupa.Istilah dan penggunaan persuasi dilakukan demi menghasilkan beberapa perubahandalam aspek kognitif,afektif dan perilaku target audiensi.Teori ini terkait usaha organisasi membujuk audiens untuk mempelajariinformasi baru, mengubah emosi atau untuk bertindak sedemikian rupa. Lattimore,dkk. menggunakan istilah berikut dalam bicara tentang persuasi (2010: 55):1. Kesadaran (awareness) : menerima informasi pertama kali,2. Sikap (attitude) : kecenderungan untuk suka atau tidak suka terhadap sesuatu,83. Keyakinan (beliefs) : penilaian tentang benar atau salahnya sesuatu,4. Perilaku (behavior) : sebuah aksi yang dapat diamatiProgram SSFM yang merupakan sebuah rangkaian kegiatan menjadikan teoripersuasi sebagai landasannya dimana istilah-istilah dalam teori tersebut disesuaikandengan setiap kegiatan yang akan dilakukan sehingga nantinya dapat mencapai tujuanawareness hingga behaviour.Safety riding diperuntukkan bagi istilah awareness atau kesadaran, yang menjadikegiatan awal untuk membuka diri, memberikan informasi pertama kali, sertamemperkenalkan SSFM kepada siswa SMA. Kegiatan ini mencoba untuk menarikperhatian siswa SMA untuk berpartisipasi dan dapat menyebarluaskan informasimengenai radio SSFM dengan cara memberikan edukasi mengenai cara berkendaramotor yang benar dan mematuhi rambu lalu lintas melalui games-games /kompetisimenarik yang diselipkan berbagai macam informasi tentang radio SSFM yangdiharapkan dapat menyentuh mereka secara emosional, sehingga melalui kegiatan iniinformasi dapat diterima oleh target secara baik dan dapat memberikan penilaiantentang radio SSFM sekaligus menjadi sebuah pengalaman bagi mereka yang sulitdilupakan dan akhirnya dapat diceritakan pada orang lain. Selain itu hasil yangdidapatkan bukan hanya para siswa yang menjadi lebih mengenal SSFM secara baik,namun para siswa juga jadi tahu bagaimana cara berkendara yang aman, dan merubahpola berkendara mereka.Untuk mendekatkan diri pada target yang merupakan anak muda, kita harusmencaritahu isu apa yang sedang marak dikalangan anak muda. Isu yang kamidapatkan adalah seputar kecelakaan yang banyak terjadi pada anak muda karenakurangnya keamanan dalam berkendara. Dengan mengangkat isu sosial tersebut,secara tidak langsung sudah menimbulkan kepedulian terhadap mereka. Dengankepedulian tersebut diharapkan respon positif yang didapatkan dan melalui kegiatanyang langsung mengajak mereka untuk praktek bersama memberikan sebuahpengalaman tersendiri sehingga dalam perasaan nyaman tersebut, mereka dapatmenerima informasi dengan baik.Radio SSFM sebagai radio yang inspiring, menjadi salah satu alasan mengapakegiatan ini menjadi tools yang digunakan. Diharapkan SSFM dapat menginspirasianak muda bahwa aman berkendara adalah hal yang keren. Dalam hal ini dapatmenciptakan image bahwa radio SSFM merupakan radio anak muda yang peduli padaanak muda.Dari teori-teori yang telah kami paparkan di atas, mendasari terbentuknyastrategi kegiatan yang akan kami lakukan. Melalui strategi experience yang kamianggap dapat membantu penyerapan informasi pada target.Dalam pelaksanaan kegiatan yang melibatkan kegiatan sekolah akanmenggunakan strategi experience yang dianggap efektif untuk mencapai tujuan.Strategi tersebut dipilih karena memungkinkannya terjadi interaksi dengan targetaudience dalam kondisi yang nyaman dan menyenangkan sehingga mampumemberikan pengalaman menarik dan kesan baik terhadap Radio SSFM, sesuaidengan karakter psikografis target audiens yang suka tantangan dan suka hal baruakan memungkinkan informasi diserap secara maksimal. Strategi experience ini juga9memberikan pengalaman langsung kepada target audiens mengenai program SSFM.Dengan keterlibatan audiens diharapkan mampu menciptakan kesan menyenangkansehingga akhirnya mereka merasa penasaran dan mencoba untuk mendengarkanSSFM. Kegiatan utama yang dilakukan adalah Assik ala SSFM (Aman SelamatSaat Naik Kendaraan ala SSFM). Semua kegiatan ditujukan kepada target audiensprimer dan sekunder dengan tujuan yang sama.Assik ala SSFM akan digunakan SSFM sebagai tools untuk terjun langsung disekolah. Dengan memberikan edukasi mengenai cara berkendara yang baik dan benardan dikemas dengan permainan-permainan yang menarik dan berhubungan denganfeatures dari radio SSFM. Kegiatan ini dilakukan sebagai proses untuk memasukaninput berupa informasi atau pengetahuan mengenai radio ssfm dan juga edukasimengenai cara berkendara yang baik dan benar, input ini diproses secara menarikdengan permainan-permainan seru yang diikuti siswa-siswa tersebut sehinggamenciptakan mood yang menyenangkan dan dapat dengan mudah untuk menerimainformasi mengenai ssfm. Didalam permainan tersebut dimasukan features dari SSFMbaik dari tagline, frekuensi, dan informasi lainnya, dalam edukasi mengenai safetyriding akan dikemas secara menarik dan interaktif. Untuk memperkuat ingatanmereka mengenai informasi ini, kami juga menambahkan gimmick yang akandiberikan kepada siswa berupa helm SNI, masker motor, sarung tangan berkendara,stiker, gantungan kunci sepeda motor, dan hadiah uang tunai, dengan tujuan siswayang berkendara yang baik akan dianggap sebagai anak Assik SSFM. Output yangdiharapkan adalah berupa awareness yang dimiliki siswa-siswa sma yang terlibatdidalam kegiatan tersebut meningkat, baik dalam pengetahuan mengenai radio SSFMmaupun behaviour mereka dalam berkendara.Dalam pemeragaan cara berkendarayang baik dan benar dilakukan oleh tim dari SSFM “Laskar Kawi”, didalamnya jugaterdapat komptisi-kompetisi menarik seputar berkendara dan hal-hal ang behubungandengan SSFM. Tentunya dalam sebuah kompetisi, pemenang akan mendapatkanhadiah. Hadiah yang kami siapkan dalam satu sekolah berjumlah Rp. 1.052.000,00yang akan dibagi menjadi 21 hadiah. Sistematika pemilihan sekolah dilakukan olehklien yang menurut mereka sekolah tersebut termasuk sasaran utama target dari radioSSFM.Kegiatan Assik ala SSFM ini memerlukan promosi dan publikasi untukmenginformasikan khalayak khususnya siswa SMA untuk mengetahui kegiatan yangakan dilakukan dan menunjukkan SSFM kepada anak muda Semarang sebagai radiodengan segmentasi anak muda. Strategi publikasi yang dilakukan meliputi mediamassa/ publik serta media luar ruang yang digunakan sebagai publikasi kegiatan yaituRadio, dan media online.Sebagai Program director, yang berperan cukup penting dalampenyelenggaraan sebuah event karena program director mempunyai tugas utamabertanggung jawab dalam menyusun konsep, menangani alur acara dalam sebuahevent, menyusun rundown, serta bertanggung jawab terhadap acara secarakeseluruhan. Program director bertanggung jawab pula dalam menghubungi pengisiacara yang digunakan pada event. Pada pelaksanaan kegiatan “Assik Ala SSFM”detail tugas program director meliputi Membawahi stage managemen, stage crew danfloor crew, Bertanggung jawab terhadap kelangsungan acara keseluruhan, Menyusunkonsep acara, Menyusun rundown acara, terutama ketepatan waktu acara agar tidakterjadi kekosongan dan kemoloran, Bertanggung jawab dan menjalin hubungandengan para pengisi acara (talent).10Pada saat pelaksanaan kegiatan, tugas Program Director adalah bertanggungjawab terhadap kelangsungan pelaksanaan kegiatan serta kegiatan kepanitiaan,Memastikan acara berlangsung sesuai dengan konsep, Berkoordinasi dengan divisilainnya (Project Officer, Production Manager, Bussiness Manager, Operationalmanager, dan Comunication Manager), Koordinasi talent, Mengawasi pembagiankonsumsi peserta dan distribusi konsumsi talent, Bertanggung jawab atas Distribusihadiah, Melakukan evaluasi dengan Tim Pelaksana, Membuat laporan pertanggungjawaban kepada pihak sponsor dan Radio 105.2 SSFM, Membuat laporan kegiatan.PENUTUPTujuan dari aktivitas PR adalah untuk mempengaruhi perilaku, tanpa melupakanbahwa hal ini juga berarti ada kemungkinan terjadinya perubahan organisasi maupunpublik. Ada dua syarat utama untuk menjawab pertanyaan tersebut, yaitu denganinformasi yang didapatkan melalui riset dan analisis yang mendalam. Informasitersebut kemudian digunakan untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip dan kekuatanutama dari program tersebut yang disebut dengan strategi.Kedua syarat tersebut sudah dilakukan yang kemudian terciptalah programkegiatan ”ASSIK ALA SSFM”. Dalam penilaian tercapainya tujuan dari program inidiperlukan adanya evaluasi. Evaluasi adalah suatu proses untuk memantau danmenguji, serta merupakan analisis terhadap hasil akhir dari suatu kampanye atauprogram. (Anne Gregory; 139; Perencanaan dan Manajemen Kampanye PublicRelations; 2004)Pesan atau informasi yang ada dalam sebuah brand akan tersampaikan denganmaksimal apabila audiens terlibat secara langsung dan memperoleh experiencedengan mood yang baik didalam sebuah kegiatan yang diadakan. Menurut TomDuncan, cara ampuh menyampaikan pesan sebuah brand adalah dengan mengajakpelanggan dan pelangggan potensial untuk terlibat langsung dalam sebuah event.Event dapat membuat pelanggan dan pelanggan potensial untuk merasakan sendiri(memberikan experience kepada pelanggan) produk dari suatu organisasi atauperusahaan. Dengan dasar inilah akhirnya event “ASSIK ala SSFM” diselenggarakan.(Tom Duncan; The principles of Advertising and IMC; 2005)Secara konseptual, event yang menjadi public relations tools ini merupakancara yang efektif untuk mampu memberikan proses interaksi kepada audiens sehinggamenciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak danmenanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuanmenanamkan keinginan baik, kepercayaan saling adanya pengertian dan citra yangbaik dari audiens.Melihat masih rendahnya awareness anak muda Semarang terhadap Radio105.2 SSFM berdasarkan hasil riset yang telah kami lakukan, maka timpenyelenggara bersama pihak manajemen menyelenggarakan sebuah kegiatan yangdimaksudkan untuk memperkenalkan Radio 105.2 SSFM kepada anak mudaSemarang khususnya pelajar SMA/SMK, karena menurut Guy Materman dan EmmaH. Wood, event digunakan untuk mengkomunikasikan tentang produk, merk, ide atauorganisasi dengan target khalayak tertentu. Dengan dasar inilah event “ASSIK alaSSFM” diselengggarakan. (Guy Materman & Emma H. Wood; Innovative MarketingCommunication: Strategies for Events Industry; 2006)Tujuan yang diinginkan oleh Radio SSFM pun dapat dicapai melalui eventASSIK ala SSFM meningkatnya awareness anak muda khususnya siswa SMA/SMKdapat mengenal SSFM dengan baik, event ini juga menerima respon positif darimasyarakat melalui publikasi yang baik.11Secara garis besar event sebagai tools PR dalam IMC pada event “ASSIK alaSSFM” terlakasana dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.Peningkatan yang signifikan dalam hal awareness target audiens terhadap radioSSFM terlihat jelas dari parameter di atas. Menurut teori yang terdapat dalam latarbelakang, Dalam teori segitiga awareness menurut Aaker dalam bukunya “ManagingBrand Equity; Capitalizing on the Value of Brand Name” radio SSFM yangsebelumnya terletak pada tahapan unaware of a brand, saat ini dapat dikatakan beradapada brand recognition dimana target audiens dapat mengingat dan menyebutkankembali informasi yang telah disampaikan selama event berlangsung.KESIMPULANKegiatan “ASSIK Ala SSFM” berhasil dilakukan. Seluruh tujuan dari kegiatanini dapat dicapai dan di evaluasi dengan baik. Hubungan kerja sama antara pihakpenyelenggara, klien, sponsorship seperti Astra Motor Semarang (Honda), AEOC,INKRAFT, Rinjani View, serta media lainnya pun berjalan dengan baik.Pemilihan venue dan perijinan untuk event dapat mengenai sasaran, dan jugaevent ini juga dapat menerpa target audiens lainnya yang tidak tersentuh oleh eventtersebut melalui social media.SARANUntuk mengadakan sebuah event yang menyasar pada anak muda khususnyapelajar SMA/SMK di kota Semarang, perlu adanya survey dan riset yang lebihmendalam mengenai Sekolah yang dituju. Riset / survey sebaiknya dilakukan denganwawancara karena metode pengisian angket / questioner kurang efektif dan validuntuk hasil yang diharapkan.12DAFTAR PUSTAKAAaker, David. 1991. Managing Brand Equity; Capitalizing on the Value of BrandName. New York : Free Press(http://www.scribd.com/doc/76703520/Managing-Brand-Equity)Duncan, Tom. 2005. The Principle of Advertising and IMC. New York : McGraw HillGregory, Anne. 2004. Perencanaan dan Manajemen Kampanye PublicRelations. Jakarta : ErlanggaKasali, Rhenald. 2009. Manajemen Public Relation Konsep danAplikasinya di Indonesia. Jakarta : GrafitiLattimore, Dan., Otis Baskin., Suzette T.Heiman & Elizabeth L.Toth.(2010). Public Relations : Profesi & Praktik. Jakarta : SalembaHumanika.Masterman, Guy & Wood, Emma. 2006. Innovative Marketing Communication,Strategies for the Events Industry. United Kingdom : Butterworth HeinemannPeter, J Paul dan Olson, Jerry C. 1996. Customer Behaviour andMarketing Strategy. 4th Edition. New York : McGraw Hill Co.http://hariansemarangbanget.blogspot.com/2012/04/pengendara-motor-dominasikecelakaan.html
KOMUNIKASI KELUARGA UNTUK MEMOTIVASI TANGGUNG JAWAB ANAK BELAJAR DI MASA PANDEMI Ghozi Garbo Sumarsono; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 10, No 3: Juli 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The emergence of the COVID-19 pandemic has changed all aspects of Indonesian people's lives, one of which is education. This change began to be felt since the implementation of the "Work From Home" activity policy, which changed educational activities to the Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). However, this has an impact on children's laziness levels, as a result of boredom, monotonous activities, and lack of face-to-face socialization. In distance learning activities, children certainly need support from their families in motivating them to learn. Judging from this phenomenon, researchers have an interest in knowing how to communicate within the family to motivate children's studying responsibilities during a pandemic. This study uses a qualitative approach and phenomenological methods. The study population was taken from families who have school children at the junior high and high school levels who were affected by the corona pandemic. From this population, a sample of 6 informants was taken consisting of 3 parents and 3 students. In collecting data, this study used in-depth interviews, so that saturated and detailed data were obtained. In addition, there are secondary data sources such as literature studies and the latest information from trusted online media portals. The data is then analyzed through the stages of horizontalization, textural description, structural description, and describe the existing phenomena. This study produces data that (1) the combination of pluralistic and consensual family communication patterns builds children's sense of responsibility for studying; (2) the combination of pluralism and consensual communication patterns as well as democratic parenting can create a good learning environment for children during this pandemic; (3) democratic parenting provides a comfortable learning environment for children so that they can motivate children to learn.
Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Yuk Keep Smile dan Bentuk Parental Mediation dengan Perilaku Kekerasan Yang Dilakukan Anak Annisa Aulia Mahari; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Sri Widowati; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.15 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah didasarkan pada tingginya kekerasan yang dilakukan anak, salah satu faktor anak melakukan kekerasan itu adalah karena dampak dari televisi. Anak menonton tayangan dan mengadopsi perilaku yang mereka lihat dalam adegan tayangan tersebut. disini, tayangan Yuk Keep Smile merupakan tayangan yang memberikan dampak negatif. Yuk Keep Smile merupakan acara hiburan, namun di dalam adegannya sering ditemukan kekerasan verbal dan kekerasan fisik. Orang tua haruslah memberikan mediasi antara anak dengan televisi, sehingga anak tidak serta merta menirukan apa yang mereka lihat. Bentuk parental mediation manakah yang berhubungan dengan adopsi perilaku anak dari tayangan yang mereka tonton.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton tayangan Yuk Keep Smile dan bentuk parental mediation dengan perilaku kekerasan yang dilakukan anak. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori belajar sosial dari Bandura dan diperkuat dengan teori Powerfull Berdasarkan data dari lapangan didapatkan hasil bahwa intensitas menonton tayangan Yuk Keep Smile cukup tinggi dan 61persen responden mendapatkan coviewing mediation. Anak yang mendapatkan coviewing mediation kecenderungan melakukan kekerasan cukup tinggi, anak yang mendapatkan active mediation kecenderungan melakukan kekerasan rendah dan anak yang mendapatkan restrictive mediation kecenderungan melakukan kekerasan cukup rendah. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak yang berdomisili di Semarang yang berusia 6 - 12 tahun dan pernah menonton tayangan Yuk Keep Smile. Sampel yang digunakan non random dengan tekhnik accidental sampling dikarenakan jumlah populasi yang tidak diketahui dengan jumlah sampel sebanyak 60 responden. Untuk menguji hubungan variabel X1 dengan Y dan variabel X2 dengan Y maka digunakan uji analisis Korelasi Pearson, dan uji formula dengan Chi Square, sedangkan untuk menguji variabel X1 dan X2 dengan Y, digunakan uji analisis Korelasi Konkordansi Rank Kendall (Kendall’s W Test). Berdasarkan hasil penelitian maka semakin tingginya intensitas menonton tayangan Yuk Keep Smile dan mendapatkan coviewing mediation semakin tinggi kecenderungan perilaku kekerasan yang dilakukan anak.Kata kunci: dampak televisi dengan anak, parental mediation,kekerasan oleh anak.
HUBUNGAN INTENSITAS KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI MENTOR – MURID DAN INTERAKSI DENGAN KELOMPOK DALAM GEREJA DENGAN MINAT MURID UNTUK TERLIBAT AKTIF SEBAGAI ANGGOTA PELAYANAN DI ORGANISASI GEREJA GBI GAJAH MADA SEMARANG Junelsa Panggalo; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.155 KB)

Abstract

This research aims to determine the correlation of the intensity of interpersonal communication of discipler – disciple and the interaction with groups in the church with disciple’s interest to be actively involved as a member of ministry in GBI Gajah Mada Semarang church organization. The Theory of Reasoned Action and Learning Social Theory is used to explain the correlation of the intensity of interpersonal communication of discipler – disciple and the interaction with groups in the churc with disciple’s interest to be actively involved as a member of ministry in GBI Gajah Mada Semarang church organization. The population of this study is the members of GBI Gajah Mada Semarang church involved discipleship. Sampling was done by the purposive sample of 40 respondents. The data analysis technique used Kendall rank correlation coefficient analysis. The hypothesis test showed the value of variable significance of the intensity of interpersonal communication of discipler – disciple (X1) and disciple’s interest to be actively involved as a member of ministry in church organization (X2) is 0.500, which is 0.500 > 0.05. In addition, the significant value of the variable the interaction with groups in the church (X2) and disciple’s interest to be actively involved as a member of ministry in church organization (Y) is 0.271, whic is 0.271 > 0.05. It means there is no correlation between the intensity of interpersonal communication of discipler – disciple and the interaction with groups in the church, and disciple’s interest to be actively involved as a member of ministry in church organization. In this research shows that external factors wich are the intensity of interpersonal communication of discipler – disciple and the interaction with groups in the church have no correlation with disciple’s interest to be actively involved as a member of ministry. It could be internal factors that have a correlation with the interest, there are motivations and expectations to be achieved from within disciple that may have a correlation with the disciple’s interest to be actively involved as a member of ministry in church organization.
Kampanye Public Relations Untuk Penguatan Positioning Batik Jayakarta Melalui Event Batik Fashion Week 2014 Kiky Rizkiana; Agus Naryoso; Lintang Ratri Ramiaji; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.708 KB)

Abstract

Batik Jayakarta merupakan salah pilihan untuk fashion batik di kota Semarang. Batik Jayakarta melakukan pendekatan promosi yang baik untuk masyarakat Kota Semarang. Promosi melalui media baru telah ditekuni oleh Batik Jayakarta seperti adlips di lampu merah, mini baliho yang bekerja sama dengan pos polisi, dan mencari endorse untuk memasarkan produknya. Namun, pemasaran ini belum menyentuh segmentasi anak muda. Minat anak muda untuk mengunjungi toko batik dan minat menggunakan batik masih rendah. Maka, laporan karya bidang ini disusun untuk meningkatkan brand awareness Batik Jayakarta dan meningkatkan minat anak muda memakai batik.Karya bidang ini disusun dengan menggunakan pendekatan persuasive serta penerapan teori -teori kampanye PR untuk mendukung keberhasilan tujuan komunikasinya. Melalui penyelenggaraan serangkaian event “Batik Fashion Week 2014”. Acara ini dinilai efektif untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap Batik Jayakarta. Roadshow diselenggarakan di berbagai sekolah dan universitas di kota Semarang. Acara puncak “Batik Fashion Week” diselenggarakan di kawasan Kota Lama Semarang dengan bekerjasama dengan para desainer batik dan komunitas - komunitas yang ada di Jawa Tengah.Keberhasilan dalam mencapai tujuan komunikasi dapat diketahui berdasarkan riset pasca event. Setelah event berlangsung, awareness audiens meningkat sebanyak 16% dari yang semula 30% menjadi 46%. Sedangkan minat untuk memakai batik juga meningkat sebesar 15 % dari yang semula 20% menjadi 35%. Dengan demikian, rangkaian kampanye PR melalui event ini efektif untuk mencapai tujuan komunikasi awal.Karya bidang ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspek akademis dan praktis. Implikasi akademis karya bidang ini berupa kontribusi untuk memperkaya pengetahuan akan penerapan strategi persuasive dan penerapan teori kampanye PR dalam pencapaian tujuan komunikasi. Sementara itu, implikasi praktis memberikan pengetahuan dan pengalaman untuk membuat kegiatan promosi yang efektif sesuai dengan target audiens serta tujuan komunikasinya.Keywords : fashion, batik, skripsi, event
Efektifitas Terpaan Publisitas Kegiatan Filantropi PT Sido Muncul dan Brand Trust Terhadap Loyalitas Konsumen Tolak Angin di Kota Semarang Teresia Kinta Wuryandini; Tandiyo Pradekso; Wiwid Noor Rakhmad; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.649 KB)

Abstract

Loyalitas konsumen Tolak Angin dapat dikatakan rendah, oleh karena itu PT SidoMuncul melakukan berbagai kegiatan untuk mendekatkan Tolak Angin pada masyarakat,salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan filantropi dan menumbuhkan kepercayaankonsumen akan merek Tolak Angin. Lalu, seberapa besar efektifitas terpaan publisitaskegiatan filantropi PT Sido Muncul dan brand trust terhadap loyalitas konsumen TolakAngin di Kota Semarang?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji seberapa besar efektifitas terpaanpublisitas kegiatan filantropi PT Sido Muncul dan brand trust terhadap loyalitas konsumenTolak Angin di Kota Semarang.Boundary Spanning Public Relations Theory dan Commitment-Trust Theorydigunakan untuk menjelaskan efektifitas terpaan publisitas kegiatan filantropi PT SidoMuncul dan brand trust terhadap loyalitas konsumen Tolak Angin di Kota Semarang.Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen Tolak Angin di Kota Semarang yang terterpapublisitas kegiatan filantropi yang dilakukan oleh PT Sido Muncul yang diambil sebanyak 50orang, dengan teknik purposive sampling.Analisis Regresi Linear Berganda digunakan untuk melakukan uji hipotesis. Ujihipotesis menunjukkan nilai signifikansi variabel terpaan publisitas kegiatan filantropi PTSido Muncul adalah 0,158 atau lebih besar dari α (0,05), sehingga terpaan publisitas kegiatanfilantropi PT Sido Muncul tidak mempengaruhi loyalitas konsumen Tolak Angin di Kotasemarang. Sedangkan, nilai signifikansi variabel brand trust adalah 0,000 atau lebih kecildari α (0,05), sehingga brand trust mempengaruhi loyalitas konsumen Tolak Angin di KotaSemarang.Variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh kedua variabel independenadalah sebesar 34%, brand trust memberikan sumbangan relatif sebesar 32, 7% dansumbangan efektif sebesar 11,11 %.
PENGARUH KETEPATAN PENGGUNAAN SELEBRITI ENDORSER OREO ICE CREAM ORANGE DAN FREKUENSI PERBINCANGAN IKLAN DI JEJARING SOSIAL MEDIA TERHADAP MINAT BELI PRODUK Yuaristi Ekantina; Agus Naryoso; Yanuar Luqman
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH KETEPATAN PENGGUNAAN SELEBRITIENDORSER OREO ICE CREAM ORANGE DAN FREKUENSIPERBINCANGAN IKLAN DI JEJARING SOSIAL MEDIATERHADAP MINAT BELI PRODUKOleh : Yuaristi EkantinaIlmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas DiponegoroSemarangABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketepatan penggunaan selebriti endorser Oreo IceCream orange dan frekuensi perbincangan iklan di jejaring sosial media terhadap minat beli produktersebut. Penelitian kuantitatif ini merupakan tipe penelitian explanatory. Subjek penelitian adalahremaja SMA di Kota Semarang. Data diperoleh melalui wawancara, dan kuesioner. Teknikpengambilan sampel dengan menggunakan random sampling, sebanyak 90 responden. Penelitian inimenggunakan metode kuantitatif dengan uji statistik menggunakan rumus konkordansi Kendall. Teoriyang mendasari penelitian ini adalah Model VisCAP dan teori WOM (Word of Mouth). Uji korelasidiantara ketiga variabel menunjukkan signifikansi sebesar 0,000 yang artinya diantara ketiga variabelmemiliki hubungan yang sangat kuat, di mana antara variabel saling mempengaruhi satu sama lain.Penggunaan endorser yang tepat dalam sebuah iklan serta terjadinya fenomena word of mouthterbukti efektif dalam mempengaruhi minat konsumen untuk membeli produk.Kata Kunci : Selebriti Endorser, Perbincangan Iklan, Minat Beli, model VisCAP, Word Of MouthABSTRACTThis research aims to know the influence appropriate uses selebrity endorser Oreo Ice Cream Orangeand conversation frequency of advertising in social media network to purchase intention these product.This quantitative research is a type of explanatory. The underlying theory this research is VisCAPmodels and theories WOM (Word of Mouth). Subjects are high school students in Semarang. Datawere obtained through interviews and questionnaire. Sampling technique using random sampling, totalof 90 respondents. This study uses quantitative statistical test using the formula Kendall concordance.Test the correlation between these three variables showed a significance of 0.000, which means thesethree variables has a very strong correlation, in which the variables influence each other.Anappropriately used celebrity in advertisement as well as the phenomenon of word of mouth provedto be effective in influencing consumer intention to buying the product.Keywords : Selebrity Endorser, Conversation of Advertising, Purchase Intention, VisCAP model,Word of Mouth1. PENDAHULUANDi zaman yang semakin modern ini,persaingan bisnis semakin dinamis, kompleks,dan serba tidak pasti. Setiap perusahaan dalamindustri ini berusaha untuk menarik perhatian(calon) konsumen melalui pemberianinformasi tentang produk. Dalam hal ini,periklanan merupakan salah satu bentukpembeian informasi mengenai produk sebagaifungsi komunikasi dalam melakukanpemasaran. Saat ini, banyak produk yangsaling berlomba-lomba untuk menarik minatkonsumennya melalui penyampaian iklan yangmenarik. Berbagai stretegi periklananditerapkan untuk menarik minat masyarakatterhadap produk yang diiklankan. Bintangtelevisi, aktor film, dan atlit terkenal saat inibanyak digunakan dalam iklan majalah,maupun TV komersial untuk mendukung suatuproduk. Selain itu selebriti dapat jugadigunakan sebagai alat yang cepat untukmewakili segmen pasar yang dibidik (Royan,2005:12). Dalam hal ini produk Oreo IceCream Orange yang menyasar untuk anakanakdan remaja sebagai target market mereka,menggunakan Afika sebagai endorser produkOreo Ice Cream Orange, dalam iklan tersebutsosok Afika digambarkan sebagai sosok yangperiang, cerdas dan sangat menggemaskandengan gaya dan tingkah anak-anak seusianya.Dalam tayangan iklan Oreo Ice Cream Orangedimana terdapat dua gadis cilik, yaitu Afikabersama temannya sedang menikmatipengalaman mereka dalam merasakan sensasidingin Oreo Ice Cream Orange. Iklan tersebutmenggambarkan keceriaan, keseruan dankelucuan mimik muka mereka, dengan atributpakaian perlengkapan dingin serta ritual“diputar-dijilat-dicelupin” dalam menikmatibiskuit tersebut. Dalam hal ini iklan Oreo IceCream Orange menggunakan teknikadvertising Slice of life yang dimaksud adalahiklan oreo ini berhasil menstimulasimasyarakat dalam situasi kehidupansebenarnya (real life). Slice of slice advertisingini terlihat dalam gambar, dimana Afika yangsedang belajar di rumah (seperti kegiatan anakkecil pada umumnya), kemudian diajakbermain oleh temannya selain itumenggunakan teknik Vignettes dan Sittuation.Menurut Russel dan kawan-kawan, produkprodukyang sering menggunakan teknikseperti ini adalah minuman, permen, danproduk-produk lain yang sering dikonsumsidalam kehidupan sehari-hari. Gambar yangditampilkan menunjukkan sejumlah orangyang tengah asik menikmati suatu produk,seperti layaknya menikmati hidup (Kasali,1995:95).Berikut merupakan grafik perbincangan Afikayang sempat menjadi trending topic di linimasa Twitter :Gambar 1.1 (sumber :http://salingsilang.com/baca/tren-twitterpekan-3-februari-valentine-angie-adeledan-afika , 4 Maret 2012, 21:33 WIB)Dari grafik diatas dapat kita lihatpekan ketiga Februari yang lalu (13-19Februari 2012), dari 15 topik yang terjaring diSalingsilang.com, terdapat empat topik yangpaling populer: Hari Valentine, AngelinaSondakh (politisi Partai Demokrat), Adele dariajang Grammy Awards, dan bintang iklanOreo, Afika. Topik lainnya datang dari ajangsepakbola, dan peristiwa dari acara televisi dankehidupan sehari-hari.Gambar 1.5 (sumber :http://media.kompasiana.com/mainstreammedia/2012/02/21/jangan-salahkan-afikabila/,4 Maret 2012, 22:45 WIB)Tanda merah di sebelah kiri grafik,dengan kata Bantu iklan oreo, justru kata-kataAfika mendapatkan urutan lebih tinggi dalamanalisa terhadap 499 Twitter pada 21 Februari2012 pukul 17.08 WIB. Dengan adanya datadatadi atas tersebut, membuktikan bahwasosok Afika sangatlah populer di dunia mayakarena membintangi produk Oreo Ice CreamOrange di televisi banyak orang menyukaiwajahnya yang imut dan tingkahnya yang amatmenggemaskan. Bahkan justru nama Afikalebih dikenal oleh masyarakat dibandingkandengan produk iklan yang ia bintangi, yaituvarian rasa baru dari biskuit Oreo. Kata kunci(key word) pencarian tidak secara langsungmerujuk kepada produk “Oreo”, akan tetapijustru lebih merujuk kepada endorser “Afika”.Bahkan dengan adanya perkembangan socialmedia sekarang ini, hampir di semua socialmedia terjadi “Demam” Afika. Sering kita lihatfoto-foto yang sudah mengalami olah digital,dimana dialog antara Afika dan temannyadalam iklan Oreo diplesetkan menjadi sebuahcerita bergambar yang lucu. Kepolosan Afikaini dijadikan komik strip oleh para penggunaInternet. Hal inilah yang akhirnya membuatnama Afika semakin berkibar. Komik yangkebanyakan dapat membuat kita tersenyumtersebut bahkan sempat menghebohkan duniamaya. Namun yang perlu digaris bawahiadalah bahwa salah satu tujuan iklan jamansekarang adalah menjadikan iklan tersebutbahan perbincangan di situs jejaring sosialkarena itu akan menjadi media promosi gratisuntuk mereka. Di era ini, komunikasipemasaran diwarnai dengan makinmembludaknya data dan makin cerdasnyakonsumen. Facebook, Twitter, Google telahmembawa banyak orang ke dalam duniapercakapan online. Social media merupakansumber informasi tentang berbagai macamperistiwa dan update, bahkan pemantauan dirisendiri oleh jutaan pengguna di seluruh dunia.Social media juga menjadi tools untuk bereaksiterhadap peristiwa yang terungkap di mediasecara real time. Fenomena ini membuat socialmedia makin powerful dan hanya masalahwaktu sebelum beralih ke komunitasriset sebagai sumber informasi sosial,pemasaran komersial, dan politik yang kaya.(http://mix.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=816&Itemid=14, diaksespada tanggal 10 Maret 2012, pukul 01.45WIB)Fenomena sosial media jugamelahirkan selebriti baru di luar jalurkonvensional seperti yang terjadi pada limaatau sepuluh tahun lalu. Banyak orang tiba-tibamenjadi terkenal dan sukses karena sosialmedia. Mereka kini menjadi brand ambassadoryang dengan segala kreativitasnya berhasilberimprovisasi mengemas pesan-pesanmenjadi sangat menarik dan interaktif sesuaidengan target market brand. Implikasinyaadalah perusahaan semakin ketat memantaudan menjaga bagaimana caranya supaya pesanyang disampaikan oleh para ambassadortersebut sesuai dengan positioning merek.Tentunya setiap endorser pasti memiliki gayakomunikasinya masing- masing.Oreo Ice Cream Orange merupakanvarian rasa baru dari biskuit Oreo yangmemiliki cream dengan sensasi dingin sepertiIce Cream rasa jeruk. Target marketnya adalahanak-anak mulai usia 6-12 tahun, serta remajausia 13-19 tahun. Harga Oreo sangatlahterjangkau bagi seluruh kalangan masyarakat.Oreo sebagian besar didistribusikan pada minimarket ataupun toko didaerah perkotaan. Oreokental dengan ciri khas ritualnya “Diputar-Dijilat-Dicelupin” yang disebut juga sebagai‘Momen Oreo’. Biskuit Oreo merupakan salahsatu merek biskuit yang cukup dikenal diIndonesia. Kondisi ini terlihat jelas padaperolehan top brand index biskuit Oreo selamaempat tahun terakhir. Berikut disajikan padaTabel 1.2 di bawah ini.Gambar berikut merupakan TopBrand Index beberapa produk biskuit selamaempat tahun terakhir :Gambar 1.6 (sumber :http://www.topbrand-award.com/topbrand-survey/survey-result/top-brandresult-2012/#, diunduh : 12 Maret, 15:43WIB)Dari grafik di atas tersebut dapatdilihat bahwa produk biskuit Oreo memilikibeberapa kompetitor yang cukup kuatkedudukannya, yaitu produk biskuit Biskuatdan Roma yang selalu menduduki peringkattop brand award, dengan top brand indexminimum sebesar 10%.Dalam hal ini, Top Brand Indexdiukur dengan menggunakan 3 parameter,yaitu top of mind awareness (yaitu didasarkanatas merek yang pertama kali disebut olehresponden ketika kategori produknyadisebutkan), last used (yaitu didasarkan atasmerek yang terakhir kali digunakan/dikonsumsi oleh responden dalam 1 repurchasecycle), dan future intention (yaitudidasarkan atas merek yang ingin digunakan/dikonsumsi di masa mendatang). Top BrandAward diberikan kepada merek-merek didalam kategori produk tertentu yangmemenuhi dua kriteria, yaitu merek-merekyang memperoleh Top Brand Index minimumsebesar 10%, dan merek-merek yang menuruthasil survei berada dalam posisi top three didalam kategori produknya.Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis pengaruh ketepatan penggunaanselebriti endorser dan frekuensi perbincanganmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange di05101520253035RomaBiskuatKhongGuanRegalOreoMondeBetterjejaring sosial media terhadap minat beliproduk.Tayangan iklan televisi produk Oreoversi Afika cukup tenar di dunia maya, banyakorang yang memperbincangkan kelucuan dankeluguan afika dalam iklan tersebut. Oranglebih tertarik untuk memperbincangkan sosokdan tingkah afika yang lucu danmenggemaskan dibandingkan dengan produkOreo Ice Cream Orange yang ia bintangi.Selayaknya seeorang endorser berfungsi untukmemasarkan produk yang ia iklankan, akantetapi tak jarang yang terjadi justru sebaliknya,dimana ia memperoleh ketenaran ataupopularitas melalui iklan yang ia bintangi,seperti halnya dalam kasus ini. Oleh karena itujika hal tersebut terjadi akan dapatmengakibatkan endorser akan lebih dikenaldan disukai masyarakat, sementara produkakan tertinggal serta penjualan tidakmeningkat, atau tidak berpengaruh terhadapminat beli masyarakat terhadap produk yangdiiklankan.Asosiasi berulang dari suatu merekdengan seorang selebriti akhirnya membuatkonsumen berpikir bahwa merek tersebutmemiliki sifat-sifat menarik yang serupadengan sifat-sifat yang dimiliki oleh siselebriti. Para konsumen mungkin menyukaimerek hanya karena mereka menyukai selebritiyang mendukung produk tersebut. Selebritiadalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet)yang dikenal masyarakat karena prestasinya didalam bidang-bidang yang berbeda darigolongan produk yang didukung. Para selebritibanyak diminta sebagai juru bicara produk.Ohanian membagi tiga faktor yang ada padaselebriti yang dapat mempengaruhi konsumenuntuk membeli, antara lain daya tarik fisik(kecantikan, ganteng, lucu dan sebagainya),dapat dipercaya dan expertise (adanyakeahlian). Sementara itu menurut PhilipKotler, seorang selebriti yang sangatberpengaruh disebabkan memiliki kredibilitasyang didukung faktor keahlian, sifat dapatdipercaya, dan adanya kesukaan (Royan,2005:8).Dalam buku “AdvertisingCommunication and promotion management”tulisan John Ressiter dan Larry Percy,disebutkan bahwa selebriti dapat digunakanoleh pemasar untuk melakukan boostingterhadap satu atau lebih komunikasi yang akandilakukan. Itu artinya selebriti diharapkannantinya dapat membantu brand awareness,brand recognition, brand recall dan meningkatpada brand purchase. Kenyataan yang ada jikadihubungkan dengan statement di atas,memang penggunaan selebriti yang sedang“naik daun” dapat meningkatkan penjualanketika produk diiklankan. Hal ini jugaditegaskan Agrawal dan Kamakura dalamJurnal marketing tahun 1995 bertajuk “Theeconomic worth of celebrity endorser: an eventstudy analysis”, bahwa konsumen lebihmemilih barang atau jasa yang di-endor olehselebriti dibanding tidak (Royan, 2005:12).Setiap pemasar perlu mengarahkanusaha mereka pada penciptaan kesadaran akanmerek dan mempengaruhi sikap serta niatpositif atas merek. Kesadaran (awareness)adalah upaya untuk membuat konsumenfamiliar melalui iklan, promosi penjualan, dankomunikasi pemasaran lainnya akan suatumerek, memberikan informasi kepada banyakorang tentang ciri khusus dan manfaatnya,serta menunjukkan perbedaannya dari merekpesaing, dan menginformasikan bahwa merekyang ditawarkan lebih baik ditinjau dari sisifungsional atau simbolisnya. Jika komunikatorsukses memberikan kesadaran konsumen akanmereknya, konsumen dapat membentuk sikap(attitudes) positif terhadap merek tersebut danmungkin akan muncul niat (intention) untukmembeli merek tersebut, ketika timbulkeinginan untuk membeli suatu produk dimasa yang akan datang (Shimp, 2003:161).Dalam model yang telahdikembangkan oleh Rossiter dan Percy,karakter si selebritis akan disesuaikan denganCommunication objective yang hendak dicapai.VisCAP itu sendiri terdiri dari 4 unsur yaituVisibility, Credibility, Attraction dan Power.Di mana visibility memiliki dimensi seberapajauh popularitas selebriti. Credibilityberhubungan dengan product knowledge yangdiketahui sang bintang. Attraction lebihmenitikberatkan pada daya tarik sang bintang,personality, tingkat kesukaan masyarakatkepadanya (nge-fans), dan kesamaan dengantarget user. Power adalah kemampuan selebritidalam menarik konsumen untuk membeli(Royan, 2005:15).Bintang iklan Afika cukup banyakmenarik perhatian masyarakat. Seperti halnyadi Jejaring sosial media banyak sekali yangmengunggah dan melihat video Afika dalamIklan Oreo Ice Cream Orange, serta banyakpula yang mengupload foto Afika besertaprofilnya. Consumer Generated Marketing(Advertising) adalah penciptaan iklan ataukonten pemasaran lainnya oleh pelanggan baikdisengaja maupun tidak disengaja. Dalam halini konsumen sendiri yang menghasilkan tidakhanya iklan yang menarik, tetapi juga beberapapers yang baik dan WOM yang dihasilkan juga(Kardes 2010:320). Contohnya adalah dalamkasus Oreo Ice Cream Orange, banyak sekaliyang membicarakan mengenai iklan tersebut dijejaring sosial media, tingkah Afika yang lucudan menggemaskan mampu menyedotperhatian masyarakat sehingga banyakmenimbulkan perbincangan di sosial media,seperti halnya twitter, facebook, dan youtube.Seiring dengan perkembangan pesat teknologikomunikasi serta semakin banyakpenggunanya yang mahir dalam menggunakanaplikasi, software, website terbaru menjadisalah satu faktor penting yang memungkinkanmunculnya fenomena ini. Kini siapa saja bisamembuat video, merekam gambar kemudianmemasukkannya ke situs sosial seperti Twitter,Youtube, dan Facebook di mana siapa sajadapat melihat hasil karya orang tersebutdengan mudah. Sebenarnya ConsumerGenerated Marketing berawal dari kehausanmanusia akan perhatian dari orang lain.Dimana tujuan utamanya adalah untukmemungkinkan konsumen untukmengekspresikan, dalam kata-kata merekasendiri, bagaimana perasaan mereka tentangmerek. Akibatnya, pesan-pesan otentik,inovatif, dan menghibur menawarkankesempatan yang lebih besar untukmenghasilkan desas-desus/Word Of Mouthyang positif tentang merek daripadakomunikasi pemasaran tradisional.Word Of Mouth adalah tindakan satukonsumen berbicara lain tentang merek, danitu bisa terjadi tatap muka dan secara tidaklangsung melalui telepon, surat, atau internet.Berkat teknologi, word of mouth dapatmenyebar lebih cepat dan lebih jauhdibandingkan sebelumnya, melalui teleponseluler, email, pesan teks, situs jejaring sosial,blog, instant messaging, chat room, dan papanpesan. Karena adanya internet, Word OfMouth dapat berlama-lama untuk waktu yanglama di ruang cyber (Kardes, 2010:317).Suprapti (2010:248), mengungkapkan ada 2(dua) fungsi komunikasi WOM yaitu memberiinformasi dan mempengaruhi. Pembicaraanmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange versiAfika di jejaring sosial media membuat orangsemakin mengenal secara lebih jauh mengenaisosok Afika, dan juga membuat orang-orangmengetahui bahwa Oreo mengeluarkan varianrasa baru yaitu Oreo Ice Cream Orange yangmemiliki sensasi dingin.Word of mouth dilahirkan justruuntuk kepentingan komunikasi pemasaranyang lebih efisien dan credible. Word of mouthditujukan untuk menggantikan programkomunikasi pemasaran konvensional sepertiiklan yang sudah kehilangan kredibilitas danterlalu memakan biaya. Keberhasilan WOMtidaklah tunggal. WOM juga dipengaruhi olehperan public relations, media iklan, yangmempunyai peran untuk membangunawareness akan sebuah produk atau merek.Jika konsumen datang ke point of purchaseuntuk memutuskan membeli barang atau tidak,WOM menjadi sebuah faktor yangmenentukan. Advertising membangkitkankesadaran orang. Namun, orang yang inginmembeli produk dipengaruhi oleh referensidari orang lain.Banyak orang dan juga komponenyang terlibat dalam menciptakan saranapromosi bagi suatu brand atau produkmenggunakan social media, kesemuanya ituharus mampu memunculkan influence ataupengaruh. Influence dideskripsikan sebagaikemampuan dalam membentuk dan mengubahpesan yang mampu menarik perhatian orangorangdan menginspirasi orang-orang untukmengambil tindakan dari atensi yang berhasildimunculkan. Influencer ini harus mampumembentuk ikatan yang sangat kuat ataudiistilahkan dengan Engagement. Engagementmengandung arti keterikatan yang dibangunsecara langsung atau tidak langsung dari tujuanutamanya untuk memberikan perhatian padaproduk atau brand juga memungkinkanterjadinya interaksi di dalamnya, ini dilakukansecara virtual karena social medialah sebagaitool-nya (Juju&Sulianta, 2010:10-11).Keberadaan selebriti dalam iklanyang dapat berjalan selaras dengan frekuensiperbincangan iklan dalam media jejaring sosialakan memunculkan minat beli konsumen.Minat membeli merupakan tahap awal dariperilaku konsumen. Engel (1994:3)mndefinisikan perilaku konsumen sebagaitindakan yang langsung terlibat dalammendapatkan, mengkonsumsi danmenghabiskan produk dan jasa, termasukproses keputusan yang mendahului danmenyusuli tindakan ini.Minat membeli merupakan aktivitaspsikis yang timbul karena adanya perasaan danpikiran yang diikuti oleh perasaan senang dancenderung untuk mencari terhadap suatu objekyaitu barang atau jasa yang diinginkan danmerupakan tahapan sebelum terjadi keputusanmembeli (Marx dalam Engel, 1994: 201).Hipotesis penelitian dimana terdapathubungan positif antara variabel pengaruhketepatan penggunaan selebriti endorser OreoIce Cream Orange dan frekuensi perbincanganiklan di jejaring sosial media terhadap minatbeli produk, artinya semakin tepat selebritiyang digunakan dalam sebuah iklan Oreo IceCream Orange, maka semakin tinggi minat beliterhadap produk tersebut. Serta semakin seringfrekuensi perbincangan iklan yang dilakukandi jejaring sosial media , maka semakin tinggiminat beli terhadap produk tersebut.2. METODETipe penelitian yang digunakanadalah eksplanatory (penjelasan), yaitu untukmejelaskan ada tidaknya hubungan danpegaruh dua gejala atau lebih(Singarimbun,1995 : 5). Yang dimaksudkandalam penelitian ini untuk menegetahui sejauhmana pengaruh ketepatan penggunaan selebritiendorser Oreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di jejaring sosial mediaterhadap minat beli Produk.Sampel dari penelitian ini adalahsiswa SMA Negeri 1 Semarang kelas X dan XIyang memiliki akun jejaring sosial dan masihaktif menggunakannya dalam ±5 bulanterakhir. Dan yang menjadi sample riil yangdidapat menggunakan rumus Slovin adalahsebanyak 90 siswa.Teknik sampling yang digunakanadalah teknik random sampling, yaitu teknikpengambilan sample yang memberi peluangatau kesempatan sama bagi setiap unsur atauanggota populasi untuk dipilih menjadisample, dengan kata lain penentuan sampelberdasarkan tidak berdasarkan pertimbanganatau kriteria responden tertentu. Alat danteknik pengumpulan data yang digunakanuntuk memperoleh data dalam penelitian iniadalah interview dan kuesioner.3. PEMBAHASANBerdasarkan hasil perhitunganstatistik konkordasi Kendall diperoleh nilaikoefisien sebesar 0,909 dengan tarafsignifikansi sebesar 0,000. Hasil uji hipotesismembuktikan bahwa ketika ketepatanpenggunaan selebriti endorser Oreo Ice CreamOrange dan frekuensi perbincangan iklan dijejaring sosial media bersama-sama,mempengaruhi minat beli produk tersebut.Dengan demikian, hipotesis yang menyatakanbahwa terdapat hubungan positif antaravariable pengaruh ketepatan selebriti endorserOreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di sosial media terhadapminat beli terhadap produk dapat diterima.Selebriti dapat digunakan olehpemasar untuk melakukan boosting terhadapsatu atau lebih komunikasi yang akandilakukan. Itu artinya selebriti diharapkannantinya dapat membantu brand awareness,brand recognition, brand recall dan meningkatpada brand purchase. Kenyataan yang ada jikadihubungkan dengan statement di atas,memang penggunaan selebriti yang sedang“naik daun” dapat meningkatkan penjualanketika produk diiklankan. Hal ini jugaditegaskan Agrawal dan Kamakura dalamJurnal marketing tahun 1995 bertajuk “Theeconomic worth of celebrity endorser: an eventstudy analysis”, bahwa konsumen lebihmemilih barang atau jasa yang di-endor olehselebriti dibanding tidak (Royan, 2005:12).Setiap pemasar perlu mengarahkanusaha mereka pada penciptaan kesadaran akanmerek dan mempengaruhi sikap serta niatpositif atas merek. Kesadaran (awareness)adalah upaya untuk membuat konsumenfamiliar melalui iklan, promosi penjualan, dankomunikasi pemasaran lainnya akan suatumerek, memberikan informasi kepada banyakorang tentang ciri khusus dan manfaatnya,serta menunjukkan perbedaannya dari merekpesaing, dan menginformasikan bahwa merekyang ditawarkan lebih baik ditinjau dari sisifungsional atau simbolisnya. Jika komunikatorsukses memberikan kesadaran konsumen akanmereknya, konsumen dapat membentuk sikap(attitudes) positif terhadap merek tersebut danmungkin akan muncul niat (intention) untukmembeli merek tersebut, ketika timbulkeinginan untuk membeli suatu produk dimasa yang akan datang (Shimp, 2003:161).Dalam model yang telahdikembangkan oleh Rossiter dan Percy,karakter si selebritis akan disesuaikan denganCommunication objective yang hendak dicapai.VisCAP itu sendiri terdiri dari 4 unsur yaituVisibility, Credibility, Attraction dan Power.Di mana visibility memiliki dimensi seberapajauh popularitas selebriti, Afika dinilai cukuppopular karena dia sebelumnya memenangkankontes Bebelac Star dan membintangi iklanBebelac “You are my everything”. Credibilityberhubungan dengan product knowledge yangdiketahui sang bintang, serta layak dan dapatdipercaya. Tokoh Afika dinilai respondencukup kedible, selain karena dia merupakantokoh anak-anak yang polos, aktingnya pundinilai cukup memuaskan dan tidak dibuatbuat.Attraction lebih menitikberatkan padadaya tarik sang bintang, personality, tingkatkesukaan masyarakat kepadanya (nge-fans),dan kesamaan dengan target user. Afikadengan tingkahnya yang lucu danmenggemaskan banyak disukai olehmasyarakat, selain itu wajahnya yang cantikdan imut-imut juga memiliki daya tariktersendiri. Dan yang terakhir adalah Poweryang merupakan kemampuan selebriti dalammenarik konsumen untuk membeli (Royan,2005:15).Pengalaman manusia hanyamerupakan perubahan sikap yang temporersifatnya ketika dipersuasi melalui jalurperiferal dibandingkan dengan perubahan yangbersifat tetap yang dialami dalam jalur utama.Sikap yang dibentuk melalui jalur utama akanrelatif tetap dan bertahan terhadap perubahan.Seperti yang juga dijabarkan dalam hipotesispertama (H1) hasil uji korelasi dijelaskanbahwa nilai koefisien bertanda positif yangberarti terjadi hubungan positif, namun beradapada kondisi yang lemah karena nilai koefisienkorelasi < 0,5. Yang berarti ketepatanpenggunaan selebriti endorser Oreo Ice CreamOrange terbukti memiliki pengaruh dankorelasi dalam menarik minat konsumen untukmembeli produk, hanya saja tidak terlalu besar.Secara komparatif, ketika kecenderunganelaborasi rendah (karena topik komunikasitidak terlalu relevan dengan penerima pesan),perubahan sikap dapat terjadi, namun sifatnyatemporer kecuali jika konsumen dihadapkansecara kontinu (Shimp, 2003:248). Afikamemang pernah memenangkan kontes BebelacStar yang di tayangkan di Televisi, akan tetapiberdasarkan wawancara peneliti, repondenkurang mengenal sosok Afika sebelum iamembintangi Iklan Oreo Ice Cream Orange.Nama Afika booming dan banyak dibicarakansetelah ia membintangi produk Oreo IceCream Orange.Asosiasi berulang dari suatu merekdengan seorang selebriti akhirnya membuatkonsumen berpikir bahwa merek tersebutmemiliki sifat-sifat menarik yang serupadengan sifat-sifat yang dimiliki oleh siselebriti. Para konsumen mungkin menyukaimerek hanya karena mereka menyukai selebritiyang mendukung produk tersebut. Selebritiadalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet)yang dikenal masyarakat karena prestasinya didalam bidang-bidang yang berbeda darigolongan produk yang didukung. Para selebritibanyak diminta sebagai juru bicara produk.Ohanian membagi tiga faktor yang ada padaselebriti yang dapat mempengaruhi konsumenuntuk membeli, antara lain daya tarik fisik(kecantikan, ganteng, lucu dan sebagainya),dapat dipercaya dan expertise (adanyakeahlian). Sementara itu menurut PhilipKotler, seorang selebriti yang sangatberpengaruh disebabkan memiliki kredibilitasyang didukung faktor keahlian, sifat dapatdipercaya, dan adanya kesukaan (Royan,2005:8).Fenomena Afika cukupmenghebohkan dunia maya, seperti halnya dijejaring sosial media banyak sekali yangmengunggah dan melihat video Afika dalamIklan Oreo Ice Cream Orange, serta banyakpula yang mengupload foto Afika besertaprofilnya. Consumer Generated Marketing(Advertising) adalah penciptaan iklan ataukonten pemasaran lainnya oleh pelanggan baikdisengaja maupun tidak disengaja. Dalam halini konsumen sendiri yang menghasilkan tidakhanya iklan yang menarik, tetapi juga beberapapers yang baik dan WOM yang dihasilkan juga(Kardes 2010:320). Contohnya adalah dalamkasus Oreo Ice Cream Orange, banyak sekaliyang membicarakan mengenai iklan tersebut dijejaring sosial media, tingkah Afika yang lucudan menggemaskan mampu menyedotperhatian masyarakat sehingga banyakmenimbulkan perbincangan di sosial media,seperti halnya twitter, facebook, dan youtube.Seiring dengan perkembangan pesat teknologikomunikasi serta semakin banyakpenggunanya yang mahir dalam menggunakanaplikasi, software, website terbaru menjadisalah satu faktor penting yang memungkinkanmunculnya fenomena ini. Kini siapa saja bisamembuat video, merekam gambar kemudianmemasukkannya ke situs sosial seperti Twitter,Youtube, dan Facebook di mana siapa sajadapat melihat hasil karya orang tersebutdengan mudah. Pada dasarnya ConsumerGenerated Marketing berawal dari kehausanmanusia akan perhatian dari orang lain.Dimana tujuan utamanya adalah untukmemungkinkan konsumen untukmengekspresikan, dalam kata-kata merekasendiri, bagaimana perasaan mereka tentangmerek. Akibatnya, pesan-pesan otentik,inovatif, dan menghibur menawarkankesempatan yang lebih besar untukmenghasilkan desas-desus/Word Of Mouthyang positif tentang merek daripadakomunikasi pemasaran tradisional. Sepertihalnya banyak pula yang membuat ‘komikstripplesetan’ perbincangan Afika dalam iklanOreo Ice Cream Orange. Consumer generatedadvertising adalah bentuk baru yang menarikdari keterlibatan pelanggan yangmemanfaatkan kemampuan komunikasidigital.Word Of Mouth adalah tindakan satukonsumen berbicara lain tentang merek, danitu bisa terjadi tatap muka dan secara tidaklangsung melalui telepon, surat, atau internet.Berkat teknologi, word of mouth dapatmenyebar lebih cepat dan lebih jauhdibandingkan sebelumnya, melalui teleponseluler, email, pesan teks, situs jejaring sosial,blog, instant messaging, chat room, dan papanpesan. Seperti fenomena yang terjadi dalamkasus ini, beberapa orang yang mengunduhtentang iklan Oreo Ice Cream Orange tersebut,baik berupa video, komik strip dan lainsebagainya ke berbagai jejaring sosial media,cukup banyak menggundang tanggapan dankomentar dari pengguna jejaring sosial medialainnya. Karena adanya internet, Word OfMouth dapat berlama-lama untuk waktu yanglama di ruang cyber (Kardes, 2010:317).Seperti halnya ketika Afika dalam iklan OreoIce Cream menjadi perbincangan (TrendingTopic) di Twitter, Serta banyaknya yangmelihat dan me likes video iklan Oreo IceCream Orange di youtube atau bahkanbanyaknya like fanspage Afika di Facebook.Bahkan banyak pula yang membuat konten‘tiruan’ mengenai profil Afika di Facebook.Suprapti (2010:248), mengungkapkan ada 2(dua) fungsi komunikasi WOM yaitu memberiinformasi dan mempengaruhi. Pembicaraanmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange versiAfika di jejaring sosial media membuat orangsemakin mengenal secara lebih jauh mengenaisosok Afika, dan juga membuat orang-orangmengetahui bahwa Oreo mengeluarkan varianrasa baru yaitu Oreo Ice Cream Orange yangmemiliki sensasi dingin.Word of mouth yang berawal darisesuatu yang natural dan tidak terencanaakhirnya berkembang menjadi bagian daripromotion mix yang dapat didesain dandirencanakan layaknya melakukan rencanakomunikasi pemasaran lainnya seperti iklandan even. Dalam hal ini banyaknya masyarakatyang membicarakan iklan tersebut di jejaringsosial media secara tidak langsung telah terjadiWOM (word of mouth) yang memiliki peluanguntuk mempersuasi calon konsumen untukmembeli produk yang dibicarakan, yangtermasuk dalam level Word of mouth yangmembuat konsumen yang mempromosikanproduk perusahaan, namun kegiatan promosidan komunikasi seperti ini biasanya tidakterlalu mempengaruhi penjualan selain hanyamenambah kehebohan dan menambah jumlahantrian (Harjadi&Fatmasari, 2008:75). Sepertiyang juga dijabarkan dalam hipotesis kedua(H2) hasil uji korelasi dijelaskan bahwa nilaikoefisien bertanda positif yang berarti terjadihubungan positif, namun berada pada kondisiyang lemah karena nilai koefisien korelasi <0,5. Yang berarti frekuensi perbincangan iklandi jejaring sosial media terbukti memilikipengaruh dan korelasi dalam menarik minatkonsumen untuk membeli produk, hanya sajatidak terlalu memiliki pengaruh yang besar.Oreo merupakan produk yang cukupdiminati oleh masyarakat, terutama anak-anakdan remaja. Walaupun persaingan produk Oreodengan beberapa produk biskuit lainnya tinggi.Keseluruhan responden tetap memilih produkOreo. Hal ini di sebabkan karena produk Oreomerupakan produk yang dipercaya olehkonsumen, baik segi kualitas rasa, dan lainsebagainya. Minat membeli merupakanaktivitas psikis yang timbul karena adanyaperasaan dan pikiran yang diikuti olehperasaan senang dan cenderung untuk mencariterhadap suatu objek yaitu barang atau jasayang diinginkan dan merupakan tahapansebelum terjadi keputusan membeli (Marxdalam Engel, 1994: 201).4. KESIMPULANDiantara ketiga variable yang diteliti,dimana Ketepatan penggunaan selebritiendorser Oreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di jejaring sosial mediaterhadap minat beli produk memiliki korelasisangat kuat. Hasil uji korelasi antara variableX1, X2, dengan Y diperoleh signifikansisebesar 0,000 yang menunjukkan bahwahubungan antar variable sangat signifikan. Jikanilai signifikansi < 0,05 berarti pengaruh antarvariable sangat signifikan. Maka hipotesisditerima. Dimana penggunaan selebriti yangtepat dalam iklan Oreo Ice Cream Orange,menjadikan iklan tersebut banyakdiperbincangkan di jejaring sosial media, yangmana secara tidak langsung dapatmempengaruhi sikap seseorang untuk tertarikmembeli produk tersebut.Pemanfaatan ketenaran endorserAfika dalam membintangi iklan tersebutmemiliki peluang dalam merubah sikapkonsumen, namun sifatnya temporer kecualijika konsumen dihadapkan secara kontinudengan menampilkan bintang iklan tersebutdalam iklan-iklannya. Dengan dihadirkannyaendorser yang tepat secara kontinu tentunyaakan dapat merubah sikap calon konsumenagar tertarik untuk membeli produk tersebut.5. DAFTAR PUSTAKAAndeas, Diki. 2010.Chickenstrip:Why Did The Chicken BrowseThe Social Media?. Jakarta : PT. Elex MediaKomputindoArens, William F. 2006.Contemporary Advertising. New York:McGrawHill/Irwin.Durianto, Darmadi., Sugiarto & ToniSitinjak. 2001. Strategi Menaklukan Pasar:melalui riset ekuitas dan perilaku merek.Jakarta : PT. Gramedia Pustaka UtamaEngel, J.F., Roger D. Blackwell &Paul W. Miniard. 1994. Perilaku konsumen(Edisi keenam Jilid 1). Alih Bahasa: Drs.Budijanto. Jakarta: Binarupa Aksara.Griffin, EM. 1997. A First Look AtCommunication Theory (Third Edition). TheMcGraw-Hill Companies, IncHasan, Ali. 2008. Marketing.Yogyakarta: MedPress.Holmes, David. 2005.Communication Theory: Media, Technology,Society. London, Thousand Oaks, New Delhi:Sage Publications.Ibnu Widiyanto. 2008. Pointers :Metodologi Penelitian. Semarang: BP UndipJuju, Dominikus & Feri Sulianta.2010. Branding Promotion with SocialNetwork. Jakarta: PT. Elex MediaKomputindo.Kardes, Frank R., Maria L. Cronley,and Thomas W. Cline. 2010. ConsumerBehaviour. USA : Cengage LearningKurniawan, Albert. 2009. BelajarMudah SPSS Untuk Pemula. Jakarta : PT.Buku Kita.Littlejohn, Stephen W., and Karen A.Foss. 2009. Encyclopedia of CommunicationTheory. London: Sage Publications.McQuail, Denis. 2000. Mediaperformance; mass communication and thepublic interest. London: Sage Publications.Nunnally dalam Ghozali, Imam.2001. Aplikasi Analisis Multivariate denganProgram SPSS, Badan Penerbit UniversitasDiponegoro, Semarang.Royan, Frans M. 2005. MarketingSelebritis. Jakarta : PT. Elex MediaKomputindoShimp, Terence A. 2000/2003.Advertising Promotion and Supplement Aspectof Integrated Marketing Communication 5thEdition ; Alih Bahasa : Periklanan Promosidan Aspek Tambahan Komunikasi PemasaranTerpadu, edisi ke-5 , Terjemahan: ReyvaniSyahrial. Jakarta : ErlanggaSuprapti, Ni Wayan, Sri. 2010.Perilaku Konsumen Pemahaman Dasar danAplikasinya dalam Strategi Pemasaran. Bali :Udayana University PressThurlow, Crispin dan kawan-kawan.2004. Computer Mediated Communication :Social Interaction and The Internet. London :Sage Publications.Trompenaars, Fons dan PeterWoolliams. 2004. Marketing Across Cultures.West Sussex, England: Capstone PublishingLtd.JurnalHarjadi, Dikdik & Dewi Fatmasari.,2008. Word of mouth (WOM) communicationsebagai alternatif kreatif dalam komunikasipemasaran. Equilibrium Vol 4 No.8, 72-78Internet(http://mix.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=816&Itemid=14, diaksespada tanggal 10 Maret 2012, pukul 01.45WIB)(http://dc204.4shared.com/doc/N6ZM5ijl/preview.html (Majalah MARKETING –Edisi Khusus TOP BRAND / 2008), diaksespada tanggal 22 Oktober, pukul 01.34 WIB)(http://www.mayora.com/ourcompany/mayora-at-a-glance/, diakses padatanggal 23 Oktober, pukul 20.00 WIB)(http://www.khongguan.co.id/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=6&Itemid=54, diakses pada tanggal 23Oktober, pukul 20.28 WIB)(http://www.topbrand-award.com/top-brandsurvey/survey-result/top-brand-result-2012/#,diakses pada tanggal 12 Maret, pukul 15:43WIB)(http://www.topbrand-award.com/top-brandsurvey/survey-report/, diakses pada tanggal 13November 2012, pukul 01:52 WIB)(http://media.kompasiana.com/mainstreammedia/2012/02/21/jangan-salahkan-afika-bila/,diakses pada tanggal 4 Maret 2012, pukul22:45 WIB)(http://www.scribd.com/doc/111639637/Kraft-Foods-Company, diakses pada tanggal 23Oktober, pukul 18:49 WIB)(http://poppyfriscilla.blogspot.com/2012/04/analisis-iklan-oreo-terbaru-dengan.html, diaksespada tanggal 18 Juni 2012, pukul 05:09 WIB)(http://www.hanyaoreo.com/products.php,diakses pada tanggal 23 Oktober 2012, pukul18:45 WIB)(http://www.idnewsblast.com/foto-profil-afikaiklan-oreo-ice-cream.html, diakses padatanggal 10 November 2012, pukul 02:21 WIB)(http://antumfiqolbi.wordpress.com/2012/03/19/kumpulan-komik-afika-update/, diakses padatanggal 10 November 2012, pukul 02:07 WIB)(http://salingsilang.com/baca/ketika-afikabernyanyi-paman-datang, diakses pada tanggal4 Maret 2012, pukul 21:36 WIB)(http://blogsiffahartas.blogspot.com/2011/07/produk-biskuit-oreo-produksi-pt-kraft.html,diakses pada tanggal 23 Oktober 2012, pukul18:17 WIB)(http://balakampret.blogspot.com/2012/02/kumpulan-komik-strip-lucu-afika-oreo.html,diakses pada tanggal 05 Maret 2013, pukul02:54 WIB)(http://salingsilang.com/baca/tren-twitterpekan-3-februari-valentine-angie-adele-danafika,diakses pada tanggal 4 Maret 2012,pukul 21:33 WIB(http://salingsilang.com/baca/pola-marketingdi-media-sosial, diakses pada tanggal 18 Juni2012, pukul 05:31 WIB)(http://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran_kreasi_konsumen, diakses pada tanggal 05 Maret2013, pukul 02.20 WIB)
PENGALAMAN KOMUNIKASI REMAJA YANG DIASUH OLEH ORANGTUA TUNGGAL Ulya Saida; Sri Widowati Herieningsih; Agus Naryoso; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.595 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus antara anak dengan orangtua tunggal yang mengalami kesulitan dalam hal pengasuhan anak. Di Indonesia sendiri terdapat tujuh juta perempuan yang yang menjadi kepala rumah tangga atau dengan kata lain mereka semua menjadi oragtua tunggal yang mengasuh anaknya seorang diri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pemaknaan pengasuhan anak di dalam keluarga yang dilakukan oleh orangtua tunggal. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Interactional View, Dialogue Theory, dan Teori Manajemen Privasi. Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada metode fenomenologi dari Clark Mustakas. Subjek penelitian ini adalah orangtua tunggal baik ibu maupun ayah serta anak remaja mereka (perempuan atau laki-laki) yang berusia 14-22 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga dengan orangtua tunggal tidak semua dapat dengan mudah bertahan dan beradaptasi terhadap kondisi keluarga yang dihadapinya saat ini terkait dengan pengasuhan anak yang dilakukan seorang diri tanpa adanya bantuan dari keluarga lainnya. Kedekatan hubungan yang terjalin antara anak dengan orangtua tunggal bergantung dari interkasi melalui percakapan yang dilakukan sehari -hari. Orangtua tunggal memiliki aturan-aturan tersendiri yang diterapkan di dalam keluarga, pola pengasuhan yang berbeda serta keluarga dengan orangtua tunggal tidak akan mendapatkan intervensi dari pihak ketiga atau dalam hal ini pihak luar seperti pasangan ataupun sanak saudara dalam pengasuhan terhadap anak. Dukungan yang diberikan orangtua tunggal terhadap anak memiliki dampak yang berbeda pada setiap anakPenelitian selanjutnya dapat mengkaji dengan menggunakan metoda penelitian yang lainnya seperti menggunakan pendekatan etnografi yang berusaha melakukan pengamatan dengan proses yang lebih panjang sehingga peneliti memahami betul bagaimana kehidupan keseharian subjek penelitian tersebut.Keyword: Hubungan Anak-Orangtua, Pengasuhan Anak, Orangtua Tunggal
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA,GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKAT Maya Puji Lestari; Agus Naryoso; Wiwied Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.075 KB)

Abstract

1ABSTRAKSIJudul : MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA, GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKATNama : MAYA PUJI LESTARINIM : D2C009032Anak tunawicara merupakan anak yang memiliki keterbatasan dan gangguan dalam berkomunikasi. Keterbatasan komunikasi ini yang membuat proses penyampaian dan pemaknaan pesan sulit dipahami oleh orang tua dan guru. Orang tua dan guru mempunyai peran sangat besar dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat kepada anak tunawicara, karena keterbatasan komunikasi seringkali membuat anak tunawicara sulit melakukan interaksi dengan masyarakat. Melakukan interaksi dengan orang lain merupakan hal yang perlu dilakukan oleh setiap orang tidak terkecuali anak tunawicara, sehingga salah satu hal yang harus dipahami oleh anak tunawicara ketika anak berinteraksi dengan masyarakat adalah berperilaku prososial dan mengindari perilaku antisosial.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini berusaha menjelaskan pengalaman unik orang tua, guru, dan anak tunawicara mengenai proses penyampaian pesan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal serta pemaknaan pesan terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara. Penelitian ini menggunakan Teori Manajemen Makna Terkoordinasi dan Teori Kinesik, yang menjelaskan bahwa dalam proses komunikasi dengan anak tunawicara, hal yang paling penting adalah pemaknaan pesan dan tindakan setelah menerima pesan. Proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua, guru, dan anak tunawicara seringkali menggunakan gerak tubuh sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang merupakan cara komunikasi yang dilakukan.Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa orang tua dan guru harus memiliki komitmen dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Kendala dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara adalah proses penyampaian dan pemaknaan pesan.Cara efektif yang dilakukan orang tua dan guru dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial kepada anak tunawicara adalah mendemonstrasikan pesan dengan menggunakan gerak tubuh. Selain proses penyampaian pesan secara verbal dan nonverbal, anak tunawicara memahami perilaku prososial dan antisosial dari perilaku yang ditunjukkan oleh orang tua dan guru dalam interaksi sehari-hari. Komunikasi Antar Pribadi antara orang tua, guru, dengan anak tunawicara dikatakan berhasil ketika anak tunawicara dapat memaknai pesan secara interpersonal bukan sekedar makna pribadi. Ketika anak tunawicara mampu memaknai pesan secara interpersonal, perilaku yang ditunjukkan oleh anak tunawicara akan sesuai dengan perilaku prososial yang diajarkan oleh orang tua dan guru. Anak tunawicara juga akan memahami bahwa perilaku antisosial harus dihindari di masyarakat.Kata kunci : keterbatasan dan gangguan komunikasi, prososial dan antisosial, makna dan tindakan2ABSTRACKTitle : UNDERSTANDING INTERPERSONAL COMMUNICATION EXPERIENCE BETWEEN PARENTS AND TEACHERS WITH COMMUNICATION DISORDER CHILD IN INCLUCATING PROSOCIAL AND ANTISOCIAL VALUES IN SOCIETYName : MAYA PUJI LESTARINIM : D2C009032Communication disorder child is a child who has limitations and disorders in communication. This limitations communication makes the process of delivering and meaning of messages is difficult to understood by parents and teachers. Parents and teachers have a very big role in inclucating prosocial and antisosial values in society to communication disorder child, because of limited communication often makes communication disorder child difficult to interact with the society. Interaction with other people is the thing to be done by every person no exception communication disorder child, so one of the things that must be understood by communication disorder child when the child interact with the society is prosocial behavior and avoid antisocial behavior.This study uses a qualitative descriptive type with phenomenological approach. This study attempts to explain the unique experience of parents, teachers, and communication disorder child about process of delivering a message using verbal and nonverbal communication as well as the meaning of messages related with prosocial and antisocial values are delivered by parents and teachers to communication disorder child. This study uses Coordinated Management of Meaning Theory and Kinesik Theory, which explains that in the process of communication with communication disorder child, the most important thing is the meaning of messages and the action after receiving messages. The process of delivering messages that is done by parents, teachers, and communication disorder child often use gestures as a form of nonverbal communication that is the way communication is done.Based on the results of the study, suggests that parents and teachers should have a commitment to nurturing and educating communication disorder child. Constraints in communication with communication disorder child is the process of delivering and meaning of messages. The effective way that done by parents and teachers in inculcating prosocial and antisosial values to communication disorder child is demonstrate with using gestures messages. Besides the process of delivering messages verbally and nonverbally, communication disorder child understanding the prosocial and antisocial from the behaviors are shown by parents and teachers in their daily interactions. Interpersonal communication between parents and teachers with communication disorder child is successful when the child can meaning of messages in interpersonal rather than personal meaning. When communication disorder child are able meaning of messages in interpersonal, the behaviors are shown by communication disorder child interpersonal, will suit with prosocial behavior that is taught by parents and teachers. Cmmunication disorder child will also understand that antisocial behavior should be avoided in the society.Key words : limitations and disorders communications, prosocial and antisocial, meaning and action3MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA,GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKATLatar BelakangPerilaku masyarakat yang seringkali mengasingkan atau membedakan anak tunawicara seperti menolak anak tunawicara untuk sekolah di sekolah umum dan juga terbatasnya sekolah inklusi bagi anak berkebutuhan khusus, sehingga hak anak untuk mendapatkan pendidikan tidak dimiliki oleh anak tunawicara. Hal seperti ini yang membuat anak tunawicara semakin bersikap antisosial di masyarakat, selain itu anak tunawicara juga memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan anak normal biasa seperti sering membentak, berteriak keras, berkemauan keras, dan juga sulit untuk diajarkan sesuatu. Sikap yang ditunjukkan anak tunawicara seperti ini membuat orang tua dan guru memiliki peran besar dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat, karena pada dasarnya setiap orang merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain,tidak terkecuali anak tunawicara.Penanaman nilai prososial dan antisosial merupakan salah satu hal yang penting, karena dalam berinteraksi dengan masyarakat, anak tunawicara harus memahami akan perilaku yang harus dilakukan dan harus dihindari. Anak tunawicara merupakan anak berkebutuhan khusus yang memiliki gangguan komunikasi, hal ini membuat proses komunikasi tidak berjalan dengan baik. Proses komunikasi bukan sekedar proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan, akan tetapi lebih menekankan kepada proses sharing meaning atau berbagi makna. Perilaku prososial yang diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara ditunjukkan dengan komunikasi instruksional dengan cara mendemontrasikan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal. Penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal merupakan salah satu cara untuk memudahkan anak memaknai pesan dengan mudah.Perumusan Masalah dan TujuanGangguan komunikasi yang dialami oleh anak tunawicara membuat orang tua, guru serta anak tunawicara mengalami kesulitan dalam memaknai setiap pesan yang dikomunikasikan. Sehingga dalam penelitian ini ingin mengetahui “Bagaimana4pengalaman komunikasi antarpribadi orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat?”Sehingga melalui penelitian ini ingin mendeskripsikan pengalaman komunikasi antarpribadi orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat yang fokus pada 1)mengetahui komitmen orang tua dan guru dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara, 2)mengetahui kendala komunikasi selama proses penyampaian pesan kepada anak tunawicara, 3)mengetahui konsistensi penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat.Kerangka Teori dan Metodologi PenelitianPeneilitian ini menggunakan Teori Manajemen Makna Terkoordinasi atau Coordinated Management of Meaning yang dikembangkan oleh W.Bernett Pearce, Vernon Cronen yang mengatakan bahwa ini merupakan pendekatan komprehensif terhadap interaksi sosiak yang memakai tata cara kompleks dari tindakan dan makna yang selaras dalam komunikasi. Teori ini membantu kita dalam memahami proses pemaknaan dan tindakan. Kunci pada teori ini adalah makna dan tindakan, interaksi serta cerita. (Littlejohn,2009:225)Keterbatasan komunikasi anak tunawicara tidak menghalangi hubungan interaksi diantara orang tua dan guru dengan anak tunawicara. Dalam proses penyampaian makna terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara diharapkan dapat dimaknai sebagaimana makna tersebut disampaikan oleh orang tua maupun guru dalam berkomunikasi dengan anak tuanawicara. Sehingga makna tersebut terbentuk dalam makna interpersonal bukan hanya sekedar makna pribadi. Manusia mengkoordinasikan makna dengan cara yang hierarkis, ini merupakan salah satu ciri inti dari CMM. Terdapat enam level makna dalam hierarki yang dibentuk yaitu isi, tindak tutur, episode, hubungan, naskah kehidupan, dan pola budaya. (Turner,2008:118-119)Proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua dan guru adalah menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal yang dalam penelitian ini menggunakan Teori Kinesik dari Birdwhistel yang menjelaskan tentang isyarat nonverbal yang menggunakan tubuh untuk mengisyaratkan pesan (Liliweru,1997:72).5Ray Birdwhistell dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semua tubuh dan anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dan komunikasi antar manusia.Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata – kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah dan cenderung menggunakan analisis induktif.Penelitian ini menggunakan pendekatan atau tradisi fenomenologi yang fokus pada pengalaman pribadi objek yang diteliti. Fenomenologi diartikan sebagai 1) pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal, 2) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang. Istilah fenomenologi sering digunakan sebagai anggapan umum bahwa menunjuk pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek yang ditemui. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. (Moelong, 2007: 14-15)Dapat dikatakan bahwa penelitian deskriprif kualitatif ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman pribadi objek yang diteliti. Sehingga seseorang dapat memahami tentang pengalaman pribadi objek yang diteliti karena semua informasi yang didapatkan oleh peneliti berdasarkan pengalaman pribadi yang dikomunikasikan dan informasi yang didapatkan dideskripsikan dan ditulis dalam bentuk naratif.Deskripsi Tekstural dan Struktural Pengalaman Komunikasi Antarpribadi Orang Tua, Guru dengan Anak Tunawicara dalam Menanamkan Nilai Prososial dan Antisosial di MasyarakatDeskripsi struktural merupakan deskripsi mengenai bagaimana fenomena dimaksud sebagai pengalaman. Deskripsi struktural meliputi perilaku sadar dalam berpikir dan memutuskan, berimajinasi, dan mengingat kembali untuk menemukan makna struktural dasar yang hanya dipahami melalui refleksi. Deskripsi tekstural adalah deskripsi dari sesuatu yang tampak sedangkan deskripsi struktural mendeskripsikan pengalaman yang tersembunyi. (Moustakas,1994:79)6Pengalaman unik yang ditemukan dari pengalaman informan dalam tiga bagian yang dikelompokkan adalah 1) komitmen orang tua dan guru dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Pengalaman unik orang tua dalam mengasuh anak tunawicara adalah dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara orang tua harus konsisten menggunakan satu bahasa yang mana bahasa merupakan media komunikasi. Guru mempunyai pengalaman dalam mendidik anak tunawicara seorang guru harus mampu memahami bahasa isyarat nonverbal SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) yang seringkali digunakan anak tunawicara untuk melakukan komunikasi.Bagian yang ke 2) kendala komunikasi dengan anak tunawicara. Pengalaman orang tua ketika berkomunikasi dengan anak tunawicara adalah orang tua mengalami kesulitan dalam menanamkan iman dan kepercayaan kepada anak, karena orang tua tidak dapat memberikan contoh secara nyata kepada anak tunawicara. Penggunaan bahasa isyarat SIBI yang dilakukan oleh anak tunawicara sulit untuk dipahami oleh orang tua. Sedangkan kendala yang dialami oleh guru adalah dalam mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia yang lebih kepada mengenalkan kata dan makna kepada anak tunawicara.Bagian yang ke 3) konsistensi penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal sebagai pembelajaran penanaman nilai prososial dan antisosial di masyarakat. Pengalaman komunikasi yang diungkapkan oleh orang tua dan guru ketika mengajarkan anak untuk memahami nilai prososial dan antisosial adalah dengan mendemonstrasikan pesan kepada anak tunawicara yaitu menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal.Sintesis Makna Tekstural dan StrukturalCara berkomunikasi yang digunakan oleh orang tua dan guru dengan anak tunawicara adalah komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi nonverbal biasanya digunakan untuk menekankan pesan yang disampaikan. Orang tua dan guru lebih menggunakan komunikasi verbal untuk melatih anak berkomunikasi, dalam penyampaikan pesan terkait dengan penanaman nilai prososial dan antisosial, orang tua lebih sering mendemontrasikan kepada anak tentang perilaku prososial. Dalam mendemonstrasikan, orang tua lebih banyak menggunakan bahasa nonverbal.Teori Kinesik dari Birdwhistel menjelaskan tentang isyarat nonverbal yang menggunakan tubuh untuk mengisyaratkan pesan (Liliweri, 1997:72). Ray Birdwhistell dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semua gerakan tubuh dan7anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dan komunikasi antar manusia (Liliweri, 1997:72). Bagi anak tunawicara isyarat nonverbal merupakan cara komunikasi yang dilakukan anak dalam menyampaikan setiap pesan. Gerakan tangan dan gerakan tubuh lainnya yang dilakukan oleh anak tunawicara dalam berkomunikasi mengisyaratkan pesan, setiap gerakan isyarat yang dilakukan memiliki makna pesan, sehingga semua gerakan tubuh dan anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dalam proses komunikasi dengan orang lain.Hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh anak tunawicara saja, akan tetapi orang tua dan juga guru yang akan berkomunikasi dengan anak tunawicara. Ketika orang tua dan guru menyampaikan pesan kepada anak tunawicara dengan menggunakan komunikasi nonverbal, orang tua dan guru menggunakan gerakan tubuh untuk menekankan pesan yang disampaikan. Terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara, proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua adalah lebih menggunakan demonstrasi yang didalamnya menggunakan gerak tubuh, isyarat tangan dan ekspresi wajah. Setiap gerakan tangan dan tubuh lainnya memiliki makna pesan yang harus diinterpretasikan oleh anak tunawicara sesuai dengan makna pesan yang dimaksudkan oleh orang tua.Orang tua menjelaskan kepada anak akan nilai prososial dan antisosial , dengan menggunakan bahasa nonverbal dan mendemonstrasikannya seperti contoh anak tidak boleh berbohong orang tua menjelaskan bohong itu dosa dengan mendeskripsikan menunjuk keatas yang artinya Tuhan ditambah dengan ekspresi nonverbal yang memperlihatkan wajah dengan raut muka yang marah, mata melotot. Selain itu dipertegas lagi dengan orang bohong mulutnya lebar, dengan ekspresi mulut dibuka lebar dengan mata melotot. Deskripsi itu menjelaskan bahwa bohong tidak boleh, sehingga dapat dilihat bahwa setiap gerakan tubuh dan ekspresi yang digunakan untuk mengkomunikasikan setiap pesan memiliki makna.Paul Eckmandan Wallace V.Friesen memberikan beberapa klasifikasi gerakan tubuh yaitu emblems, ilustrator, affect display, regulator, dan adaptor (Devito,1997:187). Berdasarkan penuturan sebelumnya, orang tua dan guru mendemonstrasikan dengan menggunakan beberapa klasifikasi gerakan tubuh seperti ilustrator adalah perilaku nonverbal yang mengilustrasikan pesan verbal dengan menggunakan isyarat badan dengan gerakan gerakan tangan. Kemudian affect display8merupakan gerakan wajah yang mengandung makna emosional, seperti ekspresi marah dengan mata melotot, mulut dan mulut dibuka lebar yang ditunjukkan orang tua ketika menjelaskan suatu pesan kepada anak tunawicara.Berdasarkan penelitian mengenai pengalaman komunikasi antar pribadi antara orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat ini menunjukkan bahwa penelitian ini merujuk pada paparan teoritis dari Teori Manajemen Makna Terkoordinasi (Coordinated Management of Meaning) yang fokus pada hubungan antar individu dan bagaimana seseorang memberi makna pada pesan dan pentingnya mengatur koordinasi mengenai suatu makna pesan. Koordinasi adalah usaha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan. (Turner, 2008:122)Kesesuaian Teori Manajemen Makna Terkoordinasi dengan penelitian ini adalah proses komunikasi antar pribadi antara orang tua dengan anak tunawicara serta guru dengan anak tunawicara yang membentuk suatu hubungan atau relasi diantara keduanya, baik hubungan dalam keluarga maupun di lingkungan sekolah. Relasi yang terbangun tersebut akan membantu anak tunawicara yang memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan yang dimaksudkan. Hubungan dalam suatu komunikasi akan sangat membantu antara komunikator dan komunikan yaitu orang tua, guru, serta anak tunawicara yang masing-masing dapat berperan sebagai komunikator dan komunikan.Anak tunawicara merupakan anak berkebutuhan khusus yang secara spesifik memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, sehingga proses pemaknaan pesan yang disampaikan tidak semudah ketika seseorang menyampaikan pesan dengan orang lain yang tidak memiliki keterbatasan komunikasi. Anak tunawicara memiliki kendala dalam mengkoordinasikan setiap pesan secara berurutan yang ditangkapnya dan kesulitan dalam memaknai setiap pesan yang ada. Hal yang terpenting dalam berkomunikasi adalah makna yang disampaikan dapat diterima dan dimaknai sesuai dengan makna pesan yang dimaksudkan. Sehingga yang ditekankan dan sangat penting dalam penelitian ini adalah proses pemaknaan pesan yang dilakukan oleh anak tunawicara terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru. Dalam penyampaian pesan tersebut, tidak terlepas dari sebuah interaksi komunikasi yang berada dalam sebuah hubungan atau relasi antar keduanya.9Pearce (1989) menyatakan bahwa koordinasi lebih mudah ditunjukkan daripada dijelaskan, maksudnya cara terbaik untuk memahami koordinasi adalah dengan mengamati orang-orang berinteraksi dalam sehari-hari. Karena orang memasuki suatu percakapan dengan kemampuan dan kompetensi yang berbeda-beda, mencapai koordinasi dapat menjadi sulit pada saat-saat tertentu. Selain itu, koordinasi dengan orang lain merupakan hal yang penuh tantangan sebagiannya karena orang lain juga sedang berusaha untuk mengkoordinasikan tindakannya dengan tindakan kita. (Turner,2008:122)Anak tunawicara memahami koordinasi atau mengartikan pesan-pesan yang disampaikan orang tua mengenai nilai prososial dan antisosial lebih kepada anak mengamati orang tua dalam berinteraksi sehari-hari. Seperti perilaku sopan santun, saling menolong, menghormati orang lain, anak tunawicara mengerti mengenai perilaku tersebut dari dia melihat sikap orang tuanya kepada orang lain ketika bertemu dengan tetangga yang memberikan senyuman. Pesan tersebut dikoordinasikan oleh anak karena dia mengamati orang tuanya, orang tua dalam menjelaskan nilai prososial dan antisosial ini juga lebih mengkomunikasikan melalui contoh atau demontrasi. Hal tersebut ternyata sangat membantu anak mengkoordinasikan pesan yang disampaikan. Hanya menggunakan komunikasi secara verbal dirasa susah untuk dikoordinasikan oleh anak karena kemampuan komunikasi verbal lisan yang sangat kurang dari anak tunawicara.Pembelajaran nilai prososial dan antisosial di masyarakat yang dilakukan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara ini menerangkan mengenai instruksi yang ditunjukkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara untuk berperilaku prososial. Instruksi yang disampaikan tersebut menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal seperti gerak tangan dan tubuh. Pesan yang disampaikan tersebut kemudian diterima oleh anak tunawicara, dalam proses penerimaan pesan, anak kemudian akan memaknai pesan yang disampaikan sesuai dengan pemahaman anak untuk mentafsirkan pesan. Tahapan selanjutnya adalah mengenai umpan balik yang diberikan oleh anak tunawicara kepada orang tua dan guru. Umpan balik adalah komunikasi yang diberikan pada sumber pesan oleh penerima pesan yang menunjukkan pemahaman makna. (Turner,2007:13)Umpan balik atau feed back merupakan suatu respon yang ditunjukkan oleh anak tunawicara kepada orang tua dan guru. Ketika pesan yang ingin disampaikan10kepada anak tunawicara dalam menyampaikan pesan kepada anak tunawicara. Proses penyampaian pesan yang dilakukan tersebut menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal yang diharapkan pesan tersebut dapat dimakanai oleh anak tunawicara. Setelah proses pemaknaan terjadi, anak tunawicara kemudian menunjukkan perilaku yang merupakan hasil dari komunikasi instruksional yang dapat dikontrol dan dikendalikan dengan baik.KesimpulanBerdasarkan pembahasan yang sudah dipaparkan mengenai pengalaman unik dari temuan penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa :1. Mengasuh dan mendidik anak tunawicara harus didasari dengan komitmen yang diambil oleh orang tua. Komitmen yang ditunjukkan orang tua adalah kesiapan dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Cara pengasuhan yang tepat bagi anak tunawicara adalah cara pengasuhan authoritative yaitu cara pengasuhan yang memiliki keseimbangan antara responsiveness dan demandingness. Pola pengasuhan ini menunjukkan bahwa orang tua memberikan kasih sayang, keluasan, dan kebebasan kepada anak tunawicara akan tetapi tetap memberikan pengawasan kepada anak tunawicara. Keterbatasan komunikasi anak tunawicara juga harus dipahami oleh orang tua dengan orang tua memiliki komitmen dalam berkomunikasi menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal seperti mendeskripsikan, mengilustrasikan, dan mendemonstrasikan pesan supaya mudah dipahami oleh anak serta konsisten menggunakan satu bahasa ketika melakukan komunikasi dengan anak tunawicara.2. Guru SMALB memiliki komitmen dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara, komitmen yang ditunjukkan oleh guru adalah dalam control atau mengawasi perilaku prososial dan antisosial anak tunawicara selama berada di sekolah. Guru juga berperan dalam memberikan pembelajaran bagi anak tunawicara. Sikap yang ditunjukkan guru kepada anak tunawicara adalah penuh kasih sayang dan penuh kesabaran yang merupakan salah satu hal yang terpenting untuk membuat proses belajar mengajar menjadi nyaman dan menyenangkan. Selain itu, guru SMALB juga harus memiliki kemampuan dalam menguasai bahasa nonverbal seperti isyarat SIBI yang merupakan salah satu cara komunikasi yang dilakukan oleh anak tunawicara. Kemampuan guru11dalam berkomunikasi secara verbal dan nonverbal akan membantu proses penyampaian pesan kepada anak tunawicara.3. Kendala komunikasi yang dialami oleh orang tua dan guru adalah pada cara penyampaian pesan kepada anak tunawicara. Orang tua merasa kesulitan ketika menjelaskan kepada anak mengenai sesuatu yang sifatnya tidak dapat dilihat dan ditunjukkan secara nyata seperti menjelaskan mengenai iman dan kepercayaan kepada anak tunawicara. Selain itu, orang tua juga mempunyai kendala dalam memaknai pesan yang disampaikan oleh anak tunawicara ketika anak menggunakan isyarat SIBI. Hal ini disebabkan karena orang tua tidak mengerti arti dari setiap gerak jari yang digunakan oleh anak tunawicara.4. Orang tua dan guru dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara tetap menggunakan komunikasi verbal untuk melatih kemampuan berbicara anak tunawicara, sedangkan komunikasi nonverbal yang digunakan orang tua dan guru berfungsi untuk menekankan, melengkapi dan untuk mengatur pesan yang disampaikan kepada anak tunawicara. Anak tunawicara cenderung lebih memilih menggunakan komunikasi nonverbal dalam berkomunikasi karena komunikasi nonverbal bagi anak tunawicara adalah untuk menggantikan komunikasi verbal.5. Proses penyampaian pesan oleh orang tua dan guru mengenai nilai prososial dan antisosial untuk mengajarkan perilaku baik dan buruk kepada anak tunawicara ini disajikan dengan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal dengan cara mendemonstrasikan kepada anak tunawicara. Selain mendemonstrasikan, orang tua dan guru juga memberikan contoh yang dapat dilihat oleh anak tunawicara. Anak tunawicara akan lebih mudah memahami pesan mengenai perilaku baik dengan melihat sikap atau perilaku prososial yang ditunjukkan orang tua dan guru dalam keseharian seperti sopan santun dan saling menolong dengan orang lain.6. Proses pemaknaan pesan tidak sekedar memaknai pesan secara pribadi, akan tetapi lebih pada pemaknaan interpersonal. Makna pribadi merupakan makna yang dicapai seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain sambil membawa pengalamannya yang unik kedalam interaksi, sedangkan makna interpersonal merupakan pemaknaan bersama yang diartikan sebagai hasil yang muncul ketika dua orang sepakat akan interpretasi satu sama lain mengenai sebuah12interaksi. Pesan yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara mengenai perilaku yang baik yang harus dilakukan dan perilaku antisosial yang harus dihindari dapat dimaknai secara berbeda oleh anak tunawicara, tergantung pemaknaan yang dilakukan oleh anak yaitu pemaknaan pribadi atau interpersonal. Proses pemaknaan pesan yang baik adalah ketika seseorang dapat memaknai pesan secara interpersonal, yaitu pencapaian makna secara bersama.7. Perilaku yang ditunjukkan anak tunawicara adalah berdasarkan pemaknaan pesan yang dilakukan. Ketika pesan dari orang tua dan guru dimaknai secara interpersonal, perilaku anak tunawicara akan sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua dan guru yaitu anak akan berperilaku baik sesuai dengan nilai prososial. Perilaku anak tunawicara tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua dan guru ketika anak hanya memaknai pesan secara pribadi, yang menunjukkan bahwa anak memiliki kecenderungan berperilaku antisosial.Daftar PustakaAbdurrachman, Muljono dan Sudjadi.1994.Pendidikan Luar Biasa Umum.Jakarta:Departemen Pendidikan dan KebudayaanAbercrombie, Nicholas dkk.2010. Kamus Sosiologi. Yogyakarta:Pustaka PelajarArsjad, Maidar G. Dan Mukti U.S.1987.Pembinaan Kemampuan BerbicaraBahasa Indonesia.Jakarta:ErlanggaBeebe, Steven A., Susan J. Beebe, Mark V. Redmond.2005.InterpersonalCommunication Relating to Others.Fourth Edition.USA:Pearson Education,IncDevito, Joseph.1997.Human Communication. Jakarta : Pustaka Utama GrafitiDjamarah,Syaiful Bahri.2002.Psikologi Belajar.Jakarta:Rineka CiptaEffendi, Onong Uchjana. 1992. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung:PT Remaja RosdakaryaLe Poire, Beth A.2006.Family Communication.London: Sage PublicationsLiliweri, Alo.1997.Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT Citra Aditya BaktiLittlejohn, Stephen W.2007. Theories of Human Communication.Jakarta:Salemba HumanikaLittlejohn, Stephen W.2009. Teori Komunikasi. Jakarta : Salemba Humanika13Moelong, Lexy Jhon.2008.Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung :PT Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark.1994.Phenomenological Research Methods.London:Sage PublicationsMuhammad, Arni.2009.Komunikasi Organisasi.Jakarta:PT Bumi AksaraMulyana, Dedy.2001.Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar.Bandung: PTRemaja RosdakaryaPurwanto, Heri . 1998. Ortopedagogik Umum. Yogyakarta : IKIP YogyakartaRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta:Pustaka PelajarSardjono.2000. Ortopedagogik Anak Tunarungu. Surakarta:UNS PressSoekanto, Soerjono.2006.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta:RajaGrafindo PersadaSoewito dan Soejono.1999.Komunikasi Total. Jakarta: Bumi AksaraSutaryo.2005.Sosiologi Komunikasi.Yogyakarta:Arti Bumi IntaranTelford, Charles W. dan James M. Swrey.1995 Education for Children withSpecial Needs. Bandung: Remaja RodsakaryaTubbs, Stewart L.2001.Human Communication.Bandung: PT Remaja RosdakaryaTurner, Richard West. 2009. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta :Salemba HumanikaYusuf, Pawit M.1990.Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Instruksional.Bandung:PT Remaja Rosda Karya
Audit Media Relations Humas Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah untuk Peningkatan Publisitas Lizzatul Farhatiningsih; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.895 KB)

Abstract

Nama : Lizzatul FarhatiningsihNIM : D2C009011Judul : Audit Media Relations Humas Sekretariat Daerah ProvinsiJawa Tengah untuk Peningkatan PublisitasABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi karena kurang berperannya Biro HumasSetda Jawa Tengah dalam melakukan fungsi kehumasan terhadap PemerintahProvinsi Jawa Tengah. Humas telah melakukan banyak kegiatan namun efeknyapada pemberitaan tentang Pemerintah Provinsi yang muncul belum terasa. Namunkesesuaian melakukan banyak kegiatan tersebut belum diimbangi denganpemberitaan-pemberitaan positif yang muncul di media massa baik cetak maupunelektronik. Hal tersebut menyebabkan terjadinya aksi di masyarakat yangmemperburuk citra Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.Metode yang digunakan adalah metode audit komunikasi. Tipe penelitianini adalah tipe penelitian deskriptif, di mana tipe penelitian ini terbatas pada usahamengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan bertujuanuntuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, danakurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena ataukegiatan yang dilakukan oleh Biro Humas Setda Provinsi Jawa Tengah yangberkaitan dengan media relations. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalahteknik wawancara mendalam kepada delapan orang yang terdiri dari pimpinan danstaf Biro Humas serta wartawan baik dari media massa cetak maupun elektronikyang berkaitan dengan Humas.Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa kinerja Humas Setda JawaTengah belum efektif. Kegiatan media relations yang dilakukan masih terbataspada kegiatan yang biasa dari tahun ke tahun mereka lakukan. Padahal,semestinya Humas mampu memahami, memiliki pengetahuan yang terusberkembang dan maju, serta melakukan lebih dari itu. Hal ini dikarenakanbanyaknya ketimpangan yang terjadi di Humas. Pemahaman mengenai mediarelations masih menitik beratkan pada fokus tujuan Humas saja yaitu untukmendapatkan publisitas, pemahaman mengenai tools media relations yang belumberkembang, belum adanya SDM yang kompeten dalam melaksanakan tugaspokok dan fungsi, minimnya anggaran, dan kewenangan yang terbatas membuatkinerja Humas menjadi kurang efektif. Dengan hasil audit komunikasi ini, pihakPemerintah Provinsi Jawa Tengah terutama Sekretariat Daerah Jawa Tengah perlumelakukan perbaikan terhadap fungsi maupun kewenangan Humas agar kinerjaHumas menjadi lebih efektif dan meningkatkan publisitas positif di media massa.Kata kunci: Audit Komunikasi, Media Relations, Public Relations, Publisitas.Nama : Lizzatul FarhatiningsihNIM : D2C009011Judul : Media Relations Audit of Public Relations in Region SecretariatCentral Java Province for Increasing The PublicityABSTRACTThis research is backgrounded of less contribution from Public Relations RegionSecretary Central Java Province when they do their function. Public Relationshave been doing many activities but the effect in news mass media about theGovernment of Central Java Province is nothing yet. However, doing moreactivity is not balance with appearing the good news in mass media, both printand electronic media. It causes many actions in society that make the bad imageof Government of Central Java Province.Communications audit methods is used in this research. Reseacher usesdescriptif research type that this research limited to the efforts to reveals aproblem or situation as it is and aims to create a picture or description of thepainting in a systematic, factual, and accurate information on the facts,characteristics, and relations between phenomena or activities conducted byPublic Relations in Region Secretariat Central Java Province related to mediarelations. In this research, used indepth interview technique to collect theinformation to eight people that consist of head, leader, staf of Public Relationeither reporters from print and electronic media.The outcomes from this research is the activity in Public Relations RegionSecretariat Central Java Province is not effective. Media relations activity thatconducted are limited to their annual activity. Besides, Public Relations should beable to understand, develop the knowledge, and do more than it. It is caused muchunbalances in Public Relations. Understanding of media relations is still focusedon the goal of Public Relations is only to get publicity, undevelop ofunderstanding media relations tools, nothing humans resources that competencewith main duty and functions of Public Relations, minimum budgeting andfacilities, and limited authority that makes the performance of Public Relations isnot effective. The outcome of this communication audit, Central Java Province,espescially Region Secretariat of Centra Java need an improvement in PublicRelations’function and competence. In order to make Public Relations’s task bemore effective and increasing positive publicity in mass media.Keywords: Communication Audit, Media Relations, Public Relations, Publicity.JURNALAudit Media Relations Humas Setda Jawa Tengah untukPeningkatan PublisitasLIZZATUL FARHATININGSIHD2C009011JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANKeberadaan Public Relations atau Humas sangat dibutuhkan olehperusahaan-perusahaan maupun instansi pemerintah. Fungsi-fungsi dan tugastugasHumas sangat menunjang kelangsungan hidup dan mempengaruhi citra darisuatu instansi pemerintah. Humas merupakan suatu profesi dengan proseskomunikasi kepada publik atau dengan kata lain Humas menghubungkan antaralembaga/instansi dengan publiknya baik eksternal maupun internal. Dalamkonteks lembaga publik seperti pemerintah, peran melayani dan mengembangkandukungan publik guna mencapai tujuan organisasi merupakan hal yang sangatpenting. Pemberitaan yang beredar mengenai instansi pemerintah merupakansalah satu tanggung jawab besar bagi Humas.Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah (Setda ProvJateng) merupakanunsur pembantu pimpinan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dipimpin olehSekretaris Daerah, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur.Sekretariat Daerah Provinsi bertugas membantu Gubernur dalam melaksanakantugas penyelenggaraan pemerintahan, administrasi, organisasi dan tata laksanaserta memberikan pelayanan administrasi kepada seluruh Perangkat DaerahProvinsi. Divisi Humas Setda Jateng bertugas memberikan informasi danpenjelasan mengenai kebijakan-kebijakan yang akan atau telah dilakukan olehpemerintah/instansi, menciptakan hubungan yang harmonis antara pemerintahdengan publiknya. Untuk dapat melakukan tugas-tugas tersebut Humas harusmelakukan berbagai macam kegiatan komunikasi yang berbeda untuk masingmasingpublik, baik internal maupun eksternal.Media massa memegang peran dalam tugas Humas tersebut karena mediamassa dapat menimbulkan kesadaran terhadap sesuatu, mempersuasi ataumengajak untuk melakukan hal tertentu, serta mengubah sikap, pendapat, atauperilaku seseorang. Menurut Wasesa dalam Political Branding and PublicRelations (2011 : 18) agar suatu citra sebuah merek baik komersial maupunpolitik dapat melekat di benak konsumen atau audiens, perlu dilakukanrehabilitasi setiap 3 bulan sekali agar loyalitas konsumen pun tercipta. Haltersebut dapat diartikan menjadi institusi pemerintah, khususnya Humas SetdaJateng perlu melakukan pembaharuan, pencerahan, analisis, atau evaluasi di setiap3 bulan untuk dapat mempertahankan loyalitas dalam hal ini adalah loyalitaspihak-pihak eksternal terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, seperti pers danmasyarakat.Pemerintah Provinsi Jateng yang dipimpin oleh Gubernur Bibit Waluyobanyak menuai prestasi selama melaksanakan tugas memimpin Jawa Tengah,akan tetapi, pemberitaan mengenai prestasi yang diraih oleh Pemerintah ProvinsiJawa Tengah tersebut rupanya tidak terlalu mendapat perhatian publik ketikamedia menyiarkan pemberitaan tersebut, justru beberapa kasus yang dialami olehPemerintah Provinsi Jawa Tengah baik Gubernur Bibit Waluyo besertajajarannyalah yang belakangan ini lebih menjadi sorotan dan kemudianberpengaruh terhadap sikap masyarakat dan opini masyarakat kepada pemerintah.Seperti kasus yang terjadi ketika Gubernur Bibit Waluyo memberikan pernyataanmengenai kesenian Jathilan atau jaran kepang dengan menyebut Jathilan sebagaikesenian terjelek di dunia.Kegiatan media relations yang selama ini telah dilakukan oleh HumasSetda Pemprov Jateng antara lain konferensi pers, press release, press luncheon,dan talk show. Selain itu ada pula anggaran APBD dengan jumlah yang cukupbesar yang diberikan kepada organisasi-organisasi wartawan Jawa Tengah, sertapembuatan Forum Komunikasi Wartawan Jawa Tengah yang dipimpin olehSekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah. Beberapa kebijakan dan kegiatantersebut merupakan upaya menjalin hubungan yang baik sehingga kiranya dapatmeningkatkan publisitas dan meminimalisir pemberitaan negatif di media massa.Tetapi, meskipun Humas Setda Jateng sudah melakukan berbagai kegiatan danupaya tersebut, pada kenyataannya pemberitaan mengenai Pemerintah ProvinsiJawa Tengah masih didominasi oleh munculnya pemberitaan yang negatif baik dimedia cetak maupun elektronik.Oleh sebab itu, yang kemudian menjadi pokok permasalahan adalahbagaimana kegiatan Media Relations Humas Sekretariat Daerah PemerintahProvinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan publisitas?Penelitian ini diharapkan dapat memperdalam kajian Teori MediaRelations yang berkaitan dengan audit media relations serta diharapkanmemberikan kontribusi bagi Humas Setda Provinsi Jawa Tengah pada khususnyadan humas di seluruh instansi pemerintah daerah pada umumnya untukmenentukan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menjalin hubunganyang baik dengan media massa agar dapat meningkatkan publisitas instansitersebut. Penelitian ini mengambil pemikiran-pemikiran tentang media relationsIriantara, teori media relations Lesley suatu hubungan dengan media komunikasiuntuk melakukan publisitas atau merespon kepentingan media terhadap organisasidan berguna untuk memberikan informasi kepada masyarakat karena kaitannyadengan media massa dan pers selain itu juga bermanfaat untuk memperolehdukungan dan kepercayaan masyarakat. Kegiatan-kegiatan media relations antaralain, Press Conference, Press Tour, Press Reception, Press Briefing, PressStatement, Press Interview, Press Gathering, Press Release, Media Advisory,Press Kit, Press Room, Media List, Talkshow. Ada pula teori-teori tentang auditkomunikasi, Jane Gibson dan Richard Hodgetss (1991 : 453) dalam bukunyaOrganizational Communication: A Manajerial Perspective dalam Hardjana (2000: 10) yaitu suatu analisis yang lengkap atas sistem-sistem komunikasi internal daneksternal dari suatu organisasi.Audit public relations merupakan komponen reguler dari banyak programpublic relations. Mereka menyediakan data input bagi perencanaan programpublic relations pada masa mendatang dan membantu mengevaluasi efektivitaskerja sebelumnya. Agensi Joyece F.Jones dan Ruder Finn Rotmann yang dikutipBakin, Aronoff & Lattimore (1997 : 124) menjelaskan proses audit dalam empatproses :1. Mencari tahu apa yang “kita” pikirkan (finding out what “we” think)2. Mencari tahu apa yang “mereka” pikirkan (finding out what “they” think)3. Mengevaluasi kesenjangan sudut pandang di antara keduanya (Evaluatingthe disparity)4. Memberi Rekomendasi (Recomending)ISIPenelitian ini terbagai ke dalam dua bab pembahasan yang membahas mengenaikesesuaian kinerja Humas atau kegiatan-kegiatan media relations yang dilakukandengan konsep dan mencari tahu mengenai kebutuhan Humas dalam rangkapeningkatan kerja dan jika diperlukan perbaikan di dalamnya. Pembahasantersebut antara lain sebagai berikut :1. Pemahaman media relations : Humas Setda Jawa Tengah sendiri memahamimedia relations sebagai upaya menjalin hubungan baik dengan media massauntuk mempublikasikan kegiatan pimpinan daerah seperti Gubernur, WakilGubernur, Setda, dan lainnya kepada masyarakat sesuai dengan kedudukanHumas sebagai Kominfo, Komunikasi dan Informasi. Humas perlu jugamemahami tools media relations dan bahwa media relations merupakanupaya menjalin hubungan yang baik dengan wartawan serta bagaimanamenyampaikan informasi-informasi kepada masyarakat dengan tepat.2. Tujuan kegiatan media relations : bertujuan untuk menjalin hubungan yangbaik dengan media, bekerja sama, memaksimalkan publisitas dari kegiatankegiatanpara pejabat pimpinan daerah seperti Gubernur, Wakil Gubernur,Sekretaris Daerah dan Asisten Daerah. Humas seharusnya perlu memahamitujuan-tujuan kegiatan media relations yang lain, yaitu perlunya memperolehumpan balik dari masyarakat mengenai upaya dan kegiatanlembaga/organisasi yang telah dilakukan karena hal tersebut akan menjadisalah satu dasar bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan-perbaikankinerja yang dilakukan.3. Target audience kegiatan media relations : menyasar seluruh media massabaik lokal maupun nasional dan baik cetak maupun elektronik yang memilikikredibilitas, dapat memberitakan suatu berita secara objektif, serta ikutmelakukan fungsi informatif dan edukatif kepada masyarakat. Humasseharusnya menerapkan absensi bagi wartawan yang hadir dalam setiapkegiatan yang dilaksanakan, karena hal tersebut merupakan salah satu carauntuk melakukan kontrol terhadap ketepatan sasaran Humas.4. Jenis kegiatan media relations : Hanya sedikit dari kegiatan media relationsyang diketahui dan dilakukan dengan baik oleh Humas. Humas kurangmemaksimalkan sebagian besar kegiatan media relations dan terlihat hanyasekedar formalitas dalam melaksanakannya. Banyak persiapan yang tidakdilakukan secara matang seperti persiapan tempat, waktu, yang lebihmengandalkan keseluruhan kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secaraincidental. Perlu dipahami bahwa saat ini kegiatan media relations mulaiberkembang dan lebih beraneka ragam. Selain itu, Humas harus mengetahuikarakteristik dan perbedaan teknik pelaksanaan masing-masing kegiatanmedia relations. Anggaran dana dan fasilitas yang disediakan oleh pemerintahjuga bisa lebih dimanfaatkan untuk memaksimalkan kegiatan.5. Analisis Masalah : Pendekatan research maping media dengan melakukanmonitoring belum dapat dilakukan dengan baik oleh Humas karena saat iniyang dilakukan oleh Humas adalah sekedar melakukan kliping berita tanpamenganalisis, sehingga hal tersebut akan berdampak pada kurangmaksimalnya pelaksanaan respon krisis pemberitaan. Biro Humasmembutuhkan staf-staf yang lebih mengerti mengenai pekerjaan kehumasan.Bagaimanapun juga, Biro Humas harus melakukan maping media secaraperiodik dengan melakukan analisis pada pemberitaan-pemberitaan yang dikliping setiap harinya. Selain itu respon pada krisis pemberitaan juga harussegera dilakukan jika diperlukan. Humas harus memahami bahwa mapingmedia bukan hanya sekedar kliping, tetapi mengumpulkan pemberitaan, sertapembuatan analisis dari pemberitaan tersebut dan membuat kecenderungan isimasing-masing media massa secara periodik6. Indikator berita : Indikator berita yang diterapkan Humas yaitu visi misi daripemerintah rupanya belum dapat dimaksimalkan karena analisis berita sendiritidak dilakukan dengan baik. Humas harus memahami bahwa indikatorpemberitaan yang merupakan visi misi dari pemerintah menjadi salah satufaktor penentu bagaimana hasil dari maping media yang dilakukan olehHumas. Baik pimpinan maupun staf perlu menangani secara seriusterhambatnya proses maping media tersebut. Selain merupakan visi dan misi,harusnya Humas juga memiliki indikator-indikator tetap yang akan selaluberlaku meski terjadi pergantian pemerintahan sebagai tolok ukur mendasarpenilaian terhadap suatu berita.7. Budgeting kegiatan media relations : Perencanaan anggaran kegiatan mediarelations di Humas telah dilakukan namun memang masih kurang maksimal.Humas dalam melakukan budgeting perlu memperhatikan beberapa hal yaituperencanaan yang ditulis secara rinci dan lebih mendetail untuk anggaranbagi setiap kebutuhan yang mungkin diperlukan. Selain itu, dalam melakukanperencanaan anggaran seharusnya Humas juga mempertimbangkan danacadangan yang sekiranya dibutuhkan, terlebih jika terdapat wartawanwartawanyang memang meminta upah kepada Humas setelah melakukanpeliputan8. Time schedule : Humas tidak memiliki time schedule yang jelas denganalasan bahwa mereka bekerja incidental sesuai dengan kegiatan-kegiatanyang dilakukan oleh Gubernur yang tidak bisa direncanakan pada jauh harisebelumnya. Humas seharusnya membuat time table perencanaan suatukegiatan atau event yang akan diselenggarakan. Selain itu, pembagian kerjadalam setiap kegiatan juga harus diperjelas dengan membuat job descriptionyang lebih rinci bagi masing-masing orang karena selama ini terlihat ketidakteraturan koordinasi yang memang berjalan berdasarkan kebiasaan. Pimpinanjuga harus mengecek kesiapan staf dalam menangani kegiatan tersebut dariawal hingga evaluasi dilakukan.9. Strategi dan taktik : Humas masih mengandalkan sistem menghafal dankebiasaan dalam melakukan setiap kegiatan media relations. Oleh sebab itu,Humas perlu memiliki SOP secara tertulis yang menjadi pedoman pengerjaandari setiap kegiatan. Pembagian tugas kerja yang jelas juga harus diterapkandari awal perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Sebagai pimpinan, KepalaBiro dapat menjadi fasilitator untuk saling tukar menukar pikiran danpendapat mengenai kinerja Humas antara bagian satu dengan yang lain agartidak terjadi pemikiran atau pemahaman yang subyektif. Selain itu, Humasjuga harus memahami bahwa pelaksanaan kegiatan kehumasan menyangkuthubungan antara instansi dengan pihak luar dalam hal ini adalah media.Humas harus memiliki cara untuk dapat memaksimalkan publisitas yangpositif dengan melakukan pendekatan dengan media.10. Pemilihan Tempat Pelaksanaan : Pemilihan tempat pelaksanaan yangmemang ikut menyesuaikan tempat kegiatan yang dilaksanakan pimpinandaerah pada saat itu memang sudah biasa dilakukan. Dengan begitu faktorkenyamanan wartawan memang cenderung dikesampingkan. Humasseharusnya menyelenggarakan kegiatan media relations dalam hal ini PressConference di tempat yang nyaman.11. Penanggungjawab Pelaksanaan : Kepala Biro Humas sebagaipenanggungjawab meskipun banyak menghabiskan waktu di luar ruangansetidaknya harus dapat melakukan monitoring setiap kegiatan dari paraKepala Bagian. Di sini peran pimpinan sangat dibutuhkan untuk memberikanpengarahan di mana masih banyaknya staf yang merasakan kebingungan dancenderung asal kerja sesuai dengan pemahaman subyektif mereka.12. Evaluasi : Evaluasi yang dilakukan oleh Humas yaitu check list kesesuaianrencana dan pelaksanaan yang meliputi pencapaian tujuan, narasumber, isimateri rencana anggaran, target yang datang serta rekomendasi. Humas sudahmemahami dan melakukan evaluasi pada keseluruhan hal-hal tersebut. Tetapi,dalam laporan pertanggungjawaban tahunan, evaluasi dari kekurangan tidakdicantumkan. Humas seharusnya merinci segala kekurangan dalampencapaian target dari setiap kegiatan media relations. Humas juga harusterbuka dengan pimpinan atas pencapaian dan kegagalan yang terjadi. Selainitu, Humas juga harus mengetahui bahwa evaluasi dilakukan setelah akhirkegiatan dan secara berkala yaitu tiga bulan sekali untuk dapat membuatrekomendasi bagi kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya.13. Proses Pendokumentasian : Selama ini memang Humas baru melakukandokumentasi pemberitaan di media cetak saja. Humas perlu memahamibahwa saat ini media televisi dan internet merupakan media yang banyakdigunakan dan diakses oleh masyarakat. Dokumentasi media televisi pun saatini sebenarnya sudah cukup mudah, melalui youtube, rekaman pemberitaandapat diakses dan didokumentasikan. Selain itu, untuk media internet, situssituspemberitaan kini mulai banyak dan mudah diakses kapan dan di manasaja oleh masyarakat, melihat bahwa saat ini pun banyak isu bermula darimedia internet. Humas harus mengikuti perkembangan isu di media massauntuk menjadi suatu pertimbangan langkah-langkah yang akan dilakukan.14. Model Respon Krisis Pemberitaan : Respon krisis pemberitaan yangdilakukan oleh Humas selama ini dilakukan hanya jika pemberitaan negatifsudah menyebabkan akibat tergeraknya massa dalam aksi-aksi demonstrasi.Hal tersebut juga menunjuk ke arah maping dan monitoring media yangmemang belum dilaksanakan oleh Humas dengan baik. Penyatuanpemahaman antara melakukan respon dengan release dan melakukan respondengan membuat pemberitaan tandingan juga perlu dilakukan, seharusnyaHumas memiliki kategori-kategori tertentu pemberitaan yang memang akandirespon dengan release dan kriteria-kriteria pemberitaan yang akan direspondengan membuat pemberitaan lain di media massa. Humas juga seharusnyalebih memahami bagaimana cara melakukan respon krisis yang efektif danefisien. Setidaknya dalam membuat release, setelah itu mereka harusmelakukan cross check dengan memantau dimuat atau tidaknya pemberitaantersebut di media massa. Humas seharusnya mendapatkan feedback darimedia atas kegiatan yang telah dilaksanakan bagaimana pun juga mediarelations melibatkan komunikasi dua arah.PENUTUPPenelitian mengenai audit media relations Humas Setda Jawa Tengah untukpeningkatan publisitas ini adalah penelitian yang berfokus pada kajian tentangkegiatan media relations yang dilakukan oleh Humas Setda. Kegiatan-kegiatanmedia relations yang diteliti adalah kegiatan-kegiatan media relations yangmemang dilakukan oleh Humas selama ini demi terjalinnya hubungan yang baikdengan wartawan dan mendapatkan publisitas di media massa. Penelitian tersebutdilakukan karena melihat banyaknya pemberitaan-pemberitaan negatif tentangPemprov Jateng akhir-akhir ini.Pada penelitian ini, hal-hal yang dibahas adalah kegiatan-kegiatan mediarelations dari proses awal perencanaan hingga tahap evaluasi beserta jenisjenisnyaserta cara melakukan respon pada krisis pemberitaan yang terjadi.Mengacu pada pendapat dari Lesley bahwa media relations adalah suatuhubungan dengan media komunikasi untuk melakukan publisitas atau meresponkepentingan media terhadap organisasi.Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Humas selama ini masihmemunculkan pemberitaan-pemberitaan negatif mengenai pemerintah provinsi.Terlebih-lebih pada beberapa kasus yang terjadi seperti kasus pembangunan jalantol, kuda kepang, parcel lebaran, serta masih banyak lagi hal-hal yang kemudianmenjadikan munculnya pemberitaan negatif di media massa meski memiliki sisipositif pada faktanya.Penelitian mengambil kesimpulan bahwa Humas sudah dapat memahamimedia relations. Hanya saja pemahaman tersebut masih berfokus padakepentingan yang ingin dicapai oleh Humas yaitu sekedar untuk mendapatkanpublisitas di media massa. Selain itu, Dalam fokus dan sasaran kegiatan mediarelations, Humas belum menguasai keseluruhan maksud dan tujuan dilakukannyamedia relations. Hal tersebut yang kemudian membuat Humas dalammelaksanakan pekerjaannya kurang memperhatikan prosedur-prosedurpelaksanaan kegiatan media relations secara teknis yang tepat.Kesimpulan lain yang sekaligus merupakan kritik kepada Humas adalahHumas belum memahami adanya perkembangan dari jenis-jenis kegiatan-kegiatanmedia relations. Humas masih bertahan dengan kegiatan-kegiatan yang biasadilakukan dari tahun ke tahun dengan tata cara pelaksanaan yang juga kurangdipahami oleh sebab itu tidak dipersiapkan dengan baik. Kinerja Humas yangkurang efektif juga dikarenakan rendah dan lemahnya kemampuan di manaHumas kurang memiliki sumber daya manusia yang kompeten dalammelaksanakan tugas-tugas kehumasan seperti dalam Bagian Analisis Media danInformasi Humas, kegiatan menganalisis media belum dilakukan karena stafmerupakan lulusan Sekolah Menengah Atas yang tidak mendapatkan pengetahuanmengenai konsep-konsep kehumasan. Humas tidak melakukan perencanaan danpelaksanaan kegiatan dengan baik. Banyak kegiatan yang dilakukan tidakmenggunakan perencanaan komunikasi strategis yang benar, lebih kepada hanyamengikuti perintah atasan, sehingga tidak terkoordinir dengan baik. Evaluasi yangdilakukan oleh Humas cenderung formalitas dan kurang maksimal. Tidak adarekomendasi yang dicantumkan dalam setiap laporan pertanggungjawaban yangdibuat.Hubungan antara Humas dengan media sejauh ini baik, hanya saja masihselalu terjadi perbedaan pendapat yang disebabkan oleh perbedaan kepentinganantara Humas dengan media massa. Seperti perbedaan pendapat ketika terjadikasus kuda kepang, dan pembangunan proyek tol Semarang-Solo. Selain itu,media juga masih bertindak pasif dalam kegiatan-kegiatan komunikasi denganHumas.Kepala Biro juga kurang memahami media relations, sehingga kurangnyakontrol pimpinan membuat pelaksanaan kegiatan-kegiatan media relations tidakberjalan dengan baik. Tidak ada pertemuan rutin untuk membahas mengenaievaluasi kegiatan dan hasil dari pelaksanaan kegiatan media relations.Humas belum dapat memanfaatkan fasilitas, sarana dan prasarana yangdimiliki dan diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan baik.Seperti dalam melakukan dokumentasi pemberitaan, Humas tidakmelaksanakannya pada media selain media cetak. Hal tersebut terjadi dikarenakantidak adanya pendidikan dan pelatihan mengenai kegiatan pendokumentasianberita yang baik yang seharusnya diberikan kepada baik pimpinan maupun stafHumas. Humas belum dapat melakukan respon terhadap krisis pemberitaandengan efektif dan efisien dikarenakan sistem kerja Humas yang belumterkoordinir dengan baik. Banyak pemberitaan negatif yang kemudian hanyalewat tanpa mendapat penanganan.Biro Humas perlu mendapatkan penataran dan pelatihan berkala yangdiikuti oleh baik Kepala Bagian maupun staf, mengenai pemahaman serta tugastugaspenting yang harus dilaksanakan seperti bagaimana praktek analisis mediaseharusnya dilakukan dan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan media relationsdengan baik dan benar. Apabila pimpinan tidak dapat meminta bantuan penatardari kantor regional, maka pimpinan dapat menyewa tenaga ahli komunikasiuntuk memberikan pelatihan.DAFTAR PUSTAKAAnggoro, M. Linggar. 2002. Teori dan Profesi Kehumasan serta Aplikasi diIndonesia. Jakarta : Bumi AksaraArdianto, E.L. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: SimbiosaArdianto, Elvinaro & Soemirat, Soleh. (2008). Dasar-Dasar Public Relations.Bandung: PT Remaja RosdakaryaBaskin Otis, Aronoff Craig, dan Lattimore. 1997. Public relations: The Professionand the Practice 4 Edition. United state of America: McGraw Hill CompaniesBungin, Burhan H.M. 2007. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan. Publik, dan Ilmu social. Jakarta : Kencana Prenama Media GroupDarmastuti, Rini. 2012. Media Relations : Konsep, Strategi Dan Aplikasi.Yogyakarta : ANDIDennis L. Wilcox, Glen T. Cameron, Phillip H. Ault, and Warren K. Agee. PublicRelations: Strategies and Tactics. Seventh Edition, Pearson Education, Inc., USA,2003Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat suatu StudyKomunikologis. Bandung : PT Remaja RosdakaryaF, Rachmadi. 1994. PR dalam Teori dan Praktek : Aplikasi dalam Badan Swastadan Lembaga Pemerintah. Jakarta : Gramedia Pustaka UtamaIriantara, Yosal. 2005. Media Relations: Konsep, Pendekatan, dan Praktik.Bandung: Simbiosa Rekatama MediaIriantara, Yosal. 2007. Community Relations (Konsep dan Aplikasinya). Bandung: Simbiosa RekatamaHamidi. 2010. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. 3rd. Malang : HamidiHardjana, Andre. 2000. Audit Komunikasi Teori dan Praktek. Jakarta: GrasindoJefkins, Frank. 2004. Public Relations. Jakarta : ErlanggaKriyantono, Rachmat.2008. Public Relations Writing. Cetakan ke-2. Jakarta :Fajar InterpratamaLarkin, Judy, 2003, Risk Issues and Crisis Management: A Casebook of BestPractice. London: Kogan PageMoleong. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : RosdakaryaNurudin.2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaNova, Firsan.2011. Crisis Public Relations. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaNova, Firsan. 2009. Crisis Public Relations. Jakarta : PT. GrasindoPuspandani, Kartika Dewi. 2006. Pengukuran Publicity Effectiveness Level danPemanfaatannya dalam Perencanaan Strategi dan Taktik Komunikasi.Yogyakarta: Fisipol Universitas Gajah Mada.Ruslan, Rosady. 1997. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta : PTRaja Grafindo PersadaRuslan, Rusady. 2006. Manajemen Humas dan Komunikasi, Konsepsi danAplikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaRusady, Ruslan. 2007. Manajemen Public Relations & Media KomunikasiKonsepsi dan Aplikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaRuslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi.Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaWardhani, Diah. 2008. Media Relations : Sarana Membangun ReputasiOrganisasi. Yogyakarta : Graha IlmuWasesa, Silih Agung. 2011. Political Branding & Public Relations. Jakarta : PTGramedia Pustaka UtamaWidjaja. 1997. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta : Bumi AksaraSumber internethttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/04/11/115146/Pemprov-Jateng-Gagal-Entaskan-Kemiskinan diunduh pada tanggal 04 Februari 2013pukul 19.11 WIBhttp://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=69893#.URMs-R1QFVYdiunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.15 WIBhttp://regional.kompas.com/read/2012/09/12/13433283/Gubernur.Jateng.Menyinggung.Seniman.Jathilan diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.16 WIBhttp://www.solopos.com/2011/05/17/komisi-d-peringatkan-gubernur-soal-jalantol-98292 diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.17 WIBhttp://www.tempo.co/read/news/2010/10/22/177286567/Pemberian-Dana-ke-Wartawan-Tradisi-Lama diunduh pada tanggal 07 Februari 2013 pukul 15.00WIBhttp://news.detik.com/read/2012/11/22/174732/2098697/10/kpk-sebut-banyakpejabat-korupsi-gubernur-jateng-sepertinya-tidak-ada diunduh pada tanggal 14Februari 2013 pukul 22.00 WIBhttp://eprints.undip.ac.id/29126/1/SUMMARY_PENELITIAN_Wiwid_Adiyanto.pdf diunduh pada tanggal 21 Februari 2013 pukul 20.28 WIBhttp://tvku.tv/v2010b/index.php?page=stream&id=6444 diunduh pada tanggal 19Maret 2013 pukul 20.14 WIBhttp://efkawejete.blogspot.com/ diunduh pada tanggal 05 Maret 2013 pukul 21.00WIBhttp://kabar17.com/2012/05/gubernur-jawa-tengah-dikecam-petani-tembakau/diunduh pada tanggal 05 Maret 2013 pukul 21.28 WIBhttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/27/61199/Pers-Diminta-Tak-Hanya-Tulis-Berita-Negatif- diunduh pada tanggal 05 Maret 2013pukul 21.59 WIBhttp://news.detik.com/read/2012/11/29/123142/2104844/10/warga-menolakeksekusi-tanah-lemah-ireng-semarang-ricuh diunduh pada tanggal 05 Februari2013 pukul 01.00 WIBhttp://repository.upnyk.ac.id/2306/1/Nunung_Prajarto.pdfhttp://ahmadyusuf-fpsi08.web.unair.ac.id/artikel_detail-46452-Umum-Metode%20Penelitian.html(http://www.solopos.com/2012/11/28/gubernur-jateng-raih-planinum-gold-darisby-351805 05 Maret 2013 pukul 23.00 WIB(http://news.detik.com/read/2011/06/27/180047/1669850/10/sebut-walikota-solobodoh-gubernur-jateng-akan-ditolak-masuk-solo diunduh pada tanggal 05Februari 2013 pukul 01.00 WIB)(http://www.youtube.com/watch?v=miDtNj_JIwg diunduh pada tanggal 08 Maret2013 pada pukul 19.00 WIB)(http://www.youtube.com/watch?v=3H0aQzl8M1w diunduh pada tanggal 08Maret 2013 pada pukul 19.01 WIB(http://birohumas.jatengprov.go.id/portal/view/struk2 diunduh pada tanggal 11Maret 2013 pada pukul 00.04 WIB)http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/27/61199/Pers-Diminta-Tak-Hanya-Tulis-Berita-Negatif- diunduh pada tanggal 11 Maret 2013pada pukul 00.05 WIB)http://web.undp.org/comtoolkit/reaching-the-outside-world/outside-world-coreconcepts-working-media.shtml diunduh pada tanggal 13 Juli 2013 pukul 16:51 WIBhttp://prinyourpajamas.com/how-to-build-your-own-media-list/ diunduh padatanggal 13 Juli 2013 pukul 16:51 WIB
Co-Authors Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adi Sukma Waldi Adita Nicko Besari, Adita Afny Khotiatina Afrida Renindyana Putri Agnesya Putri Winanda Ahmad Jailani Siregar Ahmad MAULANA Ahmad Mulyadi Ahyar Yuniawan Aini Fathuningtyas, Maghfira Ainurizaq Putri Aria Santi Al Ghifari, Rafdil Alam Tonggak Amarta Aldha Wulan Nugraheni Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alif Ardhi Wijaya Alifati Hanifah Alisha Mumtaz, Farah Ambar Rakhmawati Amelia Monica Amida Yusriana Amida Yusriana Aminuyati Amrina, Afrilla Anastasia Betsy Palupi Andhika Putra Nugraha Andika Al Hakiem, Muhammad Angelika Putri Ariyani Anggia Anggraini Anggita Muti Arani Zulaikho Anggita Primartiwi Anindhita Puspasari Anindya Ratna Pratiwi Anis Kurniasih Anisa Citra Mahardika Annisa Aulia Mahari Anugrah Beta Familio Anunsiata Vanda Sanderiana Apriani Rahmawati Apriliansyah, Dimas Arbi Azka Wildan, Arbi Azka Ardelia Fitriani, Neysa Arditya Drimulrestu Arifa Rachma Febriyani Arifa Rachma Febriyani Arum Fatimah, Zahra Arum Putri Anjaly Asri Rachmah Mentari Astifah Asdir Atasa Yudha Ergana Atina Primaningtyas Audrey Marsanda, Marchella Audrey Nathania Priscilla Karundeng AULIA NURHASANAH, LISTIA Auralia Wahyu Pradipta Aurisa Hangesti Putri Ayu Emilia Kurniawati Azalea Puspa Sessarina Azka Tsania Yahdini Bagas Satria Pamungkas Basir, Rafi Usman Bayu Bagus Panuntun Bayu Vita Al Hayuantana, Bayu Vita Beta Himawan Putra, Beta Himawan Bintang Diega Pratama Budi Adityo Budiansyah, Dadan Charisma Rahma Dinasih Chykla Azalika Cipta Uli Mediana, Cipta Danieta Rismawati David Fredy Christiyanto David Fredy Christiyanto, David Fredy Debi Astari Decyana Ristiani Deni Arifiin Denta Iswara Kiranasari Setiaji Desy Nurulita Devi Yuhanita Qorina, Devi Yuhanita DHEARAMA FITRI, DHEARAMA Dimas Luky Endra Sadewo, Dimas Dimas Muhammad Dinda Dwimanda Wahyuningtias Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Dubha Kaldota Diptapramana Dwi Candra Rini Dwi Purbaningrum Dwi Purbaningrum, Dwi Dyah Pitakola, Dyah Dyah Woro Anggraeni Egi Famela Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elisabeth Diana Tindarana Elisabeth Naome, Elisabeth Elisabeth Putri Widasari Elisabeth Sianturi Endang Retnowati Endivi Reksi Novrinta Reksi Novrinta Eryke Pramestaningtyas Fajrina Aulia Arumdhani Fajru Akbari Putra Sinik, Fikri Falah, Moh. Imam Fajrul Febriyanti, RT Annisa feby mangireta . Felisitas Yolandita Suryo Kinasih Fetiyana Luthfi Prihandini Feyza Syifa Ashila Fitri Kaniyah Fitri Nur Hidayat Gabryella, Cathrine Gebiya Efriman Putri Ghaisani, Shabrina Ghozi Garbo Sumarsono Hafiz Maulana Sadiq Hanan Hauzan, Muhammad Hapsari Dwiningtyas Harry Vidita Eka Putra Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrianto Noor Ikhwan Henny Novita Rumono Hesti Rahmawati, Widiastri Hilal Al Roshid, Fhatwa Hosa Abirama Kalandara Hutauruk, Bagas Ilman Mursid Andaru Imam Dwi Nugroho Indah Pratiwi Intan Murni Handayani Irawati Sri Wulandari Irfan Zuldi Irine Rachmitasari, Irine IVON BAHARANI, IVON Jana Miani Ulfah Jaza Akmala Ramada Jeffry Septian Putra Jehovani Ratna Mourina, Stella Jessica Inez Indriani, Febronia Joyo Nur Suyanto Gono Juita Putri Tristanti, Juita Junelsa Panggalo Kaloka, Rintulebda A. Karina Desi Hariyanto Kartika Ayu Pujamurti Kevin Surya Laksmana, Muhammad Khairunnisa Azizah Khalwah Nabilah Ustushfia Khansa Faadilah Kiky Rizkiana Laeis, Zuhdiar Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Ramiaji Lizzatul Farhatiningsih Lovegi David Sanjaya, Lovegi David Lutfi Oktavia Dewi M Bayu Widagdo M Yulianto M. Ikhlasul Amal Maghfira Ainun F. Maharani Harris, Marsya Manggala Hadi Prawira Maria Elgyptya Assegaff Marlia Rahma Diani Marshanda Putri, Tyara Martha Caesarin Putri Yulinta Maya Puji Lestari Melinda Ayu Santosa Mellisa Indah Purnamasari Mia Michaela Michael Lucky Ananda Mj Rizqon Hasani Mj Rizqon Hasani, Mj Rizqon Much Yulianto Much Yulianto M.Si Much Yulianto M.Si, Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yuliyanto Muchamad Yuliyanto Muchamad Yuliyanto Muhammad Haikal, Khan Muhammad Hasan Atqiya Muhammad Kholis Nuha Muhammad Raihan Alifiardy Muhammad Rizki Maulana Mujahidah Amirotun Nisa Mustika Berlinda, Lisa Nabila Rezki, Anisa Nabila, Nisrina Laila Nadhif Zufar Faizal, Sulthan Nadia Audy Janatun Adn Nadia Dwi Agustina Nadin Khairun Nisa Nadya Putri Arnolia Naili Farida Nanda Immanuella Natasya Elizabeth Nimas Sintha Naurisma Ninda Nadya Nur Akbar Novia Widiastuti Novita Wulandari Nurayyan, Amanda D Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurriyatul Lailiyah Nurul Hasfi Oithona Gracelia R. Hutabarat, Oithona Gracelia R. Phopy Harjanti Bulandari Pinondang Caroline, Andrea Primada Qurrota Ayun Putri Susiandi, Alya Radhityo Ryandhika Rakadiputra Rahmanuz Zidan, Aimar Rahmi Hayati Rakanita Oktaviani Hadi Saputri Rakasiwi Oktaviana Hadi Saputri Rasyid Farhan Taufik, Mohammad RATIH KHOIRUNNISA Raynaldo Faulana Pamungkas Razan Fathantra, Ryan Renindyana Putri, Afrida Retno Wulandari Retno Wulandari Reza Andriana Dewanti Rian Irmawan Ribka Minatisari Sekeon Rifka Ayu Pertiwi Rintulebda A.K Rintulebda Anggung Kaloka Rismiyati Rismiyati Rizki Nuriandini Rizky F, Annisa Rizky Johanuari Putri Rony Kristanto Setiawan Rr Ratri Feminingrum Rukti Rumekar S Rouli Manalu Saiful Imron Sakinah KP, Dianti Santoso, Hedi Pudjo Saskia Elvira Saundra Centauria Selo Pangestu Imawan Sembiring, Rinawati Shabrina Farahzatu Ghassania Shahnaz Natasha Anya Shinta Maheswari, Irene Silvia Kartika C Dewi Silviana, Resy Siska Nofianti . Siti Ahmaniar Cahya Lestari Siti Ahmaniyar Siti Hawa . Somadi, Ayunda Fitria Sri Ageng Wirdhana Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Stephany Alamanda Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Surya Prabhaswara, Fauzan Sutandi, Richard Jeremy Suwanto Adhi Tandiyo Pradekso Tantri Puji Widyasari Tatia Ridho Ramadhanti Taufik Suprihartini Tegar Tuanggana Teresia Kinta Wuryandini Tiur Agata, Elisa Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo U Simanullang, Friska Ulya Saida Velina Prismayanti Susanto Vinna Dewi Haryanti Wafda Afina Dianastuti Wahyu Tri Oktaviani Wening Jiwandaru Pradanari Wibisono, Andika Widya K. Siahaan Williams Wijaya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Wiwied Noor Rakhmad Wiwied Noor Rakhmad Wulan Ferra Safitri Xavera A, Patrick Yanuar Luqman Yekholia Maoureenth Priharjanto Yeni Setyowati Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yolan Enggiashakeh Soemantri yossie Christy Thenu Yossie Chrity Thenu Yuaristi Ekantina Yuliani Khoirun Nisaa Yulistra Ivo Azhari Yuliyanto, Muh. Zahra Natty Fakhrana Zamratul Khairani Z, Zamratul Khairani Zulinda Vidiatama