Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Intensitas Bermain Game Online dan Mediasi Restriktif Orang Tua terhadap Perilaku Antisosial Remaja Apriani Rahmawati; Hedi Pudjo Santosa; Sri Widowati Herieningsih; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.294 KB)

Abstract

Masa remaja menjadi periode yang rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang diterimanya. Pengaruh ini dapat memunculkan perilaku -perilaku yang kurang disukai atau bahkan sama sekali tidak dikehendaki oleh masyarakat, perilaku ini dikenal dengan perilaku antisosial. Game online merupakan tempat bermain bagi remaja, dimana di dalamnya terdapat berbagai macam jenis permainan dari game action, strategi, petualangan, musical, sampai olahraga sehingga menimbulkan daya tarik tersendiri bagi yang memainkannya.Penelitian ini menggunakan teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) yang menjelaskan dalam proses belajar sosial, individu selalu mengumpulkan informasi dan melakukan pengamatan dari lingkungan dalam melakukan sesuatu dalam berbagai konteks dan Restrictive Mediation dari Parental Mediation yang menjelaskan mediasi yang dilakukan orang tua pada anak dengan memberikan peraturan-peraturan dalam ha penggunaan media. Populasi dari penelitian ini adalah murid kelas VII dan VIII SMP Eka Sakti Semarang. Usia 12-14 tahun. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik acak sederhana dengan jumlah sampel 70 orang. Analisis data yang digunakan adalah regresi liner sederhana dengan spss 20. Hasil uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa variabel intensitas bermain game online berpengaruh terhadap perilaku antiosial remaja dan signifikan (sig.=0,000) dengan persamaan linier sederhana Y = 6,869 + 0,156X1. Hasil uji hipotesis kedua membuktikan bahwa mediasi restriktif orang tua berpengaruh terhadap perilaku antisosial remaja dan signifikansi (sig,.=0,000) dengan persamaan linier Y=11,044 – 0,434X2. Saran yang diberikan penelitian ini adalah supaya orang tua perlu memperdalam hubungan komunikasi dengan anaknya. Selain itu orang tua perlu bersikap terbuka dan mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan perilaku antisosial dikalangan remaja, sehingga hubungan yang terjalin semakin berkualitas dan kemungkinan remaja untuk berperilaku antisosial semakin kecil atau bahkan tidak ada.
Political Public Relations Campaign for Election of Mayor and Deputy Mayor of Solok Period 2016-2020 Division Community Relations and Event Coordinator Elisabeth Putri Widasari; Agus Naryoso M.Si; Much Yulianto M.Si; Joyo M S Gono; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The background of this field work is the winning pair Irzal Ilyas and Alfauzi Bote as Mayor and Deputy Mayor of Solok period 2016-2021 through the political campaigns of public relations. In the political campaigns of public relations, division of Community Relations and Event Coordinator tasked to establish relationships and conduct two-way communication with the religious leaders, community leaders, traditional leaders and communities through events, third party endorser, and community relations. Political public relations campaign lasted for two months and managed to make relations and support from religious leaders and traditional leaders in the 8 villages of 13 urban villages, 14 communities and 13 urban villages blusukan. In this field work also indicates that "Political Public Relations Campaign for Election of Mayor and Deputy Mayor of Solok Period 2016-2021" was successfully carried out.
“Interpersonal Communication for Maintenance Relationship after Divorce” Siska Nofianti .; Agus Naryoso S,Sos, M.Si
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.442 KB)

Abstract

The frequent phenomena in the society find that there are many ex-couples who have poor communication after divorce. This causes both of couples being awkward in maintaining an effective interaction to one another. Ideally, we shall keep good communication with everyone, including with the ex (boyfriend or girlfriend). It is because we may meet the ex or even need his/her help in the future. Using a qualitative approach, this research has a purpose to describe about “Interpersonal Communication for Relationship Maintenance after Divorce”. Moreover, this research refers to a post-positivistic paradigm with applying a phenomenology method. The subjects of this research are two ex-couples as the main informants. In addition, this research applies mostly about Relational Maintenance Theory since it discusses the ways to maintain good communication with everyone and also with the ex. The result of this research shows that interpersonal communication with the ex will happen if both of them agree to reestablish communication after divorce. This interaction is started by having a motivation to keep in touch and to help one another even when they already became an ex-couple. Also, the ex-couple should still give attention, raise spirit, and be open to each other in order to easily create a friendship among them. Besides verbal communication which is done by texting, calling or using social media, the ex-couple also establishes non-verbal communication by dating. Dating is used to know their intimacy through getting close, having eye contact, having the touch, and showing gestures. The informants of an ex-couple who agreed to divorce will sit side by side, look at each other, and have the touch when they meet again. On the other hand, another ex-couple as the next informants who have a conflict after divorce tend to sit face to face, avoid looking at one another, and have no the touch. Nevertheless, the two ex-couples admit that they are still nervous when they meet again. In short, this research discovers that an initiative to break up a relationship can be decided by the woman or the man.
Pengaruh Terpaan Informasi tentang Performance Film dan Kredibilitas Selebriti Film terhadap Loyalitas Menonton Film Indonesia di Bioskop Wahyu Tri Oktaviani; Dwi Purbaningrum; M Bayu Widagdo; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.278 KB)

Abstract

Film merupakan salah satu media massa yang memiliki fungsi sebagai media informasi dan hiburan. Seiring perkembangan waktu, jumlah film Indonesia yang beredar telah mengalami peningkatan.Akan tetapi peningkatan jumlah film yang beredar ini tidak sejalan dengan jumlah penonton film Indonesia yang menunjukkan penurunan.Penuruann jumlah penonton ini menunjukkan kurangnya loyalitas masyarakat untuk menonton film Indonesia di bioskop.Media massa sebagai sumber informasi selalu memberikan informasi mengenai film. Selain itu, kredibilitas selebriti film menjadi faktor lain yang mempengaruhi loyalitas khalayak untuk menonton film Indonesia di bioskop.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe penelitian eksplanasi.Populasi dari penelitian ini adalah khalayak yang pernah menonton film Indonesia di bioskop dengan range usia 17-24 tahun di Semarang. Penarikan sampel dilakukan secara purposive sampling sebanyak 50 responden.Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan Uji Regresi Linear Berganda.Pengujian hipotesis terpaan informasi tentang performance film dan kredibilitas selebriti film Indonesia terhadap loyalitas menonton film Indonesia di bioskop menunjukkan hasil f-hitung sebesar 4.732 dengan signifikansi 0.013. Karena f-hitung>f-tabel (4.732>3.195) dan signifikansi 0.013<0,05, maka dapat dinyatakan bahwa terpaan informasi tentang performance film dan kredibilitas selebriti film Indonesia secara bersama-sama memberikan pengaruh terhadap loyalitas menonton film Indonesia di bioskop sebesar 16,8%, sedangkan sisanya 83,2% dipengaruhi oleh variabel lainHasil uji T-hitung variabel X1 menunjukkan t-hitung<t-tabel (0.884<2.012) dan signifikansi 0.381>0.05.Hal ini menunjukkan X1 tidak berpengaruh secara langsung terhadap Y, sehingga teori Perubahan Sikap tidak dapat menunjukkan pengaruh antar kedua variabel ini.Hasil uji t-hitung variabel X2 menunjukkan t-hitung>t-tabel (2.047>2.012) dan signifikansi 0.046<0.05.Hal ini menunjukkan X2 berpengaruh secara langsung terhadap Y, sehingga sesuai dengan konsep Peran Pendukung (endorser). .Hal ini bermakna terdapat hubungan antara terpaan informasi tentang performance film dan kredibilitas selebriti film Indonesia terhadap loyalitas menonton film Indonesia di biskop dengan pengaruh yang kecil. Pengaruh yang lain dapat disebabkan oleh faktor lain seperti interaksi teman sebaya dan tayangan film Indonesia di Televisi.
Karya Bidang Program Tayangan “Gitaran Sore-Sore” di PROTV Semarang sebagai Produser Pelaksana Raynaldo Faulana Pamungkas; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.579 KB)

Abstract

Televisi merupakan salah satu saluran yang mampu menyebarkan informasi secara massal. Namun seringkali informasi yang disebarkan saluran televisi nasional kurang dapat diterima oleh khalayak di daerah. Hal tersebut dikarenakan tayangan televisi nasional tidak memperhitungkan unsur proximity. Televisi lokal seharusnya mampu membawa unsur proximity tersebut menjadi sebuah tayangan yang berkualitas. Namun seringkali khalayak tidak sadar akan kekuatan televisi lokal tersebut.Gitaran sore-sore sebagai sebuah tayangan talkshow yang hadir di televisi lokal mampu menghadirkan unsur proximity. Gitaran sore-sore juga menjadi sarana untuk menyebarluaskan ide-ide masyarakat Semarang melalui obrolan ringan tentang hobi dan konten yang mengangkat tentang informasi lokal. Lewat cara interaktif dan inspiratif tayangan gitaran sore-sore mampu membawa kekuatan televisi lokal ke tengah-tengah khalayak.Pada program tayangan Gitaran Sore-sore. produser bertugas untuk memimpin jalannya produksi acara, menyediakan kebutuhan produksi, membuat rencana kerja, menkordinasi tim , hingga membuat anggaran produksi. Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan live di ProTV setiap hari rabu dan kamis mulai tannggal 29 September hingga 13 November 2014 pukul 15.00 WIB. Melalui karya ini diharapkan khalayak Semarang mampu mempunyai tayangan yang informatif dan inspiratif serta menghibur.Kata kunci : Talkshow Gitaran Sore-Sore, Program acara anak muda, Hobi
Evaluasi Program Corporate Social Responsibility Coke Farm untuk Pembangunan Citra Coca-Cola Amatil Indonesia Central Java Charisma Rahma Dinasih; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.756 KB)

Abstract

Evaluasi Program Corporate Social Responsibility Coke Farmuntuk Pembangunan citra Coca-Cola Amatil Indonesia CentralJavaABSTRAKEvaluasi merupakan hal yang harus dilaksanakan untuk melihat pencapaian dariprogram, salah satunya adalah untuk melihat citra yang berhasil dibangun. NamunPraktisi PR masih sering mengesampingkan pentingnya evaluasi dengan tidakmelakukannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pembangunancitra Coca-Cola Amatil Indonesia Central Java (CCAI-CJ) melalui pelaksanaankegiatan CSR Coke Farm di kalangan stakeholder eksternal yang terlibat secaralangsung. Teori yang digunakan yaitu teori CSR untuk pembangunan citra. Tipepenelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif danmenggunakan model evaluatif. Model Evaluasi yang digunakan adalah Context,Input, Process, Product (CIPP) Teknik pengumpulan data kualitatif dilakukandengan menggunakan indepth interview kepada satu informan, yakni PublicRelations (PR) dari CCAI-CJ. Teknik pengumpulan data kuantitatif dilakukanmelalui wawancara dengan instrumen penelitian kuesioner.Hasil penelitian ini menunjukkan PR CCAI-CJ belum mampu memanfaatkanprogram Coke Farm untuk pembangunan citra. Dari hasil penilaian denganmenggunakan ukuran efektivitas untuk menilai indikator di masing-masingkategori CIPP mendapatkan total nilai sebanyak 3, yang menunjukkan bahwaprogram CSR Coke Farm tidak efektif dalam membangun citra CCAI. Di dalammelaksanakan Coke Farm, PR tidak menjalankan semua tahapan yang harusdilakukan di dalam program CSR. Dengan pengelolaan Coke Farm yang kurangmaksimal, maka tidak mampu membangun citra positif CCAI-CJ melalui CokeFarm. Hal ini dibuktikan dengan hasil dari kuesioner yang menunjukkan citrasosial CCAI-CJ yang didapat melalui program Coke Farm adalah cenderungnegatif. Untuk citra ramah lingkungan CCAI-CJ juga termasuk ke dalam kategoricenderung negatif. Sikap responden terhadap CCAI-CJ memperlihatkan hasilyang banyak negatif. Citra sosial dan citra ramah lingkungan tersebut didapatkandari kumpulan penilaian responden mengenai manfaat sosial dan manfaatlingkungan dari Coke Farm. Coke Farm dianggap belum mampu memberikanmanfaat responden.Kata kunci: Evaluasi, Corporate Social Responsibility, CitraNama : Charisma Rahma DinasihNIM : D2C009106Judul : Evaluation of Corporate Social Responsibility Coke FarmProgram to development Coca-Cola Amatil Indonesia CentralJava ImageABSTRACTThe evaluation is to be undertaken to look at the achievements of the program,one of which is to see a successful image is built. But the practition PR still ruleout the importance of evaluations with it. The purpose of this research was toevaluate the development image of Coca-Cola Matil Indonesia Central Java(CCAI-CJ) through the implementation of Coke Farm CSR activities amongexternal stakeholders involved directly. The theory being used, namely the theoryof development of CSR to image building. The model of evaluation is usedContext, Input, Process, Product (CIPP). Qualitative an quantitative datacollection techniques are performed using indepth interviews to one informant,namely Public Relations (PR) of CCAI-CJ.The research shows PR CCAI-CJ hasn’t been able to take advantage of theprogram for the development of a Coke Farm image. From the results of theassessment effectiveness to assess CIPP indicator in each category receives a totalvalue of about 3 indicating that CSR Coke Farm ineffective for developmentCCAI-CJ image. In carrying out Coke Farm, PR did not run all the stages thatmust be done within the CSR program. With the management of Coke Farm thatis less than maximum, then it is not able to build a positive image of CCAI-CJthrough Coke Farm. It is proven by the results of a questionnaire that show ofsocial image obtained through the program of Coke Farm is to tend negative. Foreco-friendly image of CCAI-CJ is also included into the category tends to benegative. The attitude of respondents towards CCAI-CJ shows many negativeresults. Social image and eco-friendly image obtained from the respondent’sassessment regarding the social benefits of Coke Farm. Coke Farm consideredhasn’s been able to deliver the benefits of the respondent.Keywords: Evaluation, Corporate Social Responsibility, ImageJURNALEvaluasi Program Corporate Social Responsibility Coke Farmuntuk Pembangunan CitraCoca-Cola Amatil Indonesia Central JavaPENDAHULUANDalam implementasi CSR, PR mempunyai peran penting, baik secarainternal maupun eksternal. Dalam konteks pembentukan citra perusahaan, disemua bidang pembahasan di atas boleh dikatakan PR terlibat di dalamnya, sejakfact finding, planning, communicating, hingga evaluation. Jadi ketika kitamembicarakan CSR berarti kita juga membicarakan PR sebuah perusahaan, dimana CSR merupakan bagian dari community relations. Karena CSR padadasarnya adalah kegiatan PR, maka langkah-langkah dalam proses PR punmewarnai langkah-langkah CSR.Dapat diketahui bahwa aktivitas atau kegiatan CSR sangat berpengaruhterhadap pembentukan opini yang kemudian menjadi sebuah citra perusahaan dimata masyarakat. Pelaksanaan kegiatan CSR yang baik secara otomatis akanmendapatkan corporate image (citra perusahaan) yang baik pula. Sudah saatnyaperusahaan meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat sekitar sebagai bentuktanggung jawab sosial perusahaan terhadap publik, sehingga perusahaan dapatmempertahankan sustainable company.Untuk membangun citra perusahaan yang baik di mata masyarakat itulahCCAI-CJ secara giat melakukan CSR. Tujuannya adalah untuk membangun opinipublik yang positif terhadap perusahaannya dengan berusaha untuk tetapmenunjukkan kepada masyarakat bahwasanya Ia juga peduli terhadap kemajuandan kesejahteraan masyarakat. salah satu program CSR CCAI-CJ yang masihberjalan sampai saat ini adalah Coke Farm.Coke Farm adalah salah satu kegiatan CSR CCAI-CJ yang dirancanguntuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani di wilayah sekitar CCAI-CJ.Program ini dipilih berdasarkan pertimbangan potensi bahwa sebagian masyarakatmungkin bisa menggantungkan kegiatan pertaniannya dengan adanya lahankosong di area Deep Well. Coke Farm bertujuan untuk memberdayakankomunitas lokal di sekitar pabrik CCAI-CJ melalui pelatihan pertanian, sekaligusturut melestarikan lingkungan dengan menanam berbagai macam pohon untukpenghijauan.Selama ini CCAI-CJ belum pernah melakukan evaluasi untuk melihatsejauh mana pencapaian program CSR Coke Farm untuk pembangunan citranya.CCAI-CJ dalam setiap bulan dan tahunnya hanya membuat laporan Coke Farmsebagai berikut:Dengan tidak adanya evaluasi terhadap pembangunan citra, maka tidakada pula hasil dari seberapa besar pengaruh CSR Coke Farm terhadap citra yangdiperoleh.Evaluasi merupakan keharusan untuk setiap program atau kegiatan yangdilaksanakan PR untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi program (Hadi, 2011:145). Dalam hal ini evaluasi yang dilakukan adalah untuk melihat pencapaianpembangunan citra dari program CSR yang dilakukan. Berdasarkan hasil evaluasiitu bisa diketahui apakah program bisa dilanjutkan, dihentikan, atau dilanjutkandengan melakukan perbaikan dan penyempurnaan. Namun, dalam CSR perludiingat bahwa evaluasi bukan hanya dilakukan terhadap penyelenggaraan programatau kegiatannya belaka. Melainkan juga dievaluasi bagaimana sikap stakeholderyang terlibat terhadap organisasi yang berpengaruh terhadap citra. Jika dalampelaksanaannya tidak berpengaruh terhadap citra perusahaan, maka perludilakukan perbaikan untuk memodifikasi program menjadi lebih efektif sebagaialat komunikasi untuk membangun citra.Penelitian ini diharapkan dapat membantu mengevaluasi sejauhmanaprogram CSR yang telah dilaksanakan dapat berpengaruh pada persepsi positifmasyarakat yang menjadi sasaran program terhadap citra CCAI-CJ.Penelitian ini menggunakan pemikiran tentang CSR untuk pembangunancitra yang menggambarkan bagaimana terbentuknya citra melalui CSR. Darikonsep triple botton line dalam CSR yang mengacu pada bidang sosial danlingkungan akan menghasilkan citra sosial dan citra ramah lingkungan. Penelitianini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan model evaluasiCIPP (context, input, process, product), yang nantinya bisa menunjukkanefektivitas program CSR Coke Farm untuk membangun citra.Penelitian ini dilakukan dengan melalui wawancara mendalam kepada PROfficer CCAI-CJ sebagai informan untuk menggali informasi mengenai prosesperencanaan hingga proses pengomunikasian CSR. Selain itu, dalam penelitian inijuga menggunakan dua jenis populasi, yakni masyarakat dan petani penggarapCoke Farm untuk mengukur bagaimana citra CCAI-CJ terbentuk di matastakeholder melalui program Coke Farm.Penelitian ini dilakukan dengan melalui wawancara mendalam kepada PROfficer CCAI-CJ sebagai informan untuk menggali informasi mengenai prosesperencanaan hingga proses pengomunikasian CSR. Selain itu, dalam penelitian inijuga menggunakan dua jenis populasi, yakni masyarakat dan petani penggarapCoke Farm untuk mengukur bagaimana citra CCAI-CJ terbentuk di matastakeholder melalui program Coke Farm.ISIDari hasil kuesioner menunjukkan bahwa citra sosial dari CCAI-CJ adalahcenderung negatif, citra ramah lingkungan juga menunjukkan hasil yangcenderung negatif. Sedangkan sikap responden terhadap CCAI-CJ adalah negatif.Dari hasil perolehan citra tersebut akan dijadikan ukuran untuk evaluasi, yangmana untuk membuktikan dari apa yang sudah PR lakukan dalam kinerjanyasebagai upaya untuk membangun citra dengan hasil yang didapatkan di lapangan.Jadi, ketika PR sudah melakukan upaya dengan melakukan tahapan-tahapandalam CSR tetapi citranya negatif, hal ini dianggap bahwa Coke Farm tidakefektif dalam membangun citra.Evaluasi yang dilakukan adalah menggunakan model CIPP, yang manadari masing-masing konsep dan tahapan dalam program CSR akandikelompokkan ke dalam context, input, process, dan product. Evaluasi yangdilakukan adalah untuk mengukur efektivitas program Coke Farm untukpembangunan citra. Sebab, kinerja PR akan mempengaruhi bagaimana citraterbentuk. Dalam Kolom CIPP, akan diberikan nilai 1 untuk kinerja PR yangsudah sesuai dengan ukuran efektivitas dan nol untuk yang tidak sesuai. Ukuranefektivitas dijadikan sebagai patokan untuk mengevaluasi program CSR CokeFarm, yang dilihat dari upaya-upaya yang dilakukan PR untuk membangun citra.Sebab, kinerja PR akan mempengaruhi jalannya proses Coke Farm mulai daritahapan perencanaan sampai dengan reporting. Jalannya proses perencanaansampai dengan reporting yang baik itulah yang akan mempengaruhi bagaimanapembangunan citra untuk CCAI-CJ. Dari ukuran efektivitas tersebut, diberikannilai satu untuk kinerja PR yang sudah sesuai dengan ukuran efektivitas, dan nilainol untuk yang tidak sesuai. Hasilnya menunjukkan bahwa Coke Farm tidakefektif untuk membangun citra CCAI-CJ dengan jumlah keseluruhan nilai yanghanya mendapatkan 3 dari 30 indikator yang dibedakan dalam context, input,process, dan product. Banyak kinerja PR yang tidak sesuai dengan ukuranefektifitas. PR belum melakukan upaya-upaya untuk mengelola CSR Coke Farmsecara maksimal demi mencapai keberhasilan dalam pembangunan citra.Berikut ini adalah hasil evaluasi yang dibedakan ke dalam context, input, process,dan product:a. Context: PR CCAI-CJ sudah menjalankan CSR sesuai dengan konseptriple botton line dan menggunakan prinsip-prinsip CSR yang meliputisustainability, accountability, dan transparency dalam program CokeFarm. PR memaknai CSR dari sisi kehumasan, tetapi pada kenyataannyaPR tidak mampu menjalankan Coke Farm sesuai dengan konsep PR yangmemiliki tujuan untuk citra, ditunjukkan dengan PR yang tidak mencobaberinovasi untuk memodifikasi program Coke Farm yang dirancang pusatuntuk disesuaikan dengan wilayah beroperasinya CCAI-CJ, PR tidakmelakukan analisis stakeholder dan adanya latar belakang yang tidakcukup kuat karena tidak berdasarkan riset. PR juga tidak dapat mengelolakegiatan-kegiatan di Coke Farm dengan baik. Dari evaluasi untuk context,mendapatkan jumlah nilai 1, yang menunjukkan bahwa konsep dantahapan yang dilakukan untuk program CSR Coke Farm tidak efektifuntuk pembangunan citra CCAI-CJ.b. Input: PR tidak melakukan tahapan perencanaan yang meliputi awarenessbuilding, CSR assessment, dan CSR manual. PR juga tidak melakukananalisis masalah dan tidak menyediakan SDM yang handal untuk CokeFarm. PR bersikap pasif dengan hanya mengikuti perencanaan dari pusattanpa mencoba untuk berinisiatif melakukan tahapan perencanaan dananalisis masalah untuk disesuaikan dengan keadaan wilayah di CCAI-CJ.Dari evaluasi untuk input mendapatkan jumlah nilai 0, menunjukkanbahwa indikator yang dilakukan dalam input untuk program CSR CokeFarm tidak efektif untuk pembangunan citra CCAI-CJ.c. Process: PR tidak mengalokasikan budget untuk Coke Farm. PR tidakmenjalankan tanggung jawabnya secara maksimal, terlihat dari tidakadanya time schedule yang dibuat untuk periode tertentu sebagai panduanuntuk melaksanakan kegiatan, PR juga tidak melakukan salah satu tahapandalam implementasi yaitu internalisasi. PR tidak dapat mengelola danmenjalin komunikasi yang baik dengan petani karena masih terdapatkonflik yang terjadi yang terjadi. PR tidak melibatkan banyak stakeholderuntuk terlibat di dalam Coke Farm secara langsung. PR sudah melakukantahapan monitoring tetapi tidak mencoba melakukan perbaikan dari hasilmonitoring yang telah didapatkan. Tahapan reporting juga sudahdilakukan, akan tetapi PR tidak melakukan evaluasi untuk melihatkeberhasilan program dalam membangun citra. Dari evaluasi untukprocess mendapatkan jumlah nilai 1, menunjukkan bahwa indikator yangdilakukan dalam process untuk program CSR Coke Farm tidak efektifuntuk pembangunan citra CCAI-CJ.d. Product: Program CSR Coke Farm tidak mampu membangun citra positifCCAI-CJ, yang dikarenakan PR tidak mendayagunakan kemampuannyadengan memanfaatkan CSR sebagai alat komunikasi untuk pembangunancitra, PR tidak dapat menyampaikan pesan tentang citra yang inginditampilkan kepada stakeholder, yang ditunjukkan dengan rendahnyapengetahuan masyarakat tentang program-program CSR yang dijalankanCCAI-CJ dan rendahnya pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan yangterdapat di Coke Farm karenakan PR belum mampu memanfaatkansaluran-saluran komunikasi yang ada secara efektif. Selain itu, PR tidakdapat memanfaatkan output yang telah didapatkan untuk dijadikan sebagaisarana pembangunan citra melalui publisitas di media, Coke Farm tidakmendapat dukungan penuh dari masyarakat yang ditunjukkan dari sikapmasyarakat yang banyak negatif, masyarakat juga belum merasakanmanfaat sosial dan lingkungan dari Coke Farm. Pada akhirnya Coke Farmbelum mampu mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan,sehingga Coke Farm tidak dapat mempengaruhi terbentuknya citra positifperusahaan dan tidak dapat memberikan manfaat bagi CCAI-CJ untukpembangunan citranya, ditunjukkan dengan citra sosial CCAI-CJ yangcenderung negatif dan citra ramah lingkungan yang juga cenderungnegatif. Dari evaluasi untuk product mendapatkan jumlah nilai 0,menunjukkan bahwa indikator yang dilakukan dalam product untukprogram CSR Coke Farm tidak efektif untuk pembangunan citra CCAICJ.PENUTUPPR CCAI-CJ tidak pernah melakukan evaluasi untuk melihat citra yangberhasil dibangun dari program CSR Coke Farm yang telah dijalankan. Citramerupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap praktisi PR. Dengan tidak adanyaevaluasi, PR CCAI-CJ tidak dapat mengetahui citra yang terbentuk di matastakeholder. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif,yang melibatkan 40 responden dan satu orang informan yang merupakan PRCCAI-CJ. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui citra CCAI-CJmelalui pelaksanaan kegiatan CSR Coke Farm di kalangan stakeholder eksternal.Model CIPP adalah model dengan decision oriented evaluation, dimanapeneliti harus memberikan keputusan untuk program mengenai apakah programakan dihentikan, dilanjutkan, dan dimodifikasi. Untuk program Coke Farm ini,keputusan yang diambil adalah PR perlu melakukan modifikasi untuk programCoke Farm agar mendapatkan hasil yang efektif untuk pembangunan citra CCAICJ.Modifikasi untuk Coke Farm dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:1. PR sebaiknya menyediakan SDM yang handal untuk dibentuk dalamstruktur organisasi yang dikhususkan untuk Coke Farm agarpengelolaan dan pelaksanaan dapat terkontrol baik dengan adanyaSDM yang difokuskan untuk membantu PR dalam Coke Farm.2. PR sebaiknya menambahkan jumlah petani yang menjadi targetsasaran dari Coke Farm, karena pada saat ini jumlah yang menjaditarget sasaran masih tergolong sangat kecil. Dengan menambahkantarget sasaran akan banyak memberikan manfaat bagi masyarakatyang sebagian merupakan petani.3. PR bisa melibatkan masyarakat sekitar untuk ikut dalam beberapakegiatan yang dilakukan di Coke Farm, misalnya saja untuk kegiatanpelatihan dan penyuluhan tentang pertanian. Kegiatan tersebut bisadilakukan dengan mengajak banyak masyarakat sekitar yang bukanhanya petani penggarap Coke Farm saja. Dengan begitu masyarakatsekitar akan merasa dilibatkan dan mengurangi kecemburuan sosialyang ada.4. PR sebaiknya membuat jadwal kegiatan yang dikhususkan untukpetani untuk periode waktu tertentu, agar kegiatan yang dilakukanpetani dapat berjalan dengan jelas dan teratur sesuai dengan jadwalyang telah dibuat PR. Sebab, ketika petani tidak dijadwalkan untukdatang ke Coke Farm maka petani itu tidak akan setiap hari datanguntuk terus mengawasi tanamannya, dan PR menyatakan jika itukesalahan dari petani. Padahal itu juga merupakan kesalahan PR yangtidak membuat jadwal tetap bagi petani.5. PR bisa mengajak peserta plant visit ke lokasi Coke Farm untukmelihat langsung kegiatan yang ada di dalamnya sebagai upaya untukmengomunikasikan Coke Farm kepada publik, seperti yang telahdilakukan oleh Plant Coca-Cola di Bandung. Dengan mengajakpeserta plant visit ke lokasi Coke Farm akan menjadikan banyakorang yang mengetahui akan adanya Coke Farm.Penelitian ini mengambil kesimpulan bahwa PR CCAI-CJ tidak bisamemanfaatkan CSR Coke Farm untuk kepentingan citra. CSR dijalankan hanyauntuk memenuhi kewajiban CCAI-CJ yang mana sebagai anak perusahaan harusmematuhi kebijakan dari pusat dan mematuhi peraturan perundang-undangan daripemerintah, tanpa melakukan upaya-upaya lebih lanjut sesuai dengan konsep PRuntuk mencapai keberhasilan dalam pembangunan citra. Coke Farm yang telahdijalankan sejak tahun 2009 tidak mampu menghasilkan citra positif, dibuktikandari citra sosial CCAI-CJ yang cenderung negatif dan citra ramah lingkunganyang juga cenderung negatif. Coke Farm juga tidak mampu membuat masyarakatmempunyai sikap yang positif terhadap CCAI-CJ, yang ditunjukkan dengan sikapmasyarakat yang banyak negatif terhadap CCAI-CJ.Kesimpulan lain yang sekaligus merupakan kritik kepada PR CCAI-CJ,yakni PR CCAI-CJ tidak pernah melakukan riset untuk perencanaan programCoke Farm, semuanya hanya berdasarkan asumsi belaka. Citra yang terbentukdari program Coke Farm juga diketahui hanya berdasarkan asumsi PR belaka.Kondisi ini berbanding terbalik dengan dunia PR yang sesungguhnya, dimanapada setiap kegiatan harus diawali dengan riset untuk bisa menentukan masalahyang jelas dan spesifik. Selain itu, CSR yang seharusnya bisa dijadikan sebagaialat komunikasi untuk pembangunan citra, tidak dapat dimanfaatkan baik oleh PR.Coke Farm tampak berjalan sia-sia dengan tidak mampu menghasilkan penilaianyang positif dari stakeholder, dimana PR menjalankan program ini tidak secarasungguh-sungguh. Banyak tahapan penting yang seharusnya dilakukan namuntidak dilakukan. Pengelolaan program Coke Farm juga masih kacau, tidak adanyaSDM handal yang disediakan, banyak kegiatan yang tidak dijalankan, tidakmampu mengelola komunikasi yang baik sehingga masih sering menghasilkankonflik. Itulah beberapa contoh kecil yang sangat fatal apabila disepelekan olehseorang praktisi PR. Karena hal-hal tersebut juga akan turut mempengaruhikeberhasilan program. Keberhasilan program pada akhirnya akan berpengaruhterhadap terbentuknya citra positif perusahaan.DAFTAR PUSTAKAArafat, Wilson. (2006). Behind A Powerful Image : Menggenggam Strategi danKunci-kunci Sukses Menancapkan Image Perusahaan yang Kokoh. Yogyakarta :Penerbit Andi.Basuki, Sulistyo. (2006). Metoda Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.Cutlip, Center, dan Broom. (2006). Effectively Public Relations. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Djam’an Satori Dan Aan Komariah. (2009). Metode Penelitian kualitatif.Bandung: Alfabeta.F. Rachmadi. (1996). Public Relation dalam Teori dan Praktek. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.Mardalis. (2004). Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: PT.Bumi Aksara.Moleong, J. Lexy. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT RemajaRosdakarya Offset.Mudrajat Kuncoro. (2001). Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi Untuk Bisnisdan Ekonomi. Yogyakarta : UPP AMP YKPN.Mutofin. 2010. Evaluasi Program. Bandung: Laksbang Presindo.Soemirat, Soleh dan Elvirano Ardianto. (2003). Dasar-Dasar Public Relation.Bandung : Remaja Rosdakarya.Susanto, A.B. (2009). Reputation-Driven Corporate Social Responsibility,Pendekatan Strategic Management dalam CSR. Jakarta: Esensi Erlangga Grup.Patton, Michael Quinn. (2006). Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta: PustakaPelajar.Ruslan, Rosady. (2006). Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Ruslan, Rosady. (1998). Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi,konsepsi dan aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers.Tashakkori, Abbas dan Charles Teddlie. (2010). Mixed Methodology. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Untung, Hendrik Budi. (2008). Corporate Social Responsibility. Jakarta : SinarGrafika.Wibisono, Yusuf. (2007). Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (Corporate SocialResponsibility). Gresik: Fascho Publishing.SkripsiIbrahim, Adi Kurnia. (2011). Strategi Public Relations PT TelekomunikasiIndonesia, Tbk. Dalam Program CSR Pembinaan Usaha Kecil. Skripsi. ProgramStudi Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Universitas Bina Nusantara.Kumalasari, Manik Andiani. (2010). Implementasi Program Community DialoguePlatform Sebagai Upaya Membangun Goodwill Antar Stakeholder untuk RealisasiPerencanaan Program Corporate Social Responsibility Komunitas Industri diKecamatan Bergas Kabupaten Semarang. Skripsi. Program Studi IlmuKomunikasi. Semarang: Universitas Diponegoro.Majid, Paramita. (2012). “Pengaruh Penerapan Corporate Social Responsibility(CSR) Terhadap Citra Perusahaan Pada PT. Hadji Kalla Cabang Sultan Alaudin,Makassar”. Skripsi. Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial danIlmu Politik. Makassar: Universitas Hasanuddin.
STRATEGI PUBLIC RELATIONS DALAM MEMBANGUN BRANDING RUMAH SAKIT TELOGOREJO MENJADI SEMARANG MEDICAL CENTER Rifka Ayu Pertiwi; Agus Naryoso; Yanuar Luqman
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.918 KB)

Abstract

viiiSTRATEGI PUBLIC RELATIONS DALAM MEMBANGUN BRANDINGRUMAH SAKIT TELOGOREJO MENJADI SEMARANG MEDICALCENTERAbstrakPerubahan brand merupakan hal yang sering terjadi pada sebuah institusi atauperusahaan. Hal ini menjadi salah satu pekerjaan humas yang bersangkutan dalammendapatkan kesadaran target audiens terhadap perubahan brand tersebut.RS Telogorejo melakukan perubahan brand menjadi Semarang MedicalCenter. Sedangkan brand RS Telogorejo sudah melekat di benak target audienssebagai rumah sakit swasta nomor satu, terlihat dari jumlah kunjungan yangmenempati peringkat tertinggi di Semarang. Hal ini diperlukan strategi tertentuyang meliputi berbagai proses dalam membangun brand tersebut di benak targetaudiens.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi humas RSTelogorejo dalam melakukan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasiuntuk pembangunan branding pada RS Telogorejo Semarang serta untukmengetahui indikator keberhasilan branding Semarang Medical Center. Olehkarena itu, metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatifdengan pendekatan studi kasus.Hasil penelitian ini menunjukkan strategi yang dilakukan humas RSTelogorejo dalam membangun branding Semarang Medical Center yang terfokuspada media promosi, yaitu dengan mengganti logo RS Telogorejo yang ada dimedia promosi menjadi logo Semarang Medical Center. Selain itu, humas jugamemanfaatkan media cetak dan media elektronik untuk melakukan perubahanbranding, dan mengirim press release ke media.Kata Kunci : branding, rumah sakit, Telogorejo, strategi, humasixPUBLIC RELATIONS STRATEGY FOR THE BRANDING OFTELOGOREJO HOSPITAL INTO SEMARANG MEDICAL CENTERABSTRACTRebranding is a common thing in an institution or company. This hasbecome one of the public relations work is concerned in getting the awareness ofthe target audience for the new brand.RS Telogorejo rebrand to Semarang Medical Center. While the RS brandhas adhered minds Telogorejo target audience as the number one private hospital,seen from the number of visits that ranks highest in Semarang. This particularstrategy is needed that includes a variety of processes in building the brand in theminds of the target audience.The purpose of this study was to determine the RS Telogorejo publicrelations strategy in conducting the planning, implementation, and evaluation forthe development of branding on Telogorejo Hospital Semarang and to determineindicators of the success of branding Semarang Medical Center. Therefore, theresearch method used was a qualitative research method with a case studyapproach.The results of this study indicate that conducted public relations strategy tobuild branding Telogorejo Hospital Semarang Medical Center that focuses on themedia campaign, which is to replace the existing logo Telogorejo Hospital inmedia promotion became the Semarang Medical Center. In addition, the publicistalso utilize print and electronic media for rebranding, and send press releases tothe media.Key words : branding, hospital, Telogorejo, strategy, public relationsSTRATEGI PUBLIC RELATIONS DALAM MEMBANGUN BRANDING RUMAHSAKIT TELOGOREJO MENJADI SEMARANG MEDICAL CENTER1. PendahuluanPublic Relations atau humas adalah bidang yang berkaitan dengan penciptaan sertapemeliharaan citra dari perusahaan, institusi, pemerintah, serta figur-figur ternama sepertiselebritis dan politisi. Dari waktu ke waktu, kebutuhan akan pelaku public relations selalumeningkat. Klien-klien yang dilayani bisa dari pemerintahan, institusi pendidikan,organisasi, industri, perusahaan, club olahraga, pelaku dunia hiburan, rumah sakit, danlain-lain. Bidang public relations melibatkan para tenaga ahli untuk melancarkan tugasdiantara penerbit, pakar media, analis, dan ahli komunikasi. Humas pada sebuah RumahSakit dalam menjalankan fungsinya tidak jauh berbeda dengan fungsi humas lembaga yanglain baik pemerintah maupun swasta. Yang membedakan adalah, tanggung jawab seoranghumas atau public relations rumah sakit yaitu melaksanakan penyampaian informasitentang Rumah Sakit kepada customer baik pelanggan tetap maupun calon pelanggandengan lengkap dan data yang akurat.RS Telogorejo melakukan perubahan brand menjadi Semarang Medical Center.Hal ini dilatarbelakangi karena RS Telogorejo ingin menjadi pusat kesehatan di kotaSemarang. Sedangkan brand RS Telogorejo sebenarnya telah melekat di benak targetaudiensnya. Tanpa melakukan perubahan brand, RS Telogorejo telah menjadi rumah sakitswasta nomor satu di kota Semarang dilihat dari jumlah kunjungan yang meningkat daritahun 2009-2011. Dengan perubahan brand ini, menimbulkan pekerjaan tersendiri bagihumas RS Telogorejo karena membutuhkan strategi khusus yang diimplementasikanmelalui tahapan strategik meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam rangkamembangun brand Semarang Medical Center di benak target audiens, dan stakeholderinternal maupun eksternal. Mengamati kondisi tersebut, penelitian ini bermaksudmerumuskan permasalahan tentang bagaimana strategi humas RS Telogorejo dalammelakukan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk pembangunanbranding RS Telogorejo sebagai Semarang Medical Center?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi humas RS Telogorejodalam melakukan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk pembangunanbranding pada RS Telogorejo Semarang serta untuk mengetahui indikator keberhasilanbranding Semarang Medical Center. Metode penelitian yang digunakan adalah metodepenelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatifdengan menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian deskriptif kualitatif bertujuanuntuk menggambarkan, meringkas berbagai realitas sosial yang ada di masayarakat yangmenjadi objek penelitian dan menarik realitas tersebut kepermukaan sebagai gambarantentang fenomena tertentu.2. PembahasanDalam melakukan strategi untuk mengubah branding diperlukan survey pendahuluanterlebih dahulu. Akan tetapi humas tidak melakukan survey secara eksternal, hanyamelakukan survey secara internal. Target dari survey tersebut adalah karyawan per divisi,office in charge (orang yang bertanggungjawab dalam setiap divisi), dan yayasan. Surveyyang dilakukan humas RS Telogorejo dengan cara menggunakan questioner. Dalamquestioner tersebut ada beberapa pilihan yaitu perubahan nama rumah sakit, logo rumahsakit, desain pembangunan gedung, dan desain seragam karyawan. Kegiatan surveydilakukan pada saat sebelum dibangunnya brand yang baru yaitu pada tahun 2010. Akantetapi, nama rumah sakit berubah setelah pembangunan gedung mencapai 70% yaitu padaJanuari 2013.Strategi yang digunakan public relations dalam pembangunan branding adalahpersuasive dan event. Media yang digunakan dalam strategi ini adalah media cetak sepertikoran, media promosi seperti poster, spanduk, leaflet, kalender, serta media elektronikseperti web, facebook, dan twitter. Bentuk kegiatan yang dilakukan media cetak yaitudengan pemberitahuan adanya seminar, donor darah, produk baru rumah sakit. Dalampemberitahuan tersebut selalu menggunakan SMC dan menampilkan logo baru SMC.Selain itu, event yang dilakukan untuk membangun brand dengan cara seminar kesehatandan membuka stand kesehatan yang diselenggarakan di hotel dan mall.Humas rumah sakit Telogorejo Semarang Medical Center melakukan perubahanbranding tidak hanya dari logo saja, tetapi juga pembangunan gedung baru, fasilitas baru,dan pelayanan yang baru. Alokasi dana yang dibutuhkan untuk melakukan perubahanbranding sebesar ratusan milyar rupiah. Perubahan yang dilakukan oleh Humas RumahSakit Telogorejo adalah logo baru, pembangunan gedung, fasilitas baru, dan pelayananyang baru.Program-program yang dilaksanakan humas RS Telogorejo dalam membangunbranding yang pertama adalah memberi logo baru Rumah sakit yaitu SMC (SemarangMedical Center) melalui media promosi seperti koran, poster, brosur, ambulance,cybernet, souvenir, dan lain-lain. Souvenir diberikan kepada pasien rawat inap yangsedang berulang tahun dan diberikan untuk masyarakat yang menyumbangkan darahnya(donor darah) di RS Telogorejo. Souvenir dengan logo SMC itu diberikan dengan tujuanagar masyarakat mengetahui perubahan branding RS Telogorejo. Souvenir yang diberikanantara lain adalah payung, mug, dan jam dinding. Kemudian humas mengganti logo RSTelogorejo menjadi SMC yang ada disetiap sudut rumah sakit. Strategi lain yang dilakukanhumas dalam mengubah branding yaitu apabila ada seminar atau penyuluhan kesehatankepada masyarakat, humas selalu memberikan informasi mengenai brand baru rumah sakitagar masyarakat mengetahui perubahan branding RS Telogorejo. Kemudian humas jugamengganti semua logo di website, kop surat, screen komputer karyawan, seragamkaryawan, memberi logo SMC pada petunjuk jalan, tempat parkir, dan setiap sudut ruangstrategis yang ada di rumah sakitHumas RS Telogorejo SMC juga memanfaatkan media cetak dan media elektronikuntuk melakukan perubahan branding. Bentuk kegiatan yang dilakukan pada media cetakadalah pemberitahuan adanya seminar, donor darah, dan produk baru yang ada di rumahsakit. Dalam pemberitahuan tersebut selalu menampilkan logo SMC. Selain itu humas jugaselalu mengirim press release ke media, baik cetak maupun cybernews. Bentuk kegiatanyang dilakukan pada media elektronik yaitu dengan cara beriklan di radio Trijaya FM.Iklan tersebut tayang setiap hari selama tiga bulan sejak dibangunnya branding (Januari –Maret 2013).Dalam membangun branding Semarang Medical Center, humas melakukanevaluasi untuk mengetahui keberhasilannya. Evaluasi dilakukan setiap tiga bulan sekali.Proses evaluasi dalam kegiatan pembangunan branding dengan cara observasi, yaitumenghitung jumlah pasien rawat inap. Target setiap bulan adalah 301 pasien. Sedangkanpemberitaan di media minimal empat kali pemberitaan setiap bulan. Untuk menghitungjumlah pasien, humas bekerjasama dengan bagian rekam medis. sedangkan untukmenghitung pemberitaan di media, setiap pemberitaan yang dimuat di media selalu dikliping.3. PenutupBerdasarkan permasalahan dan tujuan dari penelitian ini, maka dapat dipaparkankesimpulan yaitu dalam melakukan strategi untuk membangun branding SemarangMedical Center diperlukan beberapa tahapan, antara lain:1. Penelitian (Research)Dalam membangun branding, strategi pertama yang dilakukan humas RSTelogorejo dengan cara melakukan survey. Survey dilakukan secara internal yaitumemberikan questioner kepada staf dan karyawan rumah sakit. Dalam questionertersebut ada beberapa pilihan yaitu perubahan nama rumah sakit, logo rumah sakit,desain pembangunan gedung, dan desain seragam karyawan. Humas tidakmelakukan survey penelitian mengenai situasi khalayak serta sikap dan opinimasyarakat. Setelah memperoleh hasil survey, humas melakukan tahapperencanaan untuk membangun branding Semarang Medical Center.2. Perencanaan (Planning)Dalam melakukan kegiatan branding, humas RS Telogorejo menggunakan tahapperencanaan. RS Telogorejo mengubah branding menjadi Semarang MedicalCenter dengan tujuan agar masyarakat mengetahui bahwa pusat kesehatan di KotaSemarang adalah RS Telogorejo. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya prestasiprestasidan reputasi medis yang dimiliki rumah sakit yaitu pada tanggal 29 April2009, RS Telogorejo menerima sertifikat ISO 9001:2008 yang dikeluarkan VNZNew Zealand. Sertifikat ini sekaligus menempatkan RS Telogorejo menjadi rumahsakit pertama di Indonesia yang menerima ISO 9001:2008. Pada tahapperencanaan, humas telah menyusun waktu pelaksanaan kegiatan branding, yaitusejak Januari 2013. Cara atau strategi yang dilakukan humas dalam membangunbranding Semarang Medical Center adalah persuasive, event, dan tactic. Targetaudience dari kegiatan branding ini adalah masyarakat Jawa Tengah danmasyarakat Indonesia pada umumnya, dan masyarakat Semarang pada khususnya.Dana yang dibutuhkan dalam membangun branding berkisar hingga ratusan milyarrupiah.3. Pelaksanaan (action)Dalam membangun branding, kegiatan yang dilakukan yaitu menggunakankomunikasi antar personal dengan cara memberikan souvenir untuk pasien yangberulang tahun, memberikan souvenir kepada pengunjung yang mendonorkandarahnya, membuka stand dan pameran kesehatan dengan cara cek kesehatan gratisdi mall. Sedangkan komunikasi kelompok yang dilakukan humas adalahmengadakan seminar kesehatan, mengadakan kegiatan donor darah, danmengadakan gathering untuk komunitas-komunitas yang ada di rumah sakit.Komunikasi mass media yang dilakukan humas RS Telogorejo dengan caramenginformasikan kegiatan yang akan dilakukan melalui media cetak, cybernewsdan facebook, membuat press release dan advetorial, memberikan informasimengenai perubahan branding melalui poster, leaflet, acrylic, dll.4. Evaluasi (Evaluation)Evaluasi merupakan tahap penilaian. Evaluasi adalah tahap terakhir setelah tahapanpenelitian, perencanaan dan action tersebut. Monitoring dan evaluasi dalammembangun branding RS Telogorejo SMC dilakukan oleh humas rumah sakit.Indikator dalam monitoring tersebut yaitu publikasi kegiatan rumah sakit, publikasikegiatan di luar rumah sakit, penyuluhan intern, kegiatan donor darah, promosimedia elektronik (televisi dan radio), event organizer kegiatan rumah sakit,pemasangan media promosi, CSR Rumah Sakit Telogorejo, pemberian parcel hariraya, pembuatan majalah, pembuatan website, dan pembuatan brosur. Evaluasidilakukan setiap tiga bulan sekali. Proses evaluasi dalam kegiatan pembangunanbranding dengan cara observasi, yaitu menghitung jumlah pasien rawat inap.Target setiap bulan adalah 301 pasien. Sedangkan pemberitaan di media minimalempat kali pemberitaan setiap bulan. Untuk menghitung jumlah pasien, humasbekerjasama dengan bagian rekam medis. sedangkan untuk menghitungpemberitaan di media, setiap pemberitaan yang dimuat di media selalu di kliping.5. Indikator keberhasilanAda 2 hal yang menjadi indikator keberhasilan dalam kegiatan branding RSTelogorejo SMC:a. Jumlah PasienJumlah pasien memperlihatkan kenaikkan atau penurunan jumlah pasien.Target jumlah pasien yang harus dicapai dalam pembangunan branding iniadalah 80%-90% bed atau 301 bed per bulan.b. Pemberitaan di MediaPemberitaan di media mempengaruhi jumlah pengunjung RS TelogorejoSMC. Humas menargetkan 50x pemberitaan setiap tahunnya.DAFTAR PUSTAKAAaker, D. A. (1996). Measuring Brand Equity Across Products and Markets. CaliforniaManagement Review. Berkeley: Spring. Vol.38. Iss.3Arafat, Wilson. (2006). Behind a Powerful Image. Yogyakarta : Andi Offset.Baran, Stanley J ,Dennis. & K.. Davis (2004). Teori Komunikasi Massa : DasarPergolakan, dan masa Depan. Jakarta : Salemba Humanika.Buchari, Alma. (2008). Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan.Bandung : Alfabeta.Bungin, Burhan. (2008). Konstruksi Sosial Media. Jakarta : Prenada Media Group.Clarkson, B. E. M. (1995). A Stakeholder Framework For Analysing and EvaluatingCorporate Social Performance : Academy of Management ReviewCicik, Erika. (2012). Peran Humas Rumah Sakit Telogorejo Dalam Meningkatkan CitraPositif di Hadapan Masyarakat. Undip : Semarang.Coulson, Colin, Thomas. (2002). Pedoman Praktis Untuk Public Relations. Jakarta : BumiAksara.Cutlip, Scott M. (2007). Effective Public Relations. Jakarta : Kencana.Effendy, Onong Uchyana. (2009). Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Bandung:Rosdakarya.Endah P, Chatarina. (2011). Mix Methodology Dalam Penelitian Komunikasi. Yogyakarta: Aspikom.http://www.facebook.com/rs.telogorejo.7?fref=tshttp://dglib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=18179http://www.imtj.com/articles/2008/indonesia-why-indonesians-go-overseas-for-medicalcare/http://hospitals.webometrics.info/en/Asia/Indonesia%20Jefkins, Frank. (2004). Public Relations. Jakarta : Erlangga.Kasali, Rhenald. (2003). Manajemen Public Relations. Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti.Kapferer, Jean-Noel. (2008). New Strategic Brand Management : Creating and SustainingBrand Equity Long Term 4th Edition. London and Philadelphia : Kogan Page.Lincoln, Yvona S dan Egon G. Guba. (1985). Naturalistic Inquiry. Beverly Hills : SagePublications.Maya Sari, Vita. (2009). Peran Public Relations Rumah Sakit Roemani Semarang DalamMembangun Citra Positif di Masyarakat. Undip : Semarang.Moleong, Lexy J. (2007).Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda.Moore, Frazier. (2005). Humas : Membangun Citra Dengan Komunikasi. Bandung : PTRemaja Rosdakarya.Morissan. (2008). Manajemen Public Relations. Jakarta : Kencana.Morissan. (2010). Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta : Kencana.Patton, Michael Quinn. (2006). Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka.Rangkuti, Freddy.( 2004). The Power Of Brand tehnik mengelola Brand Equity danStrategi Pengembangan Merek. Jakarta : Gramedia.Roslan, Rosady. (2004). Etika Kehumasan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.Roslan, Rosady. (2006). Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi. Jakarta :Raja Grafindo Persada.Schiffman, L.G., Kanuk, L.L. (2000). Consumers Behavior 7th ed. New Jersey : Prentice-Hall, IncSetiadi, N. J. (2003). Perilaku Konsumen : konsep dan Implikasi untuk Strategi danPenelitian Pemasaran. Jakarta : Prenada Media.Severin, Werner J dan James W Tankard. (2005). Teori Komunikasi. Jakarta : PrenadaMedia.Theaker, Alison. (2001). The Public Relations Handbook. Roudledge.Uyung, Sulaksana. (2005). Integrated Marketing Communication. Yogyakarta : PustakaPelajar.Yin, Robert K. (2011). Studi Kasus:Desain dan Metode. Jakarta : PT.RajagrafindoPersada.
HUBUNGAN ANTARA KECAKAPAN KOMUNIKASI FRONTLINER DENGAN KEPUASAN NASABAH PT. BANK TABUNGAN NEGARA Radhityo Ryandhika Rakadiputra; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.688 KB)

Abstract

Information becomes one of the important things within bank institutions. The fulfillment of information is one part in the service process. Information was originally came from the frontliner. The role of frontliner communication is well needed in the service process with the purpose of creating customer satisfaction. Services are not just a fulfillment of customers’ needs, but also must be able to satisfy customers far above customer expectations. Communication skills becomes one of the factors that affects the quality of service and the satisfaction level of customers. With good communication skills it is expected to create customer satisfaction. The purpose of the study was to figure out the relationship between frontliner communication skills with the satisfaction of PT Bank Tabungan Negara customers. The study used descriptive quantitative research methods. Data collection techniques use the method of spreading questionnaires. The analysis used is cross tabulation analysis. The data received from the questionnaires processed by categorizing the overall aspects of communication skills and customer satisfaction resulting in data showing that out of a total of thirty (30) respondents were known as forty percent (40%) respondents stated that frontliners had good communication skills and customers were satisfied, three point three percent (3.3%) respondents stated that frontliners had good communication skills and customers were very satisfied, six point seven percent (6.7%) of respondents stated that frontliners had excellent communication skills and customers were satisfied, and fifty percent (50%) of respondents stated that frontliners had excellent communication skills and customers were very satisfied. Based on cross-tabulation analysis that has been done, it is known that customer assessment of the level of communication skills shared by the PT Bank Tabungan Negara frontliners is in line with the level of satisfaction felt by customers. In other words, the better customer assessment of communication skills possessed by the frontliners of PT Bank Tabungan Negara, the customers are increasingly satisfied. It can be concluded that frontliner communication skills are related to customers satisfaction of PT Bank Tabungan Negara.
Facebook sebagai Media Personal Branding Danieta Rismawati; Agus Naryoso; Hedi Pudjo Santosa; Wiwied Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Facebook telah menjadi media sosial yang sangat popular digunakan saat ini. Media sosial ini memberikan kesempatan bagi penggunanya untuk menjalin komunikasi interpersonal dengan pengguna lain baik yang sudah dikenal maupun orang asing. Hal ini membuat banyak orang tertarik menggunakannya. Hampir bisa dipastikan bahwa setiap manusia modern yang tidak asing dengan teknologi internet memiliki akun di Facebook. Update status menjadi fitur yang paling digemari pengguna Facebook karena melalui fitur ini pengguna dapat memposting apapun yang ada di dalam pikiran mereka. Dalam setiap posting yang dibuat di Facebook, seorang pengguna tengah melakukan pengungkapan diri. Pengungkapan diri yang dilakukan sengaja diatur agar dapat memunculkan kesan tertentu agar orang lain memiliki persepsi seperti yang diharapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengalaman komunikasi pengguna Facebook sebagai media personal branding. Penelitian ini menggunakan konsep Computer Mediated Communication (Beebee, 2005), pengungkapan diri atau self disclosure (Joe Luft dalam Devito, 2007), personal branding (Rampersad, 2008), dan konsep dramaturgi dalam teori interaksionisme simbolik (Goffman, 1959 dalam Mulyana, 2002). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam kepada dua orang informan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Facebook digunakan sebagai ajang pengungkapan diri oleh penggunanya. Dalam proses pengungkapan diri ini, pengguna dengan sengaja melakukan pengaturan atau manajemen kesan sebagai cara mereka membangun personal branding di lingkungannya. Tidak semua hal diungkapkan di Facebook. Hal-hal yang dapat merusak personal branding dan mempengaruhi kesan yang tampak di depan khalayak sengaja disembunyikan oleh pengguna. Personal branding dilakukan untuk membentuk kredibilitas agar khalayak memiliki kepercayaan terhadap pengguna dalam situasi tertentu, baik di dunia maya maupun di kehidupan nyata. Kata kunci: komunikasi interpersonal, CMC, pengungkapan diri, dramturgi, personal branding
INTIMATE RELATIONSHIP IN TA’ARUF COUPLE Marlia Rahma Diani; Sri Widowati Herieningsih; Turnomo Rahardjo; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.758 KB)

Abstract

Marriage is something coveted in every relation. There are some ways of introducing to acouple before the wedding. Ta’aruf couples through their introducing and also developing oftheir relationship in a very short. So they didn’t know each other in a specific things.Communication between ta’aruf couples also must go by a mediator. It causes for thedistortions messages in their communication. Besides information about the couple obtainedfrom the process of ta’aruf is also limited because of the intercommunication limits that mustbe obeyed restrictions in accordance with islamic syariah.The purpose of this research is to find the experience of the ta’aruf couples in undergothe process at the communication time and knowing that occur in pairs of closeness inrelationships or intimate relationship. The used theories are Penetration Social Theory byIrwin Altman Damask and Taylor and the Dialectics Relational Theory by Baxter andMontgomery. To describe in detail to the development of intimate relationship in the ta’arufcouples. This research is using qualitative methodology with the approach phenomenology.Subject in this research is the newly married ta’aruf couples, with two or three months ofmarried using ta’aruf process.Based on the results, ta’aruf became a means to know each other and get informationfrom each other to minimize uncertainty information between one another. The ta’arufcouples began to minimize the uncertainly general information of themselves by exchangetheir curriculum vitae who mediated by a mediator.Trust, self disclosure, and responsibilities are becoming a key in relations developingfor a familiar intercourse between ta’aruf couples. In facing a conflict, a ta’aruf couple like todiscussing with a mediator to the conflict that appears. So it would not be a failed factor inta’aruf process.
Co-Authors Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adi Sukma Waldi Adita Nicko Besari, Adita Afny Khotiatina Afrida Renindyana Putri Agnesya Putri Winanda Ahmad Jailani Siregar Ahmad MAULANA Ahmad Mulyadi Ahyar Yuniawan Aini Fathuningtyas, Maghfira Ainurizaq Putri Aria Santi Al Ghifari, Rafdil Alam Tonggak Amarta Aldha Wulan Nugraheni Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alif Ardhi Wijaya Alifati Hanifah Alisha Mumtaz, Farah Ambar Rakhmawati Amelia Monica Amida Yusriana Amida Yusriana Aminuyati Amrina, Afrilla Anastasia Betsy Palupi Andhika Putra Nugraha Andika Al Hakiem, Muhammad Angelika Putri Ariyani Anggia Anggraini Anggita Muti Arani Zulaikho Anggita Primartiwi Anindhita Puspasari Anindya Ratna Pratiwi Anis Kurniasih Anisa Citra Mahardika Annisa Aulia Mahari Anugrah Beta Familio Anunsiata Vanda Sanderiana Apriani Rahmawati Apriliansyah, Dimas Arbi Azka Wildan, Arbi Azka Ardelia Fitriani, Neysa Arditya Drimulrestu Arifa Rachma Febriyani Arifa Rachma Febriyani Arum Fatimah, Zahra Arum Putri Anjaly Asri Rachmah Mentari Astifah Asdir Atasa Yudha Ergana Atina Primaningtyas Audrey Marsanda, Marchella Audrey Nathania Priscilla Karundeng AULIA NURHASANAH, LISTIA Auralia Wahyu Pradipta Aurisa Hangesti Putri Ayu Emilia Kurniawati Azalea Puspa Sessarina Azka Tsania Yahdini Bagas Satria Pamungkas Basir, Rafi Usman Bayu Bagus Panuntun Bayu Vita Al Hayuantana, Bayu Vita Beta Himawan Putra, Beta Himawan Bintang Diega Pratama Budi Adityo Budiansyah, Dadan Charisma Rahma Dinasih Chykla Azalika Cipta Uli Mediana, Cipta Danieta Rismawati David Fredy Christiyanto David Fredy Christiyanto, David Fredy Debi Astari Decyana Ristiani Deni Arifiin Denta Iswara Kiranasari Setiaji Desy Nurulita Devi Yuhanita Qorina, Devi Yuhanita DHEARAMA FITRI, DHEARAMA Dimas Luky Endra Sadewo, Dimas Dimas Muhammad Dinda Dwimanda Wahyuningtias Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Dubha Kaldota Diptapramana Dwi Candra Rini Dwi Purbaningrum Dwi Purbaningrum, Dwi Dyah Pitakola, Dyah Dyah Woro Anggraeni Egi Famela Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elisabeth Diana Tindarana Elisabeth Naome, Elisabeth Elisabeth Putri Widasari Elisabeth Sianturi Endang Retnowati Endivi Reksi Novrinta Reksi Novrinta Eryke Pramestaningtyas Fajrina Aulia Arumdhani Fajru Akbari Putra Sinik, Fikri Falah, Moh. Imam Fajrul Febriyanti, RT Annisa feby mangireta . Felisitas Yolandita Suryo Kinasih Fetiyana Luthfi Prihandini Feyza Syifa Ashila Fitri Kaniyah Fitri Nur Hidayat Gabryella, Cathrine Gebiya Efriman Putri Ghaisani, Shabrina Ghozi Garbo Sumarsono Hafiz Maulana Sadiq Hanan Hauzan, Muhammad Hapsari Dwiningtyas Harry Vidita Eka Putra Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrianto Noor Ikhwan Henny Novita Rumono Hesti Rahmawati, Widiastri Hilal Al Roshid, Fhatwa Hosa Abirama Kalandara Hutauruk, Bagas Ilman Mursid Andaru Imam Dwi Nugroho Indah Pratiwi Intan Murni Handayani Irawati Sri Wulandari Irfan Zuldi Irine Rachmitasari, Irine IVON BAHARANI, IVON Jana Miani Ulfah Jaza Akmala Ramada Jeffry Septian Putra Jehovani Ratna Mourina, Stella Jessica Inez Indriani, Febronia Joyo Nur Suyanto Gono Juita Putri Tristanti, Juita Junelsa Panggalo Kaloka, Rintulebda A. Karina Desi Hariyanto Kartika Ayu Pujamurti Kevin Surya Laksmana, Muhammad Khairunnisa Azizah Khalwah Nabilah Ustushfia Khansa Faadilah Kiky Rizkiana Laeis, Zuhdiar Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Ramiaji Lizzatul Farhatiningsih Lovegi David Sanjaya, Lovegi David Lutfi Oktavia Dewi M Bayu Widagdo M Yulianto M. Ikhlasul Amal Maghfira Ainun F. Maharani Harris, Marsya Manggala Hadi Prawira Maria Elgyptya Assegaff Marlia Rahma Diani Marshanda Putri, Tyara Martha Caesarin Putri Yulinta Maya Puji Lestari Melinda Ayu Santosa Mellisa Indah Purnamasari Mia Michaela Michael Lucky Ananda Mj Rizqon Hasani Mj Rizqon Hasani, Mj Rizqon Much Yulianto Much Yulianto M.Si Much Yulianto M.Si, Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yuliyanto Muchamad Yuliyanto Muchamad Yuliyanto Muhammad Haikal, Khan Muhammad Hasan Atqiya Muhammad Kholis Nuha Muhammad Raihan Alifiardy Muhammad Rizki Maulana Mujahidah Amirotun Nisa Mustika Berlinda, Lisa Nabila Rezki, Anisa Nabila, Nisrina Laila Nadhif Zufar Faizal, Sulthan Nadia Audy Janatun Adn Nadia Dwi Agustina Nadin Khairun Nisa Nadya Putri Arnolia Naili Farida Nanda Immanuella Natasya Elizabeth Nimas Sintha Naurisma Ninda Nadya Nur Akbar Novia Widiastuti Novita Wulandari Nurayyan, Amanda D Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurriyatul Lailiyah Nurul Hasfi Oithona Gracelia R. Hutabarat, Oithona Gracelia R. Phopy Harjanti Bulandari Pinondang Caroline, Andrea Primada Qurrota Ayun Putri Susiandi, Alya Radhityo Ryandhika Rakadiputra Rahmanuz Zidan, Aimar Rahmi Hayati Rakanita Oktaviani Hadi Saputri Rakasiwi Oktaviana Hadi Saputri Rasyid Farhan Taufik, Mohammad RATIH KHOIRUNNISA Raynaldo Faulana Pamungkas Razan Fathantra, Ryan Renindyana Putri, Afrida Retno Wulandari Retno Wulandari Reza Andriana Dewanti Rian Irmawan Ribka Minatisari Sekeon Rifka Ayu Pertiwi Rintulebda A.K Rintulebda Anggung Kaloka Rismiyati Rismiyati Rizki Nuriandini Rizky F, Annisa Rizky Johanuari Putri Rony Kristanto Setiawan Rr Ratri Feminingrum Rukti Rumekar S Rouli Manalu Saiful Imron Sakinah KP, Dianti Santoso, Hedi Pudjo Saskia Elvira Saundra Centauria Selo Pangestu Imawan Sembiring, Rinawati Shabrina Farahzatu Ghassania Shahnaz Natasha Anya Shinta Maheswari, Irene Silvia Kartika C Dewi Silviana, Resy Siska Nofianti . Siti Ahmaniar Cahya Lestari Siti Ahmaniyar Siti Hawa . Somadi, Ayunda Fitria Sri Ageng Wirdhana Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Stephany Alamanda Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Surya Prabhaswara, Fauzan Sutandi, Richard Jeremy Suwanto Adhi Tandiyo Pradekso Tantri Puji Widyasari Tatia Ridho Ramadhanti Taufik Suprihartini Tegar Tuanggana Teresia Kinta Wuryandini Tiur Agata, Elisa Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo U Simanullang, Friska Ulya Saida Velina Prismayanti Susanto Vinna Dewi Haryanti Wafda Afina Dianastuti Wahyu Tri Oktaviani Wening Jiwandaru Pradanari Wibisono, Andika Widya K. Siahaan Williams Wijaya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Wiwied Noor Rakhmad Wiwied Noor Rakhmad Wulan Ferra Safitri Xavera A, Patrick Yanuar Luqman Yekholia Maoureenth Priharjanto Yeni Setyowati Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yolan Enggiashakeh Soemantri yossie Christy Thenu Yossie Chrity Thenu Yuaristi Ekantina Yuliani Khoirun Nisaa Yulistra Ivo Azhari Yuliyanto, Muh. Zahra Natty Fakhrana Zamratul Khairani Z, Zamratul Khairani Zulinda Vidiatama