Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Unsur Intrinsik Dalam Novel Antara Ibu dan Luka Karya Hindhiastinaaa Juliana Helmalia Sinambela; Junifer Siregar; Vita Riahni Saragih
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Vol. 4 No. 4 (2026): Januari
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jipsi.v4i4.1194

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui Analisis Unsur Intrinsik Dalam Novel Antara Ibu Dan Luka Karya Hindhiastinaaa. Metode kajian ialah Peralatan bagi Aksesibilitas Tujuan Beberapa kajian . Jika ada Facebook Beberapa Tentu saja . di sini ialah Tujuan adapun diinginkan Diperoleh .Beralaskan hasil analisis novel Hindihastina “Between Mother and Wound” Berikut ini dapat disimpulkan:Tema utama novel Hindihastina "Between Mother and Wound" ialah " pengorbanan ".Alur cerita tentang novel Hindihastina “Between Mother and Wound” merupakan alur maju mundur , sebab serta menceritakan suatu kisah, penulis menceritakan masa lalu serta melihat kembali kisah tersebut.Dalam "Between Mother and Wound" karya Hindihastina, tokoh utama terdiri mulai 5 orang serta tokoh pendukung terdiri mulai 10 orang. Para tokoh digambarkan atas penulis serta karakteristik serta peran adapun berbeda-beda.Latar tentang novel Hindihastina “Between Mother and Wound” dapat disimpulkan kalau latar tentang novel tersebut terbagi menjadi tiga bagian, yaitu latar tempat, latar waktu, serta latar suasana. Gaya bahasa tentang novel Hindihastina “Between Mother and Wound”, dapat disimpulkan kalau pengarang menggunakan gaya bahasa adapun berbeda-beda . sehingga Bahasa Itu menjadi cantik.
Analisis Parjambaron Sebagai Simbol Kebudayaan Pernikahan Batak Toba (Kajian Semiotika) Desi Juli Sari Nainggolan; Junifer Siregar; Immanuel Doclas Belmondo Silitonga
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Vol. 4 No. 4 (2026): Januari
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jipsi.v4i4.1195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk Analisis Parjambaron Sebagai Simbol Kebudayaan Pernikahan Batak Toba (Kajian Semiotika). Jenis penelitian ini dengan penelitian kualitatif, metode deskriptif. metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) Setiap budaya memiliki kebudayaan masing-masing sesuai dengan suku dan adat-adat yang dimiliki. Lokasi penelitian ini dilakukan di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun. Peneliti memilih dua daerah tersebut agar memaksimalkan kemungkinan adanya acara pernikahan, dalam budaya Batak Toba. Penelitian ini akan dilaksanakan di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun. Pada bulan Juni-November 2025.Salah satu adat yang dimiliki oleh setiap suku adalah upacara adat perkawinan. Perkawinan merupakan bagian hidup manusia untuk keturunannya. Upacara adat merupakan unsur budaya yang dihayati dri masa kemasa yang mengandung nilai-nilai dan norma yang sangat luas dan kuat serta mengatur dan mengarahkan tingkah laku setiap individu dalam suatu masyarakat.Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam upacara perkawinan budaya Batak Toba terdapat beberapa bagian inti dari parjambaran yang memiliki makna simbolik yakni:Ulu, Osang, Ihur, Soit, Somba, Aliang, Ate-ate, Panamboli.
Analisis Dialog Pada Film “Tulang Belulang Tulang” Karya Sammaria Sari Simanjuntak (Kajian Pragmatik) Saragih, Jovanka Happy Christine; Sirait, Jumaria; Siregar, Junifer; Tambunan, Marlina Agkris; Saragih, Vita Riahni
PIJAR: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 2 (2025): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/pijar.v3i2.1295

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pendapatan dan gaya hidup terhadap layanan Paylater di kalangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi di Universitas HKBP Nommensen, Pematangsiantar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian asosiatif. Populasi penelitian terdiri dari 305 orang. Berdasarkan hasil analisis dialog dalam film Tulang Belulang Tulang karya Sammaria Sari Simanjuntak, dapat disimpulkan bahwa dialog-dialog yang muncul dalam film ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam membangun makna naratif, mengungkap karakter tokoh, serta menampilkan dinamika sosial dan emosional dalam keluarga Batak. Dialog tidak sekadar menjadi alat komunikasi antar tokoh, tetapi menjadi sarana utama untuk memaparkan konflik, nilai, serta perubahan psikologis yang dialami para karakter sepanjang alur cerita.Dialog antara tokoh-tokoh seperti Mami, Cian, Papi, dan Opung menunjukkan adanya lapisan makna yang kompleks. Misalnya, tuturan Mami sering kali bersifat keras dan langsung, namun di baliknya tersimpan kekhawatiran dan kasih sayang terhadap anaknya. Secara naratif, dialog dalam film ini juga menjadi alat pendorong konflik dan penyelesaian cerita. Melalui pertukaran ujaran, penonton dapat mengikuti perkembangan hubungan antara tokoh yang awalnya penuh jarak menjadi lebih terbuka dan penuh pemahaman. Dari segi pragmatik, dialog-dialog tersebut memperlihatkan adanya penggunaan bahasa yang natural, kontekstual, dan mencerminkan kebiasaan bertutur masyarakat Batak. Kalimat-kalimat yang lugas, ekspresif, dan terkadang kasar menunjukkan bentuk komunikasi yang realistis dalam konteks budaya lokal. Hal ini sekaligus memperkuat daya autentik film sebagai karya sinematik yang tidak hanya menceritakan kisah keluarga, tetapi juga menampilkan potret sosial masyarakat dengan segala kompleksitasnya. Secara keseluruhan, analisis dialog dalam film Tulang Belulang Tulang menegaskan bahwa bahasa dalam film bukan sekadar medium komunikasi, melainkan medium ekspresi budaya, emosi, dan konflik manusia. Dialog menjadi sarana utama yang menghidupkan tokoh, memperdalam alur, serta menciptakan kedekatan emosional antara penonton dan kisah yang ditampilkan. Melalui struktur dialog yang kaya makna dan simbolik, film ini berhasil merepresentasikan relasi keluarga yang penuh dinamika, sekaligus menggambarkan bagaimana komunikasi dapat menjadi sumber pertentangan maupun rekonsiliasi.
Analysis Of The Meaning Of Boraspati Philosophy As A Cultural Symbol Of The Simalungun Batak Society (Semiotic Study) Siahaan, Meilina; Sirait, Jumaria; Saragih, Vita Riahni; Siregar, Junifer; Silitonga, Immanuel Doclas Belmondo
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 1 (2026): Januari
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i1.1489

Abstract

This study aims to determine the Analysis of the Philosophical Meaning of Boraspati as a Cultural Symbol of the Batak Simalungun Community (Semiotic Study). Based on the results of research conducted by researchers regarding the Boraspati symbol in the culture of the Batak Simalungun community reviewed from the semiotic study of Charles Sanders Peirce, it can be concluded that Boraspati is a traditional symbol that has a deep philosophical meaning and does not merely function as an ornament or visual decoration. The Boraspati symbol represents the outlook on life, belief system, and social structure of the Simalungun community which is full of local wisdom values. Through a semiotic approach, Boraspati is understood as a cultural sign that contains moral and spiritual messages, which depicts a harmonious relationship between humans, nature, and the Creator. The results of this study indicate that each symbolic element in Boraspati reflects the ethics of life, social order, and cultural identity of the Simalungun community which is passed down from generation to generation
FILSAFATA BAHASA: TIDAK TUTUR DALAM NOVEL “TOKO TUKAR TAMBAH NASIB” KARYA LIA SEPLIA (KAJIAN PRAGMATIK) Junifer Siregar; Imam Baehaqie; Tommi Yuniawan
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2026): Volume 11 No. 04 Desember 2025 In Build
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.8766

Abstract

This study is an analysis of speech acts in the novel "Toko Tukar Tambah Nasib" by Lia Seplia using pragmatic studies to describe the meaning of the utterances used by the characters in the novel. The objectives of this study are (1) To describe locutionary speech acts in the novel "Toko Tukar Tambah Nasib" by Lia Seplia, (2) To describe illocutionary speech acts in the novel "Toko Tukar Tambah Nasib" by Lia Seplia and (3) To describe perlocutionary speech acts in the novel "Toko Tukar Tambah Nasib" by Lia Seplia. This analysis uses a qualitative approach and descriptive research methods. The data analysis techniques used in this study are observation techniques, library techniques, reading techniques, and note-taking techniques. Data analysis is carried out by means of data reduction, data presentation, and drawing conclusions/data verification. Based on the results of the study, it can be concluded that there are locutionary, illocutionary, and perlocutionary speech acts in the dialogue of the novel "Toko Tukar Tambah Nasib" by Lia Seplia. The locutionary speech acts in Lia Seplia's novel "Toko Tukar Tambah Nasib" (The Exchange Shop for Fate) consist of declarative, interrogative, and imperative locutions. The illocutionary speech acts in Lia Seplia's novel "Toko Tukar Tambah Nasib" consist of assertive, directive, commissive, expressive, and declarative speech acts. Perlocutionary speech acts are also present in Khrisna Pabichara's novel Natisha.
Analisis Makna Umpasa Pada Proses Acara Saur Matua Budaya Batak Toba (Kajian Semantik) Limbong, San Laura; Siregar, Junifer; Tambunan, Marlina Agkris; Sirait, Jumaria; Silitonga, Immanuel Doclas Belmondo
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 1 (2026): Januari
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i1.1511

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna semantik dan fungsi sosial linguistik umpasa yang digunakan dalam prosesi adat saurmatua masyarakat Batak Toba. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran bahasa sebagai media ekspresi budaya dan pewarisan nilai-nilai tradisional. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semantik dan analisis konteks budaya. Data diperoleh melalui dokumentasi teks umpasa dan wawancara dengan tokoh adat Batak Toba.Hasil penelitian menunjukkan bahwa umpasa dalam upacara saurmatua mengandung makna konotatif dan simbolik yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan, doa, dan penghormatan kepada orang yang telah mencapai kesempurnaan hidup (saurmatua). Secara linguistik sosial, umpasa berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan moral, penguatan solidaritas sosial, serta media komunikasi estetis yang mempererat hubungan kekerabatan. Dari sisi kebudayaan, umpasa memperlihatkan keterkaitan erat antara bahasa dan adat Batak Toba, terutama dalam menjaga prinsip dalihan na tolu, nilai penghormatan kepada leluhur, serta pandangan hidup mengenai kehidupan dan kematian.Kesimpulannya, umpasa dalam prosesi saurmatua tidak hanya memiliki makna semantik yang mendalam, tetapi juga berperan penting sebagai wahana pelestarian identitas dan nilai-nilai budaya masyarakat Batak Toba yang tetap relevan di tengah arus modernisasi.
VARIASI BAHASA TOKOH DALAM FILM “HARTA TAHTA BORU NI RAJA”: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Butar-Butar, Putri Herawati; Marlina Agkris Tambunan; Junifer Siregar; Jumaria Sirait; Immanuel Doclas Belmondo Silitonga
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.45915

Abstract

ABSTRACT This study aims to describe language variations in the film Harta Tahta Boru Ni Raja through a sociolinguistic study. Using a descriptive qualitative method, this study analyzed 102 speech data classified based on the aspects of speakers, usage, formality, and means. The results of the study show: (1) The speaker aspect is dominated by personal idiolect, Toba Batak dialect (horas, lae), chronolect in the form of modern slang (baper, ready), and sociolect of student groups (dosping, ospek). (2) The usage aspect includes the journalistic variety of radio broadcasts, academic scientific variety, and military terms. (3) The formality aspect reflects social relations through official, business (consultative), casual, and familiar varieties (bacot, gue-lu). (4) The means aspect includes spoken, telephone, and digital messaging (WhatsApp) varieties. These findings prove that the film authentically portrays the dynamics of language as a social practice that represents Batak ethnic identity amidst the influence of popular culture and the development of communication technology. The diversity of language variations found is significantly influenced by social background, situation, and the purpose of communication between characters. 
Symbolic Meaning of Batak Simalungun Wedding Ceremony in Sindar Raya Village (A Semiotic Study) Junifer Siregar; Nanda Saputra; Eva Pratiwi Pane
LingLit Journal Scientific Journal for Linguistics and Literature Vol 2 No 1 (2021): Linglit Journal: Scientific Journal of Linguistics and Literature, March
Publisher : Britain International for Academic Research (BIAR-Publisher)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/linglit.v2i1.426

Abstract

This research describes the meaning of symbols, symbols, or signs contained in the Batak Simalungun wedding ceremony as a semiotic study. Symbols, symbols, or signs can be identified the meaning, use and benefits in the implementation of marriage customs for the Batak Simalungun community which need to be preserved as one of the local wisdom. The meaning of symbols, symbols, or signs is part of the semiotic approach which is the binding factor in his studies. The sign aims to simplify thoughts or ideas to facilitate communication which contains meaning, values, norms, or certain intentions that must be obeyed by the Simalungun Batak community, especially in the Sindarraya area. The signs found in the Simalungun Batak wedding ceremony are mangalo-alo boru na bayu, boras tenger, tondong welcome (mangalo-alo tondong), tombuan na marappang-appang, ambanganni tondong na baru, groceries, jambar, partadingan manurdukhon, tobus huning, panruttuki, uluni omas / tintin marakkup, suhuni appang, padaskon hiou holong, hiou parsimatuaon and panukkunan dishes.
Analisis Tindak Tutur Pada Film Komang Karya Naya Anindita Manurung, Rafency; Siregar, Junifer; Silitonga, Immanuel Doclas Belmondo; Sirait, Jumaria; Tambunan, Marlina Agkris
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 Nomor 02, Juni 2026 Public
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.47332

Abstract

This study aims to analyze speech acts in the dialogue of the film Komang directed by Naya Anindita using a pragmatic approach, particularly J.L. Austin’s theory. The focus includes three types of speech acts: locutionary, illocutionary, and perlocutionary acts. This research employs a descriptive qualitative method, with data collected through observation and documentation of the film’s dialogues.The results show that the film contains various speech acts reflecting language use in social interaction. Locutionary acts convey information, illocutionary acts express intentions such as requesting and expressing feelings, and perlocutionary acts produce effects on the hearer. These speech acts contribute to the development of the storyline, characterization, and relationships between characters.Thus, language in the film functions not only as communication but also as social action with meaning and impact.
Analisis Kesalahan Sintaksis dalam Penulisan Artikel Ilmiah Poopuler Siswa Kelas VIII UPTD SMP Negeri 3 Pematangsiantar Damanik, Chindy; Marlina A. Tambunan; Junifer Siregar; Vita Riahni Saragih; Immanuel Doclas Belmondo Silitonga
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.47363

Abstract

This study aims to describe the forms of syntactic errors encompassing errors at the phrase, clause, and sentence levels in the writing of popular scientific articles by eighth-grade students of UPTD SMP Negeri 3 Pematangsiantar. This study employed a qualitative descriptive method with data sources in the form of popular scientific article texts written by the students. Data collection techniques were carried out through documentation as well as recording and coding of sentences containing syntactic errors, while data analysis used the interactive model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study indicate that syntactic errors are still frequently found in students' writing at the phrase, clause, and sentence levels. Errors at the phrase level include inaccurate use of head and modifier elements as well as non-parallelism of coordinative elements; at the clause level, errors include incomplete subject and predicate elements as well as inappropriate use of bound clauses; while at the sentence level, errors include incomplete sentence structures, inappropriate use of conjunctions, ineffective sentences, and ambiguity. These errors are caused by students' lack of understanding of syntactic rules, the influence of regional languages, and insufficient writing practice, so that efforts to improve writing instruction with a greater focus on syntactic structure mastery are needed in order for students to produce writing that is accurate and well-formed.
Co-Authors Adi Syahputra Manurung Adi Syahputra Manurung Agusman Agusman Agusman Agusman Anton Luvi Siahaan Artia Nirmala Sari Hutagaol Asep Purwo Yudi Utomo Asister Fernando Siagian Bernard Simanjuntak Br Barus, Putri Ayu Butar-Butar, Putri Herawati Butarbuta, Devi Olivia Cristine Fitta Homasan Sinaga Dabukke, Tri Arti Esianna Damanik, Chindy Damay Gresia Butar-Butar Dedi Zulkarnain Pulungan Desi Juli Sari Nainggolan Desvita Nindya Hardiyani Putri Dian Arisetya, Dian Dika Rosyiiddien Suryana Divia K. Siahaan Dwi Priyanti Eliezer Naibaho, Jhon Elsa Ria Saragih Elvina Fransiska Hutabarat Emi Gracella Sinaga Farah Ilma Jauhara Firman Pangaribuan Fransiska Risnawati Aritonang Fransiska Risnawati Aritonang, Novellyn Debora Sitorus Friokto Winra Purba Gayus Simarmata Gayus Simarmata, Gayus Gita Suryani Golda Novatrasio Sauduran Gultom, Shanta Yesika Gultom, Sopanro Hasibuan, Ronald Hasugian, Olvyanti Ulina Hutagaol, Febriana Hutajulu, Elisa Ellen Hotmarina Imam Baehaqie Immanuel Doclas Belmondo Silitonga Insenalia Sampe Roly Hutagalung Jamaris Jamaris Juliana Helmalia Sinambela Jumaria Sirait Krisyanto Krisyanto Limbong, San Laura Lubis, Rut Inrani Ruspita Lubis, Rut Inriani Ruspita Lumbangaol, Sudirman T. P Lumbantobing, Michael Marthin Manurung, Rafency Maria Sri Dewi Sianturi Marlina A. Tambunan Marlina Agkris Tambunan Marlina Agkris Tambunan Marlina Angkris Tambunan Martua Reynhat Sitanggang Gusar Maslan Sihombing Mei Pitriani Manurung Melda Veby Ristella Munthe Meliati Tambunan Melsi Tiolina Sinaga Meyrevanie Sicilia Sinaga Monalisa Frince S Monika Martinova Simanjuntak Nabila Khairunnisa’ Alyamanda Nadeak, Yosepin Imawati Nanda Saputra Nasution, Wina Natalina Purba Novellyn Debora Sitorus Novellyn Debora Sitorus , Rista Veronika Nainggolan Ovi Maria Simanjuntak Pakpahan, Reny Rianti Pandiangan, Ernawati Afrina Pane, Eva Pratiwi Panjaitan, Ruthanggam Sahanaya Pasaribu, Eva Pasaribu, Sunggul Permatasari, Lerista Purba, Ckrisna Ajai Purba, Hot Raja Sonang Purba, Johanes Riscy Purba, Mei Vionariska Purba, Nancy Angelia Purba, Nancy Angelina Purba, Yoel Octobe Putri Ayu Br Barus Rachel Yoan Katherin Putri Siahaan Rahayu, Widya Mistika Rieke Nadya Sitanggang Rio Parsaoran Napitupulu Risma Hartati, Risma Rista Veronika Nainggolan Riyadi Widhiyanto Riyani Merlina Sipayung Rizki Rizki Runa, Gadis Ayang Samosir, Tiara Saragi, Sufiani Saragih, Ester Angelita Saragih, Jovanka Happy Christine Saragih, Sonya Putri Four Saragih, Vita Riahni Siahaan, Angelica Magira Siahaan, Meilina Siahaan, Rina Devi Romauli Sianipar, Ribka Siburian, Sofiah Leorensa Sidabutar, Ropinus Silitonga, Immanuel B.D Silitonga, Immanuel D B. Silitonga, Immanuel D.B Silitonga, Immanuel D.B. Silitonga, Immanuel Doclas Belmondo Simamora, Benjamin A Simanjuntak, Chuyn Evelina Simanjuntak, Ovi Maria Simanjuntak, Sri Maya Simanungkalit, Yeni Sinaga, Asima Rohana Sinaga, Deby Yuliana Sinaga, Emi Gracella Sinaga, Fininta Sasronida Sinaga, Melsi Tiolina Sinaga, Siska Oktafia Sinurat, Vinnyta Cechylia Sirait, Jumaria Siregar, Esra Novelina Siregar, Risro Sitio, Hetdy Sitohang, Roulina Sitorus, Maria Dornauli Sitorus, Veronika Dewi Suffi Nurus Safrin Suryani, Gita Tambunan, Marlina Tambunan, Marlina Agkris Tambunan, Marlina Angkris Tambunan, Meliati Tampubolon, Novita Sari Tampubolon, Novitasari Tampubolon, Tasya Tasya Tampubolon Tiarma Intan Marpaung Tobing, Minar Tommi Yuniawan Tri Arti Esianna Dabukke Vina Merina Br Sianipar Vita Riahni Saragih Vita Riahni Saragih Vivi Imelda Simangunsong Zulmawati, Zulmawati