Claim Missing Document
Check
Articles

Uji daya hambat ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis Paliling, Agrianto; Posangi, Jimmy; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14159

Abstract

Abstract: Cloves (Syzygium aromaticum) are commonly found in tropical territory. Flower bud of cloves contains cloves essential oil with its main compound is eugenol. Porphromonas gingivalis is an anaerob Gram negative bacterium which is one of the normal floras in oral cavity. However, it has the ability to cause an infection such as periodontitis. This study was aimed to determine the inhibition effect of cloves flower bud extract on Porphyromonas gingivalis growth through the diameter magnitude of the inhibition zone. The category of inhibition zone was based on Davis and Stout. This was an experimental study using Kirby-bauer modification method. Cloves flower bud samples were obtained from Senduk Tanawangko and were extracted with maseration method using etanol 96%. Porphyromonas gingivalis bacteria were obtained from pure bacteria stock in the Laboratory of Microbiology Faculty of Medicine, University of Hasanuddin Makassar. The results showed that the average diameter of inhibition zone of cloves flower bud extract against Porphyromonas gingivalis was 13.01 mm. Conclusion: Cloves flower bud extract had a strong ability to inhibit Porphyromonas gingivalis growth.Keywords: cloves flower bud, Porphyromonas gingivalis, inhibition zone Abstrak: Tanaman cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan tanaman yang banyak tumbuh di daerah beriklim tropis. Bunga cengkeh mengandung minyak atsiri (clove essential oil) dengan kandungan utama ialah eugenol. Porphyromonas gingivalis ialah bakteri anaerob Gram negatif yang merupakan salah satu bakteri flora normal dalam rongga mulut tetapi jika berlebihan dapat menyebabkan penyakit periodontitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak bunga cengkeh terhadap Porphyromonas gingivalis yang dinilai melalui besar diameter zona hambat yang terbentuk. Kategori daya hambat berdasarkan penggolongan Davis dan Stout. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-Bauer menggunakan sumuran. Sampel bunga cengkeh diambil dari Desa Senduk Tanawangko kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Porphyromonas gingivalis diambil dari stok bakteri murni yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Hasil penelitian mendapatkan nilai rerata diameter zona hambat ekstrak bunga cengkeh terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis sebesar 13,01 mm. Simpulan: Ekstrak bunga cengkeh memiliki daya hambat kuat berdasarkan kategori Davis dan Stout terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Kata kunci: bunga cengkeh, Porphyromonas gingivalis, zona hambat
PERBANDINGAN EFEK ANALGESIK PERASAN RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale var. rubrum Thelaide) DENGAN ASPIRIN DOSIS TERAPI PADA MENCIT (Mus musculus) Mantiri, Natalia Christine; Awaloei, Henoch; Posangi, Jimmy
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4593

Abstract

Abstract: This research purpose to compare analgesic effect from red ginger rhizome juice to therapeutic doses of aspirin. This research is an experimental research with treatment to aspirin group and red ginger rhizome juice mice as trial animals divided into 4 groups, each group contain of 3 mice. Four treatment groups contain of the group aspirin 0,4/20 gr BB and the group of red ginger rhizome juice in 3 different doses which are 4 mg/20 gr BB, 8mg/20gr BB, 16 mg/20 gr BB. Analgesic effect we could saw with counting mice responses likes jump and lick to decrease or release the pain. Before the treatment, all of mice fasted around 11 hours, and then gave the treatment. Studied of mice’s responses on the water bath take for 1 minute, on the 0 minute before treatment, and on the 30, 60, 90, 120 minutes after the treatment. Statistical analysis used ANOVA test and continued with LSD (Least Significance Different). Result from ANOVA test showed that there is real difference between the treatment groups. LSD test showed there are no real difference between the treatment group of aspirin to the treatment group of red ginger rhizome juice dose I. On the treatment group of red ginger rhizome juice dose II and dose III there is real difference to the treatment group of aspirin. The treatment group of red ginger rhizome juice dose II to dose III there is no real difference. Keywords: Analgesic, Aspirin, Red Ginger (Zingiber officinale var. rubrum Thelaide).   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan efek analgesik perasan rimpang jahe merah dengan aspirin dosis terapi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan kelompok perlakuan aspirin dan perasan rimpang jahe merah. Mencit sebagai hewan coba sebanyak 12 ekor dibagi 4 kelompok masing-masing terdiri dari 3 ekor mencit. Empat kelompok perlakuan yaitu kelompok diberi aspirin 0,4 mg/20gr BB dan kelompok diberi perasan rimpang jahe merah dengan 3 dosis berbeda yaitu 4 mg/20gr BB, 8 mg/20gr BB, 16 mg/20gr BB. Efek analgesik dilihat dengan menghitung respon mencit berupa lompatan dan jilatan saat diberi rangsangan panas dengan suhu 550C . Sebelum perlakuan semua mencit dipuasakan kurang lebih 11 jam, kemudian diberi perlakuan. Pengamatan respon mencit pada water bath dilakukan selama 1 menit, pada menit ke-0 sebelum perlakuan, dan pada menit ke-30, 60, 90, 120 setelah perlakuan. Data dianalisis dengan uji ANOVA dan dilanjutkan dengan uji LSD (Least Significance Different). Hasil analisis statistik dengan uji ANOVA menunjukkan ada perbedaan nyata antar kelompok perlakuan. Uji LSD menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata pada kelompok perlakuan aspirin terhadap kelompok perlakuan perasan rimpang jahe merah dosis I. Pada kelompok perlakuan perasan jahe merah dosis II dan III terdapat perbedaan nyata terhadap kelompok perlakuan aspirin. Kelompok perlakuan perasan rimpang jahe merah dosis II terhadap dosis III tidak terdapat perbedaan nyata. Kata Kunci: Analgesik, Aspirin, Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum Thelaide).
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PASTA GIGI YANG MENGANDUNG SIWAK DENGAN PASTA GIGI TANPA SIWAK PADA PASIEN PASCA SKELING Sijabat, Eva A.; Posangi, Jimmy; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10488

Abstract

Abstract: Efforts to prevent gingivitis are indispensable; one of them is choosing toothpaste properly. Currently, many toothpastes are containing more than an active material. Additional of herbs in the toothpaste could hamper the growth of plaques. This study aimed to compare the effectiveness of siwak toothpaste and non-siwak toothpaste in reducing gingival index in post scalling treatment patients in Periodontology RSGM Sam Ratulangi University Manado. This was a randomized controlled trial group, which was performed to 30 patients. The subjects were divided into 2 groups: One group that used siwak toothpaste and another group that used non-siwak toothpaste. Gingivitis scoring was performed by using Gingival Index (GI) from Loe and Sillness on the day the patients got scalling treatment and then after two weeks. The collected data were analyzed by using Mann Whitney test. The results showed that there was a significant difference between using siwak toothpaste and non-siwak toothpaste in reduction the gingival index with a p value of 0.000 (p < 0.05). Conclusion: There was a difference between the use of siwak toothpaste and non-siwak toothpaste in gingival index reduction in post scalling patients.Keywords: toothpaste, siwak, non-siwak, gingival indexAbstrak: Upaya pencegahan terjadinya gingivitis sangat diperlukan. Hal yang dapat dilakukan antara lain dengan memilih pasta gigi yang tepat. Saat ini sudah banyak pasta gigi yang beredar dengan berbagai merek dan hampir semuanya mengandung lebih dari satu bahan aktif. Penambahan herbal pada pasta gigi dapat menghambat pertumbuhan plak penyebab terjadinya gingivitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas pasta gigi yang mengandung siwak dengan pasta gigi tanpa siwak pada pasien post skeling di Bagian Periodontologi RSGM Universitas Sam Ratulangi Manado. Desain penelitian ini ialah randomized controlled trial group terhadap 30 pasien pasca skeling. Subyek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok penyikatan gigi dengan memakai pasta gigi siwak dan kelompok penyikatan gigi dengan memakai pasta gigi tanpa siwak.Penilaian indeks gingiva menurut Loe dan Sillness dilakukan setelah pasien gingivitis mendapatkan perawatan skeling dan dua minggu setelah pemakaian pasta gigi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Mann Whitney. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penurunan indeks gingiva yang bermakna antara penggunaan pasta gigi yang mengandung siwak dengan penggunaan pasta gigi tanpa siwak dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan antara penggunaan pasta gigi siwak dengan pasta gigi tanpa siwak pada pasien post skeling.Kata kunci: pasta gigi, siwak, tanpa siwak, indeks gingiva
UJI EFEK ANTIBAKTERI JAMUR ENDIFIT PADA DAUN MANGROVE Sonneratia alba TERHADAP BAKTERI UJI Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli ., Dwilestari; Awaloei, Henoch; Posangi, Jimmy; Bara, Robert
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.7414

Abstract

Abstract: Endophytic fungi is a species of fungi which life on plant tissue system. Endophytic fungi can be isolated from the roots, stems and leave of the plant. Endophytic fungi can produce a substance potencial to be antibacteria. This research aimed to test the presence of antibacterial effect on an isolated leaf of mangrove plant Sonneratia alba towards Staphylococcus aureus and Escherichia coli. The method that is used for the antibacterial activity test, done by putting mycelia of endophytic fungi in combination media that has been smeared with Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Obtained from research that has been made, it conducted two species of endophytic fungi that isolated from mangrove plant leaf Sonneratia alba. Both endophytic fungi has effect as antibacteria against Staphylococcus aureus and Escherichia coli, but the second type of endophytic fungi has more effective and stronger antibacterial effect compare to endophytic fungi type I and positive control.Keywords: antibacterial, endophytic fungi, mangrove Sonneratia albaAbstrak: Jamur endofit adalah jamur yang terdapat dalam sistem jaringan tumbuhan. Jamur endofit dapat diisolasi dari akar, batang dan daun tumbuhan. Jamur endofit dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya efek antibakteri jamur endofit daun Sonneratia alba terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Metode yang digunakan untuk uji antibakteri dilakukan dengan cara menempelkan miselia jamur endofit pada media agar kombinasi yang telah dioleskan bakteri uji. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh dua jenis jamur endofit yang diisolasi dari daun tumbuhan mangrove Sonneratia alba. Kedua jamur endofit memiliki efek sebagai antibakteri terhadap kedua bakteri uji akan tetapi jamur endofit tipe II memiliki efek antibakteri yang lebih baik dibandingkan dengan jamur endofit tipe I dan kontrol positif.Kata kunci: antibakteri, jamur endofit, daun Sonneratia alba
UJI EFEK PERASAN DAUN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) Rumimper, Esther Ariny; Posangi, Jimmy; Wuisan, Jane
e-Biomedik Vol 2, No 2 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i2.5519

Abstract

Abstract: Medicinal herbs has been cultivated and utilized as treatments for diseases since ancient times. Among these medicinal herbs is redleaf amaranth that is mainly utilized for treatment of anemia. This study aims to determine the effect of redleaf amaranth decoction on Wistar rat’s hemoglobin level. This is an experimental study performed on Wistar rats. Readleaf amaranth was blend with water and its decoction was administered orally. Hemoglobin level was measured using blood sample taken directlu from the heart of the study animals. The result shows that redleaf amaranth decoction plays a role in elevating hemoglobin level on Wistar rats. Keywords: Redleaf amaranth, Hemoglobin     Abstrak: Masyarakat pada umumnya banyak mengenal bahkan memanfaatkan tanaman yang diyakini bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Salah satu tumbuhan yang sering di gunakan adalah bayam merah yang dianggap bisa mengobati kurang darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari pemberian perasan daun bayam merah terhadap kadar hemoglobin tikus Wistar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang dilakukan terhadap uji berupa tikus Wistar. Daun bayam merah di blender dengan air dan perasannya diberikan secara oral terhadap hewan uji. Kadar hemoglobin diukur menggunakan sampel darah yang diambil langsung dari jantung Wistar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perasan daun bayam merah dapat meningkatkan kadar hemoglobin. Kata Kunci: Daun Bayam Merah, Hemoglobin.
Gambaran Evaluasi Terapi Antibiotik pada Pasien Bronkopneumonia di Instalasi Rawat Inap Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Juli 2017 – Juni 2018 Polii, Erfand; Mambo, Christi D.; Posangi, Jimmy
e-Biomedik Vol 6, No 2 (2018): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v6i2.22175

Abstract

Abstract: Bronchopneumonia is still one of the health problems worldwide due to its high mortality rate. The definitive treatment for this disease is antibiotics. However, the use of antibiotics in hospitals is 30-80% not for the right indication. This study was aimed to obtain the description of evaluation of antibiotic therapy in bronchopneumonia patients in the Pediatrics Inpatient Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period of July 2017 - June 2018. This was a descriptive retrospective study with a cross-sectional design. Evaluation was done by using quantitative methods of DDD by WHO. The results of DDD/100-day evaluation using 41 samples were cefixime 141.63 DDD/100-day (48%), ampicillin 123.51 DDD /100-day (42%), cefotaxime 10.52 DDD/100-day (4%), gentamicin 8.88 DDD/ 100-day (3%), chloramphenicol 8.68 DDD/100-day (3%), and ceftriaxone 3.06 DDD/100-day (1%). Antibiotics included in 90% of the DU segment were cefixime and ampicillin. Conclusion: The most quantitative description evaluation of antibiotic therapy in bronchopneumonia patients was cefixime 141.63 DDD/100-day.Keywords: antibiotics, bronchopneumonia, DDD Abstrak: Bronkopneumonia menjadi salah satu masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya yang tinggi. Pengobatan definitifnya yaitu dengan pemberian antibiotik. Di berbagai rumah sakit, ditemukan 30-80% penggunaan antibiotik tidak didasarkan pada indikasi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran evaluasi terapi antibiotik pada pasien bronkopneumonia di Instalasi Rawat Inap Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2017 - Juni 2018. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Evaluasi menggunakan metode kuantitatif DDD oleh WHO. Hasil evaluasi antibiotik DDD/100-hari dari 41 sampel yaitu cefiksim 141,63 DDD/100-hari (48%), ampicilin 123,51 DDD/100-hari (42%), cefotaksim 10,52 DDD/100-hari (4%), gentamisin 8,88 DDD/100-hari (3%), kloramfenikol 8,68 DDD/100-hari (3%), dan ceftriakson 3,06 DDD/100-hari (1%). Antibiotik yang masuk dalam segmen DU 90% yaitu cefiksim dan ampicilin. Simpulan: Secara kuantitas gambaran evaluasi terapi antibiotik terbanyak pada pasien bronkopneumonia yaitu cefiksim 141,63 DDD/100-hari.Kata kunci: antibiotik, bronkopneumonia, DDD
ANALISIS AKTIVITAS DARI JAMUR ENDOFIT YANG TERDAPAT DALAM TUMBUHAN BAKAU Avicennia marina DI TASIK RIA MINAHASA Posangi, Jimmy; Bara, Robert A.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 2, No 1 (2014): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.2.1.2014.7345

Abstract

Endofit dapat diartikan sebagai mikroba yang hidup berkoloni dalam jaringan internal tumbuhan tanpa menyebabkan efek yang merugikan secara langsung pada tumbuhan tersebut. Organisme endofitik memiliki potensi yang sangat besar untuk dieksploitasi dan menghasilkan  produk alami baru yang bermanfaat di bidang kedokteran, pertanian, dan industri. Pada sisi yang lain kebutuhan terhadap obat-obatan baru yang membantu umat manusia melawan pelbagai penyakit tidak pernah berhenti, hal ini disebabkan adanya resistensi bakteri, infeksi virus, insidensi infeksi jamur, berbagai jenis tumor, infeksi parasit dan protozoa, di dalam populasi dunia sekarang ini sebagai akibat ketidakmampuan kita untuk mengatasi tidak hanya problematika kesehatan. Indonesia sebagai daerah  tropis dengan keanekaragaman hayati yang cukup besar, di lain pihak, perlawanan endofit di ekosistem daerah tropis melawan organisme patogen dan predator cukup besar, sumber daya yang terbatas dan tekanan seleksi alam sangat tinggi. Hal ini menimbulkan kemungkinan besar bahwa endofit di daerah tropis seperti di negara kita merupakan sumber struktur senyawa baru dengan aktivitas biologis yang menarik untuk dikembangkan sebagai bahan obat baru. Penelitian ini merupakan penelitian untuk mencari kandidat obat-obatan baru yang difokuskan pada kandidat bahan obat yang memiliki potensi antibakteri dan antikanker. Tumbuhan bakau Avicennia marina diambil dari Pantai Tasik Ria. Jamur endofit diisolasi hingga diperoleh 2 isolat galur murni Aspergillus sp. dan Acremonium sp. Kedua isolat kemudian diuji aktivitasnya terhadap bakteri patogen Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan menggunakan metode ko-kultivasi. Acremonium sp. memiliki aktivitas antibakteri yang lebih kuat dibandingkan dengan jamur Aspergillus sp. terhadap bakteri S. aureus, sedangkan Aspergillus sp. menunjukkan aktivitas antibakteri yang tinggi terhadap bakteri E. coli.
UJI EFEK ANTIBAKTERI JAMUR ENDOFIT PADA TUMBUHAN KEMANGI (OCIMUM BASSILICUM L.) PADA BAKTERI UJI STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI Walewangko, Marfincy; Posangi, Jimmy; Yamlean, Paulina
PHARMACON Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : PHARMACON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT                                                                 Endophytic microbes are microbes that live in plant tissues. Endophytic fungi can produce various functional compounds in the form of anticancer compounds, antiviral, antibacterial, antifungal and plant growth hormones. Basil (Ocimum Sanctim L.) is the largest species both in fresh form or for the production of essential oils. Ethanol and methanol extracts, from Basil leaves is stated to have antibacterial activity. This study aimed to examine the presence or absence of antibacterial effects of endophytic fungi isolated from the stem and leaves of basil (Ocimum basilicum L.) against Escherichia coli and Staphylococcus aureus. The method used is an experimental laboratory by testing antibacterial activity. From the research carried out four endophytic fungi isolated from the stems and leaves of the Basil (Ocimum basilicum L.) plant. The four endophytic fungi have an antibacterial effect on the two test bacteria. Endophytic fungus from Basil stem 1.2 by 8mm which is categorized as medium and extract of Basil Stem 4.1 by 7mm which is categorized as medium and Basil Stem 1.1 by 17mm categorized as strong and Basil Leaf 2.1 by 22mm categorized as very strong. The conclusion is that endophytic fungi isolated from the Basil (Ocimum bassilicum L.) plant obtained from Lemoh Uner Village have antibacterial activity. Keywords: Antibacterial, Endophytic Fungi, Basil (Ocimum basilicum L.)  ABSTRAK Mikroba endofit merupakan mikroba yang hidup di dalam jaringan tumbuhan. Jamur endofit dapat menghasilkan berbagai senyawa fungsional berupa senyawa antikanker, antivirus, antibakteri, antifungi serta hormon pertumbuhan tanaman. Kemangi (Ocimum Sanctim L.) merupakan spesies terbesar baik dalam bentuk segar ataupun untuk produksi minyak esensial. Ekstrak etanol, metanol daun Kemangi dinyatakan memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ada tidaknya efek antibakteri jamur endofit yang diisolasi dari batang dan daun tumbuhan Kemangi (Ocimum basilicum L.) terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Metode yang digunakan ialah eksperimental laboratorium dengan menguji aktivitas antibakteri. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh empat jenis jamur endofit yang diisolasi dari batang dan daun tumbuhan Kemangi (Ocimum basilic um L.). Keempat jamur endofit memiliki efek sebagai antibakteri terhadap kedua bakteri uji. Jamur endofit dari Kemangi batang 1.2 sebesar 8mm yang dikategorikan sedang dan ekstrak Kemangi Batang 4.1 sebesar 7mm yang dikategorikan sedang dan Kemangi Batang 1.1 sebesar 17mm dikategorikan kuat dan Kemangi Daun 2.1 sebesar 22mm dikategorikan sangat kuat. Kesimpulanya jamur endofit yang diisolasi dari tumbuhan Kemangi (Ocimum bassilicum L.) yang diperoleh dari Desa Lemoh Uner memiliki aktivitas antibakteri. Kata kunci :  Antibakteri, Jamur Endofit, Kemangi (Ocimum basilicum L.)
DAYA HAMBAT OBAT KUMUR CETYLPYRIDINIUM CHLORIDE DAN OBAT KUMUR DAUN SIRIH TERHADAP PERTUMBUHAN STREPTOCOCCUS MUTANS Toar, Amelia I.; Posangi, Jimmy; Wowor, Vonny
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2639

Abstract

Abstract: Dental caries and periodontal diseases are still the major problems of oral health among the community. The microbes Streptococcus mutans that accumulate in plaques have an important role in the occurences of these two diseases. The control of plaque forming can be done chemically by using mouthwash. Cetylpyridinium chloride (CPC) and betle leaf (Piper betle Linn.), among others, are active ingredients that are added in the preparation of alcohol-free mouthwash. This study aimed to determine whether there was a difference between the inhibition of alcohol-free mouthwash containing CPC, and betle-leaf mouthwash to the growth of S. mutans. This was an experimental study with a post-test-only control-group design. The technique for testing inhibition used the Kirby Baurer disc diffusion method with samples of cultures of S. mutans The trial materials were commercial alcohol-free mouthwash and betle-leaf mouthwash; and aquadest as the negative control.  There were nine repetitions for each trial material group. The results of the Kruskal Wallis test showed significant differences (P <0.05) between alcohol-free mouthwash containing CPC, alcohol-free mouthwash containing piper betle Linn extract, and aquadest. The result of the Mann Withney test showed that there was a significant difference (P <0.05) between alcohol-free mouthwash containing CPC and alcohol-free mouthwash containing piper betle Linn extract. Alcohol-free mouthwash containing CPC had a wider zone of inhibition than the alcohol-free mouthwash containing betle leaf extract. Conclusion: Inhibition of the alcohol-free mouthwash containing cetylpyridinium chloride on the growth of S.mutans was significantly better than the alcohol-free mouthwash containing piper betle Linn extract. Keywords: cetylpyridinium chloride, betle leaf, mouthwash, Streptococcus mutans.   Abstract: Karies gigi dan penyakit periodontal  merupakan masalah bagi kesehatan gigi dan mulut di masyarakat. Streptococcus mutans dalam plak berperan dalam terjadinya kedua penyakit ini. Pengontrolan plak dapat dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan obat kumur. Cetylpyridinium chloride (CPC) dan daun sirih merupakan bahan aktif yang ditambahkan dalam  sediaan obat kumur bebas alkohol. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan daya hambat antara obat kumur bebas alkohol yang mengandung CPC dengan obat kumur daun sirih terhadap pertumbuhan S. mutans. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan post-test only control group design. Teknik pengujian daya hambat menggunakan metode difusi cakram Kirby Baurer dengan sampel S. mutans. Bahan coba yang digunakan yaitu obat kumur bebas alkohol, dan akuades sebagai kontrol negatif. Jumlah pengulangan pada masing-masing kelompok bahan coba sebanyak 9 kali.  Uji Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan bermakna (P <0,05) antara obat kumur CPC, obat kumur daun sirih, dan akuades terhadap pertumbuhan S. mutans. Uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan bermakna (P <0,05) antara obat kumur CPC dan obat kumur daun sirih terhadap pertumbuhan S. mutans. Obat kumur CPC memiliki zona hambat lebih besar dibandingkan obat kumur daun sirih. Simpulan: Sediaan obat kumur bebas alkohol yang mengandung cetylpyridinium chloride memilliki daya hambat terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans yang lebih tinggi secara bermakna dibandingkan sediaan obat kumur bebas alkohol yang mengandung ekstrak daun sirih.
NON-CALLIPHORIDAE-NECROPHAGOUS-DIPTERA SUCCESSION ON PIG CARCASSES IN MANADO, INDONESIA Wangko, Sunny; Sembel, Dantje T; Pinontoan, Oddi R; Posangi, Jimmy; Huijbregts, Hans
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 4, No 1 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.1.2012.749

Abstract

Abstrak. Penelitian mengenai suksesi Diptera nekrofagus non-Calliphoridae dilakukan di Manado, Indonesia pada tahun 2012. Tiga ekor bangkai babi domestik (berat badan 21-23 kg) dimatikan dengan tiga cara yang berbeda (dosis letal potasium sianida per oral, pukulan benda tumpul pada area osipital, dan tikaman benda tajam). Penelitian dilakukan selama 15 hari. Suhu udara ambien dan kelembaban, serta data suhu dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kayuwatu. Babi yang dimatikan dengan potasium sianida memperlihatkan perlangsungan dekomposisi yang lebih panjang (10 hari) dibandingkan dengan lainnya (delapan hari). Simpulan: Terdapat empat famili dan dua spesies Diptera nekrofagus non-Calliphoridae yang mengunjungi bangkai hewan coba: Sarcophagidae, Piophilidae, Ophyra, Phoridae, Musca domestica, dan Hermetia illucens. Sarcophagidae dan Ophyra telah ditemukan sejak hari ke-1. Dari keenam jenis serangga non-Calliphoridae yang berkunjung, hanya empat jenis yang berkolonisasi pada bangkai hewan coba, yaitu: Ophyra, Phoridae, Musca domestica, and Hermetia illucens. Kata kunci: nekrofagus non-Calliphoridae, babi domestik, suksesi, kolonisasi Abstract. A study was conducted on Non-Calliphoridae-Necrophagous-Diptera succession on pig carcasses in Manado, Indonesia, in the year 2012. Three domestic pig carcasses (weighing 21-23 kg) were killed by using three different manners (a lethal oral dose of potassium cyanide, a blow with a blunt material, and a stabbing with a sharp material). This study was conducted for 15 days. Ambient air temperatures and humidity, and temperature data of the Climatology Station, Kayuwatu were recorded. The pig killed with potassium cyanide showed a longer decomposition duration (10 days) than the others (eight days). Conclusion: there were four families and two species of Non-Calliphoridae-Necrophagous Diptera visited the carcasses: Sarcophagidae, Piophilidae, Ophyra, Phoridae, Musca domestica, and Hermetia illucens. The first visitors (day 1) were Sarcophagidae and Ophyra. From the six visitors, there were only four that colonized on the carcasses: Ophyra, Phoridae, Musca domestica, and Hermetia illucens.Key words: Non-Calliphoridae-Necrophagous-Diptera, domestic pigs, succession, colo-nization
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Abdul, Jihan A. Alamri, Khairun N. H. Amelia I. Toar Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Angela Christin Tiwa Angelina Stevany Regina Masengi Antje A Wuwungan Antonius R.B. Ola Arthur Mongan Ayu S. Gugule B H. R. Kairupan Bagaray, Evangelin Fresianly Bato, Donny Christian Bernat S. P. Hutagalung Billy J. Kepel Budhi Setianto Christy N. Mintjelungan Citra R. Irianty Clara, Santi Daniel Febrian Sengkey Dantje T Sembel Dimas Prakoso Dina Rombot Dwilestari . Edward Nangoy, Edward Edward S. Oroh, Edward S. Elisa Mangkey Esther Ariny Rumimper Eva A. Sijabat, Eva A. Faidiban, Aqueline N. Falugah, Fathia Fatimawali , Fatimawali Fatimawali . Febriana ., Febriana Frengki P. Menggelea Go Handayani, Go Gosal, Leonardo Delvin Grace D. Kandau, Grace D. Grace Debbie Kandou Gresty Masi Gustaaf A. E. Ratag Hans Huijbregts Harmani Kalim Hasanuddin, Israyati R. Hendra Sandag Henoch Awaloei Herman Warouw IC Manoppo, Jeanette IC Indriya Robot, Melisa Ira Posangi Jane Wuisan Judo Prihartono Juliatri . Julio Lopez Aban, Julio Lopez Katuuk, Mario Esau Kipimbob, Eflentina Kumala Dewi, Citra Kurnia, Bonar Kurniawan Kurniawan Laurentius Rumokoy, Laurentius Lendombela, Ditya P. J. Lengkong, Gledys Tirsa Lesar, Imelda Lidia Lidia Iswanto, Lidia Linnie Pondaag Lucia I. R. Lefrandt Mallombasang, Andi Nuraini Mamahit, Juliet Merry Eva Mambo, Christi D. Mambo, Christi Diana Manampiring, Aaltje Ellen Manannohas, Mouren Mantjoro, Eva M. Marthen Theogives Lasut, Marthen Theogives Masi, Gresty N.M. Maya Memah Mewengkang, Mario L. Michael A. Leman Minarma Siagian Mona P. Wowor Murdani Abdullah Naray, Gueen L. G. Nas Lokbere Natalia Christine Mantiri Ni Luh G.L. Jayalandri, Ni Luh G.L. Ni Wayan Mariati Nina S Widiarto Ning Irianti, Ning O. Mona Wowor Oddi R Pinontoan Olivia Waworuntu Oroh, Wenda P. Djufri, Moh Akbar P. M. Wowor P. S. Anindita Paliling, Agrianto Pandegirot, Juliana Sisca Pangouw, Excel Paulina yamlean Pemsi M. Wowor, Pemsi M. Pertiwi, Junita Maja Polii, Erfand Priska F. Umboh Putri, Vita A.D Rahadian, Rifky Aditya Ramadi, Reza Pahlevi Rampengan, Nancy Ratag, Gustaaf Regina Masengi, Angelina Stevany Ristanti Pratiwi Robert A. Bara Rondonuwu, Yohanes Amazia Zet Roring, Natalia Megawati Rudianto Tari S. Surya, Welong S. V. Sinolungan, Jehosua Saartje J Lumanauw Salsabila, Febrisa Santi Turangan, Santi Sarwono Waspadji Sirowanto Inneke Sondakh, Refrando M. Starry H. Rampengan Sunny Wangko Surya, Welong S. Suryadi N. N. Tatura, Suryadi N. N. Suryani, Intan Indah Suzanna Immanuel T. Lasut, Markus Tahulending, Jane Tangkuman, Victor Yohanes Tansil, Alberta Y.M. Tarigan, Paulus B. Titi L. Faraknimella, Titi L. Vastelita Lengkong, Injili Anugerah Venesia Pengan VERY LONDA Vivi P. Santoso Vonny N. S. Wowor Vonny Wowor Walewangko, Marfincy Walewangko, Marfincy S. Warouw, Finny Warouw, Inggrid Waworuntu, Waworuntu Welong, Seftian Surya Widya Astuty Lolo, Widya Astuty Wisie Lusia Toar, Wisie Lusia Wulan P. J. Kaunang Y. Tangkuman, Yundi Y. Yolanda A. Kasi Yolanda Bataha Yulianty Sanggelorang