p-Index From 2021 - 2026
7.217
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BASASTRA BAHASTRA JURNAL KONFIKS Pendas mahakam : jurnal pendidikan dan pembelajaran Sekolah Dasar Jurnal Pendidikan : Riset dan Konseptual Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Literasi : Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Jurnal Basataka (JBT) Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal Jubindo: Jurnal Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Skripta Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Patria Educational Journal Jurnal Ilmiah Buana Bastra: Bahasa, Susastra, dan Pengajarannya Pena: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Jurnal Pendidikan Dasar dan Sosial Humaniora Journal of Innovation Research and Knowledge Journal of General Education and Humanities Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Jurnal Bima: Pusat Publikasi Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Jurnal Arjuna : Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Matematika Student Research Journal Atmosfer: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Budaya, Dan Sosial Humaniora Fonologi: Jurnal Ilmuan Bahasa dan Sastra Inggris Dharma Acariya Nusantara: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya Pragmatik : Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia TRANSFORMATIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Disastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Aksara Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Claim Missing Document
Check
Articles

Narrative Structure of the Dayak Benuaq Folktale ‘Pohon Berdaun Kain’: A Proppian Analysis Miranda Bella; Nina Queena Hadi Putri; Rokhmansyah Alfian; Nia Novita Putri
Journal of General Education and Humanities Vol. 5 No. 3 (2026): June
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/gehu.v5i3.1226

Abstract

Folktales function not only as entertainment but also as cultural mechanisms for transmitting values and legitimizing social norms. However, structural studies of Kalimantan folklore, particularly those applying Vladimir Propp’s morphological approach, remain limited. This gap indicates the need for systematic analysis to reveal the narrative patterns underlying local folktales. This study aims to analyze the narrative structure of the Dayak Benuaq folktale Pohon Berdaun Kain using Vladimir Propp’s morphology. This research employs a qualitative descriptive method with a textual analysis design. The data were obtained from the book Cerita Rakyat Kabupaten Kutai Barat, published by the East Kalimantan Language Center. The results show that only 9 out of Propp’s 31 narrative functions are realized, forming a double-move narrative pattern. The structure develops from the resolution of personal conflict to the establishment of collective moral legitimacy through the distribution of magical agents, transformation, and punishment. Several spheres of action experience reduction and shifts, including the absence of the false hero function and the symbolic transformation of the princess and father roles. These findings demonstrate that Propp’s morphology is adaptive and relevant for analyzing Indonesian folklore, particularly in revealing how narrative structures function as mechanisms for reproducing social values. This study contributes to the development of folklore studies and structuralism by providing empirical evidence from the Dayak Benuaq cultural context.
Makna Semantik dalam Mantra dan Doa Laut Nelayan Bajau di Pulau Maratua Nina Queena Hadi Putri; Widyatmike Gede Mulawarman; Taqdiraa Taqdiraa
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4910.125-146

Abstract

This study aims to analyze the semantic meanings embedded in the sea mantras and prayers of the Bajau community on Maratua Island, Berau Regency, East Kalimantan, and to reveal their ethnolinguistic implications for the belief system and worldview of the Bajau maritime society. This research employed a qualitative approach with an ethnolinguistic design. The data, consisting of sea mantras and prayer utterances, were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was conducted interactively through data reduction, data display, and conclusion drawing, focusing on the identification of semantic fields, the analysis of lexical, connotative, and symbolic meanings, as well as the interpretation of metaphors and natural symbolism from semantic and ethnolinguistic perspectives. The findings reveal five major semantic fields, namely sea and nature, religiosity/Islam, safety, livelihood, and kinship. The Bajau ritual language contains complex layers of meaning through the use of metaphors and natural symbolism, such as the sea as an ancestor, the boat as a home, and water as a symbol of life and blessing. The study also shows a syncretism between Islamic teachings and local traditions in Bajau ritual practices. From an ethnolinguistic perspective, the mantras and sea prayers represent the Bajau cosmology that positions the sea as the center of life, a source of livelihood, a spiritual space, and a symbolic kinship entity that must be respected. This study confirms that ritual language functions not only as a medium of spiritual communication, but also as a representation of cultural identity, value systems, and the ecological relations of maritime communities. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis makna semantik dalam mantra dan doa laut masyarakat Bajau di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, serta mengungkap implikasi etnolinguistiknya terhadap sistem kepercayaan dan pandangan dunia masyarakat maritim Bajau. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnolinguistik. Data berupa tuturan mantra dan doa laut dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan fokus pada identifikasi medan makna, analisis makna leksikal, konotatif, dan simbolik, serta interpretasi metafora dan simbolisme alam berdasarkan perspektif semantik dan etnolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya lima medan makna utama, yaitu laut dan alam, religius/Islam, keselamatan, rezeki, dan kekerabatan. Bahasa ritual Bajau mengandung lapisan makna yang kompleks melalui penggunaan metafora dan simbolisme alam, seperti laut sebagai leluhur, perahu sebagai rumah, dan air sebagai simbol kehidupan serta keberkahan. Temuan penelitian juga menunjukkan adanya sinkretisme antara ajaran Islam dan tradisi lokal dalam praktik ritual masyarakat Bajau. Secara etnolinguistik, mantra dan doa laut merepresentasikan kosmologi masyarakat Bajau yang menempatkan laut sebagai pusat kehidupan, sumber rezeki, ruang spiritual, dan kerabat simbolik yang harus dihormati. Penelitian ini menegaskan bahwa bahasa ritual tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi spiritual, tetapi juga sebagai representasi identitas budaya, sistem nilai, dan relasi ekologis masyarakat maritim.
Integrating Folklore into Language and Literature Learning to Strengthen Character Education Alfian Rokhmansyah; Widyatmike Gede Mulawarman; Yusak Hudiyono; Nina Queena Hadi Putri; Muhammad Ma'rifan Nur
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 2 (2026): JULI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i2.8756

Abstract

This study investigates how East Kalimantan folktales can be integrated into Indonesian language and literature learning to strengthen character education. This study aims to achieve two objectives: (1) to identify and analyze character values embedded in East Kalimantan folktales, and (2) to examine how these values can be translated into learning activities. This study employs a qualitative narrative-ethnographic design, focusing on folklore in three regencies (West Kutai, East Kutai, and Kutai Kartanegara) in East Kalimantan. The data were analyzed through content analysis and interactive model, supported by source and method triangulation. The findings show that the folktales consistently articulate character values related to the self (responsibility, perseverance, sincerity, gratitude, humility), to others (social concern, cooperation, justice, empathy, respect for human dignity), and to divinity (religiosity and devotion), which are narratively modeled through characters’ actions, decisions, and dialogue. These values can be systematically integrated into learning objectives, materials, activities, and assessment through folklore-based reading, discussion, dramatization, reflective writing, value clarification, and rubric- and portfolio-based evaluation. The study concludes that East Kalimantan folklore constitutes pedagogically robust core content for contextual, narrative-based character education in language and literature classrooms.
Representasi Masalah Sosial Remaja Dalam Novel Areksa Karya Ita Kurniawati: Teori Sosiologi Sastra Ian Watt Joy Grace Bestari Simamora; Nina Queena Hadi Putri; Alfian Rokhmansyah; Nia Novita Putri
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9 No 3 (2026): Article in Press
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v9i3.5331

Abstract

This study examines the representation of adolescent social problems in the novel Areksa by Ita Kurniawati. The novel portrays various adolescent issues, including family conflict, interfaith romantic relationships, and the influence of peer group subculture in the process of identity formation. This study aims to describe the forms of adolescent social problems presented in the novel and to analyze their relationship with social realities through the perspective of the sociology of literature proposed by Ian Watt. This research employs a qualitative approach using content analysis. The data consist of quotations of dialogues and narrative passages in the novel that reflect adolescent social problems. Data were collected through a literature study using reading and note-taking techniques and analyzed using an interactive model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal three major forms of adolescent social problems: family dysfunction that leads to communication breakdown within the domestic sphere, the dynamics of interfaith romantic relationships influenced by social and religious norms, and peer group subcultures that function as alternative spaces for adolescent identity formation. These findings indicate that Areksa functions not only as a work of entertainment but also as a reflection of the social realities experienced by contemporary adolescents shaped by family dynamics, social norms, and peer group subcultures.
Representasi Citra Perempuan dalam Cerita Rakyat Dayak Kenyah Tilo Enggau Jogarni Maria Marta; Nina Queena Hadi Putri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8281

Abstract

This study aims to reveal the image of women in the Tilo Enggau folktale from the Dayak Kenyah community as a symbolic, spiritual and socio-cultural discourse. This study uses a qualitative approach with data collection techniques in the form of in-depth interviews with informants from the Dayak Kenyah community and documentation of unpublished folklore texts as objects of study. The data were analyzed using three feminist perspectives: radical feminism, cultural feminism and ecofeminism. The results of the study show that the female characters in the story appear as independent figures who reject the norms of marriage, experience supernatural pregnancies and give birth to descendants from heaven. The female characters in this story not only carry out biological functions, but also represent strong socio-cultural constructions. Women are the center of lineage and have symbolic authority as guardians of social harmony. This representation is emphasized through the sacred ancestral speech "ayen nei kini ni, ameq su yaq alaq tilo enggau labok ni" which means "don't come here because we are the grandchildren of the one who took tilo enggau fell," as a symbol of women's authority over lineage and communal harmony. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap citra perempuan dalam cerita rakyat Tilo Enggau dari masyarakat Dayak Kenyah sebagai wacana simbolik, spiritual dan sosial budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap narasumber dari komunitas Dayak Kenyah serta dokumentasi teks cerita rakyat yang belum pernah dipublikasikan sebagai objek kajian. Data dianalisis menggunakan tiga perspektif feminisme: feminisme radikal, feminisme kultural dan ekofeminisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan dalam cerita tampil sebagai figur mandiri yang menolak norma pernikahan, mengalami kehamilan supranatural dan melahirkan keturunan dari kayangan. Tokoh perempuan dalam cerita ini tidak hanya menjalankan fungsi biologis, tetapi juga merepresentasikan konstruksi sosial-budaya yang kuat. Perempuan menjadi pusat garis keturunan dan memiliki otoritas simbolik sebagai penjaga harmoni masyarakat. Representasi ini ditegaskan melalui tuturan sakral leluhur “ayen nei kini ni, ameq su yaq alaq tilo enggau labok ni” yang berarti "jangan datang ke sini karena kami adalah cucu dari yang mengambil tilo enggau jatuh,” sebagai simbol otoritas perempuan atas garis keturunan dan harmoni komunal.
The Linguistic Structure and Socio-Religious Functions of the Tolak Bala Mantra in the Babadan Village Vicky Ardi Kurniawan; Nina Queena Hadi Putri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8540

Abstract

Oral tradition in the form of tolak bala mantras represents a form of local wisdom within Javanese society, reflecting the spiritual relationship between humans, nature, and God. This study aims to examine the linguistic structure, symbolic meaning, and socio-religious functions of tolak bala mantras in Babadan Village, Werungotok District, Nganjuk Regency, East Java. This research employs a descriptive qualitative method and was conducted on October 4, 2025. The data consist of mantra utterances and interview results involving five informants, including one village elder, two community leaders, and two local residents. Data were collected through in-depth interviews, observation, and note-taking techniques, and analyzed using the Miles and Huberman model with triangulation. The findings reveal that the tolak bala mantra reflects religious syncretism between Islamic teachings and Javanese local beliefs, functions as a form of spiritual protection, and serves as a medium for preserving cultural identity through symbolic, repetitive, and performative language structures. The implications highlight the importance of preserving mantras as oral cultural heritage that reinforces religious values, ecological awareness, and social identity. Abstrak Tradisi lisan berupa mantra tolak bala merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang merefleksikan hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur bahasa, makna simbolik, serta fungsi sosial-religius mantra tolak bala pada masyarakat Desa Babadan, Kecamatan Werungotok, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dilaksanakan pada 4 Oktober 2025. Data penelitian berupa tuturan mantra dan hasil wawancara dengan lima informan yang terdiri atas satu sesepuh desa, dua tokoh masyarakat, dan dua warga. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta teknik simak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra tolak bala merepresentasikan sinkretisme religius antara ajaran Islam dan kepercayaan lokal Jawa, berfungsi sebagai doa perlindungan spiritual, serta menjadi sarana pelestarian identitas budaya melalui struktur bahasa yang simbolik, repetitif, dan performatif. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian mantra sebagai warisan budaya lisan yang memperkuat nilai religius, kesadaran ekologis, dan identitas sosial masyarakat.
PENGGUNAAN TAGLINE IKLAN SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA DALAM PEMBELAJARAN SINTAKSIS DI PERGURUAN TINGGI Nina Queena Hadi Putri; Ian Wahyuni
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v13i2.11601

Abstract

Tagline iklan dipilih karena menjadi sebuah ikon bahasa suatu produk yang bersifat unik, mudah diingat, dan menjadi ciri khas jati diri produk yang bersifat persuasif kepada khalayak sebagai konsumen. Iklan dengan audio dan visual menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen, khususnya mahasiswa yang tidak pernah lepas dari media elektronik. Dengan menggunakan media iklan yang familiar dengan kehidupan mahasiswa disertai contoh penerapa sintaksis dengan berbagai pola strukturnya dapat menjadi alternatif media dalam pembelajaran sintaksis di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur klausa pada tagline iklan pada media televisi kan kanal youtube. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data berupa kutipan klausa dan kalimat sederhana (tunggal) pada iklan makanan yang terdapat pada media televisi dan kanal youtube Indonesia. Sumber data yaitu iklan makanan yang terdapat pada media televisi dan kanal youtube Indonesia. Pengumpulan data dengan menggunakan metode simak, catat, dan mentranskripsikan data lisan ke data tulis. Pada tagline iklan ditemukan penggunaan klausa yang terdiri atas klausa bebas (kalausa lengkap), klausa tidak lengkap, dan klausa terikat. Namun, yang paling sering digunakan yaitu klausa bebas. Berdasarkan kategori yang menduduki fungsi predikat terdapat klausa verbal, nominal, dan adjektiva. Sedangkan yang paling sering digunakan yaitu klausa verbal.Kata kunci: tagline iklan, media pembelajaran, pembelajaran sintaksis
FUNGSIONALISME DAN NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG PADA LEGENDA NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU Siti Nur Haliza; Nina Queena Hadi Putri
Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2026): Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/basastra.v14i1.100812

Abstract

Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Kutai yang sarat akan nilai-nilai historis dan filosofis. Studi ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami fungsi dan nilai-nilai yang terkandung dalam legenda tersebut sebagai bentuk kearifan lokal yang masih berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis fungsi legenda dalam kehidupan sosial serta mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan pendekatan struktural-fungsionalisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis naratif. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, serta observasi terhadap tradisi yang berkaitan dengan legenda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu memiliki berbagai fungsi, di antaranya sebagai alat pendidikan moral, legitimasi kekuasaan, serta penguat identitas budaya masyarakat Kutai. Selain itu, legenda ini mengandung nilai-nilai seperti kepemimpinan, kebijaksanaan, kesetiaan, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Legenda lokal memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan nilai sosial masyarakat. Oleh karena itu, pelestarian dan penguatan pemahaman terhadap legenda ini menjadi hal yang krusial, terutama dalam konteks pendidikan dan pelestarian budaya di era modern.
Analisis Aspek Sosial dan Politik Dalam Cerita Rakyat Paser “Peperangan di Sadurengas” Kajian Sosiologi Sastra : Analysis of Social and Political Aspects in the Paser Folktale “The War in Sadurengas “ A Study of Sociology of Literature Ajeng Ratri Namdariah; Marwah Ulwatunnisa; Nina Queena Hadi Putri; Syaiful Arifin
Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 10 No. 2 (2026): TRANSFORMATIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/transformatika.v10i2.3834

Abstract

This research has the aim to analyze the social and political aspects in Paser folklore through a literary sociallogy approach.. This study is based on the limited studies that explore regional folklore,especiallly from Paser,from a literary sociology perspective,considering that previous reserch tends to focus on contemporary literary works. The object of analsis includes the folklore “The War in Sadurengas”, which presents the local social and political dynamics. The apporoach applied is qualitative and descriptive.The data collection techniques used are literature study and document analysis. Furthmore,data presentatiom,and drawing conclusions by referring to indicators of social and political aspects. The main findings reveal thas the folklore “The War in Sadurengas” contains social elements such as social folklore “The War in Sadurengas”contains social elements such as social stratification,compliance with norms,social solidarity,and empathy values; as well as political elements in the form of power conflicts and elite political strategies.The results of study reinforce the view that folk tales can play a dual role: entertraining but also reflecting the social an political dynamics within society.Thus,the contribution of this reserch ecompasses two points: first,strengthening the sudy of literary sociology; second,untilizing folk tales as a learning tool based on local wisdom,emphasizing that folk tales do not merely function as entertainment,but also serve as a reflection of the social and political realities of society. Therefore,this study contributes to the strengthening of literary sociology studies as well as the use of folk tales as a learning medium based on local wisdom.
ANALISIS STRUKTURAL DAN MOTIF NARATIF LEGENDA ASAL-USUL NAMA BALIKPAPAN (VERSI PAPAN KEMBALI DAN PUTRI PETUNG) KAJIAN FOLKLOR KAMPARATIF Listiyowardany, Yunia Hardiani; Putri, Nina Queena Hadi; Rokhmansyah, Alfian
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1227

Abstract

Cerita rakyat adalah salah satu budaya popular di Masyarakat, dengan membawakan cerita kepada anak, dapat memberi stimulus bermanfaat untuk mengolah rasa, emosi dan bahasa. Namun seiring perkembangan zaman cerita rakyat mulai menghilang oleh karena itu penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif struktur dan motif naratif dua versi utama legenda asal-usul nama Kota Balikpapan, yaitu versi Papan Kembali dan versi Putri Petung. Analisis struktural menggunakan pendekatan strukturalisme Claude Lévi-Strauss untuk mengungkap oposisi biner mendasar, sementara analisis motif naratif menggunakan taksonomi Stith Thompson untuk mengidentifikasi unsur-unsur cerita yang berulang. Hasil kajian menunjukkan adanya perbedaan skema naratif yang signifikan antara kedua legenda tersebut, meskipun keduanya berfungsi sebagai mitos etiologi yang menjelaskan penamaan suatu tempat. Versi Papan Kembali berfokus pada dinamika hubungan Raja/Pusat Kekuasaan dengan Rakyat/Periferi dan unsur benda (papan) sebagai subjek, sedangkan versi Putri Petung menyoroti nasib tragis tokoh perempuan (Putri) dan oposisi biner Alam/Budaya (Lautan/Peradaban). Kajian komparatif ini menyimpulkan bahwa keragaman legenda mencerminkan kompleksitas dan multikulturalitas historis masyarakat awal Balikpapan yang terkait dengan pengaruh Kerajaan Kutai dan Paser.
Co-Authors Aditya Apriannur Afifah, Nisa Fitriyanti Agustian, Jaka Farih Agustina, Desy Ahmad Mubarok Ainun Rahma Dani Ajeng Ratri Namdariah Alfian Rokhmansyah Alifia Shifa Latif Ardelia, Azra Abidah Arifin, Syaiful Arinas Sa’adah Asep Purwo Yudi Utomo Asnan Hefni Aulia, Sylva Azni, Fadhilah Bahri Arifin Bella Setyawati Bibit Suhatmady Dandi, Dandi Dewi Anjayani Dwi Nugroho Hidayanto Dwi Rijaya Hakiki Endang Dwi Sulistyowati FARADILLA, FARADILLA Farawita, Ria Farida Ainur Rohmah Fatimah Zahro Fika Yuni Lestari Firstya Evi Dianastiti Hadijati, Sri halimah, Halimahtusyadiyah Hayati, Sila Faizatul Herdita Noor Wanda Hesti Mutmainah Hidayat Nur Raihan Rapi Hidayat, Ryan IAN WAHYUNI Iin Iduljanah Iskandar, Fitriyanti Jogarni Maria Marta Joy Grace Bestari Simamora KAMALIA, ALFIN LULUK Khairiyah, Ayu Khusnul Khotimah Kiki Indah Royani Laela Nabila Laily, Asyifa Ismatul Lidya, Salma Listiyowardany, Yunia Hardiani Mahmudah Mahmudah Marta, Jogarni Maria Marwah Ulwatunnisa Marwah Ulwatunnisa Masduki Zakaria Meigitha Putri Miranda Bella Muhammad Ma'rifan Nur Mulawarman, Widyatmike Nazwah Alisca SK Nia Novita Putri Nia Ramadhani Ningsih, Sulasti Nirfanda Pratiwi Nisa Fitriyanti Afifah Nur Safaria Nur Saidah Nurul Maghfirah Rahman, Hasrul Raihan Naufal Putra Susanto Ramadhani, Asri Rindaningtyas, Yulita Dwi Rokhmansyah Alfian Royani, Kiki Indah Safitri, Lucyana Dewi Saputra, Marselinus Juan Selpila, Amilia Sinta Yus Libu Putri Siti Nur Haliza Sumarlam, Sumarlam Suwandi, Sarwiji Syaiful Arifin Taqdiraa Taqdiraa Taqdiraa, Taqdiraa Tubun, Rensiana Kandida Turahmat Turahmat, Turahmat Ulwatunnisa, Marwah Umar Umar Vicky Ardi Kurniawan Visuddha Kartanegara, Sulthan Wahdini, Chintya Wahyuni, Ian Widyatmike Gede Mulawarman Yahya, Masrur Yanuar Bagas Arwansyah YUNITA Yusak Hudiyono Yusak Hudiyono, Yusak Zahrah Aulia Nabila Zahrah Aulia Nabila