Claim Missing Document
Check
Articles

PENDAMPINGAN TERHADAP PEREMPUAN PEKERJA KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI KABUPATEN BANYUMAS Mariyawati, Mariyawati; Wulan, Tyas Retno; Muslihudin, Muslihudin; Wuryaningsih, Tri; Sutoyo, Ignatius Suksmadi
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i2.66258

Abstract

Domestic violence is a manifestation of gender inequality in a patriarchal culture. The phenomenon of working women is the progress and success of women in opposing patriarchal culture. The UPTD PPA of Banyumas Regency is a government agency authorized to handle cases of gender- and child-based violence under the auspices of the DPPKBP3A service and the KPPPA RI umbrella. This study aims to identify the processes and roles of the government in intervening in cases of domestic violence, as well as the obstacles that occur during the mentoring process for working women who are victims of domestic violence. This study uses a qualitative research method with a phenomenological approach. The data collection process was carried out through in-depth interviews, observation, and documentation. The results of the study show that the mentoring process at the UPTD PPA Banyumas Regency has been adjusted to the standard of Dexterous services stipulated in the Minister of KPPPA RI Number 2 of 2022 by implementing psychosocial-based assistance. This issue is because the socio-cultural conditions of the Banyumas society consider domestic violence as a disgrace even though it has caused psychological, sexual, and physical violence. The ability of women to work in the public sector makes women experience a double burden. A patriarchal culture places women in a subordinate position while men are superior and cause both of them to fail in carrying out their roles as husband and wife, which manifests itself in the form of violence. The obstacles faced are the lack of human resources, facilities, and infrastructure that do not yet support the needs of persons with disabilities and the elderly. The presence of the UPTD PPA is a form of state presence and power in intervening in cases of domestic violence. Keywords: Domestic Violence, Patriarchal Culture, WomenAbstrakKekerasan dalam rumah tangga merupakan manifestasi dari ketidakadilan gender di tengah budaya patriarki. Fenomena perempuan pekerja merupakan sebuah kemajuan dan keberhasilan perempuan dalam menentang budaya patriarki. UPTD PPA Kabupaten Banyumas merupakan lembaga pemerintah yang berwenang menangani kasus kekerasan berbasis gender dan anak di bawah naungan dinas DPPKBP3A dan payung KPPPA RI. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan proses dan peran pemerintah dalam mengintervensi kasus KDRT, serta kendala yang terjadi saat proses pendampingan bagi perempuan bekerja korban KDRT. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Adapun proses pengambilan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pendampingan di UPTD PPA Kabupaten Banyumas telah disesuaikan dengan standar layanan Cekatan yang diatur dalam Permen KPPPA RI Nomor 2 Tahun 2022 dengan menerapkan pendampingan berbasis psikososial.  Hal ini karena kondisi sosial budaya masyarakat Banyumas  menganggap KDRT sebagai aib meskipun sudah mencapai kekerasan psikis, seksual, dan fisik. Kemampuan perempuan bekerja di sektor publik justru menjadikan perempuan mengalami beban ganda. Budaya patriarki yang masih menempatkan perempuan pada posisi subordinat sedangkan laki-laki sebagai superior dan menyebabkan keduanya gagal dalam menjalankan peran sebagai suami isteri, hingga termanifestasikan dalam bentuk kekerasan. Kendala  yang dihadapi yaitu kurangnya sumber daya manusia, sarana dan prasarana belum mendukung kebutuhan penyandang disabilitas dan lansia. Kehadiran UPTD PPA merupakan bentuk kehadiran dan kuasa negara dalam mengintervensi kasus KDRT.Kata Kunci : Kekerasan Domestik, Budaya Patriarki, Perempuan
Ngopi dan Pecinta Alam Studi Ngopi Bareng sebagai Transmisi Ilmu Kepecintaalaman di UPL Mahasiswa Pecinta Alam Maria Chrismei Shintya Nugraheni; Tyas Retno Wulan; Sulyana Dadan
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Interaksi Volume 4 Nomor 1 2024
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v4i1.12675

Abstract

Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Jenderal Soedirman (UPL MPA Unsoed) merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam bidang kepencintaalaman. Selain kegiatan lapangan (outdoor), UPL MPA Unsoed juga banyak melakukan kegiatan di dalam ruangan, seperti rapat dan diskusi kepencintaalaman. Salah satu hal menarik dari kegiatan UPL MPA Unsoed adalah kebiasaan berdiskusi dengan suguhan satu cangkir kopi hitam yang dapat dinikmati bersama-sama. Bagi sebagian anggota, Ngopi bareng merupakan salah satu metode paling efektif untuk mentransfer pengetahuan dalam diskusi. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan tradisi Ngopi bareng sebagai sarana transmisi ilmu kepecintaalaman UPL MPA Unsoed. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sasaran penelitiannya adalah para pengurus, anggota dan alumni UPL MPA Unsoed yang pernah atau sering melakukan tradisi Ngopi bareng di UPL MPA Unsoed. Tehnik penentuan informan menggunakan purposive sampling serta analiasa data menggunakan analisis data interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minum kopi bersama bagi anggota UPL MPA Unsoed menjadi sarana untuk transmisi ilmu kepecintaalaman dan meningkatkan ikatan solidaritas di antara anggota.
Indonesian Migrant Workers in Malaysia and Their Social Environment: Analysis from a Socio-Legal Perspective Bintang Parashtheo; Sri Wahyu Krida Sakti; Agus Suntoro; Tyas Retno Wulan
POLICY, LAW, NOTARY AND REGULATORY ISSUES Vol. 4 No. 2 (2025): APRIL
Publisher : Transpublika Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55047/polri.v4i2.1700

Abstract

Malaysia is considered one of the primary destinations for migrants in Southeast Asia, particularly those from Indonesia. There are approximately 2.7 million Indonesian migrant workers in Malaysia, with 1.6 million having followed official placement procedures. The presence of a large number of Indonesian migrant workers in Malaysia has led to legal complications concerning their employment relationships with employers, including issues related to work contracts, safety regulations, social security, and termination of employment. Additionally, there are socio-legal concerns regarding the social integration of migrant workers into their new environment, which may contribute to criminal activities such as extremism, drug trafficking, human trafficking, undocumented labor, theft, and domestic violence. The legal problems faced by migrant workers are influenced by two main factors: their level of legal understanding, both in terms of Indonesian law and Malaysian law, and their lack of familiarity with the cultural norms of the host country, leading to social tensions. Therefore, the main question addressed in this study is how the social environment influences migrant workers' attitudes and behaviors, particularly whether it contributes to criminal acts and legal repercussions. This socio-legal study of the social relationship of Indonesian Migrant Workers with their environment is empirical using a survey method involving Indonesian Migrant Workers and document review. All data and legal materials are processed and analyzed using statistical instruments of central-tendency analysis for quantitative data, and interactive models of qualitative data analysis for qualitative data, while the analysis of the substance uses analytical theory of legal-protection and legal-justice.
Resiliensi Ayah Tunggal dalam Pola Asuh kepada Anak Perempuan Pasca Kehilangan Pasangan (Studi di Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor) Farida Nugraini Ammara; Tyas Retno Wulan; Shinta Julianti
Journal of Science and Education Research Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Science and Education Research
Publisher : Yayasan Pendidikan Insan Mulia Utan Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62759/jser.v5i1.398

Abstract

Pola asuh menjadi tahapan penting dalam perkembangan seorang anak, sehingga keterlibatan kedua orang tua memiliki peran yang krusial dalam pola asuh. Di sisi lain peningkatan angka perceraian dan kematian ibu tercermin secara lokal di Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Terdapat 4.200 penduduk berstatus cerai, dan peningkatan sebanyak 18,8% kasus kematian ibu. Kondisi ini menyebabkan ayah perlu mengambil seluruh tanggung jawab pola asuh. Pola asuh ayah tunggal kepada anak perempuannya menciptakan dinamika baru dalam struktur keluarga. Penelitian ini melibatkan ayah tunggal sebagai informan utama dan anak perempuan, serta pihak yang memberi dukungan sebagai informan pendukung. Masing-masing kategori informan terdiri dari tiga individu. Identitas informan sepenuhnya dirahasiakan sesuai dengan etika penelitian. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui proses resiliensi, tantangan, dan strategi yang dilakukan ayah tunggal dalam pola asuh kepada anak perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, proses transisi yang dirasakan ayah tunggal menciptakan kebiasaan dan pola keseharian baru. Peran ganda menyebabkan ayah tunggal perlu membagi waktu antara urusan pekerjaan dan rumah tangga, sehingga pola asuh yang dilakukan ayah tunggal biasanya merujuk pada intensitas komunikasi dan quality time. Ayah tunggal juga mengalami tantangan menghadapi masa pubertas anak, tantangan ekonomi, dan sosial, sementara tantangan yang dirasakan anak perempuan cenderung dalam hal psikologis. Strategi yang digunakan ayah tunggal mengarah pada komunikasi terbuka, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, serta menjaga keseimbangan Interaksi. Kemampuan ayah dalam membangun kondisi yang resilien berpengaruh pada pemaknaan anak perempuan tentang figur ayah sebagai orang tua tunggal.
Membingkai Masa Depan: Konstruksi Sosial Pendidikan Inklusi Melalui Vokasi dalam Membangun Keterampilan Ekonomi Mandiri (Studi di SLBN Purbalingga) Jasmine Husna Nurmaulidya; Tyas Retno Wulan; Shinta Julianti
Journal of Science and Education Research Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Science and Education Research
Publisher : Yayasan Pendidikan Insan Mulia Utan Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62759/jser.v5i2.467

Abstract

Pendidikan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta memperluas kesempatan individu untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Bagi penyandang disabilitas, pendidikan vokasi di Sekolah Luar Biasa (SLB) menjadi salah satu strategi untuk mengembangkan keterampilan yang mendukung kemandirian. Rendahnya keterlibatan penyandang disabilitas dalam dunia kerja menunjukkan bahwa lulusan SLB masih menghadapi hambatan dalam proses transisi menuju kehidupan ekonomi mandiri. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi sosial pendidikan vokasi dalam membentuk keterampilan ekonomi mandiri siswa di SLBN Purbalingga. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara semi-terstruktur, dan studi pustaka. Informan penelitian ditentukan melalui purposive sampling yang melibatkan guru vokasi, guru kehumasan, siswa, dan orang tua. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman serta diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan vokasi di SLBN Purbalingga terbentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi yang melibatkan sekolah, keluarga, siswa, serta mitra dunia usaha dan dunia industri. Program vokasi tidak hanya mengembangkan keterampilan kerja, tetapi juga membangun nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan identitas kerja siswa. Penguatan kemandirian ekonomi dilakukan melalui pembelajaran berbasis produk bernilai jual, pengalaman memperoleh pendapatan, pelaksanaan PKL, serta kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri. Dengan demikian, pendidikan vokasi di SLBN Purbalingga berfungsi sebagai proses konstruksi sosial yang mendukung terbentuknya kompetensi kerja sekaligus kemandirian ekonomi siswa penyandang disabilitas.
STRATEGY FOR STRENGTHENING THE INSTITUTION OF WOMEN'S FARMING GROUPS IN AN EFFORT TO SUPPORT FAMILY FOOD INDEPENDENCE IN KALIMANAH DISTRICT PURBALINGGA REGENCY Tutut Dwi Purwani; Tyas Retno Wulan; Hariyadi
International Journal of Economic, Business, Accounting, Agriculture Management and Sharia Administration (IJEBAS) Vol. 5 No. 6 (2025): December
Publisher : CV. Radja Publika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/ijebas.v5i6.4828

Abstract

The Women Farmers Group (KWT) is a forum for women to participate in advancing the agricultural sector, encouraging innovation, economic independence, and improving the welfare of families and communities. KWT plays a strategic role in supporting family food independence while strengthening national food security. However, not all KWTs have strong and sustainable institutions. This study aims to map the institutional conditions of KWT and formulate institutional strengthening strategies in an effort to support family food independence in Kalimanah District, Purbalingga Regency. The study uses a qualitative approach with data collection techniques through in-depth interviews, direct observation, Focus Group Discussion (FGD), and document study. Informants were determined using purposive sampling by selecting three KWTs that represent different institutional conditions, namely KWT Aglonema (advanced), KWT Sri Lestari (developing), and KWT Melati (declining). Data analysis was conducted using a SWOT approach combined with Richard Scott's institutional theory, which includes regulatory, normative, and cognitive pillars. The results showed that the institutional conditions of KWTs in Kalimanah Subdistrict varied, influenced by leadership, member participation, internal rules, and external support. Institutional strengthening strategies were directed at increasing human resource capacity, strengthening organizational systems, partnerships, diversifying yard-based food activities, and optimizing the role of agricultural extension workers. Sustainable institutional strengthening of KWT is expected to increase the role of women farmers in achieving family food self-sufficiency.
Strategi Pemberdayaan Petani oleh Nahdlatul Ulama di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas Melalui Pendekatan Analisis SWOT Pamuji Pamuji; Rahab Rahab; Yusuf Subagyo; Masrukin Masrukin; Tyas Retno Wulan
Journal of Business, Social and Technology Vol. 7 No. 1 (2026): Journal of Business, Social and Technology
Publisher : Politeknik Siber Cerdika Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59261/jbt.v7i1.585

Abstract

Latar belakang: Pertanian di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan. Meskipun demikian, petani di daerah ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan lahan, ketergantungan pada pupuk kimia, dan pola pemasaran yang merugikan. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai lembaga sosial keagamaan berperan aktif dalam pemberdayaan petani melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi pemberdayaan yang dilakukan NU dan merumuskan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Metode: Metode yang digunakan meliputi wawancara dengan responden kunci, analisis faktor internal dan eksternal, serta pendekatan SWOT. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif-analitis dengan teknik purposive sampling. Sebanyak 21 informan dipilih berdasarkan keterlibatan langsung dalam kegiatan pemberdayaan NU. Data divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan NU terletak pada dukungan masyarakat dan infrastruktur pertanian yang baik, sementara kelemahan mencakup ketergantungan pada pupuk kimia dan minimnya inovasi. Peluang kolaborasi dengan lembaga lain dan keterlibatan kyai dalam program pemberdayaan menjadi kunci untuk mengatasi ancaman yang ada. Kesimpulan: Penelitian ini merekomendasikan pengembangan program berbasis komunitas dan peningkatan partisipasi aktif petani dalam pengambilan keputusan.
Co-Authors Agung Kurniawan Agus Suntoro Aminuyati Ariandre Tri Hapsari Arif Rahman Hikam Asegaf, Muhammad Mahfudz Bintang Parashtheo Dalhar Shodiq Dalhar Shodiq, Dalhar Desta Riani, Aan Diyah Woro Dwi Lestari DwiHanggini, Heni Suswanti Ekawati Sri Wahyuni Eri Wahyuningsih Fadillah, Jauhariyatun Farida Nugraini Ammara Fathurahman, Fathurahman Fitriani, Janiatun Fitriyani, Nur Liya Hariyadi Hariyadi Hendri Restuadhi Ibnu Panji Arifin Imam Santosa INDRA RACHMAWATI Irwan Abdullah Jasmine Husna Nurmaulidya Jayawarsa, A.A. Ketut Karseno . Lala M Kolopaking Lestari, Soetji Lili Sunarya Lilik Kartika Sari Lilik Kartika Sari, Lilik Kartika Lucie Setiana Mahdiyah, Hana Luthfiyah Maria Chrismei Shintya Nugraheni Mariyawati, Mariyawati Masrukin Masrukin Masrukin Maulidya, Shafira Mega Fatimah Rosana Mintarti Mintarti, Mintarti Muhamad Riza Chamadi Muslihudin Muslihudin Muslihudin Muslihudin, Muslihudin Mutahir, Arizal Nalfaridas Baharuddin Nanang Martono Noer Anissa Rakhmawati Novie Andri Setianto Nuniek Ina Ratnaningtyas Nunihartini, Yekti Nurcholifah, Siti Nurul Azizah Zayzda NURUL HIDAYAT Pamuji Pamuji Parnowo, Suko Pingkan Zahra Azizah Primadata, Ankarlina Pandu Priya Oktaviana Purwandhani Purwanto Bekti Santoso, Purwanto Bekti Putra Indriadi, Agheng Rahab Rahab Rani Hendriani Riani, Aan Desta Rifda Naufalin Rin Rostikawati rusana, rusana Salmah, Hanifa Setiasih, Latifah Dwi Shinta Julianti Sotyania Wardhianna, Sotyania Sri Hartini Sri Wahyu Krida Sakti Sri Wijayanti Sri Wijayanti Sri Wijayanti Sugiarto, Tri Sulyana Dadan Sulyana Dadan Susi Fatma Yuwita Sutoyo, Ignatius Suksmadi Tri Rini Widyastuti Tri Sugiarto Tri Wuryaningsih Tutut Dwi Purwani Utami, Nurani Ajeng Tri Wardiyono, FX Wiman Rizkidarajat Windiasih, Rili Wita Ramadhanti Yusuf Subagyo