p-Index From 2021 - 2026
7.528
P-Index
This Author published in this journals
All Journal MANAJEMEN HUTAN TROPIKA Journal of Tropical Forest Management Jurnal Gizi dan Pangan Jurnal Penyuluhan Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Jurnal Manajemen dan Agribisnis Forum Pasca Sarjana Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan (Journal of Soil Science and Environment) Indonesian Journal of Geography JURNAL ECONOMIA Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Sosiohumaniora JEJAK Majalah Geografi Indonesia Jurnal Agro Ekonomi Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Journal of Regional and City Planning Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) E-Journal Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan Jurnal Wilayah dan Lingkungan Jurnal Tataloka Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik MAJALAH ILMIAH GLOBE Jurnal Bina Praja Journal of Environment and Sustainability Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING) Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah Journal of Regional and Rural Development Planning Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Journal of Socioeconomics and Development Astonjadro Forest and Society Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan BHUMI: Jurnal Agraria dan Pertanahan Komputasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer dan Matematika EKUITAS (Jurnal Ekonomi dan Keuangan) STI Policy and Management Journal Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum International Journal of Economics Development Research (IJEDR) Jurnal Agro Ekonomi Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Jurnal Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Agricultural Science Procedia of Social Sciences and Humanities Jurnal Perspektif Pembiayaan dan Pembangunan Daerah Journal Research of Social Science, Economics, and Management Eduvest - Journal of Universal Studies MIMBAR : Jurnal Sosial dan Pembangunan Jurnal Manusia dan Lingkungan Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Economic Development Analysis Journal Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian
Claim Missing Document
Check
Articles

SPILLOVER SPASIAL NEGATIF PERTUMBUHAN EKONOMI ANTAR KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TIMUR Hani Laksono; Ernan Rustiadi; Hermanto Siregar
TATALOKA Vol 20, No 3 (2018): Volume 20 Number 3, August 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.20.3.266-277

Abstract

Various studies have been conducted to conceive the factors of regional economic growth and its nature in order to obtain the right formulation of regional development policy. The main aim of this research is exploring the spatial influence of economic growth in East Java Province. The result of Lagrange Multiplier test shows that the regencies/cities economic growth affects each other in the long term. Parameters estimation on spatial lag model shows that the spatial influence of economic growth inter regencies/cities is negative. These indicate that development activities in East Java Province have not been get synergistic yet.
Dampak Spillover Pusat-Pusat Pertumbuhan di Kalimantan Ernawati Pasaribu; Dominicus Savio Priyarsono; Hermanto Siregar; Ernan Rustiadi
Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian, Badan Keahlian DPR RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22212/jekp.v5i2.90

Abstract

Dampak spillover terhadap kinerja pusat-pusat pertumbuhan di Indonesia yang diamati selama ini belum pernah sampai kepada pengujian secara statistik. Padahal, pembuktian ada tidaknya dampak spillover secara empiris sangat diperlukan mengingat penerapan teori pusat pertumbuhan yang telah dilakukan baik oleh negara-negara maju maupun negara-negara berkembang masih menimbulkan pro dan kontra. Pengujian dampak spillover pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan secara khusus dilakukan untuk mengetahui apakah peranannya sebagai lumbung energi nasional seperti yang tertuang dalam Program MP3EI tidak akan menimbulkan backwash effect bagi daerah sekitarnya. Pendeteksian awal akan adanya hubungan ketergantungan spasial (spatial lag dependent) antara pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan dan daerah sekitarnya diuji menggunakan Lagrange Multiplier Spatial Lag Dependent. Hasilnya ternyata membuktikan bahwa pertumbuhan output, pertumbuhan tenaga kerja, dan pertumbuhan investasi yang terjadi pada pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan secara signifikan memberikan dampak spillover negatif (backwash effect) terhadap wilayah sekitarnya. Pusat-pusat pertumbuhan secara signifikan berdampak spillover positif (spread effect) terhadap wilayah sekitarnya apabila pertumbuhan output, pertumbuhan tenaga kerja, dan pertumbuhan investasi pada pusat-pusat pertumbuhan disertai dengan aliran ekonomi ke wilayah sekitarnya. Dengan demikian, pengembangan wilayah pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan di masa mendatang harus diarahkan pada upaya peningkatan transaksi perdagangan antarwilayah agar dampak spillover positif dapat terjadi seperti yang diharapkan dan pertumbuhan yang diikuti pemerataan antarwilayah di Kalimantan niscaya akan terwujud.
Kerugian Ekologis dalam Pembangunan di Provinsi Kalimantan Timur [Ecological Cost in East Kalimantan Province Development] Margiyono Margiyono; Ahmad Fauzi; Ernan Rustiadi; Bambang Juanda
Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian, Badan Keahlian DPR RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22212/jekp.v10i1.1162

Abstract

East Kalimantan is one of the richest provinces in Indonesia that is blessed with an endowed of natural resources. East Kalimantan’s Province average economic growth during the 1990s and 2000s was more than 7 percent per year; the third highest human development index (HDI) in Indonesia and the environmental quality index (EQI) were also very good. At present, East Kalimantan Province experiences a contraction in economic growth up to -1.28 percent, even of ecological disasters also increases. This shows that East Kalimantan Province experienced a wellbeing paradox and sustainability paradox. Therefore, is very interesting to research with the aim of knowing the value of ecological losses, their impact on welfare and the causes of ecological losses. To achieve that goal, an ecological account method is used. The results of the study showed that the highest environmental losses caused by the extent of the critical land, followed by sequentially losses due to the exploitation of coal, natural gas, and petroleum. The ecological losses have corrected the welfare level to 76 percent of Gross Domestic Product (GDP). Other result of this study showed weak environmental regional regulation and enforcement. Finally, this study provided some policy recommendations to elevate the development of East Kalimantan Province or similar others region with the same characteristic, that is to rehabilitate critical land by using it to support productive activities. Moreover, critical land rehabilitation should be followed by structural transformation towards renewable resource-oriented economy and also to revise environmental regulations by implementing incentive and disincentive approachesKeywords: sustainable development, natural resources, disaster, ecological account, regulationAbstrakKalimantan Timur adalah salah satu provinsi terkaya di Indonesia yang dikaruniai kelimpahan sumber daya alam. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Timur selama tahun 1990an hingga tahun 2000an mencapai lebih dari 7 persen per tahun, indeks pembangunan manusia (IPM) tertinggi ketiga di Indonesia, dan indeks kualitas lingkungan juga sangat baik. Namun saat ini, Provinsi Kalimantan Timur mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi hingga -1,28 persen yang dibarengi pula dengan peningkatan kejadian bencana alam. Hal ini menunjukkan indikasi bahwa Provinsi Kalimantan Timur mengalami paradoks kesejahteraan dan kelestarian. Oleh karena itu, tujuan studi ini adalah untuk mengetahui nilai kerugian ekologis, dampaknya terhadap kesejahteraan, dan penyebab kerugian ekologis. Untuk menjawab tujuan itu maka digunakan metode ecological account. Hasil studi menunjukkan bahwa kerugian ekologis tertinggi disebabkan oleh luasnya lahan kritis, kemudian secara berurutan kerugian akibat eksploitasi batu bara, gas bumi, dan minyak bumi. Kerugian ekologis tersebut telah mengoreksi tingkat kesejahteraan sampai 76 persen dari PDRB. Hasil studi lainnya menunjukkan bahwa tingginya kerugian ekologis disebabkan oleh lemahnya peraturan daerah yang berkaitan dengan lingkungan dan penegakan hukum. Akhirnya, studi ini merekomendasikan bagi para pembuat kebijakan bahwa dalam upaya untuk meningkatkan pembangunan di Provinsi Kalimantan Timur atau daerah lain yang memiliki karakteristik yang sama maka perlu merehabilitasi lahan kritis untuk aktivitas yang produktif, diikuti dengan transformasi struktur ekonomi yang lebih berorientasi pada sumber daya alam yang dapat diperbaharui, serta melakukan revisi peraturan daerah tentang lingkungan dengan menerapkan pendekatan insentif dan disinsentif. Kata kunci: pembangunan berkelanjutan, sumber daya alam, bencana, perhitungan ekologis, regulasi
PERUBAHAN STRUKTURAL TENAGA KERJA DARI SEKTOR PERTANIAN KE SEKTOR NON PERTANIAN DI PROVINSI LAMPUNG Okwan Himpuni; Ernan Rustiadi; Setiahadi Setiahadi
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol. 4 No. 1 (2014): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.4.1.70

Abstract

Agriculture is one of the sectors having largest contribution to the economy of Lampung Province. Most of the population categorized in to work forces, are engaged in agricultural sector as a main livelihood. In general, the rate of job opportunity growth is unbalance as compared to the work force growth. Although the job opportunity ofagricultural sector from year to year decreases compared to the job opportunity increases of non-agricultural and industrial sector.  But from economic sector points of view, the employment’s structure in agriculture, in average, is higher than the other economic sectors. Although in the employment’s structure it is higher than the other economic sectors, but the contribution of agricultural sector decreases each years 0.32 percent. This condition is inversely with non-agricultural and industrial sector that are strengthened respectively 0.4 percent and 0.59 percent from year to year. The tendency of economic structural transformation, gives an overview whether the transformation is consistent with region’s potention. Productivity of the agriculture work force is left far behind the productivity of industrial sector and service’s work forcesector. It the trendcan be seen from the comparation of agriculture’s wage rate, it showed an increase but it still lower than the industrial sector. Agricultural labor’s proportion indicates a decreasing trend in each year. This phenomenon has an inverse relation to the non agricultural and industrial labor’s proportions that has increased from year to year. This mean, there is structural transformation of labor of agriculture sector to non-agriculture sector. By using econometric model, it can be identified significant factors influencing to the job opportunity and the influencing factors to the labor structural transformation from agriculture to non agriculture sectorKeywords: Agricultural, labor, job opportunity, transformation, industrial
Suitable and Available Land for Settlement Development in Cianjur Regency Nurul Amaliyah Tanjung; Rustiadi Ernan; Widiatmaka
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol. 11 No. 4 (2021): Journal of Natural Resources and Environmental Management
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.11.4.550-566

Abstract

A merging of Jakarta and Bandung metropolitans influence the development of the areas around them. Consequently, people are migrating to the cities caused an increasing population. It leads to experiencing uncontrolled advancement and arising problems. One of them is the raising land demand for settlement development, but the land is limited. Therefore, there is a need to address these particularities. This research aimed to model suitable and available land for settlement development in Cianjur Regency. Multi-criteria evaluation (MCE) and geographical information system (GIS) were collaborated to define the suitability criteria. The analytical hierarchy process (AHP) was employed to set the criteria's weight. Spatial Plan and LP2B were carried out as limiting factors. The result showed that the most crucial consideration came from the disaster. The suitability classes in Cianjur regency are: highly suitable 36%, Suitable 7%, Marginally suitable 44%, and Not suitable 14%. 85% of land in 2018 was available for settlement. Yet it is decreasing becomes 2% in 2030. Therefore, the potential land for settlement development is The different perspectives among developers, academics, and government in determining the most critical criteria for land suitability plays a crucial role in the next Cianjur’s settlement development planning. The implementation of the Spatial Plan can minimize environmental problems such as land conversion. In addition, regarding the new regulation on LP2B, the Spatial Plan has to be updated to synchronize the plan between Spatial Plan and LP2B.
PERANAN SEKTOR PERIKANAN TERHADAP PEREKONOMIAN KABUPATEN NATUNA Meirina Anggraeni; Ernan Rustiadi; Gatot Yulianto
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2020): JUNI 2020
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.625 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v10i1.8155

Abstract

Kabupaten Natuna sebagai daerah pulau-pulau kecil memiliki sumber daya alam yang besar khususnya perikanan. Sektor perikanan diharapkan dapat menjadi motor penggerak bagi pengembangan wilayah Kabupaten Natuna. Salah satu alternatif menggerakkan dan memacu pembangunan wilayah adalah menentukan pusat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan keterkaitan antar sektor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat perkembangan wilayah berdasarkan kelengkapan infrastruktur wilayah, menganalisis keterkaitan ke belakang dan ke depan (backward and forward linkages) sektor perikanan dan menganalisis seberapa besar peranan sektor perikanan terhadap perekonomian Kabupaten Natuna. Analisis data yang digunakan adalah Skalogram dan Input-Output (I-O). Hasil penelitian menunjukkan kecamatan yang berpotensi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi adalah Kecamatan Bunguran Timur dan Pulau Tiga. Sektor industri pengolahan, penyediaan akomodasi dan makan minum, transportasi dan pergudangan, jasa keuangan dan asuransi, dan real estate dan jasa perusahaan termasuk ke dalam sektor unggulan karena memiliki daya penyebaran ke belakang dan daya kepekaan terhadap permintaan akhir sektor-sektor perekonomian. Sementara sektor perikanan belum menjadi sektor unggulan yang dapat menjadi penggerak secara langsung perekonomian di Kabupaten Natuna. Upaya untuk mendorong keterkaitan antar sektor perikanan dengan sektor perekonomian wilayah dengan pengembangan industri hilir yang memanfaatkan output kegiatan perikanan sebagai bahan baku produksinya baik secara langsung maupun tidak langsung dan difokuskan pada lokasi yang berpotensi sebagai pusat pertumbuhan Tittle: Role of Fisheries Sector to Economy of the Natuna RegencyNatuna Regency is a potential area with great amount of fisheries resources. Its fisheries resources are expected to encourage the development within the regency. The establisment of economic growth center and increased linkages among sectors were suggested to accelerate the regional development. This study aims to analyze the level of regional development based on the completeness of regional infrastructure, to analyze the backward and forward linkages of the fisheries sector and to measure the role of fisheries in economy of Natuna Regency. Scalogram and Input-Output were used for data analysis. The results suggested two districts as a center of economic growth, they are Bunguran Timur District and Pulau Tiga. Instead of fisheries sector,  the manufacturing, accommodation, food and beverage, transportation, warehousing, financial and insurance services, real estate and company services were the leading sectors due to their backward deployment and sensitivity to the final demands of the economic sectors. Efforts to encourage linkages between fisheries and other regional economic sector are necessary through the development of downstream industries. It includes the directly and indirectly use of fisheries outputs as raw material for production in the focus area of centers of growth 
Dampak Konversi Lahan Pertanian terhadap Kesejahteraan Petani dan Perkembangan Wilayah: Studi Kasus di Daerah Bandung Utara Agus Ruswandi; Ernan Rustiadi; Kooswardhono Mudikdjo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v25n2.2007.207-219

Abstract

EnglishAgricultural land conversion occurred as a logical consequense of development activities in a particular region.  As a matter of fact, land conversion has mostly generated negative impact in the context of food security and farmer’s socio economic condition. The studies of macro aspects on land conversion have been conducted frequently but studies on micro aspects were still rarely carried out. The objectives of this research are: 1) determining factors that influence agricultural land conversion, and 2) determining impact of agricultural land conversion toward farmer’s welfare. The research was conducted at Lembang and Parongpong Sub District, Bandung Regency from June to August 2004. Primary data was collected through a survey on 61 farmers and secondary data from related institutions were utilized. The data was analyzed using : 1) descriptive analysis; 2) multiple linear regression; and 3) logistic binary regression.  This study revealed that agricultural land conversion at Lembang and Parongpong Sub Districts within a decade,  from 1992 to 2002 was 3.134,49 hectare (25%) or 313,5 hectare per year (2,96 %). Forest land use was greatly decreased (-3.732,12 hectare or -68 %), bushes land use was highly increased (2.780,23 hectare or 13.26 %). Influential factors for the conversion were: (a) the density of population in 1992, (b) the density of agricultural land owners in 1992, (c) the density of agricultural land non-owners in 1992, the density increase of agricultural land non-owners, (d) the percentage of ‘idle’ land  acreage and its increasing rate, (e) the number of poor people, (f) the village-sub district town distance. In general, agricultural land conversion would increase the probability of farmer’s welfare degradation. IndonesianKonversi lahan pertanian terjadi sebagai konsekwensi logis dari perkembangan wilayah. Konversi lahan pertanian seringkali menimbulkan dampak negatif terutama dalam konteks ketahanan pangan dan kondisi sosial ekonomi petani.  Studi dalam aspek makro terhadap konversi lahan pertanian telah banyak dilakukan, tetapi studi dalam aspek mikro masih relatif terbatas. Tujuan penelitian ini adalah 1) mencari faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian dan 2) menerangkan pengaruh konversi lahan pertanian terhadap perubahan kesejahteraan petani. Penelitian dilakukan di Kecamatan Lembang dan Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung, dari bulan Juni-Agustus 2004. Data primer diperoleh melalui survei wawancara terhadap 61 petani responden, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Analisis data menggunakan 1) analisis deskriptif, 2) analisis regresi linier berganda, dan 3) analisis regresi logistik binari. Hasil penelitian menunjukan bahwa di Kecamatan Lembang dan Parongpong dalam periode 10 tahun (1992-2002) telah terjadi konversi lahan pertanian seluas 3.134,49 hektar (25%) atau 313,5 hektar per tahun (2,96%). Penggunaan lahan hutan merupakan yang paling banyak berkurang (-3.732,12 hektar atau -68%), lahan semak mengalami peningkatan paling tinggi ((2.780,23 hektar atau 1.326%). Beberapa faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian adalah kepadatan penduduk tahun 1992, kepadatan petani pemilik lahan pertanian tahun 1992, kepadatan petani nonpemilik lahan pertanian tahun 1992,  peningkatan kepadatan petani nonpemilik lahan pertanian, persentase luas lahan guntai dalam desa, peningkatan jumlah penduduk miskin, dan jarak desa ke kota kecamatan. Secara umum, konversi lahan pertanian berpeluang menurunkan kesejahteraan petani.
PEMODELAN SPASIAL BAHAYA LONGSOR DI DAS CILIWUNG HULU, KABUPATEN BOGOR Muhamad Rizal Gojali; Boedi Tjahjono; Ernan Rustiadi
KOMPUTASI Vol 17, No 1 (2020): Komputasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer dan Matematika
Publisher : Ilmu Komputer, FMIPA, Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.276 KB) | DOI: 10.33751/komputasi.v17i1.1745

Abstract

Landslide is a natural phenomenon that occurs because nature is looking for a balance due to disturbance affecting the land at the point of the landslide. Bogor Regency is categorized into a medium to high level ground vulnerable zone by BNPB, in this case the Cilwung Hulu watershed is an area that often experiences landslides. This study aims to develop a spatial model of landslides in the Ciliwung Hulu watershed using a PCA-based assessment method of the factors causing landslides. The results showed that there are seven parameters that can be used for spatial modeling of landslides, namely landform, land use, slope, rainfall, straightness, soil type, and lithology. Based on the results of the analysis it was found that the weight of each parameter is 0.347; 0.223; 0,200; 0,100; 0.071; 0.049; and 0.010. In this case landform has the highest weight as a determinant of landslide hazards. The area of landslide hazard class (low, medium, and high) obtained from the results of modeling are 4,651.53 ha (31%), 6,637.72 ha (43%), and 3,941.41 ha (26%) with accuracy overall of 57.8.
PENGARUH DANA TRANSFER DANA DESA DAN PAD TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PROVINSI JAWA BARAT Otong Suhyanto; Bambang Juanda; Akhmad Fauzi; Ernan Rustiadi
EKUITAS (Jurnal Ekonomi dan Keuangan) Vol 4 No 3 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya(STIESIA) Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1250.085 KB) | DOI: 10.24034/j25485024.y2020.v4.i3.4478

Abstract

Indeks Pembangunan Manusia/IPM bisa mengambarkan kualitas sumberdaya manusia di suatu daerah. IPM menyatakan bagaimana sekelompok anggota masyarakat dapat mengakses hasil pembangunan berupa pendidikan, standar hidup layak, dan kesehatan. Skor IPM Jawa Barat secara umum selalu memperlihatkan tren naik dari tahun ke tahun, tetapi skornya selalu di bawah dari rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan untuk manganalisis pengaruh pendapatan daerah berupa dana trasfer dan PAD terhadap indeks pembangunan manusia/IPM, dan menganalisis dana transfer yang pengaruh totalnya paling tinggi terhadap IPM. Metode yang digunakan analisis regresi data panel model fixed effect, dengan terlebih dahulu data ditranforamasikan secara logaritma agar diperoleh nilai elastisitas. Berdasarkan hasil analisis diketahuid bahwa semua dana transfer berpengaruh terhadap peningkatan IPM, begitu juga dengan pendapatan asli daerah. Pendapatan daerah yang pengaruh totalnya paling besar terhadap IPM secara berurutan adalah DAU, PAD, dan DAK. Pemerintah daerah harus membelanjakan dana trasfer untuk kegiatan yang bersifat produktif serta harus menggali potensi daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.
Spatial-Based Space Designation Factor Analysis of Rice Fields Conversion (Case Study: West Java Province) Sukiptiyah Sukiptiyah; Ernan Rustiadi; Akhmad Fauzi; Baba Barus
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 2 (2022): Budapest International Research and Critics Institute May
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i2.5144

Abstract

Regional economic development in the concept of spatial planning is based on cultivation areas, including the allocation of production forests, agriculture, mining, settlements, industry, tourism and trade. Economic development in rural areas is not only to improve welfare but also to fulfill food (rice) needs. One of the benchmarks for the level of welfare is the Gross Regional Domestic Product (GDP). Conversion of agricultural land into built-up land is a mechanism for regional economic development activities, where to increase GDP, allocate the widest possible allocation of industrial, trade and residential space which has implications for increasing conversion of agricultural land (rice fields) and reducing rice production facilities so that food fulfillment is constrained, in other words, there is a trade off in the use of agricultural land (rice fields). The purpose of this study was to analyze the distribution and conversion of paddy fields pattern in terms of space designation, road access and land prices, analyze the spatial designation factors affecting paddy field conversion and determine the priority scale of revision of Spatial Planning in terms of the potential for rice field conversion in rural areas. The research location is distinguished in rural areas with high and low industrialization and urbanization. Input data using spatial software with overlay technique and to answer the objectives using quantitative spatial analysis, multiple linear regression analysis and spatial multicriteria analysis of 4 (four) criteria (space allocation, road access, population density and land prices). The results showed that the distribution pattern of paddy fields according to road access was dominant in an area > 3 km from the road, followed by an area of 1-3 km from the road and the lowest in an area of 0-1 km from the road. The distribution of paddy fields according to the spatial designation is dominant with the designation of agricultural space-wetland, while the rice fields with the designation of space-residential, trade, industry is dominant in rural areas with high industrialization and urbanization. Conversion of paddy fields into built-up land is dominant in industrialized and urbanized highly rural areas, in the designation of space-residential, trade, industry and in areas 0-3 km from the road. The allocation of space for paddy fields can have an impact on encouraging or controlling land conversion, where rice fields with the designation of space-residential, trade, industry can encourage land conversion, on the other hand, rice fields with non-residential designation for industrial trade are relatively controllable. Revision of Spatial Planning is recommended in rural areas with relatively high potential for conversion of paddy fields, namely in rural areas with high industrialization and urbanization.
Co-Authors A. Aman Damai Achmad Yamani Agus Buono Agus Ruswandi Agus Ruswandi Ahmad Fauzi Ahmadriswan Nasution Ahmadriswan Nasution Akbar, Chaeka Fitria Ramadhania Akhmad Fauzi Akhmad Fauzi Alfin Murtadho Alfin Murtadho Alfin Murtadho Andi Yoga Saputra Andilo Toham Andrea Emma Pravitasari, Andrea Emma Anggelina Delviana Klau Aprianto, Heri AR, Abdul Naafi Ardila, Fitri Aning Dwi Aria Damar Arya Hadi Dharmawan Asep Hariyanto Askar Jaya Baba Barus Bachril Bakri, Bachril Bambang Juanda Bambang Pramudya Boedi Tjahjono Budi Mulyanto Budiarto, Tri Bunasor Sanim Chandra, Aradea D. A. Rahim D. S. Priyarsono Darmawan Darmawan Darmawan Deddy S. Bratakusumah Dede Dirgahayu Dedi Budiman Hakim Desli Triman Zendrato Dessy Rachmawatie Dewi Annisa Rizki Dian Anggraeny Rahim Ditha Mangiri Diyah Novita Kurnianti Djuara P Lubis Dodik Ridho Nurrochmat Dominicus Savio Priyarsono Dwi Putro Tejo Baskoro Dwi Ratnawati Christina Edwin Aldrianto Eka Intan Kumala Putri Eka Rudiana Endriatmo Soetarto Enirawan - Eri Susanto Hariyadi Eri Susanto Hariyadi, Eri Susanto Eriyatno . Erliza Noor Ernawati Pasaribu Eva Anggraini Firre An Suprapto Firre An Suprapto Fitriana, Widya Fredian Tonny Nasdian Fredinan Yulianda Galuh Syahbana Indraprahasta Gatot Yulianto Hakim, Dedi Budiman Handaka, Asep Agus Handian Purwawangsa Hani Laksono Harianto Harmes Harmes harmes harmes Hartrisari Hartrisari Hendriany, Reni heri apriyanto Heri Apriyanto Hermanto Siregar Hermanto Siregar Hidayat, Janthy T Himawan Hariyoga Ida Zulfida Iim Mucharam Ikhsan Kamil Ikhwanuddin Mawardi Ikhwanuddin Mawardi Imelda Kusuma Wardani Isang Gonarsyah Ivanovich Agusta Iwan Kurniawan Izatun Purnami Izuru Saizen Janthy T Hidayat Janthy Trilusianthy Hidayat K MURTILAKSONO Karenina, Anna Kartodihardjo, Hariadi Kenta Tsuchiya Khursatul Munibah Komarsa Gandasasmita Kooswardhono Mudikdjo Kooswardhono Mudikdjo Kurniasari, Eva Kurniawati Hapsari Ekosafitri Kusumawaty, Rini Lala M Kolopaking Lathifah, Laily Noor Latif, Julifa M Latuconsina, Zulfikar Mohamad Yamin LUCAS SOARES Luh Putu Suciati Luksi Paryatno Lukytawati Anggraeni Lutfia Nursetya Fuadina Machfud Machfud Margiyono Margiyono Marimin , Marimin Marimin Marta, Joan Masrochan, Ali Meirina Anggraeni Mennofatria Boer Moh Hasan Mohammad Reza Fauzi Muchamad Subhans Adiputra Muhamad Fiqri Rizqullah Muhamad Rizal Gojali Muhammad Ardiansyah Muhammad Firdaus Muhammad Nanang Prayudyanto Muhammad Wahid Muhlis, Taufik Mulya, Setyardi Murtadho, Alfin Nakayama, Hitomi Nashwari, Inti Pertiwi Nedalia Wilza Nedalia Wilza Netti Tinaprilla Nurul Amaliyah Tanjung Nurul Taufiqu Rochman Okta Wulandono Okwan Himpuni Omo Rusdiana Oryzanti, Parwa Oryzanti, Parwa Pratama, Ahmad Herlyasa Sosro Puspita, Ni Putu Rekha Rachman, Noer F Rahim, Dian Anggraeny Rahma, Hania Rahmadi, Farid Adam Ratna Purwaningsih Ricky Ricky Ricky, Ricky Rilus Kinseng Riska Ayu Purnamasari Rista Ardy Priatama Rizqullah, Muhamad Fiqri Rosandi, Vely Brian Rosy Novriyandi Ruchyat Deni Djakapermana Rulhendri Rulhendri Sahara Sahara Santo, Deni Santun R P Sitorus SANTUN R.P SITORUS Santun R.P. Sitorus Setia Hadi Setia Hadi Setia Hadi - Setiahadi Setiahadi Setiawan, Marwan Shinya Funakawa Sigit Santosa Siska Amelia Siti Khoeriyah Siti Wulandari Sitti Hadijah Soekmana Soma Soekmana Soma Soeryo Adiwibowo Sri Mulatsih Sri Wahyuni SUHYANTO, OTONG Sukiptiyah Sukiptiyah Sukiptiyah Sukiptiyah Sumarlin . Sumarlin Sumarlin Suphendi , Suphendi , Surjono H. Sutjahjo Sutresno Sutresno Syaiful . Syaiful Syaiful Syaiful Syaiful Thobias Arnoldus Messakh Thomas Oni Veriasa Totok Junari Tridoyo Kusumastanto Wafda . Wahyu Hidayat Waluyo, Shiddiq Wardah Wardah Werenfridus Taena Widiatmaka Widiatmaka Widiatmaka Wiwiek Rindayati Wulandono, Okta Yadi Suryadi Yayuk F. Baliwati Yayuk Farida Baliwati Yeni Selfia Yunita Pertiwi Yunus Arifien Yusman Syaukat Yusman Syaukat Zulfikar Mohamad Yamin Latuconsina