Claim Missing Document
Check
Articles

Kondisi Klinis dan Determinan Status Gizi Anak dengan HIV/AIDS (ADHA) Sitorus, Rico Januar; Camelia, Anita; Maryatun, Sri; Aerosta, Danny; Natalia, Merry
Jurnal Kesehatan Vol 13 No 3 (2022): Jurnal Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jk.v13i3.3393

Abstract

Globally, nearly 2.6 million children under 15 years of age have been infected with HIV with 40-64% experiencing malnutrition. Children born to HIV-positive mothers with CD4 alpha (0.05). In this study, the average nutritional status of ADHA who did not have comorbidities was higher than that of ADHA who had comorbidities. The average difference in nutritional status was statistically significant with a p-value of 0.018
Perilaku Berisiko Penularan HIV-AIDS pada Lelaki Seks Lelaki: Studi Literatur Putri, Debby Amanda; Sitorus, Rico Januar; Najmah, Najmah
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan masalah kesehatan global yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Penularan HIV terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom, berbagi jarum suntik, dan perilaku berisiko tinggi lainnya. Infeksi HIV dapat menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi dan penyakit lainnya. Terutama pada pria yang berhubungan seks dengan pria (LSL), prevalensi infeksi HIV tinggi. LSL dengan HIV sering mengalami masalah kesehatan mental, terutama gejala depresi, yang dapat memiliki prevalensi mencapai 42%. Penularan HIV terutama terjadi melalui pertukaran cairan tubuh, dan risiko tergantung pada perilaku seksual, penggunaan tindakan pencegahan seperti kondom atau PrEP, dan prevalensi HIV pada populasi tertentu. Risiko penularan melalui seks anal reseptif tanpa kondom adalah yang tertinggi, sedangkan risiko melalui seks vaginal atau anal yang dilindungi lebih rendah. Namun, risiko ini dapat dikurangi dengan penggunaan kondom yang konsisten dan benar serta tindakan pencegahan lainnya. Faktor-faktor risiko untuk penularan HIV termasuk perilaku seksual berisiko, penggunaan narkoba suntik, dan frekuensi rendah penggunaan kondom. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi faktor-faktor risiko ini dalam upaya pencegahan HIV di komunitas LSL.
Pola Makan Dan Kepatuhan Tablet Tambah Darah Pada Anemia Ibu Hamil : Literature Review Khairunnisa, Nanda; Rahmiwati, Anita; Sitorus, Rico Januar
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah anemia di Indonesia masih termasuk masalah kesehatan di dunia, tak terkecuali di Indonesia terdapat tiga penyebab utama kematian ibu salah satunya yakni perdarahan yang penyebab tidak langsungnya terjadi akibat anemia yang dialami selama kehamilan. Menurut Riskesdas terdapat peningkatan pravalensi anemia dari tahun 2013 37.1 % dan pada tahun 2018 sebanyak 48.9%. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran hubungan pola makan dan kepatuhan tablet tambah darah pada anemia ibu hamil. Metode yang digunakan adalah literature review yang mengkaji artikel 5 tahun terakhir dari tahun 2019-2023. Penelusuran dengan kata kunci yaitu pola makan, kepatuhan tablet tambah darah, dan anemia ibu hamil menghasilkan 265 artikel. Beberapa artikel didiskualifikasi karena tidak sesuai dan teks tidak lengkap. Sehingga ada 7 artikel yang diikutsertakan dalam proses pembuatan artikel. Analisi menunjukkan adanya hubungan pola makan dan kepatuhan tablet tambah darah terhadap anemia ibu hamil.
Pengetahuan Food Safety di Kalangan Staf Pelayanan Gizi di Rumah Sakit : Literature Review Fitriani, Ranty; Rahmiwati, Anita; Sitorus, Rico Januar; Windusari, Yuanita; Sari, Novrika; Fajar, Nur Alam
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Instalasi gizi di rumah sakit berfungsi sebagai sarana manajemen untuk mengawasi pelayanan gizi di institusi Kesehatan. Food safety di rumah sakit harus sangat diperhatikan karena konsumen dari makanan tersebut merupakan pasien yang sedang dalam tahap pengobatan. Pasien lebih rentan terkontaminasi bakteri dan bahan berbahaya lainnya yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mereview pengetahuan mengenai food safety di kalangan staf pelayanan gizi di Rumah Sakit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review yaitu mengkaji secara kritis temuan-temuan yang telah dipublikasikan sebelumnya. Artikel dari 3 database, yaitu Science Direct, PubMed, dan Google Scholar yang sesuai dengan kriteria inklusi kemudian dianalisis untuk menjawab tujuan penelitian. Kriteria inklusi artikel yang disertakan dalan penelitian meliputi artikel yang telah dipublikasikan pada jurnal internasional dengan rentang publikasi dari 2021 sampai Desember 2023 dan berbentuk full-text. Enam artikel dianalisis dan disintesis untuk mendapatkan hasil penelitian berdasarkan proses skrining, seleksi, dan pemilihan artikel. iterature review ini menunjukkan bahwa Sebagian besar staf pelayanan gizi atau penjamah makanan di rumah sakit sudah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai food safety dan sudah pernah mengikuti pelatihan keamanan pangan, tetapi dibeberapa rumah sakit juga masih harus perlu dilakukan Pendidikan dan pelatihan keamanan pangan karena sangat berpengaruh terhadap pelayanan kualitas dan keamanan makanan pasien di rumah sakit. Analisi menunjukkan sebagian besar staf di intalasi gizi dan staf penjamah makanan sudah memiliki pemahaman dan pengetahuan mengenai food safety.
Sistematik Review: Penyakit-penyakit akibat kerja di Bidang Industri dan Pengendaliannya Sucirahayu, Citra Afny; Zulkarnain, M; Sitorus, Rico Januar; Windusari, Yuanita; Sari, Novrika; Fajar, Nur Alam
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit akibat kerja dapat terjadi kapan saja, baik pada saat menggunakan mesin, alat kerja, proses pengolahan tempat kerja dan akibat dari lingkungan kerja itu sendiri. Beban penyakit dan cedera akibat kerja ini terjadi di sebagian besar di sektor pekerjaan. Maka dari itu artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi hazard yang terdapat di tempat kerja, serta apa saja penyakit akibat kerja dan cara pengendaliannya. Artikel ini merupakan sebuah systematic review dengan menggunakan pengumpulan data dari dua e-database yaitu PubMed dan Google Scholar. Strategi pencarian artikel menggunakan kata kunci, “Occupational Illness” OR “Occupational Health and Safety” AND “Prevention Strategy” OR “Effect of Occupational Exposure” dan menggunakan filter rentang waktu dari tahun 2013-2023. Pemilihan akhir artikel yang termasuk kedalam studi berjumlah 7 artikel. Dari artikel tersebut didapatkan beberapa jenis hazard di tempat kerja seperti physical hazard, chemical hazard, biohazard dan psychosocial hazard. Selain itu juga terdapat bahaya lain seperti bahaya dari kebisingan, getaran, thermal (tekanan panas atau dingin), radiasi, dan paparan debu. Penyakit-penyakit akibat kerja menjadi beban di tiap bidang sektor pekerjaan yang tentunya sangat merugikan. Dari semua penyakit akibat kerja yang ada, mulai dari tingkat keparahan paling rendah sampai paling tinggi bahkan hingga menyebabkan kematian. Prinsipnya penyakit akibat kerja ini dapat diminimalisir dan dicegah dengan cara menerapakan K3 yang baik seperti pengendalian faktor risiko yang cepat dan tepat.
ANALISIS PENGGUNAAN PRE EXPOSURE PROPHYLAXIS (PrEP) TERHADAP KEJADIAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL PADA LELAKI SEKS LELAKI: A LITERATUR REVIEW Yuliarni, Yuliarni; Sitorus, Rico Januar; Misnaniarti, Misnaniarti; Zulkarnain, Mohammad; Syakurah, Rizma Adlia; Najmah, Najmah
Mitra Raflesia (Journal of Health Science) Vol 16, No 2 (2024)
Publisher : LPPM STIKES BHAKTI HUSADA BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51712/mitraraflesia.v16i2.395

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Salah satu program pencegahan terbaru terhadap HIV yang dilakukan oleh pemerintah sesuai rekomendasi WHO adalah terapi pemberian ARV Profilaksis sebagai tambahan dari upaya program pencegahan komprehensif untuk mengakhiri epidemi HIV pada tahun 2030. Seiring meningkatnya penggunaan PrEP di kalangan populasi LSL, kejadian IMS mulai menjadi perhatian.Metode : Mengacu pada pendekatan studi literatur dalam rentang waktu 6 tahun terakhir (2018-2023) penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan penggunaan PrEP dengan kejadian Infeksi Menular Seksual. Penelitian ini dirancang untuk melakukan review literatur dengan menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta Analysis). Penelitian ini dilakukan melalui  pencarian artikel bersumber dari Google scholar dan Pubmed. Artikel penelitian asli yang dipublikasikan selama enam tahun terakhir mulai tahun 2018-2023 adalah kriteria yang dimasukkan dalam penulisan ini.Hasil : Dari hasil telaah literatur, penggunaan PrEP mempengaruhi prilaku seksual pasangan LSL seperti hubungan seksual tanpa menggunakan kondom. Perubahan prilaku ini dapat meningkatkan kejadian IMS di kalangan populasi LSL. Akan tetapi tidak ada hubungan antara penggunaan PrEP dengan meningkatnya kejadian IMS di kalangan populasi LSL.Kesimpulan : Dari analisis yang dilakukan terhadap hubungan  penggunaan PrEP dengan kejadian IMS pada  7 artikel yang ditelaah, penggunaan PrEP tidak berhubungan secara langsung dengan meningkatnya kejadian IMS. Meskipun PrEP telah berkontribusi terhadap perubahan perilaku seksual di kalangan LSL, dampaknya terhadap kejadian IMS masih belum pasti. Meningkatnya jumlah bakteri IMS di kalangan LSL terjadi sebelum meluasnya penggunaan PrEP dan PrEP tidak menyebabkan epidemi IMS saat ini. Kata kunci: HIV, Pre Exposure Prophylaxis, Infeksi Menular Seksual ABSTRACTBackground : One of the latest HIV prevention programs undertaken by the government as recommended by WHO is prophylactic antiretroviral therapy in addition to comprehensive prevention program efforts to end the HIV epidemic by 2030. As PrEP use increases among the MSM population, the incidence of STIs begins to become a concern. Method : Referring to the literature study approach in the last 6 years (2018-2023) this study aims to study the relationship between PrEP use and the incidence of Sexually Transmitted Infections. This study was designed to conduct a literature review using the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta Analysis) method. This research was conducted through searching articles sourced from Google scholar and Pubmed. Original research articles published over the past six years from 2018-2023 are the criteria included in this writing. Results : From the results of a literature review, PrEP use affects the sexual behavior of MSM couples such as sexual intercourse without using a condom. These behavioral changes can increase the incidence of STIs among the MSM population. However, there was no association between PrEP use and an increased incidence of STIs among the MSM population.Conclusion : From an analysis of the relationship between PrEP use and the incidence of STIs in the 7 articles reviewed, PrEP use was not directly associated with an increased incidence of STIs. Although PrEP has contributed to changes in sexual behavior among MSM, its impact on the incidence of STIs remains uncertain. The increasing number of bacterial STIs among MSM occurred before the widespread use of PrEP and PrEP did not cause the current STI epidemic. Keywords: HIV, Pre Exposure Prophylaxis, Sexually Transmitted Infections 
PENGARUH STRES PSIKOLOGIS TERHADAP KADAR KORTISOL ASI PADA IBU MENYUSUI DI KABUPATEN SELUMA Rosaria, Rini Rosaria; Flora, Rostika; Zulkarnain, Mohammad; Sitorus, Rico Januar; Hasyim, Hamzah; Fajar, Nur Alam; Ermi, Nurmalia; Jasmine, Annisah Biancika; Aguscik, Aguscik; Ikhsan, Ikhsan; Slamet, Samwilson; Purnama, Yetti; Sulung, Neshy
Mitra Raflesia (Journal of Health Science) Vol 15, No 2 (2023)
Publisher : LPPM STIKES BHAKTI HUSADA BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51712/mitraraflesia.v15i2.301

Abstract

Breast milk is the gold standard in infant nutrition, which is the best food for babies compared to formula milk. Apart from containing the necessary nutrients, breast milk also contains various bioactive compounds that can affect the growth and development of the baby. Among these bioactive compounds there is also a glucocorticoid (GC) content, such as cortisol. It is known that cortisol levels are affected by the level of stress experienced by mothers during pregnancy and after childbirth. Purpose: this study aims to analyze the effect of maternal stress on breast milk cortisol levels in breastfeeding mothers in Seluma District. Method : : This research is an analytic survey, cross sectional study, conducted in Seluma Regency. A total of 77 rbreastfeeding mothers of children aged 0-24 months were taken as respondents by random sampling. Breast milk samples were taken to examine breast milk cortisol levels and were measured using the ELISA method. interviews using a questionnaire were conducted to collect data on maternal characteristics, while the stress level data were obtained by conducting interviews using the DASS 42 questionnaire. The data obtained was then processed and analyzed using univariate and bivariate analysis. Results: The results of measuring psychological stress showed that 35.1% of mothers experienced stress, while the results of measuring breast milk cortisol levels showed that 50% of mothers had high cortisol levels. The results of the Mann Whitney test found that there was a significant difference in the average breast milk cortisol levels in mothers who experienced psychological stress and those who did not (201.65 ± 97.82 μ/mL vs 150.32 ± 81.80 μ/mL, p=0.028) . Conclusion: psychological stress affects breast milk cortisol levels in breastfeeding mothers in Seluma Regency. Education related to handling stress in breastfeeding mothers needs to be done so that it does not hinder the breastfeeding process which can have an impact on the health of mothers and children. Keywords: Breastfeeding mothers, breast milk cortisol level, psychological stress
HUBUNGAN KADAR ZAT BESI SERUM DENGAN KONSENTRASI ZAT BESI ASI IBU MENYUSUI DI KABUPATEN SELUMA Ariana, Rika; Flora, Rostika; Sitorus, Rico Januar; Zulkarnain, Mohammad; Hasyim, Hamzah; Fajar, Nur Alam; Ermi, Nurmalia; Jasmine, Annisah Biancika; Aguscik, Aguscik; Ikhsan, Ikhsan; Slamet, Samwilson; Purnama, Yetti; Sulung, Neshy
Mitra Raflesia (Journal of Health Science) Vol 15, No 2 (2023)
Publisher : LPPM STIKES BHAKTI HUSADA BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51712/mitraraflesia.v15i2.289

Abstract

Background: Maternal iron status affects infant neurocognitive development. When the maternal iron intake and status are disturbed, it can lead to iron deficiency which can lead to anemia if not treated.  Anemia in breastfeeding mothers has a negative impact on the quality and volume of breast milk, including the availability of iron in breast milk. This study aims to analyze the relationship between serum iron levels and breast milk iron concentration in breastfeeding mothers in Seluma Regency. Methods: This study was an analytic survey, cross-sectional design, conducted in Seluma Regency in 4 (four) public health center working areas, namely Rimbo Kedui Public Health Center, Talang Tinggi, Tais, and Masmambang. Respondents were 124 breastfeeding mothers of children aged 0-24 months who were taken by proportional consecutive sampling. Venous blood and breast milk samples were collected for iron level measurement. Iron measurement was done using the spectrophotometric method. Data on characteristics were obtained using a questionnaire. Furthermore, the data were analyzed univariately and bivariately. Results: The results of measuring iron levels showed that 38.7% of mothers had iron deficiency and 15.3% of mothers had low breast milk iron levels. The bivariate test results showed 25% of mothers who experienced iron deficiency had low breast milk iron levels. (p=0.034, OR= 3.28; CI= 1.190-9.071). Conclusion: There is a significant relationship between serum iron levels and breast milk iron levels in breastfeeding mothers. It is necessary to educate mothers regarding the prevention of iron deficiency during pregnancy and breastfeeding so that the quantity of breast milk iron can meet the needs of children during breastfeedingKeyword : Breast milk, Iron Deficiency, Breast milk Iron Level, Iron
DETERMINAN USIA PERTAMA KALI BERHUBUNGAN SEKSUAL PADA KELOMPOK USIA 15-24 TAHUN BELUM MENIKAH Julia, Tiara Eka; Sitorus, Rico Januar; Mahriani, Retna
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 17 No 1 Juni (2022): JPP (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jpp.v17i1.1266

Abstract

ABSTRAK Perilaku seksual dikalangan remaja merupakan permasalahan serius yang harus diatasi. Wujud perilaku seksual yang biasa di lakukan remaja adalah berhubungan seksual pranikah di usia remaja. Terdapat banyak faktor terkait dengan usia masa remaja, diantaranya adalah usia, tingkat pendidikan, kedudukan ataupun domisili. Maksud dari penelitian yaitu mengidentifikasi faktor risiko yang memengaruhi perilaku hubungan seksual pranikah oleh remaja Indoensia. Metode yang digunakan adalah penelitian analitik dengan desain penelitian cross-sectional. Data yang dipakai yaitu data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 sub survei Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Hasil penelitian memperlihatkan korelasi usia remaja (p=0.000; PR=1,740) dan tingkat pendidikan (p=0,003; PR=1,300) dengan usia pertama kali berhubungan seksual. Sedangkan ketiga variabel lainnya, yaitu status ekonomi keluarga, status pekerjaan dan wilayah tempat tinggal remaja tidak berhubungan signifikan (p≥0,05). Berdasarkan analisis regresi logistik faktor yang paling memengaruhi terhadap usia pertama kali berhubungan seksual pranikah remaja adalah variabel tingkat pendidikan dengan OR = 4,000 (CI 95% 3,293-8,484), artinya remaja yang memiliki tingkat pendidikan rendah mempunyai peluang 4,000 kali melakukan usia pertama kali berhubungan seksual pranikah di usia berisiko (15-19 tahun) pembanding remaja yang berusia 20-24 tahun. Dapat disimpulkan bahwa usia pertama kali remaja berhubungan seksual pranikah disebabkan oleh faktor usia dan tingkat pendidikan. Kata kunci : usia pertama kali berhubungan seksual pranikah, usia remaja, tingkat pendidikan, status ekonomi keluarga ABSTRACT Sexual behavior among adolescents is a serious problem that must be addressed immediately. One form of sexual behavior that is usually done by teenagers is to have premarital sex at a young age. There are many factors related to the age of first sexual intercourse in adolescence. The purpose of this study was to identify risk factors that influence premarital sexual behavior by adolescents in Indonesia. The method used is analytical research with a cross-sectional research design. The data used is the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) 2017 sub-survey on Adolescent Reproductive Health. The results showed that there was a significant relationship between adolescent age (p = 0.000; PR = 1.740) and education level (p = 0.003; PR = 1.300) with age at first sexual intercourse. While the other variables, namely family economic status, employment status, and area of ​​residence of adolescents were not significantly related to the age of first sexual intercourse (p≥0.05). Based on logistic regression analysis, it is known that the factor that most influences the age at first having premarital sexual intercourse is the education level variable with OR = 4,000 (95% CI 3,293-8,484), which means that adolescents who have a low level of education have a 4,000 chance of having sex for the first time, having premarital sex at risky ages (15-19 years) compared to adolescents aged 20-24 years. It can be concluded that the age at which adolescents first had premarital sex was caused by factors of age and level of education. Keywords: age of first premarital sexual intercourse, adolescent age, education level, family economic status
ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN CAMPAK DI INDONESIA: LITERATUR REVIEW RIANTINA, ANITA; NAJMAH, NAJMAH; SITORUS, RICO JANUAR
Journal of Nursing and Public Health Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v12i1.6349

Abstract

Pendahuluan: Penyakit Campak ialah jenis penyakit demam dan ruam kemerahan yang dapat menyebabkan komplikasi serius. Penyakit ini juga sebagai penyakit yang mudah sekali menyebarkan kepada orang lain melalui droplet atau benda yang terkontaminasi, adapun penyebabnya adalah virus yang dapat mengakibatkan kematian, namun penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi. Di sebagian besar belahan dunia, terutama di negara miskin dan berkembang, penyakit campak masih menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas terutama kelompok anak-anak yang tidak mempunyai kekebalan. Metode: Mengacu pada pendekatan studi literatur dalam rentang waktu 6 tahun terakhir (2018-2023) penelitian ini bertujuan untuk mempelajari faktor risiko yang berkontribusi pada kejadian campak di Indonesia. Penelitian ini dirancang untuk melakukan review literatur dengan menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta Analysis). Penelitian ini dilakukan melalui pencarian artikel bersumber dari Google scholar dan Pubmed. Artikel penelitian asli yang dipublikasikan selama enam tahun terakhir mulai tahun 2018-2023 adalah kriteria yang dimasukkan dalam penulisan ini. Hasil dan Pembahasan: Dari hasil telaah yang dilakukan secara keseluruhan diperoleh 11 faktor yang berpengaruh terhadap kejadian campak dengan 3 faktor utama yaitu status imunisasi, pengetahuan ibu serta adanya kontak penderita dalam keluarga. Walaupun tidak mengabaikan beberapa faktor lainnya seperti usia yang paling dominan terserang virus campak, pendidikan ibu, riwayat campak ibu, sikap ibu, tindakan ibu, serta status gizi dari kasus campak. Kesimpulan: Dari anlisis yang dilakukan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian campak di Indonesia dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berdampak terhadap kejadian campak terdapat pada 8 artikel yang ditelaah, dimana status vaksinasi pada anak balita dan usia sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian campak di beberapa wilayah di Indonesia. Selain itu tingkat pengetahuan ibu yang kurang memadai juga mempengaruhi kejadian campak, karena ibu yang pengetahuannya kurang memadai akan mengakibatkan seorang ibu tidak memahami pentingnya imunisasi campak bagi anaknya. Selain kedua faktor tersebut, status gizi yang buruk serta adanya kontak dengan penderita dalam keluarga juga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi kejadian campak dalam suatu keluarga yang ditunjang dengan kondisi rumah yang tidak memadai dengan tingkat hunian yang banyak.
Co-Authors : Samwilson Slamet, : Samwilson adelina irmayani lubis Adiaty, Vefi Aerosta, Danny Aerosta, Danny Kusuma Aerostaa, Danny Agnes Martha Helena Sitompul, Agnes Martha Helena Aguscik, Aguscik Alfha, Liese Margaretha Almandra, Gabriella Mariza Amrina Rosyada Anggriani, Bayu Anita Camelia Anita Rahmiwati Antara, Nyoman Yudi Ariana, Rika Asri Maharani Astry Fidyawati, Astry Aulia, Maulida Aurora, Wahyu Indah D. Deni Susanti, Deni Devi Kartika Sari Dewi Handayani Dhian Komala Jayanti M, Dhian Komala Jayanti Diana Dewi Sartika, Diana Dewi Ditiaharman, Mutya Dwi Septiawati, Dwi Eka Retvina D, Eka Retvina Elvi Sunarsih Fathiya, Iska Fauk, Nelsensius Klau Fauta, Ari Fenny Etrawati Feranita Utama FERLY OKTRIYEDI Fitria Fitria Fitria, Fitra Fitriani, Ranty Fitrianti Fitrianti, Fitrianti Hamzah Hasyim Harry Cahya Maulana, Harry Cahya Ikhsan Ikhsan Imelda G. Purba, Imelda G. Imelda Gernauli Purba, Imelda Gernauli Isnainy, Henny Jasmine, Annisah Biancika Julia, Tiara Eka Karlinda Karlinda Khairunnisa, Nanda Kritmas Situmorang, Kritmas Kurniati, Halisa Legiran Legiran Lionita, Widya M. Hatta Dahlan, M. Hatta Maulina, Lisna Merry Natalia, Merry Mirawati Mirawati Misnaniarti Misnaniarti Mona, Lisa Muhammad Desiandi Murinata, Jaka MUSTIKA FATIMAH Nabila, Imtiyazi Najmah, Najmah Nandini, Rizka Faliria Nengyanti Nengyanti, Nengyanti Noviadi, Pitri Novrikasari Novrikasari, Novrikasari Nur Alam Fajar Nurhayati Nurhayati Nurmalia Ermi Octariyana, Octariyana Octavia, Nurafni Panjaitan, Merry Natalia Patresia, Retta Poppy Fujianti, Poppy Purnama, Yetti Putri, Debby Amanda Rahmayani, Lusi Rahmiwati, Anita Rahmiwati Ramiwati, Anita Retna Mahriani Reza Suwandra, Reza RIANTINA, ANITA Rini Anggraini Rini Mutahar Rizma Adlia Syakurah Rosaria, Rini Rosaria Rostika Flora Sabila, Virgina Putri Salesika Sangalang, Reymart Sangalang, Reymart V Sangalang, Reymart V. Sari, Eni Puspita Sari, Novrika Septiani, Siti Ariffah Sherti Agusti, Mona Shinta Rimvalia Sinulingga, Shinta Rimvalia Sitilonga, Jernita Megawati Sofiati Sofiati, Sofiati Sri Maryatun Sucirahayu, Citra Afny Sulung, Neshy SUPLI EFFENDI RAHIM Tantrakarnapa, Kraichat Taufik Kurrohman Utami, Titi Permatasari Verianti, Tety Wijaya, Dhandi Wulandari, Septa Yeni Yeni Yuanita Windusari Yudia Gustri, Yudia Yuliana Zahra, Yuliana Yuliantari, Devy Yuliarni Yuliarni Yulyana Kusuma Dewi Yunindyawati Yunindyawati Yusri Yusri Yusria Zulkarnain, M Zulkarnain, Mohammad