Claim Missing Document
Check
Articles

Genetic variability of the fifth generation of nile tilapia Oreochromis niloticus using microsatellite DNA markers Satriani, Gloria Ika; Soelistyowati, Dinar Tri; Hardianto, Dian; Aliah, Ratu Siti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.481 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.124-130

Abstract

ABSTRACTFifth generations of Nile tilapia from several strains have been produced by using selective breeding program in Main Centre for Freshwater Aquaculture Development (MCFAD) Sukabumi, West Java. This research was aimed to evaluate the impact of family selection program of some highly economic traits on its genetic variability using microsatellite DNA markers. The total of 180 specimens have been collected from fifth generation of nine reciprocal mating between three families selected from fourth generation of Nile tilapia and were screened for genetic variability at three microsatellite loci (UNH 123*, UNH 172*, UNH 216*). The results showed that the amount of genetic variability on fifth generations of Nile tilapia from three strains was ranged between 33 to 100% and the highest genetic distance relationship between families was 0.3875. This research approved that females and males issued from the family which have more amount of genetic variability and higher distance to others could be considered as genetic materials to produce the next generation.Keywords: microsatellite DNA, genotype, genetic variability, genetic distance, Oreochromis nilotiocus ABSTRAKBeberapa strain ikan nila generasi kelima telah dihasilkan dalam program pemuliaan di Main Centre untuk Freshwater Aquaculture Development (MCFAD) Sukabumi, Barat Jawa. Riset ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh seleksi famili terhadap performa karakter ekonomis penting berdasarkan keragaman genetiknya menggunakan penanda microsatellite DNA. Spesimen dari 180 individu generasi kelima hasil persilangan resiprokal antara tiga famili generasi keempat dianalisis dengan penanda tiga microsatellite loci (UNH 123*, UNH 172*, UNH 216*). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman genetik ikan nila generasi kelima berkisar antara 33 sampai 100% dan hubungan kekerabatan genetik antar famili yang paling jauh adalah 0,3875. Individu betina dan jantan yang berasal dari famili dengan tingkat keragaman genetik dan kekerabatan yang lebih tinggi dapat dipertimbangkan sebagai sumber genetik berkualitas untuk menghasilkan generasi berikutnya.Kata kunci: microsatellite DNA, genotipe, keragaman genetik, jarak genetik, Oreochromis nilotiocus
Masculinization of betta fish Betta splendens by embryo immersion in extract of purwoceng Pimpinella alpina Arfah, Harton; Soelistyowati, Dinar Tri; Bulkini, Asep
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2754.375 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.144-149

Abstract

ABSTRACT This study aimed to examine the effect of extract of purwoceng Pimpinella alpina for masculinization of Betta splendens. This research used completely randomized design with three treatments that were distinguished by doses of purwoceng extract, which were 10, 20, and 30 µL/L, and 0 µL/L as control. The treatments were given by immersion to 35 embryos at eye spots phase or about 28-hours after fertilization, for eight hours. The immersion process was done for 8 hours. The result showed that 20 µL/L dose of purwoceng extract produced 62.66% male, and hatching rate was 85.71%. This male percentage was higher compared to control (45.91%), but the hatching rate was lower than that of control (98.57%). At the higher dose (30 µL/L), male fish population and hatching rate reduced respectively 39.72% and 68.57%, respectively. Keywords: masculinization, embryo immersion, purwoceng extract, Betta splendens  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh dosis ekstrak purwoceng Pimpinella alpina extract dalam maskulinisasi ikan cupang hias Betta splendens. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan dosis ekstrak purwoceng. yaitu 10, 20, dan 30 µL/L, serta perlakuan 0 µL/L sebagai kontrol. Perlakuan diberikan melalui perendaman selama delapan jam terhadap 35 embrio saat memasuki fase bintik mata atau sekitar jam ke-28 setelah pembuahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis ekstrak purwoceng 20 µL/L menghasilkan persentase ikan jantan sebesar 62,66%, dan daya tetas telur sebesar 85,71%. Persentase jantan tersebut lebih tinggi daripada kontrol (45,1%), tetapi derajat penetasannya lebih rendah daripada kontrol (98,57%). Pada dosis yang lebih tinggi (30 µL/L), populasi ikan jantan (39,72%), dan derajat penetasan (68,57%) adalah menurun. Kata kunci: maskulinisasi, perendaman embrio, ekstrak purwoceng, Betta splendens
Gracilaria spp. morphology cultured in brackish water pond Pantai Sederhana Village, Muara Gembong Soelistyowati, Dinar Tri; Murni, Ida Ayu Amarilia Dewi; Wiyoto, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3042.978 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.94-104

Abstract

ABSTRACT Gracilaria spp. is a euryhaline species of seaweed which can live in the marine and brackish water. Development of Gracilaria spp. culture in Bekasi is potential because this seaweed can be cultured in ex shrimp pond by polyculture system. The objective of this research was to evaluate the phenotype morphological characteristic of Gracilaria spp. based on and its relationship with shrimp pond water quality. Sampling was done at three shrimp ponds with a salinity range at 13.7–19.2 g/L. Phenotypical characteristics of Gracilaria spp. consisted of colour and thallus morfometrics, while measurement of water quality consisted of physical and chemical charactersof shrimp pond. The result showed that Gracilaria spp. generally had light brown colour. At salinity higher than 13.7 g/kg, the number of secondary thalli increased, the distance among internode tertiary thalli declined, and the number of ramification index increased. Salinity showed a positive correlation with remification index which was 0.571. Keywords: Gracilaria spp., remification index, phenotype, salinity, brackishwater culture  ABSTRAK Gracilaria spp. merupakan spesies rumput laut eurihalin yang dapat hidup di laut dan di perairan payau. Pengembangan budidaya Gracilaria spp. di Bekasi potensial dilakukan karena memanfaatkan tambak bekas budidaya udang dengan sistem polikultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik fenotipe morfologi Gracilaria spp. dan hubungannya dengan kualitas air di tambak budidaya. Sampling dilakukan pada tiga tambak dengan kisaran salinitas 13,7–19,2 g/L. Karakterisasi fenotipe meliputi warna dan morfometrik talus Gracilaria spp., sedangkan parameter kualitas air meliputi karakter fisika dan kimia air tambak. Hasil menunjukkan talus Gracilarias spp. umumnya berwarna coklat muda dan pada salinitas di atas 13,7 g/L menunjukkan jumlah talus sekunder meningkat, jarak internode talus tersier menurun, dan indeks percabangan meningkat (P<0,05). Salinitas berkorelasi positif dengan indeks percabangan sebesar 0,571. Kata kunci: Gracilaria spp., indeks percabangan, fenotipe, salinitas, budidaya air payau
Sex reversal of red tilapia using 17α-methyltestosterone-enriched feed and increased temperature Ayuningtyas, Safira Qisthina; Junior, Muhammad Zairin; Soelistyowati, Dinar Tri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.159-163

Abstract

ABSTRACT The growth rate between male and female red tilapia Oreochromis sp. is different. Generally, the male red tilapia grows faster than the female. Furthermore, the maturation process of red tilapia is relatively fast which causes slower growth rate. One of solutions to this problem is by rearing all male population or mono-sex culture. The method used in this study was commercial feed enrichment with 17α-methyltestosterone at different dosages and water temperature manipulation. The purpose of this research was to examine the effects of commercial feed enrichment with different dosages of 17α-methyltestosterone and water temperature manipulation on success rate of sex reversal of red tilapia into all male population. This research consisted of different temperature treatments (with and without water heating) and 17α- methyltestosterone dosages (0, 10, 20 mg/kg of commercial feed). The best dosage of 17α-methyltestosterone was 20 mg/kg of commercial feed with male to female sex ratio of 86.31%, daily growth rate of 8.18%, and feed conversion ratio of 1.53. In this study, the best treatment to produce the male seeds was the 17α-methyltestosterone treatment. Keywords: 17α-methyltestosterone, sex reversal, red tilapia, temperature  ABSTRAK Ikan nila merah Oreochromis sp. memiliki laju pertumbuhan yang berbeda antara ikan jantan dan betina. Umumnya ikan nila merah jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan betinanya. Selain itu, ikan nila memiliki sifat cepat matang gonad dan mudah memijah sehingga akan menghambat pertumbuhan ikan. Salah satu cara untuk mengurangi masalah yang terjadi yakni dengan memelihara populasi ikan nila merah tunggal kelamin atau monoseks jantan. Metode yang dilakukan adalah pemberian hormon 17α-metiltestosteron dengan dosis berbeda melalui pakan buatan dan peningkatan suhu air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis hormon 17α-metiltestosteron melalui pakan buatan dan peningkatan suhu air terhadap keberhasilan alih kelamin jantan pada ikan nila merah. Penelitian ini terdiri atas perlakuan suhu (dengan dan tanpa pemanasan air) dan dosis 17α-metiltestosteron (0, 10, 20 mg/kg pakan). Dosis hormon 17α-metiltestosteron terbaik yang didapatkan adalah 20 mg/kg pakan dengan nisbah kelamin jantan 86,31%, laju pertumbuhan harian 8,18%, dan rasio konversi pakan 1,53. Pada penelitian ini perlakuan terbaik untuk menghasilkan benih jantan adalah perlakuan dosis 17α-metiltestosteron. Kata kunci: 17α-metiltestosteron, alih kelamin, ikan nila merah, suhu
Spermatogenesis of male catfish Clarias sp. fed diet supplemeted with purwoceng extract Bertha, Poppy Dea; Junior, Muhammad Zairin; Soelistyowati, Dinar Tri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3085.523 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.49-55

Abstract

ABSTRACT Purwoceng Pimpinella alpina Molk has been a commercial medicinal plant that their root could be used as aphrodisiac, diuretic, and body fit enhancer. This research was performed to evaluated the effect of purwoceng on spermatogenesis of the male catfish Clarias sp. consisted of testis weight, gonado somatic index (GSI), and spermatocrite levels. The treatment comprised administering purwoceng extract through the feed at a dose of 0; 2.5; 5; 7.5 g/kg of feed. Experimental fish used were male catfish Clarias sp. with initial body weight of 200–300 g at the density of 10 fish/tank. Male catfish were maintained in tank sized 2×1,5×1 m3, filled with water at 60–70 cm deep. The result showed that purwoceng extract at a dose of 5 g/kg mixed in the feed increased testis weight, GSI values, and spermatocrite levels in adult male catfish. Keywords: purwoceng extract, spermatogenesis, catfish  ABSTRAK Purwoceng Pimpinella alpina Molk merupakan tanaman herbal komersial yang akarnya dilaporkan berkhasiat sebagai obat afrodisiak, diuretik, dan tonik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak purwoceng terhadap perkembangan testis ikan lele Clarias sp. yang meliputi peningkatan bobot testis, nilai GSI, serta nilai spermatokrit. Perlakuan terdiri atas pemberian ekstrak purwoceng melalui pakan dengan dosis 0; 2,5; 5 dan 7,5 g/kg pakan. Adapun ikan yang diujicobakan pada penelitian adalah ikan lele jantan dengan bobot awal 200–300 g dan padat tebar 10 ekor/bak. Pemeliharaan ikan dilakukan pada bak berukuran 2×1,5×1 m3 yang diisi air dengan ketinggian  60–70 cm. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian ekstrak purwoceng dengan dosis 5 g/kg yang dicampur dalam pakan meningkatkan nilai bobot testis, nilai GSI dan kadar spermatokrit  pada lele jantan dewasa. Kata kunci: ekstrak purwoceng, spermatogenesis, ikan lele
Genetic variability and performance of Asian swamp eel Monopterus albus (Zuiew, 1793) from West Java cultured in saline water medium Soelistyowati, Dinar Tri; Syarif, Ahmad Fahrul; Affandi, Ridwan; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3267.682 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.33-40

Abstract

ABSTRACT  Asian swamp eel Monopterus albus (Zuiew, 1793) is freshwater fish species which is prospective for domestic and export markets. The production is limited depend on the catches of natural population. The cultivation of eel has been carried out to increase the production for sustainability. This study was conducted to evaluate the genetic variability and performance of Asian swamp eel from West Java and its potential cultivation in water based media with salinity. Three populations from West Java were collected of different altitudes from Sukabumi (673 m asl), Cianjur (429 m asl), Karawang (51 m asl) sized 19–26.5 cm and weighed 4.95–11.4 g. The cultivation was performed during 30 days in water media without substrate at salinity 6 ppt with density of 1 kg/m2 and maintenance at container 50×30×30 cm completed with shelter pipe of ¾ inches diameter and 20 cm length, height of water 10 cm and water exchange 100% every day, fed at satiation using Tubificidae once a day. Genetically, all of the populations showed low heterozygosity at 1.19–1.23% and genetic distance 0.01–0.04. Asian swamp eel adapted better at water salinity 6 ppt which indicated by low mesure of osmotic gradient and blood glucose. Asian swamp eel from Karawang showed superior at survival rate (90%) and daily growth rate (1.42/day). Keywords: Asian swamp eel, Monopterus albus, cultivation, genetic variability, salinity  ABSTRAK  Belut sawah Monopterus albus (Zuiew, 1793) merupakan komoditas ikan air tawar potensial di pasar domestik maupun ekspor, namun produksinya masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam karena budidaya belum berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman genetik dan keragaan belut sawah asal Jawa Barat dan potensinya untuk dikembangkan dengan teknik budidaya di air bersalinitas tanpa lumpur. Tiga populasi belut sawah dikoleksi dari lokasi di Jawa Barat dengan ketinggian berbeda yaitu Sukabumi (673 m dpl), Cianjur (429 m dpl), Karawang (51 m dpl). Sumber genetik belut berukuran 19–26,5 cm dan bobot berkisar 4,95–11,4 g dipelihara selama 30 hari dalam media air tanpa substrat bersalinitas 6 ppt. Wadah pemeliharaan berukuran 50×30×30 cm dilengkapi shelter pipa paralon diameter ¾ inci dan panjang 20 cm serta ketinggian air 10 cm. Padat penebaran ikan 1 kg/m2 (20 ekor/wadah), serta pergantian air 100% dilakukan setiap hari dan pemberian pakan berupa Tubificidae secara at satiation satu kali sehari. Secara genetik ketiga populasi menunjukkan tingkat heterosigositas yang rendah yaitu berkisar 0,19–0,23 % dan jarak genetik 0,01–0,04. Belut sawah menunjukkan respons adaptasi yang baik dalam media air tanpa substrat pada salinitas 6 ppt berdasarkan indikator beban osmotik dan kadar glukosa yang rendah. Belut sawah asal Karawang unggul pada laju pertumbuhan harian (1,42/hari) dan kelangsungan hidup (90 %). Kata kunci: belut sawah Monopterus albus, budidaya, keragaman genetik, salinitas
Triploid striped catfish Pangasianodon hypophthalmus: growth performance and gonadal development Ibrahim, Yusran; Soelistyowati, Dinar Tri; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3935.494 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.76-82

Abstract

ABSTRACT  This study was aimed to evaluate the growth performance and gonadal development of diploid and triploid striped catfish Pangasianodon hypophthalmus. Triploids were produced through a heat shock method at 42 °C for two minutes, at two minutes after fertilization. Before treatment performed, group of triploid and diploid were separated through nucleolus counting confirmed cromoseme counting. Five individual of each group at the age of nine months were tagged and reared for two months. Parameter of growth performance, feed conversion ratio, and survival rate were analysed using independent-samples t-test at confidence interval 95%, while gonadosomatic index (GSI) and gonad histology were analysed descriptively. No significant differences were observed between diploid and triploid fish in terms of growth performance, feed conversion ratio, and survival rate (P>0.05) during the two months rearing period, while GSI was higher in diploid (P<0.05) compared to triploid females. Histological observations of triploid female gonads showed early development stage, indicating sterility through symptoms such as oocytes degradation and abnormal development. Meanwhile, male gonad developed faster compared to female as spermatids were found in several lobules. As conclusion, diploid and triploid striped catfish P. hypophthalmus growth performance did not differ up to the age of 11 months, although some sterility symptoms were observed in both male and female. Keywords: diploid, triploid, growth, gonad, Pangasianodon hypophthalmus   ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa pertumbuhan dan perkembangan gonad ikan patin siam Pangasianodon hypophthalmus diploid dan triploid. Triploid diproduksi dengan kejut suhu panas pada suhu 42 °C selama dua menit, pada dua menit setelah fertilisasi. Sebelum pengujian, kelompok diploid dan triploid dipisahkan dengan menganalisis jumlah nukleolus yang dikonfirmasi dengan penghitungan jumlah kromosom. Masing-masing lima ekor ikan diploid dan triploid pada umur sembilan bulan ditandai dan dipelihara selama dua bulan. Parameter pertumbuhan, rasio konversi pakan, dan kelangsungan hidup dianalisis menggunakan independent-samples t-test pada selang kepercayaan 95% sedangkan gonadosomatik indeks (GSI) dan histologi gonad dianalisis secara deskriptif. Pertumbuhan, rasio konversi pakan, dan kelangsungan hidup antara diploid dan triploid selama dua bulan pemeliharaan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05). Nilai GSI diploid lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan triploid, baik pada jantan maupun betina. Hasil histologi menunjukkan bahwa gonad ikan patin betina masih pada tahap perkembangan awal. Namun, indikasi steril terlihat dengan adanya degradasi oosit dan perkembangannya yang terganggu. Gonad jantan berkembang lebih cepat dibandingkan betina, dengan ditemukannya spermatid pada beberapa lobule. Gonad jantan triploid menunjukkan adanya gejala sterilitas tetapi tidak permanen, sebagian masih mampu berkembang hingga fase spermatid, namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan diploid. Berdasarkan penelitian, disimpulkan bahwa pertumbuhan antara ikan patin siam diploid dan triploid hingga umur 11 bulan tidak menunjukkan perbedaan, akan tetapi gejala sterilitas ditemukan baik pada jantan maupun betina triploid. Kata kunci: diploid, triploid, pertumbuhan, gonad, Pangasianodon hypophthalmus
Aromatase gene expression and masculinization of Nile tilapia immersed in water 36 °C containing 17α-methyltestosterone Fauzan, Agung Luthfi; Soelistyowati, Dinar Tri; Junior, Muhammad Zairin; Hardiantho, Dian; Setiawati, Mia; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3315.516 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.116-123

Abstract

ABSTRACT  Immersion of undifferentiated larval tilapia in high temperature and 17α-methyltestosterone (MT) cab increase the male ratio. However, the effectiveness of immersion in high temperature of water containing MT remains to be evaluated. The purposes of this study were: 1) evaluate the male ratio, growth, and survival of tilapia, and 2) analyze the aromatase brain-type gene expression level in tilapia after immersing in high temperature (36 °C) containing MT at 2 mg/L for four hour with single and double immersion. Aromatase gene expression was analyzed by semi-quantitative RT-PCR (sqRT-PCR) method. The result showed that higher monosex male ratio was obtained by single immersion of MT at 36 °C at room temperature. Gene expression level of aromatase brain-type was lower on single immersion and increased significantly at second immersion compared to control (immersion at room temperature without MT). Immersion using MT and high temperature had no significant effect on fish survival. However the specific growth rate and fish biomass were higher than control. Thus, monosex male tilapia can be produced by single immersion of undifferentiated larvae at 36 °C temperature containing MT. Keywords: male ratio, aromatase, Oreochromis niloticus, temperature, 17α-methyltestosterone  ABSTRAK  Perendaman larva ikan nila yang belum terdeferensiasi kelaminnya dengan suhu tinggi dan hormon 17α-metiltestosteron (MT) dapat meningkatkan nisbah kelamin jantan. Tetapi, efektivitas perendaman menggunakan MT pada suhu tinggi belum diteliti. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengevaluasi nisbah kelamin jantan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup ikan nila, dan 2) menganalisis ekspresi gen aromatase tipe-otak pada ikan direndam menggunakan MT dengan dosis 2 mg/L selama empat jam sebanyak satu dan dua kali perendaman pada suhu 36 °C. Ekspresi gen aromatase dianalisis menggunakan metode RT-PCR semi-kuantitatif (sqRT-PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perendaman MT satu kali pada suhu 36 °C lebih tinggi menghasilkan ikan nila jantan monoseks dibandingkan perendaman MT satu kali pada suhu ruang. Tingkat ekspresi gen aromatase tipe otak pada perendaman satu kali lebih rendah, dan meningkat secara signifikan pada perendaman kedua dibandingkan dengan kontrol (perendaman pada suhu ruang tanpa MT). Perendaman larva menggunakan MT dan suhu 36 °C tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup, tetapi laju pertumbuhan spesifik dan biomassa ikan perlakuan tersebut lebih tinggi daripada kontrol. Dengan demikian, ikan nila jantan monoseks dapat diproduksi dengan perendaman satu kali pada larva yang belum terdeferensiasi jenis kelaminnya menggunakan MT pada suhu 36 °C. Kata kunci: rasio jantan, aromatase, Oreochromis niloticus, suhu, 17α-metiltestosteron
The effects of LED light spectrum manipulation on growth and color performance of giant gourami Osphronemus gouramy Lacepede Padang strain Gunawan, Bambang Kusmayadi; Nirmala, Kukuh; Soelistyowati, Dinar Tri; Djokosetiyanto, Daniel; Nurussalam, Wildan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.21.1.11-21

Abstract

This study aimed to evaluate the effect of light spectrum on growth and color performance of giant giant gourami Padang strain. The experiment used a completely randomized design (RAL) with four light emitting diode (LED) treatments in different emission spectra (white, red, green, and blue) at 550 Lux intensity, compared to the control treatment (light room with white tubular lamp at 50 Lux intensity). The irradiation was carried out for 12 hours of photoperiod. The fish used had the total length of 82.90±4.2 mm and body weight of 9.87 ± 0.99 g. The highest growth performance was found in blue LED treatment with the specific growth rate of 2.73 ± 0.2% and feed efficiency of 86.26 ± 2.71%. The best color performance was found in red LED treatment with the RGB ratio of 44.57 ± 0.62% in dorsal fin, 38.41 ± 1.36% in pectoral fins, and 45.33 ± 2.25% in anal fin with the chromatophore cell concentration at 1.973±58 cells/mm2. Keywords : Osphronemus gouramy, blue LED, spectrum, chromatophore, light ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh spektrum cahaya terhadap kinerja pertumbuhan dan warna ikan gurami strain Padang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan cahaya lampu light emitting diodes (LED) yang memiliki spektrum panjang gelombang berbeda (putih, merah, hijau dan biru) intensitas 550 Lux dan kontrol (cahaya ruang berasal dari lampu tubular putih intensitas 50 Lux). Penyinaran dilakukan selama 12 jam mengikuti fotoperiod. Ikan uji yang digunakan memiliki panjang total 82,90 ± 4,2 mm, dengan bobot 9,87 ± 0,99 g. Kinerja pertumbuhan terbaik terdapat pada perlakuan LED biru dengan laju pertumbuhan spesifik sebesar 2,73 ± 0,2% dan efisiensi pakan sebesar 86,26 ± 2,71%. Performa warna terbaik terdapat pada perlakuan LED merah dengan rasio warna merah pada RGB bagian dorsal sebesar 44,57 ± 0,62%, sirip pektoral sebesar 38,41 ± 1,36%, dan sirip anal sebesar 45,33 ± 2,25% dengan jumlah sel kromatofor sebanyak 1973 sel/mm2. Kata kunci : Osphronemus gouramy, LED biru, spektrum, kromatofor, cahaya
The ontogenic study of early life stages of culture-bred Nomorhamphus sp. (Zenarchopteridae) from Lindu, Central Sulawesi Herjayanto, Muh; Carman, Odang; Tri Soelistyowati, Dinar; Alimuddin; Wicaksono, Aryo Wenang; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.179-186

Abstract

Nomorhamphus sp. is a freshwater fish that has been traded as an ornamental fish. This fish is unique as an endemic species with a halfbeak-like jaw and orange color on the caudal fin. However, this fish culture information needs a further information. Based on this condition, it is necessary to conduct a study as a basis for ornamental fish breeding and growing-out activities through domestication. A crucial problem in this fish is larval rearing, which can be observed through ontogeny studies. The study was conducted on the newly-born larval behavior, morphological development, andropodium development, growth, and survival rate at the early stages, namely larvae to juvenile. The results showed that the newly-born larvae of Nomorhamphus sp. Lindu had a total length of 1.6-1.8 cm. Larvae could swim four hours 22 minutes after birth and feed artemia nauplii with surface feeding type. The initial juvenile stage occurred 25 days of post-birth period with a total length of 2.0-2.2 cm. The water condition of the rearing during the study could support the larval transformation to juvenile. This study is the first report related to the aquaculture success of the early life stage of Nomorhamphus sp. Lindu at the domestication stage. Keywords: andropodium, domestication, endemic halfbeak, larva development, surface feeding ABSTRAK Nomorhamphus sp. adalah ikan air tawar yang telah diperdagangkan sebagai ikan hias. Ikan ini memiliki keunikan pada statusnya sebagai spesies endemik, bentuk mulut menyerupai paruh setengah (halfbeak), dan warna oranye pada sirip ekor. Namun informasi budidayanya belum diketahui dengan baik. Karena itu perlu dilakukan kajian sebagai dasar dalam kegiatan pengembangbiakan dan pembesaran sebagai ikan hias melalui domestikasi. Salah satu kegiatan penting dalam budidaya yaitu pemeliharaan larva yang dapat diamati melalui studi ontogeni. Kajian pada studi awal ini dilakukan pada stadia awal hidup yaitu larva sampai juvenil. Pengamatan dilakukan pada tingkah laku larva pascalahir, perkembangan morfologi, perkembangan andropodium, pertumbuhan dan sintasan pada lingkungan budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva Nomorhamphus sp. Lindu yang baru dilahirkan memiliki panjang total 1,6-1,8 cm. Larva telah dapat berenang pada umur empat jam 22 menit pascalahir (pcl) dan bisa makan naupli artemia dengan tipe surface feeding. Stadia awal juvenil terlihat pada umur 25 hari pcl dengan ukuran panjang total 2,0-2,2 cm. Kondisi media pemeliharaan selama penelitian dapat mendukung kehidupan larva sampai juvenil. Penelitian ini merupakan catatan pertama terkait keberhasilan budidaya stadia awal hidup Nomorhamphus sp. Lindu pada tahap domestikasi. Kata kunci: andropodium, domestikasi, ikan endemik, tipe makan permukaan, perkembangan larva
Co-Authors , Alimuddin , Rahman, , Achmad Sudradjat Agus Oman Sudrajat Ahmad Fahrul Syarif Ahmad Muzaki Ahmad Teduh Akbar, Muhamad Saepul Aldilla Kusumawardhani, Aldilla Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Anang Hari Kristanto Anang Hari Kristanto Aras, Annisa Khairani Arifah Ambarwati Asep Bulkini Bagus Rahmat Basuki Daniel Djokosetiyanto Dendi Hidayatullah, Dendi Deni Radona Deni Radona Dian Hardiantho Dian Hardianto Didik Ariyanto Didik Ariyanto Donny Prariska Eddy Supriyono Edison, Thomas Erlania Erlania Euis Rakhmawati Fajar Maulana . Farah Diana Fauzan, Agung Luthfi Firmansyah, Rodhi Fitriyah Husnul Khotimah Flandrianto S. Palimirmo Gleni Hasan Huwoyon Gleni Hasan Huwoyon Gleni Hasan Huwoyon, Gleni Hasan Gloria Ika Satriani Gloria Ika Satriani Gunawan, Bambang Kusmayadi Gusti Ngurah Permana Guttifera Hafidah, Riva Hafif Syahputra Hanggara, Yudha Harton Arfah Haryanti Haryanti Haryanti Haryanti Helena Sahusilawane Herjayanto, Muh. Ibrahim Satrio Faqih Ibrahim, Yusran Ida Ayu Amarilia Dewi Murni Imron Imron, Imron Indah Mastuti Intan Putriana Irin Iriana Kusmini Irin Iriana Kusmini Irin Iriana Kusmini Irin Iriana Kusmini Irin Iriana Kusmini Irin Iriana Kusmini, Irin Iriana Irwan Irwan Irzal Effendi Iskandariah Iskandariah Iskandariah, Iskandariah Ketut Mahardika Ketut Sugama Ketut Sugama Khotimah, Fitriyah Husnul Komar Sumantadinata Kukuh Nirmala Ligaya I. T. A. Tumbelaka M. H. Fariduddin Ath-thar M. Syukur M. Zairin Junior Mahardhika, Prana Mahdaliana, Mahdaliana Maulana, Fajar Melta Rini Fahmi MH. Fariduddin Ath-thar Mia Setiawati Muh. Herjayanto Muhamad Syukur Muhammad Fadlan Furqon Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar Muhammad Sami Daryanto Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr. Muhmmad Agus Suprayudi Muliari Muliari Mulyasari Mulyasari Nopri Yanto Odang Carman Oktaviani, Tia Peni Pitriani Poppy Dea Bertha, Poppy Dea Prana Mahardhika Prassetyo Dwi Dhany Wijaya Rahmadani Rahmadani Ratu Siti Aliah Raudhatus Sa'adah Rezki, Dinda Wahyu RIDWAN AFFANDI Rinaldi Rinaldi Rini Susilowati Rizki Eka Puteri Ronny Rachman Noor Ruby Vidia Kusumah Rudhy Gustiano Rudhy Gustiano Rudhy Gustiano Rudhy Gustiano Rudhy Gustiano Rudhy Gustiano Rudhy Gustiano Rudhy Gustiano Rudhy Gustiano Safira Qisthina Ayuningtyas, Safira Qisthina Sahusilawane, Helena Afia Sandra, Aan Aryanti Sari Budi Moria Sembiring Sari Budi Moria Sembiring Satriani, Gloria I. Selly Ratna Sari Sholihin, Hidayatush Sri Nuryati Sri Sundari Sudarto Sudarto Syahril, Alfis Tia Oktaviani Upmal Deswira Vitas Atmadi Prakoso Wahyutomo Wahyutomo Wahyutomo, Wahyutomo Wibowo, Kesit Tisna Wicaksono, Aryo Wenang WIDANARNI WIDANARNI Wildan Nurussalam Wiyoto Wiyoto Yeni Elisdiana Yogi Himawan