Claim Missing Document
Check
Articles

VIRULENCE GENE PROFILING AND PATHOGENICITY OF Streptococcus agalactiae ISOLATED FROM TILAPIA, Oreochromis niloticus FARMS IN INDONESIA Sukenda Sukenda; Achmad Suhermanto; Muhammad Zairin Jr.; Angela Mariana Lusiastuti; Sri Nuryati; Dendi Hidayatullah
Indonesian Aquaculture Journal Vol 16, No 2 (2021): (December, 2021)
Publisher : Center for Fisheries Research, Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resource

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/iaj.16.2.2021.119-125

Abstract

Streptococcosis caused by Streptococcus agalactiae has become a major disease problem in tilapia culture in Indonesia. This study aimed to detect virulence genes of S. agalactiae during streptococcosis disease outbreaks in several tilapia farms in Indonesia and evaluate the correlation between biotype and virulence genes to bacterial virulence. The presence of virulence genes was determined in 10 strains of S. agalactiae isolated from farm-raised tilapia. Polymerase chain reaction (PCR) protocol was used to determine genes for cylE, hylB, lmb, bib A, PI-2b, fbs A, fbs B, gap, PI-1, and cfb in the template DNA. Pathogenicity test was carried out by intraperitoneal injection of 24 hour-cultured S. agalactiae to tilapia with 108 CFU/fish. Four isolates have seven of virulence genes (cylE, hylB, bibA, PI-2b, fbs A, fbs B, and gap genes), three isolates have six virulence genes (hylB, bib A, fbs A, fbs B, gap, cfb genes), one isolate has four virulence gene (hyl B, bib A, fbs, and cfb genes), and one isolate has one virulence gene (PI-2b gene). None of the isolates has lmb or PI-1 genes. Bacteria with more virulence genes showed higher pathogenicity post injection. Mortality of tilapia injected with b-hemolytic bacteria was 100% within the period of 14-19 hours, while non-hemolytic bacteria was 53.3%-86.6% on 14 days post-injection. Pathological changes associated with the infection by either isolate included melanosis, slow response, anorexia, ocular opacity, gasping, erratic, C-shape, and whirling. It can be concluded that S. agalactiae with more virulence genes show a higher level of pathogenicity. The presence of a virulent gene has the potential to be used as a basis for selecting candidate isolates and designing vaccine compositions as an effort to prevent streptococcosis infection in tilapia in Indonesia.
NONSPECIFIC IMMUNE RESPONSE AND RESISTANCE OF Litopenaeus vannamei FED WITH NUCLEOTIDE, β-GLUCAN, AND PROTAGEN DIETS Henky Manoppo; Sukenda Sukenda; Daniel Djokosetiyanto; Mochamad Fatuchri Sukadi; Enang Harris
Indonesian Aquaculture Journal Vol 5, No 1 (2010): (June 2010)
Publisher : Center for Fisheries Research, Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resource

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.141 KB) | DOI: 10.15578/iaj.5.1.2010.37-44

Abstract

The objective of this research was to evaluate the nonspecific immune response and resistance of Litopenaeus vannamei fed with nucleotide, β–glucan, and protagen diets. Shrimp juveniles with an average weight of 5.39±0.56 g were reared in glass aquaria at a density of 15 shrimps/aquarium. Shrimps were fed three times a day for four weeks at a feeding rate of 3%/bw/day. Treatment diets consisted of A: basal diet (without immunostimulant), B: β–glucan, C: protagen, and D: nucleotide, each with three replicates. At the end of feeding period, the shrimps were intramuscularly injected with Vibrio harveyi 0.1 x 106 cfu.shrimp-1. Total haemocyte count (THC) of shrimp fed with nucleotide-diet was significantly different compared to that of control shrimp (p=0.01), but not different compared to shrimp fed with protagen-diet. PO activity also increased significantly in shrimp fed with nucleotide-diet (p=0.02). β–glucan diet could also increase THC and PO activity, but compared to the control, the increase was not significantly different. Overall, PO activity of shrimp fed with nucleotide, β–glucan, and protagen diets was high (>0.35). Oral administration of nucleotide, β–glucan, and protagen for four consecutive weeks significantly increased resistance of shrimp to disease (<0.01) where the highest resistance rate was observed on shrimp fed with nucleotide-diet. Growth of shrimp fed with nucleotide-diet was significantly different compared to that of control shrimp (p<0.01), as well as to β–glucan, and protagen-treated shrimp. As a conclusion, supplementation of nucleotide into shrimp pellet enhanced nonspecific immune response and growth performance better than β-glucan, and protagen.
DETEKSI GEN-GEN PENYANDI FAKTOR VIRULENSI PADA BAKTERI VIBRIO Ince Ayu Khairani Kadriah; Endang Susianingsih; Sukenda Sukenda; Munti Yuhana; Enang Harris
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.041 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.119-130

Abstract

Penelitian untuk mendeteksi gen-gen penyandi virulensi dilakukan denganmenggunakan isolat bakteri yang diisolasi dari budidaya udang windu di berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Jawa. Pada penelitian ini digunakan primer spesifik untuk mendeteksi gen-gen virulen toxR gene, hemolysin (vvh) gene, dan GyrB gene dengan metode PCR. Dari 35 isolat yang diisolasi, 20 isolat terdeteksi memiliki gen virulensi dan 8 di antaranya memiliki dua gen virulen. Spesies bakteri yang memiliki gen virulen adalah: V.harveyi, V. parahaemolyticus, V. mimicus, dan V. campbelli
PENGARUH KO-INFEKSI BAKTERI Streptococcus agalactiae DENGAN Aeromonas hydrophila TERHADAP GAMBARAN HEMATOLOGI DAN HISTOPATOLOGI IKAN TILAPIA ( Oreochromis niloticus ) Desy Sugiani; Sukenda Sukenda; Enang Harris; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (April 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.12 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.1.2012.85-91

Abstract

Karakteristik hasil ko-infeksi buatan dari penyakit Streptococcosis dan MAS (Motile Aeromonas Septicemia) dapat dilihat dengan menggunakan parameter gambaran hematologi dan histopatologi. Ikan tilapia (Oreochromis niloticus) ukuran 15 g diinfeksi secara intra peritoneal dengan bakteri Streptococcus agalactiae dan Aeromonas hydrophila menggunakan dosis LD50. Perubahan pertahanan non spesifik ikan terhadap infeksi patogen dilihat dengan mengamati level hematokrit, neutrofil, limfosit, monosit, dan indeks fagositik darah ikan tilapia yang diambil dari arteri caudalis pada hari ke-3, 6, 9, 12, dan 15 setelah infeksi. Hasil analisis perubahan level hematokrit dan limfosit lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol, level neutrofil lebih rendah dibandingkan dengan kontrol, dan level monosit dan indeks fagositik fluktuatif selama masa perlakuan memperlihatkan adanya homeostasi gambaran darah ikan terhadap serangan infeksi antigen. Hasil histopatologi organ ginjal, otak, hati, dan limfa memperlihatkan dua pola karakter luka. Pola pertama, luka yang focal sampai terlihat adanya inflamasi dan perdarahan. Pola kedua, luka yang multifocal, luka parah (acute), nekrotik, dan luka inflamasi yang mengakibatkan deformasi sel-sel organ.
KARAKTERISTIK SEKUEN cDNA PENGKODE GEN ANTI VIRUS DARI UDANG WINDU, Penaeus monodon Andi Parenrengi; Alimuddin Alimuddin; Sukenda Sukenda; Komar Sumantadinata; Andi Tenriulo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.829 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.1-13

Abstract

Transgenesis pada ikan merupakan sebuah teknik modern yang berpotensi besar dalam menghasilkan organisme yang memiliki karakter lebih baik melalui rekombinan DNA gen target termasuk gen anti virus dalam peningkatan resistensi pada udang. Gen anti virus PmAV (Penaeus monodon Anti Viral gene) merupakan salah satu gen pengkode anti virus yang berasal dari spesies krustase. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik gen anti virus yang diisolasi dari udang windu, Penaeus monodon. Isolasi gen anti virus menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan selanjutnya dipurifikasi untuk sekuensing. Data yang dihasilkan dianalisis dengan program Genetyx Versi 7 dan basic local alignment search tool (BLAST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen anti virus PmAV yang berhasil diisolasi dari cDNA udang windu dengan panjang sekuen 520 bp yang mengkodekan 170 asam amino. BLAST-N menunjukkan tingkat similaritas yang sangat tinggi (100%) dengan gen anti virus yang ada di GeneBank. Komposisi asam amino penyusun gen anti virus yang paling besar adalah serin (10,00%), sedangkan yang terkecil adalah asam amino prolin dan lisin masing-masing 1,76%. Analisis sekuen gen dan deduksi asam amino (BLAST-P) memperlihatkan adanya C-type lectin-like domain (CTLD) yang memiliki kemiripan dengan gen C-type lectin yang diisolasi dari beberapa spesies krustase.Transgenic fish technology is a potential modern technique in producing better character organism through DNA recombinant of target genes including anti viral gene for improvement of shrimp immunity. PmAV (Penaeus monodon Anti Viral) gene is one of anti viral genes isolated from crustacean species. The research was conducted to analyze the characteristics anti viral gene isolated from tiger prawn, Penaeus monodon. Anti viral gene was isolated using Polymerase Chain Reaction (PCR) technique and then purified for sequencing. Data obtained were analyzed using Genetyx Version 7 software and basic local alignment search tool (BLAST). The results showed that the PmAV antiviral gene has been isolated from cDNA of tiger prawn at the position of approximately 520 bp consisting of 170 amino acids. BLAST-N showed high similarity (100%) compared to the other anti viral genes deposited at the GeneBank. The highest percentage of amino acid encoding anti viral gene is serine (10.00%), while the lowest is proline and lysine (1.76%). Sequence analysis and amino acid deduction (BLAST-P) revealed a C-type lectin-like domain (CTLD) that is similar with the C-type lectin gene isolated from several crustacean species.
VAKSINASI IKAN TILAPIA (Oreochromis niloticus) MENGGUNAKAN VAKSIN MONOVALEN DAN BIVALEN UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT MOTILE AEROMONAS SEPTICEMIA DAN STREPTOCOCCOSIS Desy Sugiani; Sukenda Sukenda; Enang Harris; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.955 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.2.2013.230-239

Abstract

Peningkatan respon antibodi pascavaksinasi dengan antigen tunggal dan campuran dari bakterin Aeromonas hydrophila and Streptococcus agalactiae diharapkan dapat meningkatkan daya tahan ikan tilapia (Oreochromis niloticus) terhadap penyakit Motile Aeromonas Septicemia/MAS dan Streptococcosis. Sediaan vaksin disiapkan dengan metode pembuatan dan formula yang berbeda, proses inaktifasi dilakukan dengan menambahkan 3% Neutral Buffer Formalin (NBF 10%) pada biakan bakteri dalam media tumbuh BHI dan TSB. Vaksinasi diberikan melalui injeksi intraperitoneal dengan sediaan vaksin monovalen A. hydrophila, monovalen S. agalactiae, dan bivalen A. hydrophila + S. agalactiae (Sel utuh, produk ektraselular/ECP, crude supernatan, campuran sel utuh + ECP, dan broth). Uji tantang dilakukan menggunakan dosis LD50 infeksi tunggal maupun ko-infeksi dari bakteri A. hydrophila dan S. agalactiae. Efektivitas dan keampuhan vaksin tersebut dihitung berdasarkan nilai RPS (Relative Percent Survival) dan hasil respon hematologi. Titer antibodi dapat terdeteksi setelah satu minggu pemeliharaan pasca vaksinasi. Nilai titer antar perlakuan vaksin bivalen berbeda nyata (P<0.05) dengan vaksin monovalen dan kontrol. Nilai RPS vaksin bivalen (campuran sel utuh + ECP) mencapai 100 untuk uji tantang dengan A. hydrophila dan 56,7 pada uji tantang ko-infeksi. Vaksin monovalen A. hydrophila maupun S. agalactiae hanya mampu memproteksi terhadap bakteri homolog, tidak terjadi proteksi silang di antara keduanya.
IDENTIFIKASI KANDIDAT MARKA MHC I PADA IKAN LELE (Clarias sp.) TAHAN INFEKSI Aeromonas hydrophila Azis Azis; Alimuddin Alimuddin; Sukenda Sukenda; Muhammad Zairin Junior
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1936.382 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.261-269

Abstract

Penyakit motile aeromonad septicemia disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila dapat menyebabkan kematian tinggi pada ikan lele (Clarias sp.). Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kandidat marka MHC I dalam seleksi berbasis marka molekuler untuk menghasilkan ikan lele varietas sangkuriang tahan infeksi bakteri A. hydrophila. Sebanyak 200 ekor ikan lele dengan bobot 60±5 g diuji tantang dengan menyuntikkan bakteri A. hydrophila dengan konsentrasi 106 cfu/mL sebanyak 0,1 mL/ekor ikan. Hasil uji tantang menunjukkan sintasan ikan lele sebesar 54% (14 ekor ikan tanpa luka, dan 94 ekor ikan luka dan kemudian sembuh). Tujuh pasang primer didesain berdasarkan sekuen gen major histocompatibility complex (MHC) I ikan Clarias gariepinus yang terdapat di Bank Gen. DNA diekstraksi dari jaringan sirip ekor ikan hidup dan yang mati, kemudian dijadikan cetakan dalam amplifikasi PCR. Hasil PCR menggunakan salah satu set primer menunjukkan adanya pita DNA spesifik berukuran sekitar 300, 500, dan 1.000 bp pada ikan yanghidup pascatantang. Hasil analisis sekuen menggunakan basic local alignment search tools (BLAST) menunjukkan bahwa produk PCR tersebut memiliki kesamaan 69%-88% dengan gen MHC I ikan C. gariepinus. Dengan demikian, fragmen MHC I tersebut dapat menjadi marka molekuler ikan lele tahan infeksi A. hydrophila.
DESAIN PRIMER SPESIFIK UNTUK DETEKSI DINI PENYAKIT VIBRIOSIS PADA UDANG PENAEID Ince Ayu Khairana Kadriah; Endang Susianingsih; Sukenda Sukenda; Munti Yuhana; Enang Harris
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.543 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.131-143

Abstract

Serangan Vibriosis, yang disebabkan oleh Vibrio harveyi berpendar pada budidaya udang telah menyebabkan penurunan yang signifikan dalam produksi, baik pada pembenihan maupun di tambak pembesaran. Pengembangan metode deteksi cepat berbasis PCR (Polymerase Chain Reaction) sangat penting untuk mencegah penularan vibriosis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan metode cepat deteksi vibriosis pada udang penaeid dengan menggunakan penanda molekuler yang spesifik. PCR berbasis deteksi gen spesifik dilakukan menggunakan primer spesifik toxR, haemolysin (vvh), dan gyrB. Dari 35 isolat, 22 isolat yang terdeteksi memiliki gen spesifik toxR, haemolysin (vvh) dan gen gyrB dan 9 isolat terdeteksi memiliki dua gen tertentu. Penanda molekuler spesifik telah dirancang menggunakan data urutan gen penyandi protein haemolysin dan gyrase. Desain pasangan primer yang didasarkan pada program perangkat lunak dari Primer3 dan secara manual menggunakan program perangkat lunak Bioedit. Tiga pasangan primer untuk gen haemolysin dan dua primer gyrase telah diperoleh dan dipilih sebagai primer.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN EKSPRESI GEN UDANG VANAME, Litopenaeus vannamei SETELAH DIRENDAM DALAM LARUTAN HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN IKAN KERAPU KERTANG Siti Subaidah; Odang Carman; Komar Sumantadinata; Sukenda Sukenda; Alimuddin Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.392 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.3.2012.359-369

Abstract

Pertumbuhan ikan dapat ditingkatkan menggunakan hormon pertumbuhan rekombinan. Penelitian ini bertujuan mengkaji respons pertumbuhan dan ekspresi gen udang vaname, Litopenaeus vannamei setelah direndam dengan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus (rElGH). Pada percobaan pertama, post larva stadia 2 (PL-2) sebanyak 1.500 ekor direndam selama 1 jam dalam 1 liter air laut yang mengandung rElGH lima dosis berbeda, yaitu 150; 15; 1,5; 0,15; dan 0,015 mg/L dan bovine serum albumin 0,01%. Setiap perlakuan diulang 3 kali. Perendaman dilakukan dalam kantong plastik ditambah oksigen (volume air :oksigen = 1:5). Udang dipelihara dalam akuarium volume 60 liter dengan kepadatan 25 ekor/litersampai PL-14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 15 mg/L memberikan peningkatan bobot badan, panjang badan, dan sintasan tertinggi (P<0,05) masing-masing sebesar 37,77%; 12,75%; dan 9,45% dibandingkan dengan kontrol. Ekspresi mRNA single insulin binding domain (SIBD) pada PL-14 yang dianalisis dengan realtime PCR menunjukkan kenaikan sebesar 3,3 kali pada udang yang direndam rElGH dibandingkan dengan kontrol, dan dapat dinyatakan bahwa SIBD berperan penting dalam induksi pertumbuhan. Tingkat ekspresi moult inhibiting hormone meningkat sekitar 13%, sedangkan ekspresi cyclopilin A pada udang yang direndam rElGH sama dengan kontrol. Pada percobaan kedua, perendaman PL-2 dalam larutan rElGH dosis 15 mg/L dengan lama waktu 3 jam meningkatkan bobot badan sebesar 62,18% lebih tinggi daripada perendaman 1 jam. Dengan demikian, perendaman udang dalam larutan rElGH meningkatkan pertumbuhan dan ekspresi gen SIBD, dan metode ini dapat berguna dalam peningkatan produksi budidaya. 
PROFIL PROTEIN VAKSIN Aeromonas hydrophila DAN Streptococcus agalactiae HASIL INAKTIVASI DENGAN FORMALIN: DIUJI MENGGUNAKAN Sodium Dodecyl Sulphate-Polyacrylamide Gel Electrophoresis Desy Sugiani; Angela Mariana Lusiastuti; Sukenda Sukenda; Enang Harris
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.177 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.3.2014.449-461

Abstract

Vaksin bakterin dalam bentuk protein merupakan salah satu tipe vaksin yang telah banyak dikembangkan. Protein digunakan sebagai vaksin biasanya dibuat dengan teknik inaktivasi formalin-killed. Vaksin ini biasanya lebih mudah dibuat, lebih murah, lebih stabil, dan mampu disimpan dalam waktu lama. Akan tetapi masih sedikit informasi mengenai efek perlakuan tersebut terhadap profil protein. Pada penelitian ini, untuk mengevaluasi profil protein, dilakukan inaktivasi sediaan vaksin dari isolat bakteri Aeromonas hydrophila AHL0905-2 dan Streptococcus agalactiae N14G dengan menambahkan 0,5% formalin dan 3% neutral buffer formalin (NBF) ke dalam biakan plasebo bakterin dan diinkubasi selama 24 jam. Kualitas produk vaksin ditentukan berdasarkan uji karakterisasi protein menggunakan metode Bradford dan SDS-PAGE. Hasil uji menunjukkan bahwa sediaan vaksin A. hydrophila dan S. agalactiae yang diinaktivasi dengan 3% NBF memiliki profil protein lebih variatif dibandingkan dengan sediaan vaksin yang diinaktivasi dengan 0,5% formalin. Akan tetapi, inaktivasi vaksin A. hydrophila dan S. agalactiae dengan 3% NBF menghasilkan berat total protein yang lebih rendah jika dibandingkan dengan dengan sediaan vaksin yang diinaktivasi dengan 0,5% formalin.
Co-Authors , Rahman, , , Ranta, , , Rusli, , . ARIFUDDIN . Maryani . Sunarto A. Hasan A. Santika A. Suwanto A. SUWANTO A.J. Sihombing ADE DWI SASANTI Ade Dwi Sasanti Aditya, Tiya Widi Afif, Usamah Afiff , Usamah Agung Cahyo Setyawan Ahmad Beni Rouf Aldy Mulyadin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alit Brilliant Aminatul Zahra Amrullah Amrullah Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Tenriulo Andi Tenriulo Angela M Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Anis Nugrahawati Annisa Astri Anggraeni Ardana Kurniaji Ayi Santika Azis Azis B. W. LAY Bambang Gunadi Bambang Gunadi Brite, Margie Cahyawati, Nadia Catur A. Pebrianto D. Dana D. Meha D. Wahjuningrum Daniel Djokosetiyanto Daniel Djokosetiyanto Daniel Djokosetiyanto DEBY YUNIASARI Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah, Dendi Desy Sugiani Desy Sugiani Dewi Rahmi DIAH AYU SATYARI UTAMI Dian Febriani Dinamella Wahjuningrum Dwi Agung Saputra E. Ayuzar E. Harris Eddy Supriyono Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Surawidjaja Enang Harris Surawidjaja Endang Susianingsih Endang Susianingsih Esti Handayani Hardi Eva Prasetiyono Eva Prasetiyono Pras F.H. Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fadilah, Iin Nur Fadlilah, Rizqy Aditya Fahmi Rajab Firmansyah, Arif Lukman Fitria Novianti Ghita Ryan Septiani Gustilatov, Muhamad Henky Manoppo Henky Manoppo Hisatsugu Wakabayashi Huda Salahudin Darusman Huda Shalahudin Darusman I Wayan Nurjaya I. Normalina I. Nur I. Tepu Ibnu Bangkit Bioshina Suryadi Ince Ayu Khairana Kadriah Ince Ayu Khairani Kadriah Inem Ode Iqbal Kurniawinata, Mohamad Irzal Effendi Isni Rahmatika Sari Jasmanindar, Yudiana Jean-Christophe Avarre Jeanni Indah Noermala Julie Ekasari K. Sumantadinata Khairun Nissa Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Kukuh Nirmala Kukuh Nirmala L. Jamal Lastriliah, Mira M. Yuhana M. Zairin Junior M.S. Arifin MIA SETIAWATI Mia Setiawati Mochamad Fatuchri Sukadi Mochamad Fatuchri Sukadi Muchtar, Muthahharah Muh. Aris Muh. Fatuhcri Sukadi MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Yamin Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muharram Nur Ikhsan Mulyani, Rahma MUNTI YUHANA N.A. Maswan Nasri Julaini Nasrullah, Hasan Nunak Nafiqoh Nunuk Listiyowati Nur Bambang Priyo Utomo Nurbariah Nurbariah Nuzullia, Laely Odang Carman Ode, Inem P. Hadi Pratiwi, Kiki Amalia Priadi Setyawan Putri, Shofii Amaliah R.D. Soejoedono Rafsyanzani, Muhammad Mufthi Rahma Mulyani Rahman Rahman Ramadhani, Dian Eka Ramhirez, Putri Shandra Retno Damayanti Soejoedono RIDWAN AFFANDI Ririn Nurul Fauziah, Ririn Nurul Rizki Praseto, Rizki Ronald Kriston Sauttua Nainggolan Rr. Bellya Anasti Maharani Rudi, Mad Ruku Ratu Borut Samsu Adi Rahman Sari Anggraeni, Sukma Sefti Heza Dwinanti, Sefti Heza Septiani, Ghita Ryan Siti Subaidah Sri Nuryati Sri Nuryati Sugeng Budiharsono Sugiyo Hadi Pranoto Suhermanto, Achmad Tatag Budiardi Tatik Mufidah Tatik Mufidah Trian Rizky Febriansyah Tsani Untsa, Agista Tuti Sumiati Tuti Sumiati Wesly Pasaribu Wida Lesmanawati Widanarni WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI Wisriati Lasima Wiyoto Wiyoto Woro Nur Endang Sariati Y. Hadiroseyani Y. Tri Anggoro Yan Evan Yosmaniar Yosmaniar Yosmaniar Yosmaniar Yumaidawati, Nurfitriani Siti Yuni Puji Hastuti Zulfani, Anisa