Claim Missing Document
Check
Articles

ISOLASI DAN SELEKSI BAKTERI PROBIOTIK DARI LINGKUNGAN TAMBAK DAN HATCHERI UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT VIBRIOSIS PADA LARVA UDANG WINDU, Penaeus monodon Widanarni Widanarni; Fahmi Rajab; Sukenda Sukenda; Mia Setiawati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.26 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.1.2010.103-113

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri probiotik yang mampu menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi untuk pengendalian penyakit vibriosis pada larva udang windu. Jumlah isolat bakteri yang berhasil diisolasi dari 34 sumber yang berbeda di lingkungan tambak dan hatcheri ada 118 isolat. Dari total isolat tersebut setelah diseleksi secara in vitro menggunakan metode Kirby-Bauer dipilih 3 isolat bakteri kandidat probiotik yang paling potensial dalam menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi MR5339, yaitu isolat 9a berasal dari Cyclotella dengan zona hambat 12,8 mm; isolat Ua berasal dari saluran pencernaan udang vaname dengan zona hambat 14,5 mm; dan isolat P17Bb berasal dari air pemeliharaan kerapu bebek dengan zona hambat 15,0 mm. Hasil uji patogenisitas dengan konsentrasi bakteri 106 CFU/mL menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut tidak bersifat patogen pada larva udang windu. Hasil uji tantang pada larva udang juga menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut mampu meningkatkan sintasan larva udang windu. Nilai sintasan larva pada perlakuan yang selain diinfeksi dengan V. harveyi MR5339 juga ditambah probiotik Ua, 9a, dan P17Bb masing-masing adalah 88,3%; 88,3%; dan 76,7% sedangkan pada perlakuan yang hanya diinfeksi dengan V. harveyi MR5339 tanpa probiotik nilai sintasannya hanya mencapai 65,0%. Populasi V. harveyi pada perlakuan dengan penambahan bakteri probiotik tampak lebih rendah dibanding perlakuan tanpa probiotik, hal ini menunjukkan kemungkinan adanya kompetisi antara bakteri V. harveyi dengan bakteri probiotik
STATUS KESEHATAN IKAN SIDAT (Anguilla sp.) PADA PERAIRAN UMUM DAN WADAH PEMELIHARAAN SEMENTARA Agung Cahyo Setyawan; Sukenda Sukenda; Sri Nuryati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1231.567 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.69-77

Abstract

Status kesehatan ikan sidat (Anguilla sp.) telah dianalisis untuk menunjukkan terjadinya penurunan stok karena infeksi patogen dan penangkapan benih berlebihan untuk budidaya. Di Indonesia, ketiadaan standar penangkapan, pemeliharaan dan budidaya menyebabkan terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas produksi ikan sidat. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi status kesehatan ikan sidat di perairan Indonesia dengan sampel dari Kabupaten Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah. Sampling dilakukan pada awal musim penghujan, yaitu bulan September hingga November 2012. Sebanyak 113 ekor ikan sidat ditangkap dan dianalisis dalam penelitian ini, dengan perincian 57 ekor diamati langsung setelah ditangkap dan 56 ekor diamati setelah dipelihara selama 10 hari oleh pengepul. Pengamatan dilakukan dengan metode observasi langsung menggunakan mikroskop untuk parasit, kit API 20NE (Biomeureux®) untuk bakteri dan pewarnaan standar haematoxylin-eosin untuk histopatologi. Terdapat empat jenis parasit (Nematoda: Camallanidae dan Anguillicoloides; Platyhelminthes: Monogenea dan Digenea) dan lima bakteri (Aeromonas hydrophylla, Pseudomonas luteola, Vibrio fluvialis, Aeromonas sobria, dan Aeromonas caviae) dari sampel ikan sidat dalam penelitian ini. Tidak terdapat perbedaan dalam komposisi patogen, namun terjadi perubahan dalam kondisi histopatologi sehingga pemeliharaan sementara oleh pengepul sebelum ikan sidat dibudidayakan memiliki potensi menurunkan kualitas benih untuk budidaya. 
STATUS KESEHATAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) YANG MENERIMA PAKAN BERSUPLEMEN KOMBINASI DAUN SIRIH (Piper betler leaf), JAMBU BIJI (Psidium guajava leaf), DAN KIPAHIT (Tithonia diversifolia leaf) Nunak Nafiqoh; Sukenda Sukenda; Muhamad Zairin Junior; Alimuddin Alimuddin; Angela Mariana Lusiastuti; Jean-Christophe Avarre
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.799 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.4.2018.357-365

Abstract

Tanaman obat telah banyak digunakan sebagai bahan pencegah dan pengobatan penyakit pada ikan budidaya. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui status kesehatan ikan lele (C. gariepinus) yang menerima pakan dengan suplemen tanaman obat kombinasi dari daun sirih, jambu biji, dan kipahit melalui pengamatan gambaran darah dan histologi ginjal sebagai organ yang memproduksi darah. Kombinasi satu merupakan kombinasi dari ketiga daun tanaman obat masing-masing sebanyak 33%, kombinasi dua juga terdiri dari daun sirih, jambu biji, dan kipahit masing-masing sebanyak 5%:19%:76%, dan kontrol yaitu pakan tanpa penambahan tanaman obat. Gambaran darah dan histologi ginjal diamati pada minggu ketiga setelah pemberian pakan. Hasil pengamatan gambaran darah menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah sel darah merah pada ikan yang menerima pakan perlakuan dibandingkan dengan kontrol (0,4 ± 0,14). Namun tidak terdapat perbedaan nyata antara jumlah sel darah merah dari kelompok perlakuan kombinasi satu dan dua (1,5 ± 0,17 dan 1,4 ± 0,1). Jumlah sel darah putih pada kelompok perlakuan juga meningkat dibandingkan dengan kelompok kontrol (10,5 ± 0,46), namun tidak terdapat perbedaan nyata antara kelompok perlakuan kombinasi satu dan dua (15,1 ± 1,19 dan 17,6 ± 1,14). Hasil pengamatan histologi terlihat jaringan hematopoietik organ ginjal dari kelompok yang menerima perlakuan berproliferasi lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol. Namun tidak ada pengaruh pada nilai hemoglobin dan persentase leukosit diferensiasi antara kelompok perlakuan dan kontrol. Penambahan daun tanaman obat dalam pakan ikan mampu meningkakan status kesehatan dari ikan lele.Medicinal herbs have been traditionally used as prophylactic and therapeutic supplement to treat diseases in aquaculture. This study was aimed to improve the health quality of catfish (C. gariepinus) through feeding on diets enriched with a combination of betel, guava, and tithonia as medicine by analyzing hematology and histology of kidney as blood producing organ. Diet-one was feed enrich with 33% of each plant. Diet-two was feed enriched with betel, guava, and tithonia at a proportion of 5%,19%, and 76%, respectively. Control diet was fed without the plants’ supplementation. Hematology and histology of fish kidney were observed after fish received three-week feed treatments. The results showed that there was an increase of erythrocyte levels in the treated fish groups fed with diet-one and diet-two compared with the control (0.4 ± 0.14). However, no significant differences of erythrocyte level were observed between fish groups fed with diet -one and die-two (1.5 ± 0.17 and 1.4 ± 0.1). Leucocyte levels also increased in the treated fish group with diet-one and diet-two compared to the control (10.5 ± 0.46). However, there was no significant difference of leucocyte level between the fish group feed with diet-one and diet-two (15.1 ± 1.19 and 17.6 ± 1.14). Histological observations found that there were more hematopoietic tissues in the fish kidney of proliferated treated group than the control group. However, there was no effect on hemoglobin level and leukocyte percentage differentiation between the treatment and control groups. This study concludes that medicinal herbs as enrichment ingredients in fish diet can increase the health quality of fish.
SELEKSI BAKTERI PROBIOTIK UNTUK BIOKONTROL VIBRIOSIS PADA LARVA UDANG WINDU, Penaeus monodon MENGGUNAKAN CARA KULTUR BERSAMA Widanarni Widanarni; I. Tepu; Sukenda Sukenda; Mia Setiawati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.757 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.95-105

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri probiotik yang mampu menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi mengggunakan metode kultur bersama. Sebanyak 51 isolat kandidat probiotik berhasil diisolasi dari larva udang dan lingkungan pemeliharaannya di Balai Pengembangan Benih Ikan Air Payau dan Udang (BPBILAPU), Pangandaran serta hatcheri udang PT Biru Laut Khatulistiwa dan tambak udang intensif di Lampung. Dari total isolat tersebut setelah diseleksi secara in vitro menggunakan metode kultur bersama dipilih 3 isolat kandidat probiotik yang paling potensial dalam menekan atau menghambat pertumbuhan V. harveyi MR 5399 RfR yakni 1Ub, P20Bf, dan 10a. Ketiga isolat tersebut selanjutnya digunakan pada uji patogenisitas dan uji tantang pada larva udang windu. Hasil uji patogenisitas dengan konsentrasi bakteri 106 CFU/mL menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut tidak bersifat patogen pada larva udang windu. Hasil uji tantang pada larva udang juga menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut mampu meningkatkan sintasan larva udang windu. Nilai sintasan larva pada perlakuan yang selain diinfeksi dengan V. harveyi MR5399 RfR juga ditambah probiotik 1Ub, P20Bf, dan 10a masing-masing adalah 90,0%; 86,7%; dan 78,3% sedangkan pada perlakuan yang hanya diinfeksi dengan V. harveyi MR5399 RfR tanpa probiotik nilai sintasannya hanya mencapai 73,3%. Populasi bakteri V. harveyi pada perlakuan dengan penambahan bakteri probiotik lebih rendah dibanding perlakuan tanpa probiotik, hal ini menunjukkan kemungkinan adanya kompetisi antara bakteri V. harveyi dengan 1Ub.This research was aimed to obtain probiotic bacteria that can be used to inhibit the growth of Vibrio harveyi using co-culture method. This method succeeded in isolating 51 probiotic bacteria candidates from shrimp larva and their rearing environment in Balai Pengembangan Benih Ikan Laut Payau dan Udang (BPBILAPU), Pangandaran and shrimp hatchery of PT Biru Laut Khatulistiwa and intensively managed shrimp pond in Lampung. After in vitro selection of the total isolates using co-culture method, three most potential probiotic bacteria candidates in inhibiting or suppressing growth of V. harveyi MR 5399 RfR bacteria were chosen. The three isolates were then used in pathogenicity and challenge test in tiger shrimp larva. Results of pathogenicity test at the concentration of 106 CFU/mL bacteria showed that the three isolates were not pathogen to tiger shrimp larvae. Challenge test results in shrimp larvae also showed that the three isolates could increase survival rates of tiger shrimp larva. Larva survival rate value of treatment using V. harveyi MR5399 RfR with 1Ub, P20Bf, dan 10a probiotic were 90.0%, 86.7% dan 78.3%, respectively; whereas infection treatment merely using V. harveyi MR5399 RfR without probiotic only gave 73.3% survival rate. V. harveyi population in treatment with addition of probiotic bacteria were lower than that of without probiotic. This suggested the existence of possible competition between V. harveyi and 1Ub bacteria.
TOKSISITAS SEL UTUH DAN EXTRACELLULAR PRODUCT (ECP) Streptococcus agalactiae β-HEMOLITIK DAN NON-HEMOLITIK PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Achmad Suhermanto; Sukenda Sukenda; Muhammad Zairin Jr.; Angela Mariana Lusiastuti; Sri Nuryati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.4.2018.317-328

Abstract

Bakteri Streptococcus agalactiae tipe β-hemolitik dan non-hemolitik menjadi agen penyebab infeksi streptococcosis yang mengakibatkan kematian dan kerugian besar pada budidaya ikan nila. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan toksisitas sel utuh dan extracellular product (ECP) bakteri b-hemolitik dan non-hemolitik yang diinjeksikan pada ikan nila. Karakterisasi S. agalactiae berdasarkan SNI dan API 20 STREP, serta pemisahan protein dengan metode SDS-PAGE. Pengujian toksisitas dilakukan dengan cara menginjeksikan sel utuh dan ECP S. agalactiae secara intraperitoneal (IP) dengan dosis 0,1 mL ekor-1. Hasil uji biokimia, dan konfirmasi dengan API 20 STREP menunjukkan bahwa semua isolat positif S. agalactiae. Fraksinasi protein pada sel utuh bakteri diperoleh pita protein masing-masing sebanyak sembilan dan tujuh pita pada tipe β-hemolitik dan non-hemolitik. Fraksinasi ECP teridentifikasi pada β-hemolitik sebanyak tujuh pita dan non-hemolitik empat pita protein. Konsentrasi protein sel utuh dan ECP b-hemolitik lebih besar dibandingkan bakteri non-hemolitik. Gejala abnormalitas lebih cepat terjadi pada ikan nila yang diinjeksi ECP bakteri b-hemolitik dan berbanding lurus dengan kematian sebanyak 91%-100% pada jam ke-13 pascainjeksi. Hasil ini menunjukkan bahwa ECP bakteri S. agalactiae β-hemolitik lebih virulen dibandingkan tipe non-hemolitik. Hingga akhir pemeliharaan tidak ada kematian pada ikan yang diinjeksi sel utuh bakteri S. agalactiae b-hemolitik dan non-hemolitik. Studi histopatologi ikan yang diinjeksi ECP S. agalactiae pada organ hati, limpa, otak, dan ginjal menunjukkan adanya kongesti, hemoragi, dan nekrosis.The β-hemolytic and non-hemolytic biotype of Streptococcus agalactiae are the agents that cause streptococcosis infection which resulted in high mortality and major losses in tilapia culture. This study aimed to compare the toxicity of whole cell and extracellular product (ECP) b-hemolytic and non-hemolytic bacteria from injected tilapia. Characterization of S. agalactiae was based on SNI and API 20 STREP and protein separation by SDS-PAGE method. Toxicity test was carried out by injecting whole cells and ECP S. agalactiae intraperitoneally with a dose of 0.1 mL fish-1. The results of biochemical tests, with confirmation by API 20 STREP showed that all isolates were positive for S. agalactiae. Protein fractionation of whole bacterial cells obtained as many as nine and seven bands of protein in b-hemolytic and non hemolytic biotype, respectively. ECP fractionation was identified in β-hemolytic biotype as many as seven bands and four protein bands in non-hemolytic. The whole cell protein concentration and ECP β-hemolytic were higher than non-hemolytic bacteria. Symptoms of abnormalities occurred faster in tilapia which was injected with ECP b-hemolytic bacteria and had positive correlation with 91%-100% mortalities at the 13th hours post-injection. This results indicated that ECP of S. agalactiae β-hemolytic are more virulent than non-hemolytic. Until the end of the trial, there were no deaths in fish injected with whole cells of b-hemolytic and non-hemolytic S. agalactiae. Histopathological studies of ECP-injected fish S. agalactiae in the liver, spleen, brain, and kidneys showed congestion, hemorrhage, and necrosis. 
PENGEMBANGAN METODE ELISA UNTUK MENDETEKSI RESPON IMUN SPESIFIK PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIVAKSINASI TERHADAP Aeromonas hydrophila DAN Streptococcus agalactiae Tuti Sumiati; Sukenda Sukenda; Sri Nuryati; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.171 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.243-250

Abstract

Ko-infeksi bakteri Aeromonas hydrophila dan Streptococcus agalactiae rentan terjadi pada budidaya nila, sehingga pencegahan menggunakan vaksin koktail yang mengandung kedua bakteri tersebut merupakan langkah yang tepat untuk pengendaliannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa respon imun spesifik (antibodi) serum ikan nila yang divaksinasi dengan vaksin koktail A. hydrophila dan S. agalactiae dengan menggunakan ELISA. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama adalah optimalisasi ELISA, yang terdiri atas persiapan antigen dan penentuan konsentrasi optimum antigen untuk deteksi antibodi dan tahap kedua adalah mendeteksi antibodi pasca vaksinasi ikan nila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi optimum antigen A. hydrophila dan S. agalactiae untuk penentuan antibodi dalam ikan nila masing-masing sebesar 10 μg/mL. Konsentrasi tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi serum pada ikan nila setelah diberi vaksin koktail A. hydrophila dan S. agalactiae. Titer antibodi ikan nila pada minggu kedua sampai pada minggu kelima pada kelompok vaksinasi secara signifikan lebih tinggi dibanding kontrol (P<0,05).
POTENSI ANTI OKSIDAN DAN ANTI BAKTERI Chromolaena odorata TERHADAP Vibrio harveyi PENYEBAB PENYAKIT BLACK BODY SYNDROME PADA KAKAP PUTIH (Lates calcarifer) Nurbariah Nurbariah; Sukenda Sukenda; Muhammad Zairin Junior; Sri Nuryati; Dinamella Wahjuningrum
Jurnal Riset Akuakultur Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.38 KB) | DOI: 10.15578/jra.16.2.2021.117-124

Abstract

Kandungan bahan bioaktif pada tanaman memiliki beragam potensi aktivitas biologis dan dimanfaatkan dalam budidaya ikan sebagai alternatif untuk pencegahan dan pengobatan penyakit ikan. Serapoh (Chromolaena odorata) diketahui memiliki bahan bioaktif namun penerapan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit pada kakap putih belum pernah diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi antioksidan dan antibakteri daun serapoh secara in vitro terhadap Vibrio harveyi penyebab penyakit black body syndrome pada benih kakap putih. Penelitian secara in vitro melingkupi analisis fitokimia, uji antioksidan dan antibakteri. Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak daun serapoh mengandung flavonoid, tannin, saponin, dan steroid. Rendemen dari hasil maserasi dengan pelarut akuades, etanol, etil asetat, dan n-heksan berturut-turut adalah 11,34%; 9,13%; 4,21%; dan 1,48%. Ekstrak etil asetat memiliki kandungan total fenol yang tertinggi (212,8 mg/g) dibanding ekstrak yang lain. Kandungan total flavonoid yang tertinggi terdapat pada ekstrak etanol (195,5 mg/g) diikuti dengan ekstrak etil asetat (20,2 mg/g), n-heksan (10,6 mg/g), dan akuades (8,1 mg/g). Nilai potensi antioksidan ekstrak etanol lebih tinggi (86,59%) dibanding ekstrak yang lain namun potensi antioksidan ekstrak etanol, etil asetat, dan akuades tidak berbeda nyata dengan asam askorbat sebagai pembanding. Ekstrak etanol, etil asetat, dan n-heksan dapat menghambat pertumbuhan V. harveyi. Ekstrak etanol bersifat bakteriostatik (1,25 mg/mL) dan bakterisidal (5 mg/mL), serta menyebabkan kerusakan sel sehingga metabolit seluler seperti asam nukleat dan protein dapat keluar dari sel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun serapoh memiliki potensi antioksidan dan antibakteri terhadap V. harveyi sehingga dapat digunakan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit black body syndrome pada benih kakap putih.Bioactive compounds in plants have various potential biological activities and are commonly used in fish farming as alternatives to prevent and treat fish diseases. Serapoh (Chromolaena odorata) is known to have bioactive compounds, yet its application to prevent disease in Asian seabass has not been studied. This study aimed to evaluate the antioxidant and antibacterial potential of serapoh leaves in vitro against Vibrio harveyi, causing black body syndrome disease in Asian seabass. The performed tests in this study consisted of phytochemical analysis, antioxidant, and antibacterial tests. The results showed that serapoh leaf extract contains flavonoids, tannins, saponins, and steroids. The yields obtained from maceration with aquadest, ethanol, ethyl acetate, and n-hexane solvents were 11.34%; 9.13%; 4.21%; and 1.48%, respectively. Ethyl acetate extract had the highest total phenol content (212.8 mg/g) compared to the other extracts. Ethanol extract has the highest total flavonoid content (195.5 mg/g) followed by ethyl acetate (20.2 mg/g), n-hexane (10.6 mg/g), and aquadest (8.1 mg/g). The highest antioxidant potential value was shown by ethanol extract (85.59%), but the antioxidant potentials of ethanol, ethyl acetate, and aquadest extracts were not significantly different from ascorbic acid. Ethanol, ethyl acetate, and n-hexane extracts can inhibit the growth of V. harveyi. Ethanol extract has bacteriostatic (1.25 mg/mL) and bactericidal (5 mg/mL) properties. The exposure of V. harveyi to ethanol extract resulted in cellular damage that can release cellular metabolites such as nucleic acids and proteins. In conclusion, serapoh leaf extract had antioxidant and antibacterial potential against V. harveyi and could be used to prevent or treat black body syndrome in Asian seabass.
TOKSISITAS PROTEIN 89 kDa PRODUK EKSTRASELULER Streptococcus agalactiae PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Amrullah Amrullah; Sukenda Sukenda; Enang Harris; Alimuddin Alimuddin; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.612 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.397-403

Abstract

Identifikasi protein toksin yang bersifat antigenik dari produk ekstraselular (ECP) crude Streptococcus agalactiae penting dilakukan untuk pengembangan vaksin protein toksoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas protein dengan berat molekul 89 kDa dari ECP Streptococcus agalactiae hasil fraksinasi dengan SDS-PAGE (ECPP89). Ikan nila dengan bobot sekitar 25 g masing-masing diinjeksi secara intraperitonial dengan protein ECPP89 dosis 1, 2, 4, 8, dan 16 μg/mL/ekor ikan (secara berturut-turut diberi kode ECPP89-1, ECPP89-2, ECPP89-4, ECPP89-8, dan ECPP89-16). Sebagai kontrol positif ikan diinjeksi dengan bakteri utuh S. agalactiae 1 x 104 cfu/mL (WCB) dan ECP crude S. agalactiae (ECPC), sementara kontrol negatif ikan diinjeksi larutan PBS. Ikan dipelihara selama 15 hari dengan kepadatan 10 ekor (70 L air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan nila yang diinjeksi dengan ECPP89 mengalami gejala seperti perubahan morfologi, perubahan nafsu makan, dan perubahan renang ikan. Mortalitas pada perlakuan ECPP89 secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan ECPC, namun lebih rendah (p<0,05) dibandingkan dengan WCB. Mortalitas ikan pada perlakuan ECPP89-4, ECPP89-8, dan ECPP89-16 tidak berbeda tetapi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan ECPC dan dua dosis perlakuan ECPP89 lainnya (p<0,05). Ikan kontrol negatif tidak mengalami kematian maupun perubahan klinis. Hasil ini menunjukkan bahwa ECPP89 merupakan protein toksin dari ECP S. agalactiae.
TOKSISITAS SUBLETAL MOLUSKISIDA NIKLOSAMIDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KONDISI HEMATOLOGI YUWANA IKAN MAS (Cyprinus carpio) Yosmaniar Yosmaniar; Eddy Supriyono; Kukuh Nirmala; Sukenda Sukenda
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.688 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.385-393

Abstract

Niklosamida digunakan secara intensif sebagai pestisida di sawah untuk membunuh keong mas (Pomacea sp.). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh toksisitas subletal moluskisida niklosamida terhadap pertumbuhan dan kondisi hematologi yuwana ikan mas (Cyprinus carpio). Penelitian dilakukan di Instalasi Riset Lingkungan Perikanan Budidaya dan Toksikologi Cibalagung Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Waktu penelitian 12 minggu. Perlakuan adalah konsentrasi moluskisida niklosamida, yaitu: 0,00 (kontrol); 0,01; 0,03; dan 0,05 mg/L. Menggunakan 16 akuarium ukuran 70 cm x 50 cm x 60 cm. Benih ikan mas yang digunakan berkisar 2,5-3,0 gram dipelihara dengan kepadatan 20 ekor dalam volume air 40 L. Selama pemaparan ikan uji diberi pakan secara at satiation serta dilakukan pergantian air setiap 48 jam dengan konsentrasi bahan uji yang sama. Peubah yang diukur adalah laju pertumbuhan dan kondisi hematologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi subletal moluskisida niklosamida berpengaruh nyata terhadap penurunan pertumbuhan terjadi mulai pada konsentrasi 0,03 mg/L sedangkan terhadap kondisi hematologi, yaitu peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada konsentrasi 0,01 mg/L dan peningkatan jumlah eritrosit pada konsentrasi 0,03 mg/L, dan penurunan leukosit pada konsentrasi 0,03 mg/L.Niklosamida digunakan secara intensif sebagai pestisida di sawah untuk membunuh keong mas (Pomacea sp.). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh toksisitas subletal moluskisida niklosamida terhadap pertumbuhan dan kondisi hematologi yuwana ikan mas (Cyprinus carpio). Penelitian dilakukan di Instalasi Riset Lingkungan Perikanan Budidaya dan Toksikologi Cibalagung Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Waktu penelitian 12 minggu. Perlakuan adalah konsentrasi moluskisida niklosamida, yaitu: 0,00 (kontrol); 0,01; 0,03; dan 0,05 mg/L. Menggunakan 16 akuarium ukuran 70 cm x 50 cm x 60 cm. Benih ikan mas yang digunakan berkisar 2,5-3,0 gram dipelihara dengan kepadatan 20 ekor dalam volume air 40 L. Selama pemaparan ikan uji diberi pakan secara at satiation serta dilakukan pergantian air setiap 48 jam dengan konsentrasi bahan uji yang sama. Peubah yang diukur adalah laju pertumbuhan dan kondisi hematologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi subletal moluskisida niklosamida berpengaruh nyata terhadap penurunan pertumbuhan terjadi mulai pada konsentrasi 0,03 mg/L sedangkan terhadap kondisi hematologi, yaitu peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada konsentrasi 0,01 mg/L dan peningkatan jumlah eritrosit pada konsentrasi 0,03 mg/L, dan penurunan leukosit pada konsentrasi 0,03 mg/L. four treatments containing four replications of different nilosamide concentrations: 0.00; 0.01; 0.03; 0.05 mg/L for 12 weeks were applied. Specific growth rate and hematology condition were measured. Blood samples were collected at the first, fourth, eighth, and twelfth weeks of exposure time. Result of the research indicated that  concentration of 0.03 mg/L niclosamide was significantly effective (P< 0.05) in decreasing specific growth rate (0.62%). The sublethal concentration of 0.01mg/L increased hematocrit and hemoglobin levels while concentration of niclosamide of 0.03 mg/L increased erythrocyte cells and decreasing leucocyte cells.
DETEKSI Vibrio parahaemolyticus MENGGUNAKAN MARKA GEN PirA PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DENGAN REAL TIME PCR Ronald Kriston Sauttua Nainggolan; Munti Yuhana; Sukenda Sukenda; Woro Nur Endang Sariati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3586.592 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.2.2020.111-119

Abstract

Pengujian validitas deteksi Vibrio parahaemolyticus strain AHPND pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan metode real time PCR dilakukan melalui tahapan pengujian yang mencakup spesifisitas, sensitivitas, repitabilitas, reproduktivitas, dan uji lapang pada tambak-tambak udang vaname di Indonesia. Uji performa analitik menunjukkan bahwa metode real time PCR dengan penciri gen VpPirA spesifik dalam mendeteksi V. parahaemolyticus strain AHPD dan memiliki sensitivitas hingga 10 kopi µL-1. Nilai cut off metode qPCR primer VpPirA adalah di Ct 39. Metode real time PCR dengan primer spesifik VpPirA juga memiliki nilai repitabilitas dan reproduktivitas yang baik dalam mendeteksi V. parahaemolyticus strain AHPND. Semua pengujian performa analitik metode qPCR telah memenuhi syarat keberterimaan dan dapat digunakan sebagai metode pengujian untuk mendeteksi V. parahaemolyticus strain AHPND. Hasil uji lapang untuk seluruh sampel yang berasal dari tambak udang vaname menunjukkan hasil negatif terinfeksi V. parahaemolyticus strain AHPND. Studi ini menyarankan bahwa metode real time PCR efektif dan valid dalam mendeteksi V. parahaemolyticus strain AHPND.Testing the validity of Vibrio parahaemolyticus AHPND (Vp AHPND) strain detection in whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) by real-time PCR method was carried out through several stages including specificity, sensitivity, repeatability, reproducibility, and sampling field tests in shrimp ponds in Indonesia. Analytical performance test showed that the use of real-time PCR method with VpPirA primer was effective in detecting Vp AHPND strain and had a sensitivity of up to 10 copies µL-1. The cut off value qPCR method of the primer VpPirA is at Ct 39. The real-time PCR method using VpPirA primer also has good repeatability and reproducibility values in detecting Vp AHPND strain. All analytical performance testings of the qPCR method meet the standard requirements to detect Vp AHPND strain. The result of field tests for all whiteleg shrimp samples from the shrimp ponds revealed negative infection of Vp AHPND. This study suggests that the real time PCR is effective and valid in detecting V. parahaemolyticus AHPND strain.
Co-Authors , Rahman, , , Ranta, , , Rusli, , . ARIFUDDIN . Maryani . Sunarto A. Hasan A. Santika A. SUWANTO A. Suwanto A.J. Sihombing ADE DWI SASANTI Ade Dwi Sasanti Aditya, Tiya Widi Afif, Usamah Afiff , Usamah Agung Cahyo Setyawan Ahmad Beni Rouf Aldy Mulyadin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alit Brilliant Aminatul Zahra Amrullah Amrullah Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Tenriulo Andi Tenriulo Angela M Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Anis Nugrahawati Annisa Astri Anggraeni Ardana Kurniaji Ayi Santika Azis Azis B. W. LAY Bambang Gunadi Bambang Gunadi Brite, Margie Cahyawati, Nadia Catur A. Pebrianto D. Dana D. Meha D. Wahjuningrum Daniel Djokosetiyanto Daniel Djokosetiyanto Daniel Djokosetiyanto DEBY YUNIASARI Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah, Dendi Desy Sugiani Desy Sugiani Dewi Rahmi DIAH AYU SATYARI UTAMI Dian Febriani Dinamella Wahjuningrum Dwi Agung Saputra E. Ayuzar E. Harris Eddy Supriyono Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Surawidjaja Enang Harris Surawidjaja Endang Susianingsih Endang Susianingsih Esti Handayani Hardi Eva Prasetiyono Eva Prasetiyono Pras F.H. Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fadilah, Iin Nur Fadlilah, Rizqy Aditya Fahmi Rajab Firmansyah, Arif Lukman Fitria Novianti Ghita Ryan Septiani Gustilatov, Muhamad Henky Manoppo Henky Manoppo Hisatsugu Wakabayashi Huda Salahudin Darusman Huda Shalahudin Darusman I Wayan Nurjaya I. Normalina I. Nur I. Tepu Ibnu Bangkit Bioshina Suryadi Ince Ayu Khairana Kadriah Ince Ayu Khairani Kadriah Inem Ode Iqbal Kurniawinata, Mohamad Irzal Effendi Isni Rahmatika Sari Jasmanindar, Yudiana Jean-Christophe Avarre Jeanni Indah Noermala Julie Ekasari K. Sumantadinata Khairun Nissa Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Kukuh Nirmala Kukuh Nirmala L. Jamal Lastriliah, Mira M. Yuhana M. Zairin Junior M.S. Arifin MIA SETIAWATI Mia Setiawati Mochamad Fatuchri Sukadi Mochamad Fatuchri Sukadi Muchtar, Muthahharah Muh. Aris Muh. Fatuhcri Sukadi MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Yamin Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muharram Nur Ikhsan Mulyani, Rahma MUNTI YUHANA N.A. Maswan Nasri Julaini Nasrullah, Hasan Nunak Nafiqoh Nunuk Listiyowati Nur Bambang Priyo Utomo Nurbariah Nurbariah Nuzullia, Laely Odang Carman Ode, Inem P. Hadi Pratiwi, Kiki Amalia Priadi Setyawan Putri, Shofii Amaliah R.D. Soejoedono Rafsyanzani, Muhammad Mufthi Rahma Mulyani Rahman Rahman Ramadhani, Dian Eka Ramhirez, Putri Shandra Retno Damayanti Soejoedono RIDWAN AFFANDI Ririn Nurul Fauziah, Ririn Nurul Rizki Praseto, Rizki Ronald Kriston Sauttua Nainggolan Rr. Bellya Anasti Maharani Rudi, Mad Ruku Ratu Borut Samsu Adi Rahman Sari Anggraeni, Sukma Sefti Heza Dwinanti, Sefti Heza Septiani, Ghita Ryan Siti Subaidah Sri Nuryati Sri Nuryati Sugeng Budiharsono Sugiyo Hadi Pranoto Suhermanto, Achmad Tatag Budiardi Tatik Mufidah Tatik Mufidah Trian Rizky Febriansyah Tsani Untsa, Agista Tuti Sumiati Tuti Sumiati Wesly Pasaribu Wida Lesmanawati Widanarni WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI Wisriati Lasima Wiyoto Wiyoto Woro Nur Endang Sariati Y. Hadiroseyani Y. Tri Anggoro Yan Evan Yosmaniar Yosmaniar Yosmaniar Yosmaniar Yumaidawati, Nurfitriani Siti Yuni Puji Hastuti Zulfani, Anisa