Claim Missing Document
Check
Articles

PEMANFAATAN MADU UNTUK MENINGKATKAN RESPONS IMUN DAN RESISTANSI UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) TERHADAP INFEKSI White Spot Syndrome Virus Widanarni Widanarni; Muhamad Gustilatov; Sukenda Sukenda; Diah Ayu Satyari Utami
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.1.2019.59-69

Abstract

Wabah penyakit white spot diseases (WSD) akibat infeksi white spot syndrome virus (WSSV) menyebabkan penurunan produksi udang global. Alternatif pencegahan infeksi WSSV dapat dilakukan melalui peningkatan respons imun udang dengan aplikasi madu sebagai prebiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pemberian madu dalam meningkatkan respons imun dan resistansi udang vaname (Litopenaeus vannamei) terhadap infeksi WSSV. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan yang meliputi perlakuan kontrol positif (tanpa pemberian madu dan diuji tantang dengan WSSV), kontrol negatif (tanpa pemberian madu dan tanpa uji tantang dengan WSSV), pemberian madu pada dosis 0,2%; 0,4%; dan 0,6%; serta diuji tantang dengan WSSV. Udang vaname berukuran 0,4 ± 0,11 g diberi pakan komersial dengan penambahan madu selama 10 minggu sebelum diuji tantang dengan WSSV, kemudian udang diuji tantang dengan WSSV dan diamati sintasan, serta parameter respons imunnya selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter respons imun udang yang diberi perlakuan madu meliputi total haemocyte count (THC), aktivitas fagositik (AF), respiratory burst (RB), dan phenoloxidase (PO), baik sebelum maupun setelah uji tantang dengan WSSV lebih baik (P<0,05) dibanding kontrol. Pada akhir uji tantang, sintasan udang yang diberi perlakuan madu pada dosis 0,4% dan 0,6% masing-masing mencapai 66,67%; sedangkan pada perlakuan kontrol positif hanya mencapai 36,67%. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian madu pada dosis 0,4% efektif meningkatkan respons imun dan resistansi udang vaname terhadap infeksi WSSV.White spot disease (WSD) outbreaks due to white spot syndrome virus (WSSV) infection cause the decline of the global shrimp production. The alternative prevention method against WSSV infection can be done by the improvement of immune responses through the application of honey as a prebiotic. This study aimed to evaluate the effectiveness of the administration of honey in improving immune responses and resistance of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) against WSSV infection. This study consisted of five treatments and triplicates including positive control (without the administration of honey and challenged by WSSV); negative control (without the administration of honey and without the challenge test with WSSV); the administration of honey at doses of 0.2%, 0.4%, and 0,6% and challenged by WSSV. Pacific white shrimp sized 0.4 ± 0.11 g were fed commercial feed with the addition of honey for 10 weeks before challenged by WSSV, then the shrimp were challenged by WSSV and were observed their survival and immune responses parameters for seven days. The results of the study showed that immune responses parameters of the shrimp treated by honey treatments including total haemocyte count (THC), phagocytic activity (PA), respiratory burst (RB), and phenoloxidase (PO), both before and after the challenge test with WSSV were better (P<0.05) compared to control. At the end of the challenge test, the survival of the shrimp treated with honey treatments at doses of 0.4% and 0.6% reached 66.67%, while that of positive control treatment only reached 36.67%. These results indicated that the administration of honey at a dose of 0.4% was effective to improve immune responses and resistance of Pacific white shrimp against WSSV infection.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN KERAGAAN DARAH DARI TIGA STRAIN IKAN NILA TERHADAP PEMBERIAN HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN IKAN KERAPU KERTANG Nunuk Listiyowati; Alimuddin Alimuddin; Sukenda Sukenda; Priadi Setyawan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.867 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.481-492

Abstract

Berbagai strain ikan nila sudah berhasil dibudidayakan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penambahan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus (rElGH) dalam pakan terhadap performa pertumbuhan dan imunitas tiga strain ikan nila terhadap infeksi bakteri Streptococcus agalactiae. Tiga strain nila yang digunakan adalah strain nila biru (hasil pemuliaan di Sukamandi), srikandi (toleran salinitas tinggi dari Sukamandi) dan nirwana (hasil pemuliaan di Wanayasa)dengan kisaran rerata bobot 0,24-0,4 g/ekor dan panjang standar 1,9-2,27 cm/ekor. Ikan dipelihara dalam bak fiber bulat kapasitas 1,5 ton air sebanyak sembilan buah selama 50 hari, dengan padat tebar 200 ekor/bak. Pakan mengandung rElGH dosis 2 mg/kg pakan diberikan dua hari sekali, selama dua minggu dengan frekuensi tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore) secara at satiation (sampai kenyang). Hasil penelitian menunjukkan ikan yang diberi rElGH memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kontrol, kecuali nila biru. Pertumbuhan terbaik terdapat pada nila srikandi dengan bobot 6,08 ± 1,26 g; laju pertumbuhan harian 0,12 ± 0,03 g/hari dan panjang standar 5,5 ± 0,63 cm. Ikan nila yang mendapatkan perlakuan rElGH pada pakan menunjukkan ketahanan tubuh yang berbeda ketika diuji tantang dengan bakteri S. agalactiae. Ikan nila nirwana memiliki jumlah kematian yang paling sedikit P<0,05) dibandingkan dengan ikan nila srikandi dan nila biru terhadap infeksi S. agalactiae. Nilai MTD ikan nila nirwana perlakuan rElGH dan kontrol adalah 174,3 jam dan 217,7 jam. Hasil pengamatan uji tantang menunjukkan bahwa tidak ada yang berbeda dalam parameter hematologi. Sebagai kesimpulan, strain ikan nila sangat memengaruhi efektivitas pemberian rElGH dalam memacu pertumbuhan dan imunitasnya.
ANALYSIS OF THE PATHOGENESIS OF Aeromonas hydrophila IN THE AFRICAN CATFISH, Clarias gariepinus AND INVOLVEMENT OF THE TNF-a IN RESPONSE TO THE INFECTION Tatik Mufidah; Sukenda Sukenda; Widanarni Widanarni; Huda Salahudin Darusman; Angela Mariana Lusiastuti
Indonesian Aquaculture Journal Vol 17, No 1 (2022): (June, 2022)
Publisher : Center for Fisheries Research, Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resource

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/iaj.17.1.2022.73-85

Abstract

This research aimed to study the pathogenesis of Aeromonas hydrophila infection through two different routes of infection in African catfish and to find out the involvement of TNF-a in response to the infection. The experimental infection model was performed by clipping the caudal fin and immersing the fish in a medium with A. hydrophila and by intramuscular injection. Total plate count were used to investigate total and the distribution of A. hydrophila in the organs and TNF-a were observed using immune histochemistry. The results showed that the two types of infection were able to show typical A. hydrophila symptoms in experimental fish. Histological observation indicated that the two types of experimental infection resulted in systemic aeromoniasis infection. Total bacterial count results showed that A. hydrophila were detected three hours post-infection (hpi) in all organs, except for the kidney, in which detection started since hour 0, both in control and challenge fish. TNF-a were detected in all experimental fish and influenced by the number of bacteria, the function and tissue structure and of the organs. It can be concluded that artificial infection by clipping the caudal fin of Clarias gariepinus and immersing the fish in a medium with active A. hydrophila isolates cause systemic aeromoniasis infection in organs. Acute infection with Aeromonas hydrophila causes an increase in TNF-a production.
PROFIL FARMAKOKINETIK OKSITETRASIKLIN PADA IKAN LELE, Clarias gariepinus DENGAN INFEKSI ARTIFISIAL Aeromonas hydrophila Tatik Mufidah; Sukenda Sukenda; Widanarni Widanarni; Huda Shalahudin Darusman; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.702 KB) | DOI: 10.15578/jra.17.1.2022.47-57

Abstract

Oksitetrasiklin banyak digunakan dalam manajemen terapeutik maupun preventif infeksi penyakit bakterial pada akuakultur. Konsentrasi obat yang tepat dalam tubuh penting untuk kemanjuran terapi tidak hanya ditentukan oleh dosis obat tetapi juga farmakokinetik obat yang dapat diketahui dari parameter farmakokinetiknya. Parameter farmakokinetik meliputi waktu paruh, kadar puncak, waktu puncak, volume distribusi, area di bawah kurva (AUC), eliminasi, dan distribusi obat baik dalam keadaan fisiologi maupun patologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter farmakokinetik dan waktu henti obat (withdrawal time) oksitetrasiklin yang diberikan secara oral pada ikan lele yang diinfeksi dengan Aeromonas hydrophila. Kondisi patofisiologi yang memengaruhi mekanisme kerja obat akibat infeksi A. hydrophila diketahui dengan pengamatan histologi. Visualisasi keberadaan bakteri A. hydrophila pada organ ikan lele menggunakan imunohistokimia. Konsentrasi obat dalam plasma diukur dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Studi ini mengungkapkan farmakokinetik obat dan waktu henti obat yang berbeda pada ikan sehat/tidak diinfeksi dan sakit/diinfeksi A. hydrophila. Kadar oksitetrasiklin pada plasma ikan sehat 229,00 mg/L dan ikan terinfeksi A. hydrophila 99,16 mg/L yang dicapai pada 1,5 jam setelah pemberian. Area di bawah kurva yang menggambarkan jumlah obat dalam sirkulasi sistemik pada ikan sehat sebesar 943,6 mg.h/L; sedangkan pada ikan sakit sebesar 814,05 mg.h/L. Area di bawah kurva untuk waktu tak terhingga pada ikan sehat 1.586,42 mg.h/L dan 1.516,47 mg.h/L. Waktu paruh pada ikan sehat 9,36 jam dan ikan tidak terinfeksi 9,65 jam. Pengamatan histologi pada organ yang berperan dalam mekanisme obat yaitu hati, ginjal, dan usus mengalami kelainan patologi. Visualisasi A. hydrophila dengan imunohistokimia menunjukkan bakteri banyak terlokasilasi dalam lumen pembuluh darah. Waktu henti obat setelah 10 hari pemberian dengan dosis terapeutik pada ikan sehat yaitu 20 hari pada ikan sehat dan 30 hari pada ikan sakit. Sebagai kesimpulan kadar oksitetrasiklin pada plasma ikan sehat lebih besar daripada ikan sakit, dan diikuti dengan perbedaan pada parameter farmakokinetik lainnya dan waktu henti obat yang lebih lama pada ikan sakit.Oxytetracycline is widely used in the therapeutic and preventive management of bacterial infections in aquaculture. The accurate concentration of drug in the body is important for therapeutic efficacy not only determined by the dose but also the pharmacokinetics of the drug which can be known from its pharmacokinetic parameters. Pharmacokinetic parameters include half-life, maximum concentration, time of maximum concretation, volume distribution, area under the curve (AUC), elimination, and distribution of the drug in both physiological and pathological conditions. This study aimed to determine the pharmacokinetic parameters and withdrawal time of oxytetracycline administered orally to uninfected and infected catfish infected with Aeromonas hydrophila. Pathophysiological conditions that affect the drug’s mechanism of action due to infection with A. hydrophila by histological observations. Visualization of A. hydrophila bacteria in catfish organs using immunohistochemical assay. The plasma drug concentration was measured by high performance liquid chromatography (HPLC). This study revealed different drug pharmacokinetics parameters and withdrawl time of uninfected and infected fish with A. hydrophila. Oxytetracycline levels in the plasma of the uninfected fish were 229.00 mg/L and 99.16 mg/L in infected fish which were reached 1.5 hours after administration. The area under the curve that describes the amount of drug in the systemic circulation of uninfected fish is 943.6 mg.h/L, while in infected fish is 814.05 mg.h/L. The area under the curve for infinitive depicting the amount of drug in the systemic circulation in uninfected fish was 943.6 mg.h/L, while in infected fish was 814.05 mg.h/L. Histological observations on the organs that play a role in the drug mechanism, to be specific on the liver, kidney, and intestine showed pathological abnormalities. Visualization of A. hydrophila by immunohistochemistry showed that bacteria were located in the lumen of blood vessels. The withdrawal time of oxytetracycline after 10 days of administration in uninfected and infected fish were 20 and 30 days, repectively. In conclusion, plasma levels of oxytetracycline in uninfected fish were greater than in infected fish and were followed by differences in other pharmacokinetic parameters and longer drug withdrawal times in infected fish.
Efikasi Vaksin Booster Streptococcus agalactiae pada Induk Ikan Nila Terhadap Imunitas Maternal untuk Pencegahan Streptococcosis Dendi Hidayatullah; Sukenda Sukenda; Sri Nuryati; Rahma Mulyani; Ardana Kurniaji
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol. 17 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v17i2.9277

Abstract

Bakteri Streptococcus agalactiae merupakan patogen utama yang menyerang ikan nila mulai fase benih hingga dewasa. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji efikasi vaksin booster S. agalactiae di induk ikan nila sebelum pemijahan kedua terhadap imunitas maternal untuk pencegahan streptococcosis. Vaksin gabungan sediaan sel utuh dan produk ekstraselular (ECP) S. agalactiae diinjeksi sebanyak 0,4 mL/kg induk ikan dengan perbandingan 50:50% (v/v) dari dosis penyuntikan, sedangkan kontrol diinjeksi dengan phosphate buffered saline (PBS). Vaksin diberikan ke induk ikan pada fase tingkat kematangan gonad dua (TKG 2). Perlakuan penelitian yaitu induk diinjeksi PBS (K), induk diinjeksi vaksin satu kali (A), dan induk diinjeksi vaksin booster setelah pemijahan pertama (B). Uji tantang benih dari setiap induk perlakuan dilakukan melalui perendaman S. agalactiae 107 CFU/mL selama 30 menit pada umur benih 5, 10, 15, dan 20 hari setelah menetas. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (P<0,05) pada total leukosit dan aktivitas fagositik induk ikan. Level antibodi dan lisozim induk, telur, dan benih dari perlakuan B signifikan lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan induk lainnya. Daya tetas telur dari perlakuan induk B (94,52%) signifikan lebih tinggi (P<0,05) dari pada perlakuan induk lainnya. Nilai Relative percent Survival benih dari perlakuan induk B tidak berbeda signifikan (P>0,05) dengan perlakuan benih dari induk A pada hari ke-5 tetapi, signifikan lebih tinggi (P<0,05) pada hari ke-10 hingga 20 pascatetas (96,61-54,17%). Pemberian vaksin booster di induk ikan nila sebelum pemijahan kedua dapat menstimulasi peningkatan imunitas dan transfer imunitas maternal ke anaknya untuk pencegahan streptococcosis.
Pakan Mengandung Ekstrak Rumput Laut Gracilaria verrucosa untuk Meningkatkan Kelangsungan Hidup Udang Vaname Litopenaeus vannamei yang Diinfeksi WSSV (White Spot Syndrome Virus) Aminatul Zahra; Sukenda; Dinamella Wahjuningrum; Dendi Hidayatullah
Intek Akuakultur Vol. 3 No. 1 (2019): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.297 KB) | DOI: 10.31629/intek.v3i1.1262

Abstract

Salah satu penyakit yang menyerang udang vaname adalah penyakit White Spot yang disebabkan oleh White Spot Syndrome Virus (WSSV). Dibutuhkan upaya untuk mencegah penyebaran dari WSSV pada budidaya udang yang efektif, salah satunya adalah dengan pemberian pakan mengandung ekstrak G. verrucosa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pakan mengandung ekstrak G. verrucosa dengan dosis yang berbeda terhadap kelangsungan hidup udang vaname yang diinfeksi WSSV. Penelitian ini terdiri dari enam perlakuan dosis G. verrucosa dan masing-masing tiga ulangan, yaitu KN (tanpa ekstrak), KP (tanpa ekstrak + infeksi WSSV), A (ekstrak 2.000 mg/kg + infeksi WSSV), B (dosis 3.000 mg/kg + infeksi WSSV), C (dosis 4.000 mg/kg + infeksi WSSV), dan D (dosis 5.000 mg/kg + infeksi WSSV). Udang vaname dengan bobot 6-10 g/ekor dipelihara dalam akuarium dengan ukuran (60×30×30) cm dengan padat tebar 10 ekor/akuarium. Udang diberi pakan (protein 32%) yang mengandung ekstrak G. verrucosa dengan feeding rate 3% dari bobot biomassa sebanyak tiga kali sehari selama 14 hari. Pada hari ke-15 diuji tantang dengan WSSV dengan dosis 0,1 mL/ekor secara intramuskular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan mengandung ekstrak G. verrucosa mampu meningkatkan kelangsungan hidup udang vaname secara signifikan dibanding perlakuan kontrol positif. Kelangsungan hidup terbaik pasca uji tantang pada perlakuan C (4.000 mg/kg), yaitu 56,67±5.74%. Disimpulkan bahwa dosis 4.000 mg/kg pakan memberikan hasil terbaik untuk meningkatkan kelangsungan hidup udang vaname yang diinfeksi WSSV.
Effect of Clove Powder Syzygium aromaticum Supplementation on Growth and Health Status of Cantang Grouper (Epinephelus fuscoguttatus ♀ × Epinephelus lanceolatus ♂) in Floating Net Cage Inem Ode; Sukenda Sukenda; Widanarni Widanarni; Dinamella Wahjuningrum; Munti Yuhana; Mia Setiawati
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.78348

Abstract

Cantang grouper is a hybrid grouper which is one of the main grouper species cultivated in Indonesia. This study aimed to evaluate the growth and health status of cantang grouper in floating net cages supplemented with clove powder. This study used a completely randomized design with three treatments, each with three replications. Two levels of clove powder dose used were 10 and 15 g kg-1 and one treatment without clove powder dose (control). Feed treatment using the repelletting method. Parameters observed were growth, survival rate, levels of malondialdehyde and superoxide dismutase enzyme, blood parameters, phagocity activity, total bacterial count (TBC) and total vibrio count (TVC). The results showed that the treatment of clove powder supplementation in cantang grouper feed for 30 days was able to increase the growth, survival rate, activity of the enzyme superoxide dismutase (SOD), and differential leukocyte (lymphocyte). The application of clove powder in the feed did not significantly affect the total erythrocytes, leukocytes, hematocrit, phagocytic activity, total bacterial count (TBC) and total vibrio count (TVC) of hybrid grouper in floating net cages. The conclusion of this study, administration of clove powder at a dose of 15 g kg-1 feed was able to significantly increased growth, differential leukocyte (lymphocyte), and survival rate of cantang grouper in floating net cages.
Potensi Pemanfaatan Limbah Tambak Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) untuk Budidaya Kerang Darah (Anadara granosa, Linneus 1758) Eva Prasetiyono; Kukuh Nirmala; Eddy Supriyono; Sukenda Sukenda; Yuni Puji Hastuti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 2 (2023): April 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.2.420-430

Abstract

Budidaya udang vaname di tambak dilakukan semakin intensif untuk memenuhi tingginya permintaan. Intensifitas kegiatan budidaya menyebabkan peningkatan beban limbah yang dihasilkan. Limbah tambak udang berupa dalam bentuk padatan lumpur organik dan senyawa-senyawa nutrien terutama nitrogen dan fosfor dalam jumlah yang tinggi. Tingginya kandungan limbah ini menyebabkan permasalahan bagi lingkungan perairan diantaranya yaitu pertumbuhan pesat mikroalga. Limbah yang dihasilkan dari kegiatan budidaya udang di tambak perlu diatasi diantaranya dengan memanfaatkan limbah tersebut untuk budidaya kerang darah. Kerang darah merupakan organisme filter feeder dan detritus feeder yang hidup pada substrat lumpur dengan pakan utamanya yaitu mikroalga. Kerang darah juga menyerap detritus yang mengandung senyawa nutrien untuk pertumbuhan. Limbah tambak udang yang mengandung lumpur dan senyawa nutrien berpotensi digunakan untuk budidaya kerang darah. Budidaya kerang darah dapat dlakukan dengan cara co-culture dengan udang vaname pada tambak produksi udang, pemeliharaan kerang darah pada tambak IPAL udang atau menempatkan limbah tambak udang pada tambak budidaya kerang darah. Upaya pemanfaatan limbah tambak ini selain untuk meminimalisasi dampak limbah bagi lingkungan juga meningkatkan produktivitas kerang darah.
APLIKASI SINBIOTIK UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI INFECTIOUS MYONECROSIS VIRUS PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) (Synbiotic Application for Prevention of Infectious Myonecrosis Virus Infection in White Shrimp (Litopenaeus vannamei)) Widanarni Widanarni; Sukenda Sukenda; Ghita Ryan Septiani
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 2 (2016): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.787 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i2.5041

Abstract

This study aimed to evaluate the effectiveness of dietary synbiotic at different giving frequencies on growth, immune responses, and resistance of white shrimp infected by infectious myonecrosis virus (IMNV). Synbiotic used in this study was combination of probiotic Vibrio alginolyticus SKT-b and prebiotic oligosaccharides extracted from sweet potatoe (Ipomoea batatas L). Doses of probiotic and prebiotic used were 1% and 2% (w/w), respectively. The white shrimps (0.493±0.035 g) were divided into five treatments consisting of A and B (without supplementation of synbiotic: (A) positive control; (B) negative control), C (daily synbiotic supplementation), D (twice a week synbiotic supplementation), and E (weekly synbiotic supplementation). After 30 days of feeding trial, white shrimps were infected by IMNV (except negative control). The results showed that daily growth rate of white shrimp on all synbiotic treatments (C, D, and E) ranged from 6.93±0.025-6.97±0.019% and had higher values than controls (A and B) (P0.05). Meanwhile, feed conversion value in C and D (1.54±0.142 and 1.58±0.117) were lower than controls (P0.05). Supplementation of synbiotic with different frequencies also affected survival rate of white shrimp after the challenge test with IMNV; daily synbiotic supplementation (C) resulted in a 50% higher survival rate than positive control (P0.05). This was associated with immune responses parameters values of synbiotic treatment (before and after the challenge test) which were better than positive control. In conclusion the addition of synbiotic in feed resulted in higher growth performances, immune responses,and resistance of white shrimp to IMNV infection.
Selection of potential probiotic candidate bacteria from seawater and shrimp pond sediments for controlling the pathogenic Vibrio parahaemolyticus Zulfani, Anisa; Yuhana, Munti; Sukenda, Sukenda; Afif, Usamah
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.10-20

Abstract

Vibrio parahaemolyticus is one of the pathogenic bacteria that cause vibriosis. V. parahaemolyticus strain that expresses the PirA and PirB toxins is the main causative agent of Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease which causes necrosis (cell death) suddenly in the hepatopancreatic organs of shrimp. The environmentally friendly approach to prevent bacterial infections in shrimp is through the application of probiotics. Probiotic isolates originated from the same environment as the host and pathogen were expected to have a better adaptation and competition capability. Probiotic selection begins with the process of searching for and screening the potential probiotic candidates. This study aims to obtain isolates and characterize the potential probiotic bacteria isolated from seawater and pond sediments as an inhibition effort V. parahaemolyticus. The research was conducted experimentally using a completely randomized design with 3 treatments and 2 replicates in the in vitro antagonistic test as well as the in vivo non-pathogenicity test. The results of the study successfully obtained 37 probiotic candidate isolates with 10 isolates having the greatest enzyme activity. LAZ-2 (Acinetobacter radioresistens) isolated from seawater and SAZ-22 (Fusobacterium varium) isolated from pond sediment have been selected as probiotic candidate bacteria that have beneficial enzymatic activities. Both isolates were capable of inhibiting the growth of the pathogenic V. parahaemolyticus cells population and both were not pathogenic to vannamei shrimp. Keywords: probiotic, screening, vannamei shrimp, Vibrio parahaemolyticus ABSTRAK Vibrio parahaemolyticus merupakan salah satu bakteri patogen penyebab penyakit vibriosis. V. parahaemolyticus strain tertentu yang mengekspresikan toksin PirA dan PirB merupakan agen penyebab utama Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease yang menyebabkan nekrosis (kematian sel) secara tiba-tiba pada organ hepatopankreas udang. Pendekatan yang ramah lingkungan untuk mencegah penyakit infeksi bakterial pada udang adalah melalui aplikasi probiotik. Isolat-isolat probiotik yang berasal dari lingkungan yang sama dengan inang dan patogen akan memiliki suatu kemampuan adaptasi dan kompetisi yang lebih baik dari yang lainnya. Seleksi probiotik diawali dengan proses pencarian dan skrining kandidat probiotik yang potensial. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat dan mengkarakterisasi bakteri probiotik potensial yang diisolasi dari air laut dan sedimen tambak sebagai upaya penghambatan V. parahaemolyticus. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 2 kali ulangan pada uji antagonistik in vitro dan uji non-patogenisitas. Hasil penelitian berhasil mendapatkan 37 isolat kandidat probiotik dengan 10 isolat yang memiliki aktivitas enzim terbesar. LAZ-2 (Acinetobacter radioresistens) yang diisolasi dari air laut dan SAZ-22 (Fusobacterium varium) yang diisolasi dari sedimen tambak terpilih sebagai bakteri kandidat probiotik yang memiliki aktivitas enzim yang menguntungkan. Kedua isolat tersebut mampu menghambat pertumbuhan populasi sel patogen V. parahaemolyticus dan keduanya tidak bersifat patogenik terhadap udang vaname. Kata kunci: probiotik, seleksi, udang vaname, Vibrio parahaemolyticus
Co-Authors , Rahman, , , Ranta, , , Rusli, , . ARIFUDDIN . Maryani . Sunarto A. Hasan A. Santika A. SUWANTO A. Suwanto A.J. Sihombing ADE DWI SASANTI Ade Dwi Sasanti Aditya, Tiya Widi Afif, Usamah Afiff , Usamah Agung Cahyo Setyawan Ahmad Beni Rouf Aldy Mulyadin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alit Brilliant Aminatul Zahra Amrullah Amrullah Andi Parenrengi Andi Parenrengi Andi Tenriulo Andi Tenriulo Angela M Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Anis Nugrahawati Annisa Astri Anggraeni Ardana Kurniaji Ayi Santika Azis Azis B. W. LAY Bambang Gunadi Bambang Gunadi Brite, Margie Cahyawati, Nadia Catur A. Pebrianto D. Dana D. Meha D. Wahjuningrum Daniel Djokosetiyanto Daniel Djokosetiyanto Daniel Djokosetiyanto DEBY YUNIASARI Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah Dendi Hidayatullah, Dendi Desy Sugiani Desy Sugiani Dewi Rahmi DIAH AYU SATYARI UTAMI Dian Febriani Dinamella Wahjuningrum Dwi Agung Saputra E. Ayuzar E. Harris Eddy Supriyono Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Surawidjaja Enang Harris Surawidjaja Endang Susianingsih Endang Susianingsih Esti Handayani Hardi Eva Prasetiyono Eva Prasetiyono Pras F.H. Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fadilah, Iin Nur Fadlilah, Rizqy Aditya Fahmi Rajab Firmansyah, Arif Lukman Fitria Novianti Ghita Ryan Septiani Gustilatov, Muhamad Henky Manoppo Henky Manoppo Hisatsugu Wakabayashi Huda Salahudin Darusman Huda Shalahudin Darusman I Wayan Nurjaya I. Normalina I. Nur I. Tepu Ibnu Bangkit Bioshina Suryadi Ince Ayu Khairana Kadriah Ince Ayu Khairani Kadriah Inem Ode Iqbal Kurniawinata, Mohamad Irzal Effendi Isni Rahmatika Sari Jasmanindar, Yudiana Jean-Christophe Avarre Jeanni Indah Noermala Julie Ekasari K. Sumantadinata Khairun Nissa Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Kukuh Nirmala Kukuh Nirmala L. Jamal Lastriliah, Mira M. Yuhana M. Zairin Junior M.S. Arifin MIA SETIAWATI Mia Setiawati Mochamad Fatuchri Sukadi Mochamad Fatuchri Sukadi Muchtar, Muthahharah Muh. Aris Muh. Fatuhcri Sukadi MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Yamin Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muharram Nur Ikhsan Mulyani, Rahma MUNTI YUHANA N.A. Maswan Nasri Julaini Nasrullah, Hasan Nunak Nafiqoh Nunuk Listiyowati Nur Bambang Priyo Utomo Nurbariah Nurbariah Nuzullia, Laely Odang Carman Ode, Inem P. Hadi Pratiwi, Kiki Amalia Priadi Setyawan Putri, Shofii Amaliah R.D. Soejoedono Rafsyanzani, Muhammad Mufthi Rahma Mulyani Rahman Rahman Ramadhani, Dian Eka Ramhirez, Putri Shandra Retno Damayanti Soejoedono RIDWAN AFFANDI Ririn Nurul Fauziah, Ririn Nurul Rizki Praseto, Rizki Ronald Kriston Sauttua Nainggolan Rr. Bellya Anasti Maharani Rudi, Mad Ruku Ratu Borut Samsu Adi Rahman Sari Anggraeni, Sukma Sefti Heza Dwinanti, Sefti Heza Septiani, Ghita Ryan Siti Subaidah Sri Nuryati Sri Nuryati Sugeng Budiharsono Sugiyo Hadi Pranoto Suhermanto, Achmad Tatag Budiardi Tatik Mufidah Tatik Mufidah Trian Rizky Febriansyah Tsani Untsa, Agista Tuti Sumiati Tuti Sumiati Wesly Pasaribu Wida Lesmanawati Widanarni WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI WIDANARNI Wisriati Lasima Wiyoto Wiyoto Woro Nur Endang Sariati Y. Hadiroseyani Y. Tri Anggoro Yan Evan Yosmaniar Yosmaniar Yosmaniar Yosmaniar Yumaidawati, Nurfitriani Siti Yuni Puji Hastuti Zulfani, Anisa