Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Agrikultura

Perubahan Viabilitas Pollen dan Anatomi Stomata pada Dua Mutan Tomat, iaa9-3 dan iaa9-5, akibat Cekaman Suhu Tinggi Fitrianti Widya Lestari; Erni Suminar; Anne Nuraini; Hiroshi Ezura; Syariful Mubarok
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.823 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.25768

Abstract

Cekaman suhu tinggi (heat stress) merupakan salah satu cekaman abiotik utama yang membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat. Heat stress menyebabkan kegagalan perkembangan serbuk sari dan rendahnya viabilitas polen. Heat stress juga menyebabkan perubahan anatomi salah satunya stomata pada daun. Pada penelitian ini diuji dua tanaman tomat mutan iaa9-3 dan iaa9-5, serta WT-MT sebagai kontrol dengan dua kondisi suhu yang berbeda. Mutan iaa9-3 dan iaa9-5 merupakan tanaman tomat kultivar Micro-Tom yang mengalami mutasi genetik pada gen spesifik IAA9 yang berperan sebagai regulator respons auksin negatif. Tanaman diberi perlakuan suhu maskimum 30-35 oC dan 40-45 oC selama 3 jam setiap harinya. Hasil menunjukkan mutasi gen IAA9  pada mutan iaa9-3 dan iaa9-5 mampu meningkatkan jumlah polen viabel, polen semiviabel, serta menurunkan jumlah polen mati dibandingkan WT-MT baik pada suhu 30-35 oC maupun suhu 40-45 oC. Perbandingan jumlah polen viabel dan polen semiviabel pada mutan iaa9-3, mutan iaa9-5 dan WT-MT  pada suhu 40-45 oC lebih sedikit dibandingkan pada suhu 30-35 oC, sedangkan jumlah polen mati lebih banyak. Mutan iaa9-5 dan iaa9-3 memiliki jumlah stomata daun (abaxial) yang lebih banyak dibandingkan dengan WT-MT  baik pada suhu 30-35 oC maupun 40-45 oC. Jumlah stomata mutan iaa9-3 dan iaa9-5 serta WT-MT pada suhu 30-35 oC lebih banyak dibandingkan jumlah stomata mutan iaa9-3 dan iaa9-5 serta WT-MT pada suhu 40-45 oC. Cekaman suhu tinggi menyebabkan penurunan jumlah stomata.
Percepatan Penyediaan Benih Sumber Kedelai Unggul Secara In Vitro Erni Suminar; Sumadi Sumadi; Syariful Mubarok; Toto Sunarto; Nita Suswati Endah Rini
Agrikultura Vol 28, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.554 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i3.15744

Abstract

ABSTRACTIn vitro method to fasten availability high quality soybean seedsSoybean is an important crop as a source of food and its demand has increased every year. Several new varieties of soybean have been generated, but the number is still limited. Furthermore, the infestation of pests and infection of diseases have also limited the new soybean varieties production as it increase the risk of growth failure. Therefore, methods to fasten the availability of high quality of soybean seeds need to be developed. One of which can be done through in vitro culture method. The objective of this study was to obtain the best type and the best concentration of cytokinin for the growth of soybean explants in vitro. The experiment was conducted in Seed Technology and Tissue Technology Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The experimental design used was Completely Randomized Design with 13 treatments and four replications. The basic media used were Murashige and Skoog (MS) + Vitamin B5 with addition of BAP (1.0 mg/l, 1.5 mg/l, and 2.0 mg/l), Kinetin (0.5 mg/l, 1.0 mg/l, and 1.5 mg/l), TDZ (0.01 mg/l, 0.1 mg/l, and 1.0 mg/l), and coconut water (10%, 15%, and 20%). The result showed that cytokinin types and concentrations gave different effect to soybean explant growth. The best treatment was demonstrated by BAP at the concentration of 1.5 mg/l as shown by the highest percentage of leaves and the number of shoots. However, it did not affect the percentage of buds produced by explant and the percentage of callus produced by explant.Keyword : BAP, Kinetin, TDZ, Coconut water, Soybean.AbstrakKedelai merupakan komoditas yang memegang peranan penting. Permintaan akan kedelai meningkat setiap tahunnya. Varietas kedelai baru yang bersifat unggul sudah banyak dihasilkan, namun jumlahnya masih terbatas. Tingginya serangan hama dan penyakit saat perbanyakkan benih di lapangan menyebabkan tingginya resiko kegagalan dalam pertumbuhan varietas baru tersebut. Sehingga perlu dilakukan percepatan penyediaan benih sumber varietas unggul di laboratorium secara in vitro. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan jenis dan konsentrasi sitokinin yang terbaik untuk pertumbuhan eksplan kedelai in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan tiga belas perlakuan dan empat ulangan. Media dasar yang digunakan adalah Murashige dan Skoog (MS) + Vitamin B5 dengan penambahan BAP (1,0 mg/l; 1,5 mg/l; 2,0 mg/l), Kinetin (0,5 mg/l; 1,0 mg/l; 1,5 mg/l), TDZ (0,01 mg/l; 0,1 mg/l; 1,0 mg/l), dan air kelapa (10%; 15%; 20%). Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian jenis dan konsentrasi sitokinin memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan eksplan. Perlakuan terbaik diperoleh pada BAP dengankonsentrasi 1,5 mg/l yang ditunjukkan dengan tingginya persentase jumlah daun dan tunas yang terbentuk. Akan tetapi, penambahan sitokinin tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap persentase eksplan dalam membentuk tunas dan persentase eksplan dalam membentuk kalus.Kata Kunci : BAP, Kinetin, TDZ, Air Kelapa, Kedelai
Induksi Kalus pada Eksplan Daun Muda Tanaman Durian (Durio zibethinus Murr.) Klon Baru Kamajaya dengan Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh 2,4-D dan Kinetin Secara In Vitro Agung Rahmadi; Noladhi Wicaksana; Bambang Nurhadi; Erni Suminar; Siti Rakhmah Tenrisui Pakki; Syariful Mubarok
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29388

Abstract

Perbanyakan durian klon baru Kamajaya secara vegetatif dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan sebagai teknik modern untuk konservasi plasma nutfah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kombinasi 2,4-D dan Kinetin terhadap pembentukan kalus pada daun durian Kamajaya. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Sumedang. Percobaan dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor yang diamati dan metode analisis deskriptif. Faktor pertama zat pengatur tumbuh 2,4-D terdiri dari konsentrasi yang berbeda yaitu 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm. Faktor kedua terdiri dari 3 konsentrasi Kinetin yang berbeda yaitu 0,0, 0,5 dan 1 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2 ppm 2,4-D,  3 ppm 2,4-D, 4 ppm 2,4-D, 2 ppm 2,4-D + 0,5 ppm kinetin menghasilkan eksplan daun muda durian melengkung dan tulang daun membengkak dan pada perlakuan 5 ppm 2,4-D, 2 ppm 2,4-D + 1 ppm kinetin,  5 ppm 2,4-D 5 ppm + 1  ppm kinetin menghasilkan eksplan daun muda durian menggulung dan membentuk kalus.
Kandungan Prolin, Klorofil, dan Hasil Tanaman Tomat Mutan IAA9 pada Kondisi Cekaman Suhu Tinggi Erni Suminar; Syariful Mubarok; Anne Nuraini; Hiroshi Ezura; Fitri Widya Fitriatin
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.30924

Abstract

Cekaman suhu tinggi dapat menyebabkan perubahan pada kandungan prolin, klorofil tanaman tomat sehingga mempengaruhi produksi buah tomat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kandungan klorofil dan prolin sebagai respon fisiologi tanaman tomat mutan iaa9-3 dan iaa9-5, serta WT-MT terhadap kondisi cekaman suhu tinggi yaitu berkisar  40-45oC. Perlakuan terdiri dari tiga genotipe tomat asal introduksi dan masing-masing terdiri dari  12 unit tanaman, sedangkan analisis data hasil pengamatan menggunakan analisis Student’s T-Test. Pada penelitian ini digunakan dua mutan tomat iaa9  yaitu mutan iaa9-3 dan iaa9-5 serta WT-MT sebagai kontrol yang diberi perlakuan kondisi cekaman suhu tinggi suhu berkisar 40-45 oC dimana rata-rata suhu maksimum 42,84 oC, sedangkan rata-rata suhu minimum yaitu 22.57 oC dan rata-rata kelembaban maksimum yaitu  82,84 % sedangkan rata-rata kelembaban minimum yaitu 61,57 %. Hasilnya menunjukkan bahwa pada mutan iaa9-5 memiliki kandungan prolin yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan WT-MT dan iaa9-3, sedangkan kandungan klorofil mutan iaa9-5 dan iaa9-3 lebih tinggi daripada WT-MT. Jumlah dan bobot buah pada mutan iaa9-5 lebih tinggi daripada mutan iaa9-3, sedangkan pada WT-MT mengalami kegagalan membentuk buah.
Kandungan Hormon dan Pertumbuhan Tanaman pada Bioassay Bibit Kentang yang Diberi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Mycorrhizal Helper Bacteria Nurbaity, Anne; Suminar, Erni; Istifadah, Noor
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.49851

Abstract

Produksi bibit tanaman kentang secara in vitro melalui kultur jaringan merupakan teknik yang sedang berkembang. Berbagai upaya peningkatan kualitas bibit tanaman kentang telah dilakukan dan salah satu alternatifnya adalah dengan aplikasi pupuk hayati fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan mycorrhizal helper bacteria (MHB). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan serta hormon yang dihasilkan FMA dan MHB pada bibit tanaman kentang yang dikulturkan secara in vitro. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas empat jenis media tumbuh dan sepuluh replikasi. Media tumbuh meliputi Murashige & Skoog (MS) kontrol, dengan FMA, MHB, dan kombinasi FMA dan MHB. Untuk melakukan inokulasi, 10 spora FMA (Glomus sp.) yang telah disterilisasi ditransfer ke zona akar tanaman, dan MHB (Pseudomonas diminuta) ditambahkan ke dalam media. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan bibit, berat segar akar dan pupus, serta hormon auksin, giberelin dan sitokinin (2 MST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FMA dan MHB menghasilkan hormon auksin, giberelin dan sitokinin. Efek pupuk hayati terhadap hormon tumbuh yang dihasilkan dan pertumbuhan bibit kentang berbeda secara signifikan. Selanjutnya, inokulasi FMA tunggal memiliki pengaruh yang sama dengan media MSR yang diinokulasi kombinasi FMA dan MHB terhadap pertumbuhan bibit tanaman kentang. Sintesis hormon sangat signifikan pada media yang diinokulasi MHB. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati FMA bersama MHB mempengaruhi pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman sebesar 9,01 cm atau 19,6% lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol dan meningkatkan bobot segar sebesar 12,72 g atau 60% lebih tinggi dibandingkan kontrol. Peningkatan pertumbuhan tanaman ini terkait dengan tingkat hormon tumbuh yang dihasilkan oleh FMA dan MHB yang juga lebih tinggi yaitu 4,06, 8,62 dan 5,77 µmol/mol NTP berturut-turut untuk auksin, giberelin dan sitokinin.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Ade Ismail Ade Ismail Ade Ismail Ade Ismail Ade Setiawan Afgani, Chairul Anam Agung Rahmadi Agung Rahmadi Agus Purwito Alin Robiah Al Adawiyah Alvianto, Muhamad Amalia, Inneke ANNE NURAINI Anne Nurani ANNE NURBAITY Anni Yuniarti Arin Rosmala Ariyanto, Nur Budi Ayu Ratna Ningrum Ayuwardani, Novi Azizah, Annisa Nanda Nur Bambang Nurhadi Bella Dian Ratnasari. Bella Dian Ratnasari., Bella Dian Camelia Andriani Citra Bakti, Citra Denny Sobardini Denny Sobardini Denny Sobardini Denny Sobardini Sobarna Denny Sobardini Sobarna Denny Sobardini, Denny Dian Ardiansyah Dian Ardiansyah Dikdik Kurnia Dilla Nitra Gustiana Dinnur Afiifah Dinnur Afiifah, Dinnur Dirga Sapta Sara Dwi Hastuti Edi Pramono Ega Raisya Ega Raisya Elma, Tiara Elok Zubaidah Endah Yulia Erizon, Meisyela Salsabila Eva Aprilia Fadhillah, Maya Farida Damayanti Farida Farida Fauzia Khaerunnisa Millenia Fitri Widya Fitriatin Fitri Widya Lestari Fitrianti Widya Lestari G. G. Pitaloka G. G. Pitaloka, G. G. Ganjar Herdiansyah Gina Gustiani Pitaloka Gumilar, Roni H. Apriyanto H. Apriyanto, H. Hapizhah Hapizhah Hapizhah Hapizhah, Hapizhah Hiroshi Ezura Hiroshi Ezura Huda, Fahmi Alamil Inneke Amalia Intan Ratna Dewi Anjarsari Iwan Setiawan Jajang Sauman Hamdani Jihan Nabilla Kusumadewi, Vira Kusumiyati Lamro Purba Lindung Tri Puspasari Marhan Nurullia Maritha, Vevi Masako Akutsu Meddy Rachmadi Meisyela Erizon Mia Munggarani Mira Ariyanti Mita Indriani Mohammad Zulkarnain Muhamad Alvianto Muhamad Kadapi Muhamad kadapi, Muhamad Muhammad Abdillah Hasan Qonit Muhardiono, Iman Murgayanti Murgayanti Mustika Arsri Mutiara, Pipit Na’im, Aidi Nia Agustina Nita Suswati Endah Rini Noladhi Wicaksana Noor Istifadah Novi Ayuwardani Nur Azizah Romadhoni Nur Budi Ariyanto Nursuhud Nursuhud Pamungkas, Barolym Tri Paramita Wisnuwardhani, Paramita Pujawati Suryatmana Qonit, Muhammad Abdilah Hasan Rahmad, Sukardi Sugeng Rahmat Budiarto Rahmawati, Vira Raisya, Ega Rani Andriani Budi Kusumo Reginawanti Hindersah Rifkarosita Putri Ginaris Rija Sudirja Rika Meliansyah Rina Nurmaulawati Roni Gumilar Roni Gumilar Rosniawati, Santi Rubaekah, Siti Sarah Rufaidah, Fathi S Sumadi Santi Rosniawaty Santika Sari Sasmita, Heny SIska Rasiska, SIska Siti Jubaedah Siti Julaeha, Siti Siti Rakhmah Tenrisui Pakki Siti Rakhmah Tenrisui Pakki Siti Sarah Rubaekah Sobir Sobir Sri Hartati Suci Azima, Nuzula Sudarjat Sudarjat Sudarjat Sudarjat Sudarjat Sulistyaningsih Sulistyaningsih Sulistyaningsih Sulistyaningsih SUMADI SUMADI Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Surahman, Yugga Tri SYARIFUL MUBAROK Tiara Elma Toto Sunarto Trisnawati, Desi Ucu Wandi Somantri Venny Revia Viola Vevi Maritha Vijaya Isnaniawardhani Wawan Sutari Wieny Heriliya Rizky Wieny Heriliya Rizky, Wieny Heriliya Wieny Marma Jaya Wieny Rizky Wiharti, Nabila Ragil Y. Sholihin Y. Sholihin, Y. Yanyan Mochamad Yani, Yanyan Mochamad Yayat Rochayat Suradinata Yenny, Ratna Fitry Yudianto, Tri Yudithia Maxiselly, Yudithia Yulianto, Fiky