Claim Missing Document
Check
Articles

PERPADUAN SERAT DAUN NANAS (ANANAS COMOSUS) DAN KITOSAN SEBAGAI MATERIAL ALAT PENANGKAPAN IKAN RAMAH LINGKUNGAN (Combination of Pineapple Leaf Fiber and Chitosan for Eco-Friendly Fishing Gear Materials) Muth Mainnah; . Diniah; Budhi Hascaryo Iskandar
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 7 No. 2 (2016): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.229 KB) | DOI: 10.29244/jmf.7.2.149-159

Abstract

ABSTRACTThe  utilization  of  pineapple  leaf  materialfiber  for  an  alternative  fishing  gear    is  a  step  of development  to  create  eco-friendly  fishing  gear  material.  The  pineapple  leaf  fib er  was  observed based on mechanical (breaking strength and elongation value) and physical characteristics  (water contents and specific weight) to learn about force of its fiber as natural material for the fishing gear. There  were  two  methods  used  in  this  study,  such  as  concentrates  factor  and  soaking  time  in chitosan. Chitosan concentrates and  soaking times in  respectively were  1, 1.5, 2% and  15, 30, 45 minutes.  The  test  of  mechanical  and  physical  characteristic  had  been  done  in  Engineering  and Design of Wood Building Laboratory, Department of Engineering, Forest Product, Forestry Faculty, Bogor Agricultural University, then for the  breaking strength and elongation value used  Universal Testing  Machine  (UTM).  The  data  were  analyzed  by  Completely  Randomize  Factorial  Design (CRFD).  The  results  showed  that  pineapple  leaf  fiber  consist  of  1.095%  of   water  contents  and 1.005 for specific weight.  Statistical analysis proved that breaking strength value of pineapple leaf fibers was affected by  soaking time in chitosan. The best result of the breaking strength test was when the fiber soaked in chitosan with concentrate 1 % during 45 minutes with amount of breaking strength and elongation 34.84 kgf and 0.60 mm.Keywords: breaking strength, chitosan, elongation, pineapple leaf fiber ABSTRAK Pemanfaatan  serat  daun  nanas  untuk  bahan  alat  penangkapan  ikan  merupakan  langkah pengembangan material  yang ramah lingkungan. Serat daun nanas tersebutdiamati berdasarkan sifat  fisis  (kadar  air  dan  berat  jenis)  dan  mekanis  (kekuatan  putus  dan  kemuluran  serat)  yang ditujukan untuk mengetahui kekuatan serat sebagai material alami untuk alat penangkapan ikan. Metode yang digunakan terdiri dari dua faktor, yaitu faktor konsentrasi dan lama pencelupan dalam kitosan.  Konsentrasi  kitosan  yang  digunakan  yaitu  1,  1,5  dan  2%  dan  lama  pencelupan  dalam kitosan 15, 30 dan 45 menit.Pengujian sifat fisis dan mekanis dilakukan di Laboratorium Rekayasa dan  Desain  Bangunan  Kayu,  Departemen  Teknik  Hasil  Hutan,  Fakultas  Kehutanan,  Institut Pertanian Bogor, lalu untuk kekuatan putus dan kemuluran serat menggunakan  Universal Testing Machine  (UTM). Data dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF). Hasil menunjukan  bahwa  serat  daun  nanas  memiliki  kadar  air  dan  berat  jenis  rata-rata  1,095%  dan 1,005.  Analisis statistik membuktikan bahwa terdapat pengaruh lama pencelupan serat di  dalam kitosan terhadap kekuatan putus serat daun nanas, uji kekuatan putus dengan perlakuan terbaik yang  diberikan  terhadap  serat  daun  nanas,  yaitu  serat  nanas  yang  direndam  dalam  kitosan  1% selama 45 menit dengan nilai kekuatan putus sebesar 34,84 kgf dan kemuluran 0,60 mm.Kata kunci: kekuatan putus, kitosan, kemuluran, serat daun nanas
PENENTUAN PRIORITAS WILAYAH KERJA UNTUK PENINGKATAN PENGAWASAN PERIKANAN DI WPP NRI 711 (Priority Determination of Working Area For Surveillance Improvement in Indonesia Fisheries Management Area 711 (WPP NRI 711)) Yaser Krisnafi; Budhi Hascaryo Iskandar; Sugeng Hari Wisudo; John Haluan
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 8 No. 2 (2017): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.527 KB) | DOI: 10.29244/jmf.8.2.211-221

Abstract

ABSTRACTThe Fisheries Management Area of Republic Indonesia or often abbreviated as WPP-NRI is a fisheries management area for fishing, conservation, research and fisheries development covering inland waters, archipelagic waters, territorial sea, additional zones and the Exclusive Economic Zone of Indonesia (ZEEI). Priority of selection work unit surveillance as the base pier becomes something very important because the pier of the surveillance vessel becomes a major requirement. The base pier is not just a place to moor the vessel but the base pier becomes a function of ongoing surveillance operations. In this case the facilities and facilities of the base pier should be able to provide facilities as well as ease in supporting surveillance operations activities.Problem in selection of prioritization unit of work is a complex problem, it needs a method to overcome them.TOPSIS is one of decision making method capable for solving the problem of multi-criteria, TOPSIS working principle is the chosen alternative should have the closest distance from the positive ideal solution and the farthest from the most negative solution.The result of testing on 11 alternatives in 6 criteria showed that development priority area for fisheries surveillance work units in WPP NRI 711 were: Batam (score 0,672) work unit Pontianak (score 0,671), and Natuna (score 0,647).The results of the ranking are to be used as a reference for determining the improvement surveillance strategy and to minimize losses due to illegal fishing of the natural resources in the region of WPP NRI711 in Indonesia.Keywords: TOPSIS, work unit, WPP NRI 711ABSTRAKWilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia atau sering disingkat dengan WPP NRI merupakan wilayah pengelolaan perikanan untuk penangkapan ikan, konservasi, penelitian, dan pengembangan perikanan yang meliputi perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI). Prioritas pemilihan UPT Pengawasan SDKP (Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) sebagai dermaga pangkalan menjadi sesuatu yang sangat penting dikarenakan dermaga kapal pengawas menjadi suatu kebutuhan yang paling utama. Dermaga pangkalan bukan hanya sebatas tempat untuk tambat kapal saja melainkan dermaga pangkalan menjadi sebuah fungsi berlangsungnya kegiatan operasi pengawasan. Dalam hal ini adalah sarana dan fasilitas dermaga pangkalan harus mampu memberikan fasilitas serta kemudahan dalam mendukung kegiatan operasi pengawasan. Permasalahan penentuan prioritas pemilihan satker merupakan masalah yang komplek maka diperlukan suatu metode untuk membantu mengatasinya. TOPSIS adalah metode pengambilan keputusan yang mampu menyelesaikan masalah multi-criteria. Prinsip kerja TOPSIS adalah alternatif yang dipilih harus memiliki jarak terdekat dari solusi ideal positif dan terjauh dari solusi ideal negatif. Dari pengujian 11 alternatif dari 6 kriteria didapatkan prioritas pengembangan satuan kerja wilayah pengawasan perikanan di WPP 711 adalah: Satker Batam = 0,672; Satker Pontianak = 0,671 dan Satker Natuna = 0,647. Hasil perangkingan tersebut akan dijadikan acuan sebagai dasar penentuan strategi peningkatan pengawasanwilayah perikanan di WPP 711 sehingga mampu meminimalisasi kerugian negara akibat pencurian SDA di wilayah WPP 711 Indonesia.Kata kunci: TOPSIS, unit kerja, , WPP NRI 711
ASPEK ERGONOMI AKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN TUNA PADA KAPAL LONGLINE KM SATELIT, DI MUARA BARU, JAKARTA UTARA Maria Putri Widhyasari; Vita Rumanti Kurniawati; Budhi Hascaryo Iskandar
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 11 No. 1 (2020): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmf.v11i1.33934

Abstract

This research was aiming at analysing ergonomic aspects and identifying potential hazards resulted from fishing activities. Data was collected from a long line fishing vessel MV Satelit. Analysis of ergonomic aspects focused on four major activities namely setting, drifting, hauling and fish handling. The investigation was conducted to examine the suitability of on board working area with fishermen’s movement. The result showed that on board working area was inadequate compared to fishermen’s movement because of limited zones for fishermen (ranged from 1 – 3 m2/ person) without any safety equipment. Based on Job Safety Analysis (JSA), it was revealed that there were 14 potential hazards emerging from fishing activities; 64,29% of them were moderate risk and the rest were trivial risk. However, fishermen have no significant efforts to prevent those hazards. Keywords: : ergonomic, fishing vessel, occupational health and safety, tuna fishing, potential hazards
ANALYSIS ON AMOUNT OF CARGO AND FIHERS’S INCOME IN 3 GT FRP FISHING BOAT WITH DIFERENT LIGHT WEIGHT TON (LWT) IN CILACAP Riana Citra Dewi; Budhi Hascaryo Iskandar; Yopi Novita; Didin Komarudin; Tri Nanda Citra Bangun
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 12 No. 2 (2021): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmf.v12i2.39818

Abstract

ABSTRACT The Ministry of Maritime Affairs and Fisheries (KKP) through the Directorate General of Capture Fisheries (DJPT) provides assistance in the form of fishing vessels to fishermen. However, the aid vessels intended for Cilacap had an empty weight that was heavier when compared to other vessels that had the same main dimensions of the vessel. The vessel that have heavier empty weights will cause poor motion when operating and reduced capacity to accommodate the vessel. The purpose of this research are to calculate the difference in the weights of aid vessel and fishing vessel, formulate the maximum weight of cargo that can be accommodated by aid vessel and fishing vessel through TPC calculations, and estimate the level of income of fishermen per trip with the maximum weight set. The research was conducted on aid vessel and 3 GT sized fishermen vessel made of fiberglass which have different vessel weights. Based on the results of the research, it was found that the empty weight of the aid vessel was 277,1847 kg and the fishermen vessel was 95,4165 kg with the difference between the two vessels 181,7682 kg. The maximum cargo weight that can be accommodated by the aid vessel at the highest draft is 3.98 tons. The maximum cargo weight that can be accommodated by fishing vessel at the highest draft is 5.98 tons. The estimated revenue of the aid vessel in the condition of a maximum load of Rp. 29,371,620 and the estimated income of fishing vessel in the condition of a maximum load of Rp. 46,081,620. Keywords: draft, fiberglass, income, main dimensions, weight
KELAYAKAN DASAR PENERAPAN HACCP DI KAPAL FRESH TUNA LONGLINE Tri Wiji Nurani; Budhi Hascaryo Iskandar; Gina Almirani Wahyudi
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 14 No 2 (2011): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.932 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v14i2.5320

Abstract

Many numbers of rejected tuna product of Indonesia in export market, request fish handling which can qual-ity assurance and security of the product. Fish handling on board is one of the production chain which playing a port of important to quality of tuna product. HACCP quality management system have been obliged to be applied in fish processing unit, while in fishing vessel the traceability. Appling SSOP and GMP/GHP represent a basic requirement (pre requisite) as measuring rod of the readiness of applying HACCP. The purpose of this study was to determine the feasibility of the basic requirements of HACCP implementation in the tuna longline vessels.  Research done in the fishing port of Palabuhanratu and Nizam Zachman Jakarta. Assessment conducted to basic requirement of vesselfeasibility, include the location and environment, design andconstruction of ships and facilities, equipment and supplies,operational management, hygiene and health of workers, to thequality management system. Result of the research indicatedthat value Yi around 1,5
Penilaian Vessel Requirement Dalam Rangka Rencana Ratifikasi Cape Town Agreement Tahun 2012 Ridwan Maulana Nugraha; Fis Purwangka; Budhi Hascaryo Iskandar
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 5, No 1 (2021): JFMR VOL 5 NO.1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.01.1

Abstract

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan ilmu yang berperan dalam mengurangi tingkat risiko dari suatu pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terkini untuk keberadaan peralatan penunjang keselamataan kerja pada kapal purse seine dengan panjang 24 m sampai 45 m di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta (PPSNZJ) terhadap standar ketentuan peralatan dalam regulasi Cape Town Agreement tahun 2012 dan memberikan rekomendasi untuk pemenuhan standar sesuai ketentuan dalam Cape Town Agreement tahun 2012. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan observasi langsung dan wawancara kepada pemilik dan nahkoda kapal purse seine. Data hasil observasi dan wawancara berupa kondisi peralatan penunjang keselamatan kerja pada kapal purse seine  dengan panjang 24 m sampai 45 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketentuan yang dapat terpenuhi hanya ketentuan terkait radio komunikasi dengan tingkat pemenuhan 100%. Sedangkan ketentuan yang tidak terpenuhi yaitu terkait line throwing appliances, distress signal, radar transponder dan retro reflective materials. Tingkat implementasi peralatan penunjang keselamatan kerja dengan standar ketentuan dalam regulasi Cape Town Agreement tahun 2012 hanya sebesar 0,31%. Pemenuhan terhadap standar yang tertera dalam Cape Town Agreement tahun 2012 bab 7 bagian B mengenai peralatan penunjang keselamatan kerja di atas kapal perlu dilakukan untuk menurunkan potensi terjadinya kecelakaan di laut dan meningkatkan keselamatan jiwa dan harta benda.
RATIO OF THE MAIN DIMENSIONS AND STATIC STABILITY TRADITIONAL PURSE SEINER IN PINRANG Muh. Arkam Azis; Budhi Hascaryo Iskandar; Yopi Novita
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 1 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.883 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v9i1.17914

Abstract

The fishing vessel is the main vehicle of the fishermen to go to fishing ground and hauling purse seine especially fishing gear. Pinrang Regency ships traditionally built without calculation of naval architecture. Where the purse seine fishing gear in Pinrang Regency has length 330 m nets with a depth of 36 m. The purpose of this research was to examine the main dimension ratio in particular design and static stability of the vessel purse seine in Pinrang Regency. Method of using a case study on two types of vessels have different relative and analyzed by numerical simulation, calculate the ratio of the main dimensions and static stability. The results of this research are the vessels in Pinrang kasko model has the shape of a round bottom and slim body as well as the ratio of the dimensions of the vessels only L/D purse seine LOA 24 m more than the standard reference of vessels (encircling) in Indonesia and on the value of the static stability by the IMO, with a purse seine vessel Pinrang already has a good stability. However, in both types of vessel purse seine size 20 m that has better stability. Keywords: design, fishing vessel, purse seine, stability
KETERSEDIAAN AREA KERJA PADA EKS-KAPAL CANTRANG UNTUK MENGOPERASIKAN JARING INSANG OSEANIK (The Availability of working areas on the Ex-Cantrang Vessels to operate the Oceanic Gills Net) Muhammad Najib Islam; Yopi Novita; Budhi Hascaryo Iskandar
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.16.1.1-7

Abstract

Pelarangan cantrang menyebabkan kapal-kapal yang selama ini mengoperasikan cantrang harus melakukan penggantian alat penangkapan ikan. Alat penangkapan ikan pengganti yang dominan dipilih oleh para pemilik eks-kapal cantrang adalah jaring insang oseanik. Penggantian cantrang dengan jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang dikhawatirkan akan berdampak terhadap keselamatan kerja nelayan di laut. Salah satu faktor yang mempengaruhi keselamatan kerja nelayan di laut adalah ketersediaan area kerja di atas dek. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada kapal jaring insang oseanik dan menilai kesesuaian area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang. Analisis data menggunakan metode deskriptif komparatif dan numerik komparatif antara area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang dan kapal jaring insang oseanik. Parameter yang dibandingkan adalah ketersediaan area kerja di atas dek dan area kerja bagi setiap ABK saat mengoperasikan jaring insang oseanik, baik pada tahapan setting, hauling, maupun handling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada kapal jaring insang oseanik sebesar 33,27 – 35,77 m2 saat setting, 43,20 – 45,55 m2 saat hauling, dan 14,93 – 15,70 m2 saat handling. Ketersediaan area kerja bagi ABK untuk mengoperasikan jaring insang oseanik pada pada kapal jaring insang oseanik untuk tahapan setting sebesar 1,79 – 1,89 m2/orang, untuk tahapan hauling sebesar 1,18 – 1,23 m2/orang, dan untuk tahapan handling sebesar 1,44 – 1,51 m2/orang. Ketersediaan area kerja pada eks-kapal cantrang mencukupi untuk mengoperasikan jaring insang oseanik, kecuali eks-kapal cantrang yang memiliki bangunan tambahan pada area dek kerja utama.  Prohibition of cantrang causes the vessels operate cantrang should do a replacement fishing gear. Replacement fishing gear chosen by the owners of the vessels is oceanic gill nets. The replacement of cantrang to the oceanic gill nets on ex-cantrang vessels feared would affect the safety of fishermen at sea. One of the factors that affect the safety of fishermen at sea is the availability of working areas on deck. This research aimed to identify  the availability of working areas to operate oceanic gill nets on the oceanic gill nets vessels and assess the suitability of working areas on ex-cantrang vessels to operate oceanic gill nets. Data analysis used the comparative descriptive and numerical comparisons methods between the working areas of ex-cantrang vessels and oceanic gill nets vessels. Parameters compared was the availability of a working areas on deck  and working areas for crews when operating oceanic gill nets, both when setting, hauling, and handling catches. The results showed that the the availability of a working areas to operate an oceanic gill nets on the oceanic gill nets vessels is 33.27 - 35.77 m2 during setting, 43.04 - 43.55 m2 during hauling, and 14.93 - 15,70 m2 during handling.  The availability of a working areas for crew members to operate oceanic gill nets while setting was 1.79 – 1.89 m2/person, when hauling was 1.18 – 1.23 m2/person, and when handling was 1.44 – 1.51 m2/person. The availability of working areas on the ex-cantrang vessels is sufficient to operate oceanic gill nets, except for the the ex-cantrang vessels that has additional buildings on the main working deck area.
KERAGAMAN BENTUK KAPAL PENANGKAP IKAN YANG BERBASIS DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA BRONDONG (The Diversity of Fishing Vessels Shape in Brondong Fisheries Port Area) Pringgo Kusuma Dwi Noor Yadi Putra; Yopi Novita; Budhi Hascaryo Iskandar
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 4 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.16.4.235-242

Abstract

Program bantuan kapal penangkap ikan yang diberikan oleh pemerintah kepada nelayan memiliki banyak kendala sehingga banyak kapal bantuan tersebut tidak digunakan secara optimal. Salah satu faktor kapal tersebut tidak digunakan adalah tidak sesuainya antara bentuk kapal dengan karakteristik dan kebiasaan nelayan setempat, seperti yang terjadi di daerah Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong. Oleh karena itu, perlu dilakukannya kajian terlebih dahulu untuk mengetahui keragaman bentuk kapal penangkap ikan di daerah tersebut. Kajian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi dan menentukan jumlah keragaman bentuk kapal penangkap ikan di daerah Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong. Data parameter bentuk kapal yang dibutuhkan adalah bentuk linggi haluan, linggi buritan, bentuk penampang membujur kasko, bentuk midship dan jenis kemudi. Data tersebut dikumpulkan dengan menggunakan metode survei dan dikelompokkan dengan menggunakan metode hierarchical clustering. Hasil kajian menghasilkan dua kelompok bentuk kapal tradisional yang berbeda satu sama lain. Kelompok pertama beranggotakan kapal yang menggunakan linggi haluan berbentuk spoon bow, linggi buritan yang berbentuk elliptical stern dan kasko kapal dengan penampang membujur berbentuk double pointed. Kelompok kedua beranggotakan kapal yang menggunakan linggi haluan berbentuk raked bow, linggi buritan berbentuk transom dan kasko kapal dengan penampang membujur berbentuk transom. Fishing vessel assistance program provided by the government has a lot of obstacles, causing many ships are not being used optimally by fishermen. The incompativility between the forms of the ships with the characteristics and habits of local fishermen, such as in the Brondong Fisheries Port area. Therefore, a study to determine the diversity forms of fishing vessels in the area needs to be done. The purpose of this study was to identify and determine the diversity forms of fishing vessels in the Brondong Fisheries Port area. The required vessel shape parameter data is the shape of bow, stern, steering type, cross section and midship of hull. The data is collected using survey methods and grouped by hierarchical clustering method. The results showed that there were two traditinoal ship design groups. The first group consists of ships that have a spoon-shaped bow, elliptical stern and a double pointed cross hull. The second group consists ships that have raked bow, transom stern and transom hull.
RISIKO DAN MITIGASI TRANSPORTASI BENIH SIDAT (GLASS EEL), (STUDI KASUS DI PALABUHANRATU, JAWA BARAT) (Risks and Mitigation of Glass eel Transport (Case Study in Palabuhanratu, West Java)) Al Hafidz Maulana; Fis Purwangka; Budhi Hascaryo Iskandar
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 4 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.16.4.300-307

Abstract

Penangkapan benih sidat (glass eel) untuk kegiatan budidaya dilakukan oleh nelayan menggunakan seser dan kemudian dijual ke pengumpul. Pengumpul mengumpulkan glass eel dari beberapa nelayan dan mendistribusikannya ke tempat pembudidayaan. Banyak glass eel yang mati pada saat ditransportasikan oleh nelayan dan pengumpul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses transportasi glass eel, moda transportasinya, dan parameter kualitas air pada saat ditransportasikan dari nelayan sampai ke kolam pembesaran serta mengidentifikasi risiko dan menentukan mitigasi transportasi glass eel. Metode dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara kepada nelayan dan pengumpul mengenai aktifitasnya dan parameter kualitas air yang digunakan. Analisis yang digunakan berupa analisis deskriptif, analisis komparatif, dan analisis risiko dan mitigasi menggunakan metode HIRAC. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses transportasi glass eel berawal dari nelayan ke pengumpul. Pengumpul mengumpulkan hasil tangkapan untuk selanjutnya ditransportasikan ke kolam pembesaran. Pentransportasian glass eel dimasukkan ke wadah kantong plastik dan atau cool  box dengan suhu 170C- 290C menggunakan sepeda motor, Salinitas 1ppt- 3ppt, dan kadar DO 6,3mg/L- 7mg/L. Proses transportasi glass eel memiliki risiko yang menyebabkan glass eel stress dan mati. Risiko tersebut dapat dimitigasi menggunakan pengendalian administratif (berupa peringatan kepada nelayan untuk bekerja dengan hati-hati, pemeriksaan secara berkala terhadap kondisi parameter air, kondisi cool box, kondisi kantong plastik (PE)), substitusi (penggantian cool box dan kantong plastik (PE) yang sudah dalam kondisi rusak, mengganti plastik yang lebih tebal, atau merangkap penggunaan plastik), dan rekayasa engineering (penggunaan aerasi dan chiller untuk menjaga kadar DO dan suhu air). Glass eel fishing for nursery and culture purposes is carried out by fishermen using seser and then sold to collectors. The collectors collected glass eels from several fishermen and distributed them to culturing site. Many glass eels die when transported by fishermen and collectors. This study objectives were describing glass eel transportation process, its transportation modes, and water quality parameters when transported from fishermen to raising pond and identify risks and determine glass eel transportation mitigation. The method used in this study were observation and interviews with fishermen and collectors, regarding their activities along with water quality parameters used. The analysis used are descriptive analysis, comparative analysis, and risk and mitigation analysis using the HIRAC method. The results of research show that process of transporting glass eels started from fishermen to collectors. Collectors collect catches to be transported to raising pond. Glass eel transport carried out using plastic bags and/or cool boxes with temperature of 170C- 290C use the motorcycle, Salinity 1ppt-3ppt, and DO levels 6,3 mg / L-7,0 mg / L. Glass eel transportation process risking glass eel experiencing stress and die. These risks can be mitigated using administrative control (in the form of a warning to fishermen to work carefully, periodic checks on water parameter conditions, cool box conditions, plastic bag conditions (PE)), substitution (replacing cool boxes and plastic bags (PE) that are already in damaged condition, replacing thicker plastics, or using plastic), and engineering   modification (use of aeration and chiller to maintain DO levels and water temperature).
Co-Authors . Diniah Abdi Kurniawan Abdul Rouf Sam Adhiguna Wahyu Nugroho Adi Adi Guna santara, Adi Adi Guna Santara Adi Guna Santara, Adi Guna Adi Susanto Agus Suherman Al Hafidz Maulana Aldin Muhammad Alfin Yuwana Putra Amril Syahputra Rangkuti Annisa Ramadhanti Ari Purbayanto Arif Satria Bambang Murdiyanto Bambang Murdiyanto Bangun, Tri Nanda Citra Bastian Putrayadi Silalahi Berbudi Wibowo Budy Wiryawan Cahyandaru, Paulus Catur Winarto Daniel R. Monintja Dede Soedharma Deni Achmad Soeboer Deni Achmad Soeboer Deni Achmad Soeboer Deni Achmad Soeboer Deni Achmad Soeboer Deni Achmad Soeboer Desrial Diah Zakiah Dinda Ayu Lestari Domu Simbolon Dudi Firmansyah Dwi Putra Yuwandana Eko Sri Wiyono Eko Sulkhani Yulianto Erlin Nur Yustikaningsih Ernani Lubis Etika Ariyanti Hidayat Fadly, Nanda Febri, Suri Purnama Febrianti, Santi Fedi A. Sondita Fedi Alfian Sondita Firda Aulya Syamani Firdaus, Ray Octa Fis Purwangka Fuad Gina Almirani Wahyudi Gina Almirani Wahyudi Gondo Puspito Gun Gumelar Somantri Hamba Ainul Mubarok Harahap, Antoni Harnoli Rahman Harun Al Martohandoyo Harun Al Rasyid Martohandoyo Hasjim Djalal Hasjimdo Djalal Hasrianti, Hasrianti Hery Sutrawan Nurdin Hozairi Ia Arga Dhelia Iin Solihin Iman Anugerah Bintoro Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Irman Hermadi Ismajaya . Izza Mahdiana Apriliani John Haluan John Haluan John Haluan John Haluan Julius Anthon Nicolas Masrikat Karlisa Priandana Kirbandoko . Komarudin, Didin Kudang Boro Seminar Kurniawan, Abdi Kusnul Hidayat La Anadi Lukman M. Baga M. Fedi A. Sondita M. Imron Made Mahendra Jaya Mahrus Mahrus, Mahrus MAINNAH, MUTH Malik, Fikri Rizky Maria Putri Widhyasari Marjoni Marjoni Moch Ricky Dariansyah Mochammad Riyanto Mohammad Imron Mokhamad Dahri Iskandar Muh. Arkam Azi Muh. Arkam Azis Muhamad Rizki Riantoro Muhamad Yogi Prayoga Muhammad Fedi Alfiadi Sondita Muhammad Najib Islam Muhammad Patria Laksono Muhammad Romli dan Suprihatin Andes Ismayana Muhammad Setiawan Mulyono S. Baskoro Muth Mainnah Muth Mainnah Nasution, Syahrial Noegroho, Tegoeh Novita, Yopi Nugraha, Ridwan Maulana Nurbaiti, Lilis Nurul Faizatil Jannah Nusa Setiani Triastuti Azis Prabowo Prabowo Pratama, Agung Budi Pringgo Kusuma Dwi Noor Yadi Putra Prori Vitaliano Latief Purnomo, Deni Puti Lenggo Geni Putra, Rafi Dwi Ananda Rahmat, Ayi Rahmawati, Nabila Retno Muninggar Riana Citra Dewi Ridwan Maulana Nugraha Rika Ike Rahayu Rina Oktaviani Rumbino, Viceriani Siampa Ryan Suryadi Putra Safuan Safuan Salsabila, Umiralaska Saputra, Rahmad Surya Hadi Shinta Yuniarta Singgih Prihadi Aji Siti Istiqomah Sugeng H. Wisudo Suhendra Suhendra Sukoraharjo, Sri Suryo Syafril Fauzi Syafril Mayu Dinata Syahrial Nasution Tri Nanda Citra Bangun Tri Nanda Citra Bangun Tri Wiji Nurani Uju Uju Vita Rumanti K. Vita Rumanti Kuniawati Vita Rumanti Kurniawati Wahab, Aulia Azhar Wazir Mawardi Wienda Justitia Ardiyani Wienda Justitia Ardiyani Wilma Amiruddin Winarto, Catur Yandra Arkeman Yaser Krisnafi Yaser Krisnafi, Yaser Yoga Yuniadi Yohanes DBR Minggo Yopi Novita Yopi Novita Yopi Novita Yopi Novita Yopi Novita Yopi Novita Zarrochman Zulkarnain .