Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Pendidikan Nilai dalam Prespektif Filsafat Pendidikan menurut John Dewey dan Al-Ghazali Iksan, Muhammad; Nursikin, Mukh; Syarif, Fajar
INSANI: Jurnal Ilmu Agama dan Pendidikan Vol 2 No 2 (2024): INSANI: Jurnal Ilmu Agama dan Pendidikan
Publisher : Yayasan Pendidikan Islam (YPI) AN NUR INSANI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70424/insani.v2i2.139-152

Abstract

Pada dewasa ini, dimana fenomana degradasi moral terjadi di mayoritas wilayah Indonesia, pendidik perlu untuk merubah target atau capaian pembelajaran. Capaian pembelajaran yang awalnya hanya berfokus pada kognitif siswa, sekarang perlu difokuskan pada aspek lain, terutama afektif atau sikap siswa. Pendidikan nilai sendiri merupakan salah satu upaya para pakar pendidikan dalam melakukan proses transfer of value. Pakar pendidikan juga mengadopsi beberapa pemikiran para filsuf untuk mengimplementasikan pendidikan nilai di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut terkait konsep pendidikan nilai dalam perspektif filsafat pendidikan menurut John Dewey dan al-Ghazali. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa John Dewey yang lebih menekankan penanaman nilai secara rekrontruksi, kemudian dikolaborasi dengan pemikiran Al-Ghazali tentang nilai yang menekankan pada ketaatan pada ajaran agama, akan menghasilkan output peserta didik yang sempurna mengenai nilai.
Konsep Al'alim wa Muta'alim: Relevansi Etika Guru-Murid dalam Pendidikan Pesantren Modern: The Concept Of Al'Alim And Muta'Alim: The Relevance Of Teacher-Student Ethics In Modern Pesantren Education Rohmatillah, Nely; Nursikin, Mukh
INSANI: Jurnal Ilmu Agama dan Pendidikan Vol 3 No 1 (2025): Vol 3 No 1 (2025): INSANI: Jurnal Ilmu Agama dan Pendidikan
Publisher : Yayasan Pendidikan Islam (YPI) AN NUR INSANI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70424/insani.v3i1.108

Abstract

Tulisan ini membahas konsep etika dalam hubungan antara guru dan murid yang dijelaskan dalam karya K.H. Hasyim Asyari, "Al'alim wa Muta'alim." Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi relevansi prinsip-prinsip etika tersebut dalam konteks pendidikan pesantren modern. Dengan menekankan pentingnya adab sebagai landasan interaksi, penulisan ini mengungkap tanggung jawab timbal balik antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini juga menjelaskan bagaimana penerapan nilai-nilai etika dalam kurikulum pesantren dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan berkontribusi pada pengembangan karakter santri. Melalui pelatihan bagi guru, program mentoring, dan evaluasi berbasis etika, pesantren dapat mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki moralitas yang baik. Dengan demikian, konsep "Al'alim wa Muta'alim" tetap relevan dan penting dalam pendidikan Islam di era modern. 
Konsep Pendidikan Nilai Dalam Filsafat Pendidikan Menurut Al-Ghazali dan Ki Hadjar Dewantara Nurdiana, Asri; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 6, No 5 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v6i5.542

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis konsep pendidikan nilai dalam perspektif dua tokoh besar, yaitu Al-Ghazali dan Ki Hadjar Dewantara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka untuk menelaah karya-karya dan pemikiran kedua tokoh yang berpengaruh dalam sejarah pendidikan Islam dan pendidikan nasional Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Ghazali menekankan pendidikan sebagai proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta menempatkan akhlak sebagai inti dari pendidikan. Di sisi lain, Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai upaya pembudayaan nilai-nilai luhur bangsa untuk membentuk manusia merdeka, berkarakter, dan berjiwa sosial. Meskipun berasal dari latar belakang dan tradisi yang berbeda, keduanya memiliki kesamaan dalam menempatkan pendidikan nilai sebagai fondasi utama pembentukan manusia seutuhnya. Artikel ini merekomendasikan integrasi nilai-nilai dari pemikiran keduanya sebagai kontribusi nyata dalam merancang sistem pendidikan yang holistik dan kontekstual di Indonesia
Konsep Dasar Pendekatan dan Strategi Pendidikan Nilai Faiyah, Isti; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 6, No 5 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v6i5.538

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan Konsep dasar pendekatan dan strategi pendidikan nilai. Agar tujuan tersebut tercapai penulis menggunakan metode penelitian kajian pustaka (library research) dengan menggunakan bahan tertulis yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku-buku dan jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan nilai merupakan esensi utama dalam dunia pendidikan atau dapat dikatakan sebagai jiwa yang menghidupkan pendidikan. Tujuan dari pendidikan nilai yaitu membentuk peserta didik agar menyadari, memahami, dan mampu mengintegrasikan secara menyeluruh dalam kehidupan mereka. Inti pendidikan nilai terletak pada lima aspek utama dalam kehidupan kemanusiaan, yaitu kedamaian, kebenaran, kebajikan, tanpa kekerasan, kasih sayang. Jika nilai-nilai diterapkan sistematis dalam proses pembelajaran di kelas agar mampu melahirkan generasi muda yang memiliki kemampuan untuk menganalisia secara komprehensif setiap nilai-nilai kehidupan. Strategi dalam pendidikan nilai yaitu strategi bebas, strategi tradisional, strategi transinternal strategi reflektif. Penelitian ini mengidentifikasi pendekatan dalam pendididkan nilai meliputi Pendekatan perkembangan moral kognitif , yang menekankan pada tahapan pemikiran moral individu; Pendekatan analisis nilai, yang memfokuskan pada pemahaman dan evaluasi nilai-nilai; Pendekatan klasifikasi nilai, yang bertujuan untuk membantu individu mengidentifikasi dan mengurutkan nilai-nilai pribadinya; serta Pendekatan pembelajaran berbuat yang menegaskan pada pengalaman dan refleksi melalui tindakan nyata.
Menghidupkan Kembali Nilai-Nilai di Era Milenial: Strategi Pendidikan Yang Relevan Dan Visioner Mandala, Gerry; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 6, No 5 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v6i5.541

Abstract

Generasi milenial hidup dalam ekosistem digital yang membentuk cara berpikir, berperilaku, dan memandang nilai-nilai kehidupan. Pendidikan nilai menjadi tantangan besar karena pola pikir generasi ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik generasi milenial, menganalisis tantangan pendidikan nilai yang mereka hadapi, serta merumuskan strategi pengembangan pendidikan nilai yang relevan dan kontekstual. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Sumber data diambil dari literatur ilmiah yang relevan terbit tahun 2015–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi milenial cenderung lebih responsif terhadap pendekatan pembelajaran yang interaktif, berbasis pengalaman, dan kontekstual. Namun, mereka juga rentan terhadap pengaruh negatif teknologi, seperti budaya instan, konten destruktif, dan menurunnya interaksi sosial langsung. Strategi pendidikan nilai yang efektif meliputi pembiasaan (habituasi), penanaman nilai secara rasional dan emosional (moral knowing dan moral feeling), praktik langsung (moral acting), keteladanan (moral modeling), pemberian konsekuensi (punishment edukatif), dan nasihat yang menyentuh. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai bagi generasi milenial harus dirancang adaptif terhadap perkembangan zaman dengan melibatkan seluruh elemen pendidikan, termasuk guru, orang tua, dan kebijakan institusi.
Konsep Pendidikan Nilai dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Menurut John Dewey dan Al-Ghazali Al Amin, Muhammad Yasin; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 6, No 5 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v6i5.535

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep pendidikan nilai dalam perspektif filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh dua tokoh besar, yaitu John Dewey dari aliran Progresivisme dan Al-Ghazali dari aliran Idealisme Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi pustaka (library research), dengan teknik analisis isi terhadap karya-karya primer maupun sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa John Dewey menekankan pentingnya pengalaman langsung dan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran sebagai dasar penanaman nilai. Menurutnya, pendidikan nilai harus bersifat demokratis, kontekstual, dan mendorong berpikir kritis. Sementara itu, Al-Ghazali menempatkan pendidikan nilai dalam kerangka religius dan spiritual, dengan tujuan utama mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Al-Ghazali mengedepankan metode keteladanan, pembiasaan, dan pembinaan moral sebagai pendekatan utama. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun memiliki pendekatan berbeda, pemikiran Dewey dan Al-Ghazali dapat diintegrasikan untuk membentuk model pendidikan nilai yang komprehensif, menggabungkan dimensi rasional, sosial, dan spiritual dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam di Indonesia.
Konsep Pendidikan Nilai Dalam Filsafat Pendidikan Islam Perspektif Ki Hajar Dewantara Dan Buya Hamka Fatikah, Kaliana; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v6i3.480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan konsep pendidikan nilai dalam perspektif filsafat pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dan Buya Hamka. Keduanya merupakan tokoh penting dalam pengembangan pendidikan nilai di Indonesia, namun memiliki pendekatan dan dasar pemikiran yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ki Hajar Dewantara menekankan pendidikan nilai yang berlandaskan pada budaya nasional, budi pekerti, dan kemerdekaan belajar, sedangkan Buya Hamka mendasarkan pendidikan nilai pada ajaran Al-Quran dan Sunnah dengan orientasi pembentukan akhlak mulia dan ketakwaan kepada Allah. Perbedaan mendasar terletak pada sumber nilai dan orientasi: Ki Hajar Dewantara lebih bersifat humanistik dan kebangsaan, sedangkan Buya Hamka lebih bersifat teosentris dan religius. Meski demikian, keduanya sama-sama menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek kognitif, moral, dan spiritual dalam pendidikan. Pemikiran kedua tokoh ini relevan diterapkan dalam pendidikan modern melalui penguatan pendidikan karakter, integrasi nilai-nilai agama dan budaya dalam kurikulum, serta peningkatan peran guru sebagai teladan. 
Pendekatan dan Strategi Pendidikan Nilai Menurut Oemar Hamalik Dan dedja Mudyahardjo Mulyadi, Kenang Agus; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 6, No 5 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v6i5.539

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pendekatan dan strategi pendidikan nilai menurut dua tokoh pendidikan Indonesia, Oemar Hamalik dan Redja Mudyahardjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka, yaitu dengan menelaah berbagai karya tulis kedua tokoh yang berkaitan dengan pendidikan nilai. Hasil kajian menunjukkan bahwa Oemar Hamalik menekankan pentingnya metode pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman langsung dalam proses pembentukan karakter siswa. Sementara itu, Redja Mudyahardjo lebih menitikberatkan pada strategi pembelajaran aktif seperti pembelajaran berbasis proyek, diskusi, dan refleksi sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual. Kedua tokoh sepakat bahwa pendidikan nilai harus diarahkan pada pengembangan kepribadian yang bertanggung jawab, mandiri, dan kritis. Namun, implementasi strategi ini di sekolah menghadapi tantangan, seperti kurangnya komitmen guru, keterbatasan fasilitas, dan minimnya keterlibatan orang tua. Oleh karena itu, peran guru menjadi sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan bermakna untuk mendukung keberhasilan pendidikan nilai di sekolah.
Tren Lembaga Pendidikan Islam Ekslusif-Elit Menjawab Tantangan Era Modern Azizah, Khoridatul; Azizah, Nur; Nursikin, Mukh
Darajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 8 No. 1 (2025): Darajat: Jurnal PAI
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dam Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI TABAH) Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/darajat.v8i1.3064

Abstract

Lembaga pendidikan Islam eksklusif-elit adalah institusi pendidikan yang memenuhi persyaratan khusus dan terbatas pada wilayah tertentu. Lebih sering daripada tidak, lembaga-lembaga ini memiliki standar akademik yang tinggi. Mereka menawarkan pelatihan agama Islam yang mendalam dan kurikulum akademik yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tren lembaga pendidikan Islam eksklusif-elite dalam menghadapi tantangan di era kontemporer. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran institusi pendidikan Islam eksklusif-elit telah membawa warna baru ke perkembangan pendidikan di Indonesia. Lembaga pendidikan Islam eksklusif-elit bertujuan untuk memadukan pendidikan agama yang menjadi ciri khas pesantren dengan pendidikan modern yang menjadi ciri khas sekolah umum. Karena fasilitasnya yang memadai, biaya sekolah menjadi semakin mahal, dan sebagian besar dari mereka hanya dapat diakses oleh kalangan menengah Muslim
The Strategic Role of Curriculum in the Transformation of Islamic Education Mujib, Muhammad Farhan; Ma'shum, Firdaus Asrori; Nursikin, Mukh
Al-Mudarris Vol 8 No 1 (2025): Al-Mudarris
Publisher : Jurusan Tarbiyah,IAIN PALANGKARAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/mdr.v8i1.9794

Abstract

Education cannot be separated from the curriculum. Every educational institution will certainly use the curriculum as a reference to achieve the desired goals. The curriculum as the main component in the educational process, plays a vital role in developing the potential of students, both morally, intellectually, and skills. The purpose of this paper is to find out how the role of the curriculum in the transformation of Islamic education. The method used in the study is the library research method. The sources used in this study came from books, journal articles, and other literature related to the research topic. The results of the study show that in Islamic education, the curriculum has three main roles, namely conservative to preserve cultural and religious values, creative to create innovations according to the times, and critical and evaluative to adjust values ​​to the modern context. The function of the curriculum is discussed in various aspects, including students, educators, madrasah principals, parents, educational institutions, and the community. The importance of cooperation between educational stakeholders to create a curriculum that is flexible, futuristic, and adaptive to changes in the times. By strengthening a harmonious and optimally functioning curriculum, Islamic education can produce competent individuals who are able to adapt to the progress of the times and build a more harmonious, just, and sustainable society. The ideal curriculum must be harmonious, function optimally, and involve cooperation between various parties in the world of education.
Co-Authors Abdul Wahab Afif, Rokhmad Ahmad, Khatib Ramli Ainun Jariyah Al Amin, Muhammad Yasin Amin, Moh Nasrul Anis Maghfiroh, Anis Anitasari, Erni Apriliira, peny Arrosyid’, Muhammad Harun Ashar, Hanafi Asri Nurdiana, Asri Assyifa Putri*, Salsabila Azhar, Muhammad Zul Azizah, Khoridatul Dermawan, Yudi Agung Elliot, McCarty Faisal Afda’u Faiyah, Isti Fajar Syarif Farhan Mujib, Muhammad Fatikah, Kaliana Fauzi*, Rachmad Hanung Triyoko, Hanung Indah Febriyani, Nur Irawan, Dodi Irfani, Ahmad Junedi Junedi, Junedi Karwadi Kathryn, Morse Kurniawan, Riza Aditya Kusuma Putra*, Alif Jilham Laili, Zuhrotul Laksono, Kabul Luthfi, Sohif Maftahal M. Ihsan Dacholfany Ma'arif, Alwi Ilqam Ma'shum, Firdaus Asrori Maftukhah, Maftukhah Maghriza, Muhammad Taufiq Ridlo Mandala, Gerry Maro, Ajeng Virga Sawitri Maslikhah , Maslikhah Ma’arif, Alwi Ilqam Mighfar, Shokhibul Millatana, Aufiy Mirani, Aisha Muhammad Afif Muhammad Aji Nugroho Muhammad Iksan, Muhammad Muhammad Nashihin Muhja, Zainal Abidin Mujib, Muhammad Farhan Mulyadi, Kenang Agus Narko Narko, Narko Nisak, Durotun Ni’mah, Choirun Nur Azizah NUR KHOLIFAH Nurhardini, Rahma Pratama, Aufar Rifqi Prayitno, Nur Hasbullah Rahmawati, Amalina Rizqi Ranti nazmi Rofi’ah, Nur Rohmatillah, Nely Rohmiyanti, Ika Ayu SABILLA, DHETA ARI Supriatna, Dasep Suryaningtyas, Ariany Katrin Suryono Suryono Sutrisna Sutrisna Suwardi . Tayeb, Azmil Thowaf, Shofirul Utami, Mita Wakit, Saipul Wasito Wasito Yayat Suharyat Yektiana, Neneng Yoga Anjas Pratama Zakiah, Siti Solichatun Zuraida Zuraida