Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Literasi dalam Pembaharuan Kurikulum Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Naquib Al-Attas dan Ahmad Dahlan Maghriza, Muhammad Taufiq Ridlo; Nursikin, Mukh
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan literasi di kalangan pemuda dalam masyarakat modern. Penelitian ini mengeksplorasi gagasan literasi dalam pendidikan Islam melalui pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas dan KH. Ahmad Dahlan. Al-Attas menekankan pentingnya adab, yaitu perpaduan nilai-nilai Islam dengan pengetahuan ilmiah, dalam pendidikan. Sementara itu, KH. Ahmad Dahlan menekankan reformasi kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Metodologi yang digunakan adalah analisis literatur komparatif, yang membandingkan pandangan kedua ulama terkait literasi dan dampaknya terhadap pendidikan Islam. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi nilai moral dan prinsip ilmiah dalam kurikulum dapat meningkatkan literasi dan kualitas pendidikan Islam, dengan fokus pada pengembangan karakter dan akademik. Temuan ini relevan bagi pengembang kurikulum untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mempersiapkan generasi Muslim menghadapi tantangan modern secara beradab dan bertanggung jawab.
Tinjauan Komparatif Kurikulum Pendidikan antara Pemikiran Al-Ghazali dan Naquib al-Attas Dermawan, Yudi Agung; Nursikin, Mukh
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas perbandingan kurikulum pendidikan antara pemikiran dua tokoh besar Islam, Al-Ghazali dan Naquib al-Attas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kedua tokoh tersebut memandang konsep pendidikan, khususnya terkait kurikulum yang ideal untuk menciptakan individu yang seimbang secara intelektual, spiritual, dan sosial. Al-Ghazali menekankan pentingnya integrasi antara ilmu duniawi dan ilmu agama dalam pembentukan karakter, sedangkan al-Attas menggarisbawahi konsep insan kamil atau manusia sempurna melakui pendidikan yang komprehensif. Kedua pemikir berfokus pada pentingnya reevansi antara tujuan pendidikan dengan kehidupan nyata serta keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan moralitas.
Peranan dan Fungsi Kurikulum dalam Perspektif Pendidikan Islam Zakiah, Siti Solichatun; Nursikin, Mukh
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurikulum memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam proses pendidikan, termasuk dalam konteks pendidikan Islam. Dalam perspektif pendidikan Islam, kurikulum tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan karakter peserta didik sesuai dengan nilai-nilai Islam. Artikel ini membahas peranan dan fungsi kurikulum pendidikan Islam dalam membentuk pribadi yang beriman, bertakwa, dan berilmu serta berakhlakul karimah. Kurikulum pendidikan Islam dirancang untuk menyelaraskan antara ilmu pengetahuan umum dan ajaran agama, yang diharapkan dapat membimbing peserta didik menuju keselarasan hidup dunia dan akhirat. Penelitian dalam tulisan ini menerapkan metode studi literatur dan metode komparatif, dilengkapi dengan referensi yang relevan secara luas. Proses analisis dalam artikel ini menggunakan pendekatan hermeneutik untuk menginterpretasikan makna sesuai konteks. Data awal diperoleh dari studi literatur serta bahan dokumen lain seperti jurnal, buku, dan sumber lainnya. Dengan menganalisis teori dan praktik pendidikan Islam, artikel ini mengidentifikasi pentingnya peran kurikulum dalam mengembangkan peserta didik yang memiliki kemampuan akademik sekaligus kesadaran spiritual yang kuat. Temuan ini menyoroti pentingnya integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moralitas yang tinggi.
INTERAKSI EDUKATIF GURU PAI DALAM MEMBANGUN SIKAP KESALEHAN SOSIAL PESERTA DIDIK DI SD IT NURUL ISLAM Wasito, Wasito; Afif, Rokhmad; Nursikin, Mukh
IDEALITA: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah ( STAIFA ) Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62525/10.62525/idealita.2022.v2.i2.60-74

Abstract

The practice of PAI learning which still often focuses on cognitive theoretical issues related to the development of Islamic values ​​by ignoring the development of affective and cognitive-volative aspects, such as the willingness and determination to practice Islamic values, becomes the context for PAI learning. As a result, there is often a disconnect between how religion is understood and how it is practiced in everyday life. Many religious people are individually devout but not socially devout. Further research was conducted on the educative interactions of PAI teachers and their implementation on attitudes. students' social piety based on this problem. This type of research uses qualitative research based on the sociology of education. Observation, interview, and documentation are all methods of data collection. Qualitative analysis of research data includes data reduction, data presentation, verification, and drawing conclusions. Data triangulation, or technical triangulation, sources, and time, serves as a test of research data validation. The findings of this study indicate the following: The first educational interaction pattern used by PAI teachers was a one-way interaction pattern. PAI teachers use the lecture method to apply this one-way interaction pattern. 2) Two-way interaction patterns, which are carried out through a question and answer format by PAI instructors. 3) PAI teachers use group discussion learning methods and various religious activities related to social piety as part of the learning process. of the multidirectional interaction pattern. Second, the PAI KBM process is used to implement educative interactions for PAI teachers at SD IT Nurul Islam Tengaran, including getting students to pray first. and after learning, understanding previous learning materials, mastering and delivering good learning materials, connecting with community issues, creating a pleasant learning environment with the help of media and learning strategies, being open, inclusive, objective, and non-discriminatory towards students, and provide an evaluation to measure students' understanding of the learning material. Outside of KBM PAI, namely introducing students to Islamic teachings, instilling values ​​through school-based religious activities.
FILSAFAT PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DAN JOHN DEWEY SEBAGAI LANDASAN PELAKSANAAN P5 DALAM KURIKULUM MERDEKA Sabilla, Dheta Ari; Ashar, Hanafi; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 4, No 6 (2023)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35672/afeksi.v4i6.176

Abstract

Penelitian ini mengkaji cara pandang filsafat pendidikan progresivisme yang dihubungkan dengan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dalam kurikulum merdeka diharapkan pendidikan di Indonesia memiliki arah dan tujuan yang jelas. Selain itu, sumber daya manusia di Indonesia lebih berkualitas dan sesuai dengan harapan dan cita-cita negara Indonesia. Metode penelitian ini adalah pendekatan kajian pustaka (library research). Kajian pustaka yang dimaksud dari berbagai sumber baik buku, jurnal, serta literature-literatur lainnya yang terkait dengan filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara dan John Dewey, landasan aliran filsafat progresivisme, P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila), dan kurikulum merdeka. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa manusia diberi kebebasan dari Tuhan untuk mengatur kehidupannya tetap sejalan dengan aturan atau budaya yang tumbuh di masyarakat. Oleh karena itu peserta didik harus mepunyai jiwa merdeka dalam artian merdeka secara lahir, batin, dan tenaganya. Realitas perlu dibangun melalui tindakan akal dan budi berdasarkan ingatan akan pengalaman yang pernah terjadi. Belajar harus menitikberatkan pada praktik dan trial and error. Manusia harus aktif, penuh minat, dan siap berkesplorasi. Oleh karen itu, pendidikan bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan, melainkan pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan hidup. Pendidikan diarahkan pada efesiensi sosial dengan cara menumbuhkan kemamuan untuk berpatrisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi memenuhi kepentingan da kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal.
Urgensi Pendidikan Karakter di Era Society 5.0 dalam Pendidikan Agama Islam Rohmiyanti, Ika Ayu; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5, No 3 (2024)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v5i3.296

Abstract

Pendidikan karakter (watak) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dunia dewasa ini masuk dalam revolusi society 5.0 seperti yang kita ketahui. Revolusi society 5.0 dimaknai sebagai kehidupan yang berpusat pada teknologi (technology based) dan juga pada manusia (human centered). Dari perkembangan ini berakibat pada kekhawatiran adanya penggerusan nilai-nilai karakter pada diri peserta didik. Terkait dengan hal tersebut, penelitian ini ingin mendalami secara lebih luas mengenai urgensi pendidikan karakter di era society 5.0 dalam Pendidikan Agama Islam. Proses dalam penelitian artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan menggunakan bahan-bahan pustaka atau literatur sebagai sumber utama informasi. Adapun hasil dari penelitian ini adalah pendidikan karakter sangat penting ditanamkan dalam diri peserta didik di era society 5.0, salah satunya melalui peran guru Pendidikan Agama Islam. Dimana dalam menanamkan pendidikan karakter pada diri peserta didik, guru PAI memiliki beberapa peran penting, yaitu: Sebagai orang tua kedua, penerus ilmu, petunjuk jalan, fasilitator dan teladan. Selain itu guru PAI perlu menguasai beberapa kemampuan penting yang perlu dimiliki di era society 5.0. ini yaitu memiliki karakter kuat untuk bisa mengatasi berbagai problematika di era 5.0 ini, kreatif dan berpikir kritis. Dengan berbagai upaya yang dilakukan diharapkan dapat menumbuhkan karakter religius, cerdas, dan bertanggungjawab pada diri peserta didik sehingga mampu mewujudkan cita-cita pendidikan bangsa Indonesia.
Kontemplasi Pemikiran Wasathiyyah dalam Pendidikan Islam Maghfiroh, Anis; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35672/afeksi.v5i1.213

Abstract

Dalam konteks pendidikan Islam, pemikiran Wasatiyyah menonjolkan prinsip-prinsip keadilan, kebebasan berpikir, dan pengetahuan umum. Hal ini menjadikannya sebagai sumber inspirasi utama bagi para pemikir dan praktisi pendidikan Islam dalam menghadapi berbagai tantangan era modern. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dan kajian literatur sebagai pendekatan utamanya. Analisis literatur, termasuk buku-buku dan sumber-sumber daring, menjadi elemen integral dalam upaya mendalam untuk memahami bagaimana konsep Wasatiyyah dalam konteks pendidikan Islam mendorong umatnya mencapai keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Pemikiran Wasatiyyah memiliki dampak yang signifikan dalam hal ini karena mengusung gagasan bahwa pendidikan Islam harus memadukan nilai-nilai agama dengan tuntutan dunia modern untuk menciptakan harmoni yang berkelanjutan. Penelitian ini berupaya untuk memberikan wawasan yang mendalam tentang kontribusi pemikiran Wasatiyyah dalam pengembangan pendidikan Islam yang relevan di era saat ini.
Penanaman akhlak pada anak usia dini pasca pandemi covid-19 melalui metode storytelling Laili, Zuhrotul; Suryono, Suryono; Nursikin, Mukh
Indonesian Journal of Muhammadiyah Studies (IJMUS) Vol. 3 No. 1 (2022): Indonesian Journal of Muhammadiyah Studies
Publisher : Majelis Pembinaan Kader Sumber Daya Insani Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62289/ijmus.v3i1.31

Abstract

ABSTRACT In the process of teaching and learning activities, of course, a teacher uses various methods in carrying out his duties. The method used to be more effective, communicative, and fun for children, must be in line with the stages of development, both in terms of language, media and implementation. One method that is considered suitable for instilling moral values ​​in children is the storytelling method. With storytelling children can capture the narrative told by the teacher and apply it to their daily lives. The storytelling method in inculcating moral values ​​that is applied has a lot of positive effects on the moral development of children. The type of research used is qualitative research. The subjects of this study were children aged 4-5 years old. Qualitative research, which is a method of collecting data with the author directly in the field, is used to collect data in this study. Therefore, the information collected is empirical. The writer then used the following data collection procedures in this field study: 1) Observation 2) Conducting interviews 3) Providing documentation. This study uses three analytical techniques: data reduction, data display (data presentation), and conclusion drawing (data verification). The purpose of this study was to examine the use of the storytelling method in growing morals, as well as the supporting elements and challenges of using the storytelling method in fostering good behavior in children. The implementation is carried out through the stages of planning, implementation, and evaluation. The application of the method at the same time in the context of inculcating moral values ​​in children. With the Storytelling method used by researchers to instill morals in early childhood, the results are significant. Keywords: Storytelling, Morals, Learning Method
Peran Guru PAI Dalam Internalisasi Akhlak Siswa Kepada Guru di SMP Ma’arif Grabag Magelang Tahun 2023 Suryono, Suryono; Nursikin, Mukh
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran Guru PAI Dalam Internalisasi Akhlak Siswa Kepada Guru di SMP Ma’arif Grabag Magelang Tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru PAI dalam internalisasi akhlak siswa kepada guru di SMP Maarif Grabag Magelang,. Respoden Penelitian ini yaitu Kepala Sekolah, Waka Kurikulum, Guru PAI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data-data tersebut dikumpulkan dengan divalidasi dari hasil observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi akhlak siswa kepada guru diawali dengan peran guru PAI SMP Ma’arif Grabag Magelang tertuang dalam program intrakurikuler. Hambatan yang dihadapi yaitu kurangnya pemahaman dan kesadaran siswa, kurangnya kepedulian bagi guru dan karyawan untuk memberikan perhatian dan pengawasan terhadap perilaku siswa. Solusi yang dilakukan yaitu dengan melakukan kegiatan evaluasi secara berkala pada setiap kegiatan penanaman akhlak bagi para siswa dan peningkatan kompetensi guru serta membangun sikap kepedulian pada setiap guru agar bisa menjadi teladan bagi para siswanya.
Transformasi Pendidikan Islam Menurut Muhammad Iqbal dan Relevansinya Dalam Proses Pembentukan Karakter Peserta Didik Rofi’ah, Nur; Nursikin, Mukh
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19531

Abstract

Indikasi masalah dalam penelitian ini adalah kemerosotan moral dan karakter generasi muda yang semakin memprihatinkan di era modern. Banyaknya tindakan kriminal, ketidakadilan, dan krisis identitas menunjukkan pentingnya pendidikan karakter dalam membentuk individu yang memiliki integritas dan tanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pendidikan Islam menurut Muhammad Iqbal dan relevansinya dalam proses pembentukan karakter peserta didik. Dengan menggali pandangan Iqbal tentang pendidikan dan pengembangan karakter, diharapkan dapat ditemukan solusi yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan untuk memperbaiki moral dan akhlak generasi muda. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Sumber data diperoleh dari karya-karya Muhammad Iqbal serta literatur terkait yang membahas pendidikan karakter. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan Iqbal yang menekankan pengembangan ego (kepribadian) sangat relevan dalam pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan yang menggabungkan aspek intelektual dan spiritual dapat memperkuat karakter individu, membentuk manusia yang bertanggung jawab, dan memiliki integritas. Penerapan konsep ini dalam pendidikan diharapkan dapat menjadi solusi untuk krisis moral di kalangan generasi muda.
Co-Authors Abdul Wahab Afif, Rokhmad Ahmad, Khatib Ramli Ainun Jariyah Al Amin, Muhammad Yasin Amin, Moh Nasrul Anis Maghfiroh, Anis Anitasari, Erni Apriliira, peny Arrosyid’, Muhammad Harun Ashar, Hanafi Asri Nurdiana, Asri Assyifa Putri*, Salsabila Azhar, Muhammad Zul Azizah, Khoridatul Dermawan, Yudi Agung Elliot, McCarty Faisal Afda’u Faiyah, Isti Fajar Syarif Farhan Mujib, Muhammad Fatikah, Kaliana Fauzi*, Rachmad Hanung Triyoko, Hanung Indah Febriyani, Nur Irawan, Dodi Irfani, Ahmad Junedi Junedi, Junedi Karwadi Kathryn, Morse Kurniawan, Riza Aditya Kusuma Putra*, Alif Jilham Laili, Zuhrotul Laksono, Kabul Luthfi, Sohif Maftahal M. Ihsan Dacholfany Ma'arif, Alwi Ilqam Ma'shum, Firdaus Asrori Maftukhah, Maftukhah Maghriza, Muhammad Taufiq Ridlo Mandala, Gerry Maro, Ajeng Virga Sawitri Maslikhah , Maslikhah Ma’arif, Alwi Ilqam Mighfar, Shokhibul Millatana, Aufiy Mirani, Aisha Muhammad Afif Muhammad Aji Nugroho Muhammad Iksan, Muhammad Muhammad Nashihin Muhja, Zainal Abidin Mujib, Muhammad Farhan Mulyadi, Kenang Agus Narko Narko, Narko Nisak, Durotun Ni’mah, Choirun Nur Azizah NUR KHOLIFAH Nurhardini, Rahma Pratama, Aufar Rifqi Prayitno, Nur Hasbullah Rahmawati, Amalina Rizqi Ranti nazmi Rofi’ah, Nur Rohmatillah, Nely Rohmiyanti, Ika Ayu SABILLA, DHETA ARI Supriatna, Dasep Suryaningtyas, Ariany Katrin Suryono Suryono Sutrisna Sutrisna Suwardi . Tayeb, Azmil Thowaf, Shofirul Utami, Mita Wakit, Saipul Wasito Wasito Yayat Suharyat Yektiana, Neneng Yoga Anjas Pratama Zakiah, Siti Solichatun Zuraida Zuraida