p-Index From 2021 - 2026
8.614
P-Index
This Author published in this journals
All Journal ATTARBIYAH: Journal of Islamic Culture and Education Halaqa : Islamic Education Journal JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI ATTARBIYAH Literasi : Jurnal Ilmu Pendidikan Widya Balina :Jurnal Ilmu Pendidikan dan Ekonomi Madinah: Jurnal Studi Islam Darajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Ta'dib: Jurnal Pendidikan Islam dan Isu- isu Sosial JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan) Attractive : Innovative Education Journal Al-Mudarris : Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam Al-Muaddib : Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Al-Hijr: Journal of Adulearn World Tsaqofah: Jurnal Penelitian Guru Indonesia YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya ANWARUL: Jurnal Pendidikan dan Dakwah Jurnal Sosial dan Sains Innovative: Journal Of Social Science Research Jurnal Cendekia : Media Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam Jurnal Ilmiah Citra Ilmu : Kajian Kebudayaan dan Keislaman JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Journal of Innovative and Creativity Indonesian Journal of Muhammadiyah Studies (ijmus) Idealita: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat (Nyiur-Dimas) INSANI: Jurnal Ilmu Agama dan Pendidikan Ulil Albab Tintamas: Jurnal Pengabdian Indonesia Emas As-Sulthan Journal of Education Rihlah Review: Jurnal Pendidikan Islam
Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Pendidikan Nilai dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Menurut John Dewey dan Al-Ghazali Al Amin, Muhammad Yasin; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 6, No 5 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v6i5.535

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep pendidikan nilai dalam perspektif filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh dua tokoh besar, yaitu John Dewey dari aliran Progresivisme dan Al-Ghazali dari aliran Idealisme Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi pustaka (library research), dengan teknik analisis isi terhadap karya-karya primer maupun sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa John Dewey menekankan pentingnya pengalaman langsung dan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran sebagai dasar penanaman nilai. Menurutnya, pendidikan nilai harus bersifat demokratis, kontekstual, dan mendorong berpikir kritis. Sementara itu, Al-Ghazali menempatkan pendidikan nilai dalam kerangka religius dan spiritual, dengan tujuan utama mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Al-Ghazali mengedepankan metode keteladanan, pembiasaan, dan pembinaan moral sebagai pendekatan utama. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun memiliki pendekatan berbeda, pemikiran Dewey dan Al-Ghazali dapat diintegrasikan untuk membentuk model pendidikan nilai yang komprehensif, menggabungkan dimensi rasional, sosial, dan spiritual dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam di Indonesia.
Konsep Pendidikan Nilai Dalam Filsafat Pendidikan Islam Perspektif Ki Hajar Dewantara Dan Buya Hamka Fatikah, Kaliana; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v6i3.480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan konsep pendidikan nilai dalam perspektif filsafat pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dan Buya Hamka. Keduanya merupakan tokoh penting dalam pengembangan pendidikan nilai di Indonesia, namun memiliki pendekatan dan dasar pemikiran yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ki Hajar Dewantara menekankan pendidikan nilai yang berlandaskan pada budaya nasional, budi pekerti, dan kemerdekaan belajar, sedangkan Buya Hamka mendasarkan pendidikan nilai pada ajaran Al-Quran dan Sunnah dengan orientasi pembentukan akhlak mulia dan ketakwaan kepada Allah. Perbedaan mendasar terletak pada sumber nilai dan orientasi: Ki Hajar Dewantara lebih bersifat humanistik dan kebangsaan, sedangkan Buya Hamka lebih bersifat teosentris dan religius. Meski demikian, keduanya sama-sama menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek kognitif, moral, dan spiritual dalam pendidikan. Pemikiran kedua tokoh ini relevan diterapkan dalam pendidikan modern melalui penguatan pendidikan karakter, integrasi nilai-nilai agama dan budaya dalam kurikulum, serta peningkatan peran guru sebagai teladan. 
Pendekatan dan Strategi Pendidikan Nilai Menurut Oemar Hamalik Dan dedja Mudyahardjo Mulyadi, Kenang Agus; Nursikin, Mukh
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 6, No 5 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v6i5.539

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pendekatan dan strategi pendidikan nilai menurut dua tokoh pendidikan Indonesia, Oemar Hamalik dan Redja Mudyahardjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka, yaitu dengan menelaah berbagai karya tulis kedua tokoh yang berkaitan dengan pendidikan nilai. Hasil kajian menunjukkan bahwa Oemar Hamalik menekankan pentingnya metode pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman langsung dalam proses pembentukan karakter siswa. Sementara itu, Redja Mudyahardjo lebih menitikberatkan pada strategi pembelajaran aktif seperti pembelajaran berbasis proyek, diskusi, dan refleksi sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual. Kedua tokoh sepakat bahwa pendidikan nilai harus diarahkan pada pengembangan kepribadian yang bertanggung jawab, mandiri, dan kritis. Namun, implementasi strategi ini di sekolah menghadapi tantangan, seperti kurangnya komitmen guru, keterbatasan fasilitas, dan minimnya keterlibatan orang tua. Oleh karena itu, peran guru menjadi sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan bermakna untuk mendukung keberhasilan pendidikan nilai di sekolah.
Tren Lembaga Pendidikan Islam Ekslusif-Elit Menjawab Tantangan Era Modern Azizah, Khoridatul; Azizah, Nur; Nursikin, Mukh
Darajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 8 No. 1 (2025): Darajat: Jurnal PAI
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dam Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI TABAH) Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/darajat.v8i1.3064

Abstract

Lembaga pendidikan Islam eksklusif-elit adalah institusi pendidikan yang memenuhi persyaratan khusus dan terbatas pada wilayah tertentu. Lebih sering daripada tidak, lembaga-lembaga ini memiliki standar akademik yang tinggi. Mereka menawarkan pelatihan agama Islam yang mendalam dan kurikulum akademik yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tren lembaga pendidikan Islam eksklusif-elite dalam menghadapi tantangan di era kontemporer. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran institusi pendidikan Islam eksklusif-elit telah membawa warna baru ke perkembangan pendidikan di Indonesia. Lembaga pendidikan Islam eksklusif-elit bertujuan untuk memadukan pendidikan agama yang menjadi ciri khas pesantren dengan pendidikan modern yang menjadi ciri khas sekolah umum. Karena fasilitasnya yang memadai, biaya sekolah menjadi semakin mahal, dan sebagian besar dari mereka hanya dapat diakses oleh kalangan menengah Muslim
The Strategic Role of Curriculum in the Transformation of Islamic Education Mujib, Muhammad Farhan; Ma'shum, Firdaus Asrori; Nursikin, Mukh
Al-Mudarris Vol 8 No 1 (2025): Al-Mudarris
Publisher : Jurusan Tarbiyah,IAIN PALANGKARAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/mdr.v8i1.9794

Abstract

Education cannot be separated from the curriculum. Every educational institution will certainly use the curriculum as a reference to achieve the desired goals. The curriculum as the main component in the educational process, plays a vital role in developing the potential of students, both morally, intellectually, and skills. The purpose of this paper is to find out how the role of the curriculum in the transformation of Islamic education. The method used in the study is the library research method. The sources used in this study came from books, journal articles, and other literature related to the research topic. The results of the study show that in Islamic education, the curriculum has three main roles, namely conservative to preserve cultural and religious values, creative to create innovations according to the times, and critical and evaluative to adjust values ​​to the modern context. The function of the curriculum is discussed in various aspects, including students, educators, madrasah principals, parents, educational institutions, and the community. The importance of cooperation between educational stakeholders to create a curriculum that is flexible, futuristic, and adaptive to changes in the times. By strengthening a harmonious and optimally functioning curriculum, Islamic education can produce competent individuals who are able to adapt to the progress of the times and build a more harmonious, just, and sustainable society. The ideal curriculum must be harmonious, function optimally, and involve cooperation between various parties in the world of education.
Penanaman apotek hidup: menggali potensi tanaman obat dengan pendekatan Islami yang moderat untuk kesejahteraan masyarakat Nurhardini, Rahma; Ni’mah, Choirun; Nursikin, Mukh; Thowaf, Shofirul; Kurniawan, Riza Aditya
Tintamas: Jurnal Pengabdian Indonesia Emas Vol. 1 No. 2 (2024): Tintamas: Jurnal Pengabdian Indonesia Emas
Publisher : Nur Science Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53088/tintamas.v1i2.1029

Abstract

One method of cultivating herbal plants is creating a living pharmacy. A living pharmacy involves using land to grow medicinal plants that can be used for daily needs. Some examples of plants that can be cultivated in a living pharmacy are ginger, galangal, turmeric, and lesser galangal. Establishing a living pharmacy boosts the immune system and is an alternative to herbal medicine. This community service initiative aims to educate the residents of Dusun Mranggen about the benefits, planting techniques, maintenance, and utilization of these medicinal plants. The method used is Participatory Action Research (PAR), which combines research and action to raise critical awareness and improve conditions and practices through changes within a specific community. As a result, the community has better understood how to grow and utilize herbal plants. It has successfully used available land around their homes to plant medicinal plants that benefit their health.
Kemandirian Intelektual dan Kedisiplinan Siswa-siswi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Studi Eksplorasi SMA Muhammadiyah Susukan Kabupaten Semarang) Millatana, Aufiy; Nursikin, Mukh
Attractive : Innovative Education Journal Vol. 6 No. 1 (2024): Attractive : Innovative Education Journal
Publisher : CV. Creative Tugu Pena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51278/aj.v6i1.1145

Abstract

This research is to determine the independence and discipline of students in learning PAI at SMA Muhammadiyah Susukan, Semarang Regency. Independence and discipline are the keys to the success of a learning activity. This study used a qualitative approach, in obtaining data researchers used interviews, observation, and documentation. Data analysis in this study includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study conclude that students' intellectual independence in learning PAI at SMA Muhammadiyah Intellectual independence and student discipline in learning PAI at SMA Muhammadiyah Susukan. The intellectual independence of students at Muhammadiyah High School Susukan is reflected through activities including: literacy reading the Qur'an, midday and midday prayers in congregation, and cults, student work titles in the form of call to prayer, tartil, qiro'ah, performing arts dance and painting. e. Efforts to increase student independence and discipline in learning PAI. Efforts made at SMA Muhammadiyah Susukan in increasing student independence, especially in PAI learning include: using models in learning activities, providing fun material, giving appreciation or praise. Efforts to improve student discipline in learning PAI at Muhammadiyah High School Susukan through the following: implementing class rules, punishments or sanctions and giving. (3) Inhibiting and supporting factors in increasing students' intellectual independence and discipline in PAI learning at Muhammadiyah High School Susukan include: Inhibiting factors in increasing students' intellectual independence as follows: student background, lack of books provided, internal factors, namely laziness, lack of communication from the teacher. Keywords: Intellectual Independence, Intellectual Discipline, Educational Learning
Peran generasi Muslim Milenial sebagai Model untuk Menjaga Bangsa dan Moderasi Beragam Utami, Mita; Nursikin, Mukh
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2: Januari 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v3i2.2757

Abstract

Semangat globalisasi telah memangkas bola dunia yang luas menjadi sempit dan pengaruh globalisasi di era sekarang juga dapat mengikis rasa cinta tanah air bagi sebagian besar individu, khususnya di kalangan anak muda generasi melenial. Penelitian ini menggunakan metode library research yakni penelitian yang dilakukan dengan membaca literatur berupa buku-buku, jurnal, majalah dan sumber lainnya. Oleh karena itu, dilakukan pengumpulan data baik dari kepustakaan ataupun yang lainnya. jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yakni penelitian yang menemukan dan mencari definisi pengertian atau pemahaman yang berkaitan dengan suatau fenomena dengan latar belakang yang khusus atau yang disebut dengan naturalistik. Penelitian ini menunjukan hasil bahwa arus globalisasi membawa dampak munculnya isu persoalan Islam dan kebangsaan yang dipertentangkan, keduanya harus saling melengkapi demi kesejahteraan bangsa dan kenyamanan dalam menjalankan perintah agama di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peran anak muda sangat dibutuhkan sebagai model untuk mengangkat citra Islam Indonesia agar menjadi rujukan dunia dalam mewujudkan masyarakat yang damai dan berkeadaban.
Morning Activity dan Implikasinya Terhadap Habituasi Infaq dan Shadaqah serta Penguatan Karakter Peduli Sosial Siswa SMP Muhammadiyah Plus Salatiga Rahmawati, Amalina Rizqi; Nursikin, Mukh
Jurnal Ilmiah Citra Ilmu Vol 1 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Citra Ilmu: Kajian Kebudayaan dan Keislaman
Publisher : Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of the education can be activity with optimal result, if operated with appropriate strategy. One of the appropriate strategy to help the purpose of education can be achieve is morning activity. Activities in the morning before to beginning of teaching. For giving good habituation in students self. The purpose of the research are (1) to describe morning activity in Muhammadiyah Plus Junior High School Salatiga; (2) to describe morning activity implication to give clarity habituation in Muhammadiyah Plus Junior High School Salatiga; and (3) to describe morning activity implication to increase take care for each other in Muhammadiyah Plus Junior High School Salatiga. The methodology of this research is field research and the subjects are teachers of Muhammadiyah Plus Junior High School Salatiga. The data collection uses interview technique, observation, and documentation. The result of this research are as follows: (1) morning activity are activity in the morning befpre the beginning to teaching such as dhuha prayers together, tadarus, tahfizh, morning motivation, give clarity, and morning ceremony; (2) morning activity implication to give clarity hatituation such as student active to give for help the each other; and (3) morning activity implication to increase take care for each other are student can emphaty to other people, take care to friends, follows on social event, respect to teachers and staffs.
Tantangan Islam Wasathiyah di Nusantara Dermawan, Yudi Agung; Nursikin, Mukh
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.13536

Abstract

Kajian ini membahas tentang pengertian Islam wasathiyah secara etimologi dan terminologi serta tantangan Islam wasathiyah yang ada di Nusantara. Kajian ini merupakan penelitian library research (penelitian kepustakaan), yaitu sebuah penelitian yang dilaksanakan dengan cara pengumpulan data dan informasi melalui bantuan yang terdapat di perpustakaan seperti artikel, buku referensi, catatan, hasil penelitian terdahulu dan berbagai macam jurnal yang berhubungan dengan masalah yang ingin diselesaikan. Dengan jenis penelitian kualitatif penulis berupaya mengurai tantangan Islam wasathiyah di Nusantara. Penelitian ini menjelaskan bahwa Islam wasathiyah secara terminologi adalah sebuah risalah yang dibawa nabi Muhammad SAW., yang bersumber dari wahyu Allah SWT. untuk seluruh makhluk yang ada di alam semesta guna menjalin hubungan kepada sang pencipta, sesama manusia dan alam semesta tanpa berada disalah satu kubu yang ekstrem ifrath dan muqashir, tetapi tetap berada di posisi tengah-tengah. Tantangan Islam wasathiyah di Nusantara menjadi sangat berat karena masih terdapat individu, organisasi atau pendakwah yang mengamalkan pemahaman ekstrem dan liberal dari tokoh-tokoh terdahulu, disisi lain maraknya dakwah di media sosial yang mengklaim tren hijrah mengincar generasi muda bangsa Indonesia, karena generasi milenial ini lebih memilih menimba ilmu agama dengan melalui internet yang dinilai mudah dan praktis tanpa adanya penyaringan informasi yang dapat menimbulkan gerakan yang radikal dan intoleran.
Co-Authors Abdul Wahab Afif, Rokhmad Ahmad, Khatib Ramli Ainun Jariyah Al Amin, Muhammad Yasin Amin, Moh Nasrul Anis Maghfiroh, Anis Anitasari, Erni Apriliira, peny Arrosyid’, Muhammad Harun Ashar, Hanafi Asri Nurdiana, Asri Assyifa Putri*, Salsabila Azhar, Muhammad Zul Azizah, Khoridatul Dermawan, Yudi Agung Elliot, McCarty Faisal Afda’u Faiyah, Isti Fajar Syarif Farhan Mujib, Muhammad Fatikah, Kaliana Fauzi*, Rachmad Handayani, Riski Hanung Triyoko, Hanung Indah Febriyani, Nur Irawan, Dodi Irfani, Ahmad Junedi Junedi, Junedi Karwadi Kathryn, Morse Kurniawan, Riza Aditya Kusuma Putra*, Alif Jilham Laili, Zuhrotul Laksono, Kabul Luthfi, Sohif Maftahal M. Ihsan Dacholfany Ma'arif, Alwi Ilqam Ma'shum, Firdaus Asrori Maftukhah, Maftukhah Maghriza, Muhammad Taufiq Ridlo Maharani, Ardina Mandala, Gerry Maro, Ajeng Virga Sawitri Maslikhah , Maslikhah Ma’arif, Alwi Ilqam Millatana, Aufiy Mirani, Aisha Muhammad Afif Muhammad Aji Nugroho Muhammad Iksan, Muhammad Muhammad Nashihin Muhja, Zainal Abidin Mujib, Muhammad Farhan Mulyadi, Kenang Agus Narko Narko, Narko Nisak, Durotun Ni’mah, Choirun Nur Azizah Nurhardini, Rahma Pratama, Aufar Rifqi Prayitno, Nur Hasbullah Rahmawati, Amalina Rizqi Ranti nazmi Rofi’ah, Nur Rohmatillah, Nely Rohmiyanti, Ika Ayu SABILLA, DHETA ARI Supriatna, Dasep Suryaningtyas, Ariany Katrin Suryono Suryono Sutrisna Sutrisna Suwardi . Tayeb, Azmil Thowaf, Shofirul Utami, Mita Wakit, Saipul Wasito Wasito Yayat Suharyat Yektiana, Neneng Yoga Anjas Pratama Zakiah, Siti Solichatun Zuraida Zuraida