Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Pemberian Terapi Imajinasi Terbimbing (Guided Imagery) Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pasien Post Operasi Di Ruang Bedah RSUD dr. Soedirman Kebumen Wahyu Saputro; Magenda Bisma Yudha; Amelia Andini
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.272

Abstract

Prosedur bedah sering menimbulkan nyeri pasca operasi yang dapat memengaruhi kenyamanan dan proses penyembuhan pasien. Salah satu metode non-farmakologis untuk mengurangi nyeri adalah terapi imajinasi terbimbing (guided imagery). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh guided imagery terhadap intensitas nyeri pasien post operasi di RSUD dr. Soedirman Kebumen. Desain penelitian menggunakan pre-eksperimental one group pretest-posttest dengan 121 responden yang dirawat pada 19 Mei–27 Juni 2025 di Bangsal Teratai. Hasil menunjukkan mayoritas responden berusia 56–65 tahun (31,4%) dan berjenis kelamin perempuan (64,5%). Sebelum intervensi, sebagian besar mengalami nyeri sedang (75,2%), sedangkan setelah diberikan terapi mayoritas mengalami penurunan menjadi nyeri ringan (84,3%). Uji statistik diperoleh p = 0,000 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh signifikan terapi guided imagery dalam menurunkan nyeri post operasi. Terapi ini dapat direkomendasikan sebagai alternatif non-farmakologis untuk manajemen nyeri.
Gambaran Perubahan Suhu Tubuh Pada Pasien Pasca Kraniotomi Dengan General Anestesi Di RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto Siti Noer Ambarwati; Magenda Bisma Yudha; Rahmaya Nova Handayani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.285

Abstract

Kraniotomi merupakan prosedur bedah saraf mayor yang dapat memengaruhi regulasi suhu tubuh akibat respons inflamasi, efek anestesi, dan perubahan fisiologis lainnya. Perubahan suhu pascaoperasi menjadi indikator penting untuk mendeteksi komplikasi awal, seperti infeksi maupun gangguan termoregulasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perubahan suhu tubuh pasien setelah kraniotomi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel sebanyak 70 pasien pasca kraniotomi yang menjalani anestesi umum di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dipilih secara purposive sesuai kriteria inklusi. Pengukuran suhu dilakukan sebelum dan setelah anestesi, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berada pada kelompok usia dewasa 31 orang (44,3%), dengan IMT normal 47 orang (67,1%), perdarahan kelas I 51 orang (72,9%), lama operasi 30 menit–2 jam sebanyak 26 orang (37,1%), dan mayoritas berjenis kelamin perempuan 41 orang (58,6%). Diagnosis terbanyak adalah tumor otak 42 orang (60%). Sebanyak 49 pasien (70%) mengalami hipotermia ringan dengan suhu 32,0°C–36°C. Secara keseluruhan, pasien pasca kraniotomi cenderung mengalami penurunan suhu tubuh pada kategori hipotermia ringan. Oleh karena itu, pemantauan suhu tubuh secara berkala sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi yang mungkin timbul.
Pengaruh Resusitasi Cairan Kristaloid Terhadap Kejadian Syok Hipovolemik: A Systematic Literature Review Moh Diyaul Anshar; Magenda Bisma Yudha; Made Suandika
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.322

Abstract

Pendahuluan: Syok hipovolemik adalah kondisi darurat medis yang mengancam jiwa akibat kehilangan volume darah signifikan, sebanyak 500.000 pasien pertahunnya dan 99% kematian terkait perdarahan obstetri pada wanita. Meskipun resusitasi cairan sangat krusial, efektivitas kristaloid sebagai pilihan utama masih diperdebatkan, mengingat prevalensinya dalam praktik klinis. Penelitian ini bertujuan mensintesis bukti terkini mengenai peran dan dampak kristaloid dalam tatalaksana syok hipovolemik untuk meningkatkan pemahaman dan hasil akhir pasien. Tujuan: Tujuan umum penelitian ini untuk mengetahui efektivitas resusitasi cairan kristaloid dalam penanganan pasien dengan kejadian syok hipovolemik. Metode: Pencarian data melalui website portal jurnal yang dapat dengan mudah diakses seperti Pubmed, Proquest, Scincedirect, dan Crossreff. Hasil dari pencarian ini terbatas pada Randomized Control Trial, Cohort Study dan Kuantitatif, disusun dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Fokus review adalah artikel yang diterbitkan selama sepuluh tahun terakhir dari oktober 2014 sampai oktober 2024. Hasil: Setelah menyaring 1427 artikel, 8 di antaranya terpilih untuk direview. Hasilnya menunjukkan bahwa, meskipun koloid dapat memberikan respons hemodinamik awal yang lebih cepat, efektivitas jangka panjangnya tidak berbeda signifikan dari kristaloid. Secara krusial, mayoritas studi tidak menemukan perbedaan signifikan dalam tingkat kematian dan komplikasi antara pasien syok hipovolemik (termasuk yang menjalani bedah) yang diobati dengan kristaloid atau koloid. Beberapa penelitian juga mengevaluasi jenis larutan Ringer's yang berbeda, dengan karakteristik sampel (usia dan jenis kelamin) yang bervariasi antar studi.
Pengaruh Terapi Murottal Al-Quran Terhadap Tingkat Kecemasan Pre Operasi Spinal Anestesi Di RSI Purwokerto Abid Fadillah Triatmaja; Magenda Bisma Yudha; Amelia Andini
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.427

Abstract

Kecemasan pre operasi sering dialami pasien dan dapat memengaruhi jalannya pembedahan, termasuk pada operasi dengan spinal anestesi. Penanganan yang tepat diperlukan untuk mendukung kesiapan fisik dan psikologis pasien, salah satunya melalui terapi murottal Al-Qur’an sebagai intervensi non farmakologis untuk menurunkan kecemasan. Penelitian ini mengkaji efektivitas terapi murottal Al-Qur’an sebagai metode nonfarmakologis dalam mengurangi kecemasan pasien preoperasi spinal anestesi di RSI Purwokerto. Desain penelitian adalah pre-experimental one group pretest-posttest dengan 79 responden yang dipilih melalui consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner APAIS sebelum dan sesudah terapi murottal Al-Qur’an selama 10 menit melalui MP3 dan earphone. Hasil menunjukkan efektivitas terapi murottal Al-Qur’an dalam menurunkan kecemasan, ditandai dengan perubahan sebagian besar responden dari tingkat kecemasan sedang menjadi ringan atau tidak cemas. Terapi ini memberikan efek relaksasi melalui stimulus auditori yang menurunkan aktivitas saraf simpatis, denyut nadi, dan tekanan darah. Disimpulkan bahwa terapi murottal Al-Qur’an efektif menurunkan kecemasan preoperasi pada pasien spinal anestesi, sehingga direkomendasikan sebagai intervensi nonfarmakologis dalam asuhan keperawatan perioperatif.
Edukasi Kepada Remaja Man 02 Banyumas Tentang Bantuan Hidup Dasar (Bhd) pada Kasus Kegawatdaruratan Risa Zulvia; Ns. Martyarini Budi S; Magenda Bisma Yudha
Jurnal Inovasi Global Vol. 2 No. 9 (2024): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v2i9.159

Abstract

Tujuan kegiatan PKM ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan siswa terkait dengan BHD sehingga kedepannya siswa berperan aktif dalam memberikan pertolongan pertama atau BHD pada kasus kegawatdaruratan. Mitra. Mitra yang dituju pada program PKM ini adalah siswa MAN 02 Banyumas. Metode yang dilakukan adalah dengan memberikan pemaparan materi menggunakan PPT dengan metode ceramah dan dilanjutkan dengan demontrasi BHD.  Berdasarkan hasil edukasi kepada remaja MAN 02 Banyumas tentang BHD pada Kasus Kegawatdaruratan, sebelum dilakukan edukasi tingkat pengetahuan siswa tentang BHD memiliki tingkat pengetahuan pada kategori kurang dengan hasil (74,3 %). Sesudah dilakukan edukasi tingkat pengetahuan siswa tentang BHD memiliki tingkat pengetahuan pada kategori baik dengan hasil (94,3 %). Kesimpulan Berdasarkan karakteristik peserta: usia dengan mayoritas 16 tahun sebanyak 12 peserta (34,3 %), berdasarkan jenis kelamin dengan mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebanyak 18 orang (51,4 %) dan berdasarkan kelas dengan mayoritas kelas XII sebanyak 15 orang (42,9 %). Sebelum dilakukan edukasi tingkat pengetahuan siswa tentang BHD memiliki tingkat pengetahuan pada kategori kurang dengan hasil (74,3 %). Sesudah dilakukan edukasi tingkat pengetahuan siswa tentang BHD memiliki tingkat pengetahuan pada kategori baik dengan hasil (94,3 %). Luaran. Kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan serta kemampuan siswa tentang BHD serta bisa dijadikan media pembelajaran yang berupa buku saku tentang BHD dan akan di HKI. Hasil kegiatan dapat diterbitkn pada jurnal ilmiah berkala.
Pengaruh Posisi Trendelenburg dengan Posisi Supine terhadap Hipotensi Pasca Spinal Anestesi di RS Bhayangkara TK III Padang Singgih Elva Putra; Magenda Bisma Yudha; Rahmayana Nova H
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v9i2.979

Abstract

Hypotension is the most common complication following spinal anesthesia due to sympathetic nerve blockade, which leads to vasodilation and decreased venous return. One of the preventive measures is patient positioning, such as Trendelenburg and supine positions. This study aimed to determine the effect of both positions on the incidence of post-spinal hypotension at Bhayangkara Hospital TK III Padang. This research applied a quantitative observational analytic design involving 55 elective surgical patients, consisting of Trendelenburg position (n=32) and supine position (n=23). Data were collected through direct observation and blood pressure measurement using NIBP. Data analysis included univariate, bivariate with Spearman Rank test, and Mann-Whitney U test. The results showed that most respondents were female (60%) and classified as ASA I (56.4%). Post-spinal hypotension occurred in 41.8% of patients with systolic <90 mmHg, 27.3% with diastolic <60 mmHg, and 30.9% with a ≥20% decrease from baseline. Bivariate analysis revealed a significant association between patient position and hypotension (p<0.001; rho=0.466). The Mann-Whitney U test showed a significant increase in blood pressure in both positions (p<0.001), but the Trendelenburg position was more protective compared to supine. In conclusion, patient position has a significant effect on the incidence of hypotension after spinal anesthesia. The Trendelenburg position is more effective in preventing hypotension than the supine position, making it a valuable clinical consideration in anesthetic practice.
Hubungan Durasi Operasi terhadap Kejadian Waktu Pulih Sadar Pasien Pasca Anestesi Umum di Ruang Pemulihan RSUD Dr. Soedirman Kebumen Aidil Giffari; Magenda Bisma Yudha; Noor Yunida Triana
Medika: Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2025): Medika: Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/medika.v5i2.1028

Abstract

Anestesi umum merupakan prosedur yang menyebabkan hilangnya kesadaran dan nyeri secara sentral, diperlukan untuk kenyamanan pasien selama pembedahan. Salah satu komplikasi yang kerap terjadi pasca anestesi umum adalah keterlambatan pulih sadar, yang dapat meningkatkan risiko gangguan jalan napas, hipoksemia, hingga komplikasi neurologis. Durasi operasi menjadi salah satu faktor yang diduga mempengaruhi waktu pemulihan kesadaran. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel sebanyak 90 pasien pasca operasi dengan anestesi umum di ruang pemulihan RSUD dr. Soedirman Kebumen diambil menggunakan teknik consecutive sampling sesuai kriteria inklusi. Variabel independen adalah durasi operasi (≤60 menit dan > 60 menit), sedangkan variabel dependen adalah waktu pulih sadar (≤ 15 menit dan >15 menit) yang diukur menggunakan lembar observasi Aldrete Score. Analisis data dilakukan dengan uji Fisher’s Exact Test (p < 0,05). Mayoritas pasien menjalani operasi singkat ≤60 menit (61,1%) dan mengalami pulih sadar cepat ≤ 15 menit (56,7%). Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara durasi operasi dengan kejadian waktu pulih sadar (p = 0,000), di mana operasi dengan durasi > 60 menit cenderung meningkatkan risiko pemanjangan waktu pulih sadar. Durasi operasi berhubungan signifikan dengan waktu pulih sadar pasien pasca anestesi umum. Disarankan tenaga anestesi mempertimbangkan durasi pembedahan dalam perencanaan anestesi dan melakukan pemantauan ketat pada pasien dengan operasi berdurasi panjang untuk meminimalkan risiko keterlambatan pulih sadar.
Edukasi pencegahan mual muntah pada pasien p reoperatif Sectio Caesarea Jonatan Aris Maraya; Rahmaya Nova Handayani; Magenda Bisma Yudha
THE JOURNAL OF Nursing Management Issues Vol. 3 No. 1 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/nmi.v3i1.3370

Abstract

Background: Postoperative nausea and vomiting (PONV) in Sectio Caesarea patients is a significant clinical problem that is often overlooked. The high incidence of PONV in Sectio Caesarea patients, based on the pre-survey, reached 42.8%–45.6%. PONV is the most common side effect after postoperative pain, depending on patient risk factors and the preventive strategies implemented. This condition may lead to serious complications such as wound dehiscence, aspiration, dehydration, prolonged hospitalization, and increased healthcare costs. Purpose: To measure changes in knowledge after education on nausea and vomiting prevention among preoperative Sectio Caesarea patients. Method: This community service activity used a participatory and educational approach with a preoperative educational intervention design. The study was conducted at the Central Surgical Installation of RSUD Merauke from May to June 2026, involving 30 preoperative Sectio Caesarea patients. Results: The majority of respondents were aged 20–35 years (76.7%) and multigravida (76.7%). The pre-test results showed that 70.0% of respondents were in the moderate category and 30.0% in the poor category. After the educational intervention, 83.3% were in the good category and 16.7% in the moderate category, with no respondents remaining in the poor category. Conclusion: Structured, communicative, and easy-to-understand preoperative education effectively improved patients’ understanding of nausea and vomiting prevention, supported patient preparedness for Sectio Caesarea, and has the potential to become an educational intervention model in preoperative services at RSUD Merauke.   Keywords: Cesarean Section; Education; Nausea and Vomiting.   Pendahuluan: Post operative nausea vomiting (PONV) pada pasien Sectio Caesarea merupakan masalah klinis yang signifikan dan sering kali diabaikan. Tingginya kejadian PONV pada pasien Sectio Caesarea, yang berdasarkan pra-survei mencapai 42.8%–45.6%. PONV menjadi efek samping yang paling umum setelah nyeri pascaoperasi, tergantung faktor risiko pasien serta strategi pencegahan yang diterapkan. Keadaan ini berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti dehiscence luka operasi, aspirasi, gangguan hidrasi, serta memperpanjang masa rawat dan biaya perawatan. Tujuan: Untuk mengukur perubahan pengetahuan setelah edukasi pencegahan mual muntah pada pasien p reoperatif sectio caesarea. Metode:  Kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan pendekatan partisipatif dan edukatif dan desain intervensi edukasi preoperatif. Dilaksanakan di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Merauke pada Mei–Juni 2026 dengan melibatkan 30 pasien preoperatif Sectio Caesarea. Hasil: Mayoritas responden berusia 20–35 tahun (76.7%) dan multigravida (76.7%). Pre-test menunjukkan 70.0% responden dalam kategori cukup dan 30.0% kurang. Setelah edukasi, 83.3% berada pada kategori baik dan 16.7% cukup, tanpa responden kategori kurang. Simpulan: Edukasi preoperatif yang terstruktur, komunikatif, dan mudah dipahami efektif meningkatkan pemahaman pasien mengenai pencegahan mual muntah, mendukung kesiapan pasien menghadapi sectio caesarea, dan berpotensi menjadi model intervensi edukatif dalam pelayanan preoperatif di RSUD Merauke.   Kata Kunci: Edukasi, Mual Muntah, Sectio Caesarea.
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Hipotermia Pada Pasien Bedah Laparascopy Dengan General Anestesi: Systematic Literature Review Syafa Awalia Khoirun Nisa; Magenda Bisma Yudha; Made Suandika
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.740

Abstract

Hipotermia intraoperatif merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien yang menjalani pembedahan laparoskopi dengan general anestesi dan dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan fisiologis seperti koagulopati, infeksi luka operasi, serta memperlambat proses pemulihan pasien. Berbagai faktor diketahui berkontribusi terhadap kejadian hipotermia, baik yang berasal dari karakteristik pasien, lingkungan, prosedur, maupun penggunaan obat anestesi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian hipotermia pada pasien bedah laparoskopi dengan general anestesi. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka dengan pendekatan PRISMA melalui pencarian pada database PubMed, ScienceDirect, dan EBSCO Host untuk publikasi tahun 2015–2026. Kriteria inklusi mencakup studi kuantitatif seperti randomized controlled trial (RCT) dan cohort study yang membahas faktor risiko hipotermia intraoperatif. Penilaian kualitas studi dilakukan menggunakan instrumen Joanna Briggs Institute (JBI). Sebanyak 11 artikel terpilih dianalisis dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi kejadian hipotermia meliputi usia lanjut, indeks massa tubuh (IMT) rendah, durasi operasi yang lama, suhu ruang operasi yang rendah, serta penggunaan anestesi umum yang memengaruhi mekanisme termoregulasi. Selain itu, faktor intraoperatif seperti durasi pneumoperitoneum, volume cairan infus, dan paparan gas CO₂ juga berkontribusi terhadap penurunan suhu inti tubuh. Beberapa studi menunjukkan bahwa intervensi seperti active warming, pemanasan cairan infus, dan penggunaan CO₂ yang dipanaskan dapat menurunkan risiko hipotermia dan mempercepat pemulihan pasien. Dengan demikian, identifikasi faktor risiko secara dini dan penerapan strategi pencegahan yang tepat sangat penting untuk meminimalkan kejadian hipotermia intraoperatif pada pasien bedah laparoskopi.
Gambaran Pencegahan Kejadian Hipotensi Pasca Anestesi Spinal di Instalasi Bedah Sentral (IBS) Rsud Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Ginita Yusmaniar; Danang Tri Yudono; Magenda Bisma Yudha
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 5.C (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anestesi spinal merupakan teknik anestesi regional yang efektif dan banyak digunakan, namun hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat efek vasodilatasi dari blokade saraf otonom. Pencegahan hipotensi menjadi penting untuk menjaga kestabilan hemodinamik pasien pasca anestesi spinal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pencegahan kejadian hipotensi pasca anestesi spinal di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling sebanyak 135 responden sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui observasi langsung menggunakan lembar observasi dan dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien menerima cairan pre-loading (68,1%), dengan 77,8% di antaranya menggunakan cairan koloid, serta 51,9% tidak memerlukan pemberian vasopressor. Kejadian hipotensi pasca anestesi spinal terjadi pada 30,4% responden. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi pemberian cairan pre-loading, khususnya cairan koloid, efektif untuk menurunkan kejadian hipotensi pasca anestesi spinal. Oleh karena itu, pencegahan yang tepat seperti pemberian cairan yang sesuai dan pemantauan tekanan darah secara ketat perlu dilakukan sebagai upaya menjaga kestabilan kondisi pasien selama dan setelah tindakan anestesi spinal.
Co-Authors Abid Fadillah Triatmaja Ade Dwi Aulia Agepho, Al Farouk Ozan Aidil Giffari Ali Rahman Mahulauw Alifika Julianinta Sudarmono Amalia, Cindy Amelia Andini Amin Susanto Anisa Delviara Ardi Nugraha Aris Ahmat Aris Nur Rahmat Auliya, Khidmatul Aurelia Harun Al Rasyid Bawahasi, Inka Jestika Cantika, Virginia Raida Danang Tri Yudono Danang Tri Yudono Dani, Dwi Darmawan Desy Idayani Didik Iman Margatot Dwi Novitasari Dzuhuri, Muh Adnan Eki Ulul Azmi Eko Wardoyo Emiliani Elsi Jerau Erlena, Erlena Winda Lestari Fajirin, Muhammad Aldi Firda Susu Fridan Firdaus Fringgandini, Mena Giffari, Aidil Ginita Yusmaniar Hana Zumaedza Ulfa Hannan Putri Rosaeva Hidayanti, Fadila Imanuel Telaumbanua Indri Heri Susanti, Indri Heri Ivani, Naysilla Yuniar Jerau, Emiliani Elsi Jonatan Aris Maraya Jovanca Christy Amara Wibowo Khoirul Anam, Ahmad Leni Maryati Lintang Suryani, Roro luthfi, Ahmad Luthfi Virgiawan Habibi Made Suandika Made Suandika Maitsa, Hilvi Mochamad Bayu Nuryatmaja Moh Diyaul Anshar Muti, Refa Teja Nailli, Yuris Tri Nanda Ariawan Saputri Napa Mulina Nashya, Jhea Aqilla Noor Yunida Triana Ns. Martyarini Budi S Nur Indah Kusuma Dewi Nur Intan Kartika Sari Nur Intan Kartika Sari Nuranggreni, Maricha Nurhadi, Muhammad Zidan Putra Putri, Putri Adawia Qoni Oktanti Rahayu, Mella Budi Rahmaya Nova Handayani Rahmaya Nova Handayani Rahmayana Nova H Ratri, Hong Nuring Madyo Ratu Islami Meiana Putri Reivita Amelia Reivita Amelia Revalina Aulia Rahma Risa Zulvia Roro Lintang Suryani Salsabila Amanda Dwi Damayanti Septian Mixrova Sebayang Setyawati, Martyarini Budi Singgih Elva Putra sinta desiyanti Siti Bakhittah Chaerunisa Siti Noer Ambarwati Sri Nabawiyati Nurul Makiyah Sridevi Suhendro, Anton Surtiningsih Surtiningsih Surtiningsih Suryani, Roro Lintang Susilo Rini Syafa Awalia Khoirun Nisa Tanjung, Ar-Rahman Tophan Heri Wibowo Triana, Noor Yunida Tumbey, Chrynscialdy Wahyu Hidayat Wahyu Saputro Wardoyo, Eko Wasis Eko Kurniawan Wasis Eko Kurniawan Wibowo, Ratu Laraswati Sekar Wilis Sukmaningtyas Yudono, Danang Tri Yunanto Adi Nugroho Zulita, Nabila Ulfa