Claim Missing Document
Check
Articles

Cross-Cultural Education: Integrating Toraja Religion And Traditions In Building Social Harmony Tekla Galla' Manase; Najamuddin; Alwi, Alimin
International Journal of Education, Vocational and Social Science Vol. 5 No. 01 (2026): International Journal of Education, Vocational and Social Science( IJVESS)
Publisher : Cita konsultindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/ijevss.v5i01.2546

Abstract

Abstract Cross-cultural education is a strategic approach in building an understanding of respect and tolerance towards cultural and religious differences in a multicultural society. This study aims to analyze how the integration of religion and traditions of the Toraja people can be a foundation for the formation of social harmony. Toraja as one of the regions in South Sulawesi, has unique characteristics with strong traditional traditions, such as Rambu Solo' and Rambu Tuka', which coexist with the dominance of Christianity, Catholicism, Islam and Aluk Todolo as a local belief system. This study uses descriptive qualitative with a literature study approach, documentation and narrative analysis, The results of the study show that the integration of religion and Toraja traditions through cross-cultural education can strengthen the values ​​of solidarity, mutual cooperation and respect for differences Cross-cultural practices are a concrete example of how education can act as a bridge to reduce the potential for identity conflict, while strengthening social cohesion. Thus. Cross-cultural education based on Toraja local wisdom is worthy of being implemented in the school curriculum and in community social activities.
PENDIDIKAN LINTAS BUDAYA DAN PENGUATAN KARAKTER TOLERANSI PADA GENERASI Z Amir, Dwita Aprilla; Najamuddin, Najamuddin; Alwi, Alimin
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2251

Abstract

The acceleration of globalization accompanied by the rapid development of digital technology has increased the intensity of cross-cultural encounters, especially among Generation Z. On the other hand, this condition has also given rise to various new problems, such as strengthening intolerant attitudes, increasing social polarization, and shifting national values. This article aims to examine the contribution of cross-culturalism in building and strengthening the character of tolerance in Generation Z. The research method used is a literature study with a descriptive-analytical approach to various concepts of multicultural education, character education, and studies on the characteristics of Generation Z. The research findings indicate that cross-cultural education has a strategic role in fostering awareness of diversity, social empathy, and the ability to interact positively between cultures. Strengthening the character of tolerance can be done through the integration of cross-cultural values in the curriculum, the application of pedagogy that is responsive to cultural differences, and the development of digital literacy based on ethics. Based on these findings, this article emphasizes the need for continuous collaboration between educational institutions, educators, and national education policies to create a learning ecosystem that is inclusive, equitable, and oriented towards universal human values.ABSTRAKAkselerasi globalisasi yang disertai pesatnya perkembangan teknologi digital telah memperluas intensitas perjumpaan lintas budaya, khususnya di kalangan Generasi Z. Di sisi lain, kondisi tersebut juga memunculkan berbagai persoalan baru, seperti menguatnya sikap intoleran, meningkatnya polarisasi sosial, serta terjadinya pergeseran nilai-nilai kebangsaan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kontribusi pendidikan lintas budaya dalam membangun dan memperkuat karakter toleransi pada Generasi Z. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap berbagai konsep pendidikan multikultural, pendidikan karakter, serta kajian mengenai karakteristik Generasi Z. Temuan kajian menunjukkan bahwa pendidikan lintas budaya memiliki peran strategis dalam menumbuhkan kesadaran akan keberagaman, empati sosial, dan kemampuan menjalin interaksi antarbudaya secara positif. Penguatan karakter toleransi dapat dilakukan melalui integrasi nilai lintas budaya dalam kurikulum, penerapan pedagogi yang responsif terhadap perbedaan budaya, serta pengembangan literasi digital yang berlandaskan etika. Berdasarkan temuan tersebut, artikel ini menegaskan perlunya kolaborasi yang berkelanjutan antara lembaga pendidikan, pendidik, dan kebijakan pendidikan nasional guna menciptakan ekosistem pembelajaran yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Komunikasi Lintas Budaya dalam Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama Dahrun, Alfian; Najamuddin, Najamuddin; Alwi, Alimin
Indo-MathEdu Intellectuals Journal Vol. 6 No. 8 (2025): Indo-MathEdu Intellectuals Journal
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/imeij.v6i8.4399

Abstract

Indonesia is known as a multicultural country with a diversity of ethnicities, religions, and cultures that are both a national treasure and a potential source of social conflict. In this context, tolerance and shared awareness are necessary to maintain social harmony. This study aims to describe the role of cross-cultural communication in maintaining religious harmony in RT C BTN AL, Kapasa Village, Tamalanrea District, Makassar City, which is an area with a high level of ethnic and religious diversity. This study uses a qualitative approach with a descriptive method. The results show that cross-cultural communication plays an important role in strengthening social relations and preventing conflicts between religious communities. The values of mutual cooperation, mutual respect, and active participation of residents in social activities such as Independence Day celebrations, RT social gatherings, and solidarity when residents are in mourning are key to maintaining harmony. Thus, cross-cultural communication has proven to be an important instrument in building harmony and strengthening social cohesion in multicultural communities.
Pelestarian Tradisi Mappasikarawa dalam Pernikahan Bugis dan Kontribusinya terhadap Pendidikan Lintas Budaya di Morowali Utara Prahastini, Sinta; Najamuddin, Najamuddin; Alwi, Alimin
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2331

Abstract

This study examines the mappasikarawa tradition in Bugis marriage practices in North Morowali, with an emphasis on its cultural meanings, embedded values, and its contribution to strengthening cross-cultural education. Mappasikarawa is understood as a customary practice that symbolizes the union of individuals and families, while also embodying ethical values such as siri’ na pacce (dignity and social empathy), lempu’ (honesty), and getteng (steadfastness of principles), which serve as the foundation of Bugis social life. This research employs a qualitative approach using ethnographic methods, including in-depth interviews, participant observation, and cultural documentation. The findings indicate that the mappasikarawa tradition continues to be preserved through adaptive customary practices without diminishing its fundamental values. The main contribution of this study lies in interpreting mappasikarawa as a source of cultural pedagogy that functions as a form of informal education in transmitting values of tolerance, respect for diversity, and multicultural awareness. Thus, the mappasikarawa tradition plays a strategic role in supporting the development of cross-cultural education based on local wisdom and in strengthening local cultural identity within a pluralistic society.ABSTRAK                 Penelitian ini mengkaji tradisi mappasikarawa dalam pernikahan masyarakat bugis di Morowali Utara dengan menekankan pada pemaknaan budaya, nilai-nilai yang terkandung, serta kontribusinya terhadap penguatan Pendidikan lintas budaya. Mappasikarawa dipahami sebagai praktik adat yang mempresentasikan penyatuan individu dan keluarga, sekaligus memuat nilai etis seperti siri’na pace (martabat dan empati sosial), lempu’(kejujuran), dan getting (keteguhan prinsip) yang menjadi landasan kehidupan sosial masyarakat bugis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi budaya. Hasil penelitian menunjukan bahwa tradisi Mappasikarawa masih di lestarikan melalui praktik adat yang adaptif tanpa menghilangkan nilai-nilai dasarnya. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pemaknaan mappasikarawa sebagai sumber pedagogi budaya, yang berfungsi sebagai media Pendidikan informal dalam mentransmisikan nilai toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, dan kesadaran multikultural. Dengan demikian, tradisi Mappasikarawa memiliki peran strategi dalam mendukung pengembangan Pendidikan lintas budaya berbasis kearifan lokal, serta memperkuat identitas budaya lokal dalam konteks masyarakat plural.
Cultivating Good Practices of In-Depth Learning by High School Teachers in Makassar City: a Qualitative Case Study Analysis Alwi, Alimin
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36928/jpkm.v18i1.3295

Abstract

This study aims to describe and analyze good practices in the implementation of Deep Learning among high school teachers participating in the Makassar City Class 1K Batch 1 Program, particularly in relation to the context of implementation, supporting factors, obstacles, and good practices that emerged in the learning process. This research was motivated by the education transformation program initiated by the Ministry of Primary and Secondary Education (Kemendikdasmen) through the South Sulawesi Province Teacher and Education Personnel Center, which promotes a learning paradigm oriented towards awareness, meaningfulness, and joy of learning. The research used a qualitative approach with a case study design and involved 33 teachers from 11 public and private schools. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation, which were analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study show that deep learning is able to facilitate active student engagement through reflective discussions, problem solving, and collaborative activities. Teachers develop comprehensive lesson plans in the form of teaching modules that are aligned with learning objectives and outcomes. However, the implementation of learning faces obstacles in the form of time constraints, low student interest in reading, a learning orientation that is still focused on grades, diversity in initial abilities, and limitations in learning media. Nevertheless, there are good practices that show an increase in motivation, enthusiasm, and meaningful learning experiences for students. This study concludes that deep learning has significant potential to improve the quality of the teaching and learning process, but requires more systematic support through the strengthening of academic culture, the provision of learning facilities, and the continuous professional development of teachers. These findings can be used as a reference for policy makers and educational institutions in developing a more extensive and sustainable deep learning-based teacher training model.
STRATEGI PENDIDIKAN LINTAS BUDAYA DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN MULTIKULTURAL PESERTA DIDIK PADA JENJANG SMP DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN Richlah Nur Madjina; Najamuddin; Alimin Alwi
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pendidikan lintas budaya dalam menumbuhkan kesadaran multikultural peserta didik SMP dari perspektif Pendidikan Hukum dan Kewarganegaraan (PPKn). Menggunakan pendekatan kualitatif jenis library research, penelitian ini menelaah berbagai literatur ilmiah, jurnal terakreditasi, serta dokumen kebijakan pendidikan yang relevan. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan metode analisis tematik model Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama: (1) integrasi nilai multikultural dalam pembelajaran PPKn, (2) dialog lintas budaya sebagai sarana internalisasi nilai, dan (3) budaya sekolah inklusif serta kepemimpinan multikultural sebagai fondasi penguatan karakter kebangsaan. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan lintas budaya berkontribusi terhadap pembentukan kesadaran hukum dan sosial peserta didik, sekaligus memperluas fungsi PPKn sebagai instrumen pendidikan karakter demokratis. Penelitian ini merekomendasikan integrasi strategi lintas budaya dalam kurikulum dan kebijakan pendidikan nasional.
Dinamika Komunikasi Lintas Budaya Pada Mahasiswa Rantau Di Lingkungan Multikultural Kota Makassar Safira, Nur Hikma; Alwi, Alimin; Najamuddin, Najamuddin
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i3.14021

Abstract

Dinamika komunikasi lintas budaya mahasiswa rantau di Kota Makassar menunjukkan bahwa proses adaptasi sosial yang mereka jalani berlangsung secara kompleks, bertahap, dan dipengaruhi oleh berbagai faktor budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana mahasiswa rantau membangun komunikasi lintas budaya dalam lingkungan masyarakat yang multikultural serta memahami strategi adaptasi yang mereka gunakan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, penelitian ini menggali tantangan yang muncul akibat perbedaan bahasa, dialek, norma, nilai, dan gaya komunikasi sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama terletak pada perbedaan bahasa dan dialek lokal yang sering memicu salah tafsir, kecanggungan, serta kesulitan memahami konteks komunikasi pada tahap awal. Namun hambatan tersebut secara bertahap menurun seiring meningkatnya intensitas interaksi, keterlibatan dalam kegiatan sosial, dan partisipasi aktif mahasiswa dalam organisasi kampus. Temuan penelitian menegaskan bahwa proses lintas budaya tidak hanya membantu siswa memahami lingkungan baru, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran sosial yang memperkuat sikap terbuka, empati, toleransi, serta kemampuan negosiasi makna dalam kehidupan sehari-hari.
Co-Authors Abdul Saman Achmad, Asmar ADIL, AHMAD Akbar, Aidul ALFIAN DAHRUN, ALFIAN Alfiana Damasinta Alif Kurniawan Alifka Alya Zhafirah Ambo Upe Amir, Dwita Aprilla Andi Alim, Andi Andi Fathir Prawira R Andi Kamaruddin, Syamsu Andi Ridwan Andi Tenri Pada Agustang Arif Atul Mahmuda Dullah Arwih, Muhammad Zaenal Asman, Nur Rezky Asna Wirayanti Asrianingsih Asshagab, Muhtar Aulia, Nurul Awaru, A. Octamaya Tenri Awaru Azhaq, Muhammad Hud Budianto Dade Prat Untarti Darnawati, Darnawati Eki Nurhikma Fahrizal Fahrizal Halim, Muhammad Hamka Hasruddin Hayari Hayari Hayari Hayari Heriansyah Hudain, Muh. Adnan Hutamy, Ericha Tiara Insani, Nabila Nurul Jamiludin Jamiludin Jamiludin Jud, Jud Jumareng, Hasanuddin Junarlin, La Ode Muhammad Kamaruddin, Syamsu Andi La Batia La Ode Dinda M. Yunasri Ridhoh Ma'shumah Syamsir Mahrany, Yunita marsuna, marsuna Mongsidi, Wolter Muh. Bahrul Ulum Muhammad Aprilyansyah Pratama Rusli Muhammad Iqbal Rustan Muhammad Ishak Muhammad Rehan Fias Hasanuddin Muhammad Rusli Munawir Mansyur Mutijima, Pacifique Najamuddin Najamuddin, Najamuddin Novia Kusumaningsih Nur Istiqamah Nur, Hasruddin Nurlina Subair Nurul Mutmainnah, Nurul Nurwijayanti Padli, Sul Pendais Hak Prahastini, Sinta Rahim, Muh Yusuf Rahma Awalia Rahmat, Ainul Rais, Risman Richlah Nur Madjina Rusdi, Widya Anugrah Safira, Nur Hikma Safiu, Darwin Salfia, Wa Ode Sariul, Sariul Satriani, Nur Sawali, La Setiono, Andik Sintawati Sintawati, Sintawati Solissa, Welly Ervina St Wijdana Ram Suhartiwi, Suhartiwi Syahidah, Ummu Syahruni, Nurul Takdir, Muh Tamrin, Sopian Taufiq Rahman Tekla Galla' Manase Usman, Arifuddin Wance, Marno Wulandari, Astria Yusnadi