Claim Missing Document
Check
Articles

Predisposition Factors Affecting Completeness Of Measles Rubella (Mr) Basic Vaccination During The Covid-19 Muhamad Iqbal Akhmalbih; Astri Pinilih; Tusy Triwahyuni; Devita Febriani Putri
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 8, No 2 (2022): Vol 8.No.2.April 2022
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v8i2.6459

Abstract

Latar belakang: Imunisasi Measles Rubella (MR) diberikan guna mencegah penyakit campak dan rubela yang dapat menimbulkan masalah bagi masyarakat. Pemberian imunisasi dasar MR dijadwalkan pada bayi yang berusia 9 bulan. Pandemi COVID-19 telah mengganggu proses pelayanan kesehatan di dunia, termasuk kepada pelayanan imunisasi. Terdapat 3 faktor yang dapat menganalisa perilaku manusia pada tingkat kesehatan, diantaranya faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor pendorong.Tujuan penelitian: Untuk mengetahui faktor predisposisi yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi dasar Measles Rubella (MR) selama masa pandemi COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air tahun 2021Metode Penelitian: Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dan menggunakan kuesioner pada responden ibu yang memiliki anak usia 9-15 bulanHasil Penelitian: Didapatkan sebagian besar kelengkapan imunisasi dasar Measles Rubella (MR) adalah lengkap (77.0%). Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p-value= 0.000), sikap (p-value=0.000), tingkat pendidikan (p-value=0.000) dan pekerjaan (p-value=0.007) dengan kelengkapan imunisasi dasar Measles Rubella (MR) selama masa pandemi COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air tahun 2021. Kesimpulan: Berdasarkan uji korelasi Spearman’s didapatkan ada  hubungan antara pengetahuan,sikap,pendidikan, dan pekerjaan dengan kelengkapan imunisasi dasar MR, dan berdasarkan uji regresi logistic variabel yang paling berpengaruh dengan kelengkapan imunisasi dasar MR adalah variabel sikapSaran kepada petugas kesehatan khususnya yang bekerja di puskesmas untuk memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada ibu dan masyarakat sekitar tentang manfaat imunisasi dasar agar masyarakat mengerti bahwa imunisasi itu penting. imunisasi atau kejar, serta membuat jadwal yang teratur agar imunisasi bisa lengkap. Bagi dosen dan mahasiswa diharapkan dapat melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan mengembangkan program penyuluhan dan promosi kesehatan bagi masyarakat khususnya mengenai manfaat imunisasi dasar untuk balita. Kata Kunci : Imunisasi MR, Pekerjaan, Pendidikan, Pengetahuan, Sikap ABSTRACT Background: Measles Rubella (MR) vaccination is given to prevent measles and rubella which can cause problems for the community. Stopping the transmission of measles and rubella viruses is the goal of MR vaccination. Provision of basic MR vaccination is scheduled for infants aged 9 months. There are 3 factors that can analyze human behavior at the health level, including predisposition factors, supporting factors and driving factors.Purpose: To determine the predisposition factors that affect the completeness of Measles Rubella (MR) basic vaccination during the COVID-19 pandemic in the Gedong Air Health Center working area in 2021Methods: This type of research uses descriptive analytic methods and uses a questionnaire on mothers who have children aged 9-15 monthsResults: Most of the completeness of Measles Rubella (MR) basic vaccination was complete (77.0%). There is a significant correlation between knowledge (p-value = 0.000), attitude (p-value = 0.000), education level (p-value = 0.000) and occupation (p-value = 0.007) with the completeness of Measles Rubella (MR) basic vaccination. during the COVID-19 pandemic in the working area of the Gedong Air Public Health in 2021.Conclusion: Based on Spearman's correlation test, it was found that there was a correlation between knowledge, attitude, education, and occupation with completeness of basic MR vaccination, and based on logistic regression test the most influential variable with completeness of basic MR vaccination was attitude variable.Suggestion to health workers, especially those who work at the puskesmas to provide counseling and guidance to mothers and the surrounding community, about the benefits of basic immunization so that the community understands that immunization is important.It is recommended for puskesmas to carry out immunizations or catch ups, and make a regular schedule so that immunization can be complete.For lecturers and students, it is expected to be able to perform community service by developing counseling programs and health promotion for the community, especially regarding the benefits of basic immunization for toddlers. Keywords: Attitude, Education, Knowledge, MR Immunization, Occupation
Pengetahuan dan perilaku masyarakat terhadap keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti : Vektor penyakit demam berdarah dengue Devita Febriani Putri; Tusy Triwahyuni; Jovita Mutiara Saragih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i1.2684

Abstract

Community knowledge and behavior towards Aedes aegypti larvae presence : Vector of dengue hemorrhagic feverBackground: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by dengue virus which is transmitted through mosquitoes, especially Aedes aegypti and Aedes albopictus. alternative vector control strategies are needed to prevent the spread of DHF. Public understanding of the existence of DHF vectors including Aedes aegypti mosquito larvae and behavior how to handle them has a significant influence in the control of DHF vectors.Purpose: Knowing correlation between community Knowledge and Behavior towards aedes aegypti larvae Presence : Vector of dengue hemorrhagic feverMethod: Quantitative analytic research with cross-sectional approach. A sample of 95 respondents and taken by simple random sampling and carried out at Way Kandis village-Bandar Lampung. Interview respondents with a questionnaire and home observation using the observation sheet.Results: Chi-square analysis shows that there is a significant association between community knowledge and behavior towards aedes aegypti larvae presence: Vector of dengue hemorrhagic fever with a p-value of 0.004 and  p-value of 0.023.Conclusion: There is a significant association between community knowledge and behavior towards aedes aegypti larvae presence: Vector of dengue hemorrhagic fever. The community at Way Kandis village-Bandar Lampung need more educated regarding aedes aegypti larvae follow up by local health authority.Keywords: Community knowledge; Behavior towards; Aedes aegypti larvae; Dengue hemorrhagic feverPendahuluan: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui nyamuk terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Strategi pengendalian melalui vektor merupakan alternatif yang diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit DBD. Pemahaman masyarakat tentang keberadaan vektor DBD diantaranya jentik nyamuk Aedes aegypti dan perilaku cara menanganinya memberikan pengaruh signifikan dalam pengendalian vektor DBD.Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Way Kandis.Metode: Penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Tehnik sampling menggunakan simple random sampling, dengan jumlah sampel 95 responden. Pengambilan sampel dengan wawancara menggunakan kuesioner serta melakukan observasi rumah responden dengan menggunakan lembar observasi.Hasil: Analisis Chi-square menunjukan, terdapat hubungan bermakna tingkat pengetahuan masyarakat Way kandis terhadap keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti dengan p-value sebesar 0,004 dan terdapat hubungan bermakna perilaku masyarakat Way kandis terhadap keberadaan jentik jentik nyamuk Aedes aegypti  dengan p-value sebesar 0,023.Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku masyarakat terhadap keberadaan jentik aedes aegypti. Masyarakat di Desa Way Kandis-Bandar Lampung perlu lebih diedukasi terkait jentik aedes aegypti yang ditindaklanjuti oleh dinas kesehatan setempat.
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA PEKERJA PETERNAKAN SAPI DAN KAMBING DI KECAMATAN CIKALON GKABUPATEN TASIKMALAYA Ringgo Alfarisi; Nucky Nurhikmah Rahman; Tusy Triwahyuni
JURNAL DUNIA KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7 Nomor 4
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v7i4.1088

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan laporan International Labour Organization(ILO) tahun 2017, diseluruh dunia terjadi lebih dari 317 juta kecelakaan dalam pekerjaan per tahun. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada pekerja di lingkungan peternakan di Indonesia masih terbilang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan pemakaian APD pada pekerja peternakan sapidan kambing di Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2018. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh populasi pekerja peternakan sapidan kambing di Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya yang berjumlah 53 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran pengetahuan pekerja paling banyak pada kategori baik (33 orang, 62,3%), sikap pekerja paling banyak pada kategori baik (32 orang, 60,4%), dan perilaku penggunaan APD pekerja paling banyak pada kategori baik (35 orang, 66,0%).Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan pekerja (p=0,027) dan sikap pekerja (p=0,046) dengan pemakaian APD. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan pekerja dan sikap pekerja dengan pemakaian APD.
HUBUNGAN FAKTOR INDIVIDU DAN FAKTOR LINGKUNGA N PERUMAHAN TERHADAP KEJADIAN MALARIA DI DESA HANURA KECAMATAN TEL UK PANDAN KABUPATEN PESAWARAN PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2016 Tusy Triwahyuni; Festy Ladyani; muhammad yusuf
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 4 (2016): Volume 3 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/.v3i4.759

Abstract

Latar Belakang. Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalahkesehatan masyarakat di dunia. Pada tahun 2014 di Indonesia terdapat 456 Kabupaten endemis dari495 Kabupaten yang ada, dengan perkiraan sekitar 45% penduduk berdomisili di daerah yangberisiko tertular malaria. Jumlah kasus pada tahun 2013 sebanyak 2 juta orang dan pada tahun 2014m enurun menjadi 1.774.845.Tujuan. Untuk mengetahui Hubungan Faktor Individual dan Faktor Lingkungan Perumahan terhadapKejadian Malaria di Desa Hanura Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran ProvinsiLampung Tahun 2015Metode. Penelitian merupakan jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitiandilakukan pada bulan Februari-Maret 2016 dan dilaksanakan di Desa Hanura. Terdapat 91 sampel denganmemenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Analisis data dengan uji Chi Square dimana nilai p<0,05 dianggapbermaknaHasil. Pada hasil penelitian ini didapatkan sampel yang pernah mengalami malaria sebanyak 66 orangsedangkan yang belum pernah mengalami malaria sebanyak 25 orang. Dari hasil analisis Chi Square padafaktor individu didapatkan bahwa kelambu dan repellent memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadianmalaria sedangkan obat nyamuk bakar, pakaian tertutup dan kebiasaan keluar rumah tidak memilikihubungan dengan kejadian malaria. Dari faktor lingkungan didapatkan bahwa ventilasi, semak-semak,parit/selokan, dan langit-langit memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian malaria, sedangkankandang ternak tidak memiliki hubungan dengan kejadian malaria.Kesimpulan. Terdapat hubungan antara faktor lingkungan dengan kejadian malaria. Tidak terdapat hubunganantara faktor individu dengan kejadian malaria
Perubahan Perkembangan Telur Ascaris lumbricoides setelah Pemberian Albendazol Dosis maksimal Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Daerah Endemis Cacingan Tusy Triwahyuni
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 4 (2015): Volume 2 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.318 KB) | DOI: 10.33024/.v2i4.723

Abstract

Pengobatan Albendazol dengan dosis tunggal maupun dosis maksimal menunjukkan hasil yang memuaskan dalam memberikan kesembuhan (Cure rate) dan menurunkan jumlah telur (ERR) pada infeksi A.lumbricoides , namun terdapat fakta penelitian bahwa setelah 4 bulan pengobatan kejadian reinfeksi terjadi paling cepat ditemukan pada cacing A.lumbricoides. Penelitian lain menunjukan bahwa albendazol dosis tunggal ternyata belum mampu menghambat perkembangan telur A.lumbricoides secara menyeluruh dengan adanya telur yang masih menjadi infektif. Menjadi pertanyaan apakah pemberian albendazol dengan  dosis maksimal mampu menghambat perkembangan telur secara menyeluruh. Penelitian ini ingin menilai bagaimana  pengaruh pemberian Albendazol dengan dosis yang maksimal yaitu 400 mg albendazol diberikan selama 3 hari berturut turut pada anak usia sekolah dasar  terhadap perkembangan  telur cacing A.lumbricoides.Rancangan penelitian adalah uji Eksperimental dengan one grup pre dan post test design. Untuk melihat pengaruh albendazol terhadap perkembangan telur  dilakukan kultur sebelum dan sesudah pengobatan dari sampel tinja individu yang sama. Sampel tinja dikumpulkan dari anak SD pada hari ke-1 dan ke-7 sesudah pengobatan yang dikultur selama satu bulan. Analisis data menggunakan uji T berpasangan (T test paired) namun  data tidak terdistribusi normal sehingga digunakan   uji non parametrik yaitu Uji Wilxocon Signed Ranks. Taraf kesalahan yang digunakan adalah 5%.Hasil penelitian ini menunjukan  Albendazol 3 hari berturut turut mampu menurunkan persentase telur dibuahi (fertilized) pada anak yang terinfeksi A.lumbricoides. Terdapat peningkatan jumlah telur yang tidak dibuahi (unfertilized) setelah pengobatan. Pemberian Albendazole dosis tunggal selama 3 hari berturut turut juga mampu menurunkan persentase telur infektif dan berpengaruh pada perubahan perkembangan telur A.lumbricoides
HUBUNGAN PENYESUAIAN DIRI DENGAN KEJADIAN DEPRESI PADA NARAPIDANA WANITA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KELAS II A BANDAR LAMPUNG Deviani Utami; Tusy Triwahyuni
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 3 (2014): Volume 1 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.796 KB) | DOI: 10.33024/.v1i3.672

Abstract

Latar Belakang: Beberapa perubahan hidup dan lingkungan yang dialami olehnarapidana dapat membawa mereka dalam suatu perasaan ketidak nyamanan fisikdan psikis, dan narapidana dituntut untuk dapat menyesuaikan diri. Dalam prosespenyesuaain diri cenderung membuat narapidana merasa tertekan, kecemasan,kehilangan perasaan kebebasan dan pada akhirnya ketidak mampuan penyesuaiandiri yang dihadapi narapidana ini kemungkinanmereka akan jatuh dalam kondisidepresi.Tujuan Penelitian: Melihat hubungan penyesuaian diri dengan kejadian depresipada narapidana wanita di lembaga pemasyarakatan wanita kelas II A BandarLampung.Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik observasionaldengan sampel sebanyak 82 orang narapidana wanita. Data penelitian diambilmelalui kuesioner. Analisa data dilakukan dengan statistik deskriptif SPSS, datayang dianalisa adalah data yang bersifat univariat.Hasil Penelitian: Ditemukan bahwa distribusi kejadian penyusuaian diri padanarapidana wanita di lapas kelas II A Bandar Lampung lebih banyak yang dapatmenyesuaikan diri sebanyak 53 orang (64,6%). Dan berdasarkan frekuensikejadian depresi pada narapidana wanita di lapas kelas II A Bandar Lampunglebih banyak mengalami depresi sedang sebanyak 36 orang (43,9%).Kesimpulan: Hasil perhitungan dengan menggunakan teknik korelasi Spearman’sRho ditemukan bahwa penyesuaia diri dan kejadian depresi memiliki korelasisebesar -0.242, Koefisien korelasi yang negatif menunjukkan hubungan yangterjadi adalah berlawanan yaitu besarya skor yang terjadi bersamaan denganrendahnya skor pada variabel yang lain. Adanya hubungan negatif antarapenyesuaian diri dengan kejadian depresi. Hal ini berarti bahwa semakin tinggitingkat penyesuaian diri, maka semakin rendah tingkat depresi dan sebaliknya,semakin rendah tingkat penyesuaian diri maka semakin tinggi tingkat depresi-nya.
PERBEDAAN JUMLAH LEUKOSIT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG RUTIN DAN TIDAK RUTIN MENJALANI HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG Nia Triswanti; Tusy Triwahyuni; Zulfian Zulfian; Arsy Sulisvia Ningsih
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Volume 8 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v8i2.4072

Abstract

Penyakit gagal ginjal kronik merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0,39% pada tahun 2018. Penyakit gagal ginjal kronik membutuhkan terapi hemodialisa sebagai pengganti fungsi ginjal secara fisiologis, terapi ini dilakukan 2-3 kali dalam seminggu dengan kurun waktu kurang lebih 4-5 jam dari terapi hemodialisa yang dilakukan keadaan ini dapat berpengaruh terhadap jumlah leukosit pada tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah leukosit pada pasien gagal ginjal kronik yang rutin dan tidak rutin menjalani hemodialisa. Jenis penelitian ini menggunakan analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung yang berjumlah 71 orang. Alat pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini berupa rekam medik. Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan rata-rata jumlah leukosit pada pasien rutin menjalani hemodialisa sebesar 6.295 /µl. Hasil rata-rata jumlah leukosit pada pasien yang tidak rutin menjalani hemodialisa sebesar 7.142 /µ. Hasil uji Mann Whitney menunjukan bahwa tidak ada perbedaan jumlah leukosit pada pasien yang rutin dan tidak rutin menjalani hemodialisa dengan nilai p=0,193 (p>0,005). Tidak ada perbedaan jumlah leukosit pada pasien gagal ginjal kronik yang rutin dan tidak rutin menjalani hemodialisa. Peneliti selanjutnya diharapkan memperhatikan pengelolaan variabel-variabel yang mempengaruhi hasil penelitian seperti lamanya proses hemodialisa.
PERBEDAAN KADAR KREATININ PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG RUTIN DENGAN TIDAK RUTIN MENJALANI HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG Rima Puspita Sari; Zulfian Zulfian; Nia Triswanti; Tusy Triwahyuni
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Volume 8 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v8i2.4088

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan suatu keadaan kerusakan fungsi ginjal yang progresif dan irreversibel. Upaya agar dapat menurunkan kadar kreatinin serum tentu dengan memperbaiki fungsi dari ginjal yaitu dengan hemodialisa, terapi hemodialisa rutin yaitu dengan 2 atau 3 kali dalam seminggu, sekurang kurangnya sudah berlangsung selama 3 bulan secara continue. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar kreatinin yang rutin dengan tidak rutin menjalani hemodialisa pada pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 71 dengan teknik Total Sampling. Berdasarkan hasil uji Mann Whitney mendapatkan p-value = 0,835 dimana lebih dari nilai kemaknaan yaitu 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dari kadar kreatinin rutin dengan tidak rutin melakukan hemodialisa. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rutin dengan tidak rutin melakukan hemodialisa pada pasien GGK di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung.
HUBUNGAN LINGKUNGAN RUMAH DENGAN KEJADIAN MALARIA DI DESA SIDODADI KABUPATEN PESAWARAN TAHUN 2018 Deviani Utami; Tusy Triwahyuni; Yelin Julita
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 3 (2019): Volume 6 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.398 KB) | DOI: 10.33024/jikk.v6i3.2269

Abstract

Malaria masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Desa Sidodadi merupakan salah satu desa di Kabupaten Pesawaran yang endemis malaria dengan API (Annual Parasite Insidence) pada tahun 2018 dari bulan ke bulan semakin meningkat. Pada bulan Agustus penderita mencapai 63 orang, meningkat menjadi 72 orang di bulan September dan di bulan Oktober angka penderita malaria menjadi 111 orang. Kejadian malaria disebabkan adanya kontak manusia dengan nyamuk malaria dan didukung oleh kondisi lingkungan yang kurang baik. Mengetahui hubungan lingkungan rumah dengan kejadian malaria di Desa Sidodadi Kabupaten Pesawaran tahun 2018. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan case control. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu random sampling. Data kejadian malaria diperoleh dari data sekunder dengan hasil laboratorium positif malaria di Puskesmas Hanura dan data kondisi fisik rumah diperoleh dari hasil pengisian lembar observasi, serta dianalisis berdasarkan univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Dari 62 responden (31 kasus dan 31 kontrol). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan semak-semak di lingkungan rumah dengan kejadian malaria dengan nilai p-value 0,000 (OR=7,028), terdapat hubungan kandang ternak di lingkungan rumah dengan kejadian malaria dengan nilai p-value 0,000 (OR=7,028) dan terdapat hubungan genangan air/parit di lingkungan rumah dengan kejadian malaria dengan nilai p-value 0,000 (OR=14,175). Kesimpulannya bahwa lingkungan rumah menunjukkan adanya hubungan yang bermakna terhadap kejadian malaria maka disarankan adanya penyuluhan bagi masyarakat serta perbaikan dan kebersihan pada lingkungan rumah.
KARAKTERISTIK PENGETAHUAN DAN SIKAP KADER MALARIA DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT MALARIA DI DESA SUKAJAYA LEMPASING KABUPATEN PESAWARAN Devita Febriani Putri; Tusy Triwahyuni; Ismalia Husna; Agelia Nabilah Azra; Muhamad Yasir; Tri Ayati
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Volume 8 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v8i2.4590

Abstract

Tingkat pengetahuan dan sikap kader malaria berperan besar dalam penyampaian informasi kepada masyarakat, sehingga masyarakat berpartisipasi dalam pengendalian penyakit malaria. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristikpengetahuan dan sikap kader malaria dalam pengendalian penyakit malaria di Desa Sukajaya Lempasing Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh kader malaria yang berada desa Sukajaya Lempasing, denganpengambilan sampel dengan cara total sampling. Jumlah sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi berjumlah 35 responden. Data dianalisis univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi tingkat pengetahuan dan sikap kader malaria dalam pengendalian penyakit malaria. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan dan sikap sebagian besar kader malaria di Desa Sukajaya Lempasing Kabupaten Pesawaran berada pada kategori baik dengan persentase 57.1% dan 94.3%. Namun tidak diimbangi dengan kesadaran dan tindakan dalam pengendalian penyakit malaria, sehingga angka kejadian malaria masih tinggi. Tingkat pengetahuan dan sikap yang baik dari kader malaria harus didukung dengan kesadaran, praktek, dan tindakan serta partisipasi dari masyarakat.Perlunya pemilihan kader malaria yang berasal dari tokoh masyarakat sehingga dapat menggerakan masyarat untuk berpartisipasi sepenuhnya agar target program eleminasi malaria di Desa Sukaya Lempasing Kabupaten Pesawaran dapat tercapai.
Co-Authors Abdurrahman Izzudin Agelia Nabilah Azra Ahsan, Dany Akbar, Rizky Akmal Taher Aldri Frinaldi Alfarisi, Ringgo Alif Rizky Hafizhdillah Amalia Dwi Nugraheni Andi Siswandi Anggunan Anggunan Anton Anton Arivo, Debi Arsy Sulisvia Ningsih Astri Pinilih Astri Pinilih aswan jhonet Aulia Aulia Ayati, Tri Ayuningsih, Vita Lestari Beatrice Perangin Angin Bella Tania Putri Betseba Natalia Pangaribuan Buldani, Aang Citra Prawesti Kurnia Den Raza Anggara Devi Ayu Wulandari Deviani Utami Deviani Utami Dharmawita Dharmawita Diah Ismunarti Doni Rahman Nurdiana Efrida Warganegara Eka Silvia Eko Purnanto Elitha Utari Esfandiari, Firhat Fadila Dwinda Fitriyani Fadilah, Dwi Noor Fauziah, Syifa Alya Febriani Putri, Devita Ferdinand Anem Pigome Festy Ladyani Festy Ladyani Mustofa Fidel Rama Nugraha Firdaus, Hafiz Ikhsan Firhat Esfandiari Firhat Esfandiari Firhat Esfandiari Firhat Esfandiari Firly Windiyani Fitriani, Dita Fitriyani Fitriyani Fitriyani Fitriyani Fitriyani, Fadila Dwinda Handayani, Esy Tri Hemas Priyayi Hermawan, Dessy Hernowo Anggoro Wasono Hetti Rusmini Hidayat Hidayat Hidayat Hidayat Hidayat Hidayat Hidayat Hidayat Hidayat Husna, Ismalia Ihsanul Karim Indra Kumala Iskandar, Fryiska Fauziah Ismalia Husna Ismalia Husna Jovita Mutiara Saragih Kencana, Guntur Batara Kriswiastiny, Rina Kukuh Bangsawan Kurniati, Mala Kurniati, Mala Ladiyani, Festy Laksono Trisnantoro M. Syafei Hamzah Maria Puji Lestari, Sri Mei Ardiyandyah, Fajar Karel Melisa Andesti Miya Medina Monica, Meisy Muhamad Ibnu Sina Muhamad Iqbal Akhmalbih Muhamad Yasir Muhammad Nur MUHAMMAD YUSUF Mutiara Tasya Sazabilla Nabigha, Zehan Aura Nada Nisrina Imalambasi Nadia Saragih, Jovani Ruth Najmi Bias Aysa Nanda Pratiwi Nasiroh, Nasiroh Ni Gusti Ayu Dewi Rismasari Ni Gusti Ayu Dewi Rismasari Ni Putu Vila Primatama Nia Triswanti Nia Triswanti Nindi Destiani Nopi Sani Nucky Nurhikmah Rahman Nurfauzi, M. Rizal nurmalasari, yesi Nurmarisah Nurmarisah Nurul Fatimah Nurul Fatimah Nusri, T Marwan Nusri, T. Marwan Octa Reni Setiawati Prasetia, Toni Priyayi, Hemas Puji Lestari, Sri Maria Purwaningrum, Ratna Putri , Bella Tania Putri, Maharani Putri, Siti Fhatima Novariani Rachmat Syuhada Rahmadhany, Tommy Dias Resti Arania Resti Arania Resti Arania Resti Arania Rezica Kanza Nobiola Rian Hazni Rima Puspita Sari Rina Kriswiastiny Rita Agustina Rizka Rahmawati Robi Azis Rolin Soraya Romi Yuansah Sandi, Prily Nadila Sandrawati, Sandrawati Sani, Nopi Saragih, Jovani Ruth Nadia Sekar Dwi Cahyani Selvia Anggraeni, Selvia Setiawan, Gigih Setiawati, Octa Reni SITI NURJANAH Siti Nurjanah Soemarwoto, Retno Ariza Sofian Hadi Sri Maria Puji Lestari Sunartini, Nina syuhada Syuhada Syuhada Syuhada Syuhada Syuhada Syuhada T Marwan Nusri Teuku Marwan Nusri Titi titi Lestari Toni Prasetia Toni Prasetya Tony Prasetia Tri Ayati Triswanti, Nia Utami, Deviani Utari, Elitha Utari, Elitha M Utari, Elitha Martharina Vionita Vionita Vita Lestari Ayuningsih Welay, Santri Ditira Wicaksono, Naufal Irsyad Wildan Khaerul Umam Yelin Julita Yulyani, Vera YWahyudi, Alfi Zainul Umari Zehan Aura Nabigha Zihan Aulia Nugraha Zulfian Zulfian Zulfian Zulfian Zulfian Zulfian Zulfian Zulfian Zulfian Zulfian Zulfian Zulfian Zulhafis Mandala