p-Index From 2021 - 2026
9.346
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

KEWAJIBAN MEREDAM EMOSI BAGI SUAMI TERHADAP AKHLAK ISTRI : Analisis Hadis Lā Yafrak Mukminun Mukminatan In Kariha Minhā Khuluqan Radiya Minha Ākhar Mutammimah, Bidayatul; Nasrulloh
DIRAYAH : Jurnal Ilmu Hadis Vol. 5 No. 1 (2024): DIRAYAH: Jurnal Ilmu Hadis
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Ar-Rahman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62359/dirayah.v5i1.430

Abstract

Mitigating emotions for the husband is the foundation for building a sakinah mawaddah wa rahmah family, by weighing the positive and negative sides of the wife fairly. The purpose of writing this article is to explain the obligation of a husband to suppress his emotions toward his wife's morals. This research method uses a qualitative descriptive approach by deepening the study of the husband's obligation to suppress the emotions of his wife's treatment of him by analyzing the hadith related to him. There are three results in this study, [1] The hadith la yafrak mukminun mukminatan in kariha minha khuluqan radiya minha akhar is an authentic hadith that must be practiced. [2] Emotional damping is included in the process of managing emotions which has a positive relationship with marital satisfaction, so the ability to manage these emotions must always be improved. [3] Improving emotional intelligence is an obligation for husbands who hold the title of head of the family because this can affect the level of patience that is in him so that the husband is not too emotional in dealing with his wife and even dampens his emotions by remembering all the good things that exist in his wife. From this treatment, the husband and wife can build a happy, peaceful, and comfortable family.
ANALYSIS OF COORDINATION OF OVER CURRENT RELAY (OCR) AND GROUND FAULT RELAY (GFR) ON 20KV DISTRIBUTION SYSTEM CASE STUDY AT PT. PLN (Persero) ULP SIDAREJA: Array Andriyan, Riki; Nasrulloh; Adzin Murdiantoro, Randi
Journal of Electronic and Electrical Power Applications Vol. 2 No. 1 (2022): JEEPA Volume 2 Nomor 1
Publisher : Program Studi Teknik Elektro Universitas Peradaban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1069.827 KB) | DOI: 10.58436/jeepa.v2i1.1013

Abstract

Increasing consumers of electrical energy impacts increasing the risk of disruption that distribution systems can expose to consumers. In order not to interfere with the distribution of electrical energy, the protection system installed in the electrical energy distribution network must work optimally. Coordination between protections installed in the distribution network has a significant impact on the quality of distribution. Therefore, the protection components, that is, the reclosing switch, the overcurrent relay (OCR), and the ground fault relay (GFR) must be configured correctly. Proper adjustment is where the protection system works according to its capacity, so the effects of disturbances can be minimized, the disturbances are not widespread and can lead to power outages. The grid protection system from the Lomanis –05 feeder line to ULPSidareja is already good because the components of the protection system are well matched. Since the components do not comply with SPLN 64: 1985 and IEC 60255, that is, 0.35 to 0.4 seconds, we can conclude that the quality of coordination between protection systems is good, but we still evaluate the applied settings. is needed. Not compliant with SPLN 64: 1985, but compliant with IEC60255.
Kewajiban Meredam Emoasi bagi Suami terhadap Akhlak Istri: (Analisis Hadis La Yafrak Mukminun Mukminatan In Kariha Minha Khuluqan Radiya Minha Akhar) Mutammimah, Bidayatul; Nasrulloh
AL-ATSAR: Jurnal Ilmu Hadits Vol 2 No 2 (2024): AL-ATSAR: Jurnal Ilmu Hadits
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peredaman emosi bagi suami merupakan fondasi untuk membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah, dengan menimbang secara adil sisi positif dan negatif dari istrinya. Tujuan penulisan artikel ini untuk menjelaskan tentang wajibnya suami meredam emosi terhadap akhlak istri. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan memperdalam kajian tentang kewajiban suami meredam emosi atas perlakuan istri terhadapnya dengan menganalisis hadis yang berhubungan dengannya. Ada tiga hasil dalam penelitian ini, [1] Hadis la yafrak mukminun mukminatan in kariha minha khuluqan radiya minha akhar merupakan hadis sahih yang harus diamalkan. [2] Peredaman emosi termasuk pada proses pengelolaan emosi yang memiliki kaitan positif dengan kepuasan pernikahan, sehingga kemampuan untuk mengelola emosi tersebut harus selalu ditingkatkan. [3] Meningkatkan emotional intelligence merupakan kewajiban bagi suami sebagai kepala keluarga karena hal tersebut dapat memengaruhi tingkat kesabaran dalam dirinya, sehingga suami tidak terlalu emosional dalam menghadapi istrinya bahkan meredam emosinya dengan mengingat segala kebaikan istrinya. Dari perlakuan tersebut, suami bersama istrinya mampu membangun keluarga bahagia yang tenteram dan nyaman. Kata Kunci: Kewajiban; Meredam Emosi; Akhlak, Suami, Istri
The Characteristics of Shalihah Woman in the Qur’an: Quraish Shihab’s Perspective in Tafsir Al-Mishbah Shery Fara Afifah; Nasrulloh
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v8i2.1381

Abstract

The study of the characteristics of shalihah women is very important to study. Islam positions women as very noble, valuable and dignified creatures. Shalihah women have a big impact, especially in educating and forming the next generation. A mother has an important role in guiding and educating her children. So if the mother is good, it is likely that her children will also grow up to be good individuals. This makes an extraordinary contribution to the formation of a better and civilized society. The research uses qualitative research and Library Research as type of the research. Primary data sources were taken from Tafsir Al-Mishbah and secondary data from books, journals and related articles. Data analysis in this study used descriptive-deductive. The researcher will describe the verses that related to the characteristics of shalihah women in the Qur'an in general and then specifically based on the Quraish Shihab’s perspective in Tafsir Al-Mishbah. The aim of this research is to determine the characteristics of pious women in the Qur'an based on the Quraish Shihab’s perspective in Tafsir Al-Mishbah. The results of this research are the importance of moral perfection, piety, obedience and loyalty to the teachings of the Islamic religion. Specifically are covering one's private parts properly, including holding up the hijab, obeying Allah and her husband, maintaining chastity and honor, guarding one's genitals, patience, khusyu' and qunut, which includes all types of obligatory and sunnah obedience.
Kewajiban Meredam Emoasi bagi Suami terhadap Akhlak Istri: (Analisis Hadis La Yafrak Mukminun Mukminatan In Kariha Minha Khuluqan Radiya Minha Akhar) Mutammimah, Bidayatul; Nasrulloh
AL-ATSAR: Jurnal Ilmu Hadits Vol 2 No 2 (2024): AL-ATSAR: Jurnal Ilmu Hadits
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/al-atsarjurnalilmuhadits.v2i2.741

Abstract

Peredaman emosi bagi suami merupakan fondasi untuk membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah, dengan menimbang secara adil sisi positif dan negatif dari istrinya. Tujuan penulisan artikel ini untuk menjelaskan tentang wajibnya suami meredam emosi terhadap akhlak istri. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan memperdalam kajian tentang kewajiban suami meredam emosi atas perlakuan istri terhadapnya dengan menganalisis hadis yang berhubungan dengannya. Ada tiga hasil dalam penelitian ini, [1] Hadis la yafrak mukminun mukminatan in kariha minha khuluqan radiya minha akhar merupakan hadis sahih yang harus diamalkan. [2] Peredaman emosi termasuk pada proses pengelolaan emosi yang memiliki kaitan positif dengan kepuasan pernikahan, sehingga kemampuan untuk mengelola emosi tersebut harus selalu ditingkatkan. [3] Meningkatkan emotional intelligence merupakan kewajiban bagi suami sebagai kepala keluarga karena hal tersebut dapat memengaruhi tingkat kesabaran dalam dirinya, sehingga suami tidak terlalu emosional dalam menghadapi istrinya bahkan meredam emosinya dengan mengingat segala kebaikan istrinya. Dari perlakuan tersebut, suami bersama istrinya mampu membangun keluarga bahagia yang tenteram dan nyaman. Kata Kunci: Kewajiban; Meredam Emosi; Akhlak, Suami, Istri
Efektivitas Hukum Perkawinan dalam Melindungi Anak Hasil Perkawinan Tidak Tercatat di Indonesia Perspektif Maqashid Syari’ah Muh. Taufiqurrahman; Nasrulloh
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 2 No. 2 (2025): Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/m4pv3x77

Abstract

Protection for children born out of unregistered marriages needs to be addressed as it is a complex issue, particularly in Indonesia. Children born out of unregistered marriages will be affected, both in terms of state administration, such as the right to birth registration, and in terms of religion, such as inheritance rights, maintenance obligations, and even parental recognition. The method used is library research. The results of this study indicate that, in the context of child protection, several key principles of maqashid syariah are highly relevant, namely preserving lineage (hifz an-nasl), preserving life (hifz an-nafs), and preserving property (hifz al-mal). The effectiveness of marriage law in protecting children born out of unregistered marriages in Indonesia is still limited and not optimal. Although there are written regulations governing the protection of children born out of unregistered marriages, the implementation and application of these regulations in protecting children born out of unregistered marriages in Indonesia are still not maximized. This is evident in unregistered marriages, which are often overlooked by society due to the stigma that marriage registration is merely a supplementary aspect, as well as the weak enforcement of the law and consequences for those who do not register their marriages. This will have adverse effects on the legal status of children in the future. Therefore, the government needs to make efforts to educate and raise awareness among the public about the importance of marriage registration, in order to protect the legal status of children under the law. Abstrak Perlindungan terhadap anak hasil perkawinan tidak tercatat perlu untuk diperhatikan karena merupakan masalah yang kompleks terjadi khususnya di Indonesia. Anak yang lahir dari perkawinan tidak tercatat akan berdampak pada anak, baik dari segi administrasi negara seperti hak pencatatan kelahiran maupun segi agama seperti hak waris, kewajiban nafkah, bahkan pengak uan orang tua. Metode yang digunakan adalah kepustakaan atau library research. Hasil dari penelitian ini adalah dalam konteks perlindungan anak, beberapa prinsip utama maqashid syariah sangat relevan, yaitu menjaga keturunan (hifz an-nasl), menjaga jiwa (hifz an-nafs) dan menjaga harta (hifz al-mal). Efektivitas hukum perkawinan dalam melindungi anak hasil perkawinan tidak tercatat di Indonesia masih terbatas dan belum optimal. Meskipun terdapat regulasi peraturan tertulis yang mengatur perlindungan bagi anak yang lahir dari perkawinan tidak tercatat, akan tetapi implementasi dan penerapannya dalam melindungi anak yang lahir dari perkawinan tidak tercatat di Indonesia masih kurang maksimal. Terbukti dengan perkawinan tanpa pencatatan yang seringkali dianggap remeh oleh masyarakat akibat stigma masyarakat yang menganggap pencatatan nikah hanya sebagai aspek pelengkap saja, serta didasari oleh lemahnya penegakkan hukum dan konsekuensi bagi yang tidak melakukan pencatatan nikah. Hal ini akan berdampak buruk pada status hukum anak dikemudian hari. Oleh karena itu, perlu upaya dari pemerintah untuk melakukan penyuluhan dan edukasi terhadap masyarakat agar lebih memerhatikan pentingnya pencatatan nikah, agar dapat melindungi status anak di mata hukum.    
Kepastian Hukum Perkawinan Pada Status Perkawinan Transgender Di Indonesia Ramadhani Islami Putri; Nasrulloh
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 2 No. 2 (2025): Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/akvzq446

Abstract

Permasalahan status hukum perkawinan sesama jenis dan transgender di Indonesia menjadi relevan di tengah meningkatnya tuntutan pemenuhan hak asasi manusia, yang sering kali berbenturan dengan nilai agama dan budaya. Artikel ini bertujuan menganalisis posisi hukum perkawinan sesama jenis dan transgender dalam sistem hukum Indonesia serta perspektif hukum Islam, sekaligus menyoroti tantangan sosial yang menyertainya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan normatif melalui studi pustaka terhadap regulasi, yurisprudensi, dan literatur akademik. Hasil menunjukkan bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 junto Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 secara tegas hanya mengakui perkawinan heteroseksual antara laki-laki dan perempuan, sehingga tidak memberikan legitimasi terhadap perkawinan sesama jenis, termasuk jika salah satu pihak telah berganti status jenis kelamin melalui penetapan pengadilan. Perspektif hukum Islam juga menegaskan keabsahan perkawinan hanya bagi pasangan berlainan jenis kelamin, dengan mempertahankan prinsip-prinsip syariat yang telah mapan. Di samping itu, proses perubahan status hukum bagi transgender masih menghadapi kendala administratif, regulasi teknis yang belum memadai, serta stigma sosial, sehingga perlindungan hak-hak keperdataan mereka belum optimal. Artikel ini berkontribusi dalam memperkaya wacana akademik mengenai perlindungan hukum keluarga di Indonesia dengan menekankan perlunya harmonisasi antara prinsip non-diskriminasi dan penghormatan terhadap nilai budaya serta agama sebagai landasan hukum nasional.   The issue of the legal status of same-sex marriage and transgender in Indonesia has become relevant amidst the increasing demands for the fulfillment of human rights, which often clash with religious and cultural values. This article aims to analyze the legal position of same-sex marriage and transgender in the Indonesian legal system as well as the perspective of Islamic law, while highlighting the social challenges that accompany it. The research is conducted using a normative approach through a literature study of regulations, jurisprudence, and academic literature. The results show that Law Number 1 of 1974 as well as Law Number 16 of 2019 explicitly recognizes only heterosexual marriages between men and women, so it does not provide legitimacy for same-sex marriages, including if one of the parties has changed gender status through a court order. The Islamic legal perspective also affirms the validity of marriage only for opposite-sex couples, maintaining the established principles of sharia. In addition, the process of changing legal status for transgender people still faces administrative obstacles, inadequate technical regulations, and social stigma, so that the protection of their civil rights is not optimal. This article contributes to enriching the academic discourse on family law protection in Indonesia by emphasizing the need for harmonization between the principle of non-discrimination and respect for cultural and religious values as the foundation of national law.    
Studi Analisis Kontekstual Tentang Hadits Kepemimpinan Dalam Rumah Tangga Untuk Mewujudkan Keluarga Harmonis Muhammad Fathoni Diya’ Ulhaq Rahmat; Nasrulloh
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 2 No. 2 (2025): Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/fazr2v43

Abstract

This study is motivated by the importance of the leadership roles of both husband and wife in establishing a harmonious family in accordance with the principles of Islamic law. The main objective of this research is to analyze the concept of leadership and the responsibilities of husband and wife, both conceptually and contextually, in the effort to achieve family harmony. The research employs a qualitative approach through literature analysis and comparative studies of various Islamic legal sources, such as the Qur’an, hadith, and the opinions of scholars. The findings reveal that leadership within the family is complementary and mutually reinforcing, where the husband holds the primary responsibility as the general leader of the family, while the wife plays a crucial role in managing the household and educating the children. Nevertheless, both parties share equal moral and legal responsibilities in maintaining family harmony. This study also highlights the importance of communication, consultation, and a fair division of roles between husband and wife to create balance and justice within the family. The conclusion of this research emphasizes the need for a mutual understanding of balanced leadership roles between husband and wife, based on the principles of justice, compassion, and mutual respect as taught in Islamic law. Thus, a harmonious family can be realized through synergy and effective cooperation between husband and wife in fulfilling their respective roles and responsibilities. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran kepemimpinan suami dan istri dalam membentuk keluarga harmonis yang sesuai dengan prinsip hukum Islam. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep kepemimpinan dan tanggung jawab suami istri baik secara konseptual maupun kontekstual dalam upaya mewujudkan keharmonisan keluarga. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis literatur serta studi komparatif terhadap berbagai sumber hukum Islam, seperti Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam keluarga bersifat komplementer dan saling melengkapi, di mana suami memiliki tanggung jawab utama sebagai pemimpin keluarga secara umum, sedangkan istri berperan penting dalam pengelolaan rumah tangga dan pendidikan anak-anak. Namun demikian, kedua belah pihak memiliki tanggung jawab moral dan hukum yang sama dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya komunikasi, musyawarah, dan pembagian peran yang adil antara suami dan istri agar tercipta keseimbangan dan keadilan dalam keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan perlunya pemahaman bersama tentang peran kepemimpinan suami istri yang seimbang, berdasarkan prinsip keadilan, kasih sayang, dan saling menghormati sebagaimana diajarkan dalam hukum Islam. Dengan demikian, keluarga harmonis dapat terwujud melalui sinergi dan kerja sama yang baik antara suami dan istri dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya masing-masing
Mubadalah sebagai Paradigma Kesalingan dalam Relasi Suami Istri Nurul Hidayah; Nasrulloh
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 2 No. 2 (2025): Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/crwfb286

Abstract

This study aims to highlight and examine the concept of mubadalah as a paradigm for reconstructing husband wife relationships, offering an alternative to the dominant patriarchal framework that has long been embedded in Islamic family law and social practices. Using a normative qualitative approach through library research, this study analyzes the theological and juridical foundations of mubadalah and its implications for the rights and responsibilities of spouses. The main findings reveal that the mubadalah paradigm, through its five pillars viewing the marriage contract as a firm covenant (mitsaqan ghazlian), emphasizing the idea of partnership (zawj), mutual treatment with kindness (mu‘asharah bi al-ma‘ruf), consultation (musyawarah), and reciprocal comfort and satisfaction (taradin min-huma) creates a substantive space for reciprocity and gender justice within Muslim families. This is reinforced by reinterpretations of Qur’anic verses (al-Baqarah [2]: 187 and al-Rum [30]: 21), which inherently imply equality and mutuality, as well as reinterpretations of articles in the Marriage Law and the Compilation of Islamic Law (KHI) that can be harmonized with the spirit of reciprocity. The implication of this research is the importance of integrating the mubadalah perspective into premarital education curricula and family law reform to realize a household order that is harmonious, resilient, and just, in accordance with the ideals of sakinah, mawaddah, and rahmah. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat dan mengkaji konsep mubadalah sebagai paradigma dalam merekonstruksi relasi suami istri, menawarkan alternatif terhadap dominasi kerangka patriarkis yang telah mengakar dalam hukum keluarga Islam dan praktik sosial. Melalui metode kajian kualitatif normatif dengan pendekatan studi pustaka, penelitian ini menganalisis landasan teologis dan yuridis mubadalah, serta implikasinya terhadap hak dan kewajiban suami istri. Temuan utama menunjukkan bahwa paradigma mubadalah, dengan lima pilarnya yang menekankan akad sebagai perjanjian kokoh (mitsaqan ghalizhan), hubungan berpasangan (zawj), saling memperlakukan dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf), musyawarah, dan saling memberi kenyamanan (taradhin min-huma), membuka ruang substantif bagi kesalingan dan keadilan gender dalam keluarga Islam. Hal ini didukung oleh penafsiran ulang ayat-ayat Al-Qur'an (QS. al-Baqarah [2]: 187 dan QS. al-Rum [30]: 21) yang secara inheren menyiratkan kesetaraan dan timbal balik, serta reinterpretasi pasal-pasal dalam UU Perkawinan dan KHI yang dapat diharmonisasikan dengan semangat kesalingan. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya mengintegrasikan perspektif mubadalah ke dalam kurikulum pendidikan pranikah dan reformasi hukum keluarga untuk mewujudkan tatanan rumah yang harmonis, resilien, dan berkeadilan, sejalan dengan tujuan sakinah, mawaddah, dan wa rahma    
Implementasi Pendidikan Rabbani dalam Membentuk Karakter dan Kecerdasan Spiritual Nasrulloh
IQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 02 (2021): IQ (Ilmu Al-qur’an): Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Tarbiyah, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/k4ja5855

Abstract

This paper aims to analyze the implementation of Robbani Education carried out at SDIT SUIS Bogor in shaping the character and spiritual intelligence of students. This type of research is descriptive qualitative with a field study approach. Primary and secondary data sources were collected using in-depth interviews, FGD, observation, and documentation studies. The data analysis technique uses the theory of Miles and Huberman with the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions or verification. The validity of the data was tested by using the data triangulation method to get the quality of meaning in the interview results. The research findings include that the method of educating by example and habituation alone is not enough to maximize the level of success in character education and spiritual intelligence. The author views that the formation of character and spiritual intelligence will be maximized if using Nashil Ulwan's theory as a whole, namely educating by example, educating by habituation, educating with advice, educating with attention, and educating with punishment.
Co-Authors Aatina Khairal ‘Athiyyah Zen Abas, Adzrah Dwi Sunarty Abdullah Ade Susanti Aditya Santoso Adzin Murdiantoro, Randi Ahmad Hanim Syafril Alfalah Aida Naja Sabiela Aisyah Putri Salsabila Amelia, Ulfi Andriyan, Riki Annisa Dwi Ramadhanti Arpin Aminuddin Hrp Arsiandro, Fadzly Haris Arsiandro Asep Hikmatullah Asykriyah Laily Rizki Aulia Rahman Berlian Kusmastuti, Imel Binazun, Inayah Dalle, Muhammad Dimas Abdurochim Dwi Putri Agustia Ema Ummiyatul Khusnah Evy Nur Rohmawaty Fachruroji Fadhil Ismail FATHUR ROHMAN Fidinillah, Ghuzat Habibur Rahman Hamidatul Latifah Isnainiyah Istiqomah, Dhia Kastrawi, Puji Khildah Salsabilatun Najah Khoirinnisa Kholqi, Ahmad Muhammad Sa’dul Khuntum Khaira Ummah Kiptiyah, Arofatul Laila Nur Sholikhah Latifah, Hamidatul Layalil Maghfiroh Zain M Ahsani Taqwim A.J M Sholih Salimul Uqba Mahendra, Wirayudha Maulana Malik Ibrohim Mauliyanti Mia Amelia Mochammad Aldiyansyah Mohammad Arjati Firmansyah Mubarok, Rizky Muh. Taufiqurrahman Muhammad Muhammad Fahmi Syafi’uddin Muhammad Fathoni Diya’ Ulhaq Rahmat Muhammad Ihsan Mas'ud Muhammad Iqbal Al-Azizi Muhammad Rizky Maulana Munawar, Aris Munirul Abidin Mutammimah, Bidayatul Nabila Anisya Nafilah, Sayidah Alfa Nawawi Aulia Muhammad Nikyta Tsabita Khansa Novatilana, Anisa Nuchin, Achmad Nur Efendi, Mohamad Nuraini Nurlatipah Nurul Ainiy Nurul Hidayah Prasetyono, Rizki Pryditzia Presdiranti Qurrota Ayuni, Rizka Rahma Yanti, Silvia Ramadhani Islami Putri Randi Adzin Murdiantoro Rara Novita Sari Reza Hamidi, Saddam Rifki Ali Reza Rijal , Hamim Syaiful Rizka Qurrota Ayuni Rizki Noor Prasetyono Sadam Safi'i, Ahmad Saputri, Virda Hersy Lutviana Septiana, Nurul Izzati Shang-Jin Wei Shery Fara Afifah Sugeng Widodo Sunarty Abas, Adzrah Dwi Syaghaf M. Sa'ad Syakhiya Nur Jazilah Tamimatun Nihayah Tazkiyah, I'anatut Tutik Hamidah Ummu Aisyah Wahyuni, Hana Yusnani Zahratunnisa Zaid Al Qodhi Zulfa Al Muthoharoh Zulfa Syauqiah