The agroecological approach can reduce the negative impacts of agricultural cultivation on the environment, economy, and society. This study aims to determine the internalization of ten (10) agroecological elements, obstacles, and potential improvements in mentoring the Ambon Banana Farmers Group in collaboration with IZI Yogyakarta, Polbangtan Yoma, and BPP Sentolo. The study was conducted in Bantarjo, Banguncipto, Sentolo, and Kulonprogo. The study conducted in-depth interviews and focused group discussions with 17 informants—data analysis used by triangulating data. The results of this study are expected to provide input for agricultural empowerment or mentoring in the future. The application of agroecology is in the medium category, with a score of 2.72 in the FAO Tool for Agroecology Performance Evaluation 2019, with the lowest score in the recycling element (score 1) (renewable technology) and the highest in responsible governance (score 4). The obstacles faced in mentoring Ambon banana cultivation include irrigation, climate, disease, funding, soil processing tools, and cultivation time. The proposed potential improvements include the creation of drilled wells (irrigation), soil processing tools, smart farming design, assistance, plant disease control, additional livestock, funding, maximizing resource potential, and improving sanitation. Keywords: agroecology, mentoring, Ambon banana, food system. ABSTRAK Pendekatan agroekologi dapat mengurangi dampak buruk budidaya pertanian terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui internalisasi sepuluh (10) elemen agroekologi, kendala dan potensi perbaikan dalam pendampingan Kelompok Tani Pisang Ambon kerjasama IZI Yogyakarta, Polbangtan Yoma, dan BPP Sentolo. Penelitian dilakukan di Bantarjo, Banguncipto, Sentolo, Kulonprogo. Penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam dan focused group discussion bersama 17 informan. Analisis data yang digunakan dengan melakukan triangulasi data. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemberdayaan atau pendampingan pertanian di masa mendatang. Penerapan agroekologi berada pada kategori medium dengan skor Tool for Agroecology Performance Evaluation 2019 FAO yaitu 2.72, dengan skor terendah pada elemen daur ulang (skor 1) (teknologi terbarukan) dan tertinggi pada tata kelola yang bertanggung jawab (skor 4). Kendala yang dihadapi dalam pendampingan budidaya pisang ambon: pengairan, iklim, penyakit, pendanaan, alat pengolah tanah dan waktu budidaya. Potensi perbaikan yang diusulkan yaitu pembuatan sumur bor (pengairan), alat pengolah tanah, desain smart farming, pendampingan, pengendalian penyakit tanaman, penambahan ternak, pendanaan, maksimalisasi potensi sumber daya, dan perbaikan sanitasi. Kata kunci: agroekologi, pendampingan, pisang ambon, sistem pangan.