Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Karakteristik Demografi dan Radiologi Pada Pasien Stroke Hemoragik Lumbantobing, Lamhot Asnir; Lopez, Claudia da; Nathaniel, Fernando; Wijaya, Dean Ascha
Jurnal Ners Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v8i1.19715

Abstract

Hemorrhagic stroke is bleeding within the brain that occurs due to the rupture of blood vessels. Early diagnosis and prompt management are crucial to prevent rapid neurological deterioration or dysfunction caused by hemorrhagic stroke. This cross-sectional study aims to understand the clinical and radiological characteristics of patients with hemorrhagic stroke at HP Hospital , selected based on specific criteria using total sampling from medical records during the period from December 2022 to July 2023. The variables used in this study are gender, lesion location, Glasgow Coma Scale (GCS), and basic blood laboratory findings. Data are presented in descriptive form. Out of 22 respondents, the mean age was 58.68 years, and it was predominantly female (54.5%). The most common cases are intraventricular hemorrhagic (31.8%). 31.8% of respondents’ level of consciousness were alert and soporous states, respectively. Hypertension was found to be a concomittant dosesase in 90.9% of the respondents. 11 (50%) respondents passed away after receiving treatment. The respondents' laboratory results showed hypokalemia and leukocytosis, with average values of sodium, chloride, hemoglobin, hematocrit, and platelets within normal limits.
Korelasi Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil Trimester Tiga dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di RSUD Ciawi Normala, Ajeng; Nathaniel, Fernando; Satyanegara, William Gilbert; Edbert, Bruce; Wijaya, Dean Ascha; Firmansyah, Yohanes
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Nomor 1 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i1.11758

Abstract

ABSTRACT Anemia during pregnancy is generally considered a risk factor for preterm delivery, low birth weight (LBW) infants, and other poor pregnancy outcomes. This cross-sectional study aimed to determine the correlation between third-trimester maternal hemoglobin levels and the occurrence of LBW meeting the criteria, using non-random consecutive sampling based on medical records from Ciawi Regional General Hospital during the period of July 2023. The variables in this study were maternal third-trimester hemoglobin levels and the occurrence of LBW. Statistical analysis utilized the Spearman test. Out of 320 respondents, the mean age was 29.68 years. The mean hemoglobin level was 9.24 g/dL. The mean birth weight was 1,852.06 grams. The results of the analysis were not statistically significant, with a correlation between the two variables of rs=0.058, p=0.301. The cutoff value for hemoglobin levels at 9 g/dL was the highest risk for causing births with a weight <2500 grams in the anemia group. The results of this study indicated that hemoglobin levels below 9 g/dL posed the highest risk for LBW and very LBW occurrence. Keywords: Anemia, Haemoglobin Level, Low Birth Weight, Pregnancy  ABSTRAK Anemia selama kehamilan umumnya dianggap sebagai faktor risiko untuk persalinan prematur, bayi berat lahir rendah (BBLR), dan hasil kehamilan yang buruk lainnya. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester 3 dengan kejadian BBLR yang memenuhi kriteria dengan non-random consecutive sampling menggunakan data rekam medis di Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi pada periode Juli 2023. Variabel dalam penelitian ini yaitu kadar hemoglobin pada trimester ketiga ibu hamil dan kejadian BBLR. Analisis statistik menggunakan uji Spearman. Dari 320 responden, rata-rata usia adalah 29,68 tahun. Rerata kadar hemoglobin sebesar 9,24 g/dL. Rerata berat badan lahir sebesar 1.852,06 gram. Hasil analisis tidak signifikan secara statistik dengan korelasi antara kedua variabel, rs=0.058, p= 0,301. Nilai cut-off kadar hemoglobin sebesar 9 g/dL merupakan risiko tertinggi untuk menyebabkan kelahiran dengan berat <2500 gram pada kelompok anemia. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa kadar hemoglobin kurang dari 9 g/dL merupakan risiko tertinggi terhadap kejadian BBLSR dan BBLASR. Kata Kunci: Anemia, Berat Bayi Lahir Rendah, Kadar Hemoglobin, Kehamilan
Hubungan Gejala Kolesistolitiasis dengan Kejadian Gastritis dan Karakteristiknya Setiawan, Hardianto; Saputra, Rio; Firmansyah, Yohanes; Nathaniel, Fernando; Yogie, Giovanno Sebastian
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11116

Abstract

ABSTRACT Cholecystolithiasis and gastritis are both very common conditions in the modern era, and they can occur together. The relationship between cholecystolithiasis and gastritis in terms of their characteristics and clinical implications is not yet fully understood. This study aims to determine the association between cholecystolithiasis symptoms and the occurrence of gastritis as observed through endoscopy, along with the analysis of their characteristics. This study employed a cross-sectional design with a total of 114 participants obtained from medical records of several hospitals in Jakarta from January 2020 to 2023. Data analysis was conducted using Pearson Chi-Square test with Yates Correction and Fisher's exact test to test the hypotheses. The results of the study showed no significant association between gender, H. pylori infection, and bile reflux with positive endoscopy results for gastritis in patients with cholecystolithiasis (p > 0.05). Clinical exploration revealed that male gender, H. pylori infection, and the presence of bile reflux symptoms did have a higher risk for positive endoscopy results [PR: 1.152 (0.996 - 1.333) vs. 1.169 (1.080 - 1.264) vs. 1.165 (1.078 - 1.258)]. There was a significant association between gastrointestinal symptoms and positive endoscopy results (PR: 1.802, p-value < 0.001). Abdominal pain obtained a 100% value for positive endoscopy results of gastritis in patients diagnosed with cholecystolithiasis. There is no significant association between gender, H. pylori infection, and bile reflux with the occurrence of gastritis in patients with cholecystolithiasis. However, there is a significant association between gastrointestinal symptoms and positive endoscopy results, with abdominal pain being the most strongly associated symptom.  Keywords : Cholecystolithiasis, Gastritis, Risk factors  ABSTRAK Kolesistolitiasis dan gastritis keduanya merupakan kondisi yang sangat umum di era modern dan kejadian tersebut dapat terjadi secara bersamaan. Hubungan antara kolesistolitiasis dengan gastritis ditinjau dari karakteristiknya serta implikasi klinisnya masih belum sepenuhnya dipahami. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gejala kolesistolitiasis dengan kejadian gastritis yang ditinjau dari endoskopi beserta analisis karakteristiknya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang dengan total 114 partisipan yang diperoleh dari rekam medis dari beberapa rumah sakit di Jakarta periode januari 2020 hingga 2023. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik Pearson Chi Square with Yates Correction dan Fisher Exact untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, infeksi H.pylori, dan bile reflux  dengan hasil endoskopi positif untuk gastritis pada pasien kolesistolitiasis (p > 0,05). Penelusuran secara klinis mengungkapkan bahwa jenis kelamin laki-laki, infeksi H. pylori dan adanya gejala bile reflux  memang memiliki risiko lebih tinggi untuk hasil endoskopi positif [PR: 1,152 (0,996 - 1,333) v.s 1,169 (1,080 - 1,264) v.s. 1,165 (1,078 - 1,258)]. Terdapat hubungan yang signifikan antara gejala gastrointestinal dengan hasil endoskopi yang positif (PR: 1,802, nilai p <0,001). Keluhan nyeri perut mendapatkan nilai 100% untuk hasil endoskopi positif gastritis pada pasien telah terdiagnosis kolesistolitiasis. Tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, infeksi h.pylori, dan bile reflux  dengan kejadian gastritis pada pasien kolesistolitiasis. Namun terdapat hubungan signifikan antara gejala gastrointestinal dengan hasil endoskopi yang positif, dimana keluhan nyeri perut memiliki kejadian yang paling kuat. Kata Kunci: Faktor Risiko, Gastritis, Kolesistolitiasis
Korelasi Kadar Gula Darah Sewaktu dengan Kadar Air dan Sebum Kulit di Rukun Warga (RW) 008 Kelurahan Cipondoh Yudhitiara, Novia; Tan, Sukmawati Tansil; Yogie, Giovanno Sebastian; Wijaya, Dean Ascha; Satyanegara, William Gilbert; Nathaniel, Fernando; Kurniawan, Joshua; Moniaga, Catharina Sagita; Firmansyah, Yohanes; Santoso, Alexander Halim; Mandalika, Astin; Soebrata, Linginda
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i11.11607

Abstract

ABSTRACT Skin hydration is influenced by various factors. Blood glucose levels are also known to affect the protective function of the skin. This cross-sectional study aims to investigate the profile of skin hydration status and its correlation with blood glucose levels among subjects at RW 08 Cipondoh. Skin hydration status measurements were done using an Over The Counter (OTC) skin analyzer. Blood glucose levels were measured using Point of Care Testing (POCT) Out of 101 respondents, the average age was 51.38 years with 75.2% of the respondents were female. The mean blood glucose was 122.71 mg/dL. The mean oil and water hydration were 22.99% and 42.96%, respectively. The data showed a negative correlation between blood glucose and water hydration, with a correlation coefficient power of 0.319 significantly, and between blood glucose and oil hydration, with 0.236 significantly. This study concludes that higher blood glucose levels was associated with worse skin hydration status.  Keywords : Blood glucose, Hydration Status ABSTRAK Kelembaban kulit dipengaruhi oleh banyak faktor. Kadar gula darah merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi fungsi kelembaban kulit. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status hidrasi kulit dan korelasinya dengan kadar gula darah pada komunitas yang tinggal di RW 08 Cipondoh. Pengukuran status hidrasi kulit menggunakan alat Over The Counter (OTC) skin analyzer. Kadar gula darah diukur menggunakan Point of Care Testing (POCT). Dari 101 responden, rata-rata usia subjek penelitian adalah 51,38 tahun dengan 75,2% responden adalah perempuan. Rerata gula darah sewaktu (GDS) sebesar 122,71 mg/dL. Rerata hidrasi sebum dan air, masing-masing sebesar 22,99% dan 42,96%. Hasil uji statistik menunjukan hasil korelasi negatif antara GDS dengan hidrasi air sebesar 0,319 secara signifikan dan hidrasi sebum sebesar 0,236 secara signifikan. Penelitian ini menyatakan bahwa semakin tinggi kadar gula darah, maka semakin menurun status hidrasi kulit seseorang. Kata Kunci: Kadar Gula Darah, Kadar Hidrasi
Gambaran Keluhan Telinga dan Letak Perforasi Membran Timpani pada Pasien dengan Otitis Media Supuratif Kronis Tenty, Tenty; Nathaniel, Fernando; Wijaya, Dean Ascha; Firmansyah, Yohanes
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i10.11205

Abstract

ABSTRACT Chronic Suppurative Otitis Media (CSOM) is a persistent inflammation of the middle ear. It is one of the most common ear infections worldwide, leading to hearing impairment and affecting people's quality of life. This study, conducted at Ciawi General Hospital in July 2023, is a cross-sectional investigation aiming to outline the ear-related complaints and the location of tympanic membrane perforations in patients with CSOM. The participants were selected based on total sampling criteria. The variables examined in this research include age, gender, perceived symptoms, and physical examination of both ears to identify the type of perforation in the tympanic membrane. The data is presented descriptively. Out of the 53 respondents, 56.6% were between 18 and 64 years old, with a higher proportion being female (52.8%). The most commonly reported symptoms by respondents (>50% of cases) with CSOM were a sense of fullness in the ear, hearing loss, tinnitus, otorrhea, and itching in the ear. According to the results of the physical examination, the most prevalent type of perforation was central perforation, occurring in 98.1% of cases, and 88.7% of cases showed ear discharge. The conclusion in this study is that CSOM has general symptoms accompanied by central perforation and symptoms of ear discharge. Keywords: Chronic Suppurative Otitis Media, Hearing Loss, Otorrhea, Perforation  ABSTRAK Otitis media supuratif kronis (OMSK) merupakan suatu peradangan pada telinga tengah yang berlangsung kronis. OMSK termasuk infeksi telinga paling umum yang menyebabkan gangguan pendengaran dan mempengaruhi kualitas hidup seseorang di seluruh dunia. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan telinga dan letak perforasi membran timpani pada pasien dengan OMSK di RSUD Ciawi yang dipilih sesuai kriteria secara total sampling pada periode waktu Juli 2023. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, gejala yang dirasakan, serta pemeriksaan fisik pada kedua telinga untuk melihat jenis perforasi pada membran timpani. Data disajikan dalam bentuk deskriptif. Dari 53 responden, 56,6% responden berusia 18 – 64 tahun dan didominasi oleh perempuan (52,8%). Gejala yang paling sering dirasakan oleh responden (>50% kasus) dengan OMSK adalah telinga terasa penuh, penurunan pendengaran, tinnitus, otorea, serta telinga yang terasa gatal. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik didapatkan bahwa jenis perforasi yang paling dominan adalah perforasi sentral pada 98,1% kasus dan terdapat sekret telinga pada 88,7% kasus. Kesimpulan pada penelitian ini adalah OMSK memiliki gejala yang umum disertai dengan perforasi sentral dan gejala sekret telinga Kata Kunci: Otitis Media Supurativa Kronis, Otorea, Penurunan Pendengaran, Perforasi
Korelasi Antara Indeks Massa Tubuh terhadap Tekanan Darah pada Kelompok Pasien yang Telah Mendapatkan Pengobatan Hipertensi Amelia, Devi Astri Rivera; Kurniawan, Joshua; Nathaniel, Fernando; Firmansyah, Yohanes
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11133

Abstract

ABSTRACT Hypertension and high body mass index (BMI) are risk factors for cardiovascular diseases. Several studies found that blood pressure were rised in high BMI, but studies about correlation of BMI and blood pressure in hypertensive patients on medication are still limited. The study aims to evaluate the correlation between BMI and blood pressure in hypertensive patients on medication.  This quantitative, observational, cross-sectional design study includes all eligible hypertensive patients in outpatient Internal Medicine clinic in Ciawi General Hospital from June to July 2023. A total of 50 patients aged 18 or above are selected by using concecutive sampling. History of hypertension duration and medication was taken from every patients.   The BMI and blood pressure of patients were assessed. Statistical test used in the study is Pearson and Spearman correlation test. Normality of the data is tested with Shapiro Wilk test. The correlation test used in the study is decided based on the normality test result. Significance level expected in the study is 5% (p-value < 0.05). There was a weak correlation (r = 0.314) between body mass index and systolic blood pressure (p-value = 0.026), and a very weak correlation (r = 0.197) between BMI and diastolic blood pressure (p-value = 0.169). The results showed positive but weak correlation between BMI and systolic blood pressure, while there was no significant correlation between BMI and diastolic blood pressure. Keywords : Body Mass Index, Diastolic Blood Pressure, Hypertension, Systolic Blood Pressure  ABSTRAK Hipertensi dan indeks massa tubuh (IMT) merupakan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah akan meningkat pada orang dengan IMT tinggi, namun penelitian mengenai hubungan indeks massa tubuh dengan tekanan darah pada pasien hipertensi dalam pengobatan masih terbatas.  Untuk mengevaluasi korelasi antara IMT dan tekanan darah pada kelompok pasien hipertensi yang sedang mendapatkan pengobatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, observasional, dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Ciawi pada Periode Juni hingga Juli 2023. Pemilihan sampel dilakukan secara berurutan pada 50 pasien usia > 18 tahun yang telah terdiagnosis penyakit hipertensi dan telah mendapatkan obat hipertensi, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa statistik yang digunakan dalam penelitian ini berupa uji korelasi Pearson dan Spearman. Penentuan uji normalitas atau sebaran data pada penelitian ini menggunakan uji Shapiro Wilk. Penentuan uji korelasi didasarkan pada interpretasi uji normalitas. Interpretasi nilai korelasi didasarkan pada nilai r-correlation (r). Nilai kemaknaan yang diharapkan pada penelitian ini adalah sebesar 5% (p-value < 0,05). Didapatkan korelasi positif yang lemah (r = 0,314) antara indeks massa tubuh dengan tekanan darah sistolik (p-value = 0,026), dan korelasi yang sangat lemah (r = 0,197) antara IMT dengan tekanan darah diastolik (p-value = 0,169). Korelasi antara IMT dan tekanan darah sistolik positif namun lemah, sedangkan korelasi antara IMT dan tekanan darah diastolik tidak signifikan. Kata Kunci: Hipertensi, Indeks Massa Tubuh, Tekanan Darah Diastolik, Tekanan Darah Sistolik
Gambaran Radiologi Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada Pasien Meningioma di Rumah Sakit Daerah K.R.M.T Wongsonegoro Maryani, Luh Putu Endyah Santi; Nathaniel, Fernando; Wijaya, Dean Ascha; Firmansyah, Yohanes; Yogie, Giovanno Sebastian
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11232

Abstract

ABSTRACT Meningioma, the most prevalent tumor in central nervous system, can be thoroughly evaluated using contrast MRI. This cross-sectional study aimed to analyze radiological characteristics of meningioma patients who underwent contrast-enhanced head MRI at K.R.M.T Wongsonegoro Regional Hospital. The patients were selected based on total sampling criteria, using medical records data from January to June 2023. The study examined various variables such as primary and secondary meningioma lesions, lesion size, location, increased intracranial pressure, midline shift, infarction, cranial nerve defects, and sinusitis. Data were presented descriptively. Among 30 respondents, average age was 49.33 years, and majority were females (96.7%). Most common location for primary meningiomas was right parafalcine region (16.7%). Average dimensions of primary meningioma lesions in the anterior-posterior, lateral-lateral, and cranial-caudal directions were 4.93 cm, 4.51 cm, and 4.43 cm, respectively. Meningomatosis was the predominant imaging finding in 33.3% of respondents, while 26.7% had secondary meningioma lesions. On average, the midline shift was 5.54 mm, with 93.3% of respondents experiencing midline shift, most frequently towards left side (53.3%). Clinical and radiological reviews demonstrated that all patients had increased intracranial pressure (ICP), among them, 9.9% experienced incidents of infarction, 13.3% had defects in cranial nerve II, and 43.3% had maxillary sinusitis. The conclusion of this study is that the location of meningioma generally varies with typical symptoms in the form of a midline shift and an increase in ICP Keywords : Central Nervous System, Head Tumor, Meningioma, MRI  ABSTRAK Meningioma merupakan tumor sistem saraf pusat yang paling sering. MRI kontras mampu memberikan evaluasi cukup lengkap terhadap meningioma. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui gambaran radiologi pasien meningioma yang menjalani pemeriksaan MRI kepala dengan kontras di Rumah Sakit Daerah K.R.M.T Wongsonegoro yang dipilih sesuai kriteria secara total sampling menggunakan data rekam medis pada periode waktu Januari 2023 sampai Juni 2023. Variabel dalam penelitian ini yaitu lesi meningioma primer dan sekunder, ukuran lesi meningioma, letak lesi meningioma, peningkatan tekanan intrakranial, midline shift, insiden infark, defek nervus kranial, dan sinusitis. Data disajikan dalam bentuk deskriptif. Dari 30 responden, rerata usia adalah 49,33 tahun dan didominasi oleh perempuan (96,7%). Lokasi meningioma primer umumnya di parafalcine kanan (16,7%), ukuran meningioma primer secara anterior-posterior, lateral-lateral, cranial-kaudal berturut-turut adalah 4,93 cm, 4,51 cm, dan 4,43 cm, dominasi gambaran meningioma adalah meningomatosis pada 33,3% responden, serta 26,7% responden memiliki lesi meningioma sekunder. Rerata midline shift sebesar 5,54 mm pada 93,3% responden dan umumnya bergeser ke sisi kiri (53,3%). Peninjauan dari segi klinis dan radiologi ditemukan bahwa seluruh pasien mengalami peningkatan tekanan intrakranial (TIK), terdapat 9,9% responden mengalami insiden infark, 13,3% responden mengalami defek pada nervus kranial II, dan 43,3% responden mengalami sinusitis maksilaris. Kesimpulan penelitian ini berupa letak meningioma umumnya bervariasi dengan gejala yang khas berupa midline shift dan peningkatan TIK Kata Kunci: Meningioma, MRI, Sistem Saraf Pusat, Tumor Otak
Korelasi Kadar Gula Darah Sewaktu dengan Nilai International Consultant Incontinence Questionnaire – Urine Incontinence Short Form (ICIQ-UISF) pada Kelompok Lanjut Usia Tambunan, Nicholas Albert; Firmansyah, Yohanes; Nathaniel, Fernando; Wijaya, Dean Ascha; Yogie, Giovanno Sebastian
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i11.11411

Abstract

ABSTRACT Urinary incontinence (UI) is one of health problems that occur in elderly population. This cross-sectional study aims to determine correlation between blood sugar levels and International Consultation Incontinence Questionnaire - Urine Incontinence Short Form (ICIQ-UISF) scores in elderly group selected through total sampling criteria at Santa Anna Elderly Care Center in July 2023. ICIQ-UISF questionnaire was used to evaluate UI. Blood sugar level was measured using POCT according to standard procedures. Statistical analysis using Spearman correlation test. Out of 60 respondents, average age was 76.30 years, with 66.7% of respondents being female. Mean blood sugar level was 118.12 mg/dL and 11.7% of respondents showed high blood sugar levels. Average ICIQ-UISF score was 4.58 with 21.7% of respondents experiencing UI onset before reaching toilet, 20% during sleep, and the rest never experienced it. Spearman correlation test indicated a significant correlation between blood sugar levels and ICIQ-UISF scores (p-value: 0.028) with a correlation strength value of 0.264 (r-correlation: 0.283), which falls into weak category. The results show there is a significant correlation between blood sugar levels and ICIQ-UISF questionnaire scores. Blood sugar levels influence 8.0% of ICIQ-UISF scores, while the remaining 92% is attributed to other variables not examined in this study. Keywords: Blood Glucose, Elderly, Urine Incontinence  ABSTRAK Inkontinensia urin merupakan salah satu masalah kesehatan yang terjadi pada kalangan lanjut usia. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kadar gula darah sewaktu (GDS) dengan nilai kuesioner International Consultant Incontinence Questionnaire – Urine Incontinence Short Form (ICIQ-UISF) pada kelompok lanjut usia yang dipilih sesuai kriteria secara total sampling di Panti Lansia Santa Anna pada Juli 2023. Kuesioner ICIQ-UISF digunakan untuk mengevaluasi inkontinensia urin. GDS diukur menggunakan POCT sesuai prosedur standar. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Dari 60 responden, rata-rata usia adalah 76,30 tahun dengan 66,7% responden adalah perempuan. Didapatkan rata-rata GDS sebesar 118,12 mg/dL dan 11,7% responden menunjukkan kadar GDS yang tinggi. Rata-rata nilai ICIQ-UISF sebesar 4,58 dengan 21,7% responden mengalami onset inkontinensia urin sebelum sampai toilet, 20% saat tidur dan sisanya tidak pernah. Uji korelasi Spearman menyatakan adanya korelasi bermakna antara kadar GDS dengan nilai ICIQ-UISF (p-value : 0,028) dengan nilai kekuatan korelasi sebesar 0,264 (r-correlation : 0,283) atau masuk dalam kategori lemah. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat korelasi yang bermakna antara kadar GDS dengan nilai kuesioner ICIQ-UISF. Kadar GDS memengaruhi 8% nilai ICIQ-UISF sedangkan 92% lainnya disebabkan oleh variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Kata Kunci: Gula Darah, Inkontinensia Urin, Lanjut Usia
Perbedaan Rerata Usia Kehamilan dengan Munculnya Onset Preeklamsi Ringan, Berat, dan Eklamsi pada Ibu Hamil Dinata, Freddy; Nathaniel, Fernando; Satyanegara, William Gilbert; Kurniawan, Joshua; Firmansyah, Yohanes
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11037

Abstract

ABSTRACT Preeclampsia is a serious problem in pregnancy that causes significant morbidity and mortality in maternal, fetal, and neonatal health. Eclampsia is one of the most serious non-obstetric complications. Preeclampsia often occurs in the third trimester of pregnancy, particularly after 32 weeks of gestation. However, in some cases, preeclampsia can occur in other trimesters. This cross-sectional study aims to determine the relationship between gestational age and the occurrence of mild preeclampsia, severe preeclampsia, and eclampsia using medical records from Ciawi Regional General Hospital from January to December 2020. The variables in this study consisted of basic characteristics of the respondents (maternal age and parity status), gestational age (in weeks), and maternal medical conditions divided into three groups (mild preeclampsia, severe preeclampsia, and eclampsia). Statistical analysis was performed using the Kruskal-Wallis test. Out of 190 respondents, the average age of the mothers was 32 years, and the average gestational age was 36.2 weeks, with severe preeclampsia being the dominant medical condition (85.3%). The research findings revealed no significant difference in the mean gestational age among the three groups of pregnant mothers (P-value: 0.235). Further clinical review revealed that eclampsia occurred at an earlier gestational age compared to mild preeclampsia, which generally occurs in the late stages of pregnancy. The findings from this study are expected to contribute to a deeper understanding of preeclampsia and eclampsia to improve the quality of healthcare services. Keywords: Eclampsia, Gestational Age, Preeclampsia  ABSTRAK Preeklamsi merupakan salah satu masalah pada kehamilan yang serius, kondisi tersebut menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada maternal, fetal, dan neonatal yang signifikan. Eklamsi merupakan salah satu komplikasi non-obstetrik yang paling serius. Preeklamsi seringkali terjadi pada trimester tiga kehamilan, khususnya usia gestasi >32 minggu. Namun pada beberapa kasus preeklamsi dapat terjadi pada trimester lainnya. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian preeklamsi ringan, preeklamsi berat dan eklamsi dengan menggunakan data rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi pada periode Januari – Desember 2020. Variabel pada penelitian ini terdiri dari karakteristik dasar responden (usia ibu dan status paritas), usia kehamilan (minggu), serta kondisi medis ibu yang dibagi menjadi tiga kelompok (preeklamsi ringan, berat, dan eklamsi). Analisis statistik menggunakan uji Kruskall Wallis. Dari 190 responden, rata-rata usia ibu 32 tahun, rata-rata usia kehamilan adalah 36,2 minggu dengan kondisi medis didominasi oleh preeklamsi berat (85,3%). Hasil penelitian menemukan tidak ada perbedaan rerata usia kehamilan yang bermakna antara tiga kelompok ibu hamil (nilai P = 0,235). Peninjauan lebih lanjut secara klinis diketahui bahwa eklamsi terjadi pada usia kehamilan yang cenderung lebih awal dibandingkan preeklamsi ringan yang umumnya terjadi pada fase kehamilan aterm. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat membantu pemahaman yang lebih mendalam terkait preeklamsi dan eklamsi guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Kata Kunci: Eklamsi, Preeklamsi, Usia gestasi
Profil Kelainan Radiologi pada Remaja dengan Skoliosis Widjaya, Inge Friska; Firmansyah, Yohanes; Nathaniel, Fernando; Wijaya, Dean Ascha
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i10.11178

Abstract

ABSTRACT Scoliosis is a type of spinal abnormality characterized by a lateral deviation of more than 10 degrees to the right or left. It affects 1-3% of children in the at-risk population, particularly those aged between 10 to 16 years. The main purpose of this research is to examine the radiological characteristics of scoliosis in teenagers using imaging (Spinal X-ray) at Royal Taruma Hospital. The sample for this study was selected using total sampling criteria from medical records gathered during the period from January to June 2023. The variables analyzed include age, gender, and the radiological features of scoliosis. The data was presented descriptively. Out of the 25 respondents, the average age was 15 years, with females comprising 88% of the participants. Most respondents (80%) exhibited a combination of dextroscoliosis and levoscoliosis. The median Cobb angle measurement for dextroscoliosis was 24 degrees, while for levoscoliosis, it was 26.5 degrees, both indicating moderate scoliosis. The curvature lesions for dextroscoliosis generally started at T5, and for levoscoliosis, they began at T12, with both types of scoliosis commonly ending at the level of L4. Keywords : Scoliosis, Spinal X-ray, Teenager  ABSTRAK Skoliosis merupakah salah satu bentuk kelainan tulang belakang dengan deviasi lateral lebih dari 10 derajat ke kanan atau ke kiri. Skoliosis mempengaruhi 1-3% anak-anak dalam populasi berisiko yaitu mereka yang berusia 10-16 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kelainan radiologi pada remaja dengan skoliosis berdasarkan pemeriksaan radiologi (X-Ray Spine) di RS Royal Taruma yang dipilih sesuai kriteria secara total sampling menggunakan data rekam medis pada periode waktu Januari – Juni 2023. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, dan gambaran radiologi skoliosis. Data disajikan dalam bentuk deskriptif. Dari 25 responden, rerata usia adalah 15 tahun, didominasi oleh perempuan pada 88% responden, dan didapatkan kombinasi dextroskoliosis dan levoskoliosis pada 80% responden. Nilai median Cobb angel pada kelainan dextroskoliosis sebesar 24 derajat dan pada levoskoliosis sebesar 26,5 derajat dimana keduanya masuk dalam kategori moderate skoliosis. Letak lesi lengkungan pada dextroskoliosis dimulai dari T5 dan kelainan levoskoliosis dimulai dari T12, dan umumnya berakhir setinggi L4 baik pada dextroskoliosis maupun levoskoliosis. Kata Kunci: Remaja, Rontgen Tulang Belakang, Skoliosis
Co-Authors Alifa, Tosya Putri Alvianto, Fidelia Amelia, Devi Astri Rivera Amimah, Ranindita Maulya Ismah Aribowo, Aretha Sarah Atzmardina, Zita Averina, Friliesa Charissa, Olivia Dinata, Freddy Edbert, Bruce Emilda, Emilda Ernawati Ernawati Ezra, Pasuarja Jeranding Frisca Frisca Gaofman, Brian Albert Goh, Daniel Gracieene Gracienne Gracienne, Gracienne Gunaidi, Farell Christian Handayanti, Luthfi Jap, Ayleen Nathalie Jaya, I Made Satya Pramana Junior, Ooki Nico Kaminto, Eric Raditya Kosasih, Robert Kurniawan, Joshua Kusuma, Kanaya Fide Lamhot Asnir Lumbantobing Lontoh, Susy Olivia Lopez, Claudia da Lumintang, Valentino Gilbert Mahaputera, Pramadio Mandalika, Astin Marcella, Agnes Maryani, Luh Putu Endyah Santi Mashadi, Fladys Jashinta Moniaga, Catharina Sagita Normala, Ajeng Pujiono, Sheryn Purnomo, Yonathan Adi Ranonto, Steve Vallery Rudi Rudi Ruslim, Welly Hartono S, Donatila Mano Samara, Trisha Santoso, Alexander Halim Saputra, Rio Satyanegara, William Gilbert Satyo, Yovian Timothy Setia, Nicholas Setiawan, Hardianto Shirly Gunawan Sitorus, Ribkha Anggeline Hariesti Siufui Hendrawan Soebrata, Linginda Sugiarto, Hans Suros, Angel Sharon Sutedja, Gina Triana Syachputri, Rifi Nathaznya Syarifah, Andini Ghina Tamaro, Anggita Tambunan, Nicholas Albert Tan, Sukmawati Tansil Teguh, Stanislas Kotska Marvel Mayello Tenty, Tenty Tiranda, Wisasti Gladys Chantika Warsito, Jonathan Hadi Widjaya, Inge Friska Wijaya, Bryan Anna Wijaya, Christian Wijaya, Dean Ascha Wijaya, Dean Ascha Wijaya Yogie, Giovanno Sebastian Yohanes Firmansyah Yudhitiara, Novia