p-Index From 2021 - 2026
9.454
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Gen Z dalam Menjaga Identitas Budaya di Era Digital Jolivina, Josephine; Tumanggor, Raja Oloan; Surjana, Cindy Aurielle; Tania, Sherline; Wijaya, Kimberly; Valencia, Mudita
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i3.32888

Abstract

Perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), membawa dampak signifikan terhadap identitas budaya, terutama bagi generasi muda sebagai penerus bangsa. Identitas budaya mencerminkan jati diri suatu kelompok melalui nilai, tradisi, bahasa, seni, dan praktik sosial, yang berperan dalam membentuk pola pikir dan perilaku individu. Namun, arus modernisasi dan paparan budaya asing menyebabkan sebagian generasi muda menilai budaya lokal kurang relevan dan lebih tertarik pada budaya global. Fenomena ini menimbulkan risiko berkurangnya kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya. Pada sisi lain, AI memiliki potensi untuk mendukung pelestarian budaya melalui digitalisasi, dokumentasi, interpretasi, serta penyebaran informasi budaya secara luas. Penelitian ini menggunakan metode literature review untuk menganalisis peran kritis generasi muda dalam menjaga identitas budaya di era kecerdasan buatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya berperan sebagai konsumen budaya digital, tetapi juga sebagai produsen konten budaya lokal yang mampu merepresentasikan nilai-nilai tradisi dengan cara yang relevan dengan kehidupan modern. Penggunaan AI secara etis dan kritis dapat meningkatkan literasi digital generasi muda sekaligus memperkuat kesadaran mereka terhadap pentingnya pelestarian budaya. Oleh karena itu, keseimbangan antara inovasi teknologi dan pemeliharaan budaya menjadi kunci agar identitas budaya tetap terjaga bagi generasi mendatang. Penelitian ini menegaskan bahwa peran aktif generasi muda dalam konteks digital sangat penting untuk keberlanjutan warisan budaya Indonesia.
Budaya Antre sebagai Cermin Disiplin bagi Mahasiswa dalam Mengamalkan Pancasila Eldiyano, Albertado Totto; Tumanggor, Raja Oloan; Simanjuntak, Jesica Febiani; Novianti, Allya Deby; Rosalia, Naurah Eka; Hasiva, Khaizza Rahma
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JURDIKBUD) Vol. 5 No. 3 (2025): November : Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JURDIKBUD)
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurdikbud.v5i3.8760

Abstract

Queuing culture is often perceived as a simple habit in daily life, yet in reality, it carries a deeper meaning in shaping individual character, particularly among university students. Standing in line is not merely about waiting for one’s turn, but also reflects discipline, respect for others’ rights, and a willingness to obey shared rules. This article discusses queuing culture as a reflection of student discipline in practicing the values of Pancasila. As the nation’s future generation, students hold a moral responsibility to become role models within society. By practicing queuing culture, they demonstrate the implementation of social justice, equality, and both personal and social responsibility. In the context of campus life, queuing behavior appears in various situations, such as waiting for administrative services, using shared facilities, or engaging in daily activities beyond the academic setting. Discipline in queuing trains students to be patient, orderly, and capable of self-control. These values are in line with the principles of Pancasila, especially in upholding humanity, unity, and social justice. Moreover, queuing culture serves as a means of internalizing public ethics that foster a more orderly and harmonious social environment. Therefore, queuing culture is not only a practical behavior but also a concrete manifestation of Pancasila in students’ everyday lives. Through this simple habit, students can cultivate self-discipline, respect the rights of others, and strengthen moral integrity. This article emphasizes that queuing practices can be considered a form of character education, relevant in shaping young generations who are disciplined, ethical, and consistently able to embody the values of Pancasila in social life.
Budaya Antre sebagai Cermin Disiplin bagi Mahasiswa dalam Mengamalkan Pancasila Eldiyano, Albertado Totto; Tumanggor, Raja Oloan; Simanjuntak, Jesica Febiani; Novianti, Allya Deby; Rosalia, Naurah Eka; Hasiva, Khaizza Rahma
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JURDIKBUD) Vol. 5 No. 3 (2025): November : Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JURDIKBUD)
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurdikbud.v5i3.8760

Abstract

Queuing culture is often perceived as a simple habit in daily life, yet in reality, it carries a deeper meaning in shaping individual character, particularly among university students. Standing in line is not merely about waiting for one’s turn, but also reflects discipline, respect for others’ rights, and a willingness to obey shared rules. This article discusses queuing culture as a reflection of student discipline in practicing the values of Pancasila. As the nation’s future generation, students hold a moral responsibility to become role models within society. By practicing queuing culture, they demonstrate the implementation of social justice, equality, and both personal and social responsibility. In the context of campus life, queuing behavior appears in various situations, such as waiting for administrative services, using shared facilities, or engaging in daily activities beyond the academic setting. Discipline in queuing trains students to be patient, orderly, and capable of self-control. These values are in line with the principles of Pancasila, especially in upholding humanity, unity, and social justice. Moreover, queuing culture serves as a means of internalizing public ethics that foster a more orderly and harmonious social environment. Therefore, queuing culture is not only a practical behavior but also a concrete manifestation of Pancasila in students’ everyday lives. Through this simple habit, students can cultivate self-discipline, respect the rights of others, and strengthen moral integrity. This article emphasizes that queuing practices can be considered a form of character education, relevant in shaping young generations who are disciplined, ethical, and consistently able to embody the values of Pancasila in social life.
GAYA KETERIKATAN PADA MASA DEWASA AWAL: ANALISIS PERBEDAAN BERDASARKAN USIA Kamila, Nadia Nashwa; Tumanggor, Raja Oloan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7863

Abstract

ABSTRACT This study confirms a significant relationship between self-control and online game addiction with aggressive behavior among vocational high school students in Nogosari District, showing that higher self-control reduces aggression, while online game addiction increases it. This study focuses on determining whether there are differences in attachment-related anxiety and attachment-related avoidance levels based on the 18–25 age group. A total of 455 participants were selected using judgment sampling techniques and completed the Experiences in Close Relationships–Revised (ECR-R) instrument online. The data were analyzed in several stages, namely descriptive tests, Kolmogorov–Smirnov normality tests, and principal analysis using the Kruskal–Wallis test because the data were not normally distributed. The results showed significant differences in both attachment dimensions based on age. The mean rank pattern illustrates that certain age groups have higher levels of anxiety or avoidance tendencies compared to other age groups, indicating that attachment styles in early adulthood are dynamic and influenced by developmental experiences at each age. These findings conclude that age plays a role in differentiating how individuals build close relationships, and provide an important basis for the development of counseling services and mentoring programs tailored to the needs of each age group in early adulthood. ABSTRAK Masa dewasa awal ditandai oleh meningkatnya tuntutan hidup dan kebutuhan membangun hubungan dekat yang stabil, sehingga gaya keterikatan menjadi penting dalam membentuk kedekatan emosional. Namun, meskipun pengalaman dewasa dapat memengaruhi pola keterikatan, penelitian yang membahas variasinya pada kelompok usia berbeda dalam rentang dewasa awal masih terbatas. Penelitian ini berfokus untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat attachment-related anxiety dan attachment-related avoidance berdasarkan kelompok usia 18–25 tahun. Sebanyak 455 partisipan dipilih menggunakan teknik judgment sampling dan mengisi instrumen The Experiences in Close Relationships–Revised (ECR-R) secara daring. Data dianalisis melalui beberapa tahap, yaitu uji deskriptif, uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, dan analisis utama menggunakan uji Kruskal–Wallis karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kedua dimensi keterikatan berdasarkan usia. Pola mean rank menggambarkan bahwa kelompok usia tertentu memiliki tingkat kecemasan atau kecenderungan menghindar yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, yang menunjukkan bahwa gaya keterikatan pada dewasa awal bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh pengalaman perkembangan pada tiap usia. Temuan ini menyimpulkan bahwa usia berperan dalam membedakan cara individu membangun hubungan dekat, serta memberikan dasar penting bagi pengembangan layanan konseling dan program pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap kelompok usia di masa dewasa awal.
Pentingnya Literasi Digital untuk Menghindari Misinformasi Mahasiswa Generasi Z Kusumawati, Nina Angraeni; Tumanggor, Raja Oloan; Isnaeny, Anggela; Mareta, Keysha Ananda; Harto, Ivania Rachel; Putri, Raisya Anaya; Saputri, Danisa Ara
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 6 No. 5 (2025): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v6i5.904

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi Z mengakses dan mengonsumsi informasi. Fenomena penyebaran misinformasi khususnya hoaks, menjadi tantangan signifikan yang berpotensi memengaruhi sikap dan perilaku sosial mahasiswa. Literasi digital dianggap sebagai kompetensi penting dalam menghadapi tantangan ini. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review untuk menganalisis peran literasi digital dalam mencegah penyebaran misinformasi di kalangan mahasiswa generasi Z. Kajian menunjukkan bahwa literasi digital tidak hanya mencakup keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dalam mengevaluasi informasi. Implementasi strategi pendidikan literasi digital yang tepat dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap risiko misinformasi. Temuan ini menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan literasi digital yang relevan untuk generasi Z
Co-Authors Adisya, Syaila Rania Adrian Hartanto, Adrian Agoes Dariyo Agoes Dariyo Agoes Dariyo Aisha Pramadita Kartohadiprodjo Alexander Abraham Daeng Kuma Alfyoni, Ghisanie Azahra Almira, Deniella Kesya Amalia Putri Maharani Ambarwati, Puspitasari Andrianputra, Ezra Andriyani, Adinda Angel, Grace Angeline, Vania Annissatya, Kyantina Alifah Aprillia Wiranto, Nadya Serafin Arbi, Larasati Marutika Artha, Widya Aurora Nurul Khamila Aurora Nurul Khamila Azizah, Moulida Azzura, Chiatha Destalova BEATITUDO, EWALDUS SENARAI Bella, Catharine Bellamirno, Edward Binarta, Adeline Byanca, Zayra Alana Chairul, Nabila Chandra, Natasya Deasy Chiatha Destalova Azzura Chintia Stevani Christ Jhon Christabella, Christabella Christianto, Gabriel Enrico Darmawan, Anastasya Magdalena Putri David, Christopher Depari, Mey Emeninta Sembiring Effendie, Marsella Eka Febrianti, Eka Eldiyano, Albertado Totto Ellen Cheryl Hastono Ellen Cheryl Hastono Erfaryndra, Flariska Farah Nabila Nasution Farah Nabila Nasution Felycia Klaviera Mulyana Fidrian, Natasha Febriani Fransisca I.R. Dewi Fransisca Iriani Roesmala Dewi Ghaisani, Kayla Rossita Ghinarahima, Challista Najwa Ghisanie Azahra Alfyoni Gozal, Angel Vallerie Grace, Viona Graciella Faren Gracio O.E.H. Sidabutar Gumay, Fhilia Anasty Gunawan, Jessica Harto, Ivania Rachel Haryanto, Elisabet Winda Putri Hasiva, Khaizza Rahma Hayfatunisa, Gea Helga, Patricia Heni Mularsih Hotnida Nethania Agatha Imannuela, Audrey Ismoro Reza Prima Putra Isnaeny, Anggela Jasmine, Phenina Jolivina, Josephine Jose Conary Kamila, Nadia Nashwa Kasdim, Riska Kristy, Ellena Kurniawati, Putri Devi kusuma, shelly Kusumawati, Nina Angraeni Lase, Ekklesia Eunike Laurens, Stevanie Leonardo Sriwongo Lianna, Amanda Lim, Viviani Lovela, Adelia Lovita Lovita, Lovita Ludgerius Maruli Nugroho Tumanggor Mahadiva, Tsaniya Maharani, Amalia Putri Maharani, Bintang Mareta, Keysha Ananda Marfine, Marfine MARPAUNG, DERIAN GIOVANNO Massimiliano Di Matteo Mathilda V. Bolang, Caroline Michael Levi Mulyawan Halim Muhamad Dwiki Armani Mulya, Raynata Danielle Mustopo, Michelle Patricia Nadine, Feodora Natahsya, Ananda Niziliani, Shyakia Nolanda, Carissa Ratu Novianti, Allya Deby Nurbani, Anna P. Tommy Y. S. Suyasa Pangestu, Yoga Pasya, Nadya Isfahany Prasetyo, Victoria Alexandra Aureli Priscilia, Lidwina Putra, Fernaldo Prima Putri Hanifah, Nasywa Putri, Raisya Anaya Putri, Yohana Desia Raden Ajeng Astari Adina Warasto Raden Ajeng Astari Adina Warasto Rahmadina, Dhea Fadhila Ramadhani, Kalya Sukma Ramadita, Afsari Rayda Rachma Fatin Rayda Rachma Fatin Raynata Danielle Mulya Regent Wijaya Riana Sahrani Riana Sahrani Riska Umami Lia Sari Rosalia, Naurah Eka Salma, Meysun Sanceska, Putu Basya Ratu Sanusi Uwes Saputri, Danisa Ara Sarahsanty, Davina Satria, I Gede Indra Jagat Senjani, Dita Permata Shafwah, Salsabila Sharkesyan, Sherleen Siagian, Bisuk Silvana, Silvana Silviana Silviana Simanjuntak, Jesica Febiani Suci, Anjani Rahmah Surjana, Cindy Aurielle Surjo, Fernando Romero Suyasa, P Tommy Y. Sumatera Suyasa, P. Tommy Y. Sumatera Tania, Sherline Tanurezal, Nathania Theresa Theresa Tiara, Farillah Tina Sugiharti Tri, M. William Tumanggor, Felicitas Adelita Permatasari Tumanggor, Ludgerius Maruli Nugroho Unian, Thaniya Valencia, Mudita Vandhika, Samuel Venesia, Veronica Viani, Theresia Patria Victorio, William Wahyuni Wahyuni wahyuni wahyuni Widiasih, Triani Widiasih Widiyawati, Valentina Tyas Wijaya, Kimberly Willy Tasdin Yen Ni Yonatan Hizkia Ramli Yunita Christiana Zikrina, Aliyya