p-Index From 2021 - 2026
9.454
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran Penanaman Nilai Nasionalisme oleh Pendidik terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Luar Biasa Miracle Jakarta Jasmine, Phenina; Lianna, Amanda; Tumanggor, Raja Oloan
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.12707

Abstract

Globalisasi membuat batasan antar negara semakin memudar, maka dari itu sangat penting untuk menanamkan nilai nasionalisme pada anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK) sejak dini supaya nilai cinta tanah air tidak semakin luntur. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan penanaman nilai nasionalisme ABK di Sekolah Luar Biasa Miracle Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan 2 guru dan kepala sekolah. Hasil penelitian menggambarkan beberapa upaya yang Sekolah Miracle lakukan untuk menanamkan nilai nasionalisme ABK adalah kegiatan Pramuka, menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu budaya lokal, memberikan pembelajaran PPKn dan Pancasila (P5) menggunakan modul yang disesuaikan dengan kemampuan ABK, mengadakan acara-acara untuk memperingati hari nasional, dan mengadakan field trip. Kesulitan dalam menanamkan nilai nasionalisme terletak pada kesulitan ABK dalam memahami konsep dan kesulitan lain yang disebabkan kekurangan mereka. Beberapa strategi yang sekolah lakukan untuk menanggulangi kesulitan-kesulitan tersebut adalah memakai media visual, mengajar dengan bernyanyi, dan melakukan pengulangan.
Hubungan Motivasi Akademik dan Self-Regulated Learning pada Mahasiswa Aktif di Universitas X David, Christopher; Tumanggor, Raja Oloan
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 5 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i5.15441

Abstract

Pembelajaran di dunia perkuliahan dengan dunia sekolah tentu sangat berbeda. Hal ini dapat dilihat pada mahasiswa karena pada saat berkuliah mereka akan lebih didorong rasa ingin tahu dalam pembelajaran secara individu. Untuk itu dosen akan menerapkan Self-Regulated Learning (SRL) guna mendalami materi yang diberikan bagi mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah hubungan antara tingkat motivasi akademik dengan Self-Regulated Learning pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-probability- based sampling dan pengambilan data secara online. Motivasi akademik yang diteliti menggunakan Academic Motivation Scale – Indonesian Version. Sedangkan Self-Regulated Learning akan diukur dengan alat ukur Motivated Strategies for Learning Quisitonnare (MSLQ). Penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan antara variabel motivasi akademik dengan SRL yang memperoleh nilai (p=0.00; p<0.05) dan nilai r=0.415. Artinya jika individu memiliki motivasi akademik yang tinggi, maka individu tersebut akan memiliki SRL yang tinggi juga.
Peran Moderasi Beragama Untuk Pengembangan Sikap Nasionalisme Remaja Dalam Kerangka Ketahanan Sosial Di Lampung Tengah, Propinsi Lampung Tumanggor, Raja Oloan; Dariyo, Agoes
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 29, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.90235

Abstract

 ABSTRAKSikap nasionalisme merupakan sikap untuk mencintai tanah-air sebagai tempat tinggal selama hidupnya. Sikap nasionalisme sesungguhnya sebagai sikap yang mampu memahami dan menerima warga negara lain, meskipun mempunyai latar belakang yang berbeda, seperti perbedaan agama. Karena itu, penelitian ini hendak mengkaji mengenai peran moderasi beragama untuk mengembangkan sikap nasionalisme remaja dan implikasinya terhadap ketahanan sosial di Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung. Teknik pengambilan sampling dengan Proportional Stratified Random Sampling. Teknik pengambilan data dengan menggunakan kuesioner yaitu moderasi beragama dan sikap nasionalisme. Partisipan penelitian berasal dari remaja usia 13-20 tahun berjumlah 146 orang. Teknik analisis data dengan uji korelasi produk moment dan regresi linear tunggal sederhana. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara moderasi beragama dengan sikap nasionalisme remaja di Indonesia (r = 0, 501, p = 0,000, p < 0,01).  Selanjutnya, moderasi beragama menyumbang sikap nasionalisme sebesar 25 % terhadap  sikap nasionalisme remaja di Indonesia
PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMBENTUK SIKAP MODERASI BERAGAMA PADA GENERASI Z Azizah, Moulida; Tumanggor, Raja Oloan; Hayfatunisa, Gea; Andriyani, Adinda; Niziliani, Shyakia; Natahsya, Ananda
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.37412

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan tingkat keberagaman budaya, suku, dan agama yang tinggi, memiliki peran penting dalam menjaga toleransi dan persatuan di tengah perbedaan keyakinan. Perkembangan teknologi digital, termasuk media sosial, telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, memperoleh informasi, dan membentuk pandangan. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna Generasi Z terbesar, yaitu generasi yang sangat terhubung secara digital dengan pandangan progresif dan inklusif. Media sosial memiliki potensi besar untuk berperan dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama, mempromosikan perdamaian dan kerukunan sosial di antara berbagai keyakinan agama di Indonesia. Namun, tantangan seperti memastikan keabsahan informasi dan mencegah penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian menjadi tantangan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka, yang bertujuan untuk memberikan gambaran atau pemahaman mendalam tentang suatu fenomena tertentu berdasarkan pengumpulan data dari sumber-sumber yang ada tanpa melakukan eksperimen secara langsung.
MEMBANGUN PERILAKU EKOLOGIS DI KALANGAN SISWA SMA TARSISIUS JAKARTA Tumanggor, Raja Oloan
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 1 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i1.23941

Abstract

The environmental conditions in Jakarta are in an alarming situation. When the rainy season arrives, it's no longer unusual for the city of Jakarta to experience flooding, forcing residents who are affected by the floods to leave their homes to save themselves. Floods occur due to increased water discharge in the city of Jakarta, but do not immediately seep into the earth because they are hampered by garbage. A lot of garbage piled up in Jakarta is caused by the behavior of its residents who are not disciplined in disposing of garbage. They do not have ecological behavior or behavior to keep the environment clean and maintain the beauty of the surrounding environment. One group of Jakarta residents who need to have ecological behavior is teenagers who are still in senior high school (SMA). This psychoeducation which was attended by 20 teenagers who attended Tarsisius Jakarta High School explained what efforts could be made to grow and build ecological behavior for teenagers. The purpose of this psychoeducation is to encourage and motivate students to continue to behave ecologically in everyday life in the form of simple behavior through energy saving, transportation, disposing of waste, recycling, consumerism and conservation behavior. Kondisi lingkungan di Jakarta berada pada situasi yang memprihatinkan. Bila musim hujan tiba, maka bukan hal aneh lagi bila kota Jakarta mengalami banjir yang membuat warga yang kena banjir harus meninggalkan rumahnya untuk menyelamatkan diri. Banjir terjadi karena debit air yang meningkat di kota Jakarta, namun tidak segera meresap ke bumi karena dihambat oleh sampah. Banyak sampah bertumpuk di Jakarta disebabkan oleh perilaku warganya yang tidak disiplin dalam membuang sampah. Mereka tidak memiliki perilaku ekologis atau perilaku untuk menjaga kebersihan lingkungan serta memelihara keasrian lingkungan sekitarnya. Salah satu kelompok warga Jakarta yang perlu memiliki perilaku ekologis adalah para remaja yang masih duduk di sekolah menengah atas (SMA). Psikoedukasi yang diikuti oleh 20 orang remaja yang duduk di SMA Tarsisius Jakarta ini menjelaskan upaya apa yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan dan membangun perilaku ekologis bagi para remaja. Tujuan psikoedukasi ini adalah mendorong dan memotivasi para siswa untuk tetap berperilaku ekologis dalam hidup sehari-hari dalam bentuk perilaku yang sederhana melalui hemat energi, transportasi, membuang limbah, daur ulang, konsumerisme dan perilaku konservasi.
PSIKOEDUKASI MEMBANGUN SIKAP ADIL DALAM MASYARAKAT PERKOTAAN WARGA CAROLUS BOROMEUS CENGKARENG Tumanggor, Raja Oloan
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 1 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The situation of urban communities in DKI Jakarta is ironic. On the one hand, the city of Jakarta is often identified with progress and prosperity because there are so many skyscrapers, where the determinants of the national economy have offices. But on the other hand, in a corner of the city, it is not difficult to find a group of poor people with very simple living conditions. Poor people in urban areas occur due to various reasons such as narrow opportunities to get jobs, increasingly fierce economic competition, prices of basic necessities that continue to rise as a result of rising fuel prices, making their lives more difficult, because spending increases while income does not increase or even decreases. . The situation of the poor in urban areas is increasing because it is increasingly difficult to get a job. Difficulty getting a job makes them unemployed. Various assistance programs from the government are not always on target, due to the inaccuracy of data from RT or RW, so that groups of people who should receive assistance do not get their rights. Sometimes there is unfair treatment from officials distributing aid to the poor from the government. Residents of the Carolus Boromeus Cengkareng Timur neighborhood in West Jakarta are part of the capital city's society which cannot be separated from problems of poverty and injustice. PKM is in the form of psychoeducation for 30 residents of the Carolus Boromeus neighborhood regarding building a fair attitude in everyday life. The aim is to encourage and motivate residents of the Carolus Boromeus neighborhood to build a just attitude in everyday life in the form of simple behavior through fair behavior that starts with oneself, family, local residents and the community. Situasi masyarakat perkotaan di DKI Jakarta sungguh ironis. Di satu sisi kota Jakarta kerap diidentikkan dengan kemajuan dan kemakmuran karena terdapat begitu banyak gedung pencakar langit, tempat para penentu ekonomi nasional berkantor. Namun di sisi lain di sudut kota tidak sulit menemukan sekelompok masyarakat miskin dengan kondisi pemukiman yang sangat sederhana. Masyarakat miskin di perkotaan terjadi disebabkan oleh bermacam alasan seperti sempitnya peluang untuk memperoleh pekerjaan, persaingan ekonomi yang makin ketat, harga kebutuhan pokok yang terus naik sebagai akibat kenaikan bahan bakar, membuat kehidupan mereka makin sulit, karena pengeluaran bertambah sementara penghasilan tidak bertambah atau malah berkurang. Situasi masyarakat miskin di perkotaan makin bertambah karena semakin sulitnya memperoleh pekerjaan. Kesulitan mendapat pekerjaan membuat mereka menganggur. Berbagai program bantuan dari permerintah tidak selalu tepat sasaran, karena kekurangakuratan data dari RT atau RW, sehingga kelompok masyarakt yang seharusnya mendapat bantuan tidak memperoleh haknya. Kadang ada perlakuan kurang adil dari para petugas pembagi bantuan rakyat miskin dari pemerintah. Warga lingkungan Carolus Boromeus Cengkareng Timur di Jakarta Barat merupakan bagian dari masyarakat ibu kota yang tidak lepas dari persoalan kemiskinan dan ketidakadilan. PKM berupa psikoedukasi bagi 30 orang warga lingkungan Carolus Boromeus mengenai membangun sikap adil dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah untuk mendorong dan memotivasi para warga lingkungan Carolus Boromeus untuk membangun sikap adil dalam hidup sehari-hari dalam bentuk perilaku yang sederhana melalui perilaku adil yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, warga sekitar dan masyarakat.
PELATIHAN MENJADI PENDIDIK MISIONER DALAM MASYARAKAT MAJEMUK BAGI GURU AGAMA KATOLIK PARUNG PANJANG Tumanggor, Raja Oloan
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 1 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i1.24533

Abstract

In the situation of a pluralistic Indonesian society both in terms of religion and culture, the role of Catholic religion teachers is very large in educating students so that they are able to adapt to the situation of the people around them. Religious teachers are not only tasked with delivering religious lessons intellectually/cognitively, but also must be able to convey messages/good news to their students. In addition, they are also obliged to help students to have a missionary spirit/spirit. Therefore, being a missionary Catholic religious educator is an obligation, especially in a pluralistic society. This means that educators must be able to adapt to the surrounding environment which consists of people of various ethnicities, religions and cultures. The training which was attended by 15 teachers was not only filled with giving material by the facilitators, but also by sharing experiences between them. The teachers who have served between 5 and 20 years shared their experiences accompanying their students. They also revealed that through this training activity, they were able to become competent teachers and able to testify in the community through their daily behavior. In addition, this training is a motivational tool for teachers to be more persistent and skilled in carrying out tasks in line with their beliefs. Dalam situasi masyarakat Indonesia yang majemuk baik dari segi agama maupun budaya, peran guru agama Katolik sangat besar dalam mendidik para siswa agar mampu beradaptasi dengan situasi masyarat di sekitarnya. Para guru agama tidak hanya bertugas untuk menyampaikan pelajaran agama secara intelektual/kognitif, tapi juga harus mampu menyampaikan pesan/Kabar Gembira bagi para siswanya. Selain itu mereka juga wajib menolong para siswa agar memiliki jiwa/semangat pewartaan (misioner). Oleh sebab itu mejadi pendidik agama Katolik yang misioner merupakan suatu kewajiban khususnya di tengah masyarakat majemuk. Artinya para pendidik harus mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya yang terdiri dari masyarakat beraneka ragam suku, agama dan kebudayaannya. Pelatihan yang diikuti oleh 15 orang guru selain diisi dengan pemberian materi oleh fasilitator, tapi juga dilakukan dengan sharing pengalaman diantara mereka. Para guru yang telah mengabdi antara 5 hingga 20 tahun ini menceritakan pengalaman mereka mendampingi anak didik. Mereka juga mengungkapkan bahwa melalui kegiatan pelatihan ini, mereka mampu menjadi guru yang berkompeten dan mampu bersaksi di tengah mayarakat melalui perilaku hidup sehari-hari. Selain itu pelatihan ini menjadi sarana motivasi bagi para guru untuk lebih gigih dan terampil dalam melaksanakan tugas selaras dengan kepercayaan yang dianutnya
PELATIHAN PEMAHAMAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) BAGI MAHASISWA SEKOLAH TINGGI TEOLOGI (STT) CIPANAS Tumanggor, Raja Oloan
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 4 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i4.28323

Abstract

ABSTRACT Understanding of Human Rights (HAM) for students needs to be improved nowadays. Apart from the fact that students also have their own human rights, people around them also have the same human rights. This needs to be fought for everywhere, including in Indonesia. Human rights such as the right to live, express opinions, and also express one's faith are rights that need to be protected everywhere. Students of the Cipanas Theological College (STT), Cianjur Regency, West Java, who are future congregational leaders (shepherds) in society need to be equipped with a proper understanding of human rights. They are not only prepared to become strong congregational leaders who specifically pay attention to the spiritual life of the congregation, but they must also understand human rights. A proper understanding of human rights will really help them in their work in communities where their human rights are often marginalized or disturbed. The congregation leader is the spearhead in organizing and paying attention to the interests of the congregation under his care. With the presentation method, questions and answers and sharing experiences of PKM activities which were attended by 25 students, it is hoped that it will be able to increase students' understanding of human rights, which need to be upheld in society. ABSTRAK Pemahaman mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) bagi mahasiswa perlu ditingkatkan zaman sekarang ini. Selain karena para mahasiswa juga memiliki hak asasinya sendiri, tapi juga orang yang ada di sekitarnya juga memiliki hak asasi yang sama. Ini perlu diperjuangkan dimanapun juga termasuk di Indonesia. Hak Asasi Manusia seperti hak untuk hidup, mengungkapkan pendapat, dan juga mengekspresikan iman kepercayaannya merupakan hak yang perlu dilindungi dimanapun juga. Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang merupakan calon pemimpin jemaat (gembala) di tengah masyarakat di masa depan perlu dibekali dengan pemahaman yang mumpuni tentang hak asasi manusia. Mereka tidak hanya dipersiapkan menjadi pemimpin jemaat yang tangguh yang secara khusus memperhatikan kehidupan rohani umat, tapi juga harus paham soal hak asasi manusia. Pemahaman yang tepat tentang hak asasi manusia akan sangat menolong mereka dalam tugas di tengah masyarakat yang kerap termarginalkan atau terganggu hak-hak asasinya. Pemimpin jemaat menjadi ujung tombak dalam mengatur dan memperhatikan kepentingan jemaat yang diasuhnya. Dengan metode presentasi, tanya jawab dan sharing pengalaman kegiatan PKM yang diikuti oleh 25 orang mahasiswa ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman para mahasiswa mengenai hak asasi manusia, yang perlu ditegakkan di tengah masyarakat.
PSIKOEDUKASI PENGAMALAN MAKNA PERSATUAN BAGI WARGA CENGKARENG Tumanggor, Raja Oloan
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32494

Abstract

In anticipation of the 2024 political year, the atmosphere of discussion in society is starting to heat up. They discussed the presidential candidates who will compete in the upcoming 2024 presidential election. Everyone supports the candidate they support and criticizes other candidates who are deemed not to be defending the interests of the people. Conditions of heated discussions between citizens with different political views can often cause citizens to become divided. The condition of society, which is already diverse in terms of ethnicity, culture, religion and economic conditions, will accelerate the collapse of the unity order among citizens as the legislative and presidential elections approach in 2024. Residents in RT 10, Cengkareng Timur Subdistrict, West Jakarta are no exception, also experiencing the potential for division as the upcoming legislative and presidential elections approach. Therefore, the PKM, which was attended by 20 participants, was carried out in the form of psychoeducation to practice the meaning of unity which was considered quite important and relevant for the residents of East Cengkareng in order to reduce the potential for division and division among the residents of East Cengkareng. With the method of presentation, question and answer and sharing experiences, this PKM activity aims to increase understanding and awareness of East Cengkareng residents regarding the importance of maintaining unity even though they have different political views, ethnic backgrounds, culture, religion and beliefs ABSTRAK Dalam rangka menyongsong tahun politik 2024 suasana diskusi di tengah masyarakat sudah mulai tampak memanas. Mereka membahas kandidat presiden yang bakal bertarung pada pemilu presiden 2024 yang akan datang. Setiap orang menjagokan kandidat yang didukungnya dan mencela kandidat lain yang dinilai kurang membela kepentingan rakyat. Kondisi diskusi panas antar warga yang berbeda haluan politiknya tidak jarang dapat membuat warga menjadi terpecah belah. Kondisi masyarakat yang memang sudah beragam baik dari segi suku, budaya, agama dan kondisi ekonomi akan mempercepat runtuhnya tatanan persatuan di antara warga pada saat menjelang pemilu legislatif dan presiden pada 2024 mendatang. Tidak terkecuali warga di RT 10 Kelurahan Cengkareng Timur, Jakarta Barat juga mengalami potensi keterpecahan pada saat menjelang pemilu legislatif dan presiden yang akan datang. Oleh karena itu PKM yang diikuti oleh 20 peserta ini dilaksanakan dalam bentuk psikoedukasi pengamalan makna persatuan dirasa cukup penting dan relevan dilakukan bagai warga Cengkareng Timur guna meredam potensi terjadinya keterpecahan dan sekat-sekat di tengah warga Cengkareng Timur. Dengan metode presentasi, tanya jawab dan sharing pengalaman kegiatan PKM ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran warga Cengkareng Timur akan pentingnya memelihara persatuan kendatipun mereka memiliki haluan politik, latar belakang suku, budaya, agama dan keyakinan yang berbeda-beda
Penerapan Nilai Kerakyatan Pancasila dalam Menangkal Polarisasi Opini di Media Sosial Victorio, William; Tumanggor, Raja Oloan; Maharani, Bintang; Pasya, Nadya Isfahany; Angel, Grace; Pangestu, Yoga
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.3432

Abstract

Polarisasi opini di media sosial indonesia semakin menguat akibat algoritma digital yang menciptakan echo chamber dan filter bubble, membatasi keberagaman berbagai perspektif serta memperkuat bias kognitif. Fenomena ini mengancam kohesi sosial dan mengikis nilai-nilai deliberatif yang sudah menjadi ciri khas demokrasi indonesia. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengkaji relevansi sila keempat pancasila, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan sebagai kerangka normatif dalam meredam polarisasi digital. Analisis dilakukan terhadap literatur terkini yang akan membahas pengaruh algoritma, fragmentasi identitas, dan perilaku kewargaan digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa prinsip musyawarah dan kebijaksanaan dalam Pancasila dapat mendorong dialog inklusif, mereduksi konflik Title Author identitas, serta memperkuat ketahanan nasional. Selain itu, literasi digital berbasis nilai Pancasila diidentifikasi sebagai strategi penting dalam menghadapi polarisasi, dengan menekankan sinergi antara kebijakan publik, tata kelola platform, pendidikan, dan partisipasi masyarakat. Melalui internalisasi nilai etis dan tanggung jawab sosial dalam praktik digital, Indonesia berpeluang membangun demokrasi yang deliberatif dan inklusif di tengah disrupsi teknologi. Secara keseluruhan, penerapan nilai kerakyatan Pancasila secara kontekstual dalam ruang digital bukan hanya menjadi solusi normatif terhadap polarisasi opini, tetapi juga fondasi strategis dalam membangun demokrasi indonesia yang lebih inklusif, berkeadaban, dan tangguh menghadapi tantangan era digital.
Co-Authors Adisya, Syaila Rania Adrian Hartanto, Adrian Agoes Dariyo Agoes Dariyo Agoes Dariyo Aisha Pramadita Kartohadiprodjo Alexander Abraham Daeng Kuma Alfyoni, Ghisanie Azahra Almira, Deniella Kesya Amalia Putri Maharani Ambarwati, Puspitasari Andrianputra, Ezra Andriyani, Adinda Angel, Grace Angeline, Vania Annissatya, Kyantina Alifah Aprillia Wiranto, Nadya Serafin Arbi, Larasati Marutika Artha, Widya Aurora Nurul Khamila Aurora Nurul Khamila Azizah, Moulida Azzura, Chiatha Destalova BEATITUDO, EWALDUS SENARAI Bella, Catharine Bellamirno, Edward Binarta, Adeline Byanca, Zayra Alana Chairul, Nabila Chandra, Natasya Deasy Chiatha Destalova Azzura Chintia Stevani Christ Jhon Christabella, Christabella Christianto, Gabriel Enrico Darmawan, Anastasya Magdalena Putri David, Christopher Depari, Mey Emeninta Sembiring Effendie, Marsella Eka Febrianti, Eka Eldiyano, Albertado Totto Ellen Cheryl Hastono Ellen Cheryl Hastono Erfaryndra, Flariska Farah Nabila Nasution Farah Nabila Nasution Felycia Klaviera Mulyana Fidrian, Natasha Febriani Fransisca I.R. Dewi Fransisca Iriani Roesmala Dewi Ghaisani, Kayla Rossita Ghinarahima, Challista Najwa Ghisanie Azahra Alfyoni Gozal, Angel Vallerie Grace, Viona Graciella Faren Gracio O.E.H. Sidabutar Gumay, Fhilia Anasty Gunawan, Jessica Harto, Ivania Rachel Haryanto, Elisabet Winda Putri Hasiva, Khaizza Rahma Hayfatunisa, Gea Helga, Patricia Heni Mularsih Hotnida Nethania Agatha Imannuela, Audrey Ismoro Reza Prima Putra Isnaeny, Anggela Jasmine, Phenina Jolivina, Josephine Jose Conary Kamila, Nadia Nashwa Kasdim, Riska Kristy, Ellena Kurniawati, Putri Devi kusuma, shelly Kusumawati, Nina Angraeni Lase, Ekklesia Eunike Laurens, Stevanie Leonardo Sriwongo Lianna, Amanda Lim, Viviani Lovela, Adelia Lovita Lovita, Lovita Ludgerius Maruli Nugroho Tumanggor Mahadiva, Tsaniya Maharani, Amalia Putri Maharani, Bintang Mareta, Keysha Ananda Marfine, Marfine MARPAUNG, DERIAN GIOVANNO Massimiliano Di Matteo Mathilda V. Bolang, Caroline Michael Levi Mulyawan Halim Muhamad Dwiki Armani Mulya, Raynata Danielle Mustopo, Michelle Patricia Nadine, Feodora Natahsya, Ananda Niziliani, Shyakia Nolanda, Carissa Ratu Novianti, Allya Deby Nurbani, Anna P. Tommy Y. S. Suyasa Pangestu, Yoga Pasya, Nadya Isfahany Prasetyo, Victoria Alexandra Aureli Priscilia, Lidwina Putra, Fernaldo Prima Putri Hanifah, Nasywa Putri, Raisya Anaya Putri, Yohana Desia Raden Ajeng Astari Adina Warasto Raden Ajeng Astari Adina Warasto Rahmadina, Dhea Fadhila Ramadhani, Kalya Sukma Ramadita, Afsari Rayda Rachma Fatin Rayda Rachma Fatin Raynata Danielle Mulya Regent Wijaya Riana Sahrani Riana Sahrani Riska Umami Lia Sari Rosalia, Naurah Eka Salma, Meysun Sanceska, Putu Basya Ratu Sanusi Uwes Saputri, Danisa Ara Sarahsanty, Davina Satria, I Gede Indra Jagat Senjani, Dita Permata Shafwah, Salsabila Sharkesyan, Sherleen Siagian, Bisuk Silvana, Silvana Silviana Silviana Simanjuntak, Jesica Febiani Suci, Anjani Rahmah Surjana, Cindy Aurielle Surjo, Fernando Romero Suyasa, P Tommy Y. Sumatera Suyasa, P. Tommy Y. Sumatera Tania, Sherline Tanurezal, Nathania Theresa Theresa Tiara, Farillah Tina Sugiharti Tri, M. William Tumanggor, Felicitas Adelita Permatasari Tumanggor, Ludgerius Maruli Nugroho Unian, Thaniya Valencia, Mudita Vandhika, Samuel Venesia, Veronica Viani, Theresia Patria Victorio, William Wahyuni Wahyuni wahyuni wahyuni Widiasih, Triani Widiasih Widiyawati, Valentina Tyas Wijaya, Kimberly Willy Tasdin Yen Ni Yonatan Hizkia Ramli Yunita Christiana Zikrina, Aliyya