Claim Missing Document
Check
Articles

Pattern of Inheritance Distribution of Gono Gini's Assets Among Residents of Bandar Lampung City Zaelani, Abdul Qodir; Hilal, Syamsul; Hanif, Abdul
al-'adalah Vol 18 No 1 (2021): al-'Adalah
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/adalah.v18i1.5516

Abstract

This study explores the pattern of determining/distributing the inheritance of Gono Gini assets among the citizens of the city of Bandar Lampung. The aim is to reveal what factors contribute to the emergence of the different patterns in determining and distributing inheritance among the community members. This research is empirical, using a qualitative analysis approach. The data were obtained through observations and interviews with some religious and community leaders in the city whom were selected based on the purposive sampling technique. This study finds out the fact that the diversity of determining/distributing patterns of gono gini assets among residents of the city of Bandar Lampung is mainly influenced by, among other things, the heterogeneity of the population consisting of various ethnicities, cultural backgrounds, traditions, habits, and tendencies in understandings cultural norms, law and religion.
The Ideal Age For Marriage in The Compilation of Islamic Law (KHI) and Psychology Indra, Gandi Liyorba; Al Arif, M. Yasin; Zaelani, Abdul Qodir
al-'adalah Vol 20 No 1 (2023): AL-'ADALAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/adalah.v20i1.11598

Abstract

This article discusses the ideal age for marriage which is examined from the perspective of Islamic law and psychology. The aim is to gain a broader understanding that can be used as material in drafting a better statutory provision. This research is library research which is descriptive in nature, using secondary data in the form of primary and secondary legal materials. The results showed that the age of marriage stated in Article 15 paragraph 1 of the Compilation of Islamic Law (KHI), namely the prospective husband is 19 years and the prospective wife is 16 years. is the result of the ijtihad of Indonesian scholars based on considerations for the benefit of the family and household. Such an age limit is deemed sufficient as the age of maturity to enter into a marriage. However, when viewed from the perspective of psychology, this age limit is still in the developmental period of adolescence and is still far from being of a mature age category. According to psychology, the ideal age for marriage is 21 to 25 years for women and 25 to 30 years for men. In this age range, the prospective bride and groom are considered ready to settle down, because they have full maturity, both physically and mentally, and can accept responsibility for managing the household
KONSEP KELUARGA SAKĪNAH DALAM ALQURAN Zaelani, Abdul Qodir; Issusanto, Issusanto; Hanif, Abdul
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 2 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/el-izdiwaj.v2i2.10897

Abstract

 Membentuk keluarga bahagia (sakīnah) tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak rintangan menghadang, dan dinamika yang mengguncang. Diperlukan pemahaman yang dalam untuk bisa menjalankannya sehingga cita-cita menjadi keluarga bahagia dapat terwujud. Berdasarkan pendekatan normatif, ditemukan konsep keluarga sakīnah dalam Alquran. Setelah ditelusuri, dalam Alquran secara implisit dijelaskan hakikat, visi dan fungsi berkeluarga. Terkonsep dalam Alquran, agar terbentuk keluarga sakīnah, diperlukan etika yang baik oleh anak kepada orang tua, menerapkan prinsip saling menerima, menghargai, mempercayai dan melengkapi, membudayakan berbuat kebaikan, saling memposisikan diri masing-masing, mendidik  keluarga (intelektual, kepribadian dan sosial, akidah dan akhlak), serta menjalin hubungan akrab: menjalin ikatan cinta antara anak dan orang tua (ouderlikemacht).
Pandangan Urf Terhadap Tradisi Mitu Dalam Pesta Pernikahan Adat Batak Gegana, Tomi Adam; Zaelani, Abdul Qodir
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 3 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/el-izdiwaj.v3i1.12495

Abstract

Abstrak : Artikel ini bertujuan untuk mengetahui praktik tradisi minuman pelengkap (mitu) dalam pesta pernikahan adat Batak di Kelurahan Tanjung Senang Kota Bandar Lampung, dan menganalisis praktik tersebut dalam pandangan ‘urf. Hal ini dikarenakan masyarakat adat Batak yang ada di Kelurahan Tanjung Senang kota Bandar Lampung masih melaksanakan suatu kebiasaan/tradisi minuman pelengkap (mitu) dalam pesta pernikahan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat deskriptif kualitatif dengan mewawancarai tiga tokoh adat batak. Analisa penulis bersandar pada teori urf. Temuan penulis adalah tradisi minuman pelengkap (mitu) yang dilakukan oleh masyarakat adat Batak yang ada di Kelurahan Tanjung Senang Kota Bandar Lampung disebabkan keinginan masyarakat untuk melestarikan kebiasaan orang-orang terdahulu karena tradisi tersebut terdapat nilai yang menguntungkan bagi para pelaku tradisi, seperti menambah semangat, memeriahkan pesta pernikahan yang dilaksanakan dan mempererat kekerabatan. Tradisi minuman pelengkap (mitu) ini dilakukan pada saat berlangsungnya pernikahan yang diawali dengan acara marhata sinamot (membicarakan pemberian mas kawin) dan ulaon unjuk (pesta adat). Tradisi minuman pelengkap (mitu) termasuk dalam ‘urf fasid, suatu tradisi yang bertentangan dengan syari‟at Islam.Kata kunci: ‘urf, tradisi, mitu, Batak, pernikahan
Monogami dalam Tinjauan Mubadalah Nur, Hanif Al-fauzi; Hermanto, Agus; Zaelani, Abdul Qodir
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 3 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/el-izdiwaj.v3i2.14281

Abstract

Abstrak : Artikel ini membahas monogami sebagai sebuah asas dalam perkawinan dari konsep mubadalah . Pada asas perkawinan monogami dijelaskan bahwa asas ini merupakan sebuah cara untuk mencapai tujuan pernikahan yaitu menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, dan sebagai cara untuk mencegah dampak buruk yang dapat merusak hubungan rumah tangga yang telah dibangun. Adapun permasalah yang diangkat adalah mengenai pengertian asas monogami, dan bagaimana penerapan asas monogami dalam perpsektif mubadalah. Adapun jenis penelitian ini adalah library research atau studi pustaka dengan menggunakan teknik deskriptis analisis. Sumber primer dalam penelitian ini adalah dari Qiraah Mubadalah  dan juga dari sumber-sumber yang dapat mendukung dalam pembahasan ini, sedangkan data sekunder disesuaikan dengan kebutuhan dari penelitian, baik berupa buku, jurnal, dan dokumen tertulis lainnya. Hasil dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa asas monogami adalah sebuah asas yang hanya memperbolehkan satu lelaki hanya memiliki satu wanita sebagai isterinya, dan juga sebaliknya. Penerapan monogami dalam konsep mubadalah  bahwa ayat yang menjelaskan mengenai poligami hanya diperkenankan pada kondisi sosial tertentu, yang mana pada ayat tersebut pada dasarnya menjelaskan mengenai keadilan dan juga agar tidak bersikap semena-mena terhadap para isteri dan lebih baik mempertahankan pernikahan monogami dan menjauhi poligami, hal ini guna untuk menghindari kemudhorotan yang akan terjadi dari dampak poligami, dan juga untuk menghindari rusaknya rumah tangga yang telah dibangun. 
PERCERAIAN SEBAGAI UPAYA EMERGENCY EXIT DALAM TINJAUAN SADD AL DZARIAH Teresa, Teresa; Zaelani, Abdul Qodir; Hermanto, Agus
ADHKI: JOURNAL OF ISLAMIC FAMILY LAW Vol. 4 No. 1 (2022): ADHKI: Journal of Islamic Family Law
Publisher : Indonesian Association of Islamic Family Law Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37876/adhki.v4i1.105

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang melatarbelakangi terjadinya perceraian, dampak dari percerain tersebut kemudian upaya apa saja yang dilakukan  untuk mencegah terjadinya perceraian sehingga angka perceraian tidak meningkat. Tujuan perkawinan dalam UU Perkawinan adalah membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal, sehingga seharusnya rumah tangga tersebut bisa seterusnya hingga maut yang memisahkan, jika perselisihan di dalam rumah tangga tidak dapat diselsaikan maka akan menjadi pemicu dalam percerain, Penelitian ini merupakan kajian pustaka, jenis penelitian kualitatif menggunakan pendekatan sadd al dzariah. Hasil penelitian ini adalah faktor yang melatarbelakangi perceraian ada 13 faktor terdapat pasal 116 Kompilasi Hukum Islam (KHI), banyak dampak dari perceraian bukan hanya pada suami dan isteri tetapi kepada anak-anak dari hasil pernikahan mulai dari perkembangan juga pendidikan anak, berbagai upaya yang dilakukan mulai dari keluarga, peran pemerintah, serta masyarakat yang harus mendukung untuk mengurangi terjadinya perceraian sehingga cerai bener-benar menjadi alternatif terakhir dalam permasalahan rumah tangga apabila tidak ditemukannya jalan lagi.
LARANGAN PERNIKAHAN BEDA AGAMA DI INDONESIA DAN RELEVANSINYA DENGAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Zaelani, Abdul Qodir; Rinaldo, Edward
ADHKI: JOURNAL OF ISLAMIC FAMILY LAW Vol. 4 No. 2 (2022): ADHKI: Journal of Islamic Family Law
Publisher : Indonesian Association of Islamic Family Law Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37876/adhki.v4i2.106

Abstract

Diskursus tentang perkawinan beda agama masih saja menjadi topik yang selalu diperbincangkan oleh para pemikir Islam sampai saat ini seiring masih banyaknya umat Islam di Indonesia yang melaksanakannya. Tulisan ini akan mencoba meneliti tentang bagaimana status larangan nikah kepada non muslim dalam hal ini yang dimaksud adalah beda agama serta relevansinya dengan Fatwa MUI di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan sumber data pustaka (library reseaach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa para ulama tafsir dan fuqaha sepakat tentang dilarangnya bagi laki-laki muslim menikahi wanita musyrik dan kafir dan begitu pula wanita muslimah dilarang dikawini oleh lelaki musyrik dan kafir. Untuk konteks Indonesia sendiri MUI telah mengeluarkan Fatwa tentang keharaman bagi umat Islam baik laki-laki dan perempuan untuk menikahi wanita dan laki-laki non-muslim baik mereka yang Ahli Kitab maupun tidak. Fatwa MUI No.4/Munas/VII/MUI/8/2005 tentang Perkawinan Beda Agama menyatakan setelah mempertimbangkan bahwa perkawinan beda agama sering menimbulkan keresahan di tengah masyarakat dan mengundang perdebatan diantara sesama umat Islam. Fatwa MUI ini masih sejalan dengan sumber hukum keluarga Islam di Indonesia UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam yang melarang perkawinan beda agama.
The Integrated Model of Religious Moderation: Quantifying the Impact of Religiosity, Academic Culture, and Learning Environment among Indonesian Muslim Graduate Students Akmansyah, Muhammad; Faisal, Agus; Zaelani, Abdul Qodir; Mujahid, Amin
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 29, No 1 (2025): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v29i1.7770

Abstract

This study addresses the urgent need to counter religious radicalization by examining how religiosity, academic culture, and learning environments shape moderate Muslim character among Indonesian graduate students, aligning with national and global peacebuilding goals. Using a quantitative approach, data from 147 postgraduate students at UIN Raden Intan Lampung were analyzed via Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Results revealed significant positive effects of religiosity (β = 0.41, p < 0.001), academic culture (β = 0.34, p = 0.001), and learning environment (β = 0.22, p = 0.003) on fostering moderation, collectively explaining 53.9% of its variance. Religiosity emerged as the strongest predictor, underscoring its role in cultivating inclusive attitudes, while academic practices (e.g., critical discourse) and supportive learning settings reinforced tolerance and anti-violence values. The findings propose an integrated model where spiritual, intellectual, and environmental dimensions synergize to nurture moderation, offering actionable insights for educators and policymakers to design holistic strategies against extremism. However, the single-institution sample limits generalizability, necessitating future studies across diverse universities and, qualitative explorations of contextual factors like socio-economic dynamics or media influence. By bridging theoretical and practical gaps, this research advocates harmonizing higher education systems to empower moderate Muslim leaders, advancing Indonesia’s multicultural harmony and contributing to Sustainable Development Goals (SDGs) on peace. The study underscores the imperative of embedding inclusive pedagogies and values-driven academic cultures to sustain social cohesion in pluralistic societies. Penelitian ini merespons kebutuhan mendesak dalam mengatasi radikalisasi agama dengan menelaah kontribusi religiusitas, budaya akademik, dan lingkungan pembelajaran dalam pembentukan karakter Muslim moderat di kalangan mahasiswa pascasarjana, sejalan dengan upaya perdamaian nasional dan global. Menggunakan pendekatan kuantitatif, data dari 147 mahasiswa UIN Raden Intan Lampung dianalisis melalui Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Hasil menunjukkan pengaruh signifikan religiusitas (β = 0,41, p < 0,001), budaya akademik (β = 0,34, p = 0,001), dan lingkungan pembelajaran (β = 0,22, p = 0,003) terhadap pembentukan sikap moderat, secara kolektif menjelaskan 53,9% varian. Religiusitas menjadi prediktor terkuat, menegaskan perannya dalam menumbuhkan inklusivitas, sementara praktik akademik (misal: diskursus kritis) dan lingkungan belajar kolaboratif memperkuat nilai toleransi dan anti-kekerasan. Temuan ini menyajikan model terintegrasi yang mensinergikan dimensi spiritual, intelektual, dan lingkungan untuk mendorong moderasi, memberikan rekomendasi praktis bagi pendidik dan pembuat kebijakan dalam merancang strategi holistik melawan ekstremisme. Namun, sampel terbatas pada satu institusi mengurangi generalisasi, sehingga penelitian lanjutan perlu mencakup universitas beragam dan mengeksplorasi faktor kontekstual (seperti dinamika sosio-ekonomi atau pengaruh media) secara kualitatif. Dengan menjembatani kesenjangan teoritis dan praktis, penelitian ini mendorong harmonisasi sistem pendidikan tinggi untuk memberdayakan pemimpin Muslim moderat, mendukung harmoni multikultural Indonesia dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) tentang perdamaian. Studi ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan pedagogi inklusif dan budaya akademik berbasis nilai guna memelihara kohesi sosial di masyarakat majemuk.
Dekonstruksi Citra Keluarga Sakinah Dalam Pernikahan Dengan Pasangan Narcissistic Personality Disorder Dalam Sudut Pandang Hukum Islam Wati, Dewi Setio; Nurnazli, Nurnazli; Zaelani, Abdul Qodir
JUSTICIA SAINS - Jurnal Ilmu Hukum Vol 10, No 1 (2025): JUSTICIA SAINS: Jurnal Ilmu Hukum
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/jcs.v10i1.4009

Abstract

This study examines the impact of Narcissistic Personality Disorder (NPD) on achieving a harmonious family in marriage, and reviews the approach of Islamic family law and psychology in dealing with the problem. This study uses a library study method, This study describes how NPD characteristics, such as egoism and lack of empathy, can disrupt household harmony. In addition, this study also discusses the role of Islamic family law in providing protection for couples involved in marriages with individuals who have NPD characteristic disorders. The results of the study show that marriage with an NPD partner often creates emotional and psychological imbalances that hinder the achievement of a harmonious family, so it requires a multidisciplinary approach to resolve it
Pandangan Hukum Islam Terhadap Komunikasi Interpersonal Pasangan Suami Dan Istri Dalam Menentukan Jumlah Anak Adawiyah, Robiatin; Zaelani, Abdul Qodir; Nurnazli, Nurnazli; Pujianti, Etika
JUSTICIA SAINS - Jurnal Ilmu Hukum Vol 10, No 1 (2025): JUSTICIA SAINS: Jurnal Ilmu Hukum
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/jcs.v10i1.4008

Abstract

This study aims to examine how interpersonal communication between husband and wife plays a role in decision-making regarding the number of children, viewed from the perspective of Mubādalah. This study uses a qualitative descriptive method with a library research approach, which examines various literature such as books, journal articles, and other relevant references. The results of the study indicate that effective interpersonal communication is characterized by openness, empathy, the ability to listen actively, honesty in expressing opinions, and emotional support has a major influence on the negotiation process and joint decision-making regarding the number of children. The Mubādalah perspective provides a theological and ethical framework in building equal partnerships, as well as correcting hierarchical relationship patterns that often place women's voices in a less prioritized position. By using the principle of Mubādalah, the decision on the number of children is not only understood as a technical issue, but also as a spiritual and moral discourse, where husband and wife have equal responsibility and authority in conveying their hopes, concerns, and limitations. This mutually respectful communication is the foundation for the formation of a harmonious and democratic family.]
Co-Authors Abdul Hanif Abdul Hanif Abdul Hanif Adawiyah, Robiatin Agus Hermanto Agus Hermanto Amin Rais Andi Armi Ardi, Muh Zaitun Azizah, Asyifa Nur Azizah, Khana Azzam Arfa, M Fadhil A’dawiyah , Robi’atin Burhan, Rusli Bustomi Chaidir Nasution Desrianto Dewi Setia Wati Enizar Enizar Enizar Etika Pujianti Eva Fitriyanah Faisal Faisal Faisal, Agus Fajar, Mokhamad Samson Fajar, Mokhammad Samson Fathurrahman Fathurrahman Fauzan Febrian Maulana Putra Gegana, Tomi Adam Ghummiah, Shivi Mala Gusher, Agus Hermanto Hadi , Bagus Kusumo Hadi, Bagus Kusumo Hadi, Dino Gautman Raharjo Hanif Hanif Al-fauzi Nur Hanif, Abdul Imam Syafi'i Indra, Gandi Liyorba Irwantoni Irwantoni Irwantoni Irwantoni Irwantoni Irwantoni Is Susanto Iskandar Syukur Issusanto, Issusanto Ja’far, Ahmad Khumedi Khairudin Khairudin Kusuma, Kurniawan Putra Liky Faizal Linda Firdawati Linda Firdawaty Luqman Hafiz M. Yasin Al Arif Madnasir Madnasir Maimun Maimun Maimun Maimun Maliki, Ibnu Akbar Millah, Nadiya Ihda Mubasit Mubasit Mubasit Mubasit, Mubasit Muhammad Akmansyah Muhammad Alvin Saputra Muhammad Iqbal Fasa MUHAMMAD REZA FAHLEVY Muhammad Samson Fajar Mujahid, Amin Mukhlisin Muzakki, M Harir Mu’in, Fathul Na'im, Arroyan Nida Rafiqa Izzati Nur, Hanif Al-fauzi Nurnazli Nurnazli Pranika, Ranita Putri, Mutiara Eka Rais, Amin Relit Nur Edi Rinaldo, Edward Robi'atin A'dawiyah Ronaldo, Reza Rosidi Rosidi Rudi Santoso, Rudi Ruslan Abdul Ghofur SITI MAHMUDAH Sofyan Munawar Supriyadi Supriyadi Syamsul Hilal Syamsul Hilal Teresa, Teresa Tomi Adam Gegana Wati, Dewi Setio Yusuf Baihaqi Zuhraini