Claim Missing Document
Check
Articles

Multiplikasi Tunas Tembakau Secara In Vitro Menggunakan Benzyl Amino Purine Dan Furfuryl Amino Purine Melalui Metode Thin Cell Layer Khozin, Mohammad Nur; Mona, Muhammad Dima Say; Dewanti, Parawita; Putri, Widya Kristyanti; Soeparjono, Sigit; Restanto, Didik Pudji
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 18, No 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v18i2.40649

Abstract

Tembakau sebagai bahan baku pembuatan rokok mempunyai nilai ekonomi dan ekspor yang tinggi, namun permasalahan perbanyakan secara konvensional sering menghasilkan keturunan yang heterogen dan beberapa komoditas introduksi seringkali mengalami pertumbuhan yang tidak normal pada fase pembibitan sehingga pemenuhan kebutuhan bahan tanam yang seragam sering menjadi kendala. Kultur in vitro dapat menjadi alternatif dalam perbanyakan bahan tanam yang relatif seragam dan tahan terhadap perubahan lingkungan. Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) utamanya golongan sitokinin seperti benzyl amino purine (BAP) dan kinetin sangat mendukung pada multiplikasi tunas tembakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi BAP dan kinetin yang optimal pada multiplikasi tunas tembakau. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan faktor BAP (0, 2, 3, dan 4 ppm) dan faktor kinetin (0, 3, dan 4 ppm). Hasil penelitian menunjukkan interaksi BAP dan kinetin berpengaruh sangat nyata terhadap kedinian eksplan bertunas, jumlah tunas, dan daun dengan perlakuan terbaik. Konsentrasi BAP 3 ppm + kinetin 4 ppm yang menginduksi tunas pada 8,3 HST; jumlah tunas 81,3; dan jumlah daun 142,3 helai. Penggunaan BAP berpengaruh nyata terhadap kedinian eksplan berkalus dengan perlakuan terbaik pada konsentrasi 3 ppm BAP yang menginduksi kalus pada 10,78 HST. Kinetin berpengaruh sangat nyata terhadap kedinian eksplan bertunas dengan perlakuan terbaik P2M2 yaitu 4 ppm, yang menginduksi tunas pada 8,3 HST. Kesimpulannya perlakuan BAP 3 ppm + 4 ppm kinetin merupakan perlakuan terbaik.
THE EFFECT OF TDZ (Thidiazuron) ON THE FORMATION OF DIRECT SOMATIC EMBRYOGENESIS IN Phalaenopsis sp. ORCHID Adinda, Intan Dwi; Restanto, Didik Pudji; Dewanti, Parawita; Munandar, Denna Eriani; Hartatik, Sri; Prayoga, Mohammad Candra; Solikhah, Ummi
Jurnal Agrotek Tropika Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 13, AGUSTUS 2025
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v13i3.9795

Abstract

Orchids (Phalaenopsis sp.) are among the most valuable ornamental plants due to their wide range of flower colors and high commercial demand. However, conventional propagation methods are often inefficient for large-scale production, necessitating the optimization of tissue culture techniques for rapid and uniform clonal propagation. The use of appropriate plant growth regulators, particularly thidiazuron (TDZ), is crucial for enhancing somatic embryogenesis—a key pathway for orchid micropropagation. This study aimed to determine the optimal concentration of TDZ for inducing somatic embryogenesis in Phalaenopsis sp. through histological analysis and scanning electron microscopy (SEM) observations. A completely randomized design was employed using Murashige and Skoog (MS) medium supplemented with four TDZ concentrations (1, 3, 5, and 7 mg/L). Leaf explants of Phalaenopsis sp. served as the explant source. The results demonstrated that direct somatic embryogenesis successfully occurred from leaf explants across treatments. Among the tested concentrations, 5 mg/L TDZ produced the most effective response, resulting in the highest somatic embryo formation rate (32%) and the shortest time to embryo maturation (37 days after culture initiation). The embryos exhibited characteristic dark green coloration and a crumbly texture. These findings highlight the pivotal role of TDZ in promoting somatic embryogenesis in Phalaenopsis sp., providing a reliable protocol for efficient orchid propagation. The study contributes to the advancement of orchid biotechnology by offering histological and ultrastructural evidence that supports the optimization of clonal propagation systems for commercial and conservation purposes.
OPTIMASI PERTUMBUHAN PLANLET ANGGREK Dendrobium gabriella suryajaya MENGGUNAKAN MEDIA ALTERNATIF AB MIX DAN AIR KELAPA SECARA IN VITRO Dewanti, Parawita
Agrin Vol 27, No 2 (2023): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2023.27.2.743

Abstract

Tanaman anggrek merupakan salah satu tanaman yang sulit melakukan perkembangbiakan secara generatif, termasuk anggrek Dendrobium gabriella suryajaya sehingga diperlukan suatu cara agar tanaman anggrek dapat berkembang biak dalam waktu yang cepat dan terhindar dari patogen. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan teknik kultur jaringan atau In Vitro dengan penambahan  suplemen organik yaitu air kelapa sebagai Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Secara umum, teknik kultur in vitro menggunakan bahan kimia untuk media kultur dan ZPT. Oleh karena itu, penggunaan media alternatif dan suplemen organik air kelapa diperlukan dalam penelitian ini untuk mengurangi pengggunaan bahan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air kelapa dan media alternatif AB Mix terbaik, serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium gabriella suryajaya. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) secara faktorial dengan dua faktor perlakuan yaitu konsentrasi media kultur AB Mix dan konsentrasi ZPT air kelapa, di mana masing-masing faktor terdiri dari 3 taraf. Variabel yang diamati meliputi jumlah tunas, tinggi tunas, waktu pembentukan tunas, jumlah helai daun, jumlah akar, tinggi planlet, persentase planlet hidup, warna daun. Analisis data menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan apabila hasil analisis berbeda nyata maka akan dilakukan uji lanjut DMRT dengan. Konsentrasi AB Mix terbaik adalah M3 (AB Mix 1500 ppm) yaitu pada jumlah tunas sebanyak 2, tinggi tunas sebesar 1,38, jumlah akar sebanyak 15, jumlah helai daun sebanyak 7, tinggi tanaman senilai 2,59 cm, dan jumlah Planlet hidup dengan persentase 100%. Serta Konsentrasi air kelapa terbaik adalah K4 (Air Kelapa 30%) yaitu pada tinggi planlet senilai 2,99 dan presentase planlet hidup sebesar 100%.
Multiplikasi Tunas Tembakau Secara In Vitro Menggunakan Benzyl Amino Purine Dan Furfuryl Amino Purine Melalui Metode Thin Cell Layer Khozin, Mohammad Nur; Mona, Muhammad Dima Say; Dewanti, Parawita; Putri, Widya Kristyanti; Soeparjono, Sigit; Restanto, Didik Pudji
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 18 No. 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v18i2.40649

Abstract

Tembakau sebagai bahan baku pembuatan rokok mempunyai nilai ekonomi dan ekspor yang tinggi, namun permasalahan perbanyakan secara konvensional sering menghasilkan keturunan yang heterogen dan beberapa komoditas introduksi seringkali mengalami pertumbuhan yang tidak normal pada fase pembibitan sehingga pemenuhan kebutuhan bahan tanam yang seragam sering menjadi kendala. Kultur in vitro dapat menjadi alternatif dalam perbanyakan bahan tanam yang relatif seragam dan tahan terhadap perubahan lingkungan. Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) utamanya golongan sitokinin seperti benzyl amino purine (BAP) dan kinetin sangat mendukung pada multiplikasi tunas tembakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi BAP dan kinetin yang optimal pada multiplikasi tunas tembakau. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan faktor BAP (0, 2, 3, dan 4 ppm) dan faktor kinetin (0, 3, dan 4 ppm). Hasil penelitian menunjukkan interaksi BAP dan kinetin berpengaruh sangat nyata terhadap kedinian eksplan bertunas, jumlah tunas, dan daun dengan perlakuan terbaik. Konsentrasi BAP 3 ppm + kinetin 4 ppm yang menginduksi tunas pada 8,3 HST; jumlah tunas 81,3; dan jumlah daun 142,3 helai. Penggunaan BAP berpengaruh nyata terhadap kedinian eksplan berkalus dengan perlakuan terbaik pada konsentrasi 3 ppm BAP yang menginduksi kalus pada 10,78 HST. Kinetin berpengaruh sangat nyata terhadap kedinian eksplan bertunas dengan perlakuan terbaik P2M2 yaitu 4 ppm, yang menginduksi tunas pada 8,3 HST. Kesimpulannya perlakuan BAP 3 ppm + 4 ppm kinetin merupakan perlakuan terbaik.
Response of Rice Somatic Embryogenesis to Exogenous Melatonin About Its Role in Scavenging Reactive Oxygen Species Ubaidillah, Mohammad; Al Ayyubi, Nabila Nur Aisyah; Khofifa, Rendryana Aulia Nur; Dewanti, Parawita
AGRIVITA Journal of Agricultural Science Vol 46, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v46i1.4060

Abstract

The success rate of explant morphogenesis in plant breeding using tissue culture techniques is frequently plagued by browning due to the oxidation of phenolic compounds. The cumulated amount of reactive oxygen species (ROS) drives the oxidation of phenolic compounds. Melatonin is reported to take a part in modulating the regulation of antioxidant gene expression, reducing the accumulation of reactive oxygen species, and enhancing the efficacy of tissue culture. This study aims to determine the optimal melatonin concentration on the efficiency of plantlet regeneration and expression of the antioxidant resistance gene in rice callus. This study utilizes rice TN1, Gogo Niti II, Ketan Hitam, and Cigeulis cultivars. Melatonin at 0, 10, and 15 µM concentrations is supplemented in plantlet regeneration media. Rice antioxidant-related genes, Mn-SOD, Cu/ZnSOD, Cytosolic APX, CAT, GPOD, OsAPX, and OsCATA, expressed after melatonin supplementation. Melatonin concentration at 10 µM generates the highest expression of all tested genes in TN1 compared to other varieties. The cumulated amount of hydrogen peroxide (H2O2) shows that Melatonin has the potential to increase the proportion of plant regeneration in Cigeulis (90.48%) and Ketan Hitam (91.67%) varieties with a concentration of 10 µM and in TN1 (94.44%) and Gogo Niti II (80%) at a concentration of 15 µM.
Direct Organogenesis of Different Explants of Aceh Patchouli (Pogostemon cablin Benth.) with Several BAP Concentrations Prayoga, Mohammad Candra; Soeparjono, Sigit; Dewanti, Parawita; Handoyo, Tri; Hardjo, Popy Hartatie; Restanto, Didik Pudji
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol. 16 No. 3 (2024): December 2024
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v16i3.12839

Abstract

The patchouli plant (Pogostemon cablin Benth.) is a tropical herbaceous plant that produces essential oil. One of the problems is that the production is not yet optimal. Fulfillment of superior seedlings can help increase patchouli productivity. Conventional patchouli propagation through stem cuttings is ineffective and takes longer. Patchouli propagation can be done using a tissue culture approach via direct organogenesis to produce seedlings quickly and efficiently. Effective patchouli propagation methods and successful acclimatization are very important to research to support the propagation and breeding of patchouli plants. The aim of this research was to determine the best of BAP concentration in direct organogenesis of leaf and stem explants. The research design used a completely randomized series of hormone BAP, it has 5 levels, namely 0 mg/L (as control), 0.25 mg/L, 0.50 mg/L, 0.75 mg/L, and 1.0 mg/L. The explants used were the leaves and stems of Aceh patchouli. Plantlets are acclimatized in compost media and covering treatment. Based on the results of observations, the best BAP concentration is 0.25 mg/L with the initial observation parameters of the early emergence of shoots, number of shoots, and length of shoots on leaf explants were 10 daps, 35.33 shoots, and 2.83 cm respectively. The use of leaf explants showed a better response compared to stem explants. Patchouli plantlets were successfully acclimatized and can adapt to the ex vitro environment using the covering method. Successful patchouli propagation and high acclimatization can help produce effective patchouli seeds.
Somatic Embryogenesis of Dendrobium lasianthera X Dendrobium antennatum with the Addition of BA and NAA Sasmita, Heni Dwi; Dewanti, Parawita; Alfian, Firdha Narulita
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 50 No. 2 (2022): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (939.71 KB) | DOI: 10.24831/jai.v50i2.39715

Abstract

Somatik embriogenesis merupakan teknik perbanyakan kultur in vitro melalui proses pembelahan sel yang berasal dari bagian tanaman untuk membentuk embrio menjadi tanaman baru. Perbanyakan tersebut didukung oleh penambahan BA dan NAA dalam media untuk memicu terbentuknya kalus. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh konsentrasi kombinasi BA dan NAA yang terbaik dalam proses induksi kalus tanaman anggrek Dendrobium Hibrida (Dendrobium lasiantera x Dendrobium antennatum) melalui metode somatik embriogenesis. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Center for Development of Advance Sciences and Technology (CDAST) Universitas Jember Jawa Timur dari bulan Maret-September 2021. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu faktor BA 4 taraf, 0, 0.025, 0.05, dan 0.1 mg L-1 dan faktor NAA 3 taraf; 1, 2, dan 3 mg L-1, dengan menggunakan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan waktu terbentuknya kalus anggrek Dendrobium Hibrida paling cepat pada perlakuan dengan konsentrasi BA 0.025 mg L-1 dan NAA 3 mg L-1 dengan presentase tertinggi terbentuknya kalus embriogenik yaitu sebesar 67%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan BA 0.025 mg L-1 dan NAA 3 mg L-1 merupakan hasil terbaik pada variabel waktu terbentuknya kalus dan presentase kalus embriogenik.
Tobacco Plant (Nicotiana tabacum L.) Tolerance Towards Waterlogging Stress on Various Calcium Fertilizer Application Hidayat; Dewanti, Parawita; Kacung Hariyono
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 50 No. 2 (2022): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.586 KB) | DOI: 10.24831/jai.v50i2.40431

Abstract

Tembakau (Nicotiana tabacum L.) merupakan salah satu tanaman komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Curah hujan tinggi dapat menyebabkan terjadinya genangan dan merupakan kendala utama dalam budidaya tanaman tembakau. Banyak studi telah menunjukkan bahwa genangan mempengaruhi respon morfologi, fisiologi dan anatomi pada tanaman. Kalsium berperan dalam membantu proses metabolisme tanaman saat mengalami cekaman abiotik. Pemberian kalsium pada tanaman dapat meningkatkan adaptasinya terhadap genangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toleransi tanaman tembakau terhadap cekaman genangan pada berbagai taraf aplikasi kalsium berdasarkan respon fisiologi, morfologi serta anatominya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2021 hingga Januari 2022 di Kebun percobaan Universal PT. Tempu Rejo menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama adalah penggenangan tanaman tembakau pada usia yang berbeda (tanpa penggenangan/kontrol; penggenangan pada 21 hari setelah tanam (HST), 28 HST, dan 35 HST). Faktor kedua adalah aplikasi kalsium dengan dosis (0, 8.5, 10, dan 11.5 g per tanaman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalsium 11.5 g per tanaman yang diaplikasikan efektif meningkatkan toleransi tanaman terhadap cekaman genangan berdasarkan karakteristik morfologinya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan kalsium dapat menekan keberadaan H2O2 sebagai ROS (reactive oxygen species) serta dapat mempertahankan struktur anatomi akar dan anatomi stomata di bawah cekaman genangan. Kata kunci: anatomi, fisiologi, H2O2, karakteristik morfologi
Overexpression of Sugarcane Sucrose Transporter 1 (SoSUT1) Gene Increases Rice Yield Putri, Cesha Ananda; Soegiharto, Bambang; Dewanti, Parawita
Annales Bogorienses Vol. 24 No. 1 (2020): Annales Bogorienses
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The growth and development of plants are determined by photosynthesis, which ultimately results in sucrose. Sucrose is synthesized in the source then translocated to all parts of the plant (sink). The translocation process of sucrose from source to sink is controlled by sucrose protein called sucrose transporter. SoSUT1 is a gene that encodes a sucrose transporter 1 (SUT1) protein in sugarcane. Rice transformation with the SoSUT1 causes overexpression SUT, which is expected to increase the translocation of sucrose into the seed of rice plants. This research was conducted by introducing SoSUT1 in rice plants Inpari 14 SS. Transformation using Agrobacterium tumefaciens vector in apical bud explant Indica rice cv. Inpari 14 SS results in 26 events positive rice contains genes SoSUT1. This study aims to elucidate the inheritance of transgene in the next generation and to characterize its effect on the morphology and the yields of a subsequent generation. The study is conducted by planting the seeds of T1 and T2 plants in media containing Hygromycin and using PCR analysis for further analysis. As the results, from 26 events on the T1 plant, only 3 events of T3 plants were confirmed on the T3 plant. The overexpression of the SoSUT1 gene could increase the number of tillers, the number of productive tillers, panicle length, and panicle exit length, also increasing the number of spherical grains, reducing the number of empty grains and increasing the weight of 1000 grains.
ANALYSIS OF BBM, LEC, AND SERK EXPRESSIONS IN CALLUS OF SUGARCANE (Saccharum officinarum L.) AT SOMATIC EMBRYOGENESIS DEVELOPMENT STAGES Dewanti, Parawita
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2022.1790

Abstract

Callus formed in somatic embryogenesis is divided into two types, embryogenic and non-embryogenic callus. Embryogenic callus can be distinguished by the expression of genes as markers related to somatic embryogenesis which are expected to be used as markers to detect callus that has embryogenic capabilities in sugarcane. The aim of this study was to determine the expressions of somatic embryogenesis-related genes in sugarcane. The genes analysis was carried out using somatic embryogenesis callus and using a kit for RNA analysis. Results showed that there were expressions of Baby Boom (BBM), Leafy Cotyledon (LEC), dan Somatic Embryogenesis Receptor Like-Kinase (SERK) gene with specific primer of those three genes, which were collected from embryogenic callus in mass, globular, scutelar, and coleoptilar pre-embryo stages, meanwhile there were no expressions of those genes collected from non-embryogenic callus. Amplification result from PCR product of cDNA using three gene primers detected were in 500 bp for BBM, 400 bp for LEC, and 700 bp for SERK gene.
Co-Authors . Usmadi Abdul Jalil Adinda, Intan Dwi Agung Nugroho Puspito Ahnaf, Yusuf Dary Al Ayyubi, Nabila Nur Aisyah Alfian, Firdha Narulita Alifah Farida Sa’adah Alifatul Aqidah Arsy Chairiyah Arya Wiranegara Azmi Saleh Bagus Tripama Bambang Soegiharto Bambang Sugiharto Bambang Sugiharto Bambang Sugiharto Bambang Sugiharto Bambang Sugiharto Bambang Sugiharto Banun Kusumawardani Budi Kristanto Budi Kriswanto Cesha Ananda Putri Desi Kartika Sutrisno Dwi Setyati Dwika Nano Hariyanto Erma Sulistyaningsih Fanata, Wahyu Indra Duwi Firdausi, Intan Firdha Narulita Alfian Firdha Narulita Alfian Firdha Narulita Alfian Firdha Narulita Alfian Hakim, Mohammad Sulton Harsanti, Restiani Sih Hidayat Hidayat Hidayat Ika Purnamasari Ika Purnamasari Indraloka, Aldy Bahaduri Intan Dwi Ambarwati Inyana Dwi Agustien Iryono Kacung Hariyono Khiar Ayatina Hasbi Khofifa, Rendryana Aulia Nur Khozin, Mohammad Nur Laela Endah Rahmadhani Laily Ilham Widuri Laily Ilman Widuri, Laily Ilman Lenny Widjayanthi Magfiroh, Illia Seldon Maisaro, Maisaro Maryam, Safira Arikha milga sari Mohammad Ali Mudhor Mohammad Ubaidillah Mona, Muhammad Dima Say Muhammad Hazmi Munandar, Denna Eriani Nadiya, Nisma Riyadh Nafisah Iqmatullah Ni Made Ayu Gemuh Rasa Astiti Nina Oktaria Nina Oktaria, Nina Ningtiyas, Wulan Nursyiam Olandino Tome Francisco Dorosario de Sousa Popy Hartatie Hardjo Pralampita, Pulong Wijang Prayoga, Mohammad Candra Purnama Okviandari Purnama Okviandari Purnama Okviandari, Purnama Putri, Cesha Ananda Putri, Widya Kristyanti Raden Soedradjad Rahadian Falqi Taufik Rahmadhani, Laela Endah Raisah Bani Ratnasari, Tri Restanto, Didik Restanto, Didik Pudji Ristiyana, Suci Rizky Harikurniawan Rudi Joelijanto S, Setiyono Santoso, Luthfi Nur Aprillia Sasmita, Heni Dwi Sholeh Avivi Sigit Soepardjono Sigit Soeparjono Siti Kamalia Siti Nurul Afidah Slameto Slameto Slameto Slameto Soegiharto, Bambang Sri Hartatik Suci Ristiyana Sulistiyono Syafira Fatihatul Husna Taufik, Rahadian Falqi Tri Agus Siswoyo Tri Agus Siswoyo TRI HANDOYO Tri Wahyu Saputra Tri Wahyu Saputra Ubaidillah, Mohammad Ummi Solikhah, Ummi Veronenci Yuliarbi Farlisa Wachju Subchan Wahyu Indra Duwi Fanata Wahyu Indra Duwi Fanata Wakhidaturrohmah, Ninik Wardatus Sholeha Widuri, Laily Ilham Widya Kristiyanti Putri Wulan Nursyiam Ningtiyas Wulanjari, Distiana Yani Corvianindya Rahayu