Claim Missing Document
Check
Articles

Penanaman nilai-nilai moral melalui kegiatan bercerita pada anak usia 5 tahun Narendradewi Kusumastuti; R. Rukiyati
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 5, No 2 (2017): December
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.118 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v5i2.14830

Abstract

Penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang proses penanaman nilai-nilai moral melalui kegiatan bercerita di RA Plus Darussalam Bojonegoro, meliputi: (1) nilai-nilai moral yang ditanamkan; (2) pelaksanaan; (3) faktor penghambat dan faktor pendukung. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian ini terdiri dari kepala sekolah, guru, dan anak. Pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian adalah (1) nilai-nilai moral yang ditanamkan religius, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatifitas, kemandirian, demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab; (2) proses terdiri dari (a) adanya perencanaan sebelum kegiatan bercerita yang tertuang dalam bentuk RPPM dan RPPH; (b) media yang digunakan buku pilar, buku cerita, boneka tangan, menggambar menggunakan spidol, dan video; (c) evaluasi yang digunakan penilaian formatif yaitu observasi (pengamatan), percakapan, dan unjuk kerja; (d) hasilnya adalah pengetahuan anak menjadi lebih luas, anak bisa membedakan baik buruk, anak menceritakan kembali isi cerita, perilaku anak setelah dibacakan cerita menjadi baik mencontoh dari cerita yang sebelumnya disampaikan guru; (3) faktor penghambat yaitu keras lemahnya dan tinggi nada suara saat guru bercerita belum terlihat, kekayaan bahasa yang dimiliki guru masih kurang, adanya dua kelas yang dijadikan satu; (4) faktor pendukungyaitu anak mendapatkan cerita dari rumah, guru diberikan berbagai macam pelatihan termasuk pelatihan mendongeng, tersedianya berbagai macam buku cerita, perilaku guru menjadi teladan yang baik bagi anak.Kata kunci: moral, bercerita, anak usia dini  CULTIVATING MORAL VALUES THROUGH STORYTELLING ACTIVITYAbstractThis study aimed to describe the cultivation of moral values through storytelling in RA Plus Darussalam Bojonegoro, including: (1) the moral values inculcated; (2) implementation; (3) inhibiting factors and supporting factors.This research is a qualitative case study. The subjects of this study consisted of principals, teachers, and children. The collection of data is through observation, interviews, and documentation.The results of research moral values inculcated (1) religious, honesty, tolerance, discipline, hard work, creativity, independence, democratic, curiosity, respect for the achievements, friendly/communicative, love peace, likes to read, care for the environment, social care, responsibility; (2)the process consists of (a) there is availability of planning before telling a story in the forms of RPPM and RPPH; (b) the implementation tells the media used there are five kindspillars book, story books, puppets, drawing using markers, and video; (c) evaluation used is formative assessment, that is observation, conversation, and performance;(d)The result of the planting of moral values through the activity of storytelling is the knowledge of the child becomes more widespread, the child differentiate good bad, the children recount the contents of the story, the child's behavior after being read the story to be well modeled from the previous story submitted by the teacher;(3) inhibiting factors include loud weakness and high tone of voice when the teacher told the story has not been seen, the richness of the language owned by the teacher is still lacking and just reading the book only; the existence of two classes that are combined into one; (4) the supporting factorschildren get stories from home, the teachers have been given a wide range of training including training of storytelling, the availability of various story books; (d) the behavior of the teachers in being a good example for the children.Keywords: moral, storytelling, early childhood
Pembelajaran ethnosciences di era revolusi industri 4.0 sebagai pemacu Higher Order Thinking Skills (HOTS) Ani Widyawati; Siti Irene Astuti Dwiningrum; Rukiyati Rukiyati
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 9, No 1 (2021): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jppfa.v9i1.38049

Abstract

Pembelajaran di era industri 4.0 menuntut siswa agar mampu memiliki ketrampilan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif dalam perilaku hidup sehari-hari. Keempat kemampuan tersebut membutuhkan proses berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang menjadi bagian dari ketrampilan abad ke-21. Ketrampilan abad ke-21 ini membutuhkan adanya proses berlatih yang teratur dengan materi yang kontekstual. Pembelajaran yang mengajak siswa belajar dari kondisi real di lingkungan dan diajak untuk mampu menyelesaikan masalah yang terjadi. Penelitian ini bersifat library research dengan metode analisis kualitatif deskriptif. Tahapan penelitian diawali dengan mengumpulkan artikel ilmiah yang relevan berdasarkan kedekatan topik yang terbita dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yang selanjutnya akan dikaji dan dianalisis. Tujuan penelitian ini untuk mengupas tentang pembelajaran etnosains dalam kaitannya untuk melatihkan ketrampilan berpikir tingkkat tinggi pada peserta didik. Hasil kajian literasi diperoleh bahwa etnosains sangat sesuai diterapkan di era revolusi industri 4.0 yang harus menghasilkan pembelajaran yang bermakna dan memfasilitasi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka dengan tetap mengkaji budaya masyarakat yang bersifat ilmiah. Etnosains dapat meningkatkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi untuk sukses menghadapi kemajuan dunia di abad ke-21.AbstractLearning in the industrial era 4.0 requires students to have critical, creative, communicative, and collaborative thinking skills in their daily life behavior. These four skills are skills that need higher-order thinking processes (HOTS) which are part of 21st-century skills. These 21st-century skills require regular practice processes with contextual material. Learning invites students to learn from actual conditions in the environment and is invited to be able to solve problems that occur. This research is library research with a descriptive qualitative analysis method. The research stage begins with collecting relevant scientific articles based on the proximity of the topics published in the last ten years, which will then be studied and analyzed. This study aims to explore ethnoscience learning about practicing high-level thinking skills in students. The results of the literacy study show that ethnoscience is very suitable to be applied in the era of the industrial revolution 4.0, which must produce meaningful learning and facilitate students to construct their knowledge while still studying the scientific culture of society. Ethnoscience can improve higher-order thinking skills to successfully face the progress of the world in the 21st century.
PERANAN PENDIDIKAN BAGI PENGEMBANGAN PERADABAN DALAM PANDANGAN FUKUZAWA YUKICHI Rukiyati Rukiyati
Jurnal Kependidikan Vol 30, No 1: Edisi Dies 2000
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8847.514 KB) | DOI: 10.21831/jk.v30i1.19446

Abstract

The study was designed to describe the philosophical concept of education according ta Fukuzawa, especially his thought about the role of education  for  development of civilization. This study was a library research by high lighting a concept  from  a prominent  The data consisted of both the primary and secondary data. The primary data were Fulauawa's writing taken from  figure. this three boola: An Encouragement of Learning; Fulanawa Yudchi on Education: elected Worla; and An Outline of a Theory of Civilization. Secondary data were taken  from others expert's worlcs qbout Fuhtzawa. The method of this study was the philosophical hermeneutic method with interpretation, holistic, descriptive elements. The conclusion of this study are: (I) the role of education according to Fulauawa is the main way to reach the civilized of modern societli (2) the civilization spirit in identified by Fulauawa as the spirit to pursue and appreciate lmowledge and science and to realize virtue's value.
THE DIFFUSION OF VALUE EDUCATION MODEL IN EARLY CHILDHOOD THROUGH TRADITIONAL SONGS AND GAMES Mami Hajaroh; Rukiyati Rukiyati; Joko Pamungkas
Jurnal Kependidikan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.508 KB) | DOI: 10.21831/jk.v3i1.21385

Abstract

This study was aimed at diffusing the value education model through traditional songs and games for kindergarten teachers in Yogyakarta. This model is an early childhood learning innovation for value education. Diffusion research is a study to disseminate models to teachers; therefore the research subjects were kindergarten teachers. The subject of this study in Kindergarten Schools in DIY included 15 kindergarten schools in Bantul, Sleman, Kulonprogo, Bantul and Yogyakarta city regencies involving 32 teachers. The data were gathered using focus group discussions and questionnaires. The data then analyzed using mixed descriptive qualitative and quantitative methods. This study proves that the model of value education in early childhood through traditional songs and games has five characteristics as innovations which have the advantages of relative, compatibility, complexity, can be tested and can be observed. In addition, in the process of disseminating to the teacher through five stages of diffusion, namely: knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. Teachers also tend to use traditional songs and games to inculcate religious values which are the school's peculiarities.DIFUSI MODEL PENDIDIKAN NILAI PADA ANAK USIA DINI MELALUI LAGU DAN PERMAINAN TRADISIONALPenelitian ini bertujuan untuk mendifusikan model pendidikan nilai melalui lagu dan permainan (dolanan) tradisional pada guru taman kanak-kanak ‘Aisyiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Model ini merupakan inovasi pembelajaran anak usia dini untuk pendidikan nilai. Penelitian difusi merupakan penelitian untuk menyebarluaskan model kepada para guru; oleh karena itu subyek penelitian adalah guru taman kanak-kanak. Subjek penelitian ini di Sekolah Taman Kanak-kanak di DIY meliputi 15 sekolah Taman-Kanak-kanak di Kabupaten Bantul, Sleman, Kulonprogo, Bantul dan Kota Yogyakarta melibatkan 32 orang guru. Pengumpulan data menggunakan focus group discussion dan kuisioner. Analisis data secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini membuktikan bahwa model pendidikan nilai pada anak usia dini melalui lagu dan dolanan memiliki lima karakterisik sebagai inovasi yakni memiliki keunggulan relative, kompatibilitas, kompleksitas, dapat diujicoba dan dapat diamati. Selain itu dalam proses penyebarluasan kepada guru melewati lima tahap difusi yakni: pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Guru juga cenderung menggunakan lagu dan permainan tradisional untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan yang merupakan kekhasan sekolah.
KEBIJAKAN SISTEM ZONASI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN Gunarti Ika Pradewi; Rukiyati Rukiyati
JMSP (Jurnal Manajemen dan Supervisi Pendidikan) Vol 4, No 1 (2019): Vol. 4 No. 1 November 2019
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um025v4i12019p028

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to find out about school attendance zones system policies in the educational perspective in Indonesia. This is a qualitative research using phenomenology method. The perspective in this study is the perspective of teachers and principals from a favorite and unfavorite school. The results of the study show the perspectives of the teachers and principals about school attendance zones are: (1) facilitating access to education services; (2) equalizing school quality; (3) reducing school quality; (4) it is not suitable at high school level; ( 5) restricting students from choosing schools; (6) zoning policies must be accompanied by equal distribution of educational facilities and infrastructure; and (7) damaging diversity. Abstrak: Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui tentang kebijakan sistem zonasi dalam perspektif pendidikan di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, metode fenomenologi. Perspektif yang diangkat ialah perspektif guru dan kepala sekolah dari SMA favorit dan tidak favorit. Hasil penelitian menunjukkan perspektif para guru dan kepala sekolah tentang zonasi meliputi: (1) zonasi memudahkan akses layanan pendidikan; (2) zonasi memeratakan kualitas sekolah; (3) zonasi menurunkan kualitas sekolah; (4) zonasi tidak cocok ditetapkan di tingkat SMA; (5) sistem zonasi membatasi siswa memilih sekolah; (6) kebijakan zonasi harus disertai pemerataan sarana dan prasarana pendidikan; dan (7) zonasi merusak kebhinekaan. 
Pendidikan Adab Menurut Imam al-Nawawi dan Implementasinya di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an SahabatQu Adinda Dwi Adisti; Rukiyati Rukiyati
TSAQAFAH Vol 17, No 1 (2021): Islamic Education
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v17i1.5542

Abstract

There are four educational concepts; purpose, curriculum, programs andevaluation. Education is a process of instilling the values of manners to becomea good human being. So that education can be said to prepare the values ofadab through varios strategies for achieving values of adab. The values of adabeducation need to be understood by educators and students who will use themas a guide during the learning process. Adab is a process of cultivating educationin a person. This study is based on the thoughts of Imam Abu Zakaria Yahyabin Syaraf al-Nawawi (Imam Nawawi) in his book al-Tibyân fî Âdâb Hamalah alQur’ân. This book discusses the manners of a learner in studying, understandingand teaching. The aims of this study is to find out how the management of adabeducation in the Pondok Tahfidzul Qur’an Pesantren SahabatQu (PPTQS) isbased on the thoughts of Imam Nawawi in his book. This study uses a qualitativedescriptive approach with the type of library research and content analysismethods which are used to analyze the strategy of achieving the values of adabof educators and students based on the thinking of Imam Nawawi. The results showed that it contains the concept of civilization education managements which contains planning, organizing, implementing and controlling adab which doesnot require instant time and must take a long time.
Pandangan Guru dan Orang Tua tentang Pendidikan Inklusif di Taman Kanak-Kanak Esny Baroroh; Rukiyati Rukiyati
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 6, No 5 (2022)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v6i5.2510

Abstract

Pendidikan inklusif berkembang sebagai tanggapan terhadap kekhawatiran hak asasi manusia bagi anak-anak penyandang cacat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan guru dan orang tua terhadap tantangan dan manfaat pendidikan inklusif di taman kanak-kanak bagi anak disabilitas maupun tanpa disabilitas dalam upaya memenuhi kesempatan belajar anak disabilitas maupun tanpa disabilitas. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data yang digunakan dalam pendekatan studi kasus penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah 2 guru/kepala sekolah inklusif, dan 2 orang tua anak disabilitas/tanpa disabilitas. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendidikan inklusif yang dilaksanakan di taman kanak-kanak secara tidak langsung memberikan manfaat dan tantangan yang dihadapi guru maupun orang tua anak disabilitas ataupun anak tanpa disabilitas. Pelaksanaan pendidikan inklusif memberikan manfaat untuk anak disabilitas maupun tanpa disabilitas yaitu memberikan relasi social dan penerimaan.
Pendidikan berbasis nilai untuk guru taman kanak-kanak Rukiyati Rukiyati; Lusila Andriani Purwastuti; Mami Hajaroh; Arif Rohman
FOUNDASIA Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Prodi Filsafat dan Sosiologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v12i2.46494

Abstract

Studi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam menghidupkan nilai-nilai yang diterapkan di sekolah. Kegiatan ini menggunakan strategi berupa teori, dialog, dan proyek. Instrumen yang digunakan adalah kuis dan angket. Teknik analisis menggunakan analisis deskriptif. Subjek kegiatan adalah guru Taman Kanak-Kanak di berbagai wilayah di Indonesia, meliputi Nusa Tenggara Timur, Sumatera, Jawa dan Hong Kong sejumlah 142 orang. Hasil kegiatan menyimpulkan bahwa para guru telah dapat memahami nilai-nilai dan mempraktikkannya di dalam kegiatan pembelajaran. Para peserta mengungkapkan bahwa mereka mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat dan juga dapat bertukar pengalaman dengan guru di luar Yogyakarta sehingga pertemanan peserta tampak semakin akrab. Peserta menilai kegiatan telah berjalan sangat baik dan bermanfaat.  Saran dalam kegiatan selanjutnya adalah dilibatkannya orang tua siswa dalam kegiatan ini sehingga tujuan pendidikan berbasis nilai dapat dicapai dengan lebih optimal.Kata kunci: Pendidikan taman kanak-kanak, nilai-nilai, kompetensi guru
Nilai-nilai dan metode pendidikan karakter di taman kanak-kanak di Banjarmasin Dwi Siswoyo; Rukiyati Rukiyati; L Hendrowibowo
FOUNDASIA Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Prodi Filsafat dan Sosiologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v11i1.32485

Abstract

Masa usia dini adalah masa yang tepat untuk dikenalkan, dan ditumbuhkan pendidikan moral agar kelak anak menjadi orang yang baik. Selain orang tua, guru memgang peran penting untuk mengembangkan nilai-nilai moral dalam diri anak usia dini di Taman Kanak-Kanak. Tujuan penelitian ini adalah untuk : 1)  menganalis nilai-nilai karakter  yang menjadi target pendidikan karakter di Taman Kanak-Kanak di kota Banjarmasin; 2) menganalisis metode penanaman nilai karakter yang diterapkan di taman kanak-kanak di kota Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa diskusi grup terfokus (focus group discussion). Subjek penelitian ini terdiri dari 30 orang guru TK ‘Aisyiyah di kota Banjarmasin. Analisis data mengikuti langkah-langkah Miles Huberman meliputi, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dengan trianggulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada delapan nilai utama yang dikembangkan guru, yaitu religiusitas, respek (hormat menghormati), kemandirian, percaya diri, kejujuran,  disiplin, tanggung jawab, dan kerjasama.   Metode yang digunakan guru adalah keteladanan, pembiasaan, memberi nasehat, bercerita dan sosiodrama, kunjungan sosial, fasilitasi, bernyanyi, pengenalan dan hafalan  hadis singkat. Evaluasi pendidikan moral dilakukan sesuai yang tercantum di dalam kurikulum TK, yaitu menggunakan observasi perilaku anak sehari-hari. Sebagian besar anak telah mencapai perkembangan moral yang baik, dan  beberapa anak mendapat nilai sangat baik. Perilaku moral yang paling tampak perkembangannya adalah kemandirian dan rasa percaya diri. Anak  telah dapat membaca kitab suci Alquran, dan menghafal beberapa hadis pendek. 
Multiple Intelligences in Learning Musical Dramas for Prospective Primary School Teachers Okto Wijayanti; Rukiyati Rukiyati
JOURNAL OF TEACHING AND LEARNING IN ELEMENTARY EDUCATION (JTLEE) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jtlee.v4i1.7872

Abstract

Prospective teachers who get the 7th semester of Drama and Dance Education courses must have competence, one of which is that the teacher can present interesting learning for children with a drama approach, as a multidisciplinary knowledge that can be taught using role playing methods that are taught more interesting, fun, meaningful, interactive and rich experience. As a student, you can develop multiple intelligence in this subject. Programmed and scheduled musical drama training systems are indeed interesting, because each student is given the freedom to give assessments, provide reinforcement, support, correct weaknesses, mistakes and even object to the work of other groups with the strengths and points of view of the subjectivity expressed by each. students. As a result, sportsmanship is needed in this regard. Through an empirical qualitative approach, with lesson study-based inductive thinking logic. This study aims to describe the various intelligences that appear in learning dance drama, especially the work practice of dance drama projects (musical dramas), both individually and in groups obtained from the performance appraisal contained in the instrument. Important notes in the discussion found several findings about the application of Multiple Intelligences in learning dance and drama, namely: 1) Tools to achieve success that are more concerned with the process of achieving results, 2) Integrative Learning dance drama combines various intelligences, 3) Learning dance and dance drama becomes full of challenges, and more fun, 4) Care for the individual differences of students so that emotional management is needed, 5) Instructional based learning is firm and clearly measurable, 6) The importance of reflection for further improvement, 7) Clarity of goals, achievement of competence and each student's feedback needs to be done.