Claim Missing Document
Check
Articles

Kegiatan menjaga kesehatan lingkungan dengan pemanfaatan sampah plastik menjadi eco paving block Nuryani, Dina Dwi; Navila, Navila; Ghozali, Derby; Mardiansyah, Mardiansyah; Wibisono , Chandra; Nugroho, Nugroho; Taupiqurrahman, R. M.; Amelia , Nur; Salsabilla, Shifa
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1578

Abstract

Background: A clean and healthy environment is a basic need for society and a crucial factor in improving the quality of life and supporting sustainable development. However, the increase in non-biodegradable plastic waste causes serious environmental and health problems. Effective plastic waste management through innovative recycling practices is essential. Effective plastic waste management is a major challenge in maintaining environmental cleanliness and sustainability. Purpose: To improve community understanding and skills in processing plastic waste into environmentally friendly and economically valuable eco-paving blocks. Method: This community service activity was conducted on Saturday, August 16, 2025, in Kandang Besi Village. The participant population was 35 people, consisting of representatives from eight hamlets from Kandang Besi, Tanjung Betuah, Sukajaya, Kembahang, Bandung Jaya, Sinar Jaya, Sinar Baru, and Tuban. The activity included education on plastic waste utilization with the theme SAPA BUMI (Plastic Waste for Paving, Clean for the Earth) and a demonstration of eco-paving block production. Results: A composition of 20% aggregate (sand), 60% plastic waste, and 20% used oil (solvent) produced poor quality and fragile eco paving blocks. Meanwhile, a second test, using 30% aggregate (sand), 60% plastic waste, and 10% used oil (solvent), produced fairly good, more solid, and less fragile eco paving blocks. Increasing public understanding through this innovation has the potential to reduce plastic waste accumulation while increasing the community's economic value through environmentally friendly products. Conclusion: Community service activities involving education on the use of plastic waste have successfully increased public understanding regarding plastic waste management, particularly as a raw material for making eco paving blocks and maintaining environmental health. Suggestion: Further research and technological development are recommended to ensure wider and more sustainable application of eco paving blocks. Keywords: Eco paving blocks; Environmental health; Community empowerment; Plastic waste; Waste management Pendahuluan: Lingkungan hidup yang bersih dan sehat merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat dan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Namun, peningkatan limbah plastik yang sulit terurai secara alami menyebabkan masalah serius bagi lingkungan dan kesehatan. pengelolaan limbah plastik yang efektif melalui inovasi pemanfaatan ulang sangat diperlukan Pengelolaan limbah plastik yang efektif menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah plastik menjadi bahan baku eco paving block yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Metode: Pengabdian Masyarakat ini dilakukan pada hari Sabtu, 16 Agustus 2025, di Pekon Kandang Besi. Populasi peserta kegiatan ini adalah 35 orang yang terdiri dari perwakilan 8 dusun dari Kandang Besi, Tanjung Betuah, Sukajaya, Kembahang, Bandung Jaya, Sinar Jaya, Sinar Baru dan Tuban. Kegiatan terdiri dari edukasi mengenai pemanfaatan sampah plastik dengan tema SAPA BUMI (Sampah Plastik untuk Paving, Bersih untuk Bumi) dan demonstrasi pembuatan eco paving block. Hasil: Dengan komposisi agregat (pasir) 20%, Limbah plastik (60%), dan Oli bekas (pelarut) 20% menghasilkan eco paving block yang kurang baik dan rapuh, sedangkan untuk uji kedua dimana dengan komposisi agregat (pasir) 30%, Limbah plastik (60%), dan Oli bekas (pelarut) 10% menghasilkan eco paving block yang cukup baik dan lebih solid tidak rapuh. Meningkatnya pemahaman masyarakat dengan inovasi ini berpotensi mengurangi akumulasi limbah plastik sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat melalui produk ramah lingkungan. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi pemanfaatan limbah sampah plastik berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah plastik, khususnya sebagai bahan baku pembuatan eco paving block dan menjaga kesehatan lingkungan. Saran: Diharapkan untuk melakukan penelitian lanjutan serta pengembangan teknologi agar penerapan eco paving block dapat lebih luas dan berkelanjutan.
Kegiatan memanfaatkan lahan pekarangan dengan penanaman bibit pohon sebagai upaya pelestarian lingkungan sehat Nuryani, Dina Dwi; Triranti, Asih; Mulyanto, Hendra; Indriyani, Jelita Hanan; Inpantri, Karista Putri; Tretilia, Putu Rara; Auliyani, Vievie; Haq, Zam Zam Abdul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1579

Abstract

Background: The environment is a vital component of human life that must be preserved and maintained sustainably. This situation presents a real challenge that requires the active participation of all levels of society, including higher education institutions, in efforts to address and minimize the impacts. The One Tree One Hope (SPASHA) Program is a form of community service implemented by students from the Community Service Program (KKLPPM) at Malahayati University in Kandang Besi Village, West Kota Agung District, Tanggamus Regency. Purpose: To raise public awareness of environmental conservation, yard utilization, and productive tree planting. Method: Community education through outreach, seedling distribution, planting site determination, and tree planting through mutual cooperation involving the community, village heads, supervising lecturers, and village officials. A total of 100 tree seedlings, consisting of 50 avocado and 50 mixed seedlings (durian, jengkol, and petai) were distributed to eight hamlets. Method: Community education through socialization, seedling distribution, determining planting points, and tree planting through mutual cooperation involving the community, village heads, supervising lecturers, and village officials. A total of 100 tree seedlings, consisting of 50 avocados and 50 mixed seedlings (durian, jengkol, and petai) were distributed to eight hamlets. Results: The activity demonstrated community enthusiasm and active participation, which are indicators of the program's success. In addition to providing ecological benefits such as improved air quality, carbon sequestration, and ecosystem preservation, the program also has the potential to improve community well-being through economically valuable harvests. Conclusion: The One Tree One Hope (SPASHA) movement, a form of community service in environmental conservation, successfully engaged the community actively through outreach, seedling distribution, planting site determination, and tree planting. Community enthusiasm demonstrates that reforestation activities have an impact on a healthy environment and have the potential to provide future economic benefits. Keywords: Environmental health; Land use; Plant conservation; Tree planting Pendahuluan: Lingkungan hidup merupakan komponen penting dalam kehidupan manusia yang harus dijaga kelestariannya dan dilestarikan secara berkesinambungan. Kondisi ini menjadi tantangan nyata yang membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk lembaga pendidikan tinggi, dalam upaya mengatasi dan meminimalisasi dampak yang ditimbulkan. Program Satu Pohon Satu Harapan (SPASHA) merupakan bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKLPPM Universitas Malahayati di Pekon Kandang Besi, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus. Tujuan: Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan, pemanfaatan lahan pekarangan dan penanaman pohon produktif. Metode: Community education melalui sosialisasi, penyerahan bibit, penentuan titik tanam, serta penanaman pohon secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat, kepala pekon, dosen pembimbing, dan perangkat desa. Sebanyak 100 bibit pohon, terdiri atas 50 alpukat dan 50 bibit campuran (durian, jengkol, dan petai) didistribusikan ke delapan dusun. Hasil: Kegiatan menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif masyarakat, yang menjadi indikator keberhasilan program. Selain memberikan manfaat ekologis berupa perbaikan kualitas udara, penyerapan karbon, dan pelestarian ekosistem, program ini juga memiliki potensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hasil panen yang bernilai ekonomi. Simpulan: Kegiatan gerakan Satu Pohon Satu Harapan (SPASHA) merupakan bentuk pengabdian masyarakat dalam bidang pelestarian lingkungan, berhasil melibatkan masyarakat secara aktif melalui tahapan sosialisasi, penyerahan bibit, penentuan titik tanam, dan penanaman bibit pohon. Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan penghijauan berdampak pada lingkungan sehat dan berpotensi memberikan manfaat ekonomi di masa mendatang.
Penerapan aplikasi SIJENTIK DBD dalam pencegahan demam berdarah dengue Perdana, Agung Aji; Nuryani, Dina Dwi; Santoso, Angga Bayu; Pratama, Muhammad Putra; Kartini, Maharani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1584

Abstract

Background: Indonesia, as a tropical country, faces a high burden of vector-borne infectious diseases, particularly dengue fever (DHF), transmitted by the Aedes aegypti mosquito. The high number of DHF cases in Indonesia, including in South Lampung, is influenced by environmental factors, community behavior, and the limitations of manual recording systems for monitoring mosquito larvae. Vector control efforts through national strategies such as 3M Plus and mosquito nest eradication have been implemented, but their effectiveness remains hampered by data accuracy and community participation. In the digital era, the innovative mobile application-based Larvae Recording System (SIJENTIK) offers a solution to improve accuracy, speed, and community engagement in dengue prevention. A community service program in Hajimena Village, South Lampung, aims to empower residents as independent mosquito larvae monitors through the application of SIJENTIK, enabling real-time mosquito larvae monitoring and supporting more targeted health interventions. Purpose: Increase public awareness of dengue fever (DHF) and promote the use of the SIJENTIK DBD application. Method: The activity was conducted in 2025 in Hajimena Village, South Lampung, involving health cadres, health workers, and the community as respondents. The activities included education on dengue hemorrhagic fever (DHF), photo recording of invasive species, manual recording of SIJENTIK data from Aedes aegypti survey forms, and ovitrap construction. The recording was carried out using the SIJENTIK digital application, an interface application that can be installed on smartphones and used in real time. The SIJENTIK DBD application was used as a substitute for the observational technique of recording mosquito larvae through inputting data into the application dashboard, where input data would be directly processed, accumulated, and accessed in real time. Results: This demonstrated a 14.6% increase in knowledge and skills of health workers in recording mosquito larvae. Descriptive data showed that manual recording was slow, data was inaccurate, reporting time was required, and interventions were not timely. Meanwhile, with the SIJENTIK DBD application, the recording process is faster, the data is more accurate, data can be input directly digitally, reports are updated at any time, and intervention actions are faster and more targeted. Conclusion: The SIJENTIK DBD program's educational activities effectively increased the knowledge of healthcare workers, strengthened their ability to record mosquito larvae, and facilitated community monitoring and health education. This digital reporting system accelerated communication, increased transparency, and encouraged community participation, enabling SIJENTIK DBD to become an efficient community-based intervention model for dengue control. Suggestion: Expanding education and implementing SIJENTIK DBD in schools and ensuring its continued implementation at the district level is necessary, along with training for cadres and support from local government policies. Active community involvement as independent mosquito larvae monitors (jumantik) also needs to be increased to ensure consistent monitoring and more effective reduction in dengue cases. Keywords: Community empowerment; Dengue fever; Healthcare workers; SIJENTIK DBD application Pendahuluan: Indonesia sebagai negara tropis menghadapi beban tinggi penyakit menular berbasis vektor, terutama Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Tingginya kasus DBD di Indonesia, termasuk di Lampung Selatan, dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku masyarakat, serta keterbatasan sistem pencatatan manual dalam pemantauan jentik. Upaya pengendalian vektor melalui strategi nasional seperti 3M Plus dan pemberantasan sarang nyamuk telah dilaksanakan, namun efektivitasnya masih terkendala oleh akurasi data dan partisipasi komunitas. Di era digital, inovasi Sistem Pencatatan Jentik (SIJENTIK) berbasis aplikasi seluler hadir sebagai solusi untuk meningkatkan akurasi, kecepatan, dan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan DBD. Program pengabdian masyarakat di Desa Hajimena, Lampung Selatan, bertujuan memberdayakan warga sebagai jumantik mandiri melalui penerapan SIJENTIK, sehingga pemantauan jentik dapat dilakukan secara realtime dan mendukung intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan tentang demam berdarah dengue (DBD) dan sosialisasi penerapan aplikasi SIJENTIK DBD pada masyarakat. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2025 di Desa Hajimena, Lampung Selatan, dengan melibatkan kader kesehatan, tenaga kesehatan, dan masyarakat sebagai responden. Kegiatan berupa penyuluhan mengenai demam berdarah dengue (DBD), pencatatan foto spesies invasif, pencatatan manual SIJENTIK dari formulir survei aedes aegypti, serta konstruksi ovitrap. Pelaksanaan pencatatan menggunakan aplikasi digital SIJENTIK yang merupakan suatu aplikasi interface, dapat diinstalasi pada smartphone dan dapat digunakan secara realtime. Penggunaan aplikasi SIJENTIK DBD adalah sebagai pengganti dalam teknik pencatatan jentik nyamuk hasil observasi yaitu dengan cara menginput pada dashboard aplikasi, dimana data input akan secara langsung diproses, di akumulasi, dan di akses secara realtime. Hasil: Menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kemampuan pekerja kesehatan sebesar 14.6% dalam mencatat jentik nyamuk. Secara deskriptif menunjukkan bahwa dengan pencatatan manual dalam proses pelaksanaan lambat, datanya kurang akurat, diperlukan waktu tertentu untuk membuat laporan, dan tindakan intervensi tidak tepat waktu. Sedangkan, dengan aplikasi SIJENTIK DBD mendapatkan proses pencatatan lebih cepat, datanya lebih akurat, data dapat dinput langsung secara digital, update laporan setiap saat, dan tindakan intervensi menjadi lebih cepat dan tepat sasaran. Simpulan: Kegiatan edukasi program SIJENTIK DBD efektif meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan, memperkuat kemampuan pencatatan jentik, serta memudahkan masyarakat memantau laporan dan memperoleh edukasi kesehatan. Sistem pelaporan digital ini mempercepat komunikasi, meningkatkan transparansi, dan mendorong partisipasi komunitas, sehingga SIJENTIK DBD dapat menjadi model intervensi berbasis masyarakat yang efisien dalam penanggulangan DBD. Saran: Perlunya perluasan edukasi dan penerapan SIJENTIK DBD ke sekolah serta penerapan berkelanjutan di tingkat kabupaten, disertai pelatihan kader dan dukungan kebijakan pemerintah daerah. Keterlibatan aktif masyarakat sebagai jumantik mandiri juga perlu ditingkatkan agar sistem pemantauan berjalan konsisten dan mampu menekan angka kasus DBD secara lebih efektif.
Analisis Spasial Kasus Diare Pada Balita Berdasarkan Penerapan Pilar 1 Dan Pilar 5 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Di Puskesmas Labuhan Ratu Dinarti, Wita; Amirus, Khoidar; nuryani, Dina Dwi; Perdana, Agung Aji
Jurnal Medika Malahayati Vol 9, No 4 (2025): Volume 9 Nomor 4
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v9i4.21745

Abstract

Diare merupakan penyakit endemis yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan masih menjadi salah satu penyebab utama kematian balita di Indonesia. Upaya pencegahan telah dilakukan melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), namun efektivitasnya perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi spasial kasus diare pada balita serta keterkaitannya dengan penerapan STBM pilar 1 (Stop Buang Air Besar Sembarangan) dan pilar 5 (Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga) di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Ratu tahun 2025. Desain penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 99 rumah tangga yang memiliki balita. Data diperoleh melalui survei dan catatan puskesmas, kemudian dianalisis secara univariat dan spasial menggunakan perangkat lunak QGIS. Hasil menunjukkan bahwa seluruh kelurahan telah mencapai status Open Defecation Free (ODF) dengan capaian lebih dari 75%, namun penerapan pilar 5 masih rendah di beberapa kelurahan, yaitu Labuhan Ratu (41,9%), Labuhan Ratu Raya (42,9%), dan Sepang Jaya (45,8%). Analisis spasial memperlihatkan bahwa kasus diare cenderung terkonsentrasi di wilayah dengan pengelolaan limbah yang belum optimal serta drainase terbuka yang rusak akibat banjir. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan STBM pilar 1 belum cukup untuk menurunkan kejadian diare apabila tidak diikuti dengan penerapan pilar 5 secara komprehensif.
Sosialisasi penanganan stunting melalui program satu kelor untuk rumah anda (SAKURA) Nuryani, Dina Dwi; Mawardi, Qholik; Mahendra, M. Reza; Sundari, Sundari; Tambunan, Bella Aldamar; Dwiyanti, Dea Okta; Pasha, Ketut Indah Ayu
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2225

Abstract

Background: The moringa plant (Moringa oleifera) is widely known for its numerous health, nutritional, and economic benefits. Its leaves contain various essential nutrients, such as vitamin A, vitamin C, calcium, iron, and high levels of antioxidants, which play a vital role in preventing malnutrition, boosting immunity, and supporting family health. Through the "One Moringa for Your Home" program in Way Gelang Village, fieldwork students conducted outreach activities and demonstrated the use of moringa plants. Purpose: To raise public awareness of the importance of moringa leaves as a source of family nutrition and to encourage self-reliance in meeting nutritional needs through planting moringa in home gardens. Method: This community service program was implemented on August 16, 2025, at the Way Gelang Village Hall, West Kota Agung District, Tanggamus Regency, involving 36 community members, health cadres, housewives, and village officials as the main partners. The implementation method used an educational approach, socialization, training, mentoring, and community awareness to increase the use of moringa plants in stunting prevention efforts based on local potential. Socialization was delivered through presentations, educational video screenings, and interactive discussions. Evaluation was carried out in a participatory manner through observation of participant involvement and the success of making processed moringa products. As a form of support for the sustainability of the program and encouragement for the community to continue planting moringa in their yards by forming a small group to monitor the moringa planting movement, which functions as a forum for routine monitoring and evaluation with the village government and health cadres. Results: Most people are familiar with the moringa plant, which commonly grows in gardens, but only a small percentage understand that moringa leaves are a good source of nutrition for families. Training and mentoring demonstrated an increase in community motivation and ability to process and cultivate moringa. The distribution of moringa seeds and hands-on practice fostered psychological support and a sense of community togetherness in meeting nutritional standards more economically. Observations from this activity indicate that the community understands the benefits of the moringa plant and is able to process it into various nutritious food products. Conclusion: Community service activities, including education and live demonstrations on the use of Moringa leaves, have been shown to have a positive impact on increasing nutritional awareness and community skills in utilizing Moringa as an economical and sustainable local food source for stunting prevention. Through nutrition education and training in moringa-based food processing, community motivation and behavior change led to healthier food consumption and increased family food security. Suggestion: While program sustainability still requires mentoring and monitoring, it is hoped that the SAKURA program or similar educational programs can become effective models for community-based nutrition interventions in reducing the risk of stunting and improving family health. Keywords: Family nutrition; Health education; Moringa plants; Stunting prevention Pendahuluan: Tanaman kelor (Moringa oleifera) dikenal luas sebagai tanaman yang kaya manfaat dari segi kesehatan, gizi, dan ekonomi. Daunnya mengandung berbagai nutrisi penting seperti vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, dan antioksidan tinggi yang berperan penting dalam mencegah kekurangan gizi, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menunjang kesehatan keluarga. Melalui program “Satu Kelor untuk Rumah Anda (SAKURA)” di Pekon Way Gelang, mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pemanfaatan tanaman kelor. Tujuan: Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya daun kelor sebagai sumber gizi keluarga, serta mendorong kemandirian dalam memenuhi kebutuhan nutrisi melalui penanaman kelor di pekarangan rumah. Metode: Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2025 bertempat di Balai Pekon Way Gelang, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus, dengan melibatkan 36 warga masyarakat, kader kesehatan, ibu rumah tangga, dan perangkat Pekon sebagai mitra utama. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pendidikan, sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan penyadaran masyarakat untuk meningkatkan pemanfaatan tanaman kelor dalam upaya pencegahan stunting berbasis potensi lokal. Sosialisasi disampaikan melalui presentasi, pemutaran video edukasi, dan diskusi interaktif. Evaluasi dilakukan secara partisipatif melalui pengamatan terhadap keterlibatan peserta dan keberhasilan pembuatan produk olahan kelor. Sebagai bentuk dukungan keberlanjutan program dan dorongan bagi masyarakat untuk terus menanam kelor di pekarangan rumah dengan membentuk  kelompok kecil pemantau gerakan tanam kelor, yang berfungsi sebagai wadah monitoring dan evaluasi rutin bersama pemerintah Pekon serta kader kesehatan. Hasil: Sebagian besar masyarakat sudah mengenal tanaman kelor yang biasa tumbuh di areal kebun dan hanya sebagian kecil masyarakat yang memahami bahwa daun kelor merupakan sumber nutrisi yang cukup baik bagi pemenuhan gizi keluarga. Setelah pelatihan dan pendampingan menunjukkan terdapat peningkatan motivasi masyarakat dan kemampuan masyarakat dalam praktik pengolahan dan budidaya kelor. Pembagian bibit kelor dan praktik langsung dalam penerapannya, memberikan semangat pskologis dan kebersamaan pada masyarakat dalam memenuhi standar gizi dengan cara yang lebih ekonomis. Berdasarkan observasi dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa masyarakat telah memahami manfaat tanaman kelor serta mampu mengolahnya menjadi berbagai produk pangan bergizi. Simpulan: Kegiatan pengabdian berupa edukasi dan demonstrasi langsung tentang pemanfaatan daun kelor terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesadaran gizi dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan kelor sebagai sumber pangan lokal yang ekonomis dan berkelanjutan untuk pencegahan stunting. Melalui edukasi gizi, pelatihan pengolahan pangan berbasis kelor memberikan motivasi dan perubahan perilaku masyarakat untuk konsumsi makanan yang lebih sehat dan menciptakan ketahanan pangan keluarga. Saran: Meskipun keberlanjutan program masih memerlukan pendampingan dan monitoring, diharapkan program SAKURA atau program edukasi yang serupa dapat menjadi model intervensi gizi berbasis masyarakat yang efektif dalam menurunkan risiko stunting dan meningkatkan kesehatan keluarga.
Community Outreach on Dengue Fever Prevention and the Use of Ovitraps: A Collaborative Initiative Between the Faculty of Health Sciences, Malahayati University, and Universiti Putra Malaysia Perdana, Agung Aji; Nuryani, Dina Dwi; Sary, Lolita; Muhani, Nova; Aryawati, Wayan; Riyanti, Riyanti; Retnaningsih, Agustina; Winahyu, Diah Astika; Soliha, Annisa Mayang; Arisandi, Syafik; Kartini, Maharani; Pratama, Muhammad Putra
Shihatuna : Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat Vol 6 No 1 (2026): April
Publisher : FKM UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/shihatuna.v6i1.28544

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a significant public health problem in tropical regions, including Indonesia and Malaysia. Population mobility, environmental changes, and limited community participation in vector control contribute to the persistence of dengue transmission. This community service activity was conducted in Hajimena Village, South Lampung Regency, on October 30, 2025, as a promotive and preventive effort in community-based dengue prevention. The program aimed to improve community understanding and awareness of dengue prevention through integrated health education and the utilization of ovitraps as a simple and environmentally friendly appropriate technology. The activity was implemented through collaboration between the Faculty of Health Sciences, Universitas Malahayati, and Universiti Putra Malaysia using a participatory education approach, interactive discussions, and hands-on practice in making and installing ovitraps. The evaluation was conducted using a qualitative descriptive approach through participatory observation, group discussions, and participant feedback. The results indicated an improvement in participants’ understanding of dengue, the life cycle of Aedes aegypti mosquitoes, and the importance of environmental-based vector control. Participants also demonstrated interest and readiness to independently apply ovitraps in their residential environments. This activity highlights that cross- institutional and cross-national collaboration can strengthen promotive and preventive efforts in community-based dengue control.
SPATIAL ANALYSIS OF DENGUE HEMORRHAGIC FEVER CASES IN RELATION TO POPULATION DENSITY IN BANDAR LAMPUNG CITY Ramayudha, Kurnia; Perdana, Agung Aji; Sari, Nurhalina; Nuryani, Dina Dwi
HEARTY Vol 14 No 2 (2026): APRIL
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v14i2.21446

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a significant public health burden in Indonesia, particularly in densely populated urban areas. Bandar Lampung City is classified as an endemic region, with fluctuating case numbers each year. This study aims to analyze the relationship between population density and the distribution of DHF cases using a spatial analysis approach. A cross-sectional ecological design was employed. Secondary data were obtained from the Lampung Provincial Health Office regarding DHF cases and from the Central Bureau of Statistics regarding population density. The analysis involved Pearson’s correlation test to examine the association between population density and case numbers, as well as spatial mapping using QGIS 3.4.11 to illustrate distribution patterns. The findings revealed that DHF cases occurred not only in highly populated areas but also in subdistricts with moderate population density, particularly where the larva-free index (LFI) was low. Correlation tests demonstrated a significant negative relationship in 2022 (r = –0.341; p = 0.049) and 2023 (r = –0.327; p = 0.043), while the result for 2021 was not statistically significant (r = –0.276; p = 0.061). This study concludes that population density is not the primary determinant of DHF incidence. Environmental conditions, sanitation, and community behavior appear to play a more substantial role in disease transmission within Bandar Lampung City.
Co-Authors Adelita, Audrey Afrida Afrida Agung Aji Perdana Agusman, Gilang Ahcmad Farich Amelia , Nur Aminah, Mina Angelina, Christin Anggi, Anggi ani ani Anna Dian Puspitasari Aprina, Aprina Ardana, Veronika Arisandi, Syafik Arwanti Arwanti Aryastuti, Nurul Aryawati, Wayan Asedki, Muhammad Andika Aditya Atmojo, Guntur Tri Aulia Aulia Auliyani, Vievie Chrisanto, Eka Yudha Christin Angelina Febriani Citra, Citra Wahyu Desty Monica Ramadayanti Dewi Astuti Dias Dumaika Dinarti, Wita Dwiyanti, Dea Okta Easter Yanti, Dhiny Eka Yuliana Ekasari, Fitri Eko Kurniawan Erna Listyaningsih Evayanti, Yulistiana Fatmawaty , Desy Fazirah, Aldy Febri Anandita Suralag Febriani Putri, Devita Fesliria, Eka Fitriani Fitriani Forcepta, Chania Gewang, Annissa Achmadsyah Ghozali, Derby Haq, Zam Zam Abdul Harisman Harisman Herwan Dinata I Gusti Made Yoga Astawa Ima Yustitia Indah Ismalia Indriyani, Jelita Hanan Inpantri, Karista Putri Irianto, Torry Duet Islalia, Indah Karbito Karbito, Karbito Kartini, Maharani Kartini, Maharani Khoidar Amirus Kurniati, Mala Lestari, Enti Lolita Sari Lolita Sary Mahendra, M. Reza Mardiansyah Mardiansyah, Mardiansyah MARIA BINTANG Mariana, Rani Marina Susanti Masdiana Masdiana Mawardi, Qholik Meli Maulina Sari Melisah Melisah Meliyana, Rossy Muhammad Fazar Sidiq Alhayat Muhani, Nova Mulyanto, Hendra Natalina Natalina Navila, Navila Nina Sopiyana Nova Muhani Novita Sari Nugroho Nugroho Nurhalina Sari Nurul, Aryastuti Oktarina, Devi Oktavia, Melin Pasha, Ketut Indah Ayu Pratama, Muhammad Putra Prima Dian Furqoni Purnama, Ade Sinta Putra, Gilang Ramadhan Putri, Bella Tania Putri, Delima Selviyani Putri, Govindha Putriani, Eliana Rafika, Echa Ramayudha, Kurnia Retnaningsih, Agustina Retno Pinarsih Rian Hidayat Riyanti Riyanti Rizqy, Muhammad Alva Romadon, Fiqri Ardiansyah Rossy Meliyana Safitri, Devi Nilam Laila Saleh Saleh Salsabilla, Shifa Samino Samino Samino Santoso, Angga Bayu Sari, Fitri Eka Sari, Lolita Sastini, Ketut Sativa, Rizki Rozha Sembiring, Rinawati Setiawati Setiawati SETIAWATI, ENDANG Silfy Adelia Slamet Riyadi Soliha, Annisa Mayang Sulistiyani, Sulistiyani Sundari Sundari Suralaga, Febri Anindita Suwito Suwito Syamsiar, Syamsiar Syarifah, Dinda Rachma Tambunan, Bella Aldamar Taupiqurrahman, R. M. Titin Septina Tretilia, Putu Rara Triranti, Asih Ulfa Nurullita Ulfa, Ade Maria Utami, Vida Wira Wibisono , Chandra Wijaya, Lintang Tri Winahyu, Diah Astika yani, cindri Yanti, Dhiny Easter Yanti, Dhiny Ester Yolandha, Vivi Yulyani, Vera