Claim Missing Document
Check
Articles

Kegiatan menjaga kesehatan lingkungan dengan pemanfaatan sampah plastik menjadi eco paving block Nuryani, Dina Dwi; Navila, Navila; Ghozali, Derby; Mardiansyah, Mardiansyah; Wibisono , Chandra; Nugroho, Nugroho; Taupiqurrahman, R. M.; Amelia , Nur; Salsabilla, Shifa
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1578

Abstract

Background: A clean and healthy environment is a basic need for society and a crucial factor in improving the quality of life and supporting sustainable development. However, the increase in non-biodegradable plastic waste causes serious environmental and health problems. Effective plastic waste management through innovative recycling practices is essential. Effective plastic waste management is a major challenge in maintaining environmental cleanliness and sustainability. Purpose: To improve community understanding and skills in processing plastic waste into environmentally friendly and economically valuable eco-paving blocks. Method: This community service activity was conducted on Saturday, August 16, 2025, in Kandang Besi Village. The participant population was 35 people, consisting of representatives from eight hamlets from Kandang Besi, Tanjung Betuah, Sukajaya, Kembahang, Bandung Jaya, Sinar Jaya, Sinar Baru, and Tuban. The activity included education on plastic waste utilization with the theme SAPA BUMI (Plastic Waste for Paving, Clean for the Earth) and a demonstration of eco-paving block production. Results: A composition of 20% aggregate (sand), 60% plastic waste, and 20% used oil (solvent) produced poor quality and fragile eco paving blocks. Meanwhile, a second test, using 30% aggregate (sand), 60% plastic waste, and 10% used oil (solvent), produced fairly good, more solid, and less fragile eco paving blocks. Increasing public understanding through this innovation has the potential to reduce plastic waste accumulation while increasing the community's economic value through environmentally friendly products. Conclusion: Community service activities involving education on the use of plastic waste have successfully increased public understanding regarding plastic waste management, particularly as a raw material for making eco paving blocks and maintaining environmental health. Suggestion: Further research and technological development are recommended to ensure wider and more sustainable application of eco paving blocks. Keywords: Eco paving blocks; Environmental health; Community empowerment; Plastic waste; Waste management Pendahuluan: Lingkungan hidup yang bersih dan sehat merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat dan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Namun, peningkatan limbah plastik yang sulit terurai secara alami menyebabkan masalah serius bagi lingkungan dan kesehatan. pengelolaan limbah plastik yang efektif melalui inovasi pemanfaatan ulang sangat diperlukan Pengelolaan limbah plastik yang efektif menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah plastik menjadi bahan baku eco paving block yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Metode: Pengabdian Masyarakat ini dilakukan pada hari Sabtu, 16 Agustus 2025, di Pekon Kandang Besi. Populasi peserta kegiatan ini adalah 35 orang yang terdiri dari perwakilan 8 dusun dari Kandang Besi, Tanjung Betuah, Sukajaya, Kembahang, Bandung Jaya, Sinar Jaya, Sinar Baru dan Tuban. Kegiatan terdiri dari edukasi mengenai pemanfaatan sampah plastik dengan tema SAPA BUMI (Sampah Plastik untuk Paving, Bersih untuk Bumi) dan demonstrasi pembuatan eco paving block. Hasil: Dengan komposisi agregat (pasir) 20%, Limbah plastik (60%), dan Oli bekas (pelarut) 20% menghasilkan eco paving block yang kurang baik dan rapuh, sedangkan untuk uji kedua dimana dengan komposisi agregat (pasir) 30%, Limbah plastik (60%), dan Oli bekas (pelarut) 10% menghasilkan eco paving block yang cukup baik dan lebih solid tidak rapuh. Meningkatnya pemahaman masyarakat dengan inovasi ini berpotensi mengurangi akumulasi limbah plastik sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat melalui produk ramah lingkungan. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi pemanfaatan limbah sampah plastik berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah plastik, khususnya sebagai bahan baku pembuatan eco paving block dan menjaga kesehatan lingkungan. Saran: Diharapkan untuk melakukan penelitian lanjutan serta pengembangan teknologi agar penerapan eco paving block dapat lebih luas dan berkelanjutan.
Kegiatan memanfaatkan lahan pekarangan dengan penanaman bibit pohon sebagai upaya pelestarian lingkungan sehat Nuryani, Dina Dwi; Triranti, Asih; Mulyanto, Hendra; Indriyani, Jelita Hanan; Inpantri, Karista Putri; Tretilia, Putu Rara; Auliyani, Vievie; Haq, Zam Zam Abdul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1579

Abstract

Background: The environment is a vital component of human life that must be preserved and maintained sustainably. This situation presents a real challenge that requires the active participation of all levels of society, including higher education institutions, in efforts to address and minimize the impacts. The One Tree One Hope (SPASHA) Program is a form of community service implemented by students from the Community Service Program (KKLPPM) at Malahayati University in Kandang Besi Village, West Kota Agung District, Tanggamus Regency. Purpose: To raise public awareness of environmental conservation, yard utilization, and productive tree planting. Method: Community education through outreach, seedling distribution, planting site determination, and tree planting through mutual cooperation involving the community, village heads, supervising lecturers, and village officials. A total of 100 tree seedlings, consisting of 50 avocado and 50 mixed seedlings (durian, jengkol, and petai) were distributed to eight hamlets. Method: Community education through socialization, seedling distribution, determining planting points, and tree planting through mutual cooperation involving the community, village heads, supervising lecturers, and village officials. A total of 100 tree seedlings, consisting of 50 avocados and 50 mixed seedlings (durian, jengkol, and petai) were distributed to eight hamlets. Results: The activity demonstrated community enthusiasm and active participation, which are indicators of the program's success. In addition to providing ecological benefits such as improved air quality, carbon sequestration, and ecosystem preservation, the program also has the potential to improve community well-being through economically valuable harvests. Conclusion: The One Tree One Hope (SPASHA) movement, a form of community service in environmental conservation, successfully engaged the community actively through outreach, seedling distribution, planting site determination, and tree planting. Community enthusiasm demonstrates that reforestation activities have an impact on a healthy environment and have the potential to provide future economic benefits. Keywords: Environmental health; Land use; Plant conservation; Tree planting Pendahuluan: Lingkungan hidup merupakan komponen penting dalam kehidupan manusia yang harus dijaga kelestariannya dan dilestarikan secara berkesinambungan. Kondisi ini menjadi tantangan nyata yang membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk lembaga pendidikan tinggi, dalam upaya mengatasi dan meminimalisasi dampak yang ditimbulkan. Program Satu Pohon Satu Harapan (SPASHA) merupakan bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKLPPM Universitas Malahayati di Pekon Kandang Besi, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus. Tujuan: Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan, pemanfaatan lahan pekarangan dan penanaman pohon produktif. Metode: Community education melalui sosialisasi, penyerahan bibit, penentuan titik tanam, serta penanaman pohon secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat, kepala pekon, dosen pembimbing, dan perangkat desa. Sebanyak 100 bibit pohon, terdiri atas 50 alpukat dan 50 bibit campuran (durian, jengkol, dan petai) didistribusikan ke delapan dusun. Hasil: Kegiatan menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif masyarakat, yang menjadi indikator keberhasilan program. Selain memberikan manfaat ekologis berupa perbaikan kualitas udara, penyerapan karbon, dan pelestarian ekosistem, program ini juga memiliki potensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hasil panen yang bernilai ekonomi. Simpulan: Kegiatan gerakan Satu Pohon Satu Harapan (SPASHA) merupakan bentuk pengabdian masyarakat dalam bidang pelestarian lingkungan, berhasil melibatkan masyarakat secara aktif melalui tahapan sosialisasi, penyerahan bibit, penentuan titik tanam, dan penanaman bibit pohon. Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan penghijauan berdampak pada lingkungan sehat dan berpotensi memberikan manfaat ekonomi di masa mendatang.
Penerapan aplikasi SIJENTIK DBD dalam pencegahan demam berdarah dengue Perdana, Agung Aji; Nuryani, Dina Dwi; Santoso, Angga Bayu; Pratama, Muhammad Putra; Kartini, Maharani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1584

Abstract

Background: Indonesia, as a tropical country, faces a high burden of vector-borne infectious diseases, particularly dengue fever (DHF), transmitted by the Aedes aegypti mosquito. The high number of DHF cases in Indonesia, including in South Lampung, is influenced by environmental factors, community behavior, and the limitations of manual recording systems for monitoring mosquito larvae. Vector control efforts through national strategies such as 3M Plus and mosquito nest eradication have been implemented, but their effectiveness remains hampered by data accuracy and community participation. In the digital era, the innovative mobile application-based Larvae Recording System (SIJENTIK) offers a solution to improve accuracy, speed, and community engagement in dengue prevention. A community service program in Hajimena Village, South Lampung, aims to empower residents as independent mosquito larvae monitors through the application of SIJENTIK, enabling real-time mosquito larvae monitoring and supporting more targeted health interventions. Purpose: Increase public awareness of dengue fever (DHF) and promote the use of the SIJENTIK DBD application. Method: The activity was conducted in 2025 in Hajimena Village, South Lampung, involving health cadres, health workers, and the community as respondents. The activities included education on dengue hemorrhagic fever (DHF), photo recording of invasive species, manual recording of SIJENTIK data from Aedes aegypti survey forms, and ovitrap construction. The recording was carried out using the SIJENTIK digital application, an interface application that can be installed on smartphones and used in real time. The SIJENTIK DBD application was used as a substitute for the observational technique of recording mosquito larvae through inputting data into the application dashboard, where input data would be directly processed, accumulated, and accessed in real time. Results: This demonstrated a 14.6% increase in knowledge and skills of health workers in recording mosquito larvae. Descriptive data showed that manual recording was slow, data was inaccurate, reporting time was required, and interventions were not timely. Meanwhile, with the SIJENTIK DBD application, the recording process is faster, the data is more accurate, data can be input directly digitally, reports are updated at any time, and intervention actions are faster and more targeted. Conclusion: The SIJENTIK DBD program's educational activities effectively increased the knowledge of healthcare workers, strengthened their ability to record mosquito larvae, and facilitated community monitoring and health education. This digital reporting system accelerated communication, increased transparency, and encouraged community participation, enabling SIJENTIK DBD to become an efficient community-based intervention model for dengue control. Suggestion: Expanding education and implementing SIJENTIK DBD in schools and ensuring its continued implementation at the district level is necessary, along with training for cadres and support from local government policies. Active community involvement as independent mosquito larvae monitors (jumantik) also needs to be increased to ensure consistent monitoring and more effective reduction in dengue cases. Keywords: Community empowerment; Dengue fever; Healthcare workers; SIJENTIK DBD application Pendahuluan: Indonesia sebagai negara tropis menghadapi beban tinggi penyakit menular berbasis vektor, terutama Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Tingginya kasus DBD di Indonesia, termasuk di Lampung Selatan, dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku masyarakat, serta keterbatasan sistem pencatatan manual dalam pemantauan jentik. Upaya pengendalian vektor melalui strategi nasional seperti 3M Plus dan pemberantasan sarang nyamuk telah dilaksanakan, namun efektivitasnya masih terkendala oleh akurasi data dan partisipasi komunitas. Di era digital, inovasi Sistem Pencatatan Jentik (SIJENTIK) berbasis aplikasi seluler hadir sebagai solusi untuk meningkatkan akurasi, kecepatan, dan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan DBD. Program pengabdian masyarakat di Desa Hajimena, Lampung Selatan, bertujuan memberdayakan warga sebagai jumantik mandiri melalui penerapan SIJENTIK, sehingga pemantauan jentik dapat dilakukan secara realtime dan mendukung intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan tentang demam berdarah dengue (DBD) dan sosialisasi penerapan aplikasi SIJENTIK DBD pada masyarakat. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2025 di Desa Hajimena, Lampung Selatan, dengan melibatkan kader kesehatan, tenaga kesehatan, dan masyarakat sebagai responden. Kegiatan berupa penyuluhan mengenai demam berdarah dengue (DBD), pencatatan foto spesies invasif, pencatatan manual SIJENTIK dari formulir survei aedes aegypti, serta konstruksi ovitrap. Pelaksanaan pencatatan menggunakan aplikasi digital SIJENTIK yang merupakan suatu aplikasi interface, dapat diinstalasi pada smartphone dan dapat digunakan secara realtime. Penggunaan aplikasi SIJENTIK DBD adalah sebagai pengganti dalam teknik pencatatan jentik nyamuk hasil observasi yaitu dengan cara menginput pada dashboard aplikasi, dimana data input akan secara langsung diproses, di akumulasi, dan di akses secara realtime. Hasil: Menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kemampuan pekerja kesehatan sebesar 14.6% dalam mencatat jentik nyamuk. Secara deskriptif menunjukkan bahwa dengan pencatatan manual dalam proses pelaksanaan lambat, datanya kurang akurat, diperlukan waktu tertentu untuk membuat laporan, dan tindakan intervensi tidak tepat waktu. Sedangkan, dengan aplikasi SIJENTIK DBD mendapatkan proses pencatatan lebih cepat, datanya lebih akurat, data dapat dinput langsung secara digital, update laporan setiap saat, dan tindakan intervensi menjadi lebih cepat dan tepat sasaran. Simpulan: Kegiatan edukasi program SIJENTIK DBD efektif meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan, memperkuat kemampuan pencatatan jentik, serta memudahkan masyarakat memantau laporan dan memperoleh edukasi kesehatan. Sistem pelaporan digital ini mempercepat komunikasi, meningkatkan transparansi, dan mendorong partisipasi komunitas, sehingga SIJENTIK DBD dapat menjadi model intervensi berbasis masyarakat yang efisien dalam penanggulangan DBD. Saran: Perlunya perluasan edukasi dan penerapan SIJENTIK DBD ke sekolah serta penerapan berkelanjutan di tingkat kabupaten, disertai pelatihan kader dan dukungan kebijakan pemerintah daerah. Keterlibatan aktif masyarakat sebagai jumantik mandiri juga perlu ditingkatkan agar sistem pemantauan berjalan konsisten dan mampu menekan angka kasus DBD secara lebih efektif.
Co-Authors Adelita, Audrey Afrida Afrida Agung Aji Perdana Agusman, Gilang Ahcmad Farich Amelia , Nur Aminah, Mina Angelina, Christin Anggi, Anggi ani ani Anna Dian Puspitasari Aprina, Aprina Ardana, Veronika Arwanti Arwanti Aryastuti, Nurul Asedki, Muhammad Andika Aditya Atmojo, Guntur Tri Aulia Aulia Auliyani, Vievie Chrisanto, Eka Yudha Christin Angelina Febriani Citra, Citra Wahyu Desty Monica Ramadayanti Dewi Astuti Dias Dumaika Easter Yanti, Dhiny Eka Yuliana Ekasari, Fitri Eko Kurniawan Erna Listyaningsih Evayanti, Yulistiana Fatmawaty , Desy Fazirah, Aldy Febri Anandita Suralag Febriani Putri, Devita Fesliria, Eka Fitriani Fitriani Forcepta, Chania Gewang, Annissa Achmadsyah Ghozali, Derby Haq, Zam Zam Abdul Harisman Harisman Herwan Dinata I Gusti Made Yoga Astawa Ima Yustitia Indah Ismalia Indriyani, Jelita Hanan Inpantri, Karista Putri Irianto, Torry Duet Islalia, Indah Karbito Karbito, Karbito Kartini, Maharani Khoidar Amirus Kurniati, Mala Lestari, Enti Lolita Sari Lolita Sary Mardiansyah Mardiansyah, Mardiansyah MARIA BINTANG Mariana, Rani Marina Susanti Masdiana Masdiana Meli Maulina Sari Melisah Melisah Meliyana, Rossy Muhammad Fazar Sidiq Alhayat Muhani, Nova Mulyanto, Hendra Natalina Natalina Navila, Navila Nina Sopiyana Nova Muhani Novita Sari Nugroho Nugroho Nurhalina Sari Nurul, Aryastuti Oktarina, Devi Oktavia, Melin Pratama, Muhammad Putra Prima Dian Furqoni Purnama, Ade Sinta Putra, Gilang Ramadhan Putri, Bella Tania Putri, Delima Selviyani Putri, Govindha Putriani, Eliana Rafika, Echa Retno Pinarsih Rian Hidayat Rizqy, Muhammad Alva Romadon, Fiqri Ardiansyah Rossy Meliyana Safitri, Devi Nilam Laila Saleh Saleh Salsabilla, Shifa Samino Samino Samino Santoso, Angga Bayu Sari, Fitri Eka Sari, Lolita Sastini, Ketut Sativa, Rizki Rozha Sembiring, Rinawati Setiawati Setiawati SETIAWATI, ENDANG Silfy Adelia Slamet Riyadi Sulistiyani, Sulistiyani Suralaga, Febri Anindita Suwito Suwito Syamsiar, Syamsiar Syarifah, Dinda Rachma Taupiqurrahman, R. M. Titin Septina Tretilia, Putu Rara Triranti, Asih Ulfa Nurullita Ulfa, Ade Maria Utami, Vida Wira Wibisono , Chandra Wijaya, Lintang Tri yani, cindri Yanti, Dhiny Easter Yanti, Dhiny Ester Yolandha, Vivi Yulyani, Vera