Claim Missing Document
Check
Articles

Parotidektomi Superfisial pada Adenoma Pleomorfik Shintia Putri Wulandari
Majalah Kedokteran Andalas Vol 45, No 3 (2022): Online July 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v45.i3.p467-477.2022

Abstract

Pendahuluan: Tumor parotis merupakan tumor kelenjar liur yang paling sering terjadi. Sebagian besar dari tumor kelenjar parotis adalah jinak. Adenoma pleomorfik merupakan tumor jinak kelenjar liur terbanyak sekitar 60-80% dari seluruh neoplasma di kelenjar liur, dan paling sering ditemukan pada kelenjar parotis sebanyak 85%. Diagnosis adenoma pleomorfik ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, dan pemeriksaan penunjang dengan Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH), pemeriksaan radiologis, dan histopatologi massa tumor. Penatalaksanaa tumor jinak parotis adalah dengan eksisi tumor secara lengkap yaitu dengan parotidektomi dan preservasi saraf fasialis.  Laporan Kasus : Dilaporkan satu kasus pasien perempuan 30 tahun yang didiagnosis dengan adenoma pleomorfik parotis sinistra yang ditatalakasana dengan parotidektomi superfisial. Kesimpulan : Tumor jinak pada kelenjar liur yang paling sering terjadi di kelenjar parotis adalah adenoma pleomorfik. Parotidektomi superfisial merupakan standar operasi pada tumor jinak pada lobus superfisial kelenjar parotis dengan preservasi saraf fasialis. 
Karakteristik Klinis dan Patologis Pasien Tumor Parotis di RSUP Dr. M. Djamil Padang Astri Sentyaningrum; Sukri Rahman; Roslaili Rasyid
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 2 No 1 (2021): Maret 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1473.639 KB) | DOI: 10.25077/jikesi.v2i1.307

Abstract

Background: Parotid tumor is a tumor supporter of saliva that occurs most often among the tumors present in other saliva. Parotid tumor is a tumor with a slow progression rate, so that it makes patients serve to seek treatment.Objective: This study aims to determine the characteristics of parotid tumor patients in RSUP. Dr. M. Djamil Padang.Methods: This type of research is descriptive with a retrospective approach. This research was conducted from March to August 2020 at the Medical Record Installation of Dr. M. Djamil Padang with a total sample of 30 people and used a total sampling technique.Results: The most cases of parotid tumor were found in 2018. Parotid tumors were more often seen in women than men with the largest age range of 51 - 60 years. The main complaint is generally a lump behind the ear. Parotid tumor clinical symptoms consist of a lump behind the ear, followed by pain in the lump and others. The most histopathological types found were pleomorphic adenoma for the benign type and mucoepidermoid carcinoma for the malignant type.Conclusion: parotid tumors are more common in women, the most age range is 51 - 60 years, the main complaint is generally a lump behind the ear. The most clinical symptoms are a lump behind the ear, and the most benign parotid tumor histopathology is pleomorphic adenoma while the malignant type is carcinoma. mucoepidermoid.
EPIDERMAL GROWTH FACTOR RECEPTOR EXPRESSION IN NON-KERATINIZED NASOPHARYNGEAL CARCINOMA SUBTYPE AT PADANG Histawara Subroto; Sukri Rahman; Bestari J Budiman; Aswiyanti Asri; Hafni Bachtiar
INTERNATIONAL JOURNAL OF NASOPHARYNGEAL CARCINOMA Vol. 1 No. 02 (2019): International Journal of Nasopharyngeal Carcinoma
Publisher : TALENTA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.682 KB) | DOI: 10.32734/ijnpc.v1i2.1140

Abstract

Introduction: Patients with nasopharyngeal carcinoma have a poor prognosis, there are several factors that cause it to happen, one of the existing therapeutic response has been inadequate. Expression of Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) has been used as a biological marker targeted therapy in nasopharyngeal carcinoma. Histopathologic subtype tumors also determine the prognosis of patients with nasopharyngeal carcinoma. Objective: The aim of the study to determine between the expression of epidermal growth factor receptor between non-keratinized differentiated and undifferentiated subtypes in nasopharyngeal carcinoma and correlation with their clinical stage. Study design, Cross-sectional comparative study. Place and duration study, Department of Otorhinolaryngology, Department of Pathology Anatomy in Dr. M. Djamil Hospital, Padang and Department of Pathology Anatomy in Gajah Mada University, between May 2015 until October 2015 Material and methods: We included 36 samples paraffin blocks of nasopharyngeal carcinoma biopsy, respectively 18 paraffin blocks are non-keratinized differentiated and 18 non-keratinized undifferentiated nasopharyngeal carcinoma subtypes. Each sample examined EGFR expression by immunohistochemical staining methods. Results: There were positive EGFR expression results in all sample as 69.4%. Expression of EGFR positive non-keratinized differentiated subtypes in nasopharyngeal carcinoma as 77.8% and undifferentiated subtype as 61.6%. There are no significant differences of EGFR expression between non keratinized differentiated and undifferentiated subtypes nasopharyngeal carcinoma (P>0.05). There are no significant differences of EGFR expression between new and advanced stage nasopharyngeal carcinoma (P>0.05). Conclusion: There were no significant differences of EGFR expression between non-keratinized differentiated and non-keratinized undifferentiated subtypes in nasopharyngeal carcinoma. Analysis of the study also showed no significant differences of EGFR expression based on the clinical stage nasopharyngeal carcinoma.
Karakteristik Pasien COVID-19 Simtomatik dan Asimtomatik di Rumah Sakit Amellya Sucieta; Sabrina Ermayanti; Sukri Rahman
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 3 No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v3i1.729

Abstract

Latar Belakang: Karakteristik pasien COVID-19 diperlukan dalam pengendalian pandemi COVID-19. Beragamnya gejala klinis yang muncul, mulai dari asimtomatik sampai kritis menyebabkan perbedaan dalam diagnosis, isolasi, dan pengobatan pasien. Pasien asimtomatik dapat bertindak sebagai karier yang menyebarkan virus kepada orang lain. Pasien simtomatik dengan gejala ringan sampai berat memerlukan intervensi dan pengobatan yang berbeda untuk mencegah penularan dan perburukan klinis. Perbedaan intervensi juga perlu mempertimbangkan durasi konversi negatif yang berkaitan dengan risiko penularan dan peningkatan kasus COVID-19. Objektif: Tinjauan literatur ini bertujuan untuk memberikan gambaran karakteristik pasien COVID-19 simtomatik dan asimtomatik di rumah sakit. Metode: Pencarian artikel penelitian bersumber dari database PUBMED dan ScienceDirect, yang melalui proses penyaringan dan analisis data. Hasil: Tinjauan ini dilakukan terhadap 13 artikel penelitian yang terdiri dari: 3 artikel meneliti pasien simtomatik, 4 artikel meneliti pasien asimtomatik, 6 artikel meneliti pasien simtomatik dan asimtomatik. Prevalensi pasien COVID-19 simtomatik di rumah sakit lebih banyak dibandingkan pasien asimtomatik. Pasien simtomatik lebih banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih tua dibandingkan pasien asimtomatik. Pasien simtomatik memiliki median usia berkisar antara 22-69 tahun, sedangkan pasien asimtomatik berkisar antara 19-37 tahun. Sebagian besar studi menemukan dominasi laki-laki pada kelompok pasien simtomatik, dan perempuan pada kelompok pasien asimtomatik. Durasi konversi negatif hasil pemeriksaan RT-PCR pada pasien simtomatik dan asimtomatik dari tinjuan ini tidak ditemukan perbedaan signifikan. Kesimpulan: Durasi konversi negatif dalam penentuan bebas isolasi pasien COVID-19 perlu mempertimbangkan durasi sejak awal terkonfirmasi positif pada pasien asimtomatik, pertimbangan perbaikan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang pada pasien simtomatik.
Hubungan Jumlah Trombosit dengan Stadium Karsinoma Nasofaring di RSUP Dr. M. Djamil Padang Nadhifa Naura Reyani; Sukri Rahman; Syamel Muhammad
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i1.1071

Abstract

Latar Belakang: Karsinoma nasofaring merupakan keganasan paling umum dan sangat invasif, serta menempati peringkat keempat untuk kanker tersering yang terjadi di Indonesia. Beberapa faktor yang berhubungan dengan pasien diketahui memiliki pengaruh dalam hasil pengobatan, salah satunya jumlah trombosit. Jumlah trombosit yang tinggi sebelum terapi merupakan indikator prognosis buruk dan metastasis jauh pada karsinoma nasofaring. Objektif: Mengetahui hubungan jumlah trombosit dengan stadium karsinoma nasofaring di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan metode cross sectional. Penelitian ini menggunakan data rekam medis pasien karsinoma nasofaring tahun 2015-2020 di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Data yang didapatkan dari penelitian ini akan dilakukan analisis dengan menggunakan uji pearson chi-square. Kemaknaan statistik ditentukan jika nilai p<0,05 (IK 95%). Hasil: Hasil penelitian ini didapatkan 101 sampel dan sebagian besar penderita karsinoma nasofaring adalah laki-laki (60,4%). Penderita paling banyak memiliki usia di atas 40 tahun (76,2%) dan stadium IV merupakan stadium terbanyak. Sebagian besar sampel memiliki jumlah trombosit >300×109/L (67,3%) dengan rerata 369×109/L. Jumlah trombosit yang tinggi didapatkan paling banyak pada stadium lanjut. Hasil dari analisis bivariat antara jumlah trombosit dengan stadium karsinoma nasofaring yaitu p=0,308 (p>0,05). Kesimpulan: tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah trombosit dengan stadium karsinoma nasofaring.
The role of Programmed Death-Ligand 1 expression in nasopharyngeal carcinoma Nadya Dwi Karsa; Sukri Rahman
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 50 No. 2 (2020): Volume 50, No. 2 July - December 2020
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v50i2.327

Abstract

ABSTRACTBackground: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a malignant tumor that arises from the epithelial cell that cover surface of the nasopharynx, which has the highest incidence of all types of head and neck cancer. Cell-mediated immunity plays an important role in the growth and development of NPC. The expressions of Programmed Death-Ligand 1 (PD-L1) of NPC is still being debated and researched. Objective: To find out and understand the role of PD-L1 expression in NPC. Literature review: PD-L1 is a ligand from Programmed Death-1 (PD-1) receptors that could be expressed by cancer cells. When the PD-1/PD-L1 pathway is active, it promotes survival of cancer cells via anti apoptotic signals and inhibits the activation of signaling pathways, which are critical for survival of T cells. Conclusion: Various studies had found an increase of the PD-L1 expression in NPC cancer cells. PD-L1 is also a potentially important tumor immunotherapy target and can be a significant prognostic factor in NPC. ABSTRAKLatar belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan suatu tumor ganas epitelial nasofaring yang mempunyai insiden tertinggi di antara kanker kepala dan leher. Imunitas selular mempunyai peran penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan KNF. Ekspresi Programmed Death-Ligand  1 (PD-L1) pada KNF masih diperdebatkan dan diteliti. Tujuan: Mengetahui dan memahami peran PD-L1 terhadap kejadian KNF. Tinjauan Pustaka: PD-L1 merupakan ligan dari reseptor Programmed Death-1 (PD-1) yang dapat diekpresikan oleh sel kanker. Jalur PD-1 / PD-L1 yang teraktivasi akan melindungi sel kanker melalui sinyal anti apoptosis dan menghambat aktivasi jalur-jalur pengiriman sinyal lain yang sangat penting untuk kelangsungan hidup sel T. Kesimpulan: Berbagai penelitian menemukan adanya peningkatan ekspresi PD-L1 pada sel kanker KNF. PD-L1 menjadi suatu target imunoterapi yang sangat penting dalam meningkatkan respon imun terhadap sel kanker dan dapat dijadikan suatu faktor prognosis pada KNF.
The role of human leucocyte antigen in nasopharyngeal carcinoma Rahman, Sukri; Sari, Jenny Tri Yuspita; Grecwin, Debby Apri; Hafiz, Al
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 52 No. 1 (2022): VOLUME 52, NO. 1 JANUARY - JUNE 2022
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v52i1.487

Abstract

ABSTRACTBackground: The cause of Nasopharungeal Carcinoma (NPC) is an interaction of multiple factors. The main etiologic factors are Epstein-Barr virus (EBV) infection which interacts with genetic susceptibility, and environmental factors. The growth of malignancy due to the virus is largely determined by the host immune response. Human leukocyte antigen (HLA) plays a significant role in presenting viral antigens, which is the key in determining the impact of the host immune response against this viral infection. Purpose: To discuss the role of HLA in NPC. Literature review: Individuals with specific HLA alleles may experience a decreased ability to present viral antigens and be less efficient in triggering an immune response against EBV-infected cells resulting in increased susceptibility to NPC and vice versa, so those specific HLA alleles may be protective. Various studies have reported the association of HLA alleles with NPC. The results of these studies are not always consistent. In the study of HLA class I, HLA-A2 and HLA-B46 alleles were the most consistently increasing frequency in NPC, while HLA-A11, HLA-B13, and HLA-B27 alleles were associated with a decreased risk of NPC. The HLA-DRB1*03, *08, *09, and *10 alleles contributed to susceptibility to NPC, while the HLA-DRB1*11 and *12 alleles were protective factors against NPC. Conclusion: Genetic factors are important risk factors for NPC, many studies have consistently reported the role of HLA in the pathogenesis of NPC, where specific HLA alleles cause susceptibility to NPC growth, but several HLA alleles are also associated with a reduced risk of NPC.ABSTRAKLatar belakang: Penyebab terjadinya Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan interaksi dari beberapa faktor. Faktor etiologi utama adalah infeksi virus Epstein-Barr (EBV) yang berinteraksi dengan kerentanan genetik, dan faktor lingkungan. Pertumbuhan keganasan akibat virus sangat ditentukan oleh respon imun host. Human Leucocyte Antigen (HLA) berperan penting dalam penyajian antigen virus, yang merupakan kunci dalam menentukan dampak respon imun host terhadap infeksi virus ini. Tujuan: Membahas peran HLA pada KNF. Tinjauan pustaka: Individu dengan alel HLA spesifik dapat mengalami penurunan kemampuan untuk mempresentasikan antigen virus dan kurang efisien dalam memicu respon imun terhadap sel yang terinfeksi EBV yang mengakibatkan peningkatan kerentanan terhadap KNF dan sebaliknya, sehingga alel HLA tertentu mungkin bersifat protektif. Berbagai penelitian telah melaporkan hubungan alel HLA dengan KNF. Hasil dari berbagai penelitian tersebut tidak selalu konsisten. Pada studi HLA kelas I, alel HLA-A2 dan HLA-B46 adalah yang paling konsisten frekuensinya meningkat pada KNF, sedangkan alel HLA-A11, HLA-B13 dan HLA-B27 dikaitkan dengan penurunan risiko KNF. Alel HLA-DRB1*03, *08, *09 dan *10 berkontribusi terhadap kerentanan terhadap KNF, sedangkan alel HLA-DRB1*11 dan *12 merupakan faktor protektif terhadap KNF. Kesimpulan: Faktor genetik merupakan faktor risiko penting pada KNF, berbagai penelitian konsisten melaporkan peran HLA dalam patogenesis KNF, di mana alel HLA tertentu menyebabkan kerentanan terhadap pertumbuhan KNF, sementara beberapa alel HLA juga terkait dengan penurunan risiko KNF.
Vitamin D levels in nasopharyngeal carcinoma of the Minangkabau ethnic group Rahman, Sukri; Ali, Hirowati; Indra, Beni
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 53 No. 1 (2023): VOLUME 53, NO. 1 JANUARY - JUNE 2023
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v53i1.613

Abstract

Background: The etiology of nasopharyngeal carcinoma (NPC) is not yet known with certainty, but is suspected to be an interaction of multiple factors. Nasopharyngeal carcinoma is closely related to Epstein-Barr virus (EBV) infection which interacts with genetic susceptibility and environmental factors. Various studies have reported the relationship of vitamin D with the risk of various cancers, but very little research has a relationship with NPC. Objective: This study was conducted to analyze the association of vitamin D levels with nasopharyngeal carcinoma in the Minangkabau ethnic group. Methods: This study was a cross-sectional study comparing plasma levels of vitamin D (25(OH)D) in new patients with NPC of the Minangkabau ethnic who were treated at Dr. M. Djamil Padang with healthy control plasma. Result: This study found that the average vitamin D level in the NPC group was higher than the control group. Vitamin D levels in this study varied in both cases and controls. In the NPC group, vitamin D levels varied from 14.64 to 75.56 ng/ml. Most of the NPC group had normal vitamin D levels (69.6%), and in controls, vitamin D levels also varied from 6.06 to 73. .96 ng/ml, and most of them were also with normal levels (52.2%). There was no statistically significant difference between cases and controls (p>0.05). Conclusion: This study found no association between the level of vitamin D and the incidence of nasopharyngeal carcinoma in the Minangkabau ethnic group.
Penatalaksanaan Kista Teratoid Leher Karsa, Nadya Dwi; Rahman, Sukri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1297

Abstract

Kista dermoid merupakan massa kistik subkutan yang terdiri dari epitel dan struktur adneksa. Secara histopatologi terdiri dari tiga jenis yaitu kista epidermoid, dermoid sejati dan teratoid. Kista teratoid merupakan variasi jarang dari kista dermoid. Kista teratoid timbul dari diferensiasi ektodermal sel multipotensial sepanjang proses fusi embrionik. Kista ini lebih sering terjadi pada laki-laki pada usia dekade kedua dan ketiga. Kista dapat terjadi di seluruh tubuh. Dilaporkan kasus seorang laki-laki usia 49 tahun dengan benjolan di leher yang membesar secara perlahan sejak 1 bulan dan hasil Computed Tomography (CT) Scan tiroid dan leher dicurigai sebagai kista tiroglosus dan didiagnosis banding dengan kista dermoid. Dilakukan penatalaksanaan dengan eksisi kista dalam anestesi umum dan dilakukan pemeriksaan patologi anatomi dengan hasil kista teratoid. Kista teratoid dapat berkembang di bagian tubuh manapun, namun sangat jarang pada kepala dan leher. Jika kista teratoid dapat terdiagnosis lebih awal dan ditatalaksana dengan eksisi kista secara komplit, maka prognosisnya lebih baik. Dari ketiga variasi kista dermoid, hanya kista teratoid yang dapat mengalami perubahan kearah keganasan.Kata kunci: eksisi kista, histopatologi, kista teratoid
Diagnosis dan Penatalaksanaan Low Risk Papillary Thyroid Carcinoma Fitra Dwita, Lorensia; Rahman, Sukri; Novianti, Hera
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1298

Abstract

Papillary Thyroid Carcinoma (PTC) adalah jenis tumor ganas kelenjar tiroid yang sering terjadi dengan pola pertumbuhan yang papiler. Standar baku penegakkan diagnosis PTC adalah dengan gambaran histopatologi dan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB). Penatalaksanaan sesuai dengan indikasinya dapat berupa ismolobektomi ataupun total tiroidektomi. Dilaporkan kasus perempuan berusia 29 tahun dengan diagnosis low risk papillary thyroid carcinoma stadium II (T2N0M0) dan dilakukan ismolobektomi sinistra. Diagnosis low risk papillary thyroid carcinoma ditegakkan dengan pemeriksaan FNAB dan histopatologis. PTC unilateral ditatalaksana dengan ismolobektomi. Sebagian besar PTC memiliki prognosis yang baik,namun tetap dibutuhkan kontrol secara periodik pasca tindakan operatif.Kata kunci: FNAB, ismolobektomi, PTC, resiko rendah
Co-Authors Ade Asyari Ade Chandra Ade Chandra Adnani, Syahredi Syaiful Adrian Erindra Afriwardi Afriwardi Ahmad, Baihaqi Aisyah Elliyanti Aisyah Suci Ayudya Al Hafiz Al Hafiz Al Hafiz Al Hafiz Aladin Aladin Almurdi Almurdi Amellya Sucieta Ardiles Arif Fahmi Astri Sentyaningrum Aswin Boy Pratama Aswiyanti Asri Aswiyanti Asri Bambang hermani Beni Indra, Beni Bestari J Budiman Bestari Jaka Budiman Bobby Indra Utama Cahyono, Arie Danil Armand Debby Apri Grecwin Debby Apri Grecwin Deddy Saputra Defrin Delva Swanda Desmawati Desmawati Dian Noviyanti Diflayzer Diflayzer Dolly Irfandy Dovy Djanas Edward Hariyadi Effy Huriyati Efrida Efrida Eka Nofita Elfira Yusri Elmatris Sy Erlina Rustam Ermayanti, Sabrina Eti Yerizel Eva Decroli Fachzi Fitri Fajar Dirgantara Edward Febri arius sari Firdawati Firdawati Fitra Dwita, Lorensia Fitri Sakinah Gestina Aliska Gestina Aliska Grecwin, Debby Apri Gusti Revilla Hadjat, Fachri Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hanifatryevi Hanifatryevi Hanum, Fathiya Juwita Hasmiwati Hera Novianti Heru Kurniawan Anwar Kurniawan Anwar Hirowati Ali Hirowati Ali, Hirowati Histawara Subroto Histawara Subroto Husna Yetti I Nyoman Adi Putra Iffah Nisrina Reyatri Ilmiawati, Ilmiawati Irfan Kurnia Irwan Triansyah Irwandanon Irwandanon Jacky Munilson Jacky Munilson Javandi, Muhammad Rayhan Abiyyu Jenny Tri Yuspita Sari Jenny Tri Yuspitasari Karsa, Nadya Dwi Khansa Nihlatiyah Izzati Lili Irawati Lorensia Fitra Dwita M. Abduh Firdaus M. Adib Farhan Malinda Meinapuri Masnadi, Nice Rachmawati Mayetti Mayetti Megawati, Melsi Mela Aryati Melita Husna Melsi Megawati Meuthia Yolanda Mohamad Reza Muhammad Reko Danuwirya Muina Muina Musyarifah, Zulda Nadhifa Naura Reyani Nadya Dwi Karsa Nadya Dwi Karsa Nelvianti Nelson Nirza Warto Novialdi . Novianti, Hera Nur Afrainin Syah Nur Indrawaty Lipoeto Nuzulia Irawati Pamelia Mayorita Puja Agung Antonius Putri Rahmawati Rahmadona Rahmadona Rahmi Novira Putri Raina Maghri Jodie Rena Afri Ningsih Restu Susanti Rezi Liawati Rifna Alya Rahman Rifqoh Khotimah Rina Gustuti Rini Yoanita Rizanda Machmud Rizki Saputra Rizki Saputra Roslaili Rasyid Rossy Rosalinda Sagita Yudha Sagita Yudha Sakina Munira Salmiah Agus Salsabilah Arrahman Sara Uzlifah Sari, Jenny Tri Yuspita Selfi Renita Rusjdi Shofi Faiza Siti Nurhajjah Subhan Arif Rahman Syahredi Syaiful Adnani Syamel Muhammad Tika Hakikah Tofrizal Tuti Handayani Udiana Wahyu Deviantari Vaulinne Basyir Widayat Alviandi Yan Edward yandika, kevin rayhan Yayan Akhyar Yenita Yenita Yesi Anggriani Yessy Setiawati Yolazenia Yolazenia Yuliarni Syafrita Yusrawati Yusrawati Yuwono Yuwono Zeino Fridsto Zulda Musyarifah