Claim Missing Document
Check
Articles

Role of Human Papilloma Virus in Carcinogenesis of Head and Neck Squamous Cell Rahman, Sukri; Musyarifah, Zulda
Frontiers on Healthcare Research Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63918/fhr.v1.n1.p12-18.2024

Abstract

Background: Head and neck squamous cell carcinoma (HNSCC) is a malignancy that occur in head and neck region and originates from squamous epithelial cell in the upper respiratory tract mucosa. This malignancy has a high heteregenicity. Carcinogenesis due to HPV infection has a different moleculer pathway from HNSCC without HPV infection. Methods: We searched Pubmed collection for open access and English language articles publish access from years 2016-2022 with keyword HPV, HNSCC and carcinogenesis. Results: We had 16 articles that matched from the keywords. The mechanism of HPV leading carcinogenesis in HNSCC because the HPV has a specific protein that can cause malignant transformation in squamous epithelial cells. The E6 protein inactivates the p53 tumor suppressor gene by activating the ubiquitin ligase E6AP causing degradation of p53. The E7 protein inactivates the pRb (protein retinoblastoma) tumpr suppressor protein by blocking the interaction between pRb and E2F, causing E2F depression. Conclusion: Carcinogenesis and malignant transformation in HNSCC correlated with HPV infection (high risk type) via the E6 and E7 proteins. This combination can causes abnormal cell cycle and leads cells to escape cell cycle control and get a malignant transformation.
Parotidektomi dengan Pendekatan Diseksi Ekstrakapsular pada Adenoma Pleomorfik Parotis Edward, Fajar Dirgantara; Rahman, Sukri
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.83

Abstract

Pendahuluan: Tumor parotis merupakan tumor kelenjar ludah yang paling sering terjadi. Sebagian besar dari tumor kelenjar parotis adalah jinak. Adenoma pleomorfik merupakan tumor jinak kelenjar ludah terbanyak sekitar 60-80% dari seluruh neoplasma di kelenjar ludah dan paling sering ditemukan pada kelenjar parotis sebanyak 85%. Diagnosis adenoma pleomorfik ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, dan pemeriksaan penunjang dengan Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH), pemeriksaan radiologis, dan histopatologi massa tumor. Penatalaksanaan tumor jinak parotis adalah dengan eksisi tumor secara lengkap yaitu dengan parotidektomi dan preservasi nervus fasialis. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus seorang wanita usia 24 tahun dengan adenoma pleomorfik parotis sinistra. Pada regio parotis sinistra tampak benjolan dengan ukuran 40x30x10 mm, berbatastegas, warna sama dengan sekitar, konsistensi padat kenyal, terfiksir, nyeri tekantidak ada. Dilakukan pemeriksaan BAJAH dengan hasil adenoma pleomorfik. Pemeriksaan Computerized Tomography Scan (CT scan) dengan kesan tumor parotis sinistra. Dilakukan tindakan parotidektomi dengan diseksi ekstrakapsular dan pemeriksaan histopatologi dengan kesan adenoma pleomorfik. Kesimpulan: Adenoma pleomorfik merupakan tumor jinak pada kelenjar ludah dan paling sering terjadi di kelenjar parotis yang ditandai dengan gejala pembengkakan di regio parotis, tanpa gejala, dan tanpa menimbulkan nyeri. Pemeriksaan BAJAH dan CT scan leher dapat dilakukan untuk membantu mendiagnosis adenoma pleomorfik. Teknik pembedahan parotidektomi dengan ekstrakapsular diseksi merupakan pilihan operasi pada kasus tertentu tanpa identifikasi nervus fasialis.
Perbedaan Ekspresi Enzim Cyclooxygenase-2 pada Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Stadium Dini dan Stadium Lanjut Diflayzer, Diflayzer; Rahman, Sukri; Ali, Hirowati; Setiawati, Yessy; Yetti, Husna
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.89

Abstract

Latar Belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) adalah keganasan yang berasal dari sel epitel nasofaring. Kelangsungan hidup dan prognosis pasien KNF sangat tergantung pada stadium tumor. Pemahaman yang baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis dan perkembangan penyakit sangat penting dalam pengelolaan KNF. Salah satu faktor yang berpotensi memainkan peran kunci dalam hal ini adalah enzim cyclooxygenase-2 (COX-2). Peningkatan aktivitas COX-2 dapat memfasilitasi sel-sel tumor untuk memperoleh berbagai kemampuan biologis yang berkontribusi pada pertumbuhan dan perkembangan tumor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan ekspresi enzim COX-2 berdasarkan stadium karsinoma nasofaring. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional analitik komparatif numerik tidak berpasangan dua kelompok satu kali pengukuran pada jaringan tumor dalam bentuk blok parafin dari hasil biopsi pasien KNF dan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia untuk menilai ekspresi COX-2 pada jaringan tumor KNF yang dibagi menjadi kelompok stadium dini dan stadium lanjut. Data dianalisis secara statistik dengan program komputer dan dinyatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan rerata ekspresi COX-2 pada KNF stadium lanjut (69,59±11,75) lebih tinggi dibandingkan dengan KNF stadium dini (47,29±31,04), namun hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik (p=0,28). Kesimpulan: Terdapat kecenderungan peningkatan ekspresi COX-2 pada stadium lanjut dibandingkan dengan stadium dini, namun perbedaan ini tidak signifikan secara statistik.
Diagnosis dan Tatalaksana Squamous Cell Carcinoma Lidah Stadium Dini Sakinah, Fitri; Rahman, Sukri; Musyarifah, Zulda
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.90

Abstract

Latar Belakang: Squamous Cell Carcinoma (SCC) lidah merupakan salah satu keganasan tersering di rongga mulut. Bersifat agresif dengan prognosis yang bervariasi. Meskipun permukaan lidah dapat diperiksa secara langsung, banyak kasus terdiagnosis pada stadium lanjut. Secara global, SCC lidah menyumbang bagian signifikan dari kanker rongga mulut dan memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Asia Selatan dan Tenggara, termasuk Indonesia. Secara klinis, kanker lidah bermanifestasi sebagai lesi ulseratif atau infiltratif yang sering menyerupai kelainan jinak sehingga menyebabkan keterlambatan diagnosis. Laporan Kasus: Telah dilaporkan satu kasus SCC lidah stadium I (T1N0M0) pada seorang perempuan berusia 55 tahun, dilakukan tindakan partial glossectomy kemudian dilanjutkan pemberian radioterapi sebagai terapi adjuvan pada pasien tersebut. Kesimpulan: Tujuan pengobatan Oral Cavity Squamous Cell Carcinoma (OCSCC) adalah penyembuhan kanker, memulihkan fungsi dasar seperti berbicara dan menelan, minimalisasi efek samping, serta memperhitungkan risiko kekambuhan. Pembedahan merupakan terapi utama pada kasus SCC lidah stadium dini (T1/T2N0M0). Pemberian radioterapi sebagai terapi adjuvant didasarkan pada hasil batas sayatan pembedahan yang positif atau tipis/dekat (kurang dari 5 mm), invasi perineural, perivaskular serta adanya nodul okulta.
Korelasi Perubahan Kadar Enzim Superoxide Dismutase dan Ambang Dengar pada Penderita Tumor Ganas Kepala Leher yang Mendapat Kemoterapi Cisplatin Yoanita, Rini; Rosalinda, Rossy; Rahman, Sukri; Aliska, Gestina; Yetti, Husna
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.92

Abstract

Latar Belakang: Cisplatin dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau kombinasi untuk induksi atau terapi neoadjuvan pada tumor ganas kepala leher, memiliki berbagai toksisitas yang membatasi dosis dan bersifat kumulatif, bahwa stria vaskularis merupakan awal cedera yang diinduksi oleh Cisplatin. Cisplatin meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS) di koklea. Superoksida diubah menjadi hidrogen peroksida baik secara spontan maupun melalui superoxide dismutase (SOD). Tujuan penelitian untuk mengetahui korelasi antara perubahan konsentrasi enzim antioksidan SOD dan perubahan ambang dengar penderita kemoterapi dengan Cisplatin pada tumor ganas kepala leher. Metode: Penelitian ini menggunakan pretest-posttest one group design pada penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin dengan dosis 75 mg/m2. Sebelum dilakukan kemoterapi dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah sebagai data awal. Dua minggu sesudah kemoterapi, dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah kembali. Data dianalisis secara statistik dengan program komputer dan dinyatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan peningkatan kadar SOD sesudah diberikan kemoterapi cisplatin dengan signifikansi p<0,05. Terdapat peningkatan nilai ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 500, dan 8000 Hz sesudah kemoterapi dengan signifikansi p<0,05. Terdapat korelasi lemah antara kadar SOD dan ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 2000, dan 4000 Hz, dan korelasi sedang pada frekuensi 500, 1000, dan 8000 Hz. Kesimpulan: Pemeriksaan kadar SOD berkorelasi lemah dan sedang terhadap ambang dengar penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin. Pemeriksaan kadar SOD dapat dijadikan prediktor untuk menilai kondisi stres oksidatif pada kejadian ototoksik sebagai pertimbangan pemberian antioksidan.
Co-Authors Ade Asyari Ade Chandra Ade Chandra Adnani, Syahredi Syaiful Adrian Erindra Afriwardi Afriwardi Ahmad, Baihaqi Al Hafiz Al Hafiz Al Hafiz Al Hafiz Aladin Aladin Almurdi Almurdi Amellya Sucieta Arif Fahmi Arrahman, Salsabilah Astri Sentyaningrum Aswiyanti Asri Aswiyanti Asri Bambang hermani Beni Indra, Beni Bestari J Budiman Bestari Jaka Budiman Bestari Jaka Budiman Cahyono, Arie Cimi Ilmiawati, Cimi Danuwirya, Muhammad Reko Debby Apri Grecwin Debby Apri Grecwin Deddy Saputra Delva Swanda Desmawati Desmawati Diflayzer, Diflayzer Dolly Irfandy Edward, Fajar Dirgantara Effy Huriyati Efrida Efrida Efrida Eka Nofita Elmatris Sy Erlina Rustam Ermayanti, Sabrina Eti Yerizel Eva Decroli Fachzi Fitri Febri Arius Sari Firdawati, Firdawati Fitra Dwita, Lorensia Gestina Aliska Grecwin, Debby Apri Gusti Revilla Hadjat, Fachri Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hakikah, Tika Hanifatryevi Hanifatryevi Hasmiwati Hera Novianti Heru Kurniawan Anwar Kurniawan Anwar Hirowati Ali, Hirowati Histawara Subroto Histawara Subroto Husna Yetti I Nyoman Adi Putra Ilmiawati, Ilmiawati Irwan Triansyah Irwandanon Irwandanon Jacky Munilson Jacky Munilson Javandi, Muhammad Rayhan Abiyyu Jenny Tri Yuspita Sari Karsa, Nadya Dwi Khotimah, Rifqoh Lili Irawati Lorensia Fitra Dwita M. Abduh Firdaus M. Adib Farhan Malinda Meinapuri Masnadi, Nice Rachmawati Mayetti Mayetti Megawati, Melsi Melita Husna Melsi Megawati Mohamad Reza Muina Muina Musyarifah, Zulda Nadhifa Naura Reyani Nadya Dwi Karsa Nadya Dwi Karsa Nirza Warto Novialdi . Novianti, Hera Nur Afrainin Syah Nur Indrawaty Lipoeto Nuzulia Irawati Pamelia Mayorita Prima Astuti Handayani Putri Rahmawati Putri, Rahmi Novira Rahmadona Rahmadona Rahman, Rifna Alya Raina Maghri Jodie Restu Susanti Rizanda Machmud Rizki Saputra Rizki Saputra Roslaili Rasyid Rossy Rosalinda Sakinah, Fitri Salmiah Agus Sari, Jenny Tri Yuspita Selfi Renita Rusjdi Setiawati, Yessy Shofi Faiza Siti Nurhajjah Syahredi Syaiful Adnani Syamel Muhammad Tofrizal Tri Yuspitasari, Jenny Udiana Wahyu Deviantari Widayat Alviandi Yan Edward yandika, kevin rayhan Yayan Akhyar Yenita . Yoanita, Rini Yolanda, Meuthia Yolazenia Yolazenia Yuliarni Syafrita Yusri, Elfira Yuwono Yuwono