Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran Hasil Biopsi Aspirasi Jarum Halus Massa Di Leher pada Pasien RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2019-2020 M. Adib Farhan; Sukri Rahman; Aswiyanti Asri
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v1i1.28

Abstract

Pendahuluan: Massa di leher merupakan salah satu permasalahan kesehatan di seluruh dunia. Massa di leher dapat dijumpai di semua kelompok umur mulai dari anak anak hingga dewasa yang dapat berasal dari kelenjar getah bening, kelenjar tiroid, kelenjar saliva dan lain-lain. Salah satu metode diagnostik yang sangat  bermanfaat untuk mengevaluasi dan menegakkan diagnosis massa di leher  adalah pemeriksaan biopsy aspirasi jarum halus (BAJAH). Pemeriksaan  BAJAH sederhana, akurat, cepat, dan ekonomis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode total  sampling dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi hasil BAJAH massa di leher pada pasien RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2019 – 2020.  Hasil: Dari hasil penelitian ini jumlah sampel adalah 229 sampel. Hasil  penelitian ini didapatkan massa di leher paling banyak terjadi pada usia >40  tahun yaitu 110 kasus (48%) dan lebih banyak terjadi pada laki-laki yaitu  131 kasus (57,2%). Massa di leher paling banyak berasal dari kelenjar getah  bening yaitu sebanyak 170 kasus (74,2%), kemudian tiroid sebanyak 36  kasus (15,7%), kelenjar liur 14 kasus (6,3%), dan lain-lain 9 kasus (4,1%). Massa di leher paling banyak ditemukan pada lokasi anterior leher yaitu  sebanyak 218 kasus (95,2%) dan berupa massa soliter 161 kasus (70,3%).  Etiologi massa di leher yang paling banyak ditemukan merupakan infeksi/inflamasi 119 kasus (49,8%), neoplasma ganas 77 kasus (33,6%), dan neoplasma jinak yaitu 33 kasus (16,6%). Jenis sitopatologi massa di leher yang paling banyak ditemukan yaitu limfadenitis granulomatosa yaitu  sebanyak 47 kasus (20,5%). Kesimpulan: Sehingga pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa massa di leher paling banyak terjadi berasal dari kelenjar getah bening dengan jenis sitopatologi terbanyak adalah limfadenitis granulomatosa.  
Ototoksisitas akibat Penggunaan Cisplatin dan Pendekatan Otoprotektif untuk Pencegahannya Rizki Saputra; Rossy Rosalinda; Sukri Rahman; Gestina Aliska
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v2i1.36

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan secara statistik angka harapan hidup pasien kanker setelah diterapi membuat pemantauan efek samping jangka panjang kemoterapi sangat dibutuhkan. Cisplatin menjadi agen kemoterapi pilihan pada kanker kepala dan leher karna sifatnya yang sangat poten. Bertentangan dengan manfaat terapiutik tersebut, pemakaian cisplatin memiliki potensi masalah ototksik yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Tujuan: Untuk mengetahui dan memahami mekanisme ototoksisitas akibat penggunaan cisplatin dan upaya otoprotektif. Tinjauan Pustaka: Sebagai agen kemoterapi, cisplatin memiliki beberapa efek samping salah satunya bersifat ototoksik. Mekanisme ototoksik akibat cisplatin dihubungkan dengan pembentukan radikal bebas yang menyebabkan apoptosis pada sel rambut luar koklea dan jaringan penunjang di organ Corti. Pasien yang menerima pengobatan cisplatin harus dilakukan evaluasi fungsi pendengaran secara berkala. Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang menjadi pilihan utama dalam upaya preventif ototoksik akibat cisplatin. Penggunaan obat golongan seperti N-asetilsistein, sodium tiosulfat, vitamin E, amifostin membuka harapan untuk pengembangan terapi preventif ototoksik. Kesimpulan: Efek samping ototoksik yang ditimbulkan merupakan salah satu masalah yang harus ditatalaksana. Monitoring pendengaran dibutuhkan untuk mendeteksi pemasalahan ini. Beberapa agen otoprotektif seperti antioksidan dan kortikosteroid dapat menjadi pilihan tatalaksana dalam upaya preventif. Pemberian agen otoprotektif secara sistemik dan intratimpani memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Kata kunci: ototoksik, cisplatin, preventif, intratimpani
Gambaran Klinis dan Terapi Pasien Karsinoma Laring di Departemen THT-KL RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2017-2021 Rahmi Novira Putri; Sukri Rahman; Cimi Ilmiawati
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v2i1.39

Abstract

Pendahuluan: Karsinoma laring adalah suatu tumor ganas yang berasal dari sel epitel laring. Faktor risiko utama yang berperan dalam perkembangan penyakit karsinoma laring adalah merokok dan alkohol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran klinis dan terapi pasien karsinoma laring di departemen THT-KL RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2017-2021. Desain penelitian ini adalah deskriptif retrospektif yang menggunakan data rekam medis pasien karsinoma laring dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling yang berjumlah 41 orang. Data pasien kemudian diolah dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa kasus pasien karsinoma laring terbanyak terjadi pada tahun 2017 dan 2018 (31,7%), rerata usia 64 tahun dengan kelompok usia terbanyak 51-60 tahun dan 61-70 tahun (31,7%), lebih banyak pada laki-laki (97,6%), dan mayoritas faktor risiko merokok (95,1%) namun tidak memiliki tiwayat alkohol (92,7%). Keluhan utama tersering suara serak (51,2%). Gejala klinis yang muncul terdiri dari suara serak (73,2%), sesak nafas (65,9%), batuk (56,1%), dan sulit menelan (43,9%). Lokasi paling banyak ditemukan glotis (73,2%), stadium yang sering ditemukan stadium IVA (57,9%), dan tipe histopatologi terbanyak karsinoma sel skuamosa (100%). Jenis terapi yang paling sering diberikan kemoterapi (46,3%). Dapat disimpulkan bahwa pasien karsinoma laring memiliki faktor risiko yang umum dan karakteristik klinik yang tipikal serta sebagian besar datang dalam stadium lanjut. Oleh karena itu diperlukan upaya promotif dan preventif yang lebih agresif terhadap penyakit ini
Profil Pasien COVID-19 dengan Gangguan Penghidu di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 1 Januari - 31 Desember 2021 Rifqoh Khotimah; Sukri Rahman; Tofrizal Tofrizal
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v2i1.40

Abstract

Pendahuluan: Coronavirus disease 2019 atau COVID-19 merupakan wabah penyakit yang mudah menular dan menimbulkan beragam gejala. Gejala tersebut termasuk gangguan penghidu yaitu perubahan dalam kemampuan penghidu yang baru-baru ini dirasakan pasien COVID-19 dan dijadikan salah satu gejala COVID-19 yang patut diwaspadai oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien COVID-19 dengan gangguan penghidu di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan jumlah sampel 73 pasien terkonfirmasi COVID-19 yang dirawat inap. Penelitian dilakukan di Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. M. Djamil Padang pada bulan Juli – Oktober 2022. Data diambil dari rekam medis dengan metode simple random sampling. Hasil: Hasil penelitian ini didapatkan bahwa gangguan penghidu (58,9%) banyak terjadi pada pasien COVID-19. Rentang usia >65 tahun (23,3%) merupakan usia terbanyak dan lebih banyak dialami oleh perempuan (46,5%). Hasil D-dimer yang didapatkan mengalami peningkatan yang tinggi (74,4%) dan pasien banyak yang tidak memiliki komorbiditas (55,8%). Hasil rawatan (outcome) terbanyak yakni sembuh atau perbaikan (76,7%). Kesimpulan: Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pasien COVID-19 banyak yang mengalami gangguan penghidu dengan rentang usia >65 tahun. Proporsi jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki tidak jauh berbeda. pasien merupakan perempuan. Kadar D-dimer ditemukan mengalami peningkatan dan banyak pasien yang tidak memiliki komorbiditas serta hasil rawatan terbanyak adalah pasien yang sembuh atau perbaikan.
Karakteristik Klinis dan Tatalaksana Pasien Karsinoma Nasofaring di RSUP Dr. M. Djamil Padang Meuthia Yolanda; Sukri Rahman; Restu Susanti
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.47

Abstract

Karsinoma nasofaring merupakan salah satu kanker kepala leher yang paling sering ditemukan di Indonesia. Karsinoma nasofaring sering terlambat terdiagnosis karena gejala klinis yang tidak khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik klinis dan tatalaksana pasien karsinoma nasofaring di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2018 – 2022. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis pasien karsinoma nasofaring tahun 2018 – 2022 dengan teknik pengambilan sampel pengambilan sampel total . Pada periode ini tercatat 285 pasien yang pertama kali terdiagnosis karsinoma nasofaring yang belum mendapatkan tatalaksana dan terdapat 250 data pasien karsinoma nasofaring yang memenuhi kriteria inklusi yang kemudian diolah dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Pada penelitian ini diperoleh bahwa kejadian karsinoma nasofaring paling banyak ditemukan pada rentang usia 36 – 45 tahun dan 46 – 55 tahun, dengan kejadian lebih sering ditemukan pada laki – laki (66,4%). Keluhan utama yang paling sering dikeluhkan pasien adalah benjolan di leher (58,4%). Gejala klinis yang paling banyak dikeluhkan pasien diantaranya benjolan di leher (76,4%), sumbatan hidung (60%), dan telinga terasa penuh (53,6%). Kebanyakan pasien baru terdiagnosis pada stadium IVA (70,4%) dengan gambaran histopatologi terbanyak adalah karsinoma tidak berdiferensiasi (76,8%). Pada sebagian besar pasien ditemukan metastasis regional dengan lokasi terbanyak pada KGB leher level II (58%), sedangkan metastasis jauh hanya ditemukan pada 1,6% pasien yaitu metastasis tulang. Tatalaksana yang paling banyak diterima pasien adalah kemoterapi neoadjuvan dan dilanjutkan dengan radioterapi.
Hubungan Rasio Neutrofil Limfosit, Rasio Platelet Limfosit, dan Rasio Limfosit Monosit dengan Stadium Klinis Karsinoma Nasofaring di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2020-2022 Rifna Alya Rahman; Sukri Rahman; Almurdi Almurdi; Elfira Yusri; Malinda Meinapuri; Lili Irawati
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.56

Abstract

Karsinoma nasofaring merupakan penyakit kanker ke-5 tersering di Indonesia yang berkaitan dengan infeksi Virus Epsteinn-Barr. Rasio neutrofil limfosit (RNL), rasio platelet limfosit (RPL), rasio limfosit monosit (RLM) merupakan biomarker inflamasi yang dapat mewakili respon inflamasi sehingga dapat menggambarkan progresivitas kanker. Stadion klinis juga digunakan untuk menentukan progresivitas kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan RNL, RPL, dan RLM dengan stadium klinis karsinoma nasofaring. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data rekam medis pasien di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik konsekutif sampling. Total sampel yang digunakan sebanyak 64 sampel. Uji statistik menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian ini diperoleh kasus karsinoma nasofaring lebih banyak terjadi pada jenis kelamin laki-laki (65,6%), kelompok umur 25–49 tahun dan terdiagnosis pada stadium IV A. Hasil pemeriksaan darah rutin berada pada rentang normal yaitu neutrofil (51,5 %), limfosit (76,9%), monosit (57,8%), dan trombosit (54,7%). Nilai RNL, RPL, dan RLM mengalami peningkatan yaitu RNL (85,9%), RPL (68,8%), dan RLM (50%). Hasil uji Chi-square yang diperoleh tidak ada hubungan RNL (p>0,05), RPL (p>0,05), dan RLM (p>0,05) dengan stadion klinis. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara RNL, RPL dan RLM dengan stadion klinis KNF di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Kista Duktus Tiroglosus ARIF FAHMI; Sukri Rahman
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.62

Abstract

Pendahuluan: Kista duktus tiroglosus merupakan sisa embriologis yang terbentuk karena kegagalan penutupan duktus tiroglosus yang memanjang dari foramen caecum di lidah ke kelenjar tiroid di anterior leher. Kista duktus tiroglosus terdapat pada sekitar 1% populasi di seluruh dunia. Gejala klinis kista ini sering kali asimptomatik, pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan kistik pada anterior leher yang menghilang saat menelan dan menjulurkan lidah. Pemeriksaan penunjang dengan Ultrasonografi, tomografi komputer maupun Magnetic Resonance Imaging. Tatalaksana yang dipilih untuk kista duktus tiroglosus adalah eksisi kista. Laporan Kasus: Seorang laki-laki 50 tahun dengan keluhan benjolan di leher depan sejak 2 tahun yang lalu semakin membesar 1 bulan ini. Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan ukuran 40x30x15mm pada anterior leher yang menghilang saat menelan dan menjulurkan lidah. Dilakukan pemeriksaan laboratorium tes fungsi tiroid dan ultrasonografi tiroid didapatkan hasil normal. Hasil tomografi komputer didapatkan gambaran kista duktus tiroglosus. Dilakukan eksisi massa tumor didapatkan massa tumor ukuran 25x23x10mm. Hasil pemeriksaan histolopatologi didapatkan gambaran kista duktus tiroglosus. Kesimpulan: Kista duktus tiroglosus merupakan masa kistik jinak pada kepala leher yang sering ditemukan. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti tes fungsi tiroid, ultrasonografi tiroid dan tomografi komputer. Tatalaksana kista dusktus tiroglosus dengan eksisi kista dan duktus dengan tetap mempertahankan tulang hyoid.
Peran Ki67 pada Karsinoma Nasofaring Tika Hakikah; Sukri Rahman; Hirowati Ali
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.64

Abstract

Latar Belakang: Pendahuluan: Karsinoma nasofaring memiliki rekurensi atau metastasis jauh, yang menandakan suatu adanya aktifitas sel yaitu proliferasi sel. Penilaian adanya suatu proliferasi sel memerlukan biomarker, salah satunya Ki67 yang sampai saat ini sudah dikenal baik sebagai penanda proliferasi sel. Tujuan: Mengetahui peran Ki67 pada karsinoma nasofaring. Tinjauan Pustaka: Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas sel skuamosa yang terjadi di daerah perbatasan epitel nasofaring dimana epitel kubus beralih menjadi epitel skuamosa. Pada stadium dini tidak mudah dideteksi karena secara anatomis terletak jauh di dalam kepala. Ki67 berhubungan erat dengan mitosis dan aktivitas proliferasi tumor ganas serta kinerja pengobatan kanker nasofaring. Kesimpulan: Ekspresi Ki67 yang tinggi merupakan penanda untuk prognosis buruk pada karsinoma nasofaring. ABSTRACT Background: Introduction: Nasopharyngeal carcinoma has recurrence or distant metastasis, which indicates a cell activity, namely cell proliferation. Assessment of the presence of a cell proliferation requires biomarkers, one of which is Ki67 which has been established as a marker of cell proliferation. Objective: To determine the role of Ki67 in nasopharyngeal carcinoma. Literature Review: Nasopharyngeal carcinoma is a malignant squamous cell tumor that occurs in the border area of the nasopharyngeal epithelium where the cuboidal epithelium turns into the squamous epithelium. At an early stage, it is difficult to detect because it is anatomically located deep in the head. Ki67 is closely related to the mitotic and proliferative activity of malignant tumors and the treatment performance of nasopharyngeal carcinoma. Conclusion: High Ki67 expression is a marker for poor prognosis in nasopharyngeal carcinoma.    
Tatalaksana Tumor Warthin dengan Parotidektomi Superfisialis Febri arius sari; Sukri Rahman
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v3i1.66

Abstract

Latar Belakang: Tumor Warthin merupakan tumor jinak paling sering kedua yang ditemukan pada kelenjar parotis, setelah adenoma pleomorfik. Tumor Warthin banyak ditemukan pada pasien usia lanjut, dengan riwayat merokok lama dan lebih sering pada laki-laki. Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis tumor parotis antara lain biopsi aspirasi jarum halus, ultrasonografi, tomografi komputer dan magnetic resonance imaging. Penatalaksanaan tumor jinak parotis adalah eksisi tumor secara parotidektomi dengan preservasi saraf fasialis. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus tumor Warthin parotis dekstra pada seorang laki-laki berusia 43 tahun dengan keluhan benjolan di bawah daun telinga kanan sejak 3 tahun lalu. Pada regio parotis dekstra tampak benjolan ukuran 40x30x10mm, berbatas tegas, tidak terfiksir, warna sama dengan kulit sekitar dan tidak ada nyeri tekan. Dilakukan pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus didapatkan hasil Warthin tumor dan pemeriksaan tomografi komputer dengan kesan massa dominan kistik parotis dekstra. Pasien ditatalaksana dengan parotidektomi superfisialis dengan preservasi nervus fasialis. Hasil pemeriksaan histopatologi didapatkan gambaran tumor Warthin. Kesimpulan: Tumor Warthin perlu dipikirkan dalam suatu diagnosis banding pada tumor jinak parotis yang biasanya muncul sebagai massa tanpa gejala dan tumbuh lambat. Pemeriksaan histopatologi merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis tumor parotis. Tindakan parotidektomi diikuti preservasi saraf fasialis merupakan tindakan pembedahan pada tumor Warthin. Kata kunci: tumor jinak parotis, tumor Warthin, parotidektomi superfisialis, saraf fasialis
Parotidektomi dengan Pendekatan Diseksi Ekstrakapsular pada Adenoma Pleomorfik Parotis Fajar Dirgantara Edward; Sukri Rahman
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.83

Abstract

Pendahuluan: Tumor parotis merupakan tumor kelenjar ludah yang paling sering terjadi. Sebagian besar dari tumor kelenjar parotis adalah jinak. Adenoma pleomorfik merupakan tumor jinak kelenjar ludah terbanyak sekitar 60-80% dari seluruh neoplasma di kelenjar ludah dan paling sering ditemukan pada kelenjar parotis sebanyak 85%. Diagnosis adenoma pleomorfik ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, dan pemeriksaan penunjang dengan Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH), pemeriksaan radiologis, dan histopatologi massa tumor. Penatalaksanaan tumor jinak parotis adalah dengan eksisi tumor secara lengkap yaitu dengan parotidektomi dan preservasi nervus fasialis. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus seorang wanita usia 24 tahun dengan adenoma pleomorfik parotis sinistra. Pada regio parotis sinistra tampak benjolan dengan ukuran 40x30x10 mm, berbatastegas, warna sama dengan sekitar, konsistensi padat kenyal, terfiksir, nyeri tekantidak ada. Dilakukan pemeriksaan BAJAH dengan hasil adenoma pleomorfik. Pemeriksaan Computerized Tomography Scan (CT scan) dengan kesan tumor parotis sinistra. Dilakukan tindakan parotidektomi dengan diseksi ekstrakapsular dan pemeriksaan histopatologi dengan kesan adenoma pleomorfik. Kesimpulan: Adenoma pleomorfik merupakan tumor jinak pada kelenjar ludah dan paling sering terjadi di kelenjar parotis yang ditandai dengan gejala pembengkakan di regio parotis, tanpa gejala, dan tanpa menimbulkan nyeri. Pemeriksaan BAJAH dan CT scan leher dapat dilakukan untuk membantu mendiagnosis adenoma pleomorfik. Teknik pembedahan parotidektomi dengan ekstrakapsular diseksi merupakan pilihan operasi pada kasus tertentu tanpa identifikasi nervus fasialis.
Co-Authors Ade Asyari Ade Chandra Ade Chandra Adnani, Syahredi Syaiful Adrian Erindra Afriwardi Afriwardi Ahmad, Baihaqi Aisyah Elliyanti Aisyah Suci Ayudya Al Hafiz Al Hafiz Al Hafiz Al Hafiz Aladin Aladin Almurdi Almurdi Amellya Sucieta Ardiles Arif Fahmi Astri Sentyaningrum Aswin Boy Pratama Aswiyanti Asri Aswiyanti Asri Bambang hermani Beni Indra, Beni Bestari J Budiman Bestari Jaka Budiman Bobby Indra Utama Cahyono, Arie Danil Armand Debby Apri Grecwin Debby Apri Grecwin Deddy Saputra Defrin Delva Swanda Desmawati Desmawati Dian Noviyanti Diflayzer Diflayzer Dolly Irfandy Dovy Djanas Edward Hariyadi Effy Huriyati Efrida Efrida Eka Nofita Elfira Yusri Elmatris Sy Erlina Rustam Ermayanti, Sabrina Eti Yerizel Eva Decroli Fachzi Fitri Fajar Dirgantara Edward Febri arius sari Firdawati Firdawati Fitra Dwita, Lorensia Fitri Sakinah Gestina Aliska Gestina Aliska Grecwin, Debby Apri Gusti Revilla Hadjat, Fachri Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hanifatryevi Hanifatryevi Hanum, Fathiya Juwita Hasmiwati Hera Novianti Heru Kurniawan Anwar Kurniawan Anwar Hirowati Ali Hirowati Ali, Hirowati Histawara Subroto Histawara Subroto Husna Yetti I Nyoman Adi Putra Iffah Nisrina Reyatri Ilmiawati, Ilmiawati Irfan Kurnia Irwan Triansyah Irwandanon Irwandanon Jacky Munilson Jacky Munilson Javandi, Muhammad Rayhan Abiyyu Jenny Tri Yuspita Sari Jenny Tri Yuspitasari Karsa, Nadya Dwi Khansa Nihlatiyah Izzati Lili Irawati Lorensia Fitra Dwita M. Abduh Firdaus M. Adib Farhan Malinda Meinapuri Masnadi, Nice Rachmawati Mayetti Mayetti Megawati, Melsi Mela Aryati Melita Husna Melsi Megawati Meuthia Yolanda Mohamad Reza Muhammad Reko Danuwirya Muina Muina Musyarifah, Zulda Nadhifa Naura Reyani Nadya Dwi Karsa Nadya Dwi Karsa Nelvianti Nelson Nirza Warto Novialdi . Novianti, Hera Nur Afrainin Syah Nur Indrawaty Lipoeto Nuzulia Irawati Pamelia Mayorita Puja Agung Antonius Putri Rahmawati Rahmadona Rahmadona Rahmi Novira Putri Raina Maghri Jodie Rena Afri Ningsih Restu Susanti Rezi Liawati Rifna Alya Rahman Rifqoh Khotimah Rina Gustuti Rini Yoanita Rizanda Machmud Rizki Saputra Rizki Saputra Roslaili Rasyid Rossy Rosalinda Sagita Yudha Sagita Yudha Sakina Munira Salmiah Agus Salsabilah Arrahman Sara Uzlifah Sari, Jenny Tri Yuspita Selfi Renita Rusjdi Shofi Faiza Siti Nurhajjah Subhan Arif Rahman Syahredi Syaiful Adnani Syamel Muhammad Tika Hakikah Tofrizal Tuti Handayani Udiana Wahyu Deviantari Vaulinne Basyir Widayat Alviandi Yan Edward yandika, kevin rayhan Yayan Akhyar Yenita Yenita Yesi Anggriani Yessy Setiawati Yolazenia Yolazenia Yuliarni Syafrita Yusrawati Yusrawati Yuwono Yuwono Zeino Fridsto Zulda Musyarifah