Claim Missing Document
Check
Articles

Reconstructing Gender-Responsive Restorative Justice for Domestic Violence: A Study of Contextual Islamic Law in Indonesia Siti Nurlaila; Nunung Rodliyah; Maya Shafira; Rehulina Rehulina; Elfa murdiana
Jurnal Ilmiah Mizani: Wacana Hukum, Ekonomi Dan Keagamaan Vol 13, No 1 (2026): January-June
Publisher : Faculty of Sharia (Islamic Law) at Fatmawati Sukarno State Islamic University Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mzn.v13i1.10542

Abstract

Restorative Justice (RJ) has increasingly been institutionalized within Indonesia’s criminal justice system, including in cases of domestic violence (Kekerasan Dalam Rumah Tangga / KDRT). However, its implementation continues to generate serious criticism because it often prioritizes procedural settlement over substantive victim protection. Existing studies largely focus on the effectiveness or normative legality of RJ, while insufficiently addressing the intersection between gender justice, victim vulnerability, and contextual Islamic legal principles. This study fills that gap by reconstructing a gender-responsive RJ framework grounded in contextual Islamic law and maqāṣid al-syarī‘ah. This research employs a normative-empirical socio-legal approach that integrates doctrinal legal analysis with qualitative empirical findings from domestic violence cases in Lampung Province, Indonesia. Data were collected through analysis of legislation, institutional policies, Komnas Perempuan reports, and in-depth interviews with law enforcement officials and related stakeholders. The data were analyzed using a gender-responsive restorative justice framework and contextual Islamic legal interpretation. The findings reveal that the current implementation of RJ in KDRT cases remains predominantly procedural-formalistic. Approximately 72% of victims accepted restorative settlements due to structural pressures, including economic dependence, family coercion, and fear of social stigma, rather than genuine psychological recovery. Furthermore, the absence of mandatory trauma assessment and post-settlement supervision contributed to repeated violence in 40% of the observed cases. This study argues that prevailing interpretations of iṣlāḥ (reconciliation) have been reduced to symbolic peace-making that neglects substantive justice and victim safety. As its principal contribution, this study formulates a three-stage gender-responsive RJ reconstruction model based on contextual Islamic law: (1) a precondition stage requiring psychological assessment and perpetrator accountability; (2) a mediation stage involving gender-sensitive counselors and progressive Islamic law experts; and (3) a post-process stage based on continuous state monitoring and victim protection. The study further demonstrates that integrating contextual Islamic legal values into national law strengthens restorative justice by aligning it with the principles of ḥifẓ al-nafs (protection of life), human dignity (karāmah insāniyyah), and substantive gender justice. This research contributes theoretically to the development of gender-responsive restorative justice discourse within Muslim-majority legal systems and offers a practical policy framework for reforming restorative justice mechanisms in Indonesia and other plural legal societies
Tinjauan Yuridis Pembagian Harta Bersama Yang Tidak Dibagikan Oleh Suami Pasca Perceraian Syakhira Putri Syaroza; Nunung Rodliyah; Elly Nurlaili; Kasmawati; Sayyidah Sekar Dewi Kulsum
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6414

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh problematika yuridis dan sosiologis mengenai kedudukan harta bersama pasca perceraian, di mana sering terjadi pengalihan atau penyembunyian aset secara sepihak oleh suami yang merugikan hak konstitusional istri. Permasalahan utama dalam penelitian ini memfokuskan pada sinkronisasi pengaturan pembagian harta bersama di Indonesia serta efektivitas upaya hukum bagi istri terhadap harta bersama yang dikuasai secara dominan oleh suami. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip pembagian harta bersama berpijak pada asas kesetaraan hak dan kewajiban suami istri (Equality Before The Law) sesuai Pasal 31 dan Pasal 35 UU No. 1 Tahun 1974. Terhadap harta yang dikuasai atau dipindahtangankan sepihak, upaya hukum yang dapat ditempuh istri adalah mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan yang diperkuat dengan permohonan Sita Marital (Maritale Beslag) berdasarkan Pasal 190 KUHPerdata. Instrumen ini krusial sebagai tindakan preventif untuk menjaga keutuhan harta objek sengketa agar putusan hakim tidak menjadi hampa (illusoir), serta menjamin hak istri mendapatkan bagian yang adil sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Akibat Hukum Terhadap Pembagian Harta Bersama Yang Berstatus Terhutang : Studi Putusan Nomor 1614/Pdt.G/2024/PA.Tnk Risha Aprilia; Sepriyadi Adhan S; Elly Nurlaili; Nunung Rodliyah; Dewi Septiana
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6643

Abstract

Pembagian harta bersama pasca perceraian menjadi persoalan hukum yang kompleks ketika harta tersebut masih dibebani kewajiban hutang yang belum lunas. Penelitian ini bertujuan menganalisis akibat hukum yang timbul dari penetapan hutang sebagai bagian dari harta bersama dalam pembagian harta bersama pasca perceraian berdasarkan Putusan Nomor 1614/Pdt.G/2024/PA.Tnk. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus, menggunakan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa hutang yang lahir selama ikatan perkawinan berlangsung diklasifikasikan sebagai passiva harta bersama berdasarkan Pasal 91 ayat (3) dan Pasal 93 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam, sehingga proses pembagian harta tidak dapat diselesaikan secara tuntas sebelum persoalan hutang diperhitungkan dan dituntaskan. Pengakuan ini menimbulkan konsekuensi bahwa tiap pihak menanggung setengah bagian dari keseluruhan hutang bersama. Di samping itu, penerapan mekanisme tanggung renteng yang ditetapkan hakim memberikan kepastian hukum kepada kreditur untuk menagih pelunasan dari salah satu atau kedua pihak sekaligus, tanpa bergantung pada pembagian beban secara internal. Distribusi beban hutang yang proporsional ini mencerminkan nilai keadilan distributif sekaligus menghadirkan perlindungan hukum bagi pihak ketiga. Pengakuan hutang sebagai passiva harta bersama menjadi pijakan normatif yang krusial dalam upaya penyelesaian sengketa harta bersama yang di dalamnya terdapat kewajiban finansial yang belum terselesaikan.
The Victim's Best Interest Principle in Islamic Law: An Examination of the Substance of Sexual Violence in Muslim Majority Countries in the Contemporary Era Elfa Murdiana; Nunung Rodliyah; Rudi Natamiharja; M. Nur Fathoni; Gautam Kumar Jha
MILRev: Metro Islamic Law Review Vol. 5 No. 1 (2026): MilRev: Metro Islamic Law Review
Publisher : Faculty of Sharia, UIN Jurai Siwo Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/milrev.v5i1.10654

Abstract

This article examines the extent to which the principle of the best interests of victims is accommodated within the legal frameworks for protecting victims of sexual violence in Muslim-majority countries. It critically explores the normative and practical gap between Islamic legal principles—particularly the protection of life (ḥifẓ al-nafs) and honor (ḥifẓ al-‘irḍ)—and the operation of positive law in Indonesia, Malaysia, and Egypt. The central questions addressed are how victim protection is conceptualized and regulated within the legal systems of these three countries, and whether the best interests of victims have been established as the primary normative and policy orientation. This study employs a normative juridical method, utilizing comparative and conceptual approaches, and analyzes statutory regulations, legal doctrines, court decisions, and relevant academic literature. The findings reveal that, despite recent legal reforms, existing regulatory frameworks remain predominantly perpetrator-oriented. Victim protection is often treated as supplementary rather than foundational, resulting in limited access to justice, insufficient recovery mechanisms, and weak institutional responsiveness to victims’ needs. Building on a Maqāṣid al-Sharī‘ah perspective, this article proposes a legal reconstruction that re-centers the protection of victims as a core objective of Islamic and national legal systems. It argues that the principle of the best interests of victims is not only compatible with Islamic law but is inherently embedded within its ethical and purposive framework. Accordingly, the study recommends strengthening substantive legal norms, procedural safeguards, institutional coordination, and legal culture to ensure holistic and equitable victim protection. The academic contribution of this article lies in its integration of Maqāṣid al-Sharī‘ah with comparative victimology, offering a normative framework that bridges Islamic legal theory and contemporary human rights discourse. It advances the discussion on victim-centered justice by providing a contextualized Islamic legal justification for prioritizing victims’ interests within modern legal systems.
Pengalihan Kepemilikan Waris Virtual Atas Emas Digital Berdasarkan Hukum Ekonomi Islam TIARA NUR RAUDA; Nunung Rodliyah; Elly Nurlaili; , Kasmawati; Sayyidah Sekar Dewi Kulsum
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.7482

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah melahirkan bentuk kekayaan baru berupa emas digital yang memiliki nilai ekonomi dan dapat diwariskan. Namun, pengalihan kepemilikan emas digital kepada ahli waris masih menghadapi persoalan hukum, terutama terkait pembuktian kepemilikan, akses terhadap akun digital, serta kepastian hukum dalam perspektif Hukum Ekonomi Islam. Penelitian ini membahas praktik kepemilikan emas digital di Indonesia serta pembuktian dan pengalihan kepemilikan emas digital kepada ahli waris berdasarkan prinsip hukum Islam dan hukum positif di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan tipe penelitian deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Data yang digunakan berupa data sekunder yang terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang diperoleh melalui studi kepustakaan, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuktian kepemilikan emas digital dapat dilakukan melalui alat bukti elektronik berupa akun, data transaksi, dan catatan kepemilikan digital yang diakui dalam hukum positif maupun hukum Islam. Pengalihan kepemilikan emas digital kepada ahli waris dilakukan melalui mekanisme administratif pada platform penyedia layanan dengan melampirkan bukti kematian dan identitas ahli waris. Dalam perspektif Hukum Ekonomi Islam, emas digital dapat menjadi objek warisan selama memenuhi prinsip syariah, memiliki underlying asset yang jelas, serta terhindar dari unsur gharar dan riba.
Reconstructing Islamic Agricultural Financing Regulations: A Socio-Legal Study using Soft Systems Methodology Ahmad Muqorobin; Use Etica; Nunung Rodliyah; Akmal Hidayah; Mohamed Rashid Ab Razak
Fiat Justisia: Jurnal Ilmu Hukum Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25041/fiatjustisia.v20no1.4722

Abstract

Despite its constitutional role in supporting food sovereignty, Banyuwangi’s agricultural sector remains excluded from formal Islamic finance due to a regulatory gap between rigid banking standards and agricultural risk. This study identifies a Proximity Paradox, in which Islamic banks are structurally disincentivized from financing smallholders. Using Soft Systems Methodology (SSM) as a socio legal approach and drawing on empirical data from farmers, Islamic banks, and Bayt al-Māl wa al-Tamwīl (BMTs), the research formulates an Agricultural Financing Regulatory Model. The model recommends policy reform by the Financial Services Authority (Otoritas Jasa Keuangan, OJK) and the National Sharia Council (Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia, DSN-MUI), including hybrid value chain contracts, mandatory agricultural takaful, and a formal Bank–BMT linkage scheme, to align banking compliance with agricultural realities and promote distributive justice (‘adl).
Pertanggungjawaban Indonesia Terhadap Negara Malaysia Dan Singapura Akibat Kabut Asap Kebakaran Hutan Dan Lahan Berdasarkan Hukum Lingkungan Internasional Nunung Rodliyah; Hesti Oktriana; Meysi Anggraeni; Sekar Eka Putri
Jurnal Hukum Malahayati Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Malayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jhm.v6i2.24227

Abstract

Urgensi dalam penelitian ini adalah kerugian yang dialami Negara lain akibat kebakaran hutan. Kebakaran hutan di Indonesia semakin hari semakin parah. Kerugian yang dialami negara lain akibat kebakaran hutan membuat konsep pertanggungjawaban negara kepada masyarakat atas kerugian negara lain kembali dipertanyakan. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan Normatif dan analisis teori pertanggungjawaban Negara. Hasil penelitian ini mengidentifikasi mekanisme penegakan hukum internasional dalam kasus pencemaran lintas batas Indonesia dan Kewajiban Internasional Indonesia untuk Mencegah dan Mengatasi Kebakaran Hutan, sebagai negara yang bertanggung jawab atas kabut asap yang berdampak pada Malaysia dan Singapura. Dari uraian tersebut penulis menarik kesimpulan sebagai berikut, pertama Mekanisme Penegakan Hukum Internasional dalam Kasus Pencemaran Lintas Batas, Indonesia, melalui Undang-Undang No. 26 Tahun 2014. Mekanisme penegakan hukum internasional dalam kasus ini mencakup berbagai upaya, seperti penegakan hukum terhadap pelaku kebakaran hutan, kerja sama multilateral antarnegara, serta penyelesaian sengketa melalui forum hukum internasional seperti Mahkamah Internasional, kesimpulan kedua, Kewajiban Internasional Indonesia untuk Mencegah dan Mengatasi Kebakaran Hutan, Sebagai negara yang bertanggung jawab atas kabut asap yang berdampak pada Malaysia dan Singapura, Indonesia memiliki kewajiban internasional memberikan reparasi kepada negara-negara yang dirugikan. kemudian penulis juga memiliki dua saran yaitu pertama, Sebaiknya Penguatan Penegakan Hukum Domestik dan Regional: Indonesia perlu memperkuat penegakan hukum domestik terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan, baik individu maupun perusahaan, melalui hukuman yang lebih berat serta peningkatan kapasitas pengawasan. Kedua, Sebaiknya Pemerintah perlu melakukan Restorasi Ekosistem dan Rehabilitasi Lahan Secara Berkelanjutan, dengan mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk melakukan restorasi ekosistem yang rusak akibat kebakaran hutan dan rehabilitasi lahan secara berkelanjutan.
The Professional Zakat Calculation System in Indonesia Nunung Rodliyah; Fegita Maharanny
Journal of Law and Economics Vol. 4 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Yayasan Kawanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56347/jle.v4i2.304

Abstract

The professional zakat (income zakat) calculation system in Indonesia is stipulated by two authoritative sources: the Indonesian Ulema Council (Majelis Ulama Indonesia/MUI) Fatwa No. 3 of 2003, which states that professional zakat is calculated based on net income (after basic needs are deducted) annually; and the National Zakat Agency (Badan Amil Zakat Nasional/BAZNAS) Decree No. 1 of 2024, which stipulates that professional zakat is calculated based on gross income monthly and annually. This divergence presents a fundamental problem in the application of professional zakat in Indonesia. Therefore, this research aims to analyze the professional zakat calculation system from the perspective of both MUI and BAZNAS. This study employs an empirical-normative legal research method. Primary data were obtained through interviews, and secondary data were collected from primary, secondary, and tertiary legal materials, all analyzed qualitatively. The results indicate that professional zakat in Indonesia can be calculated from either net income (by deducting essential living expenses such as food, clothing, shelter, dependents’ needs including healthcare and education, and then paying 2.5% zakat if it reaches the nisab equivalent to 85 grams of gold annually), or from gross income (by paying 2.5% zakat at the time of income receipt, provided it meets the monthly nisab of IDR 6,859,349.00 or the annual nisab of IDR 82,312,725.00).
Pertimbangan Hakim dalam Pembagian Harta Bersama Menurut Hukum Islam (Studi Putusan Mahkamah Agung No. 1400 K/Pdt/2017) Sri Indah Lestari; Nunung Rodliyah; Elly Nurlaili; Kasmawati; Sayyidah Sekar Dewi Kulsum
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9012

Abstract

Pembagian harta bersama setelah perceraian masih menimbulkan permasalahan hukum, terutama ketika para pihak telah membuat perjanjian perkawinan mengenai pemisahan harta. Perbedaan penerapan hukum dalam praktik peradilan menyebabkan ketidakpastian hukum, sebagaimana tercermin dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 16/Pdt.G/2015/PN.Jkt.Sel, Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor 260/PDT/2016/PT.DKI, dan Putusan Mahkamah Agung Nomor 1400 K/Pdt/2017. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep harta bersama menurut Kompilasi Hukum Islam serta pertimbangan hakim dalam pembagian harta bersama berdasarkan perjanjian perkawinan pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 1400 K/Pdt/2017. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan studi putusan. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, doktrin, dan putusan pengadilan, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harta bersama menurut Kompilasi Hukum Islam merupakan harta yang diperoleh selama perkawinan, sedangkan harta bawaan, hibah, dan warisan tetap menjadi milik masing-masing sepanjang tidak diperjanjikan lain. Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 1400 K/Pdt/2017 menegaskan keberlakuan asas pacta sunt servanda dengan mengakui kekuatan mengikat perjanjian perkawinan sebagai dasar penentuan status harta, sekaligus mengoreksi putusan judex facti yang mengabaikan perjanjian tersebut. Putusan ini memberikan kepastian hukum, perlindungan hukum, dan penghormatan terhadap kebebasan berkontrak dalam pembagian harta bersama.
Implikasi Yuridis Pengesahan Anak Luar Kawin Melalui Penetapan Pengadilan Terhadap Hak Waris Menurut Sistem Hukum Perdata Indonesia Fajri Ian Herlika; Kasmawati; Dewi Septiana; Nunung Rodliyah; Sayyidah Sekar Dewi Kulsum
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9016

Abstract

Penelitian mengkaji implikasi dan akibat hukum dari pengesahan anak luar kawin melalui Penetapan Pengadilan Negeri Nomor 15/Pdt.P/2023/PN Wno terhadap posisi serta kewarisan anak berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yang diselaraskan dengan perkembangan hukum keluarga di Indonesia pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010. Gagasan utama dari analisis ini berfokus pada dinamika peralihan status hukum anak yang lahir sebelum pernikahan resmi orang tuanya dicatatkan. Metode yang diterapkan adalah hukum normatif deskriptif-analitis dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Hasil kajian mengindikasikan bahwa penetapan lembaga peradilan tersebut melahirkan ikatan keperdataan yang penuh antara sang anak dengan ayah biologisnya. Implikasi hukum paling mendasar terlihat pada terbukanya hak keperdataan sang anak dalam sistem pewarisan ab intestato, yang memposisikannya sebagai ahli waris Golongan Pertama bersama anak sah lainnya, serta memberikan hak mutlak atas bagian porsi Legitieme Portie.
Co-Authors , Kasmawati Abdur Rohman Husen Ade Oktaritas KY Adhan. S., Sepriyadi Agus Triono AGUSTINA, RENI Ahmad Muqorobin Ahmad Zazili Ajeng Fadilah Putri akmal hidayah Amanda, Nuresa Divani Andri Irawan Aprilianti Aprilianti Aprilianti Aprilianti, S.H., M.H Arjuna, Piki Asyifa Salsabilla Aziz, M. Faisal Budiyono Budiyono Bunga Rahma Chandra Muliawan Chandra Muliawan Cynara Alya Zhafirah Delvi Liana Dewi Septiana Dianne Eka Rusmawati, S.H., M.Hum Dora Mustika Efendia, Malicia Elfa Murdiana Elfa murdiana Elfa Murdiana Elly Nurlaili Elly Nurlaili Elly Nurlaili Elly Nurlaili Erwin Kurniawan Fajri Ian Herlika Farani, Rabbiyatussha Faridha, Erlin Fegita Maharanny Firmansyah, Ade Arif Gautam Kumar Jha Habiburrahman Habiburrahman, Habiburrahman Hesti Oktriana Huda, Sholikhul I Gede AB Wiranata K, Ade Oktariatas Kasmawati Kasmawati Kasmawati Kasmawati Kasmawati Kasmawati Kulsum, Sayyidah Sekar Dewi Kulsum, Sayyidah Sekar Dwi Kurniawati, Eka Lanny Yoseva Ledy Famulia Lintang, Dheanilla Esa M. Nur Fathoni Maharanny, Fegita Manik, Irvan Juli Alfredo Martinouva, Rissa Afni Martinouva, Rissa Afni Maya Shafira Mayva Rezita Fairuza Meysi Anggraeni Mohamed Rashid Ab Razak Mufliha Wijayati Mufliha Wijayati Muhammad Fakih Muhimmatul Mukaromah Muhtadi Najwa Felicia Heryanto Nargis, Nilla Natamiharja, Rudi Nency Della Oktora Nila Nargis Ningrum, Fara Puspita Aqila Nova Ayu Lestari Nuraini Nuraini Oktora, Nency Della Permana Putra, Aldi Rehulina Rehulina Ria Kurniawati Ria Wierma Putri Ria Wierma Putri, Ria Wierma Ricco Andreas Rilda Murniati Risha Aprilia Risti Dwi Ramasari Riyantika, Annisa S, Sepriyadi Adhan Sayyidah Sekar Dewi Kulsum Sayyidah Sekar Dewi Kulsum Sayyidah Sekar Kulsum Sekar Dewi Kulsum, Sayyidah Sekar Eka Putri Seki Mutianingsih Selvia Oktaviana, Selvia Sepriyadi Adhan S Shaliha Baraqbah, Syarifah Siswahyudianto Siti Nurhasanah Siti Nurlaila Siti Rani Dania Sri Indah Lestari Sunaryo Sunaryo Sunaryo Syakhira Putri Syaroza Syamsiar, Syamsiar Tamza, Fristia Berdian TIARA NUR RAUDA Tio Rizki Fertika Use Etica Utami, Adelya Putri Warda Zakiya Wardani, Yulia Kusuma Wulandari, Sartika Wulandari Yennie Agustin MR Zahara, Anisa Zulkarnain Ridlwan