p-Index From 2021 - 2026
3.314
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Dimensi Interior Nirmana Jurnal Siasat Bisnis MAKNA: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa dan Budaya RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT) Techno.Com: Jurnal Teknologi Informasi Product Design Jurnal Sosioteknologi Journal of Visual Art and Design Mozaik Humaniora ANDHARUPA Jurnal Ilmiah Arena Tekstil RITME Journal of Animation & Games Studies JADECS (Journal of Art, Design, Art Education and Culture Studies) MUDRA Jurnal Seni Budaya Panggung SOSIOHUMANIKA Naditira Widya PRODUCTUM : Jurnal Desain Produk (Pengetahuan dan Perancangan Produk) Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Prosiding Seminar Nasional Pakar Visualita : Jurnal Online Desain Komunikasi Visual Jurnal Telematika Gelar : Jurnal Seni Budaya Jurnal Rupa PROSIDING: SENI, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT Keluwih: Jurnal Sains dan Teknologi Atrat: Jurnal Seni Rupa Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat Wimba: Jurnal Komunikasi Visual Rumoh: Journal of Architecture Jurnal Islam Nusantara Makara Human Behavior Studies in Asia Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain International Journal of Geotourism Science and Developmen Prosiding Seminar Nasional Rekayasa dan Teknologi (TAU SNAR- TEK) Hastagina: Jurnal Kriya dan Indsutri Kreatif Naditira Widya International Research Journal of Business Studies Panggung Serat Rupa: Journal of Design Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah
Claim Missing Document
Check
Articles

Desy Nurcahyanti POTENSI WILAYAH SEBAGAI KARAKTER VISUAL DALAM DESAIN BATIK GIRILAYU Desy Nurcahyanti; Agus Sachari; Achmad Haldani Destiarmand
PROSIDING: SENI, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT Vol 2 (2019): Seni, Teknologi, dan Masyarakat #4
Publisher : LP2MP3M, INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/semhas.v2i0.105

Abstract

The 4.0 industrial revolution currently offers traditions. Those offer options for chose to survive, join, or merge.Various forms of technology are offering unnecessity because the community has a system and local wisdomthat keeps the form of tradition in its place. One of tradition form that’s facing on offer is batik in Girilayu.Pattern character basic on regional potencies as a characteristic of Girilayu’s batik design. Meanwhile, thespecific purpose of this research is explaining the background of batik designers in Girilayu when makingdesign development, to expose and promote the regional character in the 4.0 industrial revolution era today.The focus of the research problem includes changes and design innovations carried out by Girilayu’s batikdesigners, within the last three years, from 2016 until the middle of 2019. The research method used qualitativewith a hermeneutic approach through findings that shows visual characters of Girilayu batik. That appearedas a representation of Girilayu’s community still maintains cultural nobility by exploring regional potenciesas batik’s characteristic.
MOTIF KALAMAKARA PADA TEMUAN PERHIASAN EMAS ERA MAJAPAHIT KOLEKSI MUSEUM NASIONAL JAKARTA Waridah Muthiah; Agus Sachari
PROSIDING: SENI, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT Vol 3 (2020): Seni, Tenologi, dan Masyarakat #5
Publisher : LP2MP3M, INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/semhas.v3i0.135

Abstract

Jewelry in the Classical era in Indonesia, especially in the Late Classic era, occupies an important position in society. Apart from being a symbol of a person's status and position, when discussing the depiction of jewelry on a statue or relief, the jewelry worn by a character is also an indication in determining the identity of the character. Jewelry in the Late Classical era was made of gold, which was considered to have high material, symbolic, and religious value in society at that time. Based on the findings of jewelry in the Late Classic era, especially the Majapahit era, there is an interesting phenomenon, namely the depiction of animal figures as decorations or ornaments. This phenomenon is seen in the crown, earrings, and shoulder harness, as found in Trowulan. In some jewelery, the form of kalamakara (kalamakara) is displayed, which is usually depicted on the gate of the temple, as a repellent to disaster. The depiction of kalamakara in jewelry raises questions about the background behind the depiction. This research was conducted using qualitative methods through observation of four samples of Majapahit era jewelry found in Trowulan, the collection of the Jakarta National Museum. It can be concluded that the existence of kalamakara as a motif in jewelry is related to the meaning of kalamakara in Javanese society, namely as a repellent for disaster. Keywords: jewelry, kalamakara motif, Majapahit era
SENSE OF PLACE PADA RUANG PERPUSTAKAAN PUSAT UNIVERSITAS INDONESIA: Sense of Place in the University of Indonesia Library Nisa Putri Rachmadani; Gregorius Prasetyo Adhitama; Agus Sachari
Rumoh Vol. 12 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.976 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v12i1.192

Abstract

Tren desain perpustakaan di era modern kini telah menggeser perubahan fungsi dan makna perpustakaan dan penerapan teori sense of place pada desain interior. Perpustakaan akademik sebagai sebuah tempat sosial bagi mahasiswa dimaknai sebagai sebuah tempat yang sunyi dan tenang. Tetapi konsep library as a place membawa perpustakaan menjadi sebuah tempat beraktivitas sosial baik akademik maupun non-akademik. Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia merupakan salah satu perpustakaan akademik di Indonesia yang mengusung konsep library as a social place. Dengan konsep library as a place, Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia diharapkan akan meningkatkan tingkat kenyamanan pengguna perpustakaan. Fenomena library as a place yang tercipta antara keseimbangan aktivitas akademik dan non-akademik menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Melalui teori Place milik Hashemnezhad, maka dikaji pengaruh aspek fisik, emosi dan perilaku terhadap makna yang terbentuk pada ruang perpustakaan sebagai ruang publik. Dalam mengkaji penelitian inisecara komprehensif, metode yang digunakan adalah pendekatan campuran dengan strategi eksploratori sekuensial. Sampel dalam penelitian ini adalah pengunjung yang Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, baik warga Universitas Indonesia maupn non-UI, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa (1) aspek fisik area perpustakaan yang paling mempengaruhi kepuasan pengunjung perpustakaan adalah suhu ruang; (2) suasana nyaman yang tercipta dari aktivitas sosial yang terjadi menambah kenyamanan pengunjung perpustakaan untuk dapat bersantai dan menghabiskan waktu luang; dan (3) pengunjung perpustakaan memaknai ruang perpustakaan sebagai tempat mencari ide/gagasan/inspirasi. Makna tempat (place) pada perpustakaan akademik terbentuk oleh perannya sebagai ruang sosial. Kehadiran ruang sosial pada Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia menjadikan identitas baru bagi perpustakaan akademik, sehingga Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia memiliki ciri khas dan ketertarikan untuk dikunjungi.
Peran Kearifan Lokal Masyarakat Jawa Untuk Melestarikan Batik Tradisi di Girilayu, Karanganyar, Indonesia Desy Nurcahyanti; Agus Sachari; Achmad Haldani Destiarmand
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i2.816

Abstract

Rangkaian proses rumit yang menghasilkan nilai filosofi tinggi pada batik mulai ditinggalkan oleh masyarakat pembuatnya yakni para perajin batik. Fenomena menurunnya minat generasi muda untuk melanjutkan pembuatan batik tradisi di sentra-sentra batik merupakan masalah yang harus dipecahkan dari berbagai latar belakang, di antaranya secara sosial dan budaya. Solusi dan alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan konsep kearifan lokal perlahan diterapkan kembali oleh para perajin batik di Girilayu. Tujuan penelitian ini antara lain: 1) mengetahui penyebab menurunnya pembuatan dan penggunaan batik tradisi dari segi sosial serta budaya, 2) mengetahui peran kearifan lokal masyarakat Jawa dari aspek efektifitasnya untuk melestarikan batik tradisi, dan 3) menguraikan cara penerapan kearifan lokal dalam melestarikan batik tradisi di Girilayu. Metode penelitian yang dipergunakan yakni wawancara mendalam pada para perajin batik di Girilayu sebagai pelaku, tokoh, dan pakar batik; serta studi pustaka referensif. Pendekatan antropologis dipergunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data berdasarkan realitas di masyarakat. Penelitian ini menemukan bahwa peran kearifan lokal masyarakat Jawa dalam melestarikan batik tradisi di Girilayu dapat berjalan efektif melalui dukungan pendidikan keluarga dan sekolah secara intensif.
“Mbok Mase” dan “Mbok Semok”: Reinterpretasi Karakter Perempuan Jawa dalam Kultur Batik Desy Nurcahyanti; Agus Sachari; Achmad Haldani Destiarmand; Yan Yan Sunarya
PANGGUNG Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.179 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i3.1096

Abstract

Stigma masyarakat tentang karakter perempuan Jawa digambarkan sebagai sosok marginal yang tunduk pada kekuatan laki-laki, pengabdi, penurut, pelayan, bertutur kata lemah lembut, dan bergerak pelan dengan wajah menunduk. Deskripsi tersebut berubah secara dinamis dan mengalami reinterpretasi melalui peristiwa sejarah terkait peran perempuan Jawa dalam perjuangan penyetaraan hak dengan kaum laki-laki. Pemaknaan ulang karakter perempuan Jawa terjadi pada lingkup pengrajin batik di Girilayu, Karanganyar, Jawa Tengah. Mereka bersepakat membentuk pencitraan untuk ciri khas produk batik dengan istilah “Mbok Semok”. Analisis perspektif sosio-kultural memperlihatkan bahwa karakter, kekuatan, dan peran para perempuan pengrajin batik tersebut sebagai motor penggerak perekonomian di Girilayu. Uraian tersebut memiliki kesamaan dengan karakter, kekuatan, dan peran perempuan juragan di Laweyan, Surakarta (Solo) dengan sebutan “Mbok Mase”, sebagai kunci keberhasilan perjalanan sebuah usaha batik keluarga. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan antropologi budaya, analisis menggunakan metode komparatif berdasarkan konsep teori reinterpretasi dari Melville J. Herskovits. Hasil penelitian berupa deskripsi, latar belakang serta bentuk-bentuk reinterpretasi karakter perempuan Jawa dengan komparasi antara “Mbok Mase” di Laweyan, Surakarta dengan “Mbok Semok” di Girilayu, Karanganyar. Temuan penelitian adalah karakter, kekuatan, peran, sikap bahkan sistem di Girilayu dan Laweyan yang mereinterpretasi karakter perempuan Jawa merupakan etos kultur batik.
Karakteristik Visual Busana Kebaya Ibu Negara Indonesia S Suciati; Agus Sachari; Kahfiati Kahdar; Achmad Syarif
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 2 (2016): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i2.32

Abstract

Busana Ibu Negara mempresentasikan citra perempuan Indonesia. Busana Kebaya Ibu Negara merupakan Busana Nasional yang keberadaannya sebagai salah satu identitas visual yang memiliki karakteristik tertentu sebagai identitas visual nasional. Tujuan penelitian ini, mendeskripsikan secara visual karakteristik Busana Kebaya Ibu Negara sebagai busana nasional. Metode penelitian historis (latar belakang budaya, pendidikan, dan lingkungan pergaulan) digunakan sebagai cara untuk mengungkapkan karakteristik Busana Kebaya Ibu Negara Indonesia. Kajian ini menunjukkan adanya karakteristik Busana Kebaya Ibu Negara yang meliputi hair do, make up, busana bagian atas (kebaya nasional), busana bagian bawah (kain panjang/kain tradisional daerah Indonesia), beserta pemakaian aksessories dan millincriesnya. Karakteristik Busana Kebaya Ibu Negara meliputi karakteristik bentuk fisik, ragam hias, bahan, ukuran, dan cara pakai. Kesimpulan dari kajian ini adalah adanya pengelompokkan jenis busana kebaya dari berbagai busanakebaya yang popular di Indonesia, dan adanya ciri-ciri tertentu pada busana kebaya untuk Ibu Negara yang umumnya menunjukkan Busana Nasional perempuan Indonesia.
Symbolic Meaning of the Ornamental Diversity of Cirebon Batik Pegajahan Komarudin Kudiya; Setiawan Sabana; Agus Sachari
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 3 (2016): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i3.42

Abstract

Cirebon Batik Pegajahan is the result ofthe creative process, feeling, intention, also long thought of people who have expertise in interpreting the condition of people‘s behavior of Cirebon (palace), which was then adapted into a form of art and culture of batik fabric through a process of creativity of the craftsmen. This Batik Pegajahan grows and develops within the community of (palace) Cirebon, including: Kasepuhan Palace, Kanoman, Kacirebonan, and Keprabonan.This study will explain the symbolic narrative contained in Pegajahan Cirebon batik decoration. The discussion is based on the systematic symbolic visual elements of the Pegajahan batik decoration which is based on the teachings ofthe Tarekat Syattariyah attitudes and behavior of (palace) Cirebon society, form of local wisdom that is reflected in the symbolic-aesthetic elements.The research used descriptive—analytic method and ethnography, in describing the symbolic narrative found in Batik Pegajahan Cirebon, The results are in the form ofvisual data complete with symbolic narratives in Batik Pegajahan Cirebon, which represents behavior of (palace) Cirebon people significantly; so it can be used as reference for further research in the reconstruction, reproducing, and formulating such ornaments as the basis for designing or guidance for the people of batik (palace) Cirebon in particular.Keywords: Symbolic Narratives, Decoration of Batik Pegajahan and Tarekat Syattariyah
Minahasan Vernacular House; Values, Meanings, And Forms Ronald M P Kolibu; Agus Sachari; Pindi Setiawan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 1 (2020): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i1.998

Abstract

House is one of human’s three primary needs. It is developed alongside human civilization. Minahasa as a part of that civilization developed vernacular architecture based on their culture’s unique values, meanings, and forms. This article is a part of research concerned in answering the questions of (1) how are the knowledge and technology used by Minahasan to build their vernacular house, (2) how are the shape and form of Minahasan vernacular house in Minahasa’s cultural development, and (3) what are the value and meaning of Minahasan vernacular house for its people. These three questions were being addressed in this research by using qualitative method with ethnographic approach, where every steps and results will be described by interpretation of several patterns from the values, meanings, and forms found in the research process. Ethnography was utilized to see phenomena in this research. The results are identification of values, meaning, and forms development in Minahasan vernacular house.
Kedudukan Workstation Canting pada Tata Ruang Workshop Batik Tulis Oey Soe Tjoen Rachmi Kumala Widyasari; Agus Sachari; Andar Bagus Sriwarno; G. Prasetyo Adhitama
PANGGUNG Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1882.984 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i1.1173

Abstract

Rumah batik Oey Soe Tjoen adalah salah satu workshopbatik tulis tradisional Nusantara yang mempertahankan orisinalitas dalam menghasilkan kain batik secara turun temurun. Proses produksi kain batik dengan canting memegang peranan penting dalam rumah batik Oey Soe Tjoen.  Tujuan penelitian ini adalah untuk meninjau kedudukan proses pembuatan kain batik dengan canting pada usaha batik tulis tradisional, baik dalam lingkup proses kerja maupun dalam lingkup tatanan ruang. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi melalui studi literatur, observasi dan wawancara langsung kepada nara sumber. Data dipaparkan secara deskriptif dan dianalisis sehingga menghasilkan temuan bahwa, proses produksi kain batik dengan canting adalah sebuah proses yang signifikan dalam menghasilkan batik tulis secara tradisional. Sehingga ruang yang mewadahi proses ini menjadi ruang penting dalam tata ruang sebuah workshop batik tulis tradisional yang perlu dipertimbangkan guna mendukung kelancaran produktivitas kerja. Kata kunci: batik tulis, canting, hirarki, Oey Soe Tjoen, workstation
Sense of Place among Adolescents: Factors Influencing the Place Attachment on Shopping Malls Kusumowidagdo, Astrid; Rembulan, Cicilia Larasati; Sachari, Agus
Makara Human Behavior Studies in Asia Vol. 19, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to find the push factors that create relationships between youth and shopping centers and examines how different mall environments also help create different emotional bonds towards the malls. This topic is further observed with an explorative study that obtained its primary data from interviews and secondary data from various supporting literatures as well as from a number of observations. The informants were 15 visitors of each of the following shopping centers: Tunjungan Plaza and Ciputra World in Surabaya; and Mal Ciputra and Gandaria City in Jakarta. The total informant number is 60. The research found several affective factors that support the formation of place attachment: physical factors that lead to indirect place attachment, social factors or social interactions that happen in the shopping center, cultural factors, personal factors (including gender, race and ethnicity), memories and experience, place satisfaction, interaction and activity features, and time factor. The different age of shopping centers also had an effect to the factors present.
Co-Authors A. Erwan Suryanegara A. Erwan Suryanegara A.A. Ketut Agung Cahyawan W Acep Iwan Saidi Achmad Haldani Achmad Haldani Destiarmand Achmad Haldani Destiarmand Achmad Syarif Adhi Nugraha Adhi Nugraha Adhitama, Gregorius Prasetyo Agung EBW Agung Eko Budi Waspada Agung Eko Budi Waspodo Agung Eko Budi Waspodo Agung Eko Budiwaspada Agustianto, Merdy Ahmad Haldani Destiarman Al Hazmi Indrapasca Yoga Aldy Rizqi Kasatia Rama Alfian Candra Ayuswantana Alvanov Zpalanzani Andar Bagus Sriwarno Andry - Andry -, Andry Andryanto Rikrik Kusmara Annisa Lutfia Ardhyaska Amy Ariani . Arianti Ayu Puspita Arianti Ayu Puspita Ayu Puspita Arini Arumsari Astrid Kusumowidagdo Azhar Natsir Ahdiyat Azhar Natsir Ahdiyat Budi Isdianto Busratul Mukmin Sjahroeddin Cama Juli Rianingrum Cicilia Larasati Rembulan D, Achmad Haldani Daffi Ranandi Desy Nurcahyanti desy nurcahyanti Desy Nurcahyanti Dhika Yuan Yurisma Diah Natarina Diah Natarina Dian Widiawati Dicky Rezaldy Munaf EBW, Agung Endah Oktaviani Fajar Ciptandi Fakhruddin, Dimas Fakhruddin, Dimas Firman Hawari Firman Hawari Fred Soritua Manurung Fred Soritua Rudiyanto G. PRASETYO ADHITAMA Gregorius Prasetyo Adhitama Hendhy Nansha I Nyoman Larry Julianto Imam Santosa Imam Santosa Indah Septi Intan Rizky Mutiaz Ira Adriati Irfansyah Irfansyah Kahfiati Kahdar Kahfiati Kahdar Kahfiati Kahdar Kemala Montesa Faizul Komarudin Kudiya, Komarudin Mansoor, Alvanov Z. Meirina Triharini Mohamad Zaini Alif Muhammad Ihsan DRSAS Mustikasari, Hany Muthi'ah, Waridah Muthi?ah, Waridah Naomi Haswanto Natarina, Diah Nisa Putri Rachmadani Noor Hasyim Nurcahyanti, Desy Oktaviani, Endah Pindi Setiawan Pindi Setiawan Pindi Setiawan Pindi Setiawan Pindi Setiawan Pribadi Widodo Pribadi Widodo Prizilla, Aquamila Bulan Rachman, Ariani Rachmi Kumala Widyasari Rahmatsyam Lakoro Rahmatsyam Lakoro Rahmatsyam Lakoro Rahmatsyam Lakoro Robby Firmansyah Ronald Marthen Pieter Kolibu S Suciati Sadah, Khozinatus Santoso, Sandi Setiawan Sabana Setiawan Sabana Setiawan Sabana Setiawan Sabana Setiawan Sabana Setiawan Sabana Setiawan Sabana Suciati Suciati Suciati Suciati Triana Hapsari Wantoro, A M Waridah Muthi'ah Waridah Muthiah Waridah Muthiah Waridah Muthi’ah Waridah Muthi’ah Wenny Anggraini Natalia Y. Martinus Pasaribu Yan Yan Sunarya Yan Yan Sunarya Yannes Martinus Pasaribu Yusita Kusumarini