Articles
Tingkat Stres Narapidana ditinjau dari Masa Tahanan dan Frekuensi Membaca Alquran
Kholifah Umi Sholihah;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal Psikologi Islam dan Budaya Vol 4, No 2 (2021): JPIB : Jurnal Psikologi Islam dan Budaya
Publisher : Faculty of Psychology, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jpib.v4i2.11288
This study aims to examine the relationship between detention duration and stress and to determine the level of stress in terms of the frequency of reading the Alquran by inmates. This research is a quantitative correlational and comparational research. This study was conducted in detention houses X and Y involving 63 male inmates. The sampling technique used is purposive sampling. The data collection technique was carried out using the Stress Scale. The results of this study indicate that there is no relationship between the length of detention and stress, however there is a difference in stress in terms of the frequency of reading the Alquran. The conclusion obtained in this study is that the activity of reading the Alquran is important for inmates.
HUBUNGAN ANTARA KONFLIK PERAN PEKERJAAN-KELUARGA DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA ANGGOTA KOWAD DI KODAM IV/DIPONEGORO
Bening Pangastuti;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 (April 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (144.611 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2015.14917
Anggota KOWAD merupakan profesi yang menuntut individu memiliki sikap disiplin, tegas dan patuh. Tugas anggota KOWAD sebagai TNI-AD yaitu mempertahankan NKRI tetap utuh, memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai seorang prajurit. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara konflik peran pekerjaan-keluarga dengan kesejahteraan psikologis pada KOWAD di KODAM IV/Diponegoro. Konflik peran pekerjaan-keluarga merupakan konflik peran yang muncul akibat tanggung jawab yang berhubungan dengan pekerjaan mengganggu waktu, ketegangan dan perilaku dalam peran di ranah keluarga. Kesejahteraan psikologis merupakan pencapaian individu dalam menerima kekurangan dan kelebihan dirinya. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan negative antara konflik peran pekerjaan-keluarga dan kesejahteraan psikologis. Subjek diberikan Skala Konflik Peran Pekerjaan-Keluarga (21 aitem, á = .94) dan Skala Kesejahteraan Psikologis (26 aitem, á = .93). Analisis regresi sederhana menunjukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara konflik peran pekerjaan-keluarga dan kesejahteraan psikologis pada KOWAD di KODAM IV/Diponegoro. (r = -. 68; p < .001). Semakin tinggi konflik peran pekerjaan-keluarga maka kesejahteraan psikologis semakin rendah, begitu juga sebaliknya. Konflik peran pekerjaan-keluarga memberikan sumbangan efektif 46% terhadap kesejahteraan psikologis. Ketika ingin meningkatkan kesejahteraan psikologis, individu harus meminimalkan konflik peran pekerjaan-keluarga.
POLA ASUH OTORITER ORANG TUA DAN SIKAP TERHADAP BULLYING PADA SISWA KELAS XI
Fiska Nurzahra Susilo;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 (Oktober 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (191.131 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2015.13657
Masa remaja merupakan salah satu fase perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa transisis perkembangan individu dari anak-anak menuju masa dewasa yang mengalami perkembangan dan perubahan yang cukup signifikan baik biologis, kognitif, maupun sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh otoriter orang tua dan sikap terhadap bullying pada siswa kelas XI di SMA Negeri 5 Depok. Pola asuh otoriter orang tua adalah pola asuh yang menerapkan aturan dan batasan yang harus ditaati dan bersifat menghukum sehingga dapat membuat anak menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan cenderung mencari perhatian dari orang lain. Sikap terhadap bullying adalah penilaian, perasaan, dan kecenderungan bertindak individu terhadap perilaku menyakiti, mengancam, dan menakuti fisik maupun psikis secara berulang-ulang yang dilakukan oleh individu lain secara pribadi atau berkelompok terhadap orang lain yang dianggap lemah, mudah diejek, dan tidak dapat membela diri. Populasi penelitian yaitu 408 siswa kelas XI yang terdiri dari 10 kelas dengan sampel penelitian adalah 165 siswa dari 4 kelas dan diperoleh dengan cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan Skala Pola Asuh Otoriter Orangtua (37 aitem; α = 0,86) dan Skala Sikap terhadap Bullying (41 aitem; α = 0,93). Hasil analisis regresi menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pola asuh otoriter orang tua dengan sikap terhadap bullying (rxy = 0,28; p < 0,001). Pola asuh otoriter orang tua memberikan sumbangan efektif sebesar 8% terhadap sikap terhadap bullying.
HUBUNGAN ANTARA KETIDAKPUASAN PADA TUBUH DENGAN HARGA DIRI PADA WANITA DEWASA AWAL ANGGOTA PUSAT KEBUGARAN MOETHYA
Monica Vida Pratiwi;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 (Agustus 2020)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2020.28956
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui hubungan antara ketidakpuasan pada tubuh dengan harga diri pada wanita dewasa awal anggota Pusat Kebugaran Moethya. Harga diri merupakan penilaian individu terhadap dirinya sendiri dari rentang yang positif sampai negatif mengenai keseluruhan aspek dalam dirinya. Ketidakpuasan pada tubuh merupakan evaluasi negatif seseorang pada dirinya terkait tubuh atau tampilan fisik yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada diri sendiri maupun dalam interaksi di lingkungan sosial. Partisipan dalam penelitian ini adalah 97 orang wanita dewasa awal anggota Pusat Kebugaran Moethya. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah convenience sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Harga Diri (36 aitem, α=0,922) dan Skala Ketidakpuasan pada Tubuh (30 aitem, α=0,936). Analisis data menggunakan analisis statistik non parametrik Spearman’s Rho menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara ketidakpuasan pada tubuh dengan harga diri pada wanita dewasa awal anggota Pusat Kebugaran Moethya (rxy=-0,579 ;p< 0,001). Semakin rendah ketidakpuasan pada tubuh wanita dewasa awal anggota Pusat Kebugaran Moethya maka akan semakin tinggi harga diri. Sebaliknya, semakin tinggi ketidakpuasan pada tubuh wanita dewasa awal anggota Pusat Kebugaran Moethya maka akan semakin rendah harga diri.
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN EFIKASI DIRI DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN KARIR PADA MAHASISWA TAHUN KEEMPAT ANGKATAN 2017 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO
Rizky Amalia Sholiha;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 10, Nomor 4, Tahun 2021 (Agustus 2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2021.32606
Menempuh perkuliahan hingga tahun keempat menandakan bahwa waktu mahasiswa semakin dekat untuk segera mengambil keputusan karir. Tuntutan akademik yang semakin berat membuat mahasiswa tahun keempat harus lebih mengelola kondisi emosi agar dapat menyelesaikan tanggungjawab akademik yang dimiliki serta menyelesaikan tugas tugas dalam mengambil keputusan karir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan efikasi diri dalam mengambil keputusan karir pada mahasiswa tahun keempat angkatan 2017 Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro. Populasi penelitian adalah mahasiswa angkatan 2017 Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro yang berjumlah 221 orang. Sampel penelitian sejumlah 140 orang (75% perempuan, usia 19-24 tahun) diperoleh melalui simple random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan Skala Efikasi Diri Dalam Mengambil Keputusan Karir (36 aitem; α = 0, 958) dan Skala Kecerdasan Emosional (26 aitem; α = 0, 905). Analisis Spearman Rank menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar rs = 0,649 dengan nilai p = 0,000 (p<0,05), yang menunjukkan bahwa hipotesis diterima, yaitu terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan efikasi diri dalam mengambil keputusan karir. Artinya, semakin tinggi kecerdasan emosional, maka semakin tinggi efikasi diri dalam mengambil keputusan karir.
HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL GURU-SISWA DENGAN SELF-REGULATED LEARNING PADA SISWA SMAN 9 SEMARANG
Lucky Rianatha;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 (April 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (143.451 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2015.14918
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi interpersonal guru-siswa dan self-regulated learning pada siswa SMAN 9 Semarang. Self-regulated learning merupakan kemampuan siswa mengatur diri dalam belajar dengan melibatkan kemampuan strategi pemikiran terkait aktivitas berpikirnya, persepsi keyakinan diri dari kemampuan performa, dan komitmen akademik yang secara sistematis berorientasi mengarah pencapaian tujuan belajar yang diinginkan. Komunikasi interpersonal guru-siswa merupakan penilaian siswa terhadap kemampuan guru dalam menyampaikan pesan/informasi kepadanya secara jelas, sehingga menghasilkan kesamaan pemahaman dan senantiasa mempengaruhi perubahan sikap, serta dapat memelihara juga memperbaiki hubungan yang baik dan menyenangkan akan memudahkan siswa untuk lebih terbuka pada guru. Populasi penelitian berjumlah 364 yang terdiri dari 10 kelas, sedangkan yang digunakan menjadi sampel penelitian sebanyak 108 siswa yang terdiri dari 3 kelas. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian adalah cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan 2 alat ukur skala psikologi yaitu Skala self-regulated learning (33 aitem, α = .92) dan Skala komunikasi interpersonal guru-siswa (26 aitem, α = .88). Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi (Rxy = .49; p < .001). Komunikasi interpersonal guru-siswa memberikan sumbangan efektif sebesar 25% terhadap self-regulated learning. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti diterima, yaitu terdapat hubungan positif dan signifikan antara komunikasi interpersonal guru-siswa dengan self-regulated learning. Semakin baik komunikasi interpersonal guru-siswa, maka semakin tinggi self-regulated learning siswa, demikian pula semakin buruk komunikasi interpersonal guru-siswa, maka semakin rendah pula self-regulated learning siswa.
REGULASI DIRI DAN ADIKSI SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK PADA MAHASISWA POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
Raras Haryuningrum;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 (Oktober 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (183.501 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2015.14357
Situs jejaring sosial facebook saat ini semakin populer di dunia maya. Adiksi facebook jika dibiarkan terus menerus dapat berakibat buruk bagi penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi diri dengan adiksi situs jejaring sosial facebook pada mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya hubungan negatif dan signifikan antara regulasi diri dengan adiksi situs jejaring sosial facebook pada mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Alat ukur yang digunakan pada penelitian adalah Skala Regulasi Diri (44 aitem; α = .91) dan Skala Adiksi Situs Jejaring Sosial Facebook (32 aitem; α = .91). Populasi dalam penelitian ini mahasiswa semester 2 dan 4 Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dengan jumlah sebanyak 499 mahasiswa. Sampel penelitian adalah 230 mahasiswa yang memiliki akun facebook dan aktif menggunakan facebook minimal 6 bulan, yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Analisis regresi sederhana menunjukan bahwa rxy = -.39, (p < .001), artinya terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara regulasi diri dengan adiksi situs jejaring sosial facebook, yang menunjukan bahwa semakin tinggi regulasi diri maka semakin rendah adiksi situs jejaring sosial facebook. Sumbangan efektif regulasi diri terhadap adiksi situs jejaring sosial facebook adalah sebesar 15.1%.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN EFIKASI DIRI KEPUTUSAN KARIR SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 SEMARANG
Tunjung Inoe Kartikasari;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 (Agustus 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2015.12976
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan efikasi diri keputusan karir siswa kelas XI SMA Negeri 2 Semarang. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara dukungan sosial teman sebaya dengan efikasi diri keputusan karir. Populasi dalam penelitian ini adalah 467 siswa kelas XI SMA Negeri 2 Semarang dengan sampel penelitian berjumlah 210 siswa, yang diperoleh melalui cluster random sampling. Alat pengumpul data yang digunakan adalah Skala Efikasi Diri Keputusan Karir (34 aitem valid, α= .93) dan Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya (35 aitem valid, α= .92) yang telah diujicobakan pada 127 siswa. Analisis korelasi Spearman’s Rho menunjukkan nilai koefisien sebesar .42 dan p= .00 (p<0,05). Hal ini menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan efikasi diri keputusan karir. Semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya maka semakin tinggi pula efikasi diri keputusan karir, dan sebaliknya. Dukungan sosial teman sebaya memberikan sumbangan efektif sebesar 17,9% dalam mempengaruhi efikasi diri keputusan karir, sedangkan sisanya sebesar 82,1% dipengaruhi oleh faktor lain. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti pada populasi yang lebih luas mengingat pentingnya dan masih terbatasnya penelitian mengenai efikasi diri keputusan karir.
HUBUNGAN ANTARA JOB CRAFTING DAN WORK-LIFE BALANCE PADA KARYAWAN TEKNIK PERUMDAM TIRTA SATRIA KABUPATEN BANYUMAS
Qotrunnada Firdauz;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 10, Nomor 4, Tahun 2021 (Agustus 2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2021.35288
Tugas pekerjaan karyawan teknik yang menuntut karyawan untuk lebih banyak mengalokasikan waktu dan fokusnya terhadap pekerjaannya kerap membuat karyawan mengesampingkan kegiatan pribadinya dan hal tersebut menyebabkan karyawan berpotensi untuk tidak mencapai work-life balance. Job crafting merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan karyawan untuk mencapai work-life balance. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara job crafting dan work-life balance pada karyawan teknik PERUMDAM Tirta Satria Kabupaten Banyumas. Populasi penelitian ini adalah 130 orang karyawan teknik PERUMDAM Tirta Satria. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 97 karyawan dan diambil menggunakan teknik cluster random sampling (92% laki-laki dan 4% perempuan, rentang usia 21 tahun-56 tahun). Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Job Crafting (37 aitem, α = 0,954) dan Skala Work-life Balance (22 aitem, α = 0,941). Uji korelasi yang dilakukan menggunakan Spearman’s Rho dan menunjukkan nilai rxy = 0,763. dengan p = 0,000. (p < 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara job crafting dan work-life balance pada karyawan teknik PERUMDAM Tirta Satria. Artinya, semakin tinggi tingkat job crafting pada karyawan maka semakin tinggi pula tingkat work-life balance pada karyawan.
HUBUNGAN ANTARA GEGAR BUDAYA DENGAN PENGUNGKAPAN DIRI PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA BERSUKU BATAK DI UNIVERSITAS DIPONEGORO
Yohana Sondang Activa Hutabarat;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 (April 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (140.099 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2015.14908
Kemajuan teknologi dan kemajuan jaman membuka kesempatan seseorang untuk pergi ke daerah asing dan bertemu dengan budaya asing dengan tujuan yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengungkapan diri dengan gegar budaya pada mahasiswa tahun pertama bersuku Batak di Universitas Diponegoro. gegar budaya adalah suatu kondisi yang terjadi ketika seseorang tidak mengenal kebiasaan-kebiasaan sosial dari kultur baru atau jika ia mengenalnya maka ia tak dapat atau tidak bersedia menampilkan perilaku yang sesuai dengan aturan-aturan itu. Pengungkapan diri merupakan kemampuan individu dalam mengungkapkan segala perasaan dan informasi meliputi fakta tentang diri sendiri yang mungkin belum diketahui oleh orang lain, keinginan pribadi, dan pendapat atau perasaan pribadinya baik hal yang disukai maupun dibenci. Jumlah subjek penelitian ini yaitu 110 orang mahasiswa tahun pertama yang bersuku Batak, maksimal tinggal si Jawa Tengah enam bulan, dan sebelumnya belum pernah tinggal di Jawa Tengah. Pada sampel penelitian sebanyak 50 mahasiswa diperoleh melalui incidental sampling diberikan Skala Gegar Budaya (21 aitem, α = 0.89) dan Skala Pengungkapan Diri (30 aitem, α = 0.88). Analisis regeresi sederhana menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara pengungkapan diri dengan gegar budaya pada mahasiswa tahun pertama bersuku Batak di Universitas Diponegoro (r = -.26; p = .04 < .05). Semakin tinggi gegar budaya maka semakin rendah pengungkapan diri.