p-Index From 2021 - 2026
7.573
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Journal of Agroecology AGROVET AGRISAINS MEDIA LITBANG SULTENG Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology Jurnal Ilmu Kelautan Spermonde Jurnal Ilmiah Pangabdhi Jurnal Pertanian Terpadu Omni-Akuatika JURNAL GALUNG TROPIKA Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA) Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Jurnal Kelautan Nasional Jurnal Biosilampari: Jurnal Biologi Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Journal of Aquaculture and Fish Health Jurnal Sains Teknologi Akuakultur MONSU'ANI TANO Jurnal Pengabdian Masyarakat Jurnal Abdi Insani Jurnal Perikanan Pantura Jurnal Pari Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan Arwana: Jurnal Ilmiah Program Studi Perairan JAGO TOLIS : Jurnal Agrokompleks Tolis Media Eksakta Media Akuatika: Jurnal Ilmiah Jurusan Budidaya Perairan Jurnal Ilmiah AgriSains JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Makara Journal of Science Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Journal of Public Health and Pharmacy JURNAL SAINS dan INOVASI PERIKANAN Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Eumpang Breuh: Jurnal Pengabdian Masyarakat Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Mitra Sains Jurnal Perikanan Genbinesia Journal of Biology
Claim Missing Document
Check
Articles

Keanekaragaman Makrozoobentos di Pantai Tukak Kabupaten Bangka Selatan Dwi Rosalina; Dini Sofarini; Novalina Serdiati; Suci Puspita Sari
Jurnal Kelautan Nasional Vol 17, No 3 (2022): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v17i3.9982

Abstract

Makrozoobentos adalah hewan yang hidup di dasar perairan. Makrozoobentos dipergunakan sebagai hewan indikator terhadap pencemaran di suatu perairan. Penelitian tentang makrozoobentos di Pantai Tukak Kabupaten Bangka Selatan telah dilakukan pada April 2012. Tujuan penelitian ini menghitung kepadatan, kepadatan relatif, frekuensi kehadiran, nilai penting, keanekaragaman, keseragaman, dominansi dan korelasi antara parameter fisik-kimia perairan dengan keanekaragaman. Metode yang digunakan adalah Purposive Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makrozoobenthos yang ditemukan dalam stasiun pengamatan terdiri dari 30 spesies dari kelas Gastropoda, Bivalvia, Polychaeta, Merostomata, Holothuroidea, Asteroidea dan Crustacea. Nilai kepadatan 52-745 ind/m2. Semua stasiun memiliki kepadatan relatif dan frekuensi relatif yang sama yaitu 100. Semua stasiun memiliki Nilai penting yang sama yaitu 200. Nilai keanekaragaman berkisar antara 1,682 – 2,413. Nilai keseragaman jenis berkisar antara 0,427 - 0,881. Nilai dominansi berkisar antara 0,108 - 0,219. Korelasi antara keanekaragaman dengan salinitas, pH, liat, DO, debu dan nitrogen adalah positif. Nilai korelasi antara keanekaragaman dengan suhu, pasir, kecepatan arus, C-organik dan fosfor adalah negatif.
Fermentasi Bahan Baku Nabati Pakan dengan Cairan Rumen Sapi dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Muhammad Safir; Novalina Serdiati; Aswad Eka Putra; Yesaya Warisyu
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.18792

Abstract

ABSTRAKIkan mas adalah salah satu ikan air tawar yang bersifat herbivor. Pakan sebagai sumber nutrien dalam pembesaran ikan mas umumnya terbuat dari beberapa campuran bahan baku nabati. Penggunaan bahan baku nabati tanpa pengolahan dapat menurunkan pertumbuhan ikan karena kandungan serat dan zat antinutrisnya yang relatif tinggi. Cairan rumen sapi merupakan salah satu bahan kaya akan enzim dan mikroorganisme yang berperan dalam menurunkan serat kasar dan zat antinutrisi pada bahan nabati pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis cairan rumen sapi yang tepat sebagai bahan fermentasi pada seluruh bahan nabati pakan dalam meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan mas. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang diujikan yakni dosis penggunaan cairan rumen sapi (0%, 25%, 50% dan 75% dari bobot bahan nabati pakan). Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan cairan rumen sapi sebagai bahan fermentasi bahan nabati dalam pembuatan pakan memberikan pengaruh nyata (p0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik harian (LSPH), pertambahan bobot individu (PBI), rasio konversi pakan (RKP). LSPH dan PBI tertinggi serta RKP terendah diperoleh pada perlakuan dosis cairan rumen sapi 75% per bobot sampel bahan nabati yakni secara berurut sebesar 2,87 % hari-1, 1,18 g dan 1,77. Kelangsungan hidup selama pemeliharaan untuk semua perlakuan berkisar antara 66,67-80,0%. Kualitas air selama pemeliharaan meliputi pH (5,8-8,1), suhu (28-30 ºC), oksigen terlarut (5,0-6,8 ppm), dan amonia  (0,05-0,01 ppm) masih dalam kategori sesuai untuk pemeliharaan benih ikan mas. Dosis penggunaan cairan rumen sapi sebagai bahan fermentasi bahan baku nabati pakan yang memberikan nilai terbaik diperoleh pada perlakuan D (75% cairan rumen sapi).Kata Kunci: Bahan baku pakan, Kelangsungan hidup, Rasio konversi pakanABSTRACTThe carp (Cyprinus carpio) is a herbivorous freshwater fish. Feed as a source of nutrients in carp grow-out is generally made from a mixture of plant-based ingredients. The use of unprocessed plant materials can inhibit fish growth due to the relatively high fiber and anti-nutrient content. Bovine rumen fluid is rich in enzymes and microorganisms that can reduce crude fiber and anti-nutrient content in plant-based feed ingredients. This study aimed to determine the best dose of bovine rumen fluid used as a plant-based feed ingredient fermentation agent in terms of improving the growth and survival of carp fry. The study used a complete randomized design. The treatments trialed were various doses of bovine rumen fluid (0%, 25%, 50% and 75% of plant-based feed ingredients by weight). The results showed that using bovine rumen liquid to induce fermentation of plant-based feed ingredients during feed manufacturing had a significant effect (p0.05) on specific growth rate (SGR), individual weight gain (IWG), and feed conversion ratio (FCR). The highest SGR and IWG and the lowest FCR (2.87% day-1, 1.18 g and 1.77, respectively) were obtained under the bovine rumen fluid dose of 75% plant-based ingredient weight. Across all treatments, survival rate during the study period ranged from 66.67-80.0%. Water quality remained within suitable ranges for carp fry rearing, as follows: pH (5.8-8.1), temperature (28-30ºC), dissolved oxygen (5.0-6.8 ppm), and ammonia (0.05-0.01 ppm). The dosage of bovine rumen fluid that provided the best results when used as a fermentation agent for plant-based ingredients in carp fry feed was treatment D (75% bovine rumen fluid by weight).Key words: Feed ingredients, Survival, Feed conversion ratio.
GENOTOXIC EFFECT ON HEMATOLOGICAL AND MICRONUCLEUS ALTERATION OF COMMON CARP (Cyprinus carpio L.) EXPOSED BY GLYPHOSATE-BASED HERBICIDE R Adharyan Islamy; Abdul Rahem Faqih; Yuni Kilawati; Yunita Maimunah; Mohamad Fadjar; Veryl Hasan; Wahyu Isroni; Novalina Serdiati; Ayu Winna Ramadhani; Diana Aisyah
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 6 No 1 (2023): MARET 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v6i1.944

Abstract

Study aims to analyze the genotoxic potential of glyphosate-based herbicide on common carp (Cyprinus carpio L) using Micronucleus and hematological assay. The concentration of Glyphosate-based herbicide in this study was 0 ppm, 1.35 ppm, 1.8 ppm, 2.4 ppm, 3.2 ppm, 4.2 ppm, 6.5 ppm, and 8.7 ppm. Administration of herbicide base on modification of published methods with 96 hours of exposure. This research result has shown that the average number of micronuclei was increased simultaneously with increasing the concentration of herbicide exposure. There are also other types of cell nucleus abnormalities, namely: blebbed, lobed, notched, and binuclear. In the treatment of 0 ppm of herbicide shown blebbed nuclei are 8 ‰, lobed nuclei are 6.6 ‰, notched nuclei are 10 ‰, binuclei is 4 ‰. From the research results, it can be concluded that the LC50-96 hours exposure of the herbicide isopropylamine glyphosate in carp (Cyprinus carpio L.) was obtained at a concentration of 8.57 ppm. Based on the evaluation on hematology, it was found that there was a decrease in the number of erythrocytes, hematocrit, and hemoglobin of fish blood, whereas the number of leukocytes, micronuclei, and other abnormal micronuclei showed an increase along with the increase in the dose of exposure to the herbicide isopropylamine glyphosate, which indicates a genotoxic effect.
Spawning potential ratio of comercially important spiny lobster in Donggala Waters Central Sulawesi Muh Saleh Nurdin; Salim Salim; Nur Hasanah; Aswad Eka Putra; Teuku Fadlon Haser; Akbar Marzuki Tahya; Novalina Serdiati; Kasim Mansyur; Madinawati Madinawati
Arwana: Jurnal Ilmiah Program Studi Perairan Vol 5 No 1: Mei 2023
Publisher : Program Studi Akuakultur, Fakultas Pertanian, Universitas Almuslim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51179/jipsbp.v5i1.1765

Abstract

Currently, spiny lobster fishery in Indonesia ranks third as an export commodity from the crustacean subphylum after shrimp and blue swimming crab – mud crab. Most of the spiny lobster export needs still rely on wild population resulting in fishing pressure. To ensure the sustainability of spiny lobster stocks, information of the Spawning Potential Ratio (SPR) is needed. This study aims to analyze SPR of spiny lobsters of Panulirus femoristriga and P. versicolor species. The research was conducted in May − November 2022 in Donggala Regency waters. SPR analysis uses the Length-Based SPR method. The results showed that the stock status of P. femoristriga and P. versicolor had experienced growth overfishing and recruitment overfishing with estimated SPRs of 17 and 11%, respectively. Fishing regulations are needed to maintain a sustainable spiny lobster fishery through increased participation of stakeholders in the implementation, monitoring and evaluation of the regulations set by the government. In addition, it is necessary to reduce of efforts 27 − 33% from the current exploitation rate to E50 0.28.
Analisis Jenis dan Kandungan Makanan Oreochromis mossambicus dan Oreochromis nilotica asal Danau Lindu Syech Zainal; Manap Trianto; Novalina Serdiati; Raya Agni
Media Eksakta Vol 19 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/me.v19i1.3461

Abstract

The purpose of this study was to describe the type and content of food for Mujair and tilapia fish from Lake Lindu by means of a section and taking gastric contents and observing and analyzing them. The stages of the research were fish sampling, surgery (section), research in the laboratory and testing the nutritional content of food (carbohydrates, protein and fat). The research samples were Mujair fish (Oreochromis mossambicus) and Tilapia (Oreochromis nilotica) from Lake Lindu. Based on research obtained by the types of fish food O. mossambicus obtained two groups of Phytoplankton namely, Oedogonium sp, Anabaena sp, Nostoc sp, Oscillatoria princeps, Diatomae sp, Navicula gysingen, Rivularia sp, Coelastrum sphaericum, and Zooplankton namely Chironomus sp, Dugesia tigrina. There were eight types of food for O. nilotica, consisting of six types of phytoplankton, namely Oedogonium sp, Anabaena sp, Nostoc sp, Oscillatoria princeps, Rivularia sp, Coelastrum sphaericum and 2 types of zooplankton feed, namely Chironomus sp and Dugesia tigrina. The nutritional content of fish food/feed is protein (15.18%), fat (19.20%), and carbohydrates (1.9%).
Microhabitat association and population status of the Luwuk introduced Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni Koumans, 1933) population Novalina Serdiati; Abdul Gani; Deddy Wahyudi; Abigail Mary Moore; Samliok Ndobe
Depik Vol 10, No 3 (2021): December 2021
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.778 KB) | DOI: 10.13170/depik.10.3.23501

Abstract

The Banggai cardinalfish Pterapogon kauderni is the Indonesian national marine ornamental fish mascot, and an object of national and international conservation concern. The endemic population of this species is limited to the Banggai Archipelago in Central Sulawesi, Indonesia and a few nearby islands in North Maluku. In addition, introduced populations have become established, mainly along ornamental fish trade routes. The National Action Plan for Banggai Cardinalfish Conservation (NAP-BCFC) calls for monitoring and management of all P. kauderni populations. A survey of the Luwuk introduced P. kauderni population was carried out in October 2021.   Data were collected at three sites with established P. kauderni populations: the ferry harbour, public harbour (Teluk Lalong) and a recreational area on the nearby coast (Kilo 5). P. kauderni were recorded by microhabitat association and size class (recruits, juveniles, adults). Data collected were compared with data from previous surveys where available. With the exception of one group in a sea anemone at Kilo 5, all P. kauderni were associated with Diadema sea urchins (D. setosum at all sites; D. savignyi at Kilo 5). At Kilo 5 P. kauderni the population structure indicates the possible capture of market-sized juveniles. Overall abundance was also lower compared to the polluted but unfished harbours. The proportion of recruits was significantly negatively correlated with the ratio of adult P. kauderni to Diadema urchins. The results will inform regional legislation currently in preparation to support sustainable management of P. kauderni populations, habitat and microhabitat in Central Sulawesi, as well as contributing to NAP-BCFC targets.Keywords:Banggai cardinalfishEndangered speciesDiademaMicrohabitat,MonitoringOrnamental fisheryLocal regulation
Maskulinisasi Ikan Platy Pedang (Xiphophorus hellerii) melalui Perendaman Larva dalam Larutan Madu dengan Dosis Berbeda Ariatna Dewi Mangia; Novalina Serdiati; Irawati Mei Widiastuti
Jurnal Ilmiah AgriSains Vol. 24 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah AgriSains
Publisher : Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Tadulako, Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/jiagrisains.v24i1.2023.1-8

Abstract

Ikan platy pedang jantan memiliki keindahan bentuk, warna lebih mencolok dibanding betina, sehingga harga jual ikan platy pedang jantan lebih tinggi dibandingkan dengan betina. Oleh karena itu, para pembudidaya berupaya meningkatkan produksi ikan platy pedang jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis madu yang berbeda terhadap maskulinisasi ikan platy pedang (Xiphophorus hellerii) melalui perendaman larva. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan yang diujikan dalam penelitian yaitu perendaman larva dengan dosis madu 0 mL, 25 mL, 30 mL, dan 35 mL masing-masing per liter air. Hasil analisis ragam (ANOVA) penelitian menunjukkan bahwa perendaman larva ikan platy pedang (Xiphophorus hellerii) dalam larutan madu, berpengaruh nyata terhadap maskulinisasi (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis madu yang diberikan, semakin tinggi pula jumlah persentase jantan yang dihasilkan. Dengan demikian perendaman larva ikan platy pedang dalam larutan madu mampu mengarahkan gonad larva ikan platy pedang yang belum terdiferensiasi menjadi jantan. Perendaman dalam larutan madu dengan dosis 35 ml/L selama 7 jam menunjukkan persentase maskulinisasi tertinggi yaitu sebesar 67,86%.
Microhabitat association and population status of the Luwuk introduced Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni Koumans, 1933) population Novalina Serdiati; Abdul Gani; Deddy Wahyudi; Abigail Mary Moore; Samliok Ndobe
Depik Vol 10, No 3 (2021): December 2021
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.10.3.23501

Abstract

The Banggai cardinalfish Pterapogon kauderni is the Indonesian national marine ornamental fish mascot, and an object of national and international conservation concern. The endemic population of this species is limited to the Banggai Archipelago in Central Sulawesi, Indonesia and a few nearby islands in North Maluku. In addition, introduced populations have become established, mainly along ornamental fish trade routes. The National Action Plan for Banggai Cardinalfish Conservation (NAP-BCFC) calls for monitoring and management of all P. kauderni populations. A survey of the Luwuk introduced P. kauderni population was carried out in October 2021.   Data were collected at three sites with established P. kauderni populations: the ferry harbour, public harbour (Teluk Lalong) and a recreational area on the nearby coast (Kilo 5). P. kauderni were recorded by microhabitat association and size class (recruits, juveniles, adults). Data collected were compared with data from previous surveys where available. With the exception of one group in a sea anemone at Kilo 5, all P. kauderni were associated with Diadema sea urchins (D. setosum at all sites; D. savignyi at Kilo 5). At Kilo 5 P. kauderni the population structure indicates the possible capture of market-sized juveniles. Overall abundance was also lower compared to the polluted but unfished harbours. The proportion of recruits was significantly negatively correlated with the ratio of adult P. kauderni to Diadema urchins. The results will inform regional legislation currently in preparation to support sustainable management of P. kauderni populations, habitat and microhabitat in Central Sulawesi, as well as contributing to NAP-BCFC targets.Keywords:Banggai cardinalfishEndangered speciesDiademaMicrohabitat,MonitoringOrnamental fisheryLocal regulation
PERSENTASE JANTAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) HASIL PERENDAMAN DENGAN EKSTRAK DAUN SENGGANI (Melastoma candidum) DOSIS BERBEDA Muhammad Safir; Indira Ghandi; Novalina Serdiati; Madinawati Madinawati
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11, No 2 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v11i2.4888

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum ekstrak daun senggani dalam menghasilkan persentase jantan tertinggi pada ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap yang teridiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diujikan yakni dosis ekstrak daun senggani; 0 (A/kontrol); 20 (B); 40 (C); 60 (D); 80 ppm (E). Larva ikan nila umur 7 hari direndam dalam air yang berisi ekstrak daun senggani sesuai dosis perlakuan selama 4 jam. Pasca perendaman, larva ikan nila dipelihara selama 60 hari. Pakan berupa cacing sutera diberikan selama 30 hari pertama dan selebihnya diberi pellet. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari (pukul 07.30-08.00, 12.30-13.00, dan 17.30-18.00 Wita). Hasil penelitian menunjukkan persentase kelamin jantan (KJ) pada perlakuan A, B, C, D, dan E secara berurut masing-masing sebesar 45%, 65%, 72%, 77,5%, dan 80%. Laju pertumbuhan harian (LPH) dan kelangsungan hidup (KH) untuk semua perlakuan berkisar antara 7,28-7,58 %/hari dan 85-95%. Hasil analisis menunjukkan persentase KJ ikan nila tertinggi terdapat pada perlakuan 80 ppm yakni sebesar 80%. LPH dan KH tidak berbeda secara signifikan antar semua perlakuan (P>0,05). Kesimpulan, ekstrak daun senggani (M. candidum) dengan dosis 80 ppm menghasilkan persentase jantan tertinggi (80%) pada ikan nila.
Fermentasi Tepung Pelepah Sawit dengan Sumber Probiotik Berbeda Sebagai Bahan Pakan Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Muhammad Safir; Novalina Serdiati; Kasim Mansyur; Akbar Marzuki Tahya
JSIPi (JURNAL SAINS DAN INOVASI PERIKANAN) (JOURNAL OF FISHERY SCIENCE AND INNOVATION) Vol 8 No 1 (2024): JURNAL SAINS dan INOVASI PERIKANAN
Publisher : Pascasarjana Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor penting dalam kegiatan akuakultur, namun memiliki dana operasional termahal adalah pakan. Sebagai upaya akuakultur berkelanjutan dan jaminan harga pakan yang terjangkau adalah melalui pemanfaatan bahan baku yang melimpah dan tidak bernilai ekonomis. Kelapa sawit dikenal sebagai tanaman multiguna, seperti pelepah sawit yang sebelumnya diketahui sebagai limbah perkebunan kelapa sawit jumlahnya melimpah dan tidak bernilai ekonomis. Bahan inovatif yang dapat dikembangkan menjadi olahan adalah tepung sebagai sumber nutrien bagi organisme budidaya termasuk pada ikan nila. Akan tetapi, bahan tersebut memiliki zat antinutrisi yang membutuhkan pengolahan lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis probiotik yang sesuai sebagai bahan fermentasi dalam menurunkan kandungan zat antinutrisi tepung pelepah sawit yang diamati melalui respons pertumbuhan yang dihasilkan. Penelitian mengujikan jenis probiotik A (Effective Microorganisms/EM-4), B (Boster), C (Raja lele), dan D (Ragi tempe) masing-masing pada benih ikan nila. Setiap perlakuan diberi tiga kali ulangan. Benih ikan nila yang diberi pakan perlakuan berbahan baku tepung pelepah sawit yang difermenatsi dengan probiotik EM-4, Boster, Raja lele, dan ragi tempe menunjukkan respons pertumbuhan (laju pertumbuhan spesifik harian dan pertambahan bobot individu) masing-masing sebesar 6,01%; 5,87%; 7,71%; 3,75% dan 7,34g; 7,03g; 9,95g; 3,75g. Rasio konversi pakan dan kelangsungan hidup masing-masing sebesar 1,09; 1,11; 0,92; 2,11 dan 70%; 73,3%;80%; 50%. Hasil analisis menunjukkan respons pertumbuhan dan kelangsungan hidup lebih tinggi dan rasio konversi pakan lebih rendah (P<0,05) pada ikan hasil perlakuan pakan berbahan baku tepung pelepah sawit yang difermentasi dengan probiotik Raja lele. Fermentasi tepung pelepah sawit sebagai bahan baku pakan menggunakan probiotik Raja lele memberikan respons pertumbuhan tertinggi.
Co-Authors A. Masyahoro, A.Masyahoro A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdul Gani Abdul Gani Abdul Gani Abdul Masyahoro Abdul Rahem Faqih Abigail Mary Moore Abigail Moore Achmad Afif Bakri Achmad Rizal Achmad Rizal Adrianton Adrianton Adriany, Devita Tetra Ahmad, Iftitah Akbar Marzuki Tahya Akbar Marzuki Tahya Al-Amri, Siti B. Alfiani Eliata Sallata Alimudin Laapo Amelia, Sinta Andi Iqbal Burhanuddin Aprianto, Yudistira Ariatna Dewi Mangia Armansya, Armansya Arta, Putri A. Arwansa, Arwansa Asgar Taiyeb Asriani Hasanuddin Aswad Eka Putera Ayu Winna Ramadhani Azmi, Fauziah Bakri, Achmad Afif Burhanuddin Haji Nasir Burhanuddin Nasir Cahyani, Regita Christian Julianto Opi Dance Tangkesalu Danty, Astri Rahma Dawam Heksa Satria Deddy Wahyudi Deddy Wahyudi Desiana Trisnawati Tobigo Deva Elvina Sari Devita Tetra Adriany Diana Aisyah Dini Sofarini Dwi Rosalina Dwi Sulistiawati Eka Rosyida Fadly Y Tantu Fathuuddin Fathuuddin Firman, Nurul Awwaliyah P. Fitri Sil Valen Ghandi, Indira Haq, Muhammad F. Hartina Hartina Haser, Teuku Fadlon Hendrahmat Ocktovian Herjayanto, Muh. I Ketut Suada I Made Antara Ibrahim, Fadhila A Ici Arfanika Indira Ghandi Insarullah, Insarullah Irawati Mei Widiastuti Islamy, R Adharyan Islamy, Raden Adharyan Isroni, Wahyu Izhar Izhar, Izhar Jalalludin Moh Ikram Jamaluddin Jamaluddin Jamaluddin Jusmanto Jusmanto Jusri Nilawati Karimullah Karimullah Kasim Mansyur Kasim Mansyur Kasim Mansyur, Kasim Khartiono, Lady Diana Khildah Khaerati Lakahoro, Syamsul Lamusa, Arifudin Maasily, Intan Sukarmin Madinawati Malasugi, S. Manap Trianto Mangitung, Seftina Fifi Mangitung, Septina F Mangitung, Septina Fifi Maryani, Adetya Merpati, Ellen Oktanike MOHAMAD FADJAR Moore, Abigail Mary Muh. Iqbal Adam Muh. Saleh Nurdin Muhammad Nur Muhammad Safir Muhammad Safir Muliati Muliati, Muliati Musayyadah Tis’in Musnina, Wa Ode S. Nasmia Nur Edy Nur Hasanah Nur Hasanah Nurjirana Nurjirana Nurjirana, Nurjirana Nurul Mutmainnah, Nurul Nurwijayanti Nur’aidah, Nur’aidah Osmar Buatan Pawaro, Moh. Fadlan Daeng Pitriani, Pitriani Putri, Gina N. R Adharyan Islamy Raya Agni Regita Cahyani Rezkiyah, Umul Riyadi, Moh. Roni Hermawan, Roni Ruqayyah Jamaluddin Rusaini, Rusaini Rusdi Rusdi Rustam Abd. Rauf Sakinah, Umu Salim Salim Samliok Ndobe Sari, Devi Elvina Shaldan, Syahna Sri Anjar Lasmini Suci Puspita Sari Sunirco Sunirco Suriani Suriani Suriani Suriani Syafiah, Zulhafifa Syech Zainal Tamrin, Fachri Ramadhan Teuku Fadlon Haser Veryl Hasan Widyawati, Ni Made Wijaya, Berniawan Yesaya Warisyu Yoel Yoel Yonelian Yuyun Yudana, Kadek Yuliet Yuliet Yuni Kilawati Yunita Maimunah Yusuf, Sunarti Zakirah Raihani Ya’la