Claim Missing Document
Check
Articles

P5 Project Theme: The Voice of Democracy As Cross-Curricular Political Education (Study at SMA Dek Padang) Mayoga Pratama; Al Rafni; Suryanef Suryanef; Junaidi Indrawadi
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 24 No. 1 (2025): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v24i1.7084

Abstract

is study examines the implementation of the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) with the theme Voice of Democracy at SMA DEK Padang as a vehicle for cross-curricular political education. Political education is considered crucial for shaping young citizens who are knowledgeable, critical, and participatory in democratic life. However, it often remains limited to cognitive aspects, neglecting democratic practices and participatory skills. Using a qualitative descriptive approach, this research collected data through interviews, participatory observation, and questionnaires involving teachers, student council administrators, and eleventh-grade students. The findings reveal that the Voice of Democracy project provided students with meaningful experiences in understanding and practicing democracy through activities such as election simulations, open debates, campaign design, and collaborative decision-making. These activities successfully integrated multiple subjects, including Civic Education, Indonesian Language, and Visual Communication Design, enriching students’ political literacy, communication, and creativity. Moreover, the project fostered deliberative participation, negotiation skills, and political efficacy, as students not only learned concepts theoretically but also experienced democratic processes in practice. The reflection stage enabled critical evaluation, encouraging students to internalize values of justice, tolerance, and responsibility. Despite challenges such as uneven student engagement and cross-subject coordination, the project demonstrated significant potential in developing democratic attitudes and participatory skills. Ultimately, this study highlights the strategic role of schools as agents of political education in the Merdeka Curriculum era, showing how project-based learning can transform abstract democratic principles into lived experiences for students.
Mengenal Lika-Liku Politik Indonesia dari Orde Lama ke Masa Reformasi Desmi Sofia; Reno Fernandes; Suryanef Suryanef
Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora
Publisher : Revolt Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63082/jksh.v1i4.27

Abstract

Jurnal ini membahas evolusi politik Indonesia dari masa Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi, dengan menyoroti dinamika kekuasaan, perubahan sistem pemerintahan, serta tantangan dalam membangun demokrasi. Setiap periode memiliki karakteristik tersendiri, Orde Lama dengan eksperimen demokrasi parlementer yang berujung pada sentralisasi kekuasaan; Orde Baru yang menghadirkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan otoritarian; serta era Reformasi yang membuka ruang demokrasi namun masih dihadapkan pada tantangan prosedural dan budaya politik lama. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis literatur untuk menelusuri kontinuitas dan perubahan praktik politik di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun secara formal Indonesia telah bertransformasi menjadi negara demokratis, praktik politik lama seperti dinasti politik, politik transaksional, dan lemahnya penegakan hukum masih menjadi hambatan. Oleh karena itu, reformasi politik perlu diarahkan tidak hanya pada perubahan kelembagaan, tetapi juga pada perbaikan budaya dan etika politik.
Pendidikan Politik dan Kesadaran Demokrasi di Era Reformasi: Sebuah Tinjauan Kritis Khairunnisa Sirait; Reno Fernandes; Suryanef Suryanef
Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora
Publisher : Revolt Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63082/jksh.v1i4.29

Abstract

Era reformasi membawa dinamika pada kebebasan berpendapat dan berpolitik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji secra kritis dan mengevaluasi sejauh mana pendidikan politik berperan dalam membentuk kesadaran politik atau justru menghilangkan kesadaran demokrasi. Hasil yang ditemukan bahwa terdapat tantangan yang dihadapi pendidikan poltik  yang bersumber pada kesadaran poltik dimasyarakat. Seperti: munculnya polarisasi politik diseabkan adanya penyebaran informasi hoaks, dan ujaran kebencian, kultur politik yang masuh dipengaruhi KKN, politik identitas, dan akses dan kualitas pendidikan poltik yang belum merata dimana kurikulum yang kurang integrative didalam mengembangkan partisipasi dan berpikir kritis. Hal ini tentunya, membawa pengaruh pada partispasi dan apatisme politik pada masyarakat. Dalam hal ini, dperlukan revitalisasi kembali pelaksanaan pendidikan dan penguatan kesadaran demokrasi di era reformasi, sehingga menghasilkan pendidikan poltik yang efektif sebagai upaya dalam meningkatkan kesadaran demokrasi di masyarakat.
Peran Kurikulum Merdeka dalam Meningkatkan Partisipasi Politik Generasi Muda Pasca-Reformasi Ratna Dewi; Reno Fernandes; Suryanef Suryanef
Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora
Publisher : Revolt Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63082/jksh.v1i4.30

Abstract

Reformasi 1998 menandai perubahan besar dalam sistem politik dan pendidikan di Indonesia, termasuk terbukanya ruang partisipasi politik bagi generasi muda. Namun, tingkat partisipasi politik pemuda masih tergolong rendah, sebagaimana ditunjukkan oleh data BPS (2022) yang mencatat hanya 33,4% pemuda aktif dalam diskusi politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Kurikulum Merdeka dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi politik generasi muda pasca-reformasi. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis 4 dokumen kurikulum resmi, 10 jurnal akademik, dan 6 regulasi pendidikan nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa kurikulum merdeka, melalui penguatan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dan pendekatan pembelajaran berbasis proyek, memberikan peluang besar untuk menanamkan nilai demokrasi, berpikir kritis, dan partisipasi sosial-politik sejak dini. Temuan ini diperkuat oleh teori pendidikan kritis Paulo Freire, yang menempatkan peserta didik sebagai agen perubahan sosial. Meskipun demikian, tantangan implementasi tetap ada, seperti keterbatasan pelatihan guru, budaya sekolah yang belum demokratis, dan rendahnya literasi politik digital.Optimalisasi kurikulum merdeka memerlukan dukungan kebijakan, penguatan kapasitas pendidik, dan lingkungan belajar yang partisipatif untuk mendorong keterlibatan politik generasi muda secara aktif dan bertanggung jawab.
Pendidikan Politik Masa Orde Baru: Menjaga Stabilitas dan Ideologi dalam Pembangunan Nasional Faujian Lhaystari Dea; Reno Fernandes; Suryanef Suryanef
Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora
Publisher : Revolt Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63082/jksh.v2i1.34

Abstract

Pendidikan politik pada masa Orde Baru (1966–1998) digunakan sebagai alat untuk membentuk kesadaran politik warga negara yang loyal terhadap negara dan ideologi Pancasila. Penelitian ini bertujuan mengkaji kebijakan pendidikan politik masa Orde Baru serta dampaknya terhadap perkembangan demokrasi pasca reformasi. Menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi literatur, artikel ini menyoroti kebijakan seperti Penataran P-4, kurikulum berbasis Pancasila, dan pembatasan kebebasan akademik. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan politik pada masa itu berhasil menciptakan stabilitas, tetapi membatasi ruang berpikir kritis dan partisipasi politik. Di masa kini, tantangan seperti rendahnya literasi politik dan apatisme masih muncul. Namun, reformasi pendidikan politik yang lebih terbuka dan berbasis konteks lokal menjadi prospek positif bagi penguatan masyarakat sipil dan demokrasi. Pendidikan politik yang partisipatif penting untuk membentuk warga negara yang aktif dan bertanggung jawab. Memberikan kontribusi dengan menunjukkan bagaimana kebijakan pendidikan politik Orde Baru memengaruhi arah perkembangan demokrasi pascareformasi.
Co-Authors Afdal Afdal Afdhalur Rahmat Afriva Khaidir Ahmad Ahmad Aini, Zahratul Aisyah Aisyah Akbar, Amin Akbar, Fadil Akmal Akmal Akmal S, Muhammad Al Rafni Albelia Joni, Chindy Alfitriadi Zurian Alisa, Merlin Tri Aloha Aloha Aloha, Aloha Alvin Gumelar Hanevi Arfan, Rocky Aulia Haq, At-Thahirah Aulia Rahmi, Wika Ayu Azhari Ayu Septika Azizah, Cici Nur Azwar Ananda Azzahra, Dinda Beni Saputra Bobbi Noptin Anggra Cecep Darmawan Cici Purnamasari Dasri Rati Desi Wulandari Desmi Sofia Dewi, Susi Fitria Dhea Marchelia Eka Putri, Wulanda Eka Vidya Putra Eki Aris Cendika Elvi Wahyu Jenia Erianjoni Erianjoni Ernawati Ernawati Ernita Arif Ersya, Muhammad Prima Ezy Ulandari Fatmariza Fatmariza Faujian Lhaystari Dea Filma Alia Sari Fitri Eriyanti Fitri, Hilwa Alfiani Fresty Dinia Gusriyanda, Gusriyanda Hamdi, Irwan Hamid, Sifahtullah Hanifa Fadila Hariyanti Hariyanti Hariyanti Hariyanti Hasri Wahyuni Hasrul Hasrul, Hasrul Hasrul Piliang Henni Muchtar Hidayat, Adryan Hilmi Tamela Putri Husnul Khotimah Ideal Putra Ikhsanur Rahman Ilham Saputra Ilmi, Sabrina Tri Annisa imami, Muh Khairul Wajedi Indah Wati Indra Sabdarudin Indra, David Indrawadi, Junaidi Indriani, Maiyona Irma Tiolita Pakpahan Irwan Hamdi Irwan Irwan Isnarmi Moeis Juliana, Sepsi Amelia Karim, Zulakbal Abd Khairunnisa Sirait Khusran, Khusran Laras Konija Putri Larasati Larasati Larasati, Richi Laurensius Arliman S Leni Anggraeni Lestari, Nopia Lisna Waty Ritonga Lubis, Fintarisa Luthfi, Zaky Farid Maharani, Vina Kurnia Maidila, Winda Putri Maria Montessori Marisa, Yola Marni, Sistri Maryana Maryana, Maryana Mayoga Pratama Melani Elfitri Miftahul Fikri Muhammad Akmal Muhammad Tegar Fredy Nabila Sufah Nada Elva Susanti Nandini, Silvira Netra Yulita Novela Rizka Nufus, Latifah Nurhastuti Nurhastuti Nurman Nurman Nurman S Nurman S NURUL FAIZAH Nurwahyuni Okma Sandra Permady, Gigieh Cahya Putri Fadilah Putri Maidila, Winda Putri, Reza Eka Rahim Yusnedi, Fajri Rahmat Rahmat Rahmat, Afdhalur Rahyu, Sami Ramadani, Yori Ramadhan, Aditya Wahyu Rara Suryani Ratna Dewi Rehan Febri Reno Fernandes Revalina, Atiqah Reza Novriana Rina Satty Welly Riani Rina Wati Riny Syavira Rismanola, Zilfa Rismawati Rismawati Rizal, Putri Syahrani Rocky Arfan Saefudin Kartasasmita Sakinah, Gita Sari Salsabila, Suci Sandra, Jerli Novia Saputra, Kiki Sarmiati Sarmiati Septica Sisilia Simanjuntak, Kurnia Debora Siska Oktariza Siti Fatimah Sukmawati, Indah Syafira Saisa Billah Syahdiah, Utami TAKDIR SAILI Tjung Hauw Sin, Tjung Hauw Vara Mareta Yanela Vinny Olifvia Wahdina Yola Safitri Wetri Yanti Wirdanengsih, Wirdanengsih Yenti, Pani Rahma Yosi Febriani Yovhandra Ockta Yulanda, Yola Yulia Fitria Yusnanik Bakhtiar Zakaria, Jaffry Zikra Zikra Zulfikar Zulfikar