Claim Missing Document
Check
Articles

KORELASI ANTARA TINGKAT PENGGUNAAN GADGET DENGAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA PADA MATA PELAJARAN IPAS DI KELAS V SDN KEMAKMURAN I Firda Nurfadilah; Rana Gustian Nugraha; Nurdinah Hanifah
Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 17 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Dasar
Publisher : Pendidikan Dasar - Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/jpd.v17i1.67979

Abstract

With the advancement of the digital age, the use of gadgets among elementary school students has been on the rise, leading to various impacts on the learning process. The research problem is the large number of children who are allowed to own gadgets and use them excessively. This study aims to determine whether there is a correlation between gadget use and the cognitive learning outcomes of elementary school students in the 5th-grade IPAS subject at SDN Kemakmuran I. This study employs a quantitative approach using a correlational method. The study population consists of all 5th-grade students at SDN Kemakmuran I (n=26), with a total sampling technique used for data collection. Data on gadget usage were collected through a questionnaire, while data on cognitive learning outcomes were obtained from documentation of students’ End-of-Semester Assessment. Data analysis was conducted using Spearman’s rho correlation test with the assistance of SPSS 16 for Windows. The results of the study indicate that there is no significant relationship between the level of gadget use and students’ cognitive learning outcomes in the IPAS subject, as indicated by the significance value (ρ > 0.05). In addition, a correlation coefficient value of -0.272 was obtained, indicating that the correlation between the two variables is weak and negative. These findings suggest other factors play a more dominant role in determining cognitive learning outcomes
Analisis Penggunaan Tes Diagnostik Three Tier Untuk Mengidentifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas IV SD Abel Naila Adiba Sumarna; Cucun Sunaengsih; Rana Gustian Nugraha
PIJAR: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 (2026): Agustus
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/pijar.v4i3.1711

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya miskonsepsi siswa pada materi Kebudayaan Indonesia yang dapat memengaruhi pemahaman konsep dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan tes diagnostik three-tier dalam mengidentifikasi miskonsepsi, mengetahui bentuk miskonsepsi yang paling dominan, serta mengungkap faktor-faktor penyebab terjadinya miskonsepsi pada siswa kelas IV SD. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes diagnostik three-tier, wawancara guru dan siswa, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tes diagnostik three-tier efektif digunakan untuk mendeteksi miskonsepsi siswa karena mampu mengidentifikasi jawaban, alasan, dan tingkat keyakinan siswa secara bersamaan. Bentuk miskonsepsi yang paling dominan adalah miskonsepsi parsial dengan persentase sebesar 29%, yang menunjukkan bahwa siswa mampu menjawab benar tetapi belum memahami alasan konseptual secara utuh. Miskonsepsi siswa dipengaruhi oleh pemahaman yang masih bersifat hafalan, kesalahan menghubungkan konsep budaya, keterbatasan pengalaman budaya, pengaruh lingkungan, serta penggunaan media pembelajaran yang kurang konkret. Dengan demikian, penggunaan tes diagnostik three-tier dapat membantu guru memahami letak miskonsepsi siswa secara lebih mendalam sehingga dapat merancang pembelajaran yang lebih kontekstual, interaktif, dan bermakna.
Penggunaan Metode Global Berbasis Multisensorik pada Pembelajaran Membaca Permulaan Aida Musyarofah; Prana Dwija Iswara; Rana Gustian Nugraha
JGK (Jurnal Guru Kita) Vol. 10 No. 3: Juni 2026
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jgk.v10.i3.75122

Abstract

Hasil observasi menunjukkan sejumlah siswa belum tuntas membaca permulaan, kurang mampu membaca secara lancar dan kurang mampu membedakan bentuk huruf. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode global berbasis multisensorik dan menganalisis pengaruhnya terhadap kemampuan membaca permulaan siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen dan desain tes awal-akhir satu kelompok (one group pretest–posttest design) berupa tes kemampuan membaca permulaan yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Sampel penelitian berjumlah 17 siswa kelas I sekolah dasar dengan teknik sampling jenuh berdistribusi tidak normal dengan nilai signifikansi masing-masing pretest–posttest sebesar 0,000 dan 0,001 sehingga analisis dilanjutkan dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test yang menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada kemampuan membaca permulaan sebelum dan sesudah perlakuan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (<0,05). Nilai rata-rata siswa meningkat dari 65,53 menjadi 93,35 dengan peningkatan sebesar 27,82 poin. Siswa menunjukkan peningkatan dalam mengenali dan membedakan huruf yang sebelumnya sering tertukar.
Pengaruh Model Think Pair Share Berbantuan Augmented Reality Terhadap Keterampilan Membaca Teks Narasi Karisma Tita Ulfana; Rana Gustian Nugraha; Dadan Djuanda
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 2 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i2.614

Abstract

Kemampuan membaca pemahaman merupakan salah satu keterampilan dasar yang harus dikuasai siswa sekolah dasar. Namun kemampuan membaca pemahaman siswa masih tergolong rendah sehingga diperlukan inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Think Pair Share berbantuan Augmented Reality terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V sekolah dasar, mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan membaca pemahaman antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, serta mengetahui efektivitas penggunaan model tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design . Sampel penelitian terdiri atas 60 siswa yang terbagi ke dalam kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan membaca pemahaman yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, homogenitas, Independent Sample t-Test, uji Mann-Whitney U, dan analisis N-Gain . Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model pembelajaran Think Pair Share berbantuan Augmented Reality terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan nilai signifikansi 0,000 dengan mean rank kelas eksperimen sebesar 45,17 dan kelas kontrol sebesar 15,83. Selain itu, nilai rata-rata N-Gain kelas eksperimen sebesar 0,7620 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 0,4287. Dengan demikian, model pembelajaran Think Pair Share berbantuan Augmented Reality terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar.
Implementasi Pendidikan Karakter Pancasila Di Lingkungan Sekolah Dasar Zulfa Paolina; Jihan Karimah; Delvarina Vandini; Siti Nuralisa; Rana Gustian Nugraha
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.2863

Abstract

AbstrakTujuan pendidikan karakter yang berkaitan dengan pembentukan mental dan sikap anak didik dikelola dengan menanamkan nilai-nilai islami dan nilai tradisional yang positif. Namun jika diamati dengan baik, tujuan utama pendidikan karakter bisa dikatakan gagal atau belum tercapai, hal itu dapat dilihat secara jelas di era globalisasi seperti sekarang ini. Era globalisasi menghadirkan teknologi informasi yang semakin canggih. Namun kemajuan teknologi membawa dampak yang negatif. Salah satunya yaitu kemerosotan akhlak dan sikap pancasila. Dari fenomena diatas sangat jelas bahwa permasalahan sebuah lembaga pendidikan adalah bagaimana sekolah tersebut dalam membentuk karakter yang baiki peserta didik. Mengingat semakin maraknya hal-hal negatif seperti yang telah dijelaskan diatas maka pembentukan karakter dan kepribadian anak sesuai dengan nilai keagamaan kebangsaan menjadi sebuah kebutuhan dan keharusan. Oleh karena itu penting sekali bagi kita dalam membentuk nilai-nilai karakter bangsa melalui metode pembiasaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan metode pembiasaan dalam pembentukan karakter  di sekolah dasar Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunaka metode kualitatatif. Dari hasil analisis yang dilakukan penulis, Lingkungan pendidikan sekolah dasar sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan pendidikan masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan pendidikan yang untuk selanjutnya diperkuat dengan beberapa nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi yang dimaksud seperti: keagamaan, gotong royong, kebersihan, kedisiplinan, kebersamaan, peduli lingkungan, kerja keras, dan sebagainya.Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Pancasila, Sekolah Dasar AbstractThe purpose of character education related to the mental formation and attitudes of students is managed by instilling positive Islamic and traditional values. However, if observed properly, the main goal of character education can be said to have failed or has not been achieved, it can be seen clearly in the era of globalization as it is today. The era of globalization presents increasingly sophisticated information technology. However, technological advances have a negative impact. One of them is the decline in morals and attitudes of Pancasila. From the above phenomenon, it is very clear that the problem of an educational institution is how the school forms a good character for students. Given the increasing prevalence of negative things as described above, the formation of children's character and personality in accordance with national religious values becomes a necessity and necessity. Therefore, it is very important for us to shape the values of the nation's character through the habituation method. The purpose of this study was to determine how the application of the habituation method in character building in elementary schools. The method used in this study used a qualitative method. From the results of the analysis conducted by the author, the primary school education environment has actually developed and implemented character-building values through the operational programs of each educational unit. This is a precondition for character education in the education unit which will be further strengthened by several values from the results of an empirical study of the Curriculum Center. The precondition values in question are: religion, mutual cooperation, cleanliness, discipline, togetherness, environmental care, hard work, and so on.Keywords: Character Education, Pancasila, Elementary School
Penerapan Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-Hari Sebagai Upaya Menangkal Radikalisme Muhammad Rizal; Fajar Budiman; Anisa Rahma Salsabilla; Mochamad Azhar Gunawan; Rana Gustian Nugraha
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.2891

Abstract

AbstrakPancasila adalah ideologi negara yang memiliki sifat terbuka artinya dapat menerima paham-paham dari luar sesuai dengan perkembangan zaman. Namun bukan berarti paham dari luar dapat bebas masuk begitu saja ke Indonesia, paham luar dibatasi oleh kelima asas dari Pancasila.  Radikalisme adalah permasalahan yang muncul akibat dari salah tangkap mengenai sebuah paham dari luar sehingga masyarakat yang mempercayainya melupakan Pancasila dan memilih mendukung ideologi luar dengan keras. Sejak beberapa tahun terakhir radikalisme sudah merajalela di Indonesia bahkan sudah masuk ke dunia pendidikan dan kalangan kaum muda. Ada banyak faktor penyebab mengapa radikalisme sangat mudah masuk ke Indonesia yaitu mulai dari faktor pemikiran, faktor ekonomi, faktor politik, faktor psikologis, faktor sosial, dan faktor pendidikan. Semua faktor tersebut menjadi latar belakang radikalisme masuk ke Indonesia namun yang pasti itu semua mengerucut pada satu, yaitu menurunnya penerapan Pancasila dalam kehidupan. Maka dari itu solusinya adalah revitalisasi Pancasila pada kehidupan sehari-hari, seluruh warga negara harus bersinergi untuk sama-sama meningkatkan penerapan nilai-nilai Pancasila.Kata Kunci: Pancasila, Ideologi, Penerapan, Nilai-nilai, Radikalisme, Faktor. AbstractPancasila is a state ideology that has an open nature, meaning that it can accept ideas from outside in accordance with the times. But that does not mean that outside understanding can freely enter Indonesia, external understanding is limited by the five principles of Pancasila. Radicalism is a problem that arises as a result of misunderstanding an understanding from the outside so that people who believe in it forget Pancasila and choose to support external ideologies hard. Since the last few years radicalism has been rampant in Indonesia and has even entered the world of education and among young people. There are many factors that cause radicalism to enter Indonesia very easily, starting from thought factors, economic factors, political factors, psychological factors, social factors, and educational factors. All of these factors are the background for radicalism to enter Indonesia, but what is certain is that it all boils down to one thing, namely the decline in the application of Pancasila in life. Therefore, the solution is to revitalize Pancasila in everyday life, all citizens must work together to increase the application of Pancasila values.Keywords: Pancasila, Ideology, Application, Values, Radicalism, Factors.
Pengaruh Era Society 5.0 Terhadap Nilai-Nilai Pancasila Yang Menjadi Tantangan Masyarakat Indonesia Nezar Raksa Wigena; Muhammad Dzar Alghifari; Nayla Rosiana Kamilah; Hani Nurhalimah; Rana Gustian Nugraha
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.2892

Abstract

AbstrakEra society 5.0 adalah era yang dimulai pertama kali oleh pemerintah Jepang dengan sebuah ide baru, yaitu masyarakat di titik pusatkan pada manusia (human-centered) dan selalu berbasis teknologi (technology based) yang berdasarkan pada adat budaya masyarakat di era revolusi 4.0. Oleh karena itu, untuk menghadapi society 5.0 dibutuhkan ide-ide baru dalam upaya menghadapi tantangan yang akan terjadi society 5.0. Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data kuesioner dalam bentuk google form. Era Society 5.0 ini menganggap bahwa Era Society 5.0 ini banyak membawa dampak positif daripada dampak negatifnya itu sendiri, akan tetapi dengan sejalannya zaman, masyarakat pun menyadari bahwa dengan adanya era society 5.0 ini membuat nilai-nilai Pancasila semakin memudar. Dengan semakin pesatnya pertumbuhan dalam ilmu pengetahuan serta teknologi yang terdapat di Indonesia dalam era society 5.0 tentu akan banyak tantangan dan terjadi perubahan yang juga akan membawa dampak negatif seperti lunturnya moral maupun karakter bangsa kecanggihan teknologi dapat menjadi musuh manusia dalam mengerjakan kegiatan, masyarakat Indonesia harus selalu bisa menyesuaikan diri terhadap kemajuan zaman tersebut pada hakikatnya pancasila lahir diantara beragamnya suku, budaya, dan agama yang ada di Indonesia.Kata Kunci: Era society 5.0, Pancasila, Moral masyarakat Indonesia AbstractThe 5.0 society era, which has started first by the Japanese government with a new idea, namely society at a central point in humans (human-centered) and is always technological-based (technology based) based on public culture customs in the revolution era 4.0. Therefore, to deal with society 5.0 new ideas need in an effort to deal with challenges that will occur 5.0. In this study, the author uses a qualitative descriptive approach method using questionnaire data collection techniques in the form of google form. This 5.0 Society considers that the Society 5.0 Era has a lot of positive impact than its own negative impacts, however, it will be in line with times, society also realizes that with the existence of the Society 5.0 Era makes Pancasila values increasingly fading. With the rapid growth and growth in science and technology contained in the Indonesia in era of society 5.0 of course there will be many challenges and changes that will also bring negative impacts such as morals and the character of the technological sophistication can become the enemy of humans in working activities, Indonesian people must always be able to adjust their nature to the progress of the time in Pancasila is born between various tribes, cultures and religions that are in Indonesia.Keywords: Era of society 5.0, Pancasila, Indonesian people's morals
Peran Guru SD Dalam Membangun Etika Peserta Didik Di Sekolah Dasar Berdasarkan Pancasila Delia Disa Fadilla; Elza Alida Yasmin; Iis Inar; Ina Nailul Amaniah; Siti Nursaadah; Rana Gustian Nugraha
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.2917

Abstract

AbstrakAnak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, sehingga apa yang didapatkan nya di sekolah akan mempengaruhi pembentukan karakternya. Di sinilah peran guru harus tampak karena pada usia sekolah dasar adalah usia untuk membentuk kepribadian anak, jika di sekolah anak tidak diajarkan cara bersikap yang baik, hal ini akan menjadi kebiasaan buruk. Dengan demikian, peneliti bertujuan menganalisa bagaimana peran guru SD terhadap etika peserta didik berdasarkan Pancasila. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, data dalam penelitian ini diperoleh dengan membagikan kuesioner berbentuk google form kepada responden yang menjadi guru di SD. Hasil pengamatan jawaban semua responden menunjukkan bahwa mereka setuju akan pentingnya penerapan etika pada peserta didik dimana pun dan kapan pun berada. Solusi untuk mengatasi anak yang kurang memedulikan etika ialah dengan menasehati, memberikan contoh yang baik, membimbing, membuat aturan, melakukan pendekatan kepada peserta didik dengan sabar, lemah lembut ketika memberitahu peserta didik tentang mana yang benar dan mana yang salah.Kata Kunci: Krisis Moral, Anak-Anak, Guru AbstractChildren spend most of their time in school, so what they get at school will affect the formation of their character. This is where the role of the teacher must appear because at elementary school age is the age to shape the child's personality, if at school the child is not taught how to behave well, this will become a bad habit. Thus, the researcher aims to analyze how the role of elementary school teachers towards the ethics of students based on Pancasila. This study uses a qualitative approach. The data used in this research is primary data, the data in this study was obtained by distributing a questionnaire in the form of a google form to respondents who became teachers in elementary schools. The results of observing the answers of all respondents indicate that they agree on the importance of applying ethics to students wherever and whenever they are. The solution to dealing with children who do not care about ethics is to advise, set a good example, guide, make rules, approach students with patience, be gentle when telling students what is right and what is wrong.Keywords: Moral Crisis, Child, Teacher
Perilaku Bullying Yang Menyimpang Dari Nilai Pancasila Pada Siswa Sekolah Heti Novita Sari; Putri Pebriyani; Salsa Nurfarida; Muhammad Fadhil Suryanto; Puti Ageng Ambun Suri; Rana Gustian Nugraha
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.2922

Abstract

AbstrakKasus bullying sudah banyak terjadi di negara ini yang melibatkan siswa sekolah, bahkan dapat dikatakan perilaku bullying merupakan suatu tindakan yang melenceng dari nilai pancasila. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian, dampak, distribusi dan cara mengatasi bullying, penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur pada dasar teori, dampak, pembagian dan cara mengatasi bullying. Peneliti menyarankan agar guru dapat cepat tanggap atau responsif pada perilaku bullying di sekolah. Pada penelitian ini akan dikaji pula cara penanganan pada kasus bullying.Kata Kunci: Bullying, Nilai Pancasila, Siswa Sekolah AbstractThere have been many cases of bullying in this country involving school students, it can even be said that bullying behavior is an act that deviates from the values of Pancasila. This study aims to determine the meaning, impact, distribution and ways of dealing with bullying, this study uses a literature study approach on the basis of theory, impact, distribution and ways to overcome bullying. Researchers suggest that teachers can be responsive or responsive to bullying behavior in schools. This study will also examine how to handle bullying cases. Keywords: Bullying, Pancasila Values, Student
Peran Generasi Milenial Sebagai Pemangku Dasar Ideologi Pancasila Annisa Anindya Ayu Aulia; Annisa Nurhayati; Nabila Nurmasrurroh; Vera Hagita Sari; Rana Gustian Nugraha
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.2927

Abstract

AbstrakGenerasi milenial sebagai pemangku dasar ideologi pancasila telah terjadi perubahan yang signifikan artinya bahwa fenomena nyata yang terjadi di lingkungan masyarakat merupakan dampak dari kurangnya penerapan nilai-nilai pancasila yang telah berlangsung sejak lama. Penelitian ini menggunakan Penelitian Kuantitatif dengan metode pengumpulan data melalui angket atau kuesioner. Metode penelitian kuantitatif merupakan metode pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian analisis data bersifat kuantitatif atau statistik bertujuan untuk menguji hipotesis yang ditetapkan. Tantangan yang dihadapi generasi milenial sebagai pemangku dasar ideologi Pancasila berdasarkan hasil survei yakni Kesenjangan sosial, Rasisme dan Fenomena LGBT di Indonesia. Hasil survei menyatakan kesenjangan sosial sebanyak 47,9% vote, Rasisme sebanyak 31,3 % dan fenomena LGBT di Indonesia sebanyak 14,6%. Generasi milenial sebagai pemangku dasar ideologi Pancasila dalam upaya mengimplementasikannya tidak semudah apa yang dibayangkan, karna secara fundamental bahwa dalam praktiknya generasi muda akan menghadapi tantangan yang sangat beragam. Bekerja sama dan bersifat selektif hal yang dapat dilakukan oleh generasi milenial dalam mempertahankan nilai-nilai Pancasila.Kata Kunci: Pancasila, Generasi milenial, Kesenjangan Sosial, Rasisme, LGBT AbstractThe millennial generation as the ideological base of pancasila there has been a change to significant it means a real phenomenon that happened in community circle is an worst impact of implementation pancasila values which has been going on for a long time. This research uses quantitative research with questionnaire method. The quantitative research is a data collection method which aims to test established hypothesis. The challenges faced by the millennial generation as the ideological basis of Pancasila based on survey resulted are social gap, racism, LGBT phenomenon in Indonesia. Survey resulted has claim that social gap 47,9% vote, racism  31,3% vote and LGBT phenomenon in Indonesia 14,6% vote as the ideological basis of Pancasila in an attempt of implementation is not easy imagined because fundamentally that in practice with millennial generation will face a variety of challenges. The best way that millennial generation can do is working together and being selective for maintain the values of Pancasila.Keywords: Pancasila, Generasi milenial, Kesenjangan sosial, Rasisme, LGBT
Co-Authors Aah Ahmad Syahid, Aah Ahmad Abel Naila Adiba Sumarna Adelia Puspitasari Aep Muhyidin Syaefulloh Afifah Amaliah Oktaviani Agni Nuraeni Aida Musyarofah Ajeung Martia Putri Al Qomariah Ali Ismail Ali, Enjang Yusup Alika Fitara Dwi Permana Aliya Putri Setiowati Aliyya Putri Riadi Alvina Alya Rahma Alya Arifah Marhamah Alya Setiani Sidik Amelia Yusriutami Anggi Niswa Mustaphia Anggi Setia Lengkana Anggita Dwi Maharani Anggun Mutiara Rahmatunisa Ani Nur Aeni, Ani Nur Anisa Ayundasari Anisa Fiola Karimah Anisa Rahma Salsabilla Anisa Salmawati Annisa Anindya Ayu Aulia Annisa Nurhayati Annisa Zahira Astri Nuraeni Astri Oktavia Ningsih Atep Sujana Aura Cintyaloka Ayi Suherman Azizah Indah Rianawati Azmi Hofifah Bayu Nurfauzi Cucun Sunaengsih, Cucun Dadan Djuanda, Dadan Dadan Nugraha Dea Windiani Dechika Nuhasetia Hidayat Delia Disa Fadilla Deliyana Fathurrohmah Delvarina Vandini Denila Santika Septiana Denise Chalifa Chairunnisa Dewi Intan Sari Dhea Amanda Putri Dhevania Fitri Nurfauziah Diah Gusrayani, Diah Dian Anggara Dina Nur Karochmah Dyah Laksmi Putri Elsa Elsa Elza Alida Yasmin Enjang Yusuf Ali Entan Saptani Evi Sri Rahayu Evie Fatimah Az Zahra Fachrul Isha Mahendra Fajar Budiman Farah Lestari Farda Andita Damayanti Firda Febrina Hendiyani Firda Nurfadilah Fitriah Erza Nurrohmah Galih Nurnovilia Sumarni Geby Angelina Nainggolan Genny Gita Gesela Ghalbia Ramdhani Hamidah Hamsyah Hanaa Nur Azizah Hani Nurhalimah Heti Novita Sari Hilda Fadilah Iis Inar Iis Nuraida Mulyaningsih Ina Nailul Amaniah Indira Aliya Rosmaida Ineu Nurjanah Intan Sania Nabila Irawati, Riana J Juli J. Julia Jenia Syifa Nurlatifah Jihan Karimah Jovanka Oktavia Venneza Zahra Julia Julia Karisma Tita Ulfana Karlina, Dety Amelia Khairunnisa Khairunnisa Lilis Siti Nursyaidah Liyra Aulia Azzahra Liza Rahma Lestari Lulu Laksita Anin Poja Luthpin Ubaidiah Melviana Melviana Meri Sulistia Meutia Zuniar Minniswati Rajihah Mochamad Azhar Gunawan Muhamad Fajar Al Kausar Muhammad Bilal Maulidan Muhammad Dzar Alghifari Muhammad Fadhil Suryanto Muhammad Rizal N Nita N Nita Nabila Nurmasrurroh Nabilah Desiana Putri Nadira Rahmawati Nadya Dwi Pramesti Naila Nursifa Naila Syifa Rahma Nalar Az-zahra Nayla Rosiana Kamilah Nelsa Nur Helgia Nezar Raksa Wigena NG. Shofi Isis Cofia Nina Kurniawati Ninis Khoirunisa Nisa Nurpasa Nofita Amaliahrahma Miftah Nova Aulia Syawal Nur Hodijahtun Nisa Nur Shoviatul Zahro Nurdinah Hanifah Nurie Yanti Permatasari Nurnidah Hanifah Nuuran Raudha Senja Olisna Olisna Pebri Faturahman Pila Delpia Br. Kesogihen Pingkan Nelsi Prisma Angelica Prana Dwija Iswara, Prana Dwija Pupun Patmawati Puput Putriani Puti Ageng Ambun Suri Putri Nurhasanah Putri Pebriyani Rahma Nur Afifah Raihan Bisyri Rabbani Raisya Ramadhina Ramdhani Sandilah Regina Lichteria Panjaitan Restu Syahas Wibusana Reviani Fitri Rifa Rodhiyatan Mardhiyyah Rifka Nur Rizqiana Rihadatul Nasywa Rika Hayani Putri Rina Riana Amelia Riri Nurjanah Rita Alfiana Sunarya Rita Nur Adinda Putri Rizka Amalia Rizky Miftah Khoiri Rofa Darojatin Putri Salman Taupik P. Salsa Nurfarida Salsabila Kusuma Arfina Santika Az Zahra Santika Santika Seli Aliani Shafira Salsabila Gunadi Sherina Birlian Y. Shintyasari Hadi Karmila Sibtiani Devi Sidqia Nurfadilah Sindi Agustini Sinta Rohaeni Siska Dwi Amelia Siska Meilani Lestari Siti Nur Azizah Siti Nur Hayati Meidi Siti Nuralisa Siti Nursaadah Siti Ratih Aulia Sofi Fadillah Hendiyani Sultan Ahmad Syahidah Asma Amanina Syfa Sahbani Syifa Fauziah Syifa Siti Nurhasanah Tania Wulansari Tasha Adinda Aulia Tsania Qisma Nabila Tsaqila Ziyan Ahda Tumpal Petrus Sagala Ummi Nursetyowati Vera Hagita Sari Vinka Rise Lestari Viqi Permadi Kusuma Wildan Pratama Hariansyah Wina Sugih Rahayu Wira Sakti Sutiana Wita Sari Yoga Cahya Firmansyah Yuli Wahyuni Yunita Maharani Zahra Dwi Zahra Aulia Zaskia Aulia Zulfa Paolina Zulfan Kamal Nasution