Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : ANDHARUPA

Nilai Kemanusiaan dalam Bingkai Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Komik “Sandhora” (1970) Karya Teguh Santosa Nirwana, Aditya; Ginting, Daniel
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 3 No. 01 (2017): February 2017
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v3i01.1287

Abstract

AbstrakWajah perkomikan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi zaman. Komik “Sandhora” tidak hanya mengungkapkan gejala-gejala seniman penciptanya, namun juga merefleksikan kondisi sosio-kultural pada masa itu dan pemikiran ideologis kebudayaan Nusantara, dan patut diduga memiliki komitmen yang kuat terhadap paradigma estetik humanisme universal. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna primer, sekunder dan intrinsik yang membentuk dunia motif artistik, gambar komik, dan nilai simbolik dalam komik “Sandhora” (1970) karya Teguh Santosa. Dengan menggunakan metode sejarah dan pendekatan teori ikonografi dan ikonologi Erwin Panofsky, penelitian ini menemukan bahwa secara faktual komik ini menceritakan tentang kisah cinta antara dua tokoh utama yang penuh dengan konflik, ketegangan, pertarungan antara hidup dan mati, kelicikan, kekesatriaan, dan harapan, yang diekspresikan melalui hubungan antar elemen/unsur komik. Tema yang diangkat dalam Komik “Sandhora” ini adalah kemanusiaan dalam konteks pluralisme dan multikulturalisme dengan setting Indonesia. Tema komik ini menunjukkan betapa kuatnya komitmen terhadap paradigma estetik Humanisme Universal, yang populer pada paruh kedua 1960-an hingga tahun 1980-an. Komik “Sandhora” karya Teguh Santosa ini merupakan kristalisasi simbol dari pembelaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan/humanisme, kebebasan berekspresi, dan kesetaraan manusia, serta upaya perjuangan budaya dalam rangka mempertahankan dan mengembangkan martabat diri bangsa Indonesia di tengah masyarakat global. Kata Kunci: humanisme, komik, multikulturalisme, nilai, pluralism. AbstractComics in Indonesia is heavily influenced by conditions of the era. "Sandhora" not just reveal symptoms of the creator, but also reflecting the socio-cultural conditions in those days and ideological thought of culture, and is suspected to have a strong commitment to the universal humanism, as aesthetic paradigm. This study aims at describing primary, secondary and intrinsic values that form artistic, pictorial, and symbolic values of “Sandhora” comic (1970) by Teguh Santosa. Using historical and iconography approaches, this study found this comic is depicting a love story of two main characters whose life is full with conflicts, tenses, struggles between life and death, craftiness,chivalry, and expectations expressed through the relationships between comic elements. The comic proposes the theme of humanity within the spirit of pluralism and multiculturalism. This themse shows author’s strong commitment to the aesthetic paradigm of Universal Humanism which used to popular in the second half of the 1960s to the 1980s. This comic also symbolizes the defense of human values/humanism, freedom of expression, and equality of human beings, as well as the efforts of cultural struggle in order to maintain and develop the dignity of the Indonesian nation in the global community. Keywords: humanism,comic, multi-culturalism, values, pluralism.
Co-Authors Adiansyah Adiansyah, Adiansyah Aditya Nirwana Aini, Syafrida Alyakin Dachi, Rahmad Aritonang, Ester Taruli Bangun, Adriana Bevy Gulo, Adventy Riang Brahmana, Netti Etalia Br. Brahmana, Nettietalia Br. Budi Santoso, Stephanie Bunga, Faldin Adrianus Christiatmojo, Anastasia Seraphine Cristiana, Eva Dachi, Rahmat Elisabeth Purba, Ivan Etalia Brahmana, Netti Fajrinur, Fajrinur Fentiana, Nina Frida Lina Tarigan, Frida Lina Gaol, Mery Cristina Lumban Gulo, Moralman Gultom, Rumondang Haidar, Hala Halawa, Ebensaluran Halin, Hamid Harefa, Karnerius Harjantoko, Lalu Angger Hutajulu, Johansen Irawan, Jessica J. Sitorus, Mido Ester Jiuangga, Vincentius Valiandy Karnirius Harefa Ketaren, S. Otniel Lahagu, Ardianto Laia, Fidalina Lazuarni, Shafiera Lelo, Sisulince Levana, Eldana Reza Lumban Gaol, Hoddi Raju Mailisa, Wan Ria Manurung, Jasmen Manurung, Kesaktian Marnisah, Luis Masdalina Pane Maysyarah, Maysyarah Meida Manurung, Meida Munthe, Seri Asnawati MYRNAWATI CRIE HANDINI Mz, Miftahul Qurnaini Nababan, Donal Nasution, Fajarudin Nurkholis, Kgs, M. Nurmawati Nurmawati Pardosi, Magdalena Pasaribu, Dormaulina Patrisius Istiarto Djiwandono Pransika, Eka Purba, Agnes Rahmat Alyakin Dakhi Rika Rosnelly Rivany, Hany Athaya Syifa Robby Anto, Rachelia Giovanny Rosdiana, Eva Saleleubaja, Sulastri Sembiring, Rinawati Siagian, Mindo Tua Sihotang, Junita Lisbet Silitonga, Evawani M. Silitonga, Evawani Martalena Simamora, Doni Pacarella Simanjuntak, Hermanto Sinaga, Janno Sinaga, Taruli Rohana Sipayung, Rosetty Sirait, Asima Siregar, Linda Siterisno, Edi Sitorus, Mido Ester Sopiyan, Muhammad Yogie Pratama Subarma, Didik Suharto Suharto Tarigan, Antje Irmella Telaumbanua, Hendrikus Togatorop, Lamtiar Betty Toni Wandra Trini Sudiarti Vierto Wahyudi, Harry Warouw, Sonny Priajaya Welly Satria Dewi Wijaya, Irene Puspita Yulianto, Wawan Eko