Tujuan penelitian ini untuk menyelidiki cara Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Antropologi mengelola ikatan mahasiswa. Latar belakang penelitian didasarkan pada betapa pentingnya organisasi kemahasiswaan sebagai tempat untuk mengembangkan diri sendiri, memberikan pelatihan kepemimpinan, dan memperkuat ikatan antara anggota. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif, yang mengumpulkan data melalui dokumentasi, wawancara mendalam, dan observasi. Informasi penelitian terdiri dari ketua, pengurus, dan anggota HMJ Pendidikan Antropologi di Universitas Negeri Medan selama tahun 2024–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan seorang ketua adalah transformasional, demokratis, memberi dukungan, fleksibel, dan situasional. Dengan kepemimpinan yang diterapkan, organisasi dapat menjadi tempat yang terbuka, terbuka, dan inklusif, yang meningkatkan rasa solidaritas dan kebersamaan anggota. Tantangan seperti kurangnya partisipasi anggota dapat diatasi dengan komunikasi terbuka, musyawarah, dan kerja sama dengan pembina organisasi. Studi ini menemukan bahwa solidaritas mahasiswa sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan demokratis dan transformasional. Diharapkan temuan ini akan berfungsi sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut dan menjadi masukan untuk membangun model kepemimpinan di organisasi kemahasiswaan.