Penelitian ini mengkaji implementasi desentralisasi dan otonomi sekolah di Indonesia, yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan mendorong inovasi lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan desentralisasi pendidikan di Indonesia mendapat perhatian besar sebagai upaya untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan konteks lokal. Namun, seringkali terdapat kesenjangan antara kebijakan dan praktik yang dihadapi sekolah-sekolah di lapangan. Meskipun desentralisasi memberikan keleluasaan lebih bagi sekolah untuk berinovasi, tantangan dalam hal kapasitas, sumber daya, dan regulasi yang ketat masih membatasi potensi tersebut. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana otonomi sekolah mendorong peran manajerial kepala sekolah yang lebih inovatif, serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapan otonomi dalam mendorong inovasi lokal. Menggunakan pendekatan kualitatif komparatif di empat sekolah (perkotaan dan pedesaan), data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan bahwa meskipun otonomi meningkatkan fleksibilitas dan partisipasi, terdapat ketegangan antara kebebasan dan regulasi ketat, serta disparitas implementasi akibat keterbatasan kapasitas dan sumber daya. Peran kepala sekolah telah bereorientasi dari administrator menjadi manajer strategis dan pemimpin inovatif, menuntut kompetensi holistik. Inovasi lokal terhambat oleh keterbatasan anggaran dan resistensi, membutuhkan dukungan sistemik dan budaya eksperimentasi. Efektivitas otonomi sangat bergantung pada kapasitas manajemen lokal yang memadai, akuntabilitas kuat, dan pergeseran menuju kepemimpinan partisipatif yang memberdayakan inovasi akar rumput.