Claim Missing Document
Check
Articles

The Pancasila and Citizenship Education Model as a Constitutional Education in Elementary/Islamic Elementary Schools Mulyani, Heny; Sapriya, Sapriya; Hubi, Zindan Baynal; Insani, Nisrina Nurul; Nurgiansah, T Heru
Al-Aulad: Journal of Islamic Primary Education Vol. 7 No. 1 (2024): Al-Aulad: Journal of Islamic Primary Education
Publisher : Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-aulad.v7i1.32437

Abstract

The purpose of this research is to investigate the role of Pancasila and Civic Education (PPKn) in enhancing constitutional awareness among students at the elementary school/madrasah ibtidaiyah level, and to elucidate effective teaching methods to achieve this goal. The research methodology employed is literature review method, analyzing various relevant literature pertaining to the research topic. The important findings of this research are that cooperative learning models such as Numbered Heads Together and Think Pair Share can be used to improve students' understanding and learning outcomes in Civics. In addition, interactive learning models such as Role Playing, Broken Triangle, Square and Heart, and digital citizenship can also increase constitutional awareness among students. Teachers play a significant role in implementing Civics and cultivating constitutional awareness in each student, with the purpose of making Civics implementation in elementary schools/madrasah ibtidaiyah an effort to shape individuals in Indonesia who possess strong personalities and a sense of responsibility towards their country. By using effective learning methods, Civics can be an important instrument in building constitutional awareness and student character.
Fenomena Prostitusi Online di Kota Yogyakarta dalam Perspektif Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab Nurgiansah, T Heru
Jurnal Kewarganegaraan Vol. 17 No. 1 (2020): September 2020
Publisher : Department of Pancasila and Civic Education, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jk.v17i1.14208

Abstract

In the millennial era as it is now the utilization or use of social media seems to be a primary necessity. It is undeniable that the Internet network can resurface the issues between the right and the vanity. Many internet users are peddling their wares online such as accessories, clothing, and food. But the fact on the field is also a lot that uses social media to do activities that violate the norm, one of which is online prostitution. Indonesia with its Pancasila ideology wants all citizens to uphold the values contained in Pancasila. Please second aims to humanize human beings according to the dignity and the dignity to be a civilized person. The perpetrators of prostitution pretext that their activities are based on the injustices in life. Even they took refuge in human rights in the peddling of him. The study used case studies with qualitative methods to be able to uncover the veil of increasingly booming prostitution with various breakthroughs and find its way out so that the perpetrators aware that their activities are contrary to the fair and civilized value of humanity. One solution is to include the perpetrators of prostitution into religious schools.----------------Di era milenial seperti sekarang ini pemanfaatan atau penggunaan media sosial seolah menjadi kebutuhan primer. Tidak bisa dipungkiri bahwa jaringan internet mampu membiaskan persoalan antara yang hak dan yang batil. Banyak pengguna internet yang menjajakan barang dagangannya secara online seperti asesoris, pakaian, dan makanan. Akan tetapi fakta di lapangan banyak juga yang menggunakan media sosial untuk melakukan kegiatan yang melanggar norma, salah satunya adalah prostitusi online. Indonesia dengan ideologi pancasila-nya menginginkan semua warga negara menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Sila kedua bertujuan untuk memanusiakan manusia sesuai harkat dan martabatnya agar menjadi pribadi yang beradab. Para pelaku prostitusi berdalih bahwa kegiatan mereka didasari atas ketidakadilan dalam hidup. Bahkan mereka berlindung kepada hak asasi manusia di dalam menjajakan dirinya. Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan metode kualitatif agar mampu mengungkap tabir permasalahan prostitusi yang semakin menggeliat dengan berbagai terobosan baru dan mencari jalan keluarnya agar para pelaku prostitusi sadar bahwa kegiatan mereka bertentangan dengan nilai kemanusian yang adil dan beradab. Salah satu solusinya adalah memasukan para pelaku prostitusi ke dalam pesantren.
Role Playing dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Nurgiansah, T Heru; Hendri, Hendri; Khoerudin, Cep Miftah
Jurnal Kewarganegaraan Vol. 18 No. 1 (2021): Maret 2021
Publisher : Department of Pancasila and Civic Education, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jk.v18i1.22597

Abstract

AbstractThe majority of students consider the subjects of Pancasila and Citizenship Education to be boring subjects. The content of many materials, monotonous media and learning models, until the teacher's ability in classroom management is signalled to be the cause that results in less motivation, activeness, and student achievement. A proper learning model is needed to overcome these learning problems, namely role-playing learning models. The purpose of this study was to see the phenomenon of learning Pancasila and Citizenship Education in Class X SMA PGRI 1 Kasihan Bantul. The research method used is the qualitative method with descriptive studies. Data collection techniques in the form of observations, interviews, and documentation. The results showed that the use of Role-Playing learning models succeeded in making the learning atmosphere more interesting, active, and successful in improving students' academic abilities, especially in the material of the National Legal and Judicial System._________AbstractMayoritas siswa menganggap mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang membosankan. Isi materi yang banyak, media dan model pembelajaran yang monoton, sampai kemampuan guru dalam pengelolaan kelas disinyalir menjadi penyebabnya yang mengakibatkan motivasi, keaktifan, dan prestasi siswa menjadi kurang. Diperlukan sebuah model pembelajaran yang tepat untuk mengatasi permasalahan belajar tersebut, yakni model pembelajaran Role Playing. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat fenomena pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Kelas X SMA PGRI 1 Kasihan Bantul. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan studi deskriptif. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan model pembelajaran Role Playing berhasil membuat suasana pembelajaran semakin menarik, aktif, dan berhasil meningkatkan kemampuan akademik siswa khususnya pada materi Sistem Hukum dan Peradilan Nasional.
Nasionalisme Warga Muda Era Globalisasi: Pendidikan Kewarganegaraan di Perbatasan Nurgiansah, T Heru; Rachman, Fazli
Jurnal Kewarganegaraan Vol. 19 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Department of Pancasila and Civic Education, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jk.v19i1.33214

Abstract

AbstractCitizenship Education as a curricular program was developed to form smart and good citizens. An indication of a good citizen is steadfastness and belief in a nation which can be seen from the attitude of nationalism and patriotism. This research aims to find out the attitude of nationalism of Indonesian citizens, especially the younger generation in the era of globalization. The research was conducted on the Temajuk Moon Camar, West Kalimantan border. The research method uses a qualitative case study design. Data collection techniques through observation, interviews, documentation, and literature. The research data sources consist of primary and secondary sources. The research data obtained were then analyzed using an interactive model. The results of the study show that young Indonesian citizens living on the border of the Temajuk Moon Camar, West Kalimantan, have a good attitude toward nationalism. This is evident from the behaviour of the people there, one of which is not willing to leave Indonesian citizenship status even though access to Malaysia is easier. Although the community feels various limitations and development gaps, the firmness and belief of the nation from a high attitude of nationalism.----------------AbstrakPendidikan Kewarganegaraan sebagai program kurikuler dikembangkan untuk membentuk warga negara yang cerdas (smart) dan baik (good). Indikasi warga negara yang baik adalah keteguhan dan keyakinan atas sebuah bangsa dan terlihat dari sikap nasionalisme dan patriotisme. Penelitian ditujukan untuk mengetahui sikap nasionalisme warga negara Indonesia, khususnya generasi muda di era globalisasi. Penelitian dilaksanakan di perbatasan Camar Bulan Temajuk, Kalimantan Barat. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan literatur. Sumber data penelitian terdiri dari, sumber primer dan sekunder. Data penelitian yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukan bahwa warga negara muda Indonesia yang berada di perbatasan Camar Bulan Temajuk Kalimantan Barat memiliki sikap nasionalisme yang baik. Hal ini terbukti dari perilaku masyarakat disana, salah satunya tidak berkenan meninggalkan status kewarganegaraan Indonesia meskipun akses ke negara Malaysia lebih mudah. Walau masyarakat merasakan berbagai keterbatasan dan kesenjangan pembangunan, tetapi keteguhan dan keyakinan berbangsa dari sikap nasionalisme yang tinggi. 
Peran Penting Civics: Pendidikan Ilmu Kewarganegaraan di Era Masyarakat Digital Bila, Nisrina Salsa; Wahyuni, Febri Dwi; Nurgiansah, T Heru
Jurnal Kewarganegaraan Vol. 20 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Department of Pancasila and Civic Education, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jk.v20i1.39530

Abstract

AbstractThis research discusses the importance of civics education in the digital era to support character strengthening for society. The method used in this study is to use the literature review method, namely by collecting, analyzing, and reading from various reference sources. References come from books and journals. Journal source search using electronic media. The subject of this research is more focused on the community. The results of the study showed that the influence of digital development as a result of the industrial revolution 4.0 had a very significant impact on society. To support the increasingly vigorous development of technology in society, it is necessary to strengthen character through citizenship education. The important role of civics education is currently being focused on considering that there are many outstanding cases due to a decline in morale among the people. Strengthening character education in the digitalization era is very important for the community to foster a much better moral attitude and not be easily carried away by the negative currents of the digitalization era. Due to the influence of technological developments in the current era, it has had a significant impact on everyday life. And if it is not balanced with strengthening the character of each individual, they will be carried away by the free flow of digitalization without limits.------------AbstrakPenelitian ini membahas tentang pentingnya pendidikan kewarganegaraan di era digital untuk mendukung penguatan karakter bagi masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode literatur review yaitu dengan mengumpulkan, menganalisis, membaca sumber referensi. Referensi bersumber dari buku, dan jurnal. Pencarian sumber jurnal menggunakan media elektronik. Subjek penelitian ini adalah lebih difokuskan kepada masyarakat. Hasil penelitian diperoleh bahwa pengaruh perkembangan digital akibat dari revolusi industri 4.0 sangat signifikan pengaruhnya terhadap masyarakat. Untuk mendukung perkembangan teknologi yang semakin gencar di masyarakat maka diperlukan adanya penguatan karakter melalui pendidikan kewarganegaraan. Peran penting pendidikan kewarganegaraan menjadi hal yang difokuskan saat ini mengingat banyak kasus yang beredar akibat penurunan moral di kalangan masyarakat. Penguatan pendidikan karakter di era digitalisasi sangat penting bagi masyarakat untuk menumbuhkan sikap moral yang jauh lebih baik dan tidak mudah terbawa arus negatif era digitalisasi. Dikarenakan pengaruh dari perkembangan teknologi di era sekarang ini telah banyak memberikan dampak signifikan bagi kehidupan sehari-hari. Apabila tidak di imbangi dengan adanya penguatan karakter pada diri masing- masing individu akan terbawa arus digitalisasi yang bebas tanpa batas.
Ekonomi Civic Sebagai Instrumen Penguatan Kesadaran Kewargaan Nugraha, Dani; Nurgiansah, T Heru
Economic Management Business Research Journal Vol 2, No 1 (2026): Februari 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/ember.v2i1.8078

Abstract

Fokus penelitian ini adalah lemahnya internalisasi nilai kewargaan dalam perilaku ekonomi masyarakat yang dipengaruhi oleh dominannya pendekatan normatif dalam Pendidikan Kewarganegaraan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep Ekonomi Civic sebagai instrumen penguatan kesadaran kewargaan di era ekonomi digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dan tinjauan literatur sistematis terhadap sumber akademik dan dokumen kebijakan publik periode 2021–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa Ekonomi Civic mampu mengintegrasikan nilai kewargaan ke dalam praktik ekonomi melalui kewirausahaan sosial, patriotisme ekonomi, dan partisipasi warga dalam ekosistem ekonomi komunitas. Temuan penelitian menegaskan bahwa keterlibatan langsung dalam aktivitas ekonomi berbasis nilai lebih efektif dalam membentuk watak kewargaan dibandingkan pembelajaran kewarganegaraan yang bersifat teoritis. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan kerangka Economic Civics yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek aktif kewargaan ekonomi melalui pemanfaatan teknologi digital dan pembelajaran civic entrepreneurship, sehingga aktivitas ekonomi berfungsi sebagai medium pembelajaran kewargaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Co-Authors - Sapriya Adam, M. Januar Ibnu Adham, M Januar Ibnu Adham, M. Januar Ibnu Afriyeni, Firli Ahmad, Endang Aji, Rayesh Ghiffari Alqadri, Syarif Algie Sepdiansah Siswandi Amalia, Sendi ana, afifah ochi Anggriawan, Kevlin Arifiyanti, Fitria Ariska, Riska Asep Mahpudz Astika Dewi, Made Sri Batubara, Abdinur Bila, Nisrina Salsa Bunyamin Maftuh Chrystiano, Laurensius Dadang Sundawa, Dadang Danial AR, Endang Dasim Budimansyah Dewantara, Jagad Aditya Dhiniaty Gularso Efriani Efriani Elly Malihah Endang Danial, Endang Fachry Abda El Rahman Fahruddin Fahruddin Fauzi, Iqbal Ahmad Fazli Rachman Ghifari, Muhamad Rafly Hartanto, Supri Hendri Hendri Herawati, Tri Ratna Hermawan, Yudi Hidayah, Eva Nur Hidayah, Mutia Nur Hubi, Zindan Baynal Iim Siti Masyitoh Insani, Nisrina Nurul Ismail, Hanif Ismiyati, Evita Nur Januar, Naufal Fajar Julianti, Depi Saptika Kanama, Cannavaro Karim Suryadi Karim Suryadi Khairul Nizam Khoerudin, Cep Miftah Kokom Komalasari Kurniasih, Atiqah Kusuma, Airlangga Wijaya Kusumaningrum, Rika Novita Maria Lufransiya Bribin Maryatun Kabatiah muhammad rizky, muhammad Mukhamad Murdiono Mulyani, Heny Nugraha, Dani Nugroho, Fahriel Rifkinaldo Nurrohman, Rifki Nwokeocha, Ifeanyi Martins Palupi, Muncar Tyas Perdana, Oktana Wahyu Permatasari, Mitra Pratama, Febri Fajar Purwanti, Ari Retno Raffiq, Fathurizqi Rahmat Rahmat Rahmat Ramadhan, Ardika Muhammad Tamir Ramadhanty, Helza Vivia Randiawan, Randiawan Ryan Prayogi Saputra, Dimas Arya Septian Aji Permana Slamet Hariyadi Suriaman Suriaman Syamsiar, Syamsiar Taufika, Ryan Tiastiwi, Utari Nurul Wahyuni, Febri Dwi Wibowo Heru Prasetiyo Widyastuti, Titik Mulat Wiguna, Hudan Ilmi Yunus, Dadang Yusuf, Muhammad Hadi