Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Mengungkap Penyalahgunaan Keuangan Publik: Bentuk, Dampak serta Strategi Penanggulangan Putri, Elivia Pasma; Arisman
Journal of Economics, Business, Accounting and Management Vol. 3 No. 1 (2025): Journal of Economics, Business, Accounting and Management
Publisher : CV. Kurnia Grup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61476/vtk4p871

Abstract

Sound financial management will provide opportunities for the government to finance vital sectors such as infrastructure, energy, agriculture, and human resource development through education and health. However, while sound financial management can support state governance, challenges and obstacles such as abuse of authority, corruption, collusion, and nepotism can impact the optimization of sound state financial management. Therefore, this article aims to further understand the definition of public financial misuse, its forms, its impacts, and effective strategies for preventing and addressing cases of public financial misuse. The research method used in this article is qualitative, with a literature approach obtained from books, articles, and previous research relevant to the topic. The results obtained through this study include an understanding of the forms, impacts, and strategies for addressing public financial problems. Through this research, the author hopes to help readers understand and contribute to improving the quality of effective and efficient public financial management.
Implementasi Teknologi Ozonasi untuk Meningkatkan Kelulushidupan Ikan pada Kelompok Perikanan Harapan Baru Desa Manemeng Sumbawa Barat Puryadi, Puryadi; A. Rahman; Arisman; Intan Zahar
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 8 No 3 (2025): Juli-September 2025
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v8i3.12917

Abstract

Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Harapan Baru di Desa Manemeng, Sumbawa Barat, menghadapi kendala tingginya mortalitas benih akibat kualitas air yang rendah dan serangan jamur. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan memperkenalkan teknologi ozonisasi untuk memperbaiki kualitas air dan meningkatkan kelulushidupan ikan. Kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan penggunaan alat ozonisasi, serta bimbingan teknis uji kualitas air yang diikuti oleh 23 peserta. Evaluasi dilakukan melalui studi komparatif antara kolam bioflok dengan perlakuan ozon dan kolam kontrol. Hasil menunjukkan bahwa penerapan teknologi ozon menurunkan mortalitas ikan dari 36% menjadi 28%, meningkatkan oksigen terlarut (DO) dari 3,8 menjadi 4,6 mg/L, serta menurunkan konsentrasi amonia dari 1,0 menjadi 0,65 mg/L. Suhu (27 °C) dan pH (7,9–8,2) berada pada kisaran ideal, namun nitrat (25 mg/L) dan fosfat (1 mg/L) masih melebihi standar baku mutu sehingga memerlukan pengelolaan tambahan. Secara keseluruhan, teknologi ozonisasi terbukti efektif memperbaiki kualitas air, menekan kematian ikan, dan mendukung produktivitas budidaya, meskipun masih dibutuhkan strategi lanjutan untuk mengendalikan akumulasi nitrat dan fosfat.
MEMBANTAH NARASI MARRIAGE IS SCARY DI MEDIA SOSIAL PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM Wulandari, Amelia; Arisman; Wahidin
YUSTISI Vol 12 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v12i3.20162

Abstract

Fenomena narasi “Marriage is Scary” di media sosial menunjukkan kekhawatiran generasi muda terhadap pernikahan. Pengalaman traumatis, ketakutan akan konflik rumah tangga, tekanan finansial, dan konten negatif di platform online seperti Tiktok adalah semua faktor yang sering menyebabkan munculnya narasi ini. Pada akhirnya narasi ini merusak pemahaman masyarakat tertutama generasi muda tentang makna dan tujuan dari pernikahan dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membantah narasi negatif tersebut melalui pendekatan hukum keluarga Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan normatif. Data diperoleh melalui studi pustaka, dokumentasi digital dari media sosial. Fokus utama penelitian ini terletak pada bagaimana narasi “Marriage is Scary” terbentuk, faktor pendorongnya, serta kontradiksi dengan prinsip-prinsip dasar pernikahan dalam Islam yang menekankan kasih sayang, keseimbangan hak dan kewajiban, serta tujuan spiritual dalam berkeluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena narasi “Marriage is Scary” yang muncul di media sosial secara signifikan oleh mereka yang berbagi pengalaman atau pandangan negatif tentang pernikahan. Narasi “Marriage is Scary” di sebabkan oleh disinformasi, pengalaman pribadi yang disebarluaskan, serta lemahnya literasi hukum dan agama. Perspektif hukum keluarga Islam memberikan pedoman untuk menciptakan pernikahan yang adil, harmonis, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, diperlukan reedukasi berbasis nilai Islam dan penguatan literasi digital agar generasi muda mampu memilah informasi serta membangun persepsi positif terhadap pernikahan sebagai bagian dari ibadah dan jalan menuju keluarga Sakinah. Kata Kunci: Marriage is Scary, media sosial, pernikahan, hukum keluarga Islam
PENERAPAN KONSEP MITSAQON GHOLIZHON PADA KELUARGA POLIGAMI YANG TIDAK TERCATAT DI KECAMATAN TAMBANG PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM Nurjannah; Wahidin; Arisman
YUSTISI Vol 12 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v12i3.20232

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep Mitsaqon Gholizhon yakni perjanjian yang kokoh dan sakral dalam ikatan pernikahan pada keluarga poligami yang tidak tercatat di Kecamatan Tambang, serta meninjau praktik tersebut dalam perspektif Hukum Keluarga Islam. Praktik poligami tanpa pencatatan resmi tidak hanya menimbulkan persoalan administratif, tetapi juga berdampak pada perlindungan hukum terhadap istri dan anak, keadilan dalam relasi keluarga, serta keabsahan pernikahan menurut hukum Islam dan negara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi lapangan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 10 pasangan keluarga poligami yang tidak tercatat dari lima desa di Kecamatan Tambang, yakni Desa Tambang, Terantang, Parit Baru, Sungai Pinang, dan Palung Raya. Analisis dilakukan melalui pendekatan normatif dan sosiologis untuk menilai implementasi nilai-nilai Mitsaqon Gholizhon dalam kehidupan rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Mitsaqon Gholizhon dalam praktik poligami tidak tercatat berjalan secara tidak optimal. Meskipun terdapat beberapa keluarga yang berupaya menjaga keharmonisan dan keadilan antar istri, secara umum masih ditemukan ketimpangan dalam pembagian hak-hak, seperti nafkah, perhatian, serta kejelasan status hukum istri dan anak. Faktor utama yang menyebabkan poligami tidak tercatat meliputi keterbatasan ekonomi, minimnya pemahaman hukum, penolakan istri pertama terhadap pernikahan kedua, serta pengaruh budaya lokal. Dari perspektif Hukum Keluarga Islam, praktik ini belum mencerminkan nilai-nilai luhur Mitsaqon Gholizhon yang menekankan keadilan, tanggung jawab, dan perlindungan terhadap seluruh anggota keluarga. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya edukasi hukum dan agama serta penguatan peran lembaga keagamaan dan negara dalam mengawal praktik pernikahan sesuai syariat dan peraturan perundang-undangan. Kata kunci: Mitsaqon Gholizhon, Poligami Tidak Tercatat, Hukum Keluarga Islam, Kecamatan Tambang.
MEMBANTAH NARASI MARRIAGE IS SCARY DI MEDIA SOSIAL PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM Wulandari, Amelia; Arisman; Wahidin
YUSTISI Vol 12 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v12i3.20162

Abstract

Fenomena narasi “Marriage is Scary” di media sosial menunjukkan kekhawatiran generasi muda terhadap pernikahan. Pengalaman traumatis, ketakutan akan konflik rumah tangga, tekanan finansial, dan konten negatif di platform online seperti Tiktok adalah semua faktor yang sering menyebabkan munculnya narasi ini. Pada akhirnya narasi ini merusak pemahaman masyarakat tertutama generasi muda tentang makna dan tujuan dari pernikahan dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membantah narasi negatif tersebut melalui pendekatan hukum keluarga Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan normatif. Data diperoleh melalui studi pustaka, dokumentasi digital dari media sosial. Fokus utama penelitian ini terletak pada bagaimana narasi “Marriage is Scary” terbentuk, faktor pendorongnya, serta kontradiksi dengan prinsip-prinsip dasar pernikahan dalam Islam yang menekankan kasih sayang, keseimbangan hak dan kewajiban, serta tujuan spiritual dalam berkeluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena narasi “Marriage is Scary” yang muncul di media sosial secara signifikan oleh mereka yang berbagi pengalaman atau pandangan negatif tentang pernikahan. Narasi “Marriage is Scary” di sebabkan oleh disinformasi, pengalaman pribadi yang disebarluaskan, serta lemahnya literasi hukum dan agama. Perspektif hukum keluarga Islam memberikan pedoman untuk menciptakan pernikahan yang adil, harmonis, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, diperlukan reedukasi berbasis nilai Islam dan penguatan literasi digital agar generasi muda mampu memilah informasi serta membangun persepsi positif terhadap pernikahan sebagai bagian dari ibadah dan jalan menuju keluarga Sakinah. Kata Kunci: Marriage is Scary, media sosial, pernikahan, hukum keluarga Islam
PENERAPAN KONSEP MITSAQON GHOLIZHON PADA KELUARGA POLIGAMI YANG TIDAK TERCATAT DI KECAMATAN TAMBANG PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM Nurjannah; Wahidin; Arisman
YUSTISI Vol 12 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v12i3.20232

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep Mitsaqon Gholizhon yakni perjanjian yang kokoh dan sakral dalam ikatan pernikahan pada keluarga poligami yang tidak tercatat di Kecamatan Tambang, serta meninjau praktik tersebut dalam perspektif Hukum Keluarga Islam. Praktik poligami tanpa pencatatan resmi tidak hanya menimbulkan persoalan administratif, tetapi juga berdampak pada perlindungan hukum terhadap istri dan anak, keadilan dalam relasi keluarga, serta keabsahan pernikahan menurut hukum Islam dan negara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi lapangan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 10 pasangan keluarga poligami yang tidak tercatat dari lima desa di Kecamatan Tambang, yakni Desa Tambang, Terantang, Parit Baru, Sungai Pinang, dan Palung Raya. Analisis dilakukan melalui pendekatan normatif dan sosiologis untuk menilai implementasi nilai-nilai Mitsaqon Gholizhon dalam kehidupan rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Mitsaqon Gholizhon dalam praktik poligami tidak tercatat berjalan secara tidak optimal. Meskipun terdapat beberapa keluarga yang berupaya menjaga keharmonisan dan keadilan antar istri, secara umum masih ditemukan ketimpangan dalam pembagian hak-hak, seperti nafkah, perhatian, serta kejelasan status hukum istri dan anak. Faktor utama yang menyebabkan poligami tidak tercatat meliputi keterbatasan ekonomi, minimnya pemahaman hukum, penolakan istri pertama terhadap pernikahan kedua, serta pengaruh budaya lokal. Dari perspektif Hukum Keluarga Islam, praktik ini belum mencerminkan nilai-nilai luhur Mitsaqon Gholizhon yang menekankan keadilan, tanggung jawab, dan perlindungan terhadap seluruh anggota keluarga. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya edukasi hukum dan agama serta penguatan peran lembaga keagamaan dan negara dalam mengawal praktik pernikahan sesuai syariat dan peraturan perundang-undangan. Kata kunci: Mitsaqon Gholizhon, Poligami Tidak Tercatat, Hukum Keluarga Islam, Kecamatan Tambang.
Analisis terhadap Keharmonisan Rumah Tangga Mursyid Suluk di Kabupaten Rokan Hulu Perspektif Hukum Keluarga Islam Kurniawan, Anwar; Arisman
Al-Qanun: Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam Vol 28 No 1 (2025): Al-Qanun, Vol. 28, No. 1, Juni 2025
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alqanun.2025.28.1.1-14

Abstract

This research is motivated by the phenomenon of suluk (spiritual retreat) activities undertaken by mursyid (spiritual guides) in Rokan Hulu Regency, which demand intensive dedication to their disciples and thus have the potential to cause tension in family life. The focus of this study is the dynamics of family relations of suluk mursyid, the challenges faced by their spouses, and an Islamic family law perspective on the impact of suluk activities on household harmony. This research employs a descriptive qualitative method through a field study approach, using interviews as the primary data collection technique. The findings reveal role imbalances, lack of shared time, and emotional tension experienced by the mursyid’s wives. However, some mursyid are able to maintain family harmony through open communication and involving their wives in spiritual activities. From the perspective of Islamic family law, as reflected in the Compilation of Islamic Law (KHI) and Maqa>s}id al-Shari>’ah, the importance of maintaining balance (tawa>zun) between religious obligations and family responsibilities is emphasized. The practice of suluk is not justified if it causes harm (mad}arrah) or neglects family rights.
Physical Condition Analysis of Junior Athletes of LAVANI Volleyball Club Bujang; Arisman; Aridhotul Haqiyah; Mia Kusumawati; Tatang Iskandar
ACTIVE: Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreation Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/peshr.v13i2.5668

Abstract

This study aims to analyze the physical condition of junior athletes of the LAVANI Cikeas Bogor volleyball club including cardiovascular endurance, muscle strength, muscle explosive power, flexibility, and body composition. This physical component is important to support the appearance of athletes in volleyball. The method used is descriptive research with measurements using valid and reliable field tests. The study population was all junior athletes of the LAVANI Cikeas Bogor volleyball club totaling 30 people with total sampling techniques. The instruments used include multi-stage running tests, push-up tests, vertical jump tests, sit and reach tests, and anthropometric measurements. The results showed that the average cardiovascular endurance of athletes was in the good category, arm and shoulder muscle strength in the sufficient category, leg muscle explosive power in the less category, flexibility in the good category, and body composition of most athletes was in the ideal range. Overall, the physical condition of the junior athletes of the LAVANI Cikeas Bogor volleyball club is considered quite good but still needs to be improved, especially in the explosive power component of the leg muscles to support optimal performance in playing volleyball.
Kafaah dalam Perkawinan: Menelaah Pembatasan Perpautan Usia di Yordania dalam Bingkai Hukum Islam, Keadilan Gender, dan Relevansinya di Indonesia Harahap, Adi Harmanto; -, Muh. Rizki; -, Almi Jera; Arisman
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 6 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/abhats.vol6.iss1.art2

Abstract

This study critically examines age gap restrictions in marriage as part of the concept of kafaah, as regulated in Article 11 of Jordan’s Qanun al-Ahwal al-Syakhsiyyah No. 36 of 2010. This regulation prohibits marriages with an age difference exceeding 20 years unless a judge ensures the consent and willingness of the prospective bride. Using a descriptive-analytical-comparative method, this research explores whether this regulation serves as a form of protection for women against potential exploitation or acts as a state control mechanism over women’s rights in choosing a spouse. The findings reveal that this regulation is rooted in the principles of istihsan, maslahah, and sad al-dzari’ah, aiming not only to prevent relational imbalance in marriage but also to ensure the protection of women. From the perspective of Islamic law, this regulation reflects the dynamics of modern ijtihad in adapting the principle of kafaah to contemporary social needs. Meanwhile, from a gender justice perspective, this policy highlights the tension between legal protection and state control over women's autonomy in selecting a life partner. In Indonesia, the Kompilasi Hukum Islam (KHI) does not include any provision regarding the maximum age gap in marriage, allowing marriages with significant age differences to occur without explicit legal intervention. This study recommends a critical evaluation of the kafaah concept in Indonesia, balancing women's rights protection with their autonomy in choosing a spouse. [Penelitian ini mengkaji secara kritis pembatasan perpautan usia dalam perkawinan sebagai bagian dari konsep kafaah yang diatur dalam Pasal 11 Qanun al-Ahwal al-Syakhsiyyah Yordania No. 36 Tahun 2010. Ketentuan ini membatasi pernikahan dengan selisih usia lebih dari 20 tahun, kecuali setelah hakim memastikan kerelaan dan kesediaan calon mempelai perempuan. Dengan metode deskriptif-analitis-komparatif, penelitian ini menelaah apakah regulasi tersebut merupakan bentuk perlindungan perempuan dari potensi eksploitasi atau justru menjadi instrumen kontrol negara atas hak perempuan dalam menentukan pasangan hidup. Temuan penelitian menunjukkan bahwa regulasi ini berakar pada metode istihsan, maslahah, dan sad al-dzari’ah, yang bertujuan tidak hanya mencegah ketimpangan relasi dalam pernikahan, tetapi juga memastikan perlindungan bagi perempuan. Dari perspektif hukum Islam, regulasi ini mencerminkan dinamika ijtihad modern dalam mengadaptasi prinsip kafaah yang sesuai dengan kebutuhan sosial kontemporer. Sementara itu, dari perspektif keadilan gender, kebijakan ini menunjukkan ketegangan antara proteksi hukum dan kontrol negara atas otonomi perempuan dalam memilih pasangan hidup. Di Indonesia, Kompilasi Hukum Islam (KHI) tidak memuat ketentuan tentang batas maksimal perpautan usia dalam pernikahan, sehingga pernikahan dengan selisih usia yang signifikan dapat berlangsung tanpa adanya intervensi hukum yang eksplisit. Penelitian ini merekomendasikan evaluasi kritis terhadap konsep kafaah di Indonesia dengan menyeimbangkan perlindungan hak perempuan dan kebebasan mereka dalam memilih pasangan hidup secara otonom.]
Disiplin Warga Binaan dalam Mengikuti Kegiatan Pesantren Al-Ichwan di Lapas Kelas II A Tembilahan Junaidi; Setiabudi, Agung; Arisman; Afrizal, Jhon; Fuadi, Husni; Yusrial; Al Banjuri, Azzuhri
IKHLAS: Jurnal Pengabdian Dosen dan Mahasiswa Vol. 4 No. 3 (2025): IKHLAS: Jurnal Pengabdian Dosen dan Mahasiswa
Publisher : Indra Institute Research & Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedisiplinan warga binaan dalam mengikuti kegiatan pesantren di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tembilahan ditinjau dari perspektif maqashid al-syari‘ah. Berdasarkan Pasal 1 angka 18 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, Lapas berfungsi bukan hanya sebagai tempat penjatuhan pidana, tetapi juga sebagai lembaga pembinaan dan rehabilitasi yang bertujuan mengembalikan narapidana menjadi pribadi yang bermoral dan produktif di masyarakat. Salah satu bentuk pembinaan yang diterapkan adalah melalui penyelenggaraan pesantren, yang berperan penting dalam membina spiritual, moral, dan karakter warga binaan agar mampu bertaubat, memperbaiki diri, serta memiliki kesadaran religius yang kuat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif eksploratif dengan model participant research, yaitu menelaah fenomena secara langsung di lapangan secara alami tanpa rekayasa. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan informan yang memenuhi kriteria 3M (mengetahui, memahami, mengalami), sedangkan data sekunder bersumber dari literatur seperti buku dan jurnal yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pesantren Al-Ichwan di Lapas Kelas IIA Tembilahan berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai maqāshid al-syari‘ah kepada warga binaan, yang mencakup lima aspek utama, yaitu Hifzh ad-Din (menjaga agama), Hifzh an-Nafs (menjaga jiwa), Hifzh al-Aql (menjaga akal), Hifzh an-Nasl (menjaga keturunan), dan Hifzh al-Mal (menjaga harta). Melalui pembinaan keagamaan, pengajian, bimbingan ibadah, dan pelatihan keterampilan, warga binaan dilatih untuk disiplin dalam menjalankan kegiatan spiritual dan sosial yang memperkuat keimanan, ketenangan jiwa, dan tanggung jawab moral. Kedisiplinan terbukti menjadi faktor utama keberhasilan pembinaan karena membentuk kepribadian Islami yang taat aturan dan berakhlak mulia.