Claim Missing Document
Check
Articles

Pembinaan Keagamaan sebagai Penguat Moral Pada Anak- Anak di Desa Jaman Lestari, Andini Putri; Winna, Winna; Helda, Helda; Fitriani, Wulan; Pagihuddin, Mukjizat; Nurrofiq, M. Fajar; Ariyanti, Firna
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 2 No. 1 (2024): November
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/qkx1fq80

Abstract

Tujuan pengabdian masyarakat ini yaitu untuk meningkatkan kualitas ilmu Pendidikan anak-anak desa Jaman berupa pemahaman keagamaan dan menguatkan moral mereka. Metode pengabdian ini yaitu metode deskriptif  kualitatif untuk mendeskripsikan dan menjelaskan materi yang terkait dengan pembelajaran agama dan moral kepada anak-anak di desa Jaman. Hasilnya menunjukan bahwa program pembinaan keagamaan di Desa Jaman telah berhasil meningkatkan pemahaman anak-anak terhadap nilai-nilai dasar agama Islam, dengan lebih dari 75% peserta menunjukkan peningkatan dalam pengetahuan tentang akidah, ibadah, dan akhlak. Selain itu, program ini juga menghasilkan perubahan positif dalam sikap dan perilaku moral anak-anak, seperti peningkatan kedisiplinan, kejujuran, dan kebiasaan shalat berjamaah. Meskipun demikian, beberapa tantangan seperti keterbatasan waktu, frekuensi pertemuan, dan jumlah fasilitator yang terbatas masih menjadi kendala dalam pembinaan yang optimal. Implikasi dari program ini sangat penting bagi pembentukan moral jangka panjang anak-anak, dengan dukungan penuh dari orang tua dan komunitas sebagai faktor kunci keberhasilan. Rekomendasi untuk pengembangan ke depan meliputi peningkatan intensitas program dan jumlah fasilitator, serta pelatihan lebih lanjut bagi orang tua agar peran mereka dalam pembinaan agama di rumah dapat lebih efektif.  
Comparison of Macrozoobenthos Community Structure in Reclaimed and Natural Beaches in Padang City, West Sumatra Helda, Helda; Tanjung, Afrizal; Thamrin, Thamrin
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 29 No. 3 (2024): October
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.29.3.334-342

Abstract

Padang City is one of the cities with a long coastline. The Padang City government has made many reforms to manage the beach area as a tourist attraction. This research aimed to determine the comparison of macrozoobenthos community structure, including species composition, species abundance, relative abundance, diversity index, similarity index, dominance index, and distribution patterns in the reclaimed and natural beaches of Padang City, West Sumatra Province. The method used was purposive sampling with sample collection using the transect method. The results of this study indicate that the water quality in Padang City, West Sumatra, is sufficiently good to support macrozoobenthos life. The highest species abundance of macrozoobenthos was found at the Reclamation Beach Station. The macrozoobenthos species found belong to 2 classes: Gastropoda and Crustacea. The Gastropoda class consists of 4 species: Babylonia spirata, Pila ampullacea, Pila occidentalis, and Nerita fulgurans, while from the Crustacea class, three species were found: Ashtoret lunaris, Hemigrapsus takanoi, and Emerita sp. Meanwhile, the lowest abundance was found at the Natural Beach Station, where the species belonging to the Crustacea class, specifically H.takanoi, was found. The species diversity of macrozoobenthos at the Natural Beach Station is considered low but moderate at the Reclamation Beach Station. Similarity at the Natural Beach Station is low, while at the Reclamation Beach Station, it is high. Additionally, there is a dominant species at the Natural Beach Station, whereas no dominant species were found at the Reclamation Beach Station. The distribution pattern of macrozoobenthos in the coastal waters of Padang City is categorized as clustered distribution
ANALISIS SITUASI PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I) DI PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2023 Falah, Sadiah Nurul; Helda, Helda; Magdalena S, Purnama
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.36896

Abstract

Saat ini, Indonesia dihadapkan pada tantangan kesehatan berupa Triple Burden, salah satunya adalah munculnya kembali penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah melalui imunisasi. Beberapa penyakit seperti difteri, tetanus, campak, rubella, dan polio mengalami peningkatan kasus di beberapa wilayah, termasuk Jawa Barat. Analisis situasi, diperlukan untuk mengidentifikasi masalah PD3I, termasuk penyebab dan faktor yang mempengaruhi, serta menentukan prioritas masalah kesehatan. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Jawa Barat menggunakan metode assessment dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember 2023. Penentuan prioritas masalah menggunakan metode PAHO-Adopted Hanlon melibatkan 3 responden dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan 67 petugas Kabupaten/Kota se-Jawa Barat. Pandemi covid-19 menyebabkan peningkatan kasus PD3I di Jawa Barat, diantaranya ditemukan 1 kasus polio (VPDP) di Purwakarta. Pada tahun 2023, terdapat peningkatan kasus campak tiga kali lipat di tahun sebelumnya ada sebanyak 6598 kasus. Jumlah kasus difteri meningkat dua kali lipat didapatkan sebanyak 275 kasus dengan 22 kasus kematian. Nilai CFR sebesar 8%. Terdapat sebanyak 360 kasus pertussis dan kasus tetanus neonatorum sebanyak 7 kasus dengan nilai CFR sebesar 42,8%. Masalah utama penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) di Jawa Barat adalah campak, dengan skor prioritas tertinggi (20,11), diikuti Difteri (15,99) dan Polio (14,89) berdasarkan metode PAHO Adopted Hanlon. Campak menjadi prioritas utama karena peningkatan kasus yang signifikan, tingginya penularan, cakupan imunisasi rendah, dan faktor-faktor seperti keterbatasan fasilitas kesehatan dan penolakan imunisasi. Perlu penanggulangan meliputi penguatan surveilans, imunisasi, deteksi dini dan edukasi masyarakat
Optimizing chest X-rays as a leading diagnostic modality for handling COVID-19: a diagnostic study Purbasari, Utami; Prihartono, Nurhayati Adnan; Helda, Helda; Antariksa, Budhi; Audita, Fatira R.
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 14, No 2: June 2025
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v14i2.24653

Abstract

Recent studies have highlighted that chest CT scans are crucial for accurately diagnosing COVID-19. However, in rural areas of Indonesia, people may have difficulty assessing CT scans, leading to increased undetected cases. To address this issue, we investigated whether chest X-rays (CXR) could replace CT scans in diagnosing COVID-19 patients. A diagnostic cross-sectional-based study was conducted at Fatmawati General Hospital from January to September 2021. The study included suspected COVID-19 patients in isolation wards and ICU who were over 18, with or without comorbidities, and had complete clinical data and laboratory tests. We analyzed imaging data through reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) tests, CXR, and chest CT scans. This study enrolled 150 eligible patients. With RT-PCR as the gold standard, we found that CXR had a sensitivity of 86.6% (95% CI: 78.9-92.3%) and chest CT scan had a sensitivity of 91.1% (95% CI: 84.2-95.6%). Similar performance was observed when detecting ground glass opacities (GGO), bilateral laterobasal, and influenza-like syndrome and dyspnea (ILI) between CXR and CT scans. Receiver operating characteristic (ROC) curves demonstrated that CXR is comparable to CT scan, especially in ground glass opacity (GGO) and consolidation (AUC=0.72; 95% CI: 0.61-0.83 and AUC=0.710; 95% CI: 0.64-0.78). The proposed CXR method can be a reliable primary imaging tool for diagnosing COVID-19 by considering ILI. However, chest CT scans remain the most effective diagnostic method for COVID-19. These findings may be useful for the utilization of CXR for diagnosing COVID-19 in areas with limited access to CT scans.
Seroepidemiological investigation of SARS-CoV-2 infection and risk factors in Indonesia before mass COVID-19 vaccination Wahyono, Tri YM.; Mahkota, Renti; Nurcandra, Fajaria; Ansariadi, Ansariadi; Hidajah, Atik C.; Helda, Helda; Syahrul, Fariani; Dwinata, Indra; Kawi, Nurhayati
Narra J Vol. 5 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v5i1.1957

Abstract

At the onset of the coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic in Indonesia, surveillance focused on finding and treating symptomatic cases. However, emerging evidence indicated that asymptomatic and pre-symptomatic individuals significantly contributed to viral transmission. This highlights the need for comprehensive surveillance to understand better the actual spread of SARS-CoV-2. Therefore, the aim of this study was to determine the seroprevalence of SARS-CoV-2 antibodies in the general population across Indonesia and identify risk factors associated with infection at the beginning of the pandemic. A cross-sectional survey was conducted across 17 provinces, 69 districts/cities, and 1,020 villages in Indonesia from December 22, 2020, to February 15, 2021. A multistage random sampling technique was employed. Serological testing using enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) was performed to detect anti-SARS-CoV-2. Complex sample analysis, adjusted for weights, was utilized to estimate the national seroprevalence and a generalized linear model with a binomial distribution was applied to identify risk factors. A total of 10,161 individuals were included in the final analysis, with the national seroprevalence being 14.8% (95% confidence interval (CI): 14.2–18.5). The prevalence was higher in females (16.8%; 95%CI: 12.5–22.3), individuals aged 46–59 years (18.6%; 95%CI: 14.2–24.0), and in urban areas (20.1%; 95%CI: 15.0–26.2). The highest prevalence was observed in North Maluku (35.6%; 95%CI: 29.3–42.5). Notably, 54.2% of seropositive individuals were asymptomatic, while 7.5% reported hypertension as a comorbidity. Factors associated with higher seroprevalence were being married (adjusted prevalence ratio (aPR): 1.47; 95%CI: 1.02–2.12), widow (aPR: 1.74, 95%CI: 1.01–3.00), and close contact with confirmed cases (aPR: 2.04; 95%CI: 1.52–2.73). This study revealed a COVID-19 prevalence significantly higher than official estimate in Indonesia, underscoring the need for improved surveillance system to more accurately track disease spread and to inform timely public health responses in the future.
Comparison of Macrozoobenthos Community Structure in Reclaimed and Natural Beaches in Padang City, West Sumatra Helda, Helda; Tanjung, Afrizal; Thamrin, Thamrin
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 29 No. 3 (2024): October
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.29.3.334-342

Abstract

dang City is one of the cities with a long coastline. The Padang City government has made many reforms to manage the beach area as a tourist attraction. This research aimed to determine the comparison of macrozoobenthos community structure, including species composition, species abundance, relative abundance, diversity index, similarity index, dominance index, and distribution patterns in the reclaimed and natural beaches of Padang City, West Sumatra Province. The method used was purposive sampling with sample collection using the transect method. The results of this study indicate that the water quality in Padang City, West Sumatra, is sufficiently good to support macrozoobenthos life. The highest species abundance of macrozoobenthos was found at the Reclamation Beach Station. The macrozoobenthos species found belong to 2 classes: Gastropoda and Crustacea. The Gastropoda class consists of 4 species: Babylonia spirata, Pila ampullacea, Pila occidentalis, and Nerita fulgurans, while from the Crustacea class, three species were found: Ashtoret lunaris, Hemigrapsus takanoi, and Emerita sp. Meanwhile, the lowest abundance was found at the Natural Beach Station, where the species belonging to the Crustacea class, specifically H.takanoi, was found. The species diversity of macrozoobenthos at the Natural Beach Station is considered low but moderate at the Reclamation Beach Station. Similarity at the Natural Beach Station is low, while at the Reclamation Beach Station, it is high. Additionally, there is a dominant species at the Natural Beach Station, whereas no dominant species were found at the Reclamation Beach Station. The distribution pattern of macrozoobenthos in the coastal waters of Padang City is categorized as clustered distribution.
The Association between Workload of Frontline Health Workers and The Risk of Perceived Stress During COVID-19 Mass Vaccination: A Cross-Sectional Survey Hikmah, Kholishotul; Helda, Helda; Melinda, Gea; Ayatullah, M. Ibraar; Prisandy, Lucky
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 4 No. 4 (2025): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v4i4.468

Abstract

The COVID-19 pandemic has had an unprecedented impact on mental heath, and in particular on health workers on the frontlines of pandemic response efforts, particularly in the context of COVID-19 vaccination. This study aimed to highlight the association of workload and adverse stress impact on healthcare workers during COVID-19 mass vaccination and its contributed factors. The method use a cross-sectional survey using a web-based questionnaire was conducted from the end of July to the beginning of August 2021. Participants were selected from all health facilities in Indonesia, with the minimal sample size 345 required. Logistic regression was performed using STATA 16.0 to assess the association between workload and perceived stress. This study revealed that prevalence of perceived stress was 36.2% among total of 447 eligible subjects. Health workers who had high-relatively levels of workloads (OR=1.76; 1.00-3.09) and without history of stress diagnosis (OR=5.23; 1.06-5.87) were more likely to develop perceived stress. The high level of workload was associated inversely with a decreased risk of stress according to age and stress diagnosis. The conclusions is a decreased risk of stress associated with workload among health professionals.
HUBUNGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA WANITA USIA SUBUR DI INDONESIA Febriyanti, Syeri; Ronoatmodjo, Sudarto; Helda, Helda; Riyadina, Woro; Endarti, Ajeng Tias
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.46514

Abstract

Hipertensi masih menjadi salah satu penyakit tidak menular yang menyebabkan masalah kesehatan dunia. Prevalensi hipertensi diprediksi akan terus meningkat setiap tahun. Penderita hipertensi di Indonesia didominasi oleh penduduk berjenis kelamin wanita. Pada wanita diduga salah satu faktor risiko yang bisa menyebabkan kejadian hipertensi adalah penggunaan kontrasepsi hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian hipertensi pada wanita usia subur 15-49 tahun. Desain penelitian adalah cross sectional yang menggunakan data Riskesdas 2018. Kelompok terpajan adalah 45.178 responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal dan kelompok tidak terpajan adalah 30.845 yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengguna kontrasepsi hormonal dengan kejadian hipertensi dengan nilai PR=1,05 (CI 95% 1,02-1,07). Terdapat pula hubungan yang signifikan antara pengguna kontrasepsi hormonal dengan kejadian hipertensi setelah mengendalikan umur dan indeks masa tubuh dengan nilai PR=1,10 (1,06– 1,12). Selain itu, pada penelitian ini juga menilai hubungan antara berbagai jenis kontrasepsi hormonal diantaranya kontrasepsi suntikan 3 bulan dengan nilai PR=1,08 (CI 95% 1,05-1,12), kontrasepsi suntikan 1 bulan dengan nilai PR 0,99 (CI 95% 0,93-1,05), kontrasepsi implan PR 0,90 (CI 95% 0,84-0,96) dan kontrasepsi pil  PR 1,30 (CI 95% 1,23-1,35). Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian hipertensi pada wanita usia subur 15-49 tahun di Indonesia. Jenis kontrasepsi yang paling mempengaruhi kejadian hipertensi pada wanita usia subur adalah kontrasepsi pil.
Peningkatan Pemahaman Keluarga Dalam Upaya Pencegahan Stunting Melalui Edukasi Gizi Bayi dan Balita Dahlan, Asmita; Helda, Helda; Cumayunaro, Ayuro; Marlia, Sri; Komalasari, Wuri
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 2 No. 8 (2025): Juni
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/qxf3sq91

Abstract

Masalah gizi yang paling sering ditemukan adalah stunting, underweight dan wasting. Untuk mencegah masalah gizi perlu disosialisasikan gizi seimbang. Edukasi gizi seimbang mengajarkan bagaimana pola makan yang sehat. agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit dan masalah gizi, termasuk stunting. Tujuan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah peningkatan pemahaman keluarga dalam upaya pencegahan stunting melalui edukazi tentang gizi pada bayi dan balita. Pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pemberian edukasi gizi berupa penyuluhan dan demonstrasi. Sasaran kegiatan adalah Ibu hamil dan menyusui, Keluarga dengan dan kader posyandu serta tokoh masyarakat di RT 02 RW 05 Kelurahan Kubu Dalam Parakah Kecamatan Padang Timur. Hasil kegiatan didapatkan partisipas masyarakat yang hadir dalam seluruh rangkaian kegiatan meningkat dari 60% di pertemuan kedua menjadi 80% di pertemuan terakhir dan antusiasme masyarakat terhadap edukasi gizi.  Hasil Pre-test dan Post-test ditemukan rata-rata nilai pre-test: 45 dan rata-rata nilai post-test : 75 dan sebanyak 80% peserta mampu menjawab dengan benar pertanyaan kritis.. Hasil demonstrasi menu bergizi didapatkan peserta mampu memahami dan mempraktikkan pembuatan MPASI .Kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman keluarga. Namun, perlu intervensi berkelanjutan  dan monitoring ketat oleh kader dan tenaga kesehatan untuk memastikan perubahan perilaku
Kebijakan Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif Helda, Helda
Kesmas Vol. 3, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka Kematian Bayi di Indonesia adalah 35/1000 kelahiran hidup berada di posisi keenam di negara Asean. Salah satu upaya yang efisien untuk menurunkan angka kematian tersebut adalah pemberian ASI eksklusif yang memperlihatkan tren yang menurun, pada tahun 1997, (40,2%), 2002 (39,5%) dan 2007 (32%). Artikel ini bertujuan mengkaji kebijakan pemerintah memenuhi hak anak terhadap ASI. Metode yang digunakan melakukan telaah berbagai studi tentang kebijakan dan perundangan ASI di dunia dan di Indonesia,pada periode 2000-2007. Angka ASI eksklusif di dunia sangat bervariasi dan tidak berbanding lurus dengan kemajuan suatu negara. Jepang dan Inggris adalah contoh negara maju dengan angka ASI eksklusif yang rendah. Susu formula, sosial budaya dan wanita bekerja menjadi alasan pemakaian susu formula yang rendah. Di Indonesia, kasus balita gizi buruk pada tahun 1989, (75/10.000) dan pada tahun 2002 (70,3/ 10.000) memperlihatkan tren penurunan yang rendah. Meskipun manfaat ASI dirasakan oleh semua pihak, tetapi angka pemberian ASI masih tergolong rendah, sementara pemasaran susu formula, sosial budaya, dan wanita bekerja tidak mendukung pemberian ASI. Di Indonesia hanya ada 2 keputusan menteri kesehatan (237/1997 dan 450/2004) yang mengatur pemberian ASI. Kebijakan yang ada belum mampu mengatasi angka pemberian ASI yang rendah. Disarankan untuk meningkatkan status hukum kebijakan yang ada dan mengupayakan peningkatan komitmen. Infant mortality rate in Indonesia (35/1000 life birth) is one of the poorest (ranked number six) among ASEAN countries. One known efficient measure for reducing the infant mortality rate is exclusive breast feeding (EBF) which in fact showing a decreasing trend (40.2% in 1997, 39.5% in 2002 and 32.0% in 2007). The objective of this article is to evaluate government policy regarding the fulfillment of child’s rights to get adequate breastfeeding. The method used is by literature review of studies about breast feeding policy and regulations in the world and in Indonesia, during the period of 2000-2007. The EBF rates in the word are varied and not related to the developmental level of the country. Japan and England are examples of developed countries with low EBF rate. Formula milk, sosio-cultural, and working women are the most reasons of the low rate of EBF. In Indonesia, the cases of malnutrition among children under five years in 1989 (75/10.000) and in 2002 (70, 3/ 10.000 showed a decreasing trend. Although the benefit of the breastfeeding is known by almost all people, but the BF rate is still low. Meanwhile, formula milk marketing, sosio-cultural aspects, and the phenomenon of increasing number of working women do not support EBF. In Indonesia, there are only two ministry regulations (237/1997 and 450/2004) that regulated EBF. The existing policies are not strong enough to solve the problem of low EBF rate. It is suggested to improve the legal aspects including policy and regulations as well as improvement in government commitment to support EBF.
Co-Authors Abda Abda Afrizal Tanjung Agustianingsih, Ika Ajeng Tias Endarti Ansariadi Ansariadi Apriani, Fitri Arcita Hanjani, Arcita Ariyanti, Firna Armenda, Yulia Asari, Hazella Rissa Valda asrul, asrul asrul Astuti Yuni Nursari Audila, Hanna Audita, Fatira R. Aulia Rizka, Aulia Azzumar, Farchan Badewi, Bachtarudin Beny Rilianto Budhi Antariksa Caroline Killeen Catootjie L. Nalle, Catootjie L. Cumayunaro, Ayuro Dahlan, Asmita Dwinata, Indra Eka Budi Satria Ella Hendalia Elviza Rahmadona Faadhillah, Astrisa Fahmia, Rizka Fahmida Manin Falah, Sadiah Nurul Fariani Syahrul Febriyanti, Syeri Fetty Ismandari Fetty Ismandari Findy Prasetyawaty, Findy Fitri Aulia Fitriani, Wulan Fujiasti, Yovella Medhira Handari, Rahma Dewi Hardiyanti, Anggie Hasyim, Irva Zulviya Helwiah Umniyati Hendraswari, Desyana Endarti Hidajah, Atik C. Hikmah, Kholishotul Hikmah, Kholisotul Husnul Hatimah, Husnul Ibna, Reihana Ramadlani Ida Ayu Kshanti Kawi, Nurhayati Kholisotul Hikmah Komalasari, Dini P. Komalasari, Wuri Latifah, Mira Maryani Lengkana, Dewi Lestari, Andini Putri M Ibraar Ayatullah M. Bakhrul Widianto M. Irzal, Mufti As Siddiq Magdalena S, Purnama Magfira, Nadya Mahdatul Ardawiah Manurung, Pebrina Marlia, Sri Marzuki, M. Maulita Wulandari Melinda, Gea Mira Maryani Latifa Mokoagow, Md Ikhsan Monica, Mareska Muchlisa, Nurul Nadia Nadia Nani Nani Nisa Raisa Shaleha Novarisa, Nessa Nurcandra, Fajaria Nurrofiq, M. Fajar Pagihuddin, Mukjizat Pratiwi, Endah Dwi Prihartono, Nurhayati Adnan Prisandy, Lucky Purbasari, Utami Putri Alfina Riwayatin Rachmawan, Yogi Puji Raf Raf, Khansa Rahmad Mulyadi Rahmadani, Sekar A. Rajab, Nurfadilah M. Ramadhani Ramadhani Ramadhania, Shabrina A. Raudatul Aslamiah Renti Mahkota Revis Asra Rezavitawanti, Rezavitawanti Ridhanti, Devi Rilianto, Beny Rizka Fahmia Rizka Ramadhanti Robbani, Syifa Rufaidah, Melia Fatrani Rustam, Musfardi Sakanti, Anggiasih Salamah, Qonita Nur Sartika, Desy Shomita Fitrotun Nisa Sihombing, Intan Ully Athalia Stefani, Sheila Sudarto Ronoatmodjo Sudaryo, Mondastri Korib Sugiarti, Restya Sri Sukarsi Rusti Talitha El Zhafira Hadi Tamaria Panggabean Tauhidah, Sarah At Thamrin Thamrin Tri Wurisastuti Tri Yunis Miko Wahyono Utami, Fenia Utami, Risa P. Wahyono, Tri YM. winna, winna Witri Pratiwi Woro Riyadina Yanti Herawati Yulianto, Muhammad Farhan Dwi Zainab Addhahra