Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENELUSURAN GENOTIPE IKAN MAS (Cyprinus carpio L.) STRAIN PUNTEN GYNOGENETIK Asri Pudjirahaju; Rustidja ,; Sutiman B. Sumitro
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 15 No. 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1230.325 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) polaelektroferogram, 2) homosigositas dan heterosigositas ikan mas strain Punten gynogenetik dan 3) mengevaluasi metode gynogenesis yang telah dilakukan serta 4) untuk mengetahui jumlah kromosom. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Benih Ikan (BBI), Punten - Batu Malang, dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang. Materi penelitian yang digunakan adalah ikan mas strain Punten (parent, F1, dan F2 gynogenetik) masing-masing 3 (tiga) ekor. Metode penelitian secara deskriptif dengan digambarkan melalui tabel dan gambar berupa foto-foto. Hasil analisis SDS-PAGE (Sodium Dodecyl Sulfat Polyacrylamide Gel Elektroforesis) menunjukkan ada 4 (empat) pita protein pada parent dan 2 (dua) pita protein untuk F1 gynogenetik yang berbeda, dimana pita protein 37 kD hanya ditemukan pada F1.3. Pada F2 gynogenetik juga ditemukan 3 (tiga) pita protein yang berbeda. Sedangkan antara F1 dan F2 gynogenetik ditemukan 4 (empat) pita protein yang sama. Selain itu juga ditemukan 3 (tiga) pita protein yang sama pada ketiga macam contoh yang diuji, yaitu 122 kD, 108 kD dan 91 kD. Berdasarkan pola elektroferogram tersebut ternyata populasi parent adalah heterosigot, sedangkan untuk F1 dan F2 gynogenetik telah homosigot. Hal ini menunjukkan bahwa metode gynogenesis yang telah dilakukan di Balai Benih Ikan (BBI) Punten Batu Malang sudah tepat. Jumlah kromosom dari ketiga macam contoh yang diuji adalah sama 2N = 100.Kata kunci: ikan mas Punten, elektroferogram, homozygositas, heterozygositas, gynogenesis.
INHIBIN B MENURUNKAN KONSENTRASI FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus): UPAYA PENGEMBANGAN KONTRASEPSI HORMON PRIA BERBASIS PEPTIDA Muslim Akmal; Aulanni’am A; M. Aris Widodo; Sutiman B. Sumitro; Basuki B. Purnomo; Tongku Nizwan Siregar; Muhammad Hambal; Amiruddin A; Syafruddin S; Dwinna Aliza; Arman Sayuti; Mulyadi Adam; T. Armansyah; Erdiansyah Rahmi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.745 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2788

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B terhadap penurunan konsentrasi follicle stimulating hormone (FSH) di dalamserum pada tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 24 ekor tikus putih berjenis kelamin jantan dengan strain Wistar berumur 4 bulan dengan bobot badan 150-200 g. Tikus-tikus dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu KK0, KP1, KP2, dan KP3, masing-masing kelompok terdiri atas 6 ekor. Kelompok KK0 merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan phosphate buffer saline (PBS), sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis berturut-turut 25, 50, dan 100 pg/ekor. Injeksi inhibin B dilakukan secara intraperitoneum sebanyak 5 kali selama 48 hari dengan interval waktu 12 hari. Injeksi pertama inhibin B dilarutkan dengan0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud’s complete adjuvant (FCA). Injeksi kedua sampai kelima, inhibin B dilarutkan dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud’s incomplete adjuvant (FICA). Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis,lalu darah dikoleksi langsung dari jantung dan didiamkan hingga didapatkan serum untuk pemeriksaan konsentrasi FSH dengan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan konsentrasi FSH secara nyata (P0,05) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut, inhibin B berpeluang untuk dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria hormon berbasis peptida.
Calculating the Amount of Plastic Waste Based on Type at the Supit Urang Malang Final Processing Site (TPA) Artiyani, Anis; Warsito, Warsito; Sumitro, Sutiman Bambang; Djati, M. Sasmito; Hidayat, Nur
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari
Publisher : Postgraduate School of Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpal.2024.015.01.03

Abstract

Waste is one of the crucial environmental problems in Indonesia. Malang City produces around 485 tons of waste every day. This research aims to identify what types of plastic waste are selected at the Supit Urang Final Processing Site and to find out the mass of each type of plastic waste that is sorted, to analyze the volume of plastic waste differentiated based on the types at the Supit Urang Landfill, Malang City. Plastic waste is non-organic waste that is difficult to decompose naturally. In 2019, the Regional Environmental Management Agency (BPLHD) stated that plastic waste in Jakarta reached 13% of 6,000 tons per day and annual calculations reached 5.4 tons. Determining the number of samples in this study used the SNI 19-3964-1994 approach, the waste sampling method, sampling method, and analysis of plastic waste samples were chosen in the research methodology. The research results showed that the types of plastic waste at the Supit Urang landfill include polyethylene terephthalate (PET), low-density polyethylene (LDPE), polypropylene (PP), and others (O), with a mass of each type, namely Polyethylene Terephthalate (PET) 27.7 kg, Low-Density Polyethylene (LDPE) 27.5 kg, Polypropylene (PP) 23.2 kg and Others (O) 21.7 kg. It is hoped that sorting plastic waste according to type through further processing can reduce waste generation in general, especially in Malang City. Keywords: types of plastic waste, sorting at final processing sites, volume of plastic waste
Spodoptera litura F. Immune System Against Exposure to the Biopesticide Mirabilis jalapa L. Maulina, Dina; Sumitro, Sutiman Bambang; Lestari, Sri Rahayu; Djoa, Dominikus Djago
AGRIVITA Journal of Agricultural Science Vol 47, No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v47i1.4351

Abstract

Synthetic insect repellent contributed to increasing farm products. This research studies the influence of an extract of Mirabilis jalapa. It is a vegetative insect repellent. It was applied to the polyphagous pest's cellular and humoral immune reactions, Spodoptera litura. This study targeted the body's resistant reaction to S. litura at the cellular and humoral tiers after contacting biopesticides from M. jalapa extracts. This research examined the process of cellular counteraction by assessing the varieties of hemocytes employing the ANOVA test and a phagocytosis test using percentages. The function of the humoral-resistant counteraction was assessed by phenoloxidase analysis employing the ANOVA test. The results demonstrated that a 0.2% M. jalapa concentrate solution noticeably affected the numbers of prohemocytes, granular cells, oenocytoid cells, and spherules compared to reference samples (p<0.05). Moreover, sub-lethal levels show noticeable kinds in PO enzyme levels (p<0.05), with a notable improvement after one hour of handling. Phagocytosis, on the other hand, demonstrated a drop in the ratio of phagocytic cells at 0.4% dose concentrations contrasted to the control group, suggesting a hidden impact on the pest's resistant response. This research reveals that the ability of M. jalapa extract as a biopesticide with immunosuppressive effects on S. litura.
Potential of Kesambi Active Compound (Schleichera oleosa) as Antagonist G-Protein Estrogen Receptor 1 (GPER1) by In Silico Radita Intan Aisyah Pratiwi; Widyarti, Sri; Sumitro, Sutiman Bambang
The Journal of Experimental Life Science Vol. 13 No. 1 (2023)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jels.2023.013.01.07

Abstract

Tamoxifen is a treatment for breast cancer patients which can cause side effects of endometrial cancer because it acts as a GPER1 agonist. Active compounds from Schleichera oleosa are known to have anticancer potential, such as schleicheol and schleicherastatin, especially their ability to prevent cell proliferation. This research conducted an in silico study to determine the potential of the active compound from S. Oleosa as a GPER1 inhibitor. In silico studies include molecular docking and molecular dynamics. The data obtained are binding affinity values, potential energy, RMSD, RMSF, and conformational changes. Active compound candidates with the lowest binding affinity were selected, namely Schleicheol 1 (SCL1), Lupeol (LU), Lupeol acetate (LA), Betulinic acid (BA), and Schleicherastatin 3 (SCR3) with an order of score -8.6, - 8.5, -8.4, -8.4 and -8.4 kcal.mol-1. When complexed with GPER1-Estradiol and GPER1-Tamoxifen, the lowest binding affinity was LU (-8.6 and -8.7 kcal.mol-1). LU binds to the same amino acid as Estradiol and Tamoxifen, namely Leu:271. Based on molecular dynamics, RMSD All (receptor complex) ranged from 3,723 to 5,098 Å, above the normal limit of 3 Å. However, RMSD All shows stability starting from 1.5 ns so that the resulting data can be used. The RMSF value showed higher fluctuations than Tamoxifen at the same binding site as Tamoxifen, including SCL1-T, LU-T, LA-T, and BA-T, which can interfere with the function of the GPER1 receptor. LU, LA, BA, SCL1-T LU-T, and LA-T with GPER1 produce the same structural changes as G15 as GPER1 antagonists. The active compound, especially lupeol, which has the lowest binding affinity, is predicted to have the potential to inhibit GPER1 in silico so that it can be proposed for further testing. Keywords: Endometrial Cancer, GPER1, Schleichera oleosa, Tamoxifen.
Effect of Ethylene Glycol Concentration and Length of Exposure on In Vitro Fertility of Bovine Oocyte Wahjuningsih, Sri; Hardjopranjoto, Suhartojo; Sumitro, Sutiman Bambang
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 4, No 2 (2010): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v4i2.3097

Abstract

The purpose of the study was to determine the influence of the concentration of ethylene glycol (EG) and length of exposure to levels of bovine oocytes in vitro fertility. This research was conducted using a completely randomized design factorial 5x3 with 7 replicates. The first factor was the concentration of cryoprotectants EG 10, 20, 30, 40, and 50%. The second factor was the length of exposure 1, 3, and 5 minutes. The results showed that the concentration of EG and the length of exposure were effect on fertilized oocytes (P0.05). The level of oocytes in vitro fertility after vitrification in 30% EG and long exposure to 3 minutes did not different (P0.05) compared to fresh oocytes, while the EG treatment 10, 20, 40, and 50% significantly showed a lower fertility rate than the 30% EG (P0.05). It was concluded that the concentration of EG and length of exposure were effect on fertilized oocytes. The highest oocytes in vitro fertility level were found in 30% EG concentration with 3 minutes exposure time.
INHIBIN B MENURUNKAN KONSENTRASI FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus): UPAYA PENGEMBANGAN KONTRASEPSI HORMON PRIA BERBASIS PEPTIDA Akmal, Muslim; A, Aulanniam; Widodo, M. Aris; Sumitro, Sutiman B.; Purnomo, Basuki B.; Siregar, Tongku Nizwan; Hambal, Muhammad; A, Amiruddin; S, Syafruddin; Aliza, Dwinna; Sayuti, Arman; Adam, Mulyadi; Armansyah, T.; Rahmi, Erdiansyah
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2788

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B terhadap penurunan konsentrasi follicle stimulating hormone (FSH) di dalamserum pada tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 24 ekor tikus putih berjenis kelamin jantan dengan strain Wistar berumur 4 bulan dengan bobot badan 150-200 g. Tikus-tikus dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu KK0, KP1, KP2, dan KP3, masing-masing kelompok terdiri atas 6 ekor. Kelompok KK0 merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan phosphate buffer saline (PBS), sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis berturut-turut 25, 50, dan 100 pg/ekor. Injeksi inhibin B dilakukan secara intraperitoneum sebanyak 5 kali selama 48 hari dengan interval waktu 12 hari. Injeksi pertama inhibin B dilarutkan dengan0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freuds complete adjuvant (FCA). Injeksi kedua sampai kelima, inhibin B dilarutkan dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freuds incomplete adjuvant (FICA). Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis,lalu darah dikoleksi langsung dari jantung dan didiamkan hingga didapatkan serum untuk pemeriksaan konsentrasi FSH dengan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan konsentrasi FSH secara nyata (P0,05) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut, inhibin B berpeluang untuk dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria hormon berbasis peptida.
PROSPEK SARI BUAH TIN LOKAL (Ficus glumerata Rob) SEBAGAI AGEN PRESERVASI MOTILITAS SPERMATOZOA KAMBING Zaenuri, Lalu A.; Susilawati, Trinil; Sumitro, Sutiman B.; Wahyuningsih, Sri
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.560

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui prospek sari buah tin lokal (Ficus glumerata Rob) di dalam pengencer berbasis Tris dan kuning teluruntuk mempertahankan motilitas progresif spermatozoa kambing peranakan Boer yang disimpan pada suhu 4-5 C. Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan dosis sari buah tin dalam masing-masing pengencer yakni 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7% (S0, S1, S2, S3, S4, S5, S6, dan S7). Pengamatan motilitas progresif spermatozoa dilakukan segera setelah pengenceran dan setiap 24 jam sampai jam ke-144 setelah pengeceran dan penyimpanan. Persentase motilitas progresifs permatozoa pada kelompok S4 (39,02,33) dan S6 (38,02,49) lebih tinggi dibandingkan S0; S1; S2; S3; dan S5 yakni masing-masing 32,01,86; 30,02,11; 29,01,80; 31,53,66; dan 34,53,02. Persentase motilitas terendah ditunjukkan oleh S7 yaitu 22,03,59. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sari buah tin mampu mempertahankan motilitas progresif spermatozoa kambing dan konsentrasi optimal dicapai pada 4 dan 6%.
KEMAMPUAN ANTI MAYOR PHYSIOLOGICAL PROTEIN SUBSTRAT ECTO CYCLIC AMP INDEPENDENT SERIN/THEONIN PROTEIN KINASE (MPS ecto-CIK) DALAM MENGHAMBAT VIABILITAS SPERMATOZOA KAMBING DAN SAPI Muchtaromah, Bayyinatul; Sumitro, Sutiman B.
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 5, No 1 (2011): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v5i1.429

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dosis dan lama inkubasi anti MPS ecto-CIK dalam menghambat viabilitas spermatozoa kambing dan sapi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri atas 2 faktor yakni dosis pengenceran (0, 5, 10, dan 15 l) dan lama inkubasi (5, 30, 60, dan 120 menit) masing-masing 6 kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian dua arah, yang dilanjutkan dengan uji jarak Duncan dengan taraf signifikansi 5%. Pemberian anti MPS ecto-CIK membran spermatozoa kambing dengan konsentrasi 0, 5, 10, dan 15 l dan lama inkubasi 5, 30, 60, dan 120 menit berpengaruh signifikan terhadap viabilitas spermatozoa kambing dan sapi (P0,05). Perlakuan anti MPS ecto-CIK pada dosis 15 l dan lama inkubasi 120 menit terhadap spermatozoa kambing dan sapi merupakan perlakuan yang paling optimal dalam menghambat viabilitas spermatozoa kambing (45,5011,16 dan 44,879,40%) dan sapi (39,0814,40 dan 36,6711,93%).
INHIBIN B: KANDIDAT KONTRASEPSI PRIA BERBASIS HORMON PEPTIDA Akmal, Muslim; a, Aulanni'am; Widodo, Muhammad Aris; B. Sumitro, Sutiman; Purnomo, Basuki B.
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 5, No 1 (2011): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v5i1.391

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B sebagai kandidat kontrasepsi pria berbasis hormonpeptida terhadap berat badan, berat dan panjang testis, dan duktus epididimis. Sebanyak 24 ekor tikus (Rattusnovergicus) jantan strain Wistar berumur 4 bulan dengan berat badan 150-200 g dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu kontrol (KO), KI, KII, dan KIII. Kelompok kontrol, tikus hanya diinjeksi dengan 0,1 ml PBS tanpa inhibin B; Kelompok KI, KII, dan KIII tikus diinjeksi dengan 25, 50, dan 100 pg inhibin B/ekor. Injeksi dilakukan secara intra peritoneal sebanyak 5 kali dengan selang waktu 12 hari selama 48 hari. Injeksi pertama, isolat inhibin B dilarutkan dalam PBS sebanyak 0,05 ml dan diemulsikan dengan 0,05 ml Freud's complete adjuvant (FCA). Pada injeksi kedua, ketiga, keempat, dan kelima menggunakan inhibin B dalam PBS 0,05 ml dan diemulsikan dengan 0,05 ml Freud's incomplete adjuvant (FICA). Pada hari keenam setelah injeksi terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis setelah terlebih dahulu dilakukan penimbangan berat badan. Berat testis dan duktus epididimis ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik, sedangkan diameter dan panjang testis dan duktus epididimis diukur dengan menggunakan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (P0,05) antara kelompok kontrol dan perlakuan terhadap berat badan, berat, panjang, dan diameter testis dan duktus epididimis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa inhibin B berpotensi dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria berbasis hormon peptida yang aman dan reversible.